
dua anak manusia masih saling berpelukan di dalam satu selimut yang sama. setelah mereka melakukan beberapa kali ibadah yang tentunya halal bagi keduanya, mereka terlelap dalam tidur dalam keadaan yang masih polos dan berpelukan satu sama lain.
"Allahuakbar Allahuakbar"
suara azan subuh mulai terdengar, panggilan Tuhan kepada semua hambanya untuk bersimpuh dan memohon segala apa yang menjadi keinginannya dan meminta jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi.
Fatahillah yang mendengar suar azan langsung membuka matanya. pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita cantik yang tidur nyaman di dekapannya masih begitu terlelap tanpa terusik dengan pergerakannya.
"masya Allah, istriku dalam keadaan tidur saja dia tetap cantik" Fatahillah memperbaiki anak rambut yang menutupi wajah istrinya
cup
satu kecupan manis mendarat di bibir Zelina. baginya bibir istrinya adalah candu yang baru untuk Fatahillah.
Zelina menggeliat kecil kemudian membuka matanya. saat itu juga kedua mata mereka saling bertemu tatap. saat membuka mata Zelina sudah melihat wajah suaminya yang kini sedang memperhatikannya.
karena merasa malu, Zelina menarik selimut dan menutupi wajahnya membuat Fatahillah menjadi gemas sendiri dan terkekeh pelan.
"assalamu'alaikum istriku" ucap Fatahillah menarik selimut agar wajah Zelina dapat terlihat
"wa alaikumsalam suamiku" jawab Zelina
setelah menjawab itu, Zelina langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Fatahillah karena dirinya begitu merasa malu.
"kamu kenapa sih sayang...?" Fatahillah memeluk tubuh ramping istrinya
"jangan liatin aku terus mas, aku malu" cicitnya
"masa sama suami sendiri malu. padahal yang aku lihat hanya wajah kamu doang loh. semalam malah aku telah melihat semuanya"
"mas ih, tidak usah bahas itu" Zelina semakin malu karena ulah suaminya
"tapi aku mau lagi sayang" bisik Fatahillah di telinga istrinya
mata Zelina seketika membulat dan menarik kepala agar sedikit menaruh dari Fatahillah.
"semalam mas minta terus loh, bahkan aku masih capek sekali mengimbangi mas semalam. masa iya mau minta lagi" Zelina cemberut dan hal itu membuat Fatahillah mengecup bibir istrinya dengan cepat
"maklumlah sayang, namanya juga baru pertama coba dan ternyata bikin ketagihan. semalam kayaknya ada yang keenakan juga tuh bahkan memanggil nama aku" Fatahillah menggoda istrinya dengan menaik turunkan alisnya
"mas Fatah ih.... menyebalkan" Zelina masuk ke dalam selimut dan hal itu membuat Fatahillah tertawa lepas telah berhasil membuat istrinya malu-malu kucing
tanpa Zelina sadari Fatahillah meraih tubuhnya dan menggendongnya hingga tubuh mereka tidak lagi dibaluti selimut.
"mau ngapain mas...?" Zelina memeluk leher Fatahillah agar dirinya tidak jatuh
"kita mandi terus sholat subuh, azan sudah berhenti sejak tadi" jawab Fatahillah
Fatahillah membawa istrinya ke kamar mandi dan menyimpannya di bathtub. setelah itu ia mengisi bathtub dengan air hangat agar mereka tidak kedinginan.
hanya mandi tanpa melakukan ritual yang lain, Fatahillah dan Zelina saling menggosok punggung sampai mereka selesai. setelah itu masing-masing dari mereka berwudhu karena syarat salah satunya menunaikan shalat adalah bersuci terlebih dahulu.
kini keduanya telah siap dengan pakaian sholat masing-masing. Fatahillah siap menjadi imam dan Zelina menjadi makmum untuk suaminya.
sholat subuh dua rakaat mereka kerjakan dengan khusyuk. bacaan ayat-ayat Allah yang keluar dari bibir Fatahillah membuat Zelina terlena dan ia begitu bersyukur ayahnya menikahkan mereka berdua. laki-laki yang mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu di rumah sakit.
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kana
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kiri
keduanya mengangkat tangan, berdoa kepada sang pencipta meminta keberkahan dalam rumah tangga, kesehatan, keselamatan dari kedzaliman orang-orang yang berhati keji yang berniat mencelakai mereka.
Fatahillah membalikkan badannya untuk menghadap ke arah istrinya. Zelina mendekat dan mencium punggung tangan suaminya dan Fatahillah mencium kening istrinya.
"semoga kebahagiaan dan keselamatan selalu menyertaimu istriku" doa Fatahillah untuk istrinya kemudian ia mencium keningnya
"terimakasih mas, semoga kebahagiaan dan keselamatan selalu menyertai mas Fatah juga" Zelina tersenyum
Fatahillah membawa istrinya ke dalam pelukan dan beberapa kali mencium pucuk kepala istrinya yang dibalut dengan mukenah.
fajar berlalu dan kini matahari pagi mulai menyapa. hari ini mereka akan kembali ke pesantren membawa Arjuna yang akan ikut bersama mereka nanti di kota B.
"kita cari makan untuk sarapan dulu ya" ucap Fatahillah
saat ini mereka telah berada di dalam mobil. beberapa menit yang lalu Fatahillah baru saja melakukan check out dari hotel karena mereka akan kembali ke pesantren.
"iya mas" jawab Zelina
"kamu mau makan apa Arjun...?" tanya Fatahillah kepada Arjuna yang duduk di kabin tengah
"aku terserah mas sama mbak saja" ucap Arjuna
"baiklah, kita cari warung makan dulu" ucap Fatahillah
"mas, kita singgah di minimarket ya. aku ingin membeli cemilan untuk di rumah"
"iya sayang"
mobil mereka berhenti di sebuah warung makan yang bertuliskan ikan bakar nenek Surti. ketiganya keluar dari mobil dan masuk ke dalam. ada beberapa orang yang sedang menikmati makanan mereka. Fatahillah memilih tempat duduk di bagian kiri. setelah itu datang seorang wanita tua menghampiri mereka. mungkin dialah pemilik warung tersebut.
"mau makan apa nak...?" tanya nenek itu
"ikan bakar yang lebih besar ya nek, terus minumannya es teh tiga" jawab Zelina
"tidak ingin lihat dulu ikan mana yang ingin dimakan untuk nenek bakar...?"
"memangnya belum dibakar ya nek...?" tanya Zelina
"belum nak, ikannya akan dibakar kalau pelanggan telah memilih ikan mana yang mereka inginkan. dimakan masih hangat itu lebih enak"
di warung makan itu, ternyata ikan akan dibakar setelah pelanggan memilih ikan mana yang mereka sukai.
"ya sudah, biar saya lihat dulu ikannya" ucap Zelina
nenek mempersilahkan Zelina untuk mengikutinya. di samping warung makan, beberapa orang sedang membakar ikan yang dipesan oleh pelanggan. sementara itu ada dua gabus tempat penyimpanan ikan di dekat mereka. ikan di dalam gabus itu masih terlihat segar dan besar-besar. jika dibakar dan diberikan bumbu jelas pasti akan sangat nikmat rasanya.
"silahkan dipilih ikannya" ucap nenek
Zelina memilih tiga ekor ikan yang besar karena merasa berjumlah tiga orang. setelah memilih ikan, nenek itu memanggil satu karyawannya untuk membakar ikan yang telah Zelina pilih. kemudian Zelina kembali ke dalam bersama nenek yang akan melayani pengunjung lainnya.
menunggu beberapa menit, ikan yang dipilih oleh Zelina tadi telah tersedia di atas meja. lengkap dengan bumbu yang bertaburan di atasnya dan juga sambal yang begitu menggiurkan selera. bukan hanya itu, ada juga sup yang di sediakan serta tempe goreng dan satu nampan nasi putih. es teh yang mereka pesan pun sudah ada di depan mereka.
"masya Allah, ini pasti enak sekali" Fatahillah mulai kelaparan
"Arjun, makan yang banyak ya" ucap Zelina
"iya mbak" jawab Arjun
mereka mulai menikmati hidangan yang menurut mereka sangat istimewa. Zelina mengambilkan nasi untuk suaminya dan menyimpan di depan Fatahillah.
"terimakasih sayang"
"sama-sama mas"
Arjuna makan dengan lahap, ia begitu menikmati makanannya. Fatahillah dan Zelina pun tampak begitu antusias karena ikan bakar itu begitu enak, apalagi bumbunya meresap sampai ke dalam.
ternyata meskipun memakai cadar, tidak membuat Zelina kesusahan untuk menikmati makanannya.
selesai makan, Zelina ke kasir untuk membayar. saat itu dirinya melihat ke arah tempat suaminya dan Arjuna duduk dan sedang bercerita. namun ekor mata Zelina melihat seseorang yang duduk tidak jauh dari mereka menutupi wajahnya dengan buku yang ia baca namun matanya mengarah ke arah Fatahillah dan Arjuna.
ketiganya meninggalkan warung makan dan akan ke minimarket dimana Zelina ingin membelikan cemilan untuk orang-orang di rumah. mendekati minimarket, Fatahillah menginjak rem untuk berhenti sayangnya bahkan telah melewati tujuan mereka, mobil itu tidak bisa berhenti.
"astagfirullahaladzim" Fatahillah begitu panik
"kenapa mas...?" Zelina menjadi khawatir
"remnya blong sayang, mobilnya tidak bisa berhenti"
"astaghfirullah, mas bagaimana ini" Zelina seketika panik
Arjuna yang berada di kabin tengah tentu saja ikut kaget. mobil itu terus melaju bahkan semakin kencang padahal Fatahillah telah memelankan laju mobilnya namun tetap saja mobil itu terus melaju begitu cepat.
"aku akan membawa mobil ini ke tempat yang tidak banyak kendaraan. saat kita sampai kalian berdua harus keluar dari mobil" ucap Fatahillah
"lalu bagaimana dengan mas Fatah...?" tanya Arjuna
"tidak perlu cemaskan aku. jalan satu-satunya kita harus melompat dari mobil ini. namun sebelum itu aku harus membawanya mendekati jurang"
"aku tidak mau, aku tidak mau pergi kalau tidak bersama kamu mas" Zelina menolak tegas
"sayang, kita tidak punya pilihan. aku akan baik-baik saja, percayalah"
mobil semakin melaju kencang, kini mereka telah berada di wilayah yang cukup sepi. Fatahillah memerintahkan istrinya dan Arjuna untuk melompat.
"aku tidak mau mas" Zelina mulai menangis dan menggeleng kepala
tanpa melihat wajah Zelina, Fatahillah menendang pintu mobil yang ada di sisi Zelina sementara Arjuna pun telah membuka pintu mobil, bersiap untuk melompat ke luar.
"mas Fatah" Zelina semakin menangis
Fatahillah melepas sabuk pengaman istrinya dan beberapa saat mereka saling bertatapan.
"aku mencintaimu, aku akan baik-baik saja" Fatahillah membelai wajah Zelina yang sudah dibasahi air mata
"Arjun kamu sudah siap...?" tanya Fatahillah
"sudah mas" jawab Arjun
"sampai hitungan ke-tiga, kalian harus lompat"
1....
2....
3....
"LOMPAT" teriak Fatahillah
Zelina dan Arjuna melompat keluar. karena laju mobil yang begitu kencang membuat tubuh keduanya terseret beberapa meter dan bahkan menabrak pohon. kepala Arjun tertumbuk di batu besar namun tidak membuat remaja itu pingsan. sementara Zelina tergeletak di tanah dengan beberapa luka di siku dan juga di keningnya.
sedang Fatahillah mobil yang ia kemudikan semakin mendekat jurang. jikalau dirinya tidak bisa menghentikan mobil itu maka ia akan melompat keluar dan membiarkan mobil itu terjun ke jurang yang dalam.
"LANGON" teriak Fatahillah memanggil harimau putih
goaaaaarrrrr
di depannya yang jaraknya beberapa meter lagi, Langon tengah berdiri di bibir jurang. harimau putih itu akan membantu Fatahillah untuk menghentikan mobilnya.
"bismillahirrahmanirrahim laaillaahillallah Muhammadarrasulullah ALLAHU AKBAR" teriakan Fatahillah begitu keras
Fatahillah semakin mendekati bibir jurang. ia menginjak rem dengan begitu kuat. bahkan ia mengeluarkan tenaga dalamnya untuk memperlambat laju mobil sementara itu di depannya harimau putih mengeluarkan kekuatannya untuk menahan mobil itu.
ciiiiiit
Fatahillah membanting stir mobil ke kanan, sedangkan Langon melompat ke depan mobil dan menahan dengan tubuh besarnya. kekuatan penuh harimau putih yang ia keluarkan bersatu dengan tenaga dalam Fatahillah hingga mobil tersebut dapat berhenti dan hampir menabrak pohon.
Zelina dan Arjuna berlari mencari Fatahillah. mereka melihat mobil yang mereka tumpangi tadi telah berhenti di bawah pohon besar. Fatahillah keluar dari dalam dan hampir terjatuh ke tanah.
"mas Fatah"
Zelina berlari tanpa memperdulikan luka-luka yang ia alami. bahkan kakinya saja terluka dan telah berdarah namun hal itu tidak dipedulikan oleh wanita bercadar itu.
Fatahillah yang melihat istrinya sedang berlari ke arahnya, langsung merentangkan kedua tangannya menyambut istrinya datang. Zelina masuk ke dalam dekapan suaminya. tangisnya pecah semakin kencang. ia begitu bersyukur suaminya baik-baik saja.
"hiks...hiks...aku begitu takut mas Fatah jatuh ke jurang" Zelina memeluk erat tubuh Fatahillah
Arjuna yang baru saja datang langsung duduk di tanah karena tidak sanggup lagi untuk berjalan. kepalanya begitu sakit dan pusing.
"aku baik-baik saja sayang" Fatahillah menenangkan istrinya dan mencium keningnya beberapa kali
melihat kening istrinya yang berdarah, Fatahillah membersihkan darah itu dengan tangannya.
"apa sakit...?" tanya Fatahillah dengan lembut
"sakit ini tidak seberapa dengan kecemasan ketakutan kehilangan kamu mas" Zelina mendongakkan kepalanya
"maafkan aku" Fatahillah kembali memeluk istrinya
keduanya mendekati Arjuna yang sedang bersandar di bawah pohon dengan kepalanya yang sudah mengeluarkan darah.
"Arjun, kamu baik-baik saja...?" tanya Fatahillah
"aku baik-baik saja mas. aku begitu takut mas Fatah celaka tadi" jawab Arjun berusaha untuk bangun namun Fatahillah melarangnya
"aku akan menghubungi Hasan untuk menjemput kita di sini"
Fatahillah mengambil ponselnya dan mencari nomor Hasan kemudian menekan nomor itu melakukan panggilan.
panggilan terhubung
Fatahillah
assalamu'alaikum San
Hasan
wa alaikumsalam, ada apa Fatah
Fatahillah
San, kami mengalami musibah. mobil kami hampir jatuh ke jurang. bisa kamu datang menjemput kami di sini
Hasan
astaghfirullah, kenapa bisa sampai seperti itu. kirimkan lokasinya aku akan segera ke sana
Fatahillah
entahlah tiba-tiba rem mobilnya rusak. aku akan kirim lokasi kami sekarang
Hasan
baiklah, aku akan siap-siap ke sana. tunggu aku di situ
panggilan dimatikan dan Fatahillah mengirimkan lokasi tempat mereka berada sekarang. baru ingin istirahat menunggu kedatangan Hasan, beberapa orang telah berdiri di depan mereka dengan senjata tajam yang mereka pegang.