
hanya tidur beberapa jam, Fatahillah mengerjapkan mata saat dirinya mendengar Samuel berbincang dengan seseorang. ia pun membuka mata dan bangun dari tidurnya kemudian mengambil posisi duduk. matanya tertuju ke arah Samuel yang sedang berbicara lewat telepon.
melihat Fatahillah bangun, Samuel mengakhiri panggilan dan mendekatinya.
"jam berapa sekarang...?" tanya Fatahillah, dirinya tidak memakai jam tangannya
"hampir masuk waktu shalat dzuhur"
"sholat dzuhur...? Fatahillah kaget "selama itu aku tidur"
"kalau Kamu masih lelah, istirahatlah lagi"
"tidak bisa" Fatahillah menggeleng "aku tidak bisa terus bersantai dalam keadaan seperti ini. mari kita cari tau, apa penyebab semua orang-orang itu menjadi brutal bahkan menjadi kanibal"
"sekarang, lalu pekerjaan kantor bagaimana...?"
"bawa pulang di rumah, akan aku kerjakan nanti di rumah"
"baiklah, kalau begitu kita pergi menemui dokter Najihan"
"sholat dulu. aku butuh Tuhanku di setiap langkah dan keadaanku"
Fatahillah mengambil jasnya dan beranjak berjalan ke luar. sementara Samuel, dirinya pun ikut mengikuti langkah Fatahillah. di meja yang berada di depan ruangannya, Fatahillah berhenti. seorang wanita sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu dengan jemari tangannya menari di setiap tombol laptop yang ada di depannya. melihat Fatahillah berhenti di depan mejanya, wanita itu berdiri.
"apa yang bisa saya bantu pak...?"
"bereskan berkas-berkas yang ada di mejaku. kirimkan ke rumahku" ucap Fatahillah
"sekarang pak...?"
"tentu saja sekarang"
"baik pak"
Fatahillah melangkah pergi, Samuel berjalan di belakangnya. di perjalanan, ia memikirkan pesan yang di kirimkan oleh Hasan. masuk akal baginya, tidak ada sesuatu yang terjadi jika tidak mempunyai sebab. saat itu dirinya mulai berfikir, harusnya dia ikut bersama Hasan dan Aji Wiguna ke wilayah X untuk menyelidiki kasus ini.
"Samuel, aku ingin ke wilayah X. kamu bisa kan menghandle semua pekerjaan aku"
"ke wilayah X...? ngapain...?" Samuel melirik bosnya itu
"ada yang harus aku cari tau. kamu di sini bersama dokter Najihan mencari obat untuk mengobati yang terpapar virus itu sementara aku akan ke wilayah zona berbahaya untuk mencari tau penyebabnya"
"kamu akan pergi sendiri...?"
"iya, aku ingin turun tangan langsung"
"tapi di sana berbahaya Ga. ya meskipun kamu memiliki kekuatan tapi tetap saja, musibah kita tidak ada yang tau. bagaimana kalau aku temani"
"tidak, aku ingin ke sana sendirian. siapa yang akan mengurus kantor kalau kamu ikut"
"lalu apa yang akan aku katakan pada ayahmu jika dia menanyakanmu"
"katakan padanya kalau...."
ucapan Fatahillah menggantung di udara. dirinya sedang berpikir keras. sesuatu yang bisa menjadi mungkin dan penyebab dari semua apa yang terjadi.
"apa yang harus aku katakan...?" Samuel membuyarkan lamunannya
"katakan pada ayah kalau aku sedang mengurus hal yang lain"
"apakah aku akan memberitahunya kalau kamu akan ke wilayah X...?"
"jangan, bilang saja aku ke tempat dimana kamu tidak tau"
"sungguh tidak masuk akal. tidak mungkin dia tidak curiga kalau aku tidak mengetahui dimana tempat mu pergi"
"bukankah kamu bisa memberi alasan kalau aku tidak ingin memberitahumu. sekarang turunkan aku di persimpangan sana"
"kamu yakin Ga...? maksudku kamu yakin ingin pergi sendiri...?"
"jangan khawatir, ada Gangan dan Langon yang akan menjagaku"
"bagaimana kalau kamu memberitahu anak buahmu untuk mengawal kamu. bukan aku tidak mempercayai kemampuanmu, aku hanya khawatir saja sesuatu yang buruk terulang kembali kepadamu"
(sesuatu yang buruk...? apa Gara pernah terluka sebelumnya) batin Fatahillah
"percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja. kamu hanya perlu membantuku di sini saja. sekarang hentikan mobilnya"
Samuel menginjak rem, Fatahillah segera turun dan berjalan menyebrang ke arah sebuah toko pakaian. Samuel hanya dapat menghela nafas, Fatahillah menghilang di balik pintu toko pakaian yang ada di sebrang sana.
"semoga berhasil" gumamnya kemudian meninggalkan tempat itu
di dalam toko, Fatahillah memilih pakaian yang pas untuknya. setelah itu ia berganti pakaian di tempat yang disediakan. masker dan topi tidak ia lupa untuk memakainya. jaket kulit abu-abu, celana jeans hitam dan sepatu serta topi dan masker menambah kesan menawan dalam dirinya. ia seperti pria misterius yang tidak dikenali wajahnya.
keluar dari toko pakaian, dirinya mencari sebuah kafe untuk menghubungi seseorang. dilihatnya di google maps, sekitar beberapa meter, ada dua kafe yang buka di tempat itu. ia pun mengikuti arahan dari suara seorang wanita yang ada di ponselnya hingga dirinya tiba di kafe yang ia tuju.
Fatahillah masuk ke dalam, memesan minuman dan duduk di pojok ruangan itu. ia kemudian mencari nomor Hasan dan menghubunginya. untungnya setelah masuk, Hasan langsung mengangkat panggilannya.
[halo Fatah]
[apakah kalian sudah jauh...?]
[belum, kami masih sementara berada di bengkel. mobilku mogok. ada apa...?]
[kembali, jangan ke wilayah X]
[loh kenapa...?]
[akan aku jelaskan nanti tapi yang terpenting kalian tidak akan menemukan apapun di sana. putar arah, aku menunggu kalian di kafe pecinta kopi. kita bahas hal ini di rumah yang di sewa oleh Aji Wiguna]
[baiklah, kami akan ke sana sekarang. kebetulan mobilku sudah di perbaiki]
Aji Wiguna yang baru saja datang dari toilet, langsung di beritahu oleh Hasan tentang pesan dari Fatahillah.
"lalu, kita tidak jadi ke wilayah X...?"
"tidak jadi, sepertinya Fatahillah mempunyai rencana lain. kita pergi sekarang, tunggu saja di mobil aku mau membayar dulu"
kopi pesanan Fatahillah datang, seorang laki-laki menaruh gelas itu di depannya.
"terimakasih"
"sama-sama, silahkan dinikmati"
Fatahillah mengangguk, masker dan topinya belum ia buka. dirinya tidak ingin ada satu orang pun yang mengenalinya sekarang ini. sambil menunggu kedatangan Hasan dan Aji Wiguna, Fatahillah menghubungi Yusuf. dirinya ingin menanyakan sesuatu hal kepada sahabatnya itu.
[assalamualaikum Fatah, Masya Allah sudah lama aku tidak mendengar suaramu]
[wa alaikumsalam, maaf jarang menghubungi mu. aku begitu sibuk sekarang dan saat ini aku membutuhkan bantuan mu]
[bantuan apa...? kamu mempunyai masalah...?]
Fatahillah menjelaskan semua apa yang kini sedang terjadi di gunung Gantara. penjelasan itu membuat Yusuf di manggut-manggut meskipun Fatahillah tidak dapat melihat dirinya.
[aku belum pernah menangani penyakit yang semacam itu. tapi mendengar dari penjelasanmu, sepertinya itu memang virus yang berbahaya. namun yang menjadi pertanyaan ku, kenapa dan bagaimana bisa mereka di serang virus semacam itu]
[itulah, mungkin saja kamu bisa membantuku untuk mencari obat atau penawarnya]
[coba beritahu ciri-ciri dari mereka yang telah terpapar virus itu]
[kedua mata mereka menjadi putih, mereka menjadi brutal menyerang siapa saja dan bahkan membunuh]
[kedua mata menjadi putih...?]
[iya, anehnya mereka masih bisa melihat]
[Fatah, tidak ada manusia normal yang jikalau kornea mata mereka dihalangi oleh sesuatu maka mereka dapat melihat lagi. seperti halnya orang yang mengalami gangguan mata yaitu katarak. bukankah mata mereka menjadi putih, dan hal itu membuat mereka tidak dapat melihat]
[jadi maksud kamu...?]
[aku tidak tau, tapi coba kamu pikirkan apa yang aku katakan tadi. mustahil seseorang masih bisa melihat kalau tidak ada mengendalikan mereka]
Fatahillah terdiam, apa yang dikatakan oleh Yusuf masuk di pikirannya. bagaimana bisa orang-orang itu masih sempat melihat mangsanya padahal kedua mata mereka telah berubah menjadi putih sepenuhnya.
(apa mereka dikendalikan dengan kekuatan gaib) batinnya menerka-nerka
[halo Fatah, kamu masih di situ kan...?]
[seperti biasa, sedang menjalankan tugas]
[baiklah kalau begitu, maaf telah mengganggu jam kerjamu. akan aku telepon lagi nanti]
[iya, berhati-hatilah...semua orang menunggu kalian pulang]
[iya, assalamualaikum]
[wa alaikumsalam]
jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, kedua matanya masih fokus melihat layar ponselnya yang dimana foto Zelina menjadi wallpaper untuk melepas rindunya pada istrinya itu.
"Gandha Sukandar, aku yakin kamu penyebab semua ini. gaib...ini bukan hal yang harus diselesaikan dengan medis tetapi harus di seluruh dengan cara gaib"
sementara berpikir, sudut matanya melihat seseorang yang mempunyai gerak-gerik mencurigakan. di depan sana, tepatnya tiga meja berjarak dengannya. seorang laki-laki sedang melirik ke arahnya namun saat Fatahillah sengaja mengedarkan pandangan, laki-laki itu berpura-pura membaca koran.
"dia pikir aku bodoh"
Fatahillah mengambil uang seratus di dalam dompetnya dan menyimpan di atas meja. gelas minumannya ia tindihkan di uang itu agar tidak melayang terbawa angin.
Fatahillah bangkit dari duduknya dan melangkah cepat keluar dari kafe. setelah itu dirinya berlari ke arah sebrang jalan. sementara laki-laki tadi mengikutinya dimana ia masih berada di ambang pintu. di jalan, dirinya tidak lagi melihat Fatahillah. ia kehilangan jejak pemuda itu. sementara Fatahillah sendiri, kini sedang berada di dalam taksi dan mengirimkan kembali pesan kepada Hasan bahwa mereka bertemu di tempat lain.
"Gandha Sukandar memang sangat ingin Gara mati. tapi tidak segampang itu pak Gandha" Fatahillah mengepalkan tangan, dirinya benar-benar ingin sekali menghajar satu kali saja musuh ayahnya itu
tepat saat taksi itu berhenti di taman kota, sebuah mobil pun ikut berhenti di sampingnya. Fatahillah keluar dan memberikan bayaran kepada sopir taksi setelahnya ia masuk ke dalam mobil yang berhenti tadi.
"kenapa tiba-tiba malah berhenti di sini...?" tanya Aji Wiguna
"aku di ikuti. sekarang cari tempat yang aman"
"ke rumahku saja. jalan San"
"oke"
jalan yang mereka lalui adalah jalan raya yang ada di depan rumah kediaman keluarga Sukandar. Fatahillah melihat di halaman rumah, ada Genta dan Fanan yang sedang duduk di teras rumah sambil mengerjakan sesuatu. melihat kedua remaja itu, sudut bibir Fatahillah terangkat, dirinya merasa seperti mempunyai dua adik laki-laki. yang satu pendiam dan satunya manja luar biasa.
rumah yang disewa oleh Aji Wiguna sedikit jauh dari rumah Gara. namun kalau memilih menggunakan kendaraan, hanya dua menit saja maka sudah akan sampai di depan rumah. ketiganya keluar dari mobil dan melangkah masuk.
"mana kedua anak buahmu...?" tanya Fatahillah setelah mereka duduk di sofa di ruang tamu
"mereka ke luar. sekarang katakan, apa alasannya sehingga kami tidak harus pergi ke wilayah X"
"boleh aku pinjam tabletmu...?"
"ada di mobil, sebentar aku ambilkan"
Aji Wiguna melangkah keluar dan mengambil tablet miliknya yang ada di kabin tengah setelah itu ia kembali lagi ke dalam.
"ini" ia serahkan benda itu kepada Fatahillah
"kamu mau mencari apa...?" tanya Hasan
"tunggu sebentar"
Fatahillah mengetik sesuatu di benda yang ia pegang itu. yang dirinya cari adalah banyaknya wilayah yang ada di gunung Gantara. terlihat dari sebuah artikel, gunung Gantara memiliki 8 wilayah dalam naungannya. wilayah C, wilayah X, wilayah G, wilayah D, wilayah S, wilayah L, wilayah A, dan wilayah N. dari 8 wilayah itu, yang paling luas dari yang lainnya adalah wilayah S.
"kalian mengatakan kalau ada sebab sehingga banyak orang-orang yang tertular virus yang menyebabkan mereka brutal" Fatahillah memulai percakapan
"iya, sesuatu yang terjadi pasti ada sebabnya bukan" ucap Aji Wiguna
"lihatlah ini" Fatahillah memperlihatkan peta yang ada di tabletnya. Aji dan Hasan sama-sama mengarahkan mata ke benda itu
"sekarang ini di wilayah C, X dan bertambah satu lagi wilayah G. ketiga wilayah ini sudah banyak yang terpapar oleh virus itu. keadaan di sana sudah tidak aman. masyarakatnya sudah diamankan dan orang-orang yang terkena virus telah di isolasi. itupun belum semuanya mereka menemukan, sebab ada yang kabur dan pastinya bersembunyi"
"jika kita akan ke sana, maka kita tidak akan menemukan apapun di sana karena wilayah itu telah berhasil di lumpuhkan dalam artian telah berhasil di paparkan virus entah siapa pelakunya. setelah ketiga wilayah ini maka orang itu pasti akan mencari wilayah lainnya untuk kembali memaparkan virus itu"
"terus...?" Hasan semakin semangat mendengarkan
"diantara kelima wilayah yang tersisa, pasti ada satu wilayah yang akan menjadi target berikutnya"
"jadi maksud kamu, kita harus menjaga kelima wilayah ini" timpal Aji Wiguna
"wilayah S telah dijaga dengan ketat, tersisa empat wilayah lagi. namun bukan itu permasalahannya. aku sedang memikirkan apakah ini benar-benar virus yang bisa ditangani oleh medis atau ada campur tangan kekuatan ilmu hitam di dalamnya. penjelasan dari Yusuf membuat aku berpikir kalau sebenarnya virus ini hanyalah penamaan dari masyarakat saja karena mereka melihat orang-orang itu berubah menjadi brutal karena terkena virus yang berbahaya"
"memangnya apa yang dikatakan oleh Yusuf...?" tanya Hasan
Fatahillah menceritakan percakapan dirinya dengan Yusuf saat mereka berbicara di sambungan telepon tadi.
"benar juga. kalau kedua mata kita sepenuhnya berubah menjadi warna putih, bukankah itu sama saja kita buta. lalu bagaimana bisa orang-orang itu masih bisa melihat orang lain jika keadaannya sudah seperti itu"
"aku pernah melihat Hanum kerasukan dan kedua matanya berubah menjadi putih kadang juga berubah menjadi merah" timpal Fatahillah
"lalu apakah, ada sosok yang merasuki mereka begitu" ucap Aji Wiguna
"entahlah. kemarin saat kami melawan mereka, jarum pelumpuh otot syaraf kami gunakan untuk melumpuhkan mereka. jika membunuh, aku merasa kasihan sebab mereka menjadi seperti itu karena bukan atas kemauan mereka sendiri"
"orang yang kerasukan, benda seperti itu tetap akan berfungsi di tubuhnya. pistol saja tetap akan melukainya" ucap Aji Wiguna
"aku merasa memang bukan untuk hal yang harus ditangani oleh medis melainkan harus ditangani dengan kekuatan ilmu gaib. bahkan sampai saat ini, dokter Najihan belum menemukan obat apa yang akan digunakan untuk menumbuhkan mereka"
"dokter Najihan...?" mendengar nama itu, spontan Aji Wiguna bertanya cepat
"iya, kenapa. apakah kamu mengenalnya...?" Fatahillah menatap Aji
"tidak, bagaimana mau kenal kalau wajahnya saja belum aku lihat" Aji Wiguna menggeleng
(ada banyak nama yang sama di dunia ini, yang bernama Najihan pastinya bukan hanya satu orang saja) batin Aji Wiguna
"sekarang apa yang harus kita lakukan...?" tanya Hasan
Fatahillah kini menghubungi Samuel untuk mengarahkan semua anak buahnya menjaga di empat wilayah yang tersisa karena wilayah S sekarang sedang dalam penjagaan ketat. mendapatkan perintah dari bosnya, Samuel segera melaksanakan perintah itu.
"empat wilayah ini akan mulai di jaga. sekarang mari kita lihat kira-kira di wilayah mana yang akan di sebarkan virus itu lagi" Fatahillah kembali memperlihatkan peta yang ada di tablet Aji Wiguna
"yang pastinya adalah yang paling dekat dengan wilayah sebelumnya. wilayah C berdekatan dengan wilayah X maka setelah wilayah C maka wilayah X menjadi sasarannya. setelahnya wilayah X berdekatan dengan wilayah G maka sekarang wilayah G pun masuk ke dalam zona berbahaya. berarti berikutnya adalah wilayah D, karena wilayah itu yang berdekatan dengan wilayah G" Hasan mengambil kesimpulan sambil memperhatikan peta di dalam layar tablet
"benar sekali, sudah pasti wilayah D akan menjadi incarannya. sekarang kita ke wilayah D" Fatahillah mengembalikan milik Aji Wiguna
"tapi bagaimana kita akan tau siapa orang yang akan melakukan itu" tanya Aji Wiguna
"kita beri dia umpan" Fatahillah menatap lekat keduanya
"umpan...?" keduanya bertanya serentak
"aku belum yakin apakah virus ini adalah hal gaib atau di tularkan memalui suntikkan atau semacamnya. hanya dengan memberikan umpan maka kita akan tau bagaimana orang itu melakukan tugasnya"
"lalu siapa yang akan menjadi umpan...?" tanya Hasan
"tentunya bukan aku" Fatahillah mengangkat tangan
"kamu saja, kamu kan lebih jago dariku. aku mah kaleng-kaleng" Hasan melempar tugas itu kepada Aji Wiguna
"cih, bilang saja kamu takut" Aji mencibir "baiklah, aku yang akan menjadi umpan" ia pun mengalah
"kita berangkat sekarang"
ketiganya meninggalkan rumah itu, saat hendak masuk ke dalam mobil, dua anak buah Aji Wiguna baru saja datang.
"mau kemana bos...?"
melihat anak buahnya datang, Aji Wiguna seketika mendapatkan ide.
"Tegar, Yusrif. kalian berdua ikut bersama kami" ucap Aji Wiguna
"kemana bos...?" tanya Tegar
"sejak kapan kamu harus bertanya lagi saat aku memberikan perintah" Aji Wiguna menatap tajam
"maaf bos" Tegar menunduk
"ayo jalan, ikuti mobil kami"
"baik bos"
dua mobil mulai bergerak meninggalkan rumah itu. tujuan mereka saat ini adalah wilayah D, kawasan gunung Gantara.