
"kalau mengantuk tidur saja sayang" ucap Fatahillah melihat sekilas ke arah Zelina yang sedang menguap beberapa kali
"apa tidak apa-apa aku tidur, nanti mas tidak punya teman cerita" Zelina menatap lembut suaminya
"tidak apa-apa, kamu tidurlah. kamu tidak boleh terlalu lelah, aku tidak mau istriku sakit karena menemaniku begadang menyetir"
Fatahillah tersenyum lembut dan mengecup singkat tangan Zelina. setelahnya Zelina mencari posisi yang nyaman untuk dirinya tidur. jujur saja matanya sudah tidak bisa dipaksakan untuk terus terbuka namun karena tidak ingin suaminya kesepian maka dari itu Zelina bertahan menahan kantuk sejak tadi.
hanya beberapa menit Zelina telah masuk ke alam mimpi. Fatahillah bernafas lega, istrinya itu kini sudah terlelap. ia pun juga melihat kedua orang penumpangnya yang ada di kabin tengah, sudah tertidur pulas sejak tadi.
namun tidak lama Hasan terbangun dan mengucek matanya. Arjuna tengah bersandar di bahunya, remaja itu tidak terusik dengan pergerakan yang dilakukan oleh Hasan.
"Fatah, kalau kamu capek biar aku saja yang menyetir" ucap Hasan dengan suara serak khas bangun tidur
"aku baik-baik saja, lebih baik kamu lanjutkan saja tidurmu. coba perbaiki posisi tidur Arjuna, bisa patah lehernya kalau seperti itu" Fatahillah melihat di spion gantung, kepala Arjuna yang dalam posisi tunduk ke depan tidak lagi bersandar di bahu Hasan. itu karena Arjuna sudah tidak sadar dan melakukan gerakan mencari posisi ternyaman untuknya
Hasan bergeser ke sebelah kiri kemudian ia membaringkan kepala Arjuna di pahanya. tidak lupa kaki remaja itu ia tekuk dan dinaikkan di atas kursi.
Hasan membuka kaca jendela mobil agar angin malam dapat menerpa wajahnya. sepintas pikirannya kini tertuju kepada Hanum dimana dirinya tadi sore berpamitan untuk ke kota S dan akan kembali lagi nanti.
"apa yang kamu pikirkan San...?" tanya Fatahillah karena ia tidak lagi mendengar suara Hasan
"merindukan seseorang" jawab Hasan
"Hanum...?" tebak Fatahillah
"bagaimana kamu yakin kalau aku sedang memikirkan dia"
"oh memangnya bukan ya. umm atau jangan-jangan kamu sedang memikirkan Najwa...?
"hei...sejak kapan aku memikirkan gadis itu. jangan mengada-ada"
"lah terus siapa yang kamu rindukan itu. aku taulah San, kamu pasti sedang memikirkan Hanum. tidak mungkin kan kamu memikirkan Akmal" Fatahillah terkekeh pelan
Hasan hanya tersenyum menanggapi perkataan Fatahillah. setelahnya sunyi, tidak ada lagi percakapan diantara keduanya.
semakin jauh mereka berkendara maka malam semakin merangkak naik larut malam. perputaran waktu terus berjalan, kini sudah menjelang pukul 12 malam. bahkan kendaraan pun tersisa beberapa saja yang lewat.
karena mulai kedinginan, Hasan menaikkan kembali kaca mobilnya. tepat saat kaca mobil dinaikkan, sesuatu menghantam keras kaca mobil itu membuat Hasan begitu kaget.
"astaghfirullah" Hasan tersentak dan memundurkan tubuhnya
"kenapa San...?"
"entahlah, ada yang menabrak kaca mobil. untung aku sudah menaikkan kacanya tadi. seperti hewan yang bisa terbang, entah burung apa tadi itu"
"mungkin itu hanya burung yang tidak sengaja menabrakkan dirinya ke mobil kita"
keduanya tidak berpikir negatif, mereka menganggap burung tadi adalah burung biasa yang tidak sengaja menabrak mobil.
hening tidak ada lagi yang bersuara sampai tiba-tiba Fatahillah menginjak rem secara mendadak dan membanting setir mobil ke kanan. hal itu membuat Hasan dan Arjuna terhuyung ke depan. untungnya Hasan segera memeluk Arjuna sehingga remaja itu tidak terguling ke bawah. Zelina yang merasa kaget langsung bangun dan membuka matanya.
"kenapa mas...?"
"ya Allah Fatah, kamu hampir membuat kita celaka" Hasan memperbaiki posisi tidur Arjuna yang tidak terusik dengan kejadian tadi
"maaf, aku hampir menabrak seseorang" Fatahillah pun sama kagetnya dengan keduanya
"tapi tidak ada siapapun di sini mas, tempatnya sepi seperti ini. tidak ada orang sama sekali" Zelina melihat ke arah luar, memang tidak ada seorangpun manusia yang ia lihat
"masa iya, padahal jelas sekali tadi aku melihat ada seseorang yang berdiri tepat di depan mobil"
Fatahillah memutuskan untuk keluar, dia ingin memastikan penglihatannya tadi. Hasan pun mengangkat kepala Arjuna dengan hati-hati kemudian ikut keluar menyusul Fatahillah.
"gimana...?" Hasan menghampiri Fatahillah
"tidak ada orang San, padahal aku lihat betul ada seseorang yang berdiri di tengah jalan tadi" Fatahillah menelisik ke sekitar, ia tetap tidak menemukan apapun di tempat itu
bahkan karena begitu yakin dengan penglihatannya, Fatahillah memeriksa di bawah mobil mungkin saja orang itu telah di tabrak olehnya namun hasilnya tetap nihil, di bawah mobil pun tidak ada siapapun.
"kita lanjut saja Fatah. kalau memang kamu melihat seseorang tadi, aku merasa dia bukanlah orang melainkan makhluk gaib"
"baiklah, kita lanjut saja" Fatahillah menyerah mencari sosok orang itu
keduanya kembali ke mobil dan masuk ke dalam. namun betapa terkejutnya mereka karena dua orang yang mereka tinggalkan tadi sudah tidak ada di dalam.
"kemana Zelina dan Arjuna...?" Hasan panik karena keduanya tidak ada di mobil
"tadi mereka ada di dalam kan, kenapa sekarang mereka tidak ada. kemana mereka pergi" Fatahillah panik dan gelisah
keduanya kembali keluar untuk mencari keberadaan Zelina dan Arjuna. bahkan teriakan Fatahillah yang begitu keras tidak dijawab oleh dua orang itu.
"BRENGSEK...SIAPA YANG MEMBAWA ISTRIKU" Fatahillah meninju kap mobil
"kita sudah dikelabui. sialan, bisa-bisanya kita tidak sadar" Hasan mengumpat kesal
goaaaaarrrrr
suara harimau putih terdengar dari arah barat. Fatahillah berbalik dan melihat Langon sedang berlari ke arahnya. Langon datang mengelilingi tubuh Fatahillah kemudian ia mendorong tubuh tuannya seakan hendak ingin menunjukkan sesuatu.
"kamu tau keberadaannya Zelina dan Arjuna...?" tanya Fatahillah dan Langon mengangguk
"kalau begitu tunjukkan kepadaku"
GRAAARR
Langon melompat dan berlari, Fatahillah serta Hasan mengikuti harimau putih itu. harimau putih berlari ke arah barat menembus kabut yang begitu tebal. tanpa merasa lelah sedikitpun mereka terus berlari dan berlari.
"kemana dia akan pergi, kenapa begitu jauh sekali" Hasan mulai ngos-ngosan
"ikuti saja, Langon tidak pernah salah dalam memberikan informasi" Fatahillah tidak peduli dengan rasa lelah yang ia rasakan. baginya saat ini yang lebih penting adalah keselamatan istrinya dan juga Arjuna
mereka berhenti di sebuah jalan yang entah akan membawa mereka kemana. untungnya bulan saat itu mengeluarkan cahayanya yang indah sehingga penglihatan mereka tidak terhalang oleh gelapnya malam dan mereka tidak perlu susah-susah menggunakan senter ponsel sebagai penerang jalan.
"mobil siapa ini...?" Hasan mendekati mobil itu dan memeriksa ke dalam dengan mengintip dari balik kaca "nggak ada orangnya" ucapnya lagi
"Langon, dimana Hanum dan Arjuna...?" Fatahillah berjongkok di depan harimau putih
Langon melesat ke arah belakang Fatahillah dan mendorong punggungnya. hewan itu meminta Fatahillah untuk mengikuti jalan yang ada di depan mereka.
"kamu ingin aku mengikuti jalan ini...?"
GRAAARR
"baiklah, ayo San"
keduanya hendak akan mengikuti jalan itu namun ada beberapa orang yang menghalangi jalan mereka. bukan hanya beberapa namun jika di kisar mereka lebih dari 20 orang. Fatahillah dan Hasan telah mereka kepung, keduanya saling mempertemukan punggung dan bersiap memasang kuda-kuda.
seorang laki-laki datang mendekati keduanya dan berdiri di hadapan mereka.
"kamu mencari istrimu...?" tanya laki-laki
"brengsek, jadi kamu yang menculik istriku. kurang ajar" Fatahillah menyerang laki-laki itu dan dengan sigap laki-laki itu menghindari serangan Fatahillah
melihat bos mereka di serang, orang-orang itu tidak tinggal diam. mereka maju melesat ke depan dan menyerang Fatahillah serta Hasan. pertarungan tentu saja tidak dapat dielakkan lagi.
orang-orang itu sepertinya memiliki kemampuan yang mumpuni sehingga mereka dengan begitu mudah menghindari setiap serangan dari kedua pemuda itu. bahkan Fatahillah dan Hasan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengalahkan mereka.
sekejap mata harimau putih telah berada di arena pertarungan. padahal tadi Langon tengah menyusuri jalan dimana Zelina dan Arjuna di culik oleh orang yang tidak di kenal namun mendengar panggilan dari tuannya, Langon menghilang seketika dan kini telah berada di tempat pertarungan.
GRAAARR
Langon melompat dan menerkam dua orang sekaligus. keduanya dicabik-cabik dan melempar mereka ke semak-semak. orang-orang itu mulai waspada, jangan sampai Langon menerkam mereka.
goaaaaarrrrr
"TUTUP TELINGA KALIAN SEMUA"
bos mereka memberitahu semua anak buahnya untuk menutup telinga karena jika tidak maka orang-orang itu akan mengalami hal yang mengenaskan.
aaaggghh
aaaggghh
bahkan meskipun telah menutup telinga, dua orang dari mereka mengalami sakit yang luar biasa akibat aungan dari harimau putih. telinga keduanya berdenging dan mulai mengeluarkan darah. tidak menunggu lama mereka berdua tumbang tewas dengan mengenaskan.
wuuuussshhh
swing
bugh
laki-laki yang menjadi bos dari orang-orang itu melesatkan serangan ke arah Langon membuat harimau putih itu terpental jauh.
"Langon"
tidak terima hewan peliharaannya di celakai, Fatahillah melesatkan serangan bertubi-tubi ke arah laki-laki itu. keduanya bertarung dengan hebat sementara Hasan masih melawan anak buahnya.
bugh
bugh
Fatahillah memukul punggung dan dada laki-laki itu sehingga ia terseret mundur beberapa langkah.
swing
swing
Fatahillah melompat melesatkan kekuatannya. jika tidak menghindar laki-laki itu mungkin sudah terbelah menjadi beberapa bagian.
(sakti juga pemuda ini) batinnya
"bos Wira, bos tidak apa-apa...?" salah satu anak buahnya datang membantunya untuk berdiri
laki-laki itu adalah Wiratama, tangan kanan dari Samantha Regina yang menginginkan mustika merah milik Fatahillah.
Fatahillah kembali menyerang Wiratama, tidak dapat menghindar Wiratama terpaksa melawan Fatahillah. rupanya Wiratama juga tidak dapat dianggap remeh, laki-laki itu juga mempunyai kekuatan tenaga dalam yang ternyata sangat kuat.
bugh
bugh
masing-masing terkena pukulan dari lawan. Fatahillah terpental begitu juga dengan Wiratama. kondisinya yang masih lemah membuat tenaga Fatahillah ikut menurun bahkan saat ini dirinya harus memaksakan diri untuk tetap bangkit.
uhuk...uhuk
Fatahillah batuk darah begitu juga dengan Wiratama. Hasan yang melihat Fatahillah terkena serangan langsung mengeluarkan kekuatannya dan menyerang orang-orang itu. mereka semua terpental sedang Hasan menggunakan kesempatan untuk melesat mendekati Fatahillah.
"kamu tidak apa-apa...?" Hasan membantu Fatahillah untuk bangkit
"Langon dimana" Fatahillah memikirkan hewan peliharaannya itu
GRAAARR
Langon datang mendekati tuannya dan mengelilingi Fatahillah dan Hasan. harimau putih itu terbaring di tanah karena serangan yang dilesatkan oleh Wiratama tadi membuat dirinya terluka.
"katakan dimana istriku" Fatahillah menatap tajam Wiratama yang sedang menyeka mulutnya karena berdarah
"tidak segampang itu. serahkan mustika merah maka istrimu akan aku kembalikan padamu"
"bajingan" Fatahillah hendak kembali menyerang namun Hasan menahannya
"kamu belum pulih Fatah, bisa-bisa kamu mati di tangannya"
"aku tidak peduli San, lebih baik mati daripada harus kehilangan Zelina"
Wiratama tersenyum menyeringai, ia berhasil mengelabui kedua pemuda itu.
"bagaimana, jika kamu terima tawaranku maka aku akan melepaskan istrimu"
"jangan mimpi, sampai kapanpun mustika merah tidak akan aku berikan padamu"
"maka jika begitu bersiaplah menerima mayat istrimu nanti. kamu memang laki-laki tidak berguna, menolong istri saja dirimu tidak becus" Wiratama mengejek
"brengsek"
"bunuh mereka berdua" perintah Wiratama kepada semua anak buahnya
orang-orang itu kembali menyerang Fatahillah dan Hasan sementara Wiratama mendekati Langon yang sedang dalam merintih kesakitan. rupanya luka Langon begitu parah sampai-sampai kini dirinya tidak bisa bangun untuk membantu tuannya.
Wiratama tersenyum menyeringai dan akan menghabisi Langon. telapak tangannya sudah mengeluarkan cahaya untuk membunuh harimau putih.
Fatahillah tentu saja tidak tinggal diam. saat Wiratama akan menghabisi Langon dengan kekuatan miliknya, saat itu juga Fatahillah menangkis serangan itu dengan kekuatan cincin yang ia miliki.
tanpa ampun Fatahillah dan Hasan menghabisi satu persatu anak buah Wiratama. meskipun mereka semua memiliki ilmu kanuragan namun belum bisa mengalahkan dua pemuda yang tentunya ilmu mereka jauh lebih berada di atas orang-orang itu.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
Wiratama yang marah karena gagal menghabisi Langon. kini ia melesatkan serangan ke arah dua pemuda itu. Fatahillah mendorong Hasan agar tidak terkena serangan dari Wiratama sementara Fatahillah sendiri terpental menabrak pohon.
kondisi Fatahillah semakin memburuk. melawan dalam keadaan tubuh masih lemah membuat dirinya kehilangan banyak tenaga.
Wiratama melesat cepat menghampiri Fatahillah dan mencekik lehernya. ia mengangkat Fatahillah hingga kedua kakinya tidak berpijak di tanah.
"serahkan mustika merah"
Fatahillah mulai merasakan sesak nafas. bahkan lehernya begitu sakit bagai di lilit tali dan ditarik dengan begitu kuat. kedua matanya mulai memerah dan mengeluarkan air mata.
"Fatah"
Hasan melesat dan menendang kepala Wiratama. laki-laki itu terjungkal sementara Fatahillah jatuh tersungkur ke tanah.
Wiratama semakin marah karena Hasan datang menggagalkan rencananya untuk membunuh Fatahillah. ia mengeluarkan tenaga dalamnya dan menyerang keduanya. Fatahillah dengan sisa tenaganya melindungi mereka berdua menggunakan kekuatan dari cincin batu akik miliknya.
ddduuuaaaar
dua kekuatan yang saling bertemu menghasilkan suara ledakan yang begitu besar.
setelah ledakan itu, Wiratama hendak menyerang kembali namun ia sudah tidak lagi melihat keberadaan kedua pemuda itu. bahkan harimau putih pun sudah menghilang di tempatnya.
"brengsek, siapa yang beraninya ikut campur dalam urusanku" Wiratama begitu marah karena buruannya telah melarikan diri