Fatahillah

Fatahillah
Bab 81



karena merasa kasihan dengan Akmal yang sejak tadi menyendiri, Hasan bangkit dari pembaringan dan mendekat pemuda itu. ia menepuk pelan bahu Akmal hingga Akmal menoleh dan tersenyum.


"belum tidur kamu Mal...?" tanya Hasan


"belum ngantuk mas" Akmal menjawab


"kalau gitu kita ngopi saja di luar, ada Ali di teras rumah" Fatahillah ikut bangkit dan membuka pintu kamar


"ayo Mal, jangan sedih teruslah. wanita di dunia ini bukan hanya Maryam, meskipun memang saat ini hatimu kecewa tapi kamu harus yakin kalau rencana Tuhan itu lebih baik daripada rencana kita sebagai manusia" Hasan beberapa kali menepuk pundak Akmal "ayo, atau mau aku gendong dan membuang kamu di jendela" lanjut Hasan


"mas pikir aku karung beras main buang gitu aja" cebik Akmal dengan bibir manyun


Hasan hanya tertawa pelan kemudian menarik lengan Akmal untuk keluar di luar. sudah ada Ali dan di ruang tengah sementara Fatahillah sedang membuatkan mereka kopi.


"aku pikir kalian sudah masuk ke alam mimpi" ucap Ali


"bagaimana mau mimpi indah kalau kalian berdua sedang digalau kehidupan rumah tangga" Hasan duduk di samping Ali


"memangnya kenapa dengan Akmal...?" Ali yang memang tidak tau permasalahan langsung mengalihkan pandangan ke arah keponakannya itu


"nggak apa-apa paman, aku hanya nggak bisa tidur saja"


"dia galau Li, sebab wanita pujaannya akan kamu persunting esok hari"


"hah...?" sekian menit Ali ternganga dan bengong mencerna apa yang dikatakan oleh Hasan "maksudnya, kamu suka sama Maryam Mal...?" lanjutnya


tidak menjawab namun Akmal mengangguk pelan, jawaban yang diberikan oleh Akmal membuat Ali Semaki pusing kepala dan bahkan beberapa kali menghembuskan nafas berat.


"Allah" Ali menutup wajahnya dengan kedua tangan


"aku ikhlas kok paman, lagipula Maryam juga belum tentu suka sama aku. aku hanya menyukainya dalam diam saja, aku ridho dan ikhlas jika kalian menikah"


"kamu yakin benar-benar ikhlas...?" Ali menatap lekat wajah Akmal


sekian detik terdiam, Akmal mengangguk pelan namun kemudian ia menggeleng lagi.


"maaf paman, aku..."


"sudahlah, semuanya sudah terjadi. kita pasrah saja kepada takdir Tuhan, yang menurut kita baik belum tentu baik menurut sang pencipta, jadi apapun itu maka terima dengan lapang dada" Fatahillah memberikan nasihat, ia datang dengan nampan empat gelas kopi


"sebenarnya bagaimana ceritanya sampai orang-orang menuduh kalian berbuat mesum...?" tanya Hasan


"iya, coba ceritakan bagaimana ceritanya" timpal Fatahillah


Ali menarik nafas dalam sebelum memulai cerita. terlihat jelas dari wajahnya bahwa sekarang dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"aku mengantar Hanum, Maryam dan Naila jalan-jalan. sebenarnya mereka akan pergi bertiga namun kebetulan sore itu aku ada urusan di luar, karena kiayi Anshor tidak ingin mereka hanya pergi bertiga tanpa ada yang menemani, maka akulah yang menemani mereka sesuai dengan perintah kiyai Anshor"


"aku duduk di depan seorang diri sementara ketiganya duduk di kabin tengah, tidak mungkin salah satu dari mereka menemaniku di depan"


"lalu...?" tanya Fatahillah


"selesai dengan urusanku, aku mengantar mereka ke puncak yang lagi viral, tepatnya di kawasan kawah putih. banyak pengunjung saat itu, apalagi tempat itu sedang booming sekarang. Naila dan Hanum sudah turun lebih dulu sementara Maryam masih ingin ke toilet. maka aku mencari tempat parkir yang masih kosong"


"namun belum juga mendapatkan tempat parkir, kami melihat seorang lelaki yang melakukan hal yang tidak senonoh di tempat itu. aku turun dan meneriakinya namun dia langsung kabur. karena melihat wanita yang dia lecehkan sudah menangis, darahku mendidih dan segera masuk ke dalam mobil mengejar laki-laki itu. Maryam yang belum sempat turun pada akhirnya hanya diam saja karena takut aku sudah menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi"


"laki-laki itu melarikan diri ke arah hutan, aku tetap mengejar sampai aku kehilangan dia karena dia memakai motor yang langsung menerobos kali dan tembus ke seberang, semak-semak dan tentu saja jalannya mungkin saja berbahaya. aku berhenti di tempat itu dan berniat untuk kembali. tapi Maryam yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil, maka dia turun dan meminta menunggunya di mobil. aku mengiyakan dan berjaga-jaga jangan sampai ada lagi orang-orang yang bejad yang melakukan hal tidak pantas seperti di puncak tadi"


"karena menunggu Maryam yang begitu lama, maka aku berjalan ke arah kali dimana ternyata pemandangan di tempat itu begitu indah. saat Maryam memanggilku aku hendak melangkahkan kaki namun kakiku tergelincir dan terjatuh. mungkin karena memang hari itu adalah hari kesialan, saat kembali ke mobil dan hendak masuk ada dua orang yang entah mereka darimana langsung memergoki kami dan menuduh kami berbuat zina. dari situlah semuanya berawal hingga berakhir dengan pernikahan"


"kasian mbak Naila, dia pasti sangat kecewa dengan keputusan itu" ucap Akmal yang kini telah menghabiskan setengah kopinya


"aku berharap dia menemukan laki-laki yang baik suatu saat" ucap Ali mengehela nafas panjang


"dulunya aku juga menikah dengan Zelina karena keadaan yang memaksa tapi Alhamdulillah rumah tangga kami sekarang baik-baik saja. terima dengan lapang dada, siapa tau esok hari atau kedepannya kamu dan Maryam akan saling menerima satu sama lain. jalanin saja dulu, jika tidak bisa maka semuanya bisa dibicarakan baik-baik untuk mengambil langkah selanjutnya" ucap Fatahillah


"mungkin ini akan berat bagiku Fatah. semoga saja nanti aku tidak mendzolimi istriku sendiri dengan sikap dan ucapanku"


"serahkan semuanya kepada Allah, insya Allah ada hikmah dibalik semuanya" timpal Hasan


lain di kota B maka lain pula di kota X. malam ini Haninayah gelisah di tempat tidurnya, perasaannya gelisah tidak menentu. sudah beberapa kali ia mengganti posisi tidur mencari posisi ternyaman, tetap saja kedua matanya enggan untuk terpejam.


"ya Allah, kenapa denganku ini" Haninayah bangun dan bersandar di ranjang, ia mengambil gelas air minum dan meneguknya sampai habis


karena masih merasakan kegelisahan hati yang dirinya pun tidak tau apa yang sedang ia gelisahkan, Haninayah memutuskan untuk sholat malam meminta ketenangan kepada pencipta. di rumah itu hanya ada dirinya dan ibunya, ibu Kamila sudah terlelap di kamar sebelah. jika di dalam rumah, Haninayah tidak pernah memakai cadarnya, lagipula tidak akan ada orang yang melihatnya. ia juga tidak memakai hijabnya malam itu, rambut panjang sampai di pinggang ia lilit dan ikat seperti sanggul.


ia turun dari ranjang dan keluar kamar untuk menuju dapur. di samping kamar mandi adalah tempat khusus untuk berwudhu. dirinya memutar kran air dan mulai membaca doa wudhu. dinginnya air mampu membuat hatinya sejuk dan adem. selesai berwudhu ia kembali ke kamar dan melaksanakan sholat malam.


di gelapnya malam, lima orang entah siapa mereka berdiri tidak jauh dari rumah salah satu warga. mereka memperhatikan sekitar, mencoba memastikan kalau tidak ada lagi aktivitas warga tengah malam itu.


"apa benar ini rumahnya...?"


"kata si bos memang benar ini rumahnya, tadi pulang kerja dia mengikutinya. tadi pagi pun dia melihat wanita itu ada di sekitar kompleks ini"


"tapi yang rumah warna cat abu-abu ada dua rumah loh ini, yang ini dan satunya rumah yang ada di ujung sana"


"kalau begitu hubungi kembali bos, minta kepastian sebenarnya rumah wanita itu yang mana"


"kalian mau dimarahi bos karena terlalu lama bergerak, sudahlah kita masuk saja ke rumah ini. kalau nanti bukan rumah wanita itu berarti nanti kita beralih ke rumah yang satunya"


"baiklah pasang topeng kalian agar wajah kita tidak diketahui. cari wanita yang bercadar, ingat jangan bunuh dia. kata bos kita harus membawanya dalam keadaan hidup"


"kami paham"


topeng yang mempunyai rupa mengerikan, di pasang di wajah mereka dengan mengikat talinya di belakang kepala. mereka keluar dari persembunyian dan mengikis jarak dengan rumah bercat abu-abu. dua orang di arahkan ke pintu belakang sementara tiga orangnya mencoba mencungkil pintu depan.


Haninayah yang sedang memanjatkan doa, mendengar langkah kaki di samping kamarnya. langkah kaki itu sangat pelan namun terdengar jelas di telinganya.


"coba buka paksa jendela kamar ini"


Deg...


dirinya yang tidak menemukan apapun akhirnya mengambil lampu tidur. Haninayah berdiri di samping jendela kamar dengan menahan nafas, tangannya gemetar, bibirnya terus memanjatkan doa meminta pertolongan.


"ah susah banget, kita ke pintu belakang sajalah"


"ya sudah ayo, lagipula di depannya sepertinya Baron sudah akan bisa membobol pintunya"


mendengar hal itu, Haninayah semakin panik. kepergian dua orang tadi langsung membuat dirinya bergerak keluar kamar. lampu tidur ia biarkan begitu saja di atas ranjang. ia berjalan ke arah ruang tamu, benar saja pintu depan sedang dibuka paksa.


"Allah... lindungi kami" Haninayah menutup mulut dan mundur dengan pelan


kakinya melangkah menuju kamar ibunya. untungnya tidak dikunci sehingga dirinya dengan cepat masuk ke dalam kamar dan membangunkan ibunya.


"bu bangun bu" Haninayah menggoyang lengan ibu Kamila


"ibu ayo bangun"


karena tidurnya di usik oleh anaknya, ibu Kamila membuka mata dan bangun bersandar di ranjang.


"ada apa Hani, kenapa membangunkan ibu selarut ini. kamu sakit...?"


"bukan bu, ada penyusup di rumah kita"


"hah penyusup" tentu saja ibu Kamila kaget "pencuri maksud kamu...?" lanjutnya


"mereka pasti menginginkan mustika putih itu bu, kita harus pergi dari sini"


"tapi bagaimana caranya nak" ibu Kamila tegang, bahkan ia memakai jilbabnya sudah terbalik. sadar dengan hal itu, Haninayah memasangkan kembali jilbab ibunya


"kita kabur lewat jendela ini, tapi tunggu sebentar Hani ambil ponsel dulu di kamar Hani"


ibu Kamila mengangguk, Haninayah melesat menuju kamarnya. ia mencari kebenaran ponselnya dan juga mengambil dompetnya. setelahnya ia kembali ke kamar ibunya, tepat saat dirinya akan membuka pintu kamar ibunya, pintu depan telah berhasil di buka. dengan cepat Haninayah masuk ke dalam kamar ibunya dan mengunci pintunya.


"cari wanita itu"


"baik"


suara mereka semakin membuat Haninayah takut. pelan ia mendekati ibunya dan mencoba menenangkan diri agar tidak panik dan melakukan tindakan ceroboh.


"mereka sudah di dalam rumah bu, ayo kita bergerak cepat"


Haninayah membuka jendela kamar, sebelum keluar ia memeriksa di luar apakah aman untuk mereka atau tidak. karena merasa aman, Haninayah membantu ibunya terlebih dahulu untuk keluar.


"kamar ini di kunci, pasti mereka di dalam karena kamar satunya tidak ada orangnya"


"buka paksa"


Haninayah semakin tegang, handle pintu dimainkan untuk membuka pintu kamar. setelah ibunya keluar, kini gilirannya yang akan memanjat jendela. tepat saat dirinya berhasil keluar, pintu kamar telah berhasil dibuka. Haninayah menutup pintu jendela dan menarik tangan ibunya untuk melarikan diri.


"brengsek...mereka kabur. tangkap mereka"


"cepat bu"


keduanya berlari ke arah halaman depan dan menuju ke jalan raya, orang-orang itu mengejar keduanya. dimalam yang gelap, Haninayah dan ibu Kamila harus berjuang untuk menyelamatkan diri dari lima orang yang kini sedang mengejar mereka.


tangan Haninayah tidak lepas dari genggaman tangan ibunya, dengan erat ia menggenggam tangan ibunya, berlari sekuat tenaga mencoba melarikan diri dari kejaran orang-orang itu.


"ibu nggak kuat Hani" ibu Kamila berhenti, nafasnya naik turun


"ayo bu, kalau berhenti kita bisa di tangkap" Haninayah memapah ibunya dan kembali berlari


"kamu pergilah lebih dulu, biar ibu yang menghadang mereka"


"nggak akan, Hani nggak akan biarkan ibu menghadapi mereka sendirian. bertahan sedikit lagi bu, jika kita selamat dari sini kita akan langsung ke kota B untuk menemui mas Umar, kita tinggal bersama mereka"


"tapi ibu nggak kuat"


tidak hilang akal, Haninayah menggendong ibunya di punggungnya. hanya itu suatu cara agar mereka tetap dapat berlari dari kejaran lima orang itu.


Haninayah berbelok ke arah kiri masuk ke dalam gang. semua rumah telah di tutup rapat, sudah jelas sebab siapa yang akan membuka pintu rumahnya larut malam seperti itu.


di belakang keduanya ada sebuah motor dimana lampunya menyinari keduanya hingga motor itu melewati mereka berdua dan berhenti di salah satu rumah samping kanan. satu orang wanita baya dan satu orang laki-laki yang masih muda, turun dari motor itu. Haninayah melesat cepat ke arah mereka berdua.


"bu tolong kami bu, kami di kejar pembunuh, kami berdua akan di bunuh"


"astagfirullahaladzim" sang ibu kaget karena Haninayah datang tiba-tiba


ibu Kamila sudah tidak bergerak di gendongan anaknya, pemuda tadi yang sedang membuka pintu lekas menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. setelah mereka masuk maka saat itu juga lima orang tadi baru saja tiba di tempat itu.


"kurang ajar, kemana mereka"


"mereka pasti masih di sekitar sini"


pemuda itu melihat dari jendela, ia mengintip lima orang itu dan kini percaya kalau memang wanita tadi dan ibunya sedang dikejar.


sementara Haninayah dan ibunya di arahkan masuk ke dalam kamar. ibu Kamila di baringkan di atas ranjang. wanita baya itu memeriksa denyut nadi ibu Kamila, Haninayah sudah menangis sebab ibunya tidak bergerak lagi.


"ibumu hanya pingsan, biarkan dia istirahat. kamu juga sebaiknya istrahat, insya Allah kalian aman di sini"


"terimakasih banyak bu, terimakasih"


ibu itu tersenyum dan mengusap lembut punggung Haninayah. setelah itu ia keluar kamar dan menghampiri anaknya yang masih berada di ruang tamu.


"bagaimana nak...?"


"benar bu, mereka dikejar oleh orang-orang yang ingin mencelakai mereka"


"syukurlah mereka menemukan kita"


di dalam kamar Haninayah begitu bersyukur dapat selamat dari kejaran orang-orang itu. ia pun mengirimkan pesan kepada Fatahillah agar segera datang ke kota X atau dirinya yang akan ke kota B sebab sekarang mereka sudah tidak aman lagi. rumah tempat persembunyian mereka saja sudah diketahui. Haninayah juga mengirimkan pesan kepada pak Umar bahwa ia dan ibunya sekarang telah menjadi target dari orang-orang yang ingin menguasai mustika putih.