Fatahillah

Fatahillah
Bab 35



pukul 04.30 pagi, kami tiba di rumah sakit besar yang ada di kota B. Ali segera keluar dai mobil masuk ke dalam gedung yang dominan warna putih ini. setelahnya beberapa perawat datang membawa brankar untuk membawa para santri masuk ke dalam.


satu persatu baik santriwan maupun santriwati langsung dibawa masuk ke dalam untuk di tangani. ada tiga orang santriwati yang telah pingsan karena mungkin lelah dan terlalu lama ditangani. kami semua menunggu di depan kamar tempat para santri di periksa. setiap ruangan bisa menampung sampai lima pasien maka dari itu hanya tiga ruangan saja yang digunakan. jelas untuk memesan kamar VIP tidak akan mungkin dengan jumlah santri yang banyak 15 orang.


Akmal serta tiga orang ustad yang terluka juga sedang di tangani oleh dokter. mungkin luka mereka tidak begitu parah namun bagaimanapun tetap harus diobati.


aku menguap beberapa kali menahan kantuk yang tiba-tiba menyerang namun tidak memungkinkan untuk tidur karena suara azan subuh telah terdengar.


"kita ke mushola rumah sakit ini saja untuk menunaikan sholat" ucap kiayi Anshor


"kalau begitu saya harus pamit pulang karena jam 7 nanti masih ada kegiatan seminar di hotel" ucap Anisa


"di hotel kamu menginap...?" tanyaku


"bukan mas, di hotel lain. maaf tidak bisa menemani lebih lama kiayi"


"tidak masalah, pergilah dan terimakasih telah membantu kami" ucap kiayi Zulkarnain


"kalau begitu saya pamit, assalamualaikum" Anisa bangkit dari duduknya


"wa alaikumsalam" jawab kami semua


aku merasa lega akhirnya Anisa pergi juga. bukan tidak suka dia berada di sini namun setiap berada di dekatnya aku harus selalu waspada dengan sikapnya yang tidak bisa aku tolerir. mungkin baginya itu biasa saja karena kami sahabat namun bagiku semua itu sangat tidak pantas.


"kita sebaiknya pergi sekarang sebelum waktu subuh habis" ucap Hasan


kami setuju dan bergegas ke mushola yang berada di lantai bawah ini. tempatnya berada tidak jauh dengan kantin rumah sakit yang berada di belakang.


tidak banyak tapi ada beberapa orang yang mempunyai tujuan sama seperti kami saat kami tiba di mushola.


segera aku ke tempat wudhu kemudian membaca niat dan mulai membasahi tangan, mulut dan anggota tubuh lainnya yang wajib untuk terkena air.


setelahnya aku masuk ke dalam mushola. Hasan dan Ali sudah lebih dulu melaksanakan sholat dan aku berdiri berbaris sejajar dengan keduanya. sementara ustad Naufal berdekatan dengan kedua kiayi pesantren Abdullah.


setelah berdzikir dan berdoa, rupanya kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor belum beranjak dari tempat mereka. mungkin mereka ingin istirahat sejenak di tempat ini. karena bukan hanya mereka yang lelah, aku pun sangat mengantuk dan ingin sekali menutup mata walau hanya sebentar.


tidak ada lagi orang selain kami di tempat itu. ustad Naufal telah lebih dulu kembali sesuai perintah dari kiayi Anshor untuk melihat keadaan anak-anak santrinya. aku merasa selama kami datang di tempat ini, aku belum melihat istri dan anak kiayi Anshor. padahal aku mendengar kalau beliau memiliki istri dan dua orang anak, keduanya adalah perempuan.


"kalian, kemarilah" kiayi Zulkarnain memanggil kami bertiga


aku, Hasan dan Ali beranjak mendekati mereka dan duduk bersama dengan keduanya.


"Ali, saya ingin meminta tolong agar kamu menjemput anak dan istriku di bandara. apakah kamu bersedia...?" tanya kiayi Anshor menatap ke arah Ali


"tentu saja kiayi" jawab Ali mengiyakan


baru saja tadi aku memikirkan kemana istri dan anak beliau, malah sekarang pun dibahas. rupanya mereka tengah bepergian sehingga aku serta yang lainnya tidak melihat mereka.


"kalian pasti bertanya-tanya kenapa tidak melihat anak dan istriku bukan...?" kiayi Anshor melihat aku dan Hasan


tentu saja aku terkesiap, bagaimana bisa dia tau aku sedang memikirkan hal itu. apakah beliau bisa membaca pikiran orang lain. namun sepertinya itu tidak mungkin, karena hanya Allah yang Maha tau meskipun memang terkadang mungkin ada sebagian orang yang bisa membaca pikiran orang lain dengan izin yang Maha Kuasa.


"saya memang bertanya-tanya kiayi namun tidak berani untuk menanyakan hal tidak seharusnya" ucap Hasan


rupanya bukan hanya aku penasaran sekarang tentang keluarga kiayi Anshor.


"tidak apa-apa" kiayi Anshor tersenyum " istri dan anakku menghadiri pernikahan keponakannya di kota D. harusnya saya juga akan ikut namun mendengar dari Ali bahwa kalian akan datang maka saya membatalkan keberangkatanku" ucap kiayi Anshor


"astaghfirullah, maafkan kami kiayi. harusnya memberitahu kami kiayi, tentu kami bisa menunggu kiayi pulang baru kami akan datang" ucapku dengan sesal karena rupanya kedatangan kami malah membuat kiayi Anshor tidak dapat hadir di acara pernikahan keluarga istri beliau


"kenapa harus meminta maaf, tidak ada yang perlu dimaafkan. lagi pula sudah ada istri dan anakku yang mewakili" timpal kiayi Anshor


"kami berdua sebenarnya ingin menanyakan sesuatu padamu Fatahillah" ucap kiayi Zulkarnain


"menanyakan sesuatu...?" keningku mengkerut


"iya, kami hanya ingin memastikan saja" jawab kiayi Zulkarnain


dari tatapan keduanya yang serius melihat ke arahku, aku jadi merasa bahwa apa yang akan mereka tanyakan adalah sesuatu yang penting.


"silahkan tanya saja kiayi, kalau saya bisa menjawab insya Allah saya akan jawab" ucapku yang sebenarnya begitu penasaran


kiayi Zulkarnain saling tatap dengan kiayi Anshor kemudian keduanya melihat ke arahku.


"boleh tau siapa nama ibumu...?" tanya kiayi Zulkarnain


aku semakin dibuat penasaran ketika mereka menanyakan nama ibuku. memangnya ada apa sebenarnya, apakah mereka mengenal ibu atau ayah.


"nama ibu saya Khadijah kiayi" jawabku


"memangnya ada apa kiayi...?" aku tidak tahan lagi untuk tidak bertanya


"boleh kami melihat gambar ibumu...?" tanya kiayi Anshor


bahkan mereka tidak menjawab namun malah ingin melihat gambar ibu. aku yang tentu saja tidak mempunyai pikiran buruk hanya rasa penasaran yang teramat sangat, tetap patuh kepada keduanya. aku merogoh ponsel dan mencari foto ibu kemudian memperlihatkan kepada mereka berdua.


"ini foto ibu saya" aku memberikan ponselnya kepada kiayi Zulkarnain


"foto ayahmu...?"


"saya tidak mempunyai foto ayah kiayi karena sejak saat saya baru lahir ayah sudah meninggalkan saya dan ibu. namun saya tau siapa nama almarhum ayah" jawabku


"siapa namanya...?" tanya kiayi Zulkarnain dan mengembalikan ponselku


"Hadi Jatmiko" jawabku menerima ponselku yang diulurkan oleh kiayi Zulkarnain


"apakah kamu mempunyai tanda lahir di bahu kananmu yang berbentuk naga...?" tanya kiayi Anshor


aku kaget dan sangat sangat begitu kaget. bagaimana mereka bisa tau kalau aku mempunyai tanda lahir di bahu kananku yang berbentuk seperti naga.


"memangnya ada apa kiayi, apakah Fatahillah anak pungut atau semacamnya" ucap Hasan


plaaaak


aku langsung memukul lengang Hasan yang berani-beraninya mengatakan aku anak pungut.


"aduh, kenapa aku dipukul" ringis Hasan memegang lengannya


"mulutmu loh San, tega sekali manggil aku anak pungut" aku memasang wajah kesal


Ali dan kedua kiayi yang ada di depan kami tertawa kecil melihat perdebatan ku dengan Hasan. kami berdua seperti dua saudara yang sedang memperebutkan mainan.


"dulu kami mempunyai dua sahabat, yang bernama Amsar dan Halim Nawawir, guru dari Fatahillah" ucap kiayi Zulkarnain


berarti memang benar dugaan ku kalau ternyata guru saling mengenal dengan kiayi Zulkarnain.


"lalu kiayi" ucap Ali yang sepertinya penasaran


"Fatahillah harus mendengar cerita ini dari ibunya sendiri. dia harus tau dari ibunya sendiri, bukan dari orang lain" ucap kiayi Anshor dengan tegas


"memangnya ada apa kiayi, apa yang harus saya tau" tanyaku


jujur saja saat ini kantuk yang sejak tadi aku tahan langsung hilang seketika disaat dimana kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor malah bermain teka-teki denganku. bahkan kini mataku terbuka lebar tanpa merasakannya rasa kantuk sedikitpun.


"berikan ini kepada ibumu" kiayi Zulkarnain memberikan kepadaku sebuah cincin batu akik yang bermata biru,


"katakan padanya kalau pemilik cincin itu masih hidup dan sedang menunggu untuk dijemput. keselamatannya tergantung kepada ibumu. apakah ibumu rela melepas kamu pergi untuk menyelamatkannya mempertaruhkan nyawa atau dia....akan mati perlahan-lahan dengan harapan yang sia-sia" ucap kiayi Zulkarnain


"kami pernah mencoba untuk menyelamatkannya namun kami gagal, bahkan Halim pun gagal. hanya satu orang yang menjadi harapan kami, orang itu adalah yang mempunyai ikatan darah dengannya" ucap kiayi Anshor


"saya tidak mengerti kiayi, bisa jelaskan lebih detail lagi. saya benar-benar tidak mengerti" ucapku seperti orang bodoh yang sama sekali tidak tau apapun


"kamu akan tau jika ibumu nanti memberitahu. jika saat itu tiba, maka datanglah kembali ke sini" ucap kiayi Zulkarnain


"saat ini kami sedang mencari istri dari pemilik cincin itu. entah dia masih hidup ataukah sudah meninggal, karena sejak kejadian itu kami tidak pernah bertemu dengannya lagi. kalaupun masih hidup, entah bagaimana keadaannya sekarang" ucap kiayi Anshor


"maaf saya menyela kiayi, tapi saya sepertinya pernah melihat wanita yang pernah kiayi tunjukkan gambarnya padaku" ucap Ali


"dimana, katakan dimana kamu pernah melihatnya. apa kamu yakin kalau itu adalah benar-benar dia...?" tanya kiayi Anshor


"aku.... belum begitu yakin tapi jujur saja saya benar-benar pernah merasa melihatnya. entah dimana saya juga lupa tapi yang pasti masih disekitar kota ini" jawab Ali begitu yakin


"kalau dia di kota ini, semoga kita bisa menemukannya nanti" ucap kiayi Anshor


aku kembali melihat cincin yang ada di tanganku. tidak begitu besar, jika aku pakai mungkin akan muat di jariku.


"pakailah, kamu berhak memakainya" ucap kiayi Zulkarnain


aku memakai cincin ini di jari telunjukku karena hanya dijari itu yang pas untuk cincin ini melingkar.


"sebaiknya kita kembali" ucap kiayi Zulkarnain


sudah jam 06.00 pagi, kini kami kembali ke tempat dimana para santri di tangani oleh para dokter tadi. saat tiba, mereka rupanya sedang istirahat setelah luka-luka mereka dijahit dan diobati.


"aku pikir kalian bersemedi di mushola" ucap Akmal


"bahumu bagaimana, tidak sampai patah kan...?" tanya Hasan


"Alhamdulillah, aku kan laki-laki super...sakit bahu mah hal sepele aaaaaa" Akmal tidak menyelesaikan ucapannya dirinya langsung teriak karena Hasan memukul bahunya


"mas Hasan mau buat aku masuk ICU ya" Akmal kesal dan menjauh dari Hasan


"lah, katanya kamu laki-laki super, masa iya baru aku pukul begitu saja langsung histeris" ucap Hasan tanpa dosa


'ya tapi jangan dipukul juga bahuku, sakit tau. aku belum mau mati. aku belum nikah loh mas, belum merasakan nikmatnya surga dunia" ucap Akmal


"anak kecil dilarang nikah, belum cukup umur" ucap Ali menjitak kening Akmal


"haish...paman ini" Akmal cemberut


"malahan dia sudah lewat umur Al" ejek Hasan


"sakarepmu lah mas" Akmal menyerah melawan Ali dan Hasan


karena merasa lapar, aku dan Hasan keluar untuk mencari makan. sementara kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor menunggu para santri mereka bersama ustad Naufal dan Akmal. sementara tiga ustad yang terluka tadi, sudah izin pulang karena mereka harus memantau keadaan pondok pesantren. di sana hanya ada para ustadzah sedang laki-laki hanya pak Umar dan pak Odir.


"kita ke pasar saja Fatah, sudah dekat dari sini" ucap Hasan setelah kami masuk ke dalam mobil


"aku sempat melihat di depan pasar ada yang menjual bubur ayam, kita beli itu saja" lanjut Hasan lagi


"ya sudah kita ke sana saja" jawabku


Hasan yang menyetir sementara aku duduk di sampingnya. mobil Hasan bergerak dan keluar dari halaman rumah sakit. hanya beberapa menit kami telah tiba di pasar. memang benar kata Hasan, rumah sakit itu tidak jauh lagi dari pasar yang pernah kami datangi saat datang belanja pakaian.


"mana buburnya San...?" tanyaku setelah kami berdua keluar dari mobil


"kita harus jalan ke depan beberapa meter terus belok kiri" jawab Hasan


"tapi sebelum membeli bubur ayam, temani aku dulu membeli perlengkapan mandi untuk Hanum"


"kamu tau sabun apa yang dia pakai...?"


"taulah, aku sering menemaninya belanja. ayo"


Hasan menarik tanganku untuk ke arah timur. di deretan tempat itu, semuanya adalah penjual berbagai macam kosmetik dan masih banyak lagi. yang pasti adalah barang-barang yang dibutuhkan oleh baik laki-laki maupun perempuan.


Hasan memilih apa yang ia butuhkan sementara aku langsung terpikir dengan Zelina. aku ingin membelikan Zelina namun aku tidak tau merek apa yang dipakainya. alhasil aku membeli yang menurut aku bagus, wangi dan berkualitas. satu kantung plastik besar hampir penuh dengan barang-barang yang aku beli, membuka Hasan membulatkan mata.


"banyak banget elu ngeborongnya"


"biar istriku nanti tinggal pilih yang mana yang mau dia pakai" jawabku mencium parfum yang ada di tanganku


"terserah kamu lah"


kami membayar ke pemilik toko dan keluar untuk menuju ke mobil menyimpan barang-barang kami di bagasi.


saat hendak beberapa meter lagi untuk kami sampai di mobil, sebuah suara langsung menghentikan langkahku.


"ANAKKU"


aku berhenti dan berbalik, wanita kemarin yang menganggap aku anaknya tengah berlari ke arahku dan


bugh


ia langsung menubruk tubuhku dan memelukku dengan erat.