
"mas Aji"
Najihan menghapus air matanya dan berlari mengejar Aji Wiguna yang telah masuk ke dalam mobil. wanita itu berlari sekuat tenaga, bahkan dirinya menabrak Diandra yang baru saja keluar dari tenda.
"Na...ada apa...?" Diandra hampir terhuyung jika tidak berpegangan pada tangan Samuel. "dia kenapa sih yang...?" Diandra menatap Samuel yang tengah berdiri di depannya.
setelah mereka meninggalkan Aji Wiguna bersama Najihan tadi, Fatahillah langsung berpamitan kepada Samuel karena mereka harus segera kembali ke wilayah S. sementara Samuel akan kembali esok harinya dan tentunya tanpa Diandra sebab kekasihnya itu masih mempunyai urusan di wilayah D.
"dia sepertinya mempunyai kisah dengan salah satu teman Gara yang tadi. aku juga nggak tau itu apa" Samuel menatap Najihan hendak mengejar mobil yang telah meninggalkan area tempat itu.
"mas Aji" Najihan berhenti karena dirinya jatuh ke aspal.
Aji Wiguna sebenarnya melihat itu, hanya saja dirinya membutakan mata dan mengeraskan hati agar tidak kasihan kepada wanita yang pernah menjalin kasih dengannya. wanita itu begitu ia cintai sepenuh hati, namun ternyata cinta wanita itu hanyalah cinta palsu yang ia berikan. Najihan mendekati Aji Wiguna hanya untuk membalas kematian kakaknya yang ia tuduhkan jika Aji Wiguna lah yang membunuh kakaknya. namun sepertinya Najihan malah terjebak dengan perasaannya sendiri. dirinya malah jatuh cinta kepada Aji Wiguna. sayangnya perasaan itu harus kandas karena desakan sang paman yang terus memprovokasi Najihan jika Aji Wiguna lah yang telah membunuh kakaknya.
"kamu tidak ingin turun dulu Aji...?" Hasan sebenarnya kasihan kepada Najihan.
"tidak perlu, aku tidak mempunyai urusan dengannya" Aji Wiguna menutup kedua matanya.
Fatahillah mengkode Hasan agar laki-laki itu tidak lagi berbicara tentang Najihan. saat ini Fatahillah tau kalau Aji Wiguna hatinya sedang tidak baik-baik saja. Hasan mengangguk dan merapatkan bibirnya, mereka membiarkan Aji Wiguna larut dalam lamunannya. Tegar dan Yusrif mengikuti mobil mereka di belakang, sebab kedua pemuda itu membawa mobil sendiri.
"mas Aji...maafkan aku mas... maaf" Najihan menatap dua mobil itu semakin menjauh dan akhirnya tidak terlihat lagi.
Diandra segera berlari mendekati Najihan dan membantunya untuk berdiri.
"kamu ngapain sih Na, ngapain kejar laki-laki seperti itu. dia aja nggak peduliin kamu"
"Di, dia laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu. dia mas Aji Di, aku harus menyusulnya"
"jadi dia...ayah dari Kaindra...?" kening Diandra mengkerut.
Najihan mengangguk dan menghapus air matanya dengan kasar. dirinya bertekad untuk menyusul Aji Wiguna. laki-laki itu belum mengetahui kalau darah dagingnya selama ini masih hidup, tidak meninggal seperti yang ia katakan dulu.
"aku harus mengejar mas Aji Di, aku ingin memperbaiki semuanya. aku ingin mendapatkan maaf darinya. dimana mobilmu Di"
Samuel mendekati keduanya, disaat itu juga Najihan meminta mobil Samuel untuk menyusul Aji Wiguna.
"Na, tenangkan dirimu. kalau kamu pergi lalu siapa yang akan menemaniku bertugas di sini, sebab dokter Abizzar dia akan ke wilayah X"
"tapi Di, aku tidak ingin terus terbayang-bayang rasa bersalah seumur hidup. mas Aji juga harus tau kalau anaknya sebenarnya masih hidup. aku harus pergi Di, kalau kamu tidak mau meminjamkan mobilmu maka aku akan meminta mobil yang lain"
"kamu mau pergi dalam keadaan kalut seperti ini...?" kalau terjadi apa-apa dijalan bagaimana...? sebaiknya sekarang ini fokus dulu dengan tugas kita, setelah itu kita bisa berpikir untuk menemui dirinya. dia kan temannya pak Gara, Samuel bisa membantu kamu untuk meminta pak Gara mempertemukan kamu dengan dia"
"Diandra benar dokter, bukan saya tidak ingin membantu dokter. tapi sebaiknya kita harus bekerja semaksimal mungkin melihat situasi sekarang ini. Gara sudah menaruh harapan kepada kalian untuk mengurus orang-orang itu, apak dokter ingin mengecewakan pak Gara hanya karena masalah pribadi. lagi pula Aji berteman dengan Gara. aku pastikan, kalian akan bertemu kembali sebelum mereka kembali ke kota S" Samuel mengatakan itu hanya karena dirinya tidak ingin memperumit masalah yang dikarenakan hal yang pribadi.
Najihan menarik nafas, ingin sekali membantah namun dirinya berpikir apa yang dikatakan Samuel ada benarnya. dirinya mempunyai tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. dengan berat hati, ia mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan sahabat juga kekasih dari sahabatnya.
"ayo kita ke masjid setelah itu kita makan siang. jangan terlalu bersedih, aku tau kamu merasa bersalah. jika niatmu ingin memperbaiki maka insya Allah, Allah akan memudahkan jalanmu agar kamu bisa bertemu lagi dengannya" pelan, Diandra mengusap bahu Najihan.
"makasih Di, kamu selalu ada buat aku"
"kamu sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. sedihmu adalah sedihku juga" Diandra memberikan senyuman kepada Najihan, wanita itu membalas dengan tersenyum amat dipaksakan.
_____
karena telah mendekati waktu sholat dzuhur, Fatahillah menghentikan mobilnya di sebuah masjid yang ada di pinggir jalan. Tegar pun ikut menghentikan mobilnya dan turun dari mobil bersama Yusrif.
"aku lapar loh, sejak tadi pagi belum makan" Yusrif mengelus perutnya.
"satu kantung makanan yang Fatahillah siapkan kamu bilang belum makan...? terus yang makan itu semua siapa, kucing...?" Tegar menggeleng kepala.
"itu kan bukan makanan berat" Yusrif memberenggut.
"setelah dari sini, kita akan mencari tempat makan. sabar dulu sebentar, cacing di perutmu masih belum demo besar-besaran kan...?" ucap Fatahillah.
"sekarang sih belum, nggak tau kalau nanti. mungkin mereka akan melakukan penganiayaan terhadapku dengan bunyi suara perut yang keroncongan"
"ada-ada saja kamu ini Yus" Hasan pun ikut menggelengkan kepala.
selesai melakukan sholat, mereka mencari warung makan untuk mengisi perut. namun yang mereka temukan hanyalah warung bakso. bakso pun bisa mengobati lapar daripada tidak makan sama sekali.
di tempat yang lenggang itu, mereka masuk ke dalam dan mengambil tempat di sisi kiri paling pojok. Fatahillah saat ini kembali memakai maskernya sebab dirinya tidak ingin orang-orang mengenalinya selain orang-orang yang bersamanya tadi di tempat isolasi. ia sengaja mengambil kursi dan membelakangi arah pintu masuk.
Aji Wiguna ke depan untuk memesan bakso keinginan masing-masing, kemudian ia kembali lagi duduk di kursinya.
Fatahillah melihat ponselnya, ada beberapa pesan dan istrinya dan juga ibunya, ibu Khadijah. wanita yang sudah berumur empat puluh tahun lebih itu, menanyakan keberadaan kabarnya. bahkan ada panggilan tidak terjawab dari ibu khadijah juga Zelina. pasti dirinya sedang sibuk-sibuknya tadi sehingga tidak mendengar ada panggilan masuk.
Fatahillah hanya membalas pesan dari dua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. ia berencana akan menghubungi mereka setelah mereka tiba di wilayah S.
"bagaimana kabar Alex juga Akmal ya" Hasan membuka percakapan.
"mungkin mereka sedang menjalankan tugas dari Gandha Sukandar. mereka sekarang kan tangan kanan laki-laki itu" jawab Aji Wiguna.
"semoga kedua baik-baik saja"
"apa perlu kita menelpon mereka...?" tanya Tegar.
"jangan, untuk sekarang biarkan saja dulu. lagipula kalau ada hal yang begitu penting, mereka pasti yang akan menghubungi kita lebih dulu. saat ini kita harus lebih berhati-hati untuk berkomunikasi dengan mereka sebab jika ketahuan rencana kita, nyawa keduanya pasti terancam." Fatahillah melarang.
"lalu kapan kita akan ke pulau bambu...?" tanya Yusrif.
"setelah aku menemui pak Henry dan Hafsah" jawab Fatahillah.
"apa semudah itu kita akan ke sana...? maksudku, pulau itu adalah pulau kekuasaan Gandha Sukandar, jelas pasti akan banyak penjaga di sana. apalagi di pulau itu adalah pulau perkebunan ganja miliknya. bagaimana nanti kalau kita ketahuan...?" Hasan memberikan kelesah hati yang masuk akal.
"tidak setelah kita sampai di pulau bambu, Mala kita sudah akan menemukan perkebunan ganja itu. tempat itu masih jauh masuk ke dalam. lagipula yang kita tuju bukan perkebunan ganja itu melainkan telaga gunung Gantara. Samuel mengatakan keduanya berada di tempat yang berbeda. kita akan menepi di pinggir pantai yang lain, bukan di dermaga pulau itu. aku sudah memikirkan itu sejak awal" jawaban Fatahillah membuat Hasan mengangguk dan mengerti.
percakapan mereka berhenti karena pelayan warung itu datang membawakan bakso yang mereka pesan. dengan lahap mereka menyantap makanan bulat itu, tenaga mereka harus terisi agar nantinya dapat menjalankan tugas kembali.
dari wilayah G mereka kembali ke wilayah S. diperjalanan, dua mobil rupanya mengikuti mereka. saat telah jauh keluar dari wilayah G, ban mobil yang dikendarai Tegar juga Yusrif terkena tembakan hingga mobil itu oleng. untunglah Tegar masih dapat mengendalikan mobilnya dan menginjak rem. namun naasnya, mobil itu kini berada di pinggir jurang.
"keluar Yus cepat" Tegar tetap menginjak rem agar mobil itu berhenti, sayangnya mobil itu perlahan-lahan semakin bergerak ke bawah.
"bagaimana denganmu...?" Yusrif panik, dirinya tidak ingin meninggalkan Tegar begitu saja.
"setidaknya harus ada yang hidup salah satu diantara kita. keluarlah cepat, sebelum mobil ini meluncur ke bawah"
"tapi...."
KELUAR SEKARANG"
Dor
"tidak tidak TIDAAAAK" Aji Wiguna histeris melihat mobil itu bergerak cepat terjun bebas ke jurang yang dalam.
"LANGON"
dua harimau datang tepat waktu. satu harimau menahan mobil itu dibagian bawah sementara satu harimau lagi menarik mobil itu dari atas. seperti sedang menarik mainan, mobil itu pelan kembali naik ke atas permukaan. tidak sulit bagi keduanya untuk melakukan hal itu, sebab dua harimau itu bukanlah harimau biasa.
Aji Wiguna juga Hasan berlari cepat menghampiri mobil itu dan membantu kedua anak buahnya untuk keluar.
"kalian baik-baik saja...?" sungguh Aji Wiguna begitu khawatir.
"jantungku hampir copot bos" Yusrif memegangi dadanya. tidak ada yang terluka di tubuh pemuda itu. hanya saja rasa kaget itu lebih mendominasi.
"tidak apa-apa, hanya lecet sedikit" Tegar memegang kepalanya yang berdarah.
"syukurlah" Aji Wiguna menarik keduanya dan memeluk mereka. tidak bisa ia bayangkan jika dua orang itu benar-benar celaka, dirinya akan sangat begitu kehilangan. "terimakasih Tuhan" ucapnya dengan nafas yang lega.
"BRENGSEK.... beraninya mereka" Fatahillah murka dan dengan satu tangannya melesatkan cahaya merah ke arah dua mobil itu.
BUUAAAM
ddduuuaaaar
aaaggghh
kedua mobil itu hancur lebur bagai terkena bom. terbakar dan meledak, hancur berkeping-keping. ada beberapa orang yang masih selamat dari serangan Fatahillah. mereka melepaskan peluru bertubi-tubi untuk membunuh Fatahillah juga teman-temannya. bukannya menembus kulit, peluru yang banyak itu hanya berhenti di depan mereka dan mengambang di udara, Fatahillah melakukan itu. sorot matanya tajam menatap orang-orang yang berambisi ingin mencelakai mereka.
Fatahillah mengembalikan semua peluru itu. tidak memakan waktu lama, semua orang itu jatuh terkapar di tanah dengan peluru yang menembus kepala mereka.
"terimakasih Langon, Gangan. kalian benar-benar bisa diandalkan" Hasan memeluk kedua harimau itu.
Fatahillah berjalan cepat mendekati mereka, rasa khawatir menyelimuti dirinya.
"kalian baik-baik saja kan...?" dirinya ikut duduk dan memeriksa Tegar juga Yusrif.
"hanya luka kecil" jawab Tegar, darah dikepalanya mulai mengucur membasahi pipinya.
"ini bukan lagi luka kecil. kita kembali ke wilayah G, kamu harus diobati"
"tidak perlu, lagi pula kita sudah jauh keluar dari wilayah itu. nanti saja di wilayah S barulah aku diobati. ini sama sekali tidak apa-apa, kalian tidak perlu khawatir" Tegar menolak.
"bagaimana aku tidak khawatir, kalian hampir mati jika Langon dan Gangan tidak segera aku panggil. bagiku kalian semua adalah saudaraku, kalian semua harus tetap selamat dan baik-baik saja. kita harus tetap baik-baik saja sampai kita kembali ke kota S"
ucapan Fatahillah membuat mereka terharu juga sekaligus merasa diperhatikan.
"aku terharu, nangis boleh nggak sih" Yusrif lagi-lagi merusak suasana.
"menangislah sepuas mu, siapa tau air matamu jadi mutiara kan" celetuk Hasan.
"ck, mas pikir aku putra duyung apa"
semuanya kembali normal, Fatahillah merasa begitu bersyukur Tegar dan Yusrif berhasil diselamatkan.
"terimakasih, kalian berdua selalu hebat" Fatahillah memeluk dua harimau yang sejak tadi duduk di sampingnya. setiap waktu jika Langon selalu membantunya maka Fatahillah akan selalu mengucapkan kata terimakasih. hal itu Fatahillah lakukan agar Langon merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh tuannya dan selalu dapat membantu.
"kita lanjutkan perjalanan" ucap Fatahillah
"lalu mobil ini bagaimana...?" Tegar melihat mobil itu sudah rusak parah di bagian depan.
"tinggalkan saja di sini, akan aku beritahu Samuel untuk mengurus mobil ini"
"Fatah, aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu"
kedua netra Fatahillah, ia layangkan ke arah Hasan. menatap pemuda itu dengan wajah penuh pertanyaan.
"apa yang ingin kamu tanyakan...?" tanya Fatahillah.
"sebelumnya tidak ada yang mengetahui kalau kamu berada di wilayah D. namun setelah Samuel juga anak buah mu yang banyak datang membantu kita, kini diperjalanan pulang kita malah dikejar oleh orang-orang yang tidak dikenal dan aku yakin mereka ingin menghabisi mu juga kami semua"
"inti dari ucapanmu itu, maksudnya kamu mencurigai Samuel...?" tebak Fatahillah
"bukan hanya Samuel, tapi semua orang yang ada di sana. aku yakin ada membocorkan keberadaan mu sehingga kini kamu di buru lagi. hal yang mustahil itu terjadi kalau tidak ada memberitahu keberadaan kita kepada Gandha Sukandar" ucap Hasan.
"benar juga Fatah, kemarin tidak ada masalah mengenai penguntit ini kan. nah kenapa sekarang setelah kamu menunjukkan diri, mereka datang begitu cepat" Aji Wiguna sependapat dengan Hasan.
harus Fatahillah akui jika apa yang dikatakan dua temannya itu adalah sesuatu yang bisa saja terjadi. mengingat pak Henry juga Hafsah melakukan penghianatan padahal keduanya adalah orang yang begitu dekat dengan Gara Sukandar, kini Fatahillah mulai ragu, akankah Samuel benar-benar setia atau bermuka dua.
"akan aku beri perhitungan jika dia memang melakukan itu. tunggu sebentar, aku akan menghubunginya untuk mengambil mobil ini"
dengan ponsel yang ada di tangannya, Fatahillah menghubungi Samuel.
[halo Ga]
[Sam, aku membutuhkan bantuan mu]
[bantuan apa, kamu baik-baik saja kan. apa terjadi sesuatu...?]
[dua mobil mengikuti kami dan hampir mencelakai dua temanku. mobil mereka hampir masuk jurang. aku minta kamu untuk datang mengurus mobil ini dan juga membuang mayat-mayat orang-orang itu]
[bagaimanapun bisa ada yang tau keberadaan mu. baiklah, aku akan ke sana sekarang. tinggalkan saja mobilnya di tempat itu]
[terimakasih Sam]
[itu sudah menjadi tugasku untuk terus membantu kamu]
[dan aku harap kamu benar-benar tulus]
[tentu saja, kamu bisa percaya padaku]
[baiklah, aku tutup]
"ayo... kita ke mobil" pelan Fatahillah membantu Tegar untuk berdiri.
"aw, sakit bos" Yusrif meringis saat Aji Wiguna membantunya untuk berdiri. luka di lengannya kembali berdarah, itu berarti jahitannya terbuka akibat guncangan yang keras tadi.
dengan sigap Fatahillah membuka jaketnya juga baju kaosnya hingga kini menampilkan tubuhnya yang putih dengan otot-otot perut. baju kaos itu ia robek menjadi dua bagian.
"ikatkan di lengan Yusrif" Fatahillah memberikan sobekan baju itu kepada Aji Wiguna.
Aji Wiguna mengambil dan mengikat luka Yusrif yang kian semakin mengeluarkan darah. sementara Fatahillah mengikat kepala Tegar yang juga terus mengeluarkan darah. setelahnya, Fatahillah memakai jaket miliknya dan menarik resnya menutupi tubuhnya.
"ayo, mereka harus dibawa ke rumah sakit" ajaknya kepada semua orang.
"tiba di wilayah S, kita harus mengganti mobil ini dengan mobil yang lain. dengan begitu mereka tidak akan bisa menemukan kita. Fatahillah pun harus menyembunyikan wajahnya agar kita lebih aman" ucap Hasan saat mereka berjalan ke arah mobil.
"iya, akan kita lakukan nanti setelah tiba di wilayah S" jawab Fatahillah.
lebih dari sepuluh orang mayat dan juga mobil yang terbakar juga rusak, ditinggalkan begitu saja. mereka harus bisa sampai di wilayah S secepatnya untuk mengambil langkah selanjutnya.