
Harusnya saat Gandha Sukandar palsu menghubungi mereka untuk menjemput Utami, kedua pemuda berpikir wanita itu pasti sedang menunggu mereka. Telah bersiap dan tinggal berangkat, namun keduanya malah diberikan pemandangan yang tidak terduga.
Utami yang baru saja membuka pintu, menyambut kedatangan Alex juga Akmal dengan pakaian yang menurut keduanya waow. bagaimana tidak, wanita itu memakai dress linger yang tipis dan pendek di atas lutut. mempunyai tali yang bahkan lebih besar dari kecil dari jari kelingking. Senyuman manisnya menyambut kedatangan dua pemuda itu.
"atagfirullahaldzim"
Akmal sontak membuang muka, begitu juga dengan Alex yang langsung menjauh sebab ponselnya bergetar. Alex menuju ke samping rumah, dan untuk Akmal....?
Pemuda itu kepalanya mulai cenat cenut, apalagi ketika Utami datang menghampirinya dan memegang bahunya.
"aku di sini loh Mal, kenapa malah fokus ke depan sana...?" Utami berbisik di telinga Akmal, sehingga deru nafas wanita itu mengenai daun telinga Akmal.
"kami datang ke sini atas perintah bos Gandha untuk menjemput mbak Utami. Sebaiknya mbak bersiap-siap sekarang, kita tidak punya waktu untuk berlama-lama" Akmal tanpa ingin membalikkan badannya, dirinya menjawab sambil menjauhi Utami.
Wanita itu yang sebenarnya sudah jatuh hati kepada Akmal, tersenyum dengan seringai di bibir sebab dirinya tau Akmal sekarang ini sedang gugup.
"kamu kenapa sih Mal. Bukannya kemarin kamu bilang tertarik sama aku, tapi kenapa malah menjauh sih sekarang" Utami malah mendekati Akmal dan dengan berani memeluk pemuda itu dari belakang.
"Allahuakbar"
Akmal melepaskan tangan Utami dengan begitu kasar dan berbalik mendorong tubuh wanita itu. Sayangnya, Utami malah menarik kerah baju Akmal sehingga keduanya jatuh ke lantai dengan posisi saling menindih.
sementara Alex, setelah menerima panggilan yang ternyata dari Fatahillah, ia pun kembali ke arah depan, pemandangan di depannya membuatnya membulatkan mata.
"MAL... APA-APAAN KAMU"
Alex tentu saja marah. Bukan karena dirinya cemburu sebab Akmal mengambil kesempatan tanpa mengajak dirinya, namun lebih ke perlakuan mereka berdua yang tidak seharusnya dilakukan di ruang terbuka.
Akmal yang berada di atas tubuh Utami, dengan cepat menarik dirinya. Utami pun tanpa malu, memasang wajah biasa saja.
"mas...ini salah paham, bukan seperti yang kamu lihat" Akmal mencoba menjelaskan, kedua matanya menatap tajam Utami yang menatapnya datar.
"mbak Utami narik baju aku loh mas... jadinya aku ikutan jatuh" Akmal memelas saat wajah Alex menatapnya tajam.
hiks....hiks...
Utami yang tadinya diam saja, kini merubah eskpresi wajahnya dengan raut wajah sedih dan ingin menangis.
"kamu udah mempermalukan aku Mal, harga diriku jatuh karena kelakuan kamu" Utami memasang wajah bagai korban yang baru saja diapa-apakan.
"mbak...aku nggak ngapa-ngapain mbak loh, itu juga karena...."
"mas Alex, kamu lihat kan apa yang terjadi tadi. Itu memang seperti yang mas pikirkan setelah melihat itu" Utami mencoba mendapatkan belas kasihan dari Alex. Bahkan air mata buaya itu mulai muncul dipermukaan.
"What the hell.... NGOMONG APA KAMU...?"
Deg
Bentakan Akmal yang begitu keras membuat Utami terlonjak kaget dan bahkan mundur saking kagetnya. Pemuda yang baru beberapa jam bersamanya yang selalu menampakkan sikap yang lembut, kini berubah menjadi penuh kemarahan. jari telunjuk Akmal, menunjuk wajah cantik Utami yang saat ini mulai panik melihat kemarahan Akmal.
"nggak ada otak memang kamu ya. jadi wanita itu yang terhormat dikit lah mbak. Nggak guna cantik kalau kelakuan mbak memalukan. Segitunya tergila-gila sama laki-laki sampai niat banget mau memfitnah aku. Wanita picik, setres memang kau"
"Mal...kamu..."
"DIAM KAU WANITA ULAR. KAMU PIKIR SETELAH MEMAKAI PAKAIAN SEPERTI INI AKU AKAN TERGILA-GILA PADAMU...? CUIIH... HARGAMU LEBIH MURAHAN DARI PELACUR MBAK. JIJIK AKU"
Dengan nafas yang memburu dan bahkan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun, Akmal mengepalkan kedua tangannya. Kalau saja Utami bukan wanita, sudah pasti wanita itu sudah dirinya tendang ke planet mars. Benar-benar membuatnya marah dan kesal.
tanpa kata, Akmal menarik tangan Alex untuk meninggalkan tempat itu, dimana Utami bagai wanita bodoh yang sama sekali tidak dilirik oleh dua pemuda tampan yang datang untuk menjemputnya.
Akmal hendak menyetir namun Alex menahan dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Mobil itu meninggalkan Utami yang begitu kesal, malu dan tentu saja harga dirinya jatuh karena ulahnya sendiri.
"benar-benar wanita ular, aku pikir dia itu baik. Nggak taunya gatel melebihi ulat bulu" Akmal masih dongkol di samping Alex.
"tapi tadi aku lihat, Utami seperti ingin menangis loh Mal kamu bentak seperti tadi"
"mau dia nangis kek, mereog kek, ora urus. Sekalian sana tenggelamkan dirinya di sungai Amazon"
Alex diam dan tidak bersuara lagi. Saat ini Akmal masih berusaha meredamkan emosinya sehingga Alex lebih memilih diam dan memberikan Akmal ruang untuk lebih tenang tanpa gangguan darinya.
Gerbang pelabuhan merak telah terlihat dan hingga kini mobil itu telah masuk ke dalam pelabuhan. Alex memakirkan mobil di tempat biasa, setelahnya keduanya turun. Pelabuhan itu nampak sepi, hanya beberapa orang saja yang berjaga dan itu adalah anak buah Gandha Sukandar.
"sepertinya dia belum datang mas" ucap Akmal
"tadi dia menghubungiku dan mengatakan akan terlambat datang. Kita menunggu saja sambil menikmati minuman kelapa muda" Alex menunjuk beberapa tempat yang berjejer, dengan payung yang dijadikan tempat berteduh dan kelapa muda sebagai jualan mereka.
"ayolah kalau begitu, kebetulan sejak tadi hawa tubuhku panas dan mungkin akan dingin dengan air manisnya kelapa muda"
"kalau kamu memperlihatkan sikapmu tadi terhadap Nagita, bisa lari dia Mal" sambil melangkah, Alex melemparkan kata.
"oh no no no" Akmal menggerakkan jari telunjuknya di depannya. "kalau aku sama mbak dokter cantikku, hati aku itu lembut selembut bulu ayam"
"idih...apa pula kau bawa-bawa bulu ayam"
"oh salah ya, emmm kalau begitu bulu bebek sajalah"
"terserah kamulah" Alex memutar bola mata.
duduk di ujung jembatan dengan menikmati es kelapa muda yang dicampur santan dan gula merah, keduanya menikmati pemandangan kapal-kapal dan juga ada pula beberapa orang yang naik sampan.
"sepertinya tinggal di tepi pantai dengan pasangan hidup, akan lebih indah ya" ucap Alex dan hal itu sontak membuat Akmal menoleh kepadanya.
"apakah aku sudah mempunyai calon kakak ipar...?" Akmal mengamati wajah Alex dimana kepalanya dibungkus oleh topi. Keduanya memang selalu mengenakan topi setiap mereka keluar.
"belum" singkat padat dan jelas jawaban itu.
"belum atau sudah ada namun tidak berani mengungkapkan. Kemarin aku lihat, sudah ada yang mulai dekat tuh" Akmal mulai memberi umpan.
"siapa...?"
"siapa lagi kalau bukan si Jeni Yellow pink, kembarannya si Jeni blackpink" Akmal mengangkat satu alisnya dan mengedipkan matanya.
"genit kau" Alex mengusap wajah Akmal dengan telapak tangannya.
"ck...aku serius loh mas. Sejak awal bertemu, aku sudah mempunyai feeling kalau gadis belia itu suka sama mas Alex. Jangan disia-siakan lah mas, daun muda loh"
"aku hanya menganggap dia sebagai adik. Usia kami pun jauh berbeda, mana mau di sama aku"
"cieee....jadi diam-diam ada yang berharap disukai nih yeee" Akmal menggoda dengan tersenyum manis, dan hal itu membuat Alex jengah.
"sekali lagi kamu memasang wajah seperti itu, aku buang kamu ke laut"
"aku nggak mau ke laut mas, maunya dibuang ke ranjang" Akmal mengedipkan mata.
"sinting" Alex mendengus Akmal tertawa lebar.
"mas kalau suka sebaiknya dekati, diambil orang baru nyaho. Jangan sok jual mahal terus lah mas, lama-lama nggak laku terus jadi perjaka lapuk. jadi lakik itu harus berani mas, kalau lembek ya mana bisa dapat"
"gampang itu mah. urusan jodoh nanti kita ambil paksa jodohnya orang" kini giliran Alex yang mengedipkan mata dan tersenyum tipis.
"eh busyeeeeet...emang kadang-kadang lah mas ini"
"Alex.... Akmal"
Suara panggilan itu membuat keduanya memutar kepala ke belakang. dia orang manusia terlihat berjalan ke arah mereka. Alex dan Akmal pun berdiri dan menghampiri keduanya. Gandha dan Utami, wanita itu ternyata datang bersama Gandha.
"aku menyuruh kalian untuk menjemput Utami, kenapa tidak menjemputnya...?" tanya Gandha Sukandar.
"bukannya tidak mau menjemput bos, tapi tadi Utami yang menyuruh kami untuk duluan saja ke pelabuhan. Benar begitu kan Utami...?" tatapan Alex yang dingin dibalas kesal oleh Utami. Wanita itu mengepalkan tangan, merasa dipermainkan.
"benar begitu Utami...?" Gandha Sukandar memalingkan wajah untuk melihat Utami.
"iya bos, soalnya tadi aku masih mempunyai urusan" Utami menjawab.
Gandha Sukandar manggut-manggut kemudian menghampiri seorang laki-laki yang berdiri di dekat kapal yang akan mereka gunakan untuk ke pulau bambu.
"Zafir... untuk beberapa hari ini, kamu menggantikan Alvin mengurus semuanya. Alvin tidak sehat dan harus beristirahat beberapa hari"
"baik bos, tapi...."
"tapi kenapa...?"
"bukankah masih ada Edgar sebagai pengganti Alvin. Lagipula pekerjaan yang dilakukan Alvin harus yang ahlinya sementara aku tidak begitu tau tentang dunia bisnis bos. aku tidak seperti Victor yang tau segalanya"
"kamu hanya perlu menemui pelanggan kita, terima uangnya dan berikan barangnya. Ini kunci gudang. Harusnya pekerjaan itu aku berikan kepada Alex atau Akmal tapi mereka harus ikut bersamaku ke pulau bambu. maka jangan menolak karena aku tidak suka penolakan"
"bagaimana kalo Baron saja yang melakukan itu bos, dia kan sudah banyak dikenal semua pelanggan kita" Zafir masih tetap berusaha mencari cara untuk menolak. Bukan apa-apa, dirinya hanya takut nasibnya akan sama seperti Victor.
"tidak bis, dia harus mengurus club dan bar milikku. sudah terima saja, jika tugasmu baik dan tidak melakukan sesuatu yang membuat aku marah maka takdirmu tidak akan seperti Victor. Terima ini"
Gandha Sukandar memaksa Zafir untuk mengambil kunci gudang itu. Dengan begitu terpaksa Zafir mengambilnya. Setelahnya Gandha Sukandar masuk ke dalam kapal di susul oleh Utami. Akmal ikut masuk ke dalam kapal, sementara Alex berhenti di samping Zafir. Ia mengambil ponselnya dan menempelkan benda itu ke telinganya.
"ceritakan padaku tentang laki-laki yang bernama Victor, aku janji akan mengirimkan orang untuk membantu kamu dan juga melindungi kamu" ucapnya seakan sedang berbicara di sambungan telepon padahal Alex sedang mengatakan hal itu kepada Zafir. Dengan suara pelan agar tidak di dengar siapapun. "jangan menoleh padaku nanti bos curiga. aku tau kamu laki-laki yang baik, jadi tidak perlu takut"
Zafir yang tadinya hendak menoleh melihat Alex, menegakkan kepala menatap lurus ke depan.
"maaf, aku tidak mau terkena masalah" Zafir hendak melangkah namun Alex berhasil menahannya dengan satu kalimat.
"maka kalau begitu kamu akan berakhir seperti Victor jika kamu ceroboh nantinya. ada yang ingin aku tanyakan kepada Victor dan ini menyangkut nyawa seseorang"
"bagaimana kamu bisa menanyakan hal apapun kepadanya sementara Victor...telah mati"
"apa penyebabnya...?"
"dia.... mengetahui rahasia besar bos dan..."
"mas, ayo" Akmal memanggil.
Dengan cepat Zafir mengayunkan langkah meninggalkan Alex yang menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam kapal.
_____
"dia sudah berangkat ke pulau bambu" ucap wanita itu. dirinya duduk di samping laki-laki yang masih terbaring dan sedang diobati oleh Mbah Mamad.
"akan semakin seru pertunjukkan. Bagaimana dengan rencanamu, kamu sudah melakukannya...?"
"belum, tapi itu gampang. Aku yakin mereka tidak akan berkutik. siapa sih yang mau kehilangan kekasih hati. Aku yakin, ketika salah seorang bermasalah maka mereka pasti tidak akan membiarkan teman mereka berjuang sendiri bukan" wanita itu tersenyum iblis.
"padahal kalian berdua tampan dan cantik, kenapa tidak menjadi pekerjaan baik saja untuk menopang hidup. Memangnya sekaya itu ya laki-laki yang kalian incar" Mbah Mamad yang tadinya hanya mengedarkan saja sekarang mengeluarkan suara.
"kalau Mbah tau kekayaan dia seperti apa, Mbah pasti pingsan" ucap si wanita.
"aku sudah tau itu" mbah Mamad menjawab spontan. "maksud ku, aku sudah tau...kan kalian baru saja mengatakan itu tadi" senyuman Mbah Mamad membuat keduanya ikut tersenyum.
"Gara sekarang semakin sakti, aku harap Mbah bisa mengalahkan dia" ucap si lelaki.
"tenang saja, nanti kalian akan terkejut bagaimana dia dan aku bisa bestian"
"kok bestian sih Mbah" si wanita mengerutkan kening.
"maksud aku, dia akan tunduk padaku nantinya. Nah sekarang sudah selesai, setelah ini kamu bisa berendam di kamar mandi yang sudah aku sediakan airnya. Pergilah, aku mau keluar sebentar" Mbah Mamad turun dari ranjang.
"mau kemana Mbah...?"
Mbah Mamad hanya tersenyum dan melangkah keluar kamar.
"dia itu kok rada-rada aneh ya" si wanita membantu si lelaki untuk bangun.
"orang dia waras begitu, apanya yang aneh. Bantu aku ke kamar mandi. Rasanya badanku sakit semua"
"kira-kira siapa yang menggantikan mu selama kamu sakit seperti ini" wanita itu membopong si lelaki ke kamar mandi.
"jelas anak buah Gandha Sukandar, siapa lagi"
"harusnya Mbah Mamad sudah membuat kamu sembuh total, dia kan sakti. Masa dia mengobati hanya setengah-setengah sih"
"kamu lupa ya kalau Mbah Mamad mengatakan, teluh yang dikembalikan disertai dengan energi yang begitu kuat sehingga perlu beberapa waktu untuk sembuh. Ini malah menurutku sudah lumayan cepat"
Laki-laki itu dibantu masuk ke dalam bathtub dan berendam di sana.
"lihat saja nanti, kita harus membalas perbuatan Gara Sukandar. Bisa-bisanya dia menyembunyikan keluarganya bahkan Gandha palsu sekalipun tidak mengetahui kemana perginya mereka. Benar-benar sialan dia"
"ck... bukannya Gandha palsu sudah menghubungi ibu Laksmi kemarin...?"
"iya...tapi keberadaan mereka nggak bisa dilacak dan juga ibu Laksmi tidak memberitahu keberadaan mereka dimana"
"atau mungkin penyamarannya sudah diketahui" wanita itu memijit lembut kepala laki-laki itu.
"nggak mungkinlah, kalau iya pasti sudah heboh"
"iya juga sih"
_____
"rumah siapa ini Fatah...?" Hasan bertanya saat mereka tiba di rumah sederhana di pinggir laut.
Dari arah samping, muncul seorang laki-laki baya dengan satu tanaman bunga yang berada di dalam pot. Melihat kedatangan beberapa pemuda di rumahnya, laki-laki baya itu segera menyongsong mereka.
"Masya Allah pak Gara, saya kira datangnya nanti malam. Ayo mari masuk masuk" dengan ramah ia tersenyum menyuruh para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
"tidak perlu pak Dodi, kami ke sini memang ingin segera berangkat" Fatahillah memberitahukan niatnya.
"ya sudah, tunggu sebentar ya saya ganti baju dulu terus pamitan sama istri. Untungnya Samuel memberitahu saya tadi sehingga dengan cepat saya memperbaiki kapal kecil saya. Kalau begitu silahkan menunggu saya di belakang rumah, di dekat kapal"
Fatahillah mengangguk, setelahnya pak Dodi masuk ke dalam rumahnya sementara mereka beralih ke halaman belakang rumah. tidak lama pak Dodi datang dengan senyuman khasnya yang ramah.
"mari pak Gara dan semuanya, tujuannya ke pulau bambu kan...?" tanya pak Dodi.
"iya pak, tempat mendarat harus ditempat yang aman dari orangnya ya pak" ucap Fatahillah.
"iya, itu masalah gampang"
Pak Dodi mempersilahkan semua orang naik ke dalam kapal kecil miliknya. Laki-laki itu tidak bertanya kenapa sampai bisa pemimpin wilayah gunung Gantara lebih memilih naik ke kapalnya daripada harus menaiki kapal pribadi milik keluarga Sukandar.
Dalam pikirannya, pasti ada sesuatu hal yang harus diselesaikan pimpinan wilayah mereka dan hal itu membuat pak Dodi melambungkan doa agar urusan Fatahillah juga yang sedang bersamanya sekarang, dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat.
Tiga jam di dalam kapal di atas air laut, kapal itu bersandar di sebuah tempat yang begitu sepi. Seperti permintaan mereka, pak Dodi membawa mereka di tempat yang aman.
"saya tidak tau apa yang sedang kalian hadapi, tapi saya berharap semoga urusan kalian dimudahkan oleh yang Maha Kuasa"
"aamiin pak, terimakasih banyak" Yusrif langsung mengaminkan.
"terimakasih pak Dodi, maaf sekali telah merepotkan" ucap Fatahillah.
"sama-sama pak Gara. Kalau begitu saya pamit"
"hati-hati pak" ucap Tegar.
pak Dodi mengangguk dan tersenyum, kapal itu kembali akan berlayar di lautan sementara yang jadi penumpang tadi akan melanjutkan langkah.
"mari kita mulai berpetualang, kalian siap kan...?* Fatahillah menatap satu persatu wajah mereka.
"kami selalu siap" Aji Wiguna menjawab dengan mimik wajah serius.