Fatahillah

Fatahillah
Bab 135



Samuel tiba di jalan cendrawasih, namun di sana ia tidak melihat keberadaan Erik temannya itu. Sudah hampir 20 menit dirinya menunggu, kedatangan keluarga Gara belum juga ada tanda-tanda.


"apa terjadi sesuatu...?" Samuel akhirnya menghubungi Erik untuk menanyakan dimana keberadaan laki-laki itu.


[kamu dimana Rik...kenapa lama sekali...?]


[sabar sebentar, aku sedang berbicara dengan penjaga rumah ini. Kamu mau mereka curiga, tutup teleponnya sekarang]


Samuel mendengar kalau Erik seperti sedang berbisik padanya, tidak lama panggilannya dimatikan sepihak oleh Erik. Helaan nafas panjang membuat Samuel harus sabar menunggu entah berapa lama lagi.


di kediaman keluarga Sukandar, Erik nampak berbicara dengan dua penjaga yang ada di gerbang rumah.


"apa sudah meminta izin kepada pak Gandha kalau mereka akan dibawa keluar...?" salah satunya bertanya. Keduanya berdiri di dekat mobil Erik yang hendak akan masuk ke dalam halaman rumah.


"astaga...kamu ini aneh sekali. Ibu Laksmi yang menyuruh saya untuk datang kemari, mereka akan pergi jalan-jalan karena bosan di rumah terus. kenapa kamu seperti wartawan saja yang memaksa untuk mendapatkan berita, heran sekali saya" Erik mulai menahan emosi.


"kalau tidak mendapatkan izin dari pak Gandha, mereka tidak bisa pergi"


"hei kamu...kenapa menahan Erik di luar situ, beri dia jalan untuk masuk" Laksmi yang berdiri di teras rumah, meneriaki dua penjaga itu.


"mampus...makan tuh omelan" Erik menerobos, membunyikan klakson mobil begitu sering sehingga dua orang itu tidak bisa berbuat apa-apa.


tepat di dekat tangga teras rumah, Erik menghentikan mobilnya. Ibu Laksmi masuk ke dalam rumah dan kembali lagi membopong Samsir Sukandar yang menggunakan tongkat. Pria tua itu masuk ke dalam mobil di kabin tengah, setelahnya Genta juga Afnan masuk duduk bersama Samsir Sukandar. Terakhir, Laksmi sendiri masuk di depan, di samping Erik yang akan mengantar mereka ke jalan cendrawasih.


Mobil itu bergerak pelan dan berhenti di dua penjaga yang menghalangi kedatangan Erik tadi.


"kalau bapak datang, beritahu saja kami semua pergi jalan-jalan. Kalian mengerti kan...?" Laksmi menatap tegas dua orang itu.


"kami mengerti bu" keduanya mengangguk patuh.


"bagus, ayo jalan Rik" Laksmi menaikkan kaca mobil sampai wajahnya tidak terlihat.


Mobil itu bergerak kembali keluar dari pagar dan meninggalkan rumah keluarga Sukandar.


"kita sebenarnya mau kemana Laksmi, kenapa tidak memberitahu Gandha agar dia tau dan tidak khawatir" Samsir membuka suara.


"mas Gandha kan sedang sibuk yah, lagipula Gara sendiri yang akan memberitahu dia" Laksmi menjawab, menata ayah mertuanya di spion gantung.


"kita mau bertemu mas Gara ya bu...?" Genta bertanya.


"tidak sayang, mas mu itu untuk beberapa hari kedepan dia tidak bisa menemui kita. Tugasnya banyak dan sulit. tapi tadi mas Gara titip pesan sama kamu dan juga Afnan" Laksmi memutar kepala, memberikan senyuman hangat kepada dua anak remaja yang duduk di samping Samsir.


"memangnya mas Gara sesibuk itu ya bu...?" ucap Afnan.


"kalau kalian dewasa nanti seperti mas kalian, kalian pasti akan tau sibuknya orang bekerja itu seperti apa"


"dia sama persis seperti ayahnya, kalau sudah sibuk tidak ingat waktu untuk pulang. Anak sama cucu sama saja" Samsir mengomel, Laksmi hanya bisa tersenyum getir.


Sudah beberapa hari Gandha Sukandar tidak pernah pulang ke rumah, hal itu membuat Laksmi gundah dan terus memikirkan suaminya. di telepon pun, terkadang nomor suaminya itu tidak aktif. Tidak tau saja kalau sebenarnya Gandha Sukandar yang sekarang bukanlah suaminya yang sebenarnya.


Jalan cendrawasih, kini mereka telah tiba di jalan itu. Tepat di samping mobil Samuel, Erik menginjak rem agar mobilnya berhenti.


"sekarang waktunya pindah mobil" ucap Erik.


"loh kok pindah mobil, bukannya kita mau jalan-jalan ya" Genta bingung, apalagi saat melihat Samuel berdiri di samping mobil mereka.


tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Laksmi ataupun mulut Erik. Erik terlebih dahulu keluar dan mendekati Samuel. Percakapan keduanya terjalin dan setelahnya Erik meminta agar Laksmi juga yang lainnya turun dari mobil dan masuk ke dalam mobil Samuel.


"kenapa harus ganti mobil sih bu, emang mobil mas Erik kenapa...?" Genta yang belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang pertama, mengajukan pertanyaan yang kedua.


"iya, kenapa harus ganti mobil Laksmi, memangnya mobil Erik kempes, atau bannya bocor...?" Samsir pun ikut bertanya, merasa begitu penasaran. Masa iya hanya sekedar jalan-jalan, harus ganti mobil pula, itu membuatnya menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya.


"sebenarnya Samuel yang akan membawa kita ke tempat tujuan karena Erik sepertinya ada urusan lain. ayo turun, kita ke mall untuk membeli pakaian karena kita tidak membawa satu lembar pakaian ganti" Laksmi keluar lebih dulu.


Pergantian mobil telah dilakukan, dan kini Samuel dalam perjalanan akan ke tempat perbelanjaan untuk membeli pakaian baru. Masih begitu pagi, dan itu merupakan waktu yang bagus. Dengan begitu, Samuel tidak was-was kalau akan ada anak buah Gandha Sukandar yang melihat mereka.


Pakaian telah dibeli dan semua kebutuhan yang mereka perlukan, saatnya Samuel membawa mereka pergi jauh dari keramaian. Di markas tempat Gara Sukandar juga dirinya biasanya mereka berkumpul dengan anak buah Gara, mereka dibawa ke tempat itu. tempat dimana Hafsah di kurung di penjara bawah tanah.


"kamu yakin ini tempat yang aman Sam...?" Laksmi seakan ragu, tempat ini pastinya akan begitu mudah ditemukan oleh musuh Gara Sukandar.


"tenang saja bu, di sini dijaga ketat oleh anak buah Gara dan juga kalian akan tinggal di tempat yang tidak akan di temukan. Tempat yang khusus seperti layaknya rumah pada umumnya. ayo masuk"


Tempat itu memang begitu dijaga ketat, bahkan sekelilingnya di jaga oleh banyak anak buah Gara Sukandar. Masuk ke dalam gedung yang seperti terbengkalai namun ternyata gedung itu di dalamnya begitu mewah dan elegan.


Samuel membawa mereka melewati lorong yang penerangannya begitu terang. Sampai di ujung lorong, terdapat ruangan yang luas, ada sofa dan juga rak-rak buku yang berjejer di setiap sudut. Samuel menarik satu buku berwarna merah dan luar biasa, rak buku itu terbelah menjadi dua.


"waooow... amazing" Afnan takjub begitupun Genta yang langsung menganga melihat hal yang baginya luar biasa itu.


"silahkan masuk" ajak Samuel.


Semuanya masuk di tempat yang seperti ukuran boks itu. Tidak lama, benda itu bergerak turun dan ternyata itu adalah lift. Hanya sekejap mata, benda itu telah sampai di bawah. Pintu terbuka dan menampilkan lorong yang harus dilewati lagi.


Klak


Klak


Samuel menyalakan lampu, dan semua lampu di lorong itu menyala begitu terangnya. Kembali mereka melangkah dan diujung lorong, mereka menemukan satu pintu yang tertutup rapat. hanya dengan memasukkan sidik jari, pintu ruangan itu terbuka. Hal yang pertama terlihat adalah sebuah tangga yang menurun ke bawah.


Samuel menuruni setiap anak tangga, semua orang mengikuti langkahnya dan mereka tiba di tempat tujuan. Tempat yang begitu mewah dan layaknya sebuah rumah yang mewah jika berada di atas tanah. Ruang tamu yang mewah, ruang tengah, kamar yang banyak dan juga dapur yang elegan. Tidak hanya itu, di tempat itu disediakan komputer juga taman yang indah yang dimana sinar matahari langsung menyinari bunga-bunga cantik di taman itu.


"ini rumah siapa...?" tanya Samsir.


"untuk sementara kalian akan tinggal di sini pak. Gara menginginkan keselamatan kalian semua, keadaan sekarang ini tidak memungkinkan untuk kalian tetap berada di atas. Semua bahan makanan lengkap di tempat ini. Dan juga, Genta dan Afnan untuk sementara akan sekolah online, aku sudah memberitahu pihak sekolah".


"kenapa bisa begitu mas...?" Genta hendak protes.


"ini demi kebaikan kalian semua" Samuel mengelus lembut kepala Genta.


"Lalau Gandha bagaimana, dia tidak akan menemukan kami kalau kami bersembunyi di lubang semut seperti ini" Samsir masih juga memikirkan anaknya.


"semuanya akan baik-baik saja pak, pak Gandha pun pastinya akan baik-baik saja"


"di sini aman kan Sam...?" lagi, Laksmi bertanya kembali.


"aman bu, insya Allah. Kalau ibu mau memasak maka kulkas di dapur sudah penuh dengan bahan makanan juga cemilan. Dan juga ibu bisa belanja sendiri di tempat ini"


"belanja sendiri, bagaimana...?" Laksmi bingung.


"mari ikut saya"


Samuel membawa Laksmi ke dapur dan betapa terkejutnya ia kalau ternyata di samping dapur itu, bagaimana minimarket yang menjual apa saja yang dibutuhkan. Sungguh luar biasa menurutnya.


"apa itu semua belum expired...?"


"belum bu, masih lama karena belum lama di isi kembali"


Kembali mereka ke ruang tamu. Samuel kemudian berpamitan untuk pulang dan harus ke rumah sakit menemui Fatahillah.


"jika butuh apapun, hubungi Niko...dia akan membantu apa saja yang kalian perlukan"


"Sam, hati-hati dan tolong temani Gara bagaimanapun situasinya nanti" Laksmi begitu berharap.


"tentu saja bu, Gara sekarang adalah pemimpin yang kuat. Ibu dan pak Samsir tidak perlu khawatir"


Samuel meninggalkan tempat itu dan akan kembali ke atas, tugasnya telah selesai. Jika kalian bertanya dimana tempat pengurungan Hafsah...? Maka wanita itu berada di ruang rahasia satunya, khusus untuk penjara bawah tanah.


_____


"jadi kapan kita akan ke pulau bambu...?" tanya Aji Wiguna, dirinya telah tiba di rumah sakit.


"jangan bahas pulau bambu dulu, jelaskan dulu kenapa mas Aji tidak pulang sejak semalam. Mas pacaran ya sama dokter itu" Akmal memicingkan mata.


"ck...kamu seperti istri yang takut ditinggal pergi saja" Yusrif mencebik, Akmal hanya mengeluarkan lidah.


"semuanya oke kan bos...?" Alex menepuk pundak Aji Wiguna.


"aku...aku semalam bertemu dengan anakku Al"


"WHAT....? ANAK...?"


Plaaaak


Plaaaak


Akmal dan Yusrif yang terkejutnya bagai sudah mendekati kiamat, mengagetkan Hasan dan akhirnya keduanya mendapatkan pukulan dari pemuda itu. Paha keduanya menjadi sasaran empuk tangan Hasan.


"sungguh terlalu...aduh sakit sekali" Yusrif memegang lengannya yang terluka.


"aku nggak mukul di situ ya" Hasan menatap melotot.


"hehehe... efeknya kan sampai di sini, gimana dong" Yusrif cengengesan, Hasan mendengus.


"kamu mempunyai anak dari dokter Najihan...?" tanya Fatahillah, ia pun begitu kaget mendengar hal itu.


"dia istriku Fatah, istri yang begitu aku cintai namun karena kesalahpahaman dia mencoba membunuhku dan aku hampir mati di tangannya"


"apa bos yakin kalau itu anakmu...?" Alex ragu dengan hal itu.


"aku sudah bertemu dengannya, dan apakah kalian tau. Dia bernama Kaindra dan wajahnya, hidungnya, semuanya begitu mirip denganku. Bisa dikatakan dia adalah copyan dariku"


"tapi bukankah dia mengatakan telah menggugurkan kandungannya waktu itu"


"tidak...dia berbohong tentang itu. Aku bingung Al, apa yang harus aku lakukan. Najihan meminta agar kami kembali hidup bersama demi Kaindra, tapi aku...aku... belum siap akan hal itu"


"apa kamu masih mencintainya...?" tanya Fatahillah.


"cinta....?" Aji Wiguna terdiam, dalam lubuk hatinya, ia masih mempunyai perasaan kepada Najihan.


"dari wajahmu sekarang aku masih melihat kamu masih mencintainya. kenapa tidak memberikan dia kesempatan untuk bersama. Kalau dia telah mengakui semua kesalahannya, tidak ada salahnya untuk mencoba kan" ucap Fatahillah.


"benar mas...aku lihat dokter itu sepertinya menaruh harapan besar untuk bisa bersama mas Aji. tidak ada salahnya memulai dari awal. Demi anak kalian juga" ucap Akmal.


"tapi...aku ragu bos. Apakah bos telah memaafkan semua kesalahannya di masa lalu...? Jangan karena setelah kalian kembali bersama lantas saat kalian marahan, kamu menggunakan luka masa lalu untuk menghardiknya" Alex memberikan pemikiran lain.


"maka tanamkan dalam hati kalau itu semua adalah masa lalu. boleh aku tau sebenarnya kesalahpahaman apa sehingga membuat kalian renggang..?" Fatahillah ingin tahu.


Aji Wiguna pun menceritakan kisahnya di masa lalu. Dan saat itu juga semua orang mengetahui kisah tragis yang pernah ia alami.


"kalau menurut aku, di masa lalu dia seperti itu karena hasutan dan omnya sendiri, bukan karena keinginannya sendiri. andai dia tau kebenarannya, dia tidak mungkin akan membunuh laki-laki yang begitu ia cintai. Dan bahkan sekarang dia menyesali itu semua. Mungkin sulit untuk kamu dan harus kamu tau, saat itu juga pasti sulit untuk dokter Najihan. Apalagi setelah tau yang sebenarnya, pastinya hidupnya dibayangi rasa begitu merasa bersalah. Kenapa tidak membuka ruang untuk memafkan dia dan memberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya. ketika kamu lapang untuk memafkan, maka semuanya akan baik-baik saja. Tanamkan dalam hati kalau semua itu bukanlah keinginannya" Hasan memberikan nasihat apa yang ada di dalam kepalanya.


"semuanya tergantung kamu Aji, dan apapun keputusanmu kami pastinya mengharap kamu bahagia" ucap Fatahillah.


"kalau mas Aji nggak mau, biar dokter cantik itu sama aku sajalah. aku siap menerima lapang dada, walaupun sudah punya anak. Kan sudah trennya sekarang, brondong punya anak satu" Yusrif membuat semua orang menatapnya tajam.


"kamu ingin ku cincang...?" Aji Wiguna mendengus.


"nah kan, nggak usah pura-pura jual mahal padahal masih sayang mas. Baru juga aku goda udah mau cincang orang saja. benar-benar psikopat"


"kalau masih cinta, sikat saja mas...emmm pakai sikat WC mungkin"


Puuuk...


"aduh...kenapa sih tangan mas Hasan suka sekali mukul orang. heran banget, itu tangan apa kayu sih, malah sakit banget lagi" Akmal akhirnya pindah tempat ke samping Fatahillah.


"makanya jangan suka asal ceplos, dapat hadiahnya kan" Yusrif tertawa jahat, Akmal semakin kesal.


Tok tok tok.


Pintu kamar itu di ketuk dari luar, tidak lama terdengar suara pintu terdengar dan terbuka. Seseorang memasukkan kepalanya untuk melihat ke dalam.


"Sam, ayo masuk" ajak Fatahillah.


Karena kamar yang didatangi telah benar, Samuel masuk dan menutup pintu. Ia pun ikut bergabung bersama mereka.


"bagaimana dengan keluargaku...?" tanya Fatahillah saat Samuel telah mendaratkan bokongnya di sofa.


"mereka sudah di tempat yang aman" jawab Samuel.


"dimana kamu membawa mereka...?"


"di markas kita"


"astaga Sam, kenapa membawa mereka ke sana" Fatahillah panik.


"kamu lupa ya, di sana ada tempat rahasia yang hanya kamu dan aku yang tau, juga di Niko. Tidak ada yang bisa menemukan mereka selain kita bertiga. Lagipula tempat itu juga telah kamu beri pelindung agar dunia gaib tidak dapat melacak tempat itu" Samuel menjawab santai.


"oh baguslah, semoga ayah tidak menemukan mereka"


"ayah kamu sudah beberapa hari tidak pulang, seperti bang Toyib saja dia itu. ups...maaf sobat, aku keceplosan" Samuel tidak enak hati kepada Gara.


"dia bukan Gandha Sukandar"


"maksudnya...?" kening Samuel mengerut.


Fatahillah kemudian memberitahu tentang kenyataan yang sebenarnya, maka dari itulah dia menyembunyikan keluarga Gara Sukandar ke tempat yang lebih aman.


"terus kalau dia bukan pak Gandha yang asli lalu dia siapa...?"


"itu juga yang perlu kita cari tau. Aku begitu penasaran siapa dia sebenarnya dan dimana ayah disembunyikan"


Drrrttt... drrrttt


Ponsel Alex bergetar di dalam kantung jaketnya. Ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya, ia menyuruh semua orang untuk diam.


[halo pak]


[Alex...bersiap, sekarang juga kita ke pulau bambu]


[sekarang bos...?]


[kenapa...? Kamu keberatan...?]


[tidak sama sekali bos. baiklah, saya dan Akmal akan menemui bos sekarang]


[temui Utami terlebih dahulu, jemput dia dan kita akan bertemu di pelabuhan merak]


[baik bos]


"kenapa, apakah itu Gandha Sukandar palsu...?" Tegar langsung bertanya setelah panggilan itu terputus.


"iya...dia meminta aku dan Alex untuk berangkat ke pulau bambu hari ini"


"kalau begitu kita juga harus ke sana sekarang. Secepatnya kita harus menemukan obat itu dan juga mengintai laki-laki itu" Yusrif bersemangat.


"tetap pada rencana awal kita ya, ada yang ke telaga gunung Gantara dan ada yang akan mengintai Gandha Sukandar"


"terus aku bagaimana...?" Samuel menunjuk dirinya sendiri.


"kamu tetap di sini Sam. Apapun yang terjadi di sini maka laporkan kepadaku, aku mengandalkan mu. Dan juga tolong awasi dan lindungi Henry juga keluarganya. jika nanti hari ini dia keluar dari rumah sakit, maka antar dirinya pulang dan kerahkan beberapa anak buahku untuk berjaga di rumahnya." Fatahillah berucap penuh harap.


"memangnya Henry di sini...?" tentu saja Samuel kaget.


"iya, karena darinya lah kami semua tau yang sebenarnya. Aku mau kamu menjaga dia dan keluarganya.


"baiklah akan aku lakukan itu, kalian semua hati-hati" Samuel menerima keputusan Fatahillah.


Kini mereka berpisah kembali. Alex juga Akmal terlebih dahulu meninggalkan rumah sakit itu dan akan ke tempat dimana Utami berada. Sementara Samuel, meninggalkan rumah sakit setelah kepergian Alex juga Akmal berlangsung lama.


"kalian berdua yakin tetap ingin ikut...?" tanya Fatahillah kepada Tegar juga Yusrif.


"yakinlah mas, aku tidak ingin ditinggal ya" jawab Yusrif penuh pemaksaan.


"tapi kalian kan masih sakit" ucap Aji Wiguna.


"hal seperti ini sudah biasa bagi kami bos. Masa anak buah sendiri tidak bos kenal" jawab Tegar.


"baiklah, kita semua akan berangkat" Fatahillah mengambil kesimpulan saat itu juga.