
selalu ada jalan keluar yang diberikan kepada Allah untuk setiap umatnya yang memasrahkan segala kehidupannya kepada sang pemegang kehidupan.
aku sangat bersyukur kami tidak perlu pergi begitu jauh untuk mengobati Hanum. karena ternyata orang yang dapat mengobatinya ada di kota B.
kali ini kami belum masuk di kamar untuk tidur. kami para laki-laki berada di ruang tengah sedang ibu Rosida, Zelina dan ibu Akmal yang bernama Afifah, mereka bertiga masih di dapur, mengobrol di meja makan.
"sebenarnya walau bukan kiayi Zulkarnain, kiayi Anshor pun in shaa Allah bisa menyembuhkan mbak Hanum. dulu beliau juga pernah menyembuhkan seseorang yang mempunyai penyakit aneh sama seperti mbak Hanum" ucap Akmal
"penyakitnya sama seperti Hanum...?" tanyaku
"bukan sama mas, maksud aku mereka sama-sama mempunyai penyakit aneh dan kiayi Anshor yang menyembuhkannya" jawab Akmal
"memang penyakitnya seperti apa...?" tanya Hasan
"aku tidak tau pasti apa penyakitnya tapi yang aku tau mereka sudah berobat ke dokter manapun tapi tidak pernah sembuh dan terkahir barulah mereka datang ke kiayi Anshor" jawab Akmal
"apa karena santet juga ya" ucap pak Umar
"bisa jadi, bahkan larut malam wanita itu selalu teriak kesakitan. yang aku dengar kakinya digerogoti ulat sampai pahanya dan....maaf, area sensitifnya terus mengeluarkan bau busuk" jawab Akmal.
"astaghfirullah, sampai separah itu" pak Odir nampak kaget
"tapi itu sudah lama, waktu aku masih mondok di pesantren Abdullah" ucap Akmal
"saya berharap kiayi Zulkarnain dapat mengobati Hanum" ucap pak Umar
"in shaa Allah pak, semua pasti ada jalan" jawabku
kami terus bercerita hingga tidak terasa sudah menunjukkan jam 11 malam. Zelina, ibu Rosida dan ibu Afifa sudah lebih dulu pamit masuk ke dalam kamar. akhirnya kamipun semua membubarkan diri.
aku memang sanga letih, sudah beberapa minggu aku tidak pernah berhenti untuk berurusan dengan makhluk gaib. ingin rasanya aku tidur walau hanya sejenak.
aku menyusul Zelina ke kamar yang telah masuk lebih dulu. istriku sedang membuka jilbab dan cadarnya kemudian ia hanya menggunakan pakaian biasa.
aku yang begitu lelah langsung naik ke atas ranjang dan menutup mata. rasanya mataku terasa sangat berat dan aku juga begitu sangat mengantuk.
"kamu lelah ya mas" ucap Zelina yang kini telah berada di sampingku
aku bangun dan bersandar di ranjang kemudian ku tarik tubuhnya untuk bersandar di dadaku.
setelah aku tau bagaimana perasaannya kepadaku, aku mulai memberanikan untuk selalu melakukan perhatian kecil kepada istriku. seperti saat ini, aku memeluknya dengan erat.
"kenapa mas...?" Zelina mendongakkan kepala
"aku hanya mengantuk saja" jawabku
"kalau begitu mas tidur lah, besok kita masih harus melakukan perjalanan jauh"
melihat wajah istriku yang begitu dekat seperti ini, aku merasa wajahnya begitu cantik secantik hatinya.
mataku menelusuri setiap inci wajahnya hingga mataku berhenti di bibirnya yang tipis. perlahan kepalaku tertunduk dan mendekatkannya wajah ke arahnya hingga kemudian bibirku menempel di bibirnya yang merah muda.
setelah itu aku menarik kembali kepalaku dan menjauh dari wajahnya.
"maaf"
"kenapa harus meminta maaf, bahkan jika mas melakukan hal yang lebih....aku ridho"
"kamu sudah siap aku meminta hakku...?" tanyaku
Zelina mengangguk kecil dan tersenyum kemudian menempelkan tangannya di wajahku.
cup
satu kecupan yang tidak pernah aku duga akan ia lakukan kini telah mendarat di bibirku. aku tersentak kaget karena dirinya membalas ciumanku tadi.
aku adalah laki-laki normal, pastinya menginginkan hal yang lebih dari hanya sekedar apa yang kami lakukan sekarang. namun aku menyadari kalau sekarang bukanlah waktunya. aku tidak ingin melakukannya di rumah orang lain. sangat tidak baik dan aku tidak ingin.
"tidurlah" ucapku
aku berbaring dan begitupun dengan Zelin kemudian ku dekap dirinya di pelukanku.
"mas tidak menginginkan aku...?" tanyanya dalam pelukanku
"tentu saja aku ingin tapi ini di rumah orang, kita tamu di sini. aku tidak ingin melakukannya di sini. nanti saja setelah kita mendapatkan tempat yang seharusnya" jawabku
Zelina tidak lagi menjawab, dia memelukku semakin erat hingga kami berdua mulai tertidur.
"Malik.... Malik, jangan tidur Malik, jangan"
aku seperti mendengar suara guru. namun saat membuka mata rasanya mataku begitu berat untuk terbuka.
"Malik....bangun"
buuuuum
ddduuuaaaar
karena suara benda yang jatuh mengenai atap dan suara ledakan yang begitu keras. aku langsung bangun seketika. kantuk bercampur kaget menjadi satu.
"astagfirullahaladzim" aku mendengar suara Zelina
kami berdua bangun dan saling pandang. kemudian dengan cepat Zelina memakai hijabnya dan cadarnya. kami keluar dari kamar, rupanya bukan hanya kami yang mendengar suara ledakan itu.
"apa yang terjadi...?" tanya ibu Afifah
buuuuum
"astaghfirullah"
hantaman yang begitu keras terdengar di atas atap. ibu Afifah melompat memeluk Akmal, sementara Zelina reflek memelukku.
"aku akan ke luar untuk melihat" ucap Hasan yang langsung melesat ke luar rumah
"sayang, kamu di sini saja bersama yang lain. aku mau keluar menemani Hasan" ucapku kepada Zelina
"hati-hati mas"
kami semua para laki-laki keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sementara Zelina, ibu Rosida dan ibu Afifah berada di dalam rumah.
"suara apa tadi itu" ucap pak Odir
aku melihat ke langit sana, dari jarak yang begitu jauh sebuah cahaya berwarna kuning seperti sedang melesat menuju ke arah kami. bahkan cahaya yang menyala-nyala itu semakin dekat dengan atap rumah Akmal.
"atagfirullahaladzim, itu api" pekik Akmal kala melihat bola api yang begitu besar akan menyerang kami
"kurang ajar" aku mengumpat kesal
ku keluarkan Kerispatih milikku, kemudian mengarahkan kerisku ke arah bola api itu. sebelum mengenai atap rumah, bola api itu sudah meledak karena terkena sihir dari keris milikku.
"kita di serang" ucap Hasan
"Langon" aku memanggil harimau putih
goaaaaarrrrr
"aaaaa, maaaaaak tolong maaaaaak" Akmal malah teriak histeris melihat wujud Langon, dirinya bahkan melompat di punggung ku
rupanya hewan gaibku ini memperlihatkan dirinya kepada Akmal.
"tenang mal, dia tidak akan menggigit kamu" ucap ku
aku menyuruh Akmal untuk turun karena sepertinya malam ini kami tidak bisa tidur nyenyak. kami melihat mungkin ratusan bola api sedang mengarah ke arah kami.
"bagaimana ini Fatah...?" tanya pak Umar
aku membuat pagar gaib menggunakan keris milikku. ku tancapkan keris itu di tanah kemudian keluarlah cahaya dari dalam keris itu dan menyelimuti rumah Akmal. dengan pagar gaib ini, serangan yang dilakukan entah siapa, tidak akan bisa menyentuh kami.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
bola-bola api itu meledak di udara sebelum mengenai atap rumah.
"Akmal, masuklah ke dalam dan suruh ibumu serta yang lain untuk berwudhu kemudian berdzikir, kamu juga ikut berdzikir" ucapku kepada Akmal
"tapi...." Akmal seakan enggan untuk meninggalkan kami
Akmal berlari masuk ke dalam rumah, sementara aku memperkuat pertahanan dengan memperkokoh pagar gaib yang aku buat.
"pak Umar, tolong ambilkan air di ember atau di loyang" ucap Hasan
tanpa banyak tanya pak Umar masuk ke dalam rumah. entah apa yang akan di lakukan oleh Hasan, mungkin dirinya akan berbuat sesuatu untuk menghancurkan bola-bola api ini.
"Langon, kamu ke kamar Hanum, jaga dia jangan sampai ada yang membawanya pergi" ucapku kepada Langon
goaaaaarrrrr
Langon langsung melompat dan menghilang menembus dinding. aku tidak ingin kecolongan lagi, jangan sampai ini hanya trik agar kami fokus menghadapi bola api ini padahal sebenarnya di dalam ada yang mengincar Hanum.
buuuuuum
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
pak Umar datang membawa satu ember air. Hasan kemudian duduk bersila dan menutup mata. setelah itu ia menyimpan tangannya di atas ember hingga hak yang menakjubkan terjadi.
dari air itu membentuk sebuah gelembung, kemudian melayang ke atas semakin besar dan semakin besar. Hasan memang sangat luar biasa, dia dalam melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan.
gelembung-gelembung besar dan banyak itu, langsung melesat ke udara dan terbang secepat mungkin menyerang bola api yang masih terus menyerang kami. saat bola air itu mengenai bola api, maka bola api itu akan mati seketika tanpa adanya ledakan.
"masha Allah, kamu hebat San" puji pak Umar
Hasan terus membuat bola air sementara aku kemudian duduk bersila dan berdzikir menggunakan tasbih milikku. ku lempar tasbihku ke atas dan tasbih itu berputar-putar di atas atap rumah. hal itu semakin memperkuat pagar gaib yang aku buat.
"Malik, kembalikan serangan itu ke pemiliknya" aku dapat mendengar suara guru
"bagaimana caranya guru...?" tanyaku
"bukankah kamu dapat memanggil angin" ucap guru
"apa harus aku lakukan, kalau banyak rumah warga yang porak-poranda bagaimana guru...?" aku ragu untuk melakukannya
"tidak akan, lakukanlah saja"
aku ragu untuk melakukannya namun jika terus seperti ini bisa-bisa pagar gaib yang aku buat akan diruntuhkan. meskipun Hasan dapat menghadang dengan gelembung air yang ia buat namun tetap saja aku harus menghentikan bola api ini secepatnya.
"pak Umar, pak Odir sebaiknya bapak berdua masuk ke dalam rumah. aku harus melakukan sesuatu" ucapku
"tapi.... bagaimana dengan kalian berdua...?" tanya pak Odir
"kami akan baik-baik saja paman" jawab Hasan
keduanya patuh dan masuk ke dalam rumah. jika mereka di sini bisa-bisa mereka terbawa oleh angin yang akan aku panggil.
"San, akan ada angin kencang nantinya. apakah kamu sanggup melindungi diri atau kamu masuk juga ke dalam" ucapku
"aku di sini saja mas, siapa lagi yang akan membantu mas Fatah kalau bukan aku" jawab Hasan
"baiklah. tapi jika nanti kamu tidak sanggup, berpeganglah ditubuhku"
"baik mas"
sebelum memulai aku menghela nafas dan membuangnya dengan pelan. harus penuh konsentrasi karena jangan sampai angin yang aku panggil malah bebalik menyerang bukan malah mengikutiku perintahku. bisa hancur daerah sekitar ini jika itu terjadi
aku duduk bersila dan menyimpan kedua tanganku di masing-masing atas pahaku. ku pusatkan pikiran untuk memanggil angin dari empat penjuru mata angin. dari arah barat, timur, selatan dan Utara. aku harus memanggil dari empat penjuru itu agar dapat membawa pergi bola-bola api yang begitu besar. jika hanya satu penjuru saja maka jelas tidak akan sanggup untuk membawa bola-bola api itu.
"bismillahirrahmanirrahim"
aku mulai membaca mantra untuk memanggil angin yang diajarkan oleh guru. dari siapa lagi aku belajar kalau bukan darinya.
wahai angin yang tidak terlihat
yang berada di penjuru barat
aku memanggilmu
datanglah....datanglah
Wahai angin yang tidak terlihat
yang berada di penjuru timur
aku memanggilmu
datanglah....datanglah
Wahai angin yang tidak terlihat
yang berada di penjuru selatan
aku memanggilmu
datanglah....datanglah
Wahai angin yang tidak terlihat
yang berada di penjuru utara
aku memanggilmu
datanglah....datanglah
ku rasakan terpaan angin di wajahku, angin malam yang begitu dingin hingga kemudian aku merasakan gemuruh angin yang datang dari empat arah.
"SAN, PEGANGAN DI LENGANKU" teriakku kepada Hasan yang masih sibuk membuat gelembung air
Hasan buru-buru mendekatiku dan bahkan bukan berpegangan saja tapi malah memelukku. angin datang dengan kencangnya bahkan pohon-pohon disekitar mungkin bisa saja tercabut dan terbang.
empat angin beliung datang dari empat arah kemudian keempat angin itu bergabung menjadi satu. aku dan Hasan bahkan hampir terjungkal ke belakang. jika tidak memasang pelindung mungkin kami sudah di bawa terbang oleh angin raksasa ini.
jika aku memanggil satu mata arah angin, efeknya tidak akan seperti ini bahkan tidak akan bereaksi apapun kepada kami berdua tapi karena empat penjuru yang aku panggil, aku dan Hasan hampir saja terbang ke langit.
"astaghfirullah, ada apa ini" Hasan masih tetap memelukku dengan erat
aku segera merapatkan tangan di depan dada untuk menyuruh pergi angin yang datang tadi. perlahan semuanya kembali seperti biasa, angin beliung raksasa itu meninggalkan rumah Akmal bersama dengan bola api yang ia bawa.
aku jatuh ke tanah, untungnya Hasan segera menangkapku. perlahan mataku semakin menyipit hingga kemudian semuanya gelap.
"mas Fatah.. mas Fatah"
telingaku masih dapat mendengar suara Zelina yang memanggil namaku hingga kemudian aku tidak lagi mendengar apapun.
saat tersadar aku sudah berada di tempat guruku bersemedi, gunung Gangsir.
"guru" aku bangun dan mencium tangannya
"kamu lelah...?" tanya guru
"aku merasa tenagaku terkuras" jawabku
"harusnya kamu memanggil dua penjuru angin bukan empat. Untung saja tadi kamu segera memberi perintah untuk membuat angin raksasa itu pergi kalau tidak kamu fan temanmu akan dalam bahaya"
"aku pikir jika hanya dua maka tidak akan sanggup membawa pergi bola-bola api itu"
"pikirkan juga resiko yang akan terjadi Fatah. ingat jika tidak mengambil tindakan hati-hati, nyawamu bisa melayang. aku memberitahu tidak akan berpengaruh karena hanya satu penjuru angin yang akan kamu panggil... efeknya hanya seperti angin kencang saat akan turun hujan"
"maaf guru, aku tidak berpikir sampai sejauh itu"
"tidak apa-apa, sekarang kembalilah"
setelah guru mengatakan itu, aku kembali tersadar dan kini sudah berada di dalam kamar.
"mas... Alhamdulillah ya Allah"
orang pertama yang aku lihat adalah Zelina. mata istriku sembab sepertinya dia habis menangis. memangnya apa yang terjadi kepada ku.
"kenapa menangis...?" aku memegang wajahnya
"kamu sudah sadar mas, Alhamdulillah" aku melihat Akmal serta Hasan, pak Umar dan yang lainnya berada di dalam kamar kami
aku berusaha untuk bangun dan dibantu oleh Zelina. aku bersandar di ranjang
"apa yang terjadi padaku...?" tanyaku dengan penasaran karena aku tidak mengingat setelah aku merasa seperti pingsan