Fatahillah

Fatahillah
Bab 111



semua orang panik dan histeris. masih ada beberapa orang yang belum masuk ke dalam bus dan hal itu membuat Fatahillah mematikan panggilan dan berlari ke arah kendaraan itu.


"masuk semuanya, masuk ke dalam bus" instruksi Fatahillah menyuruh mereka untuk masuk


laki-laki yang berlari tadi langsung melompat masuk ke dalam bus. setelah semua orang tidak ada lagi yang berada di luar, Fatahillah menutup pintu. di dalam pintu bus di kunci agar tidak dapat dimasuki oleh siapapun.


sementara banyaknya orang-orang yang ingin menyerang mereka, langsung berlari ke arah Fatahillah. Taufik dan Samuel telah bergabung bersamanya. pistol masing-masing telah berada di tangan mereka. tidak bersuara saat menarik pelatuk pistolnya, jarum kecil melayang dan menancap di leher, di bahu dan di paha dimana target tembakan mereka arahkan.


benar saja apa yang dikatakan oleh Taufik, jarum itu akan membuat otot-otot saraf mereka lumpuh dan tidak bergerak. terbukti yang telah terkena jarum itu, jatuh ambruk di tanah dengan tubuh kaku tidak dapat bergerak.


di dalam mobil Genta hendak ingin turun sebab dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Fatahillah. pintu mobil hendak dibukanya namun Fanan menahan dan menariknya kembali.


"kamu ingin mereka mendatangi kita di sini...?"


"tapi kakakku dalam bahaya, aku harus membantunya"


"dengan kakimu yang seperti itu...?" Fanan menunjuk kaki Genta yang diperban


"persetan dengan kaki. kalau kamu mau selamat maka diam saja di sini, aku tidak akan melibatkanmu" Genta menepis lengan Fanan saat remaja itu menahan lengannya


pintu mobil kembali dibuka, Genta melihat Fatahillah sedang terus menembaki orang-orang yang kini menjadi monster yang mengerikan. bisa mencabik-cabik tubuh seseorang dan membunuh mereka.


"mas Gara" Genta memanggil Fatahillah


akibat suara yang dikeluarkan oleh Genta, sebagian dari mereka berhenti dan berbalik melihat ke arahnya. mereka menatap Genta dengan tatapan lapar dengan air liur yang terus mengalir. Genta bagaikan makanan lezat yang begitu mengunggah selera mereka.


"dasar bodoh, kamu benar-benar ingin mati ya" Fanan kesal karena Genta benar-benar keras kepala


dengan keberanian yang setebal tisu, Genta menutup pintu. Fanan mencari sesuatu di dalam mobil itu berniat untuk membantu Genta. dirinya hanya menemukan tongkat besi yang ada di kabin belakang. diambilnya tongkat besi itu dan ia keluar menyusul Genta.


"bukannya kamu takut mati...?" ucap Genta


"aku bukan manusia yang hanya memikirkan nyawa sendiri" Fanan memegang erat benda yang dipegangnya


memberanikan diri untuk membantu, mereka berdiri dengan ludah yang terus di telan. sorot mata orang-orang itu membuat keberanian mereka semakin memudar. Fanan sendiri tentu saja takut. rasa takut tiba-tiba saja muncul saat melihat betapa menakutkan manusia-manusia yang ada berjarak beberapa meter di depan mereka. ingin masuk kembali namun dirinya sudah terlanjur terlihat. sudah pasti dirinya menjadi salah satu incaran orang-orang itu.


melihat Fanan keluar berdiri di samping Genta, membuat orang-orang itu semakin merasakan lapar. dengan cepat mereka berlari mengarak ke keduanya. mulut mereka bahkan sudah berdarah-darah bercampur air liur yang terus menetes kelaparan. kedua mata mereka telah berubah menjadi putih seluruhnya. bagai zombie yang ada di film layar lebar, seperti itulah rupa mereka.


"GENTA, MASUK MOBIL" Fatahillah menyuruh dengan teriakan yang begitu keras


sudah terlanjur basah. bukannya masuk ke dalam mobil, Genta malah diam menunggu mereka yang semakin dekat. Fanan dengan tangan gemetar, memegang erat tongkat besi itu.


"GENTA, FANAN"


Fatahillah berteriak lagi. dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk menolong keduanya. apalagi sekarang dirinya masih terus menghadapi orang-orang itu yang terus berlari ke arah mereka.


"LANGON"


GRAAAAAR


Langon datang dan melompat tepat di depan Genta dan Fanan. harimau putih itu membuat kedua remaja itu semakin takut gemetar.


GRAAARR


auman harimau putih membuat orang-orang itu mundur.


"jangan bunuh mereka Langon" teriak Fatahillah


Fatahillah tidak ingin orang-orang itu di bunuh oleh harimau putih. bagaimanapun mereka menjadi seperti itu karena ada penyebabnya. mereka membutuhkan kesembuhan bukan kematian. meskipun kini mereka sangat berbahaya, namun membunuh mereka bukanlah tujuan utama.


padahal harimau putih baru saja akan mengaum untuk memecahkan gendang telinga orang-orang itu. namun karena tuannya menahan, maka Langon hanya memasang pagar gaib. merasa tidak ada lagi pergerakan dari ketiganya, orang-orang itu kembali menyerang lagi namun mereka terpental dengan oleh pagar gaib yang di pasang oleh Langon.


Samuel yang melihat itu mengernyitkan dahi merasa begitu heran. sayangnya


keadaan mereka tidak memungkinkan bagi dirinya untuk mengutarakan pertanyaan yang sudah sangat ingin ia keluarkan.


peluru mereka habis namun orang-orang itu tersisa beberapa orang saja. hanya saja masih ada beberapa dari mereka yang masih terus membabi buta ingin menerobos pagar gaib yang melindungi Genta dan Fanan. orang-orang itu masih terus mengintai keduanya.


"peluru habis" ucap Taufik


graaaa


mereka yang tersisa berlari menyerang. tidak ingin mati konyol, ketiganya tentu saja melawan. Fatahillah menotok titik syaraf yang dapat membuat mereka tidak dapat bergerak namun tidak pingsan seperti yang lainnya. hanya dengan begitu maka dirinya tidak akan membunuh orang-orang itu. namun jika keadaan mereka semakin terdesak dan dalam keadaan bahaya, bisa mereka menghabisi nyawa mereka demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


Taufik menemukan tali dan mengikat dua orang. dirinya tidak punya cara lain selain mengikat mereka. Taufik melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Taufik. mengikat mereka agar tidak dapat bergerak dan tidak lagi menyerang.


di depan sana tersisa sepuluh orang lagi yang harus mereka hadapi. ketiganya saling pandang memikirkan cara apa yang harus mereka lakukan untuk melumpuhkan sepuluh orang itu. sementara orang-orang yang berada di dalam bus tidak berani keluar untuk membantu. mereka hanya menyaksikan dari dalam, mereka kagum dengan ketiga pemuda yang dengan begitu beraninya menghadapi orang-orang itu.


"apa tidak ada lagi peluru yang bisa digunakan...?" tanya Fatahillah, peluru maksudnya adalah jarum kecil yang mereka gunakan tadi


"tersisa enam di mobil. kalau kita bisa melumpuhkan enam orang maka akan tersisa empat orang lagi. namun bukan itu yang sedang aku pikirkan. pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kita, maksudku salah satu dari kita bisa masuk ke dalam mobil" Samuel melihat di depan sana, orang-orang itu melakukan segala cara agar bisa menggapai Genta dan Fanan. bahkan mobil mereka telah dikelilingi


Taufik menelisik sekitar sedang mencari sesuatu untuk ia jadikan senjata. ia kemudian menghampiri orang-orang yang ada di dalam bus, menanyakan apakah mereka mempunyai kayu balok atau semacamnya.


"kayu balok ada di bawah pohon sana mas, tempat kami dirikan tenda sebagai dapur" seseorang membuka jendela bus dan menunjukkan Taufik ke arah kiri


langsung saja Taufik berlari ke arah pohon yang ditunjuk oleh remaja tadi. dirinya menemukan dua kayu di sana. ia mengambil dua benda itu dan kembali lagi.


"memukul mereka bisa kan asal jangan membunuh. tapi maaf ya bos jika nanti aku terpaksa membunuh mereka. itu karena aku sedang melindungi diri" Taufik berucap kemudian memberikan kayu balok yang satunya kepada Fatahillah


"kalau nyawa kita terancam, maka bunuh saja" kali ini Fatahillah tidak ada pilihan lain selain mengatakan itu. ia kemudian mengambil kayu balok yang diberikan oleh Taufik


"WOI KALIAN" Fatahillah teriak memanggil orang-orang itu


Samuel telah lebih dulu bersembunyi agar tidak terlihat oleh orang-orang itu. melihat Taufik dan Fatahillah melambaikan tangan kepada mereka semua, orang-orang itu berbalik haluan berlari ke arah keduanya. Genta dan Fanan tidak lagi menjadi incaran mereka.


"mas Gara" Genta ingin keluar dari pagar gaib itu, namun Langon menghadang mereka dengan menatap garang keduanya


Fanan menelan ludah dengan susah. tangannya bergetar menarik Genta untuk kembali ke tempatnya.


"lihatlah, tubuhnya begitu besar. sekali terkam kita pasti langsung mati" bisik Fanan di telinga Genta


Genta seperti patung. diam tanpa suara dan tidak bergerak. dirinya benar-benar takut jika Langon menerkam mereka saat itu juga. harimau milik Gara saja, dirinya tidak berani untuk mendekati. padahal Gangan tidak sedang mengancamnya namun Genta tetap tidak ingin berteman dengan harimau itu. tatapan garan Langon, membuat seketika nyali keduanya ciut.


sementara Fatahillah dan Samuel mengulur waktu, Samuel berlari ke arah mobil.


"mas Sam" Genta senang melihat Samuel


"jangan kemana-mana, tetap di situ" perintah Samuel


keduanya mengangguk patuh. Samuel masuk ke dalam mobil dan mencari jarum yang mereka butuhkan. di dalam laci mobil ia menemukannya. segera ia memasang benda kecil itu ke dalam pistolnya, setelahnya ia keluar dan berlari mendekati Fatahillah dan Taufik yang kini sedang bertempur melawan orang-orang itu.


beberapa orang telah Samuel lumpuhkan. karena jarum itu hanya tersisa enam saja mala yang dapat ia lumpuhkan hanya enam orang saja, empat orang lagi masih menyerang dengan brutalnya. Fatahillah kembali menotok titik syaraf mereka. empat orang itu berhasil di lumpuhkan oleh Fatahillah.


"mas Gara" Genta keluar dari pagar hendak berlari namun saat itu juga dirinya terjatuh sebab kakinya masih begitu sakit


melihat Genta terjatuh, Fatahillah berlari menghampirinya dan membantunya untuk bangun. Genta seketika langsung memeluk Fatahillah, remaja itu bahkan menangis.


"aku takut mas Gara kenapa-kenapa seperti dulu" Genta semakin terisak


"mas baik-baik saja. harusnya yang khawatir itu mas, sebab kamu saat ini sedang terluka. dibilang jangan keluar mobil masih juga ngeyel, memang nakal kamu Tanta" Fatahillah mencubit hidung Genta


"ada ingusnya loh mas" Genta cengengesan


"hiiiiiii jorok banget" Fatahillah melap tangannya walau sebenarnya tidak ada ingus sama sekali. hal itu membuat Genta cekikikan


Genta kembali memeluk Fatahillah. dalam hati Fatahillah berkata kalau ternyata memang benar, Genta begitu manja kepada Gara. terbukti sekarang ini remaja itu begitu manja kepadanya.


semua orang merasa lega akhirnya orang-orang itu dapat diamankan. Samuel menghubungi tim keamanan untuk menjemput orang-orang itu dan dibawa ke tempat pengisolasian. tentunya dirinya membawa nama Gara dalam perintahnya karena hanya penguasa gunung Gantara yang dapat memerintah siapa saja bawahannya.


pukul 02.00 dini hari, mereka telah berada di atap gedung perusahaan Gara Sukandar. tiga helikopter telah siap untuk mengantar mereka pulang. satu persatu mereka naik dengan dibantu oleh Samuel dan Taufik.


"mendarat di tempat biasa" ucap Samuel


"baik"


dua helikopter membawa penumpangnya meninggalkan atap. kini Fatahillah, Samuel, Taufik, Genta dan juga Fanan menaiki helikopter terakhir.


mereka mendarat di wilayah S, di lapangan yang begitu luas. tiga helikopter itu menurunkan semua orang di tempat itu.


"tugas saya sudah selesai bos. kapanpun bos mengeluarkan perintah, saya siap untuk melaksanakan" ucap Taufik


"terimakasih Taufik" Fatahillah menepuk pelan bahu Taufik


"sama-sama bos. saya pergi dulu"


Samuel mengangkat jempol ke arah laki-laki itu. tiga helikopter itu kembali terbang di udara meninggalkan mereka. empat mobil telah terparkir di jalan raya untuk menjemput mereka semua. semuanya akan diantar pulang ke rumah masing-masing begitu juga Fatahillah yang akan pulang di rumah kediaman keluarga Gara Sukandar.


menaiki mobil hitam yang mewah, Samuel menyopiri mereka. Genta yang tidak ingin duduk terpisah dengan Fatahillah, pada akhirnya keduanya duduk di kabin tengah sementara Fanan mengambil tempat di depan di samping Samuel. Genta terus menguap tanpa henti dan tanpa menunggu lama remaja itu telah tertidur pulas di bahu Fatahillah.


Fatahillah menggeser tubuhnya ke paling ujung kemudian ia membaringkan tubuh Genta dan kepala remaja itu berbantalkan pahanya. Samuel memperhatikan mereka, dirinya tersenyum melihat kedekatan keduanya.


"saat kamu ke kota X dia terus menanyakan dirimu setiap hari kapan kamu akan pulang. padahal dirinya sedang marah padamu karena kamu tidak mengizinkannya untuk ikut bersamamu ke kota X. eh tau-taunya pas datang, dia mulai lengket lagi seperti tidak pernah marah" ucap Samuel


"padahal dia sudah sebesar ini tapi masih tetap manja saja" Fatahillah mengelus pelan kepala Genta


"kamu sendiri yang memanjakan dia sejak kecil. jadi ya jangan mengeluh saat sifatnya itu dibawa sampai di dewasa"


Fatahillah diam tanpa menjawab lagi. tidak lama mereka sampai di tujuan, di rumah besar milik keluarga Gara Sukandar. halaman luas dengan air mancur di tengah-tengah. taman indah pun ada di halaman depan rumah itu. sepertinya istri Gandha Sukandar sangat menyukai bunga sehingga ada taman bunga di rumah besar itu.


mobil mewah itu berhenti di parkiran. tidak ingin mengusik tidur Genta, Fatahillah menggendong remaja itu di punggungnya. bukannya terusik, Genta malah semakin memeluk rapat leher Fatahillah. entah kenapa saat pertama melihat Genta, rasa sayang Fatahillah tumbuh begitu saja untuk remaja itu. sama halnya seperti sayangnya ia kepada Zulaikha, maka seperti itu juga dirinya menyayangi Genta.


mereka masuk ke rumah yang bernuansa modern itu. setiap sudut tidak luput dari bunga-bunga indah yang menghiasinya. Fatahillah kebingungan mencari Genta, dirinya sama sekali tidak tau dimana kamar remaja itu. karena tidak mungkin bertanya kepada Samuel, ia pun mengutarakan alasan logis yang bisa di terima.


"tolong bantu aku membukakan pintu kamar Genta. kamu berjalanlah lebih dulu" Fatahillah mengajak Samuel


"lalu dia bagaimana...?" Samuel menunjuk Fanan


"biar dirinya tidur di kamar tamu. atau kamu ingin tidur bersama Genta...?" Fatahillah menatap remaja itu


"aku tidur bersama Genta saja mas" Fanan lebih memilih tidur bersama Genta. dirinya lebih nyaman bersama Genta dibandingkan tidur sendiri di rumah orang lain yang baru saja pertama kali dia datangi


"ya sudah, ayo kalau begitu" ajak Samuel


di ruang tengah mereka naik di lantai dua. Samuel membuka pintu kamar yang sudah dapat dipastikan itu adalah kamar Genta. Fatahillah tidak ragu lagi. mana mungkin teman dari adiknya itu tidak mengetahui kamar dari adik bosnya sendiri.


Genta dibaringkan di ranjang. remaja itu menggeliat pelan kemudian tertidur kembali lagi.


"istirahatlah" ucap Fatahillah


"terimakasih mas" Fanan menjawab sopan


keduanya keluar dari kamar dan kini Fatahillah mulai bingung mencari kamarnya sendiri. ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. matanya sibuk menelisik setiap ruangan yang ada di lantai atas itu.


"kamu ngapain celingukan seperti itu...?" Samuel menatap heran


"emm....kamu mau langsung pulang atau tidur di sini...?"


"kamu menanyakan sesuatu yang sudah kamu tau jawabannya. biasanya kan kalau kita selesai bekerja jam segini, aku selalu tidur di sini, di sebelah kamar kamu yang kamu siapkan khusus untuk kamar aku. kamu ini ya, sepulang dari kota X otakmu rada-rada geser" Samuel menggeleng pelan, ia kemudian berjalan ke arah dua kamar yang saling bersampingan dan membuka pintu salah satunya


(berarti kamar satunya adalah kamar Gara. dia kan bilang tadi di samping kamar aku adalah kamarnya) batin Fatahillah


"selamat tidur bos. siapkan mentalmu untuk besok. oh iya, subuh nanti kamu bangun lebih awal"


"sudah jelas aku akan bangun lebih awal, aku mau sholat subuh pastinya"


"ya ya ya, siapkan mentalmu untuk hari esok" Samuel menutup pintu kamarnya


Fatahillah masuk ke dalam kamar Gara. kamar yang luas dengan kasur yang empuk. harum khas maskulin laki-laki, masuk ke penciuman Fatahillah. dirinya mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana.


memori kejadian tadi kembali terlintas di kepalanya. begitu brutal orang-orang itu menyerang dan bahkan ingin membunuh mereka.


"aku benar-benar penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini" Fatahillah menjadikan kedua lengannya sebagai bantal


dengan menatap langit-langit kamar, Fatahillah memikirkan sesuatu yang belum ia tau jawabannya. menit berikutnya matanya semakin berat hingga akhirnya ia pun tertidur.


padahal dirinya baru saja memejamkan mata namun suara adzan subuh mulai terdengar. pukul empat pagi jam di atas nakas mulai berdering keras. Fatahillah menguap beberapa kali, mengucek mata dan bangun. sejak semalam dirinya tidak mandi. ingin membersihkan diri namun ia sudah begitu mengantuk. maka subuh itu, Fatahillah memutuskan untuk mandi agar lebih segar dalam menjalankan ibadah.


selesai sholat subuh, tidak lama terdengar ketukan pintu dari luar. dirinya yang masih ingin mulai mengaji mengurungkan niatnya dan berjalan ke arah pintu kemudian membukanya.


"ada apa...?"


"bos belum gantian...?"


bukannya menjawab, Samuel malah melempar pertanyaan lain.


"gantian...? memangnya kita mau kemana...?"


"olahraga. cepat bos, ada yang ingin aku tunjukkan padamu. aku tunggu di bawah"


Samuel berlalu begitu saja meninggalkan Fatahillah yang kemudian menutup pintu. ia mengganti pakaian dengan pakaian olahraga kemudian menyusul Samuel di lantai bawah.


di ruang tengah dirinya tidak menemukan Samuel, ia pun hendak akan mencari keluar namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil dirinya.


"Gara"


Fatahillah berhenti dan berbalik. kini seorang laki-laki baya sedang berjalan ke arahnya. tepat di depannya hanya berkisar beberapa langkah, laki-laki itu berhenti dan menatap Fatahillah dengan dalam.


dialah Gandha Sukandar, Fatahillah tau itu karena Gara telah menunjukkan foto laki-laki itu. bekas luka di wajahnya semakin meyakinkan Fatahillah kalau laki-laki itu adalah Gandha Sukandar.


dalam hati Fatahillah berdoa agar laki-laki yang ada didepannya sekarang tidak curiga dengan perubahan yang ada dalam dirinya. meskipun kembar namun Fatahillah dan Gara mempunyai perbedaan. cara berpakaian, gaya rambut bahkan suara pun tidak sama. untungnya Samuel dan Genta tidak menanyakan perubahan suaranya. dirinya lega dengan itu namun kini ia mulai was-was jikalau laki-laki itu mencurigainya.


(berikan kemudahan padaku Tuhan) batin Fatahillah