Fatahillah

Fatahillah
Bab 46



Ali dan Akmal sampai malam tiba pun mereka tidak menemukan ODGJ yang mereka cari. padahal kiayi Anshor menyuruh mereka agar segera pulang jikalau sudah malam meskipun belum menemukan wanita itu. setelah tadi berkeliling di sekitar pasar, tidak ada tanda-tanda ODGJ yang mereka cari ada di sekitar pasar. alhasil mereka memutuskan untuk pulang namun karena sudah magrib, mereka memutuskan untuk mencari masjid terdekat karena jikalau lebih memilih sampai di pesantren, waktu magrib akan segera habis.


kini mereka masih berada di dalam masjid. Akmal telah selesai dengan kewajibannya sementara Ali masih khusyuk dalam berdoa. Akmal memutuskan untuk menunggu pamannya itu di teras masjid, ia duduk di tangga masjid tersebut.


pemuda itu menatap lurus ke depan sampai tidak sadar kalau Ali sudah berada di dekatnya.


"kita pulang Mal"


"nggak lanjut mencari ODGJ itu paman...?"


"sudah malam, besok saja. perasaan ku tidak enak, aku seperti merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi" Ali mencoba menenangkan pikirannya


"memangnya apa yang paman rasakan...?" Akmal menatap lekat adik dari ibunya itu


"entahlah, aku juga tidak tidak tau perasaan seperti apa ini. sebaiknya kita pulang sekarang, semoga di pondok tidak terjadi sesuatu lagi. Fatahillah dan Hasan tidak ada, siapa yang akan membantu kita jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tempo hari"


"ada Allah paman. seorang ustad tidak mungkin meragukan kekuasaan Tuhan bukan. apa sekarang hati paman telah goyah...?"


"nauzubillah, bukan seperti itu. tentunya memang hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita semua. namun bagaimanapun juga kita tidak mungkin hanya melihat saja jika kezaliman itu ada di depan mata. paman tidak mempunyai ilmu apapun seperti yang dipunyai oleh Fatahillah dan Hasan" Ali menghela nafas sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki mendekat mobil mereka yang terparkir di halaman masjid


Akmal pun mengambil langkah menyusul pamannya. keduanya masuk ke dalam mobil dan perlahan kendaraan roda empat itu bergerak keluar dari pekarangan masjid.


mereka sedikit lagi akan sampai di pondok pesantren namun mobil itu terpaksa harus melaju pelan karena di depan sana puluhan orang sedang beramai-ramai berjalan kaki entah mereka akan kemana. ada yang sebagian orang memegang air jergen lima liter.


"kenapa tuh, mau pada demo kah...?" Akmal begitu penasaran kemana tujuan orang-orang itu


Ali tidak menjawab, ia pun membunyikan klakson agar orang-orang itu dapat menyingkir dan mobil mereka bisa lewat. sadar ada mobil di belakang mereka, orang-orang itu menyingkir di pinggir jalan memberikan ruang kepada Ali untuk melajukan mobilnya.


"terimakasih pak" Ali membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya untuk mengucapkan terimakasih


tidak menjawab namun bapak-bapak itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Ali kembali menutup kaca mobil dan mempercepat laju kendaraannya. hanya hitungan menit mereka telah sampai di gerbang pondok pesantren Abdullah. mobil itu bergerak ke arah rumah kiayi Anshor.


baru saja keduanya keluar dari mobil, sudah terdengar suara keributan di depan gerbang. Akmal dan Ali saling pandang, perasaan tadi tidak terjadi apa-apa namun kenapa tiba-tiba ada keributan di sana.


umi Zainab dan kedua anaknya bahkan keluar karena memang suara teriakan bahkan cacian terdengar jelas dari pintu gerbang di depan rumah rumah kiayi Anshor.


"ustad Ali, apa yang terjadi. kenapa ada keributan seperti itu...?" umi Zainab mendekati Ali dan Akmal


"saya tidak tau umi, biar saya dan Akmal yang memeriksa"


Ali menarik lengan Akmal hendak melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan gerbang. namun baru beberapa langkah saja, keduanya berbalik karena banyaknya batu yang mengudara menghantam di dalam pesantren.


"astaghfirullah, umi sebaiknya kalian semua masuk ke dalam rumah. bahaya berada diluar" Ali berbalik arah dan mencoba melindungi umi Zainab dari lemparan batu


Naila dan Maryam mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. hantaman batu terdengar di atap rumah itu. mereka semua masuk ke dalam dan mengunci pintu.


ponsel Akmal berdering, pak Umar ternyata yang menghubunginya.


(Mal, kalian masih dimana)


(di rumah kiyai pak, tapi kami belum bisa pulang karena ada yang menyerang pesantren)


(apakah suara ribut yang terdengar dari arah gerbang...? kalau begitu saya dan pak Odir akan mencoba melihat ke sana)


(jangan pak, bahaya. pesantren dilempari batu oleh orang-orang itu. sebaiknya jangan keluar dulu. bapak sama pak Odir lebih baik berjaga saja di rumah, jangan sampai ada penyusup yang masuk dan mencelakai kalian. biar aku dan paman Ali yang akan melihat ke sana)


(ya sudah, kalian harus hati-hati)


(iya pak)


"ustad Ali, hubungi kiayi Anshor, beliau pasti belum tau keributan di luar sana karena mereka sekarang berada di masjid" raut wajah umi Zainab begitu tegang


Naila dan Maryam mengelus lengan ibu mereka. mencoba menenangkan wanita itu meskipun sebenarnya keduanya sama cemasnya dengan sang ibu.


suara lemparan batu sudah tidak terdengar lagi di atap rumah. Akmal dan Ali keluar untuk melihat sekitar. lampu di halaman rumah dapat menerangi penglihatan mereka.


"Mal, kamu pergilah ke masjid beritahu kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain. aku akan melihat di depan sana"


"baiklah, paman harus berhati-hati"


Ali menepuk pundak Akmal setelahnya mereka berdua berpisah arah. Akmal menuju ke masjid sementara Ali menuju ke arah gerbang.


dengan tergesa-gesa Akmal berjalan dengan cepat bahkan kini ia mulai berlari agar bisa sampai di masjid dengan cepat. Akmal bahkan melompati beberapa tangga dan buru-buru masuk ke dalam.


"assalamu'alaikum kiayi, gawat ini...gawat" dengan nafas memburu Akmal berbicara terbata


"atur nafas dulu Mal, baru bicara" tegur kiayi Zulkarnain


semua santri yang sedang mendengarkan tausiyah dari kiyai Zulkarnain melihat Akmal dengan tatapan heran. sebagian ustad yang juga sedang berada di masjid, tidak konsen dengan apa yang mereka bicarakan dihadapan para santri.


Akmal mengatur nafas dan mengeluarkan dengan perlahan. ia mencoba mengatur degub jantungnya yang seperti telah melakukan lari maraton berkilo-kilo meter jauhnya.


"kiayi, di gerbang ada orang-orang yang menyerang pesantren. bahkan tadi mereka melempar pondok dengan batu. kiyai harus ke sana untuk melihatnya"


"astaghfirullah, ada apa lagi ini" kiayi Anshor bangkit dari duduknya


semua santri yang berada di masjid tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah Allah itu. dua orang ustadzah menemani para santri sementara tiga orang ustad yang berada di masjid mengikuti kedua kiayi itu dan juga Akmal. dengan langkah yang tergesa-gesa, mereka menuju ke gerbang pesantren Abdullah.


"USIR....USIR MEREKA"


suara kegaduhan mulai terdengar, kiayi Anshor mempercepat langkahnya untuk segera sampai di gerbang.


Ali dan beberapa ustad lainnya telah memasang badan untuk menghalangi orang-orang itu. mereka adalah orang-orang yang di lihat oleh Ali dan Akmal di jalan raya tadi.


banyak para santri yang memasang badan untuk melindungi pesantren tempat mereka menimba ilmu. mereka berbaris di belakang para ustad. saat guru besar mereka datang, para santri memberikan jalan agar kiyai Anshor dan kiayi Zulkarnain serta para ustad dan Akmal bisa leluasa untuk mendekati orang-orang itu.


"ada apa ini...?" tanya kiayi Anshor setelah mereka tiba di gerbang


"jangan pura-pura tidak tau pak tua, anda pasti sudah tau kalau di dalam pesantren ada seseorang yang berpenyakit aneh dan kalian menyembunyikan di dalam" seorang laki-laki bersuara menjawab pertanyaan kiayi Anshor


"BAKAR... BAKAR"


"USIR...USIR MEREKA"


kericuhan mulai terjadi, orang-orang itu memaksa untuk masuk ke dalam. semua ustad dan para santri memasang badan menghalangi orang-orang itu.


"bapak-bapak semua, tolong dengarkan saya dulu"


"halah, apa yang perlu di dengarkan kiayi. usir orang yang berpenyakit kulit itu atau kami akan membakar pesantren ini karena pasti sudah ada yang akan terjangkit dengan penyakit itu. kalian semua harus di isolasi, dan pesantren ini harus dibakar"


"darimana kamu tau kalau di pesantren ini ada yang berpenyakit kulit...?" kiayi Zulkarnain menatap tajam seorang bapak yang bersuara tadi


"kami mendapatkan kabar kalau di pesantren Abdullah ini ada orang luar yang berpenyakit kulit dan menular" bapak itu menjawab tegas


"jadi kamu tidak melihat langsung orangnya bukan...?" ucap kiayi Zulkarnain dengan dingin


bapak itu diam dan melihat ke arah semua teman-temannya yang datang bersama.


"kami mendengar kabar...."


"saya bertanya kamu tidak melihatnya langsung bukan...?" kiyai Zulkarnain bertanya dengan nada yang tegas


bapak itu diam tidak menjawab. pertanyaan yang diberikan oleh kiayi Zulkarnain memang benar kalau dirinya tidak melihat langsung siapa yang berpenyakit kulit itu.


"saya tanya sama kalian semua, apa kalian melihat orang itu. apa kalian melihatnya langsung sampai kalian menuduh kami menyembunyikan seseorang yang berpenyakitan...?" suara lantang kiyai Zulkarnain membuat orang-orang itu diam seribu bahasa


"kami melihat ada orang baru yang datang di pesantren ini. salah satunya adalah dia" laki-laki itu menunjuk Akmal. "bukan hanya dia seorang namun ada dua mobil dan itu pasti mereka banyak. salah satu dari mereka pasti mempunyai penyakit kulit itu"


"yang kamu tunjuk ini, adalah mantan santri saya dulu saat dirinya masih mondok di sini. mereka semua datang untuk silaturahmi kepada kami, apanya yang salah dengan itu. dan diantara mereka tidak ada yang mempunyai penyakit seperti yang kalian tuduhkan" kiayi Anshor menjawab laki-laki itu


"katakan, siapa yang memberitahu kalian kalau di pesantren ini ada yang berpenyakit kulit...?" ucap kiayi Anshor


"dia...dia yang mengatakan kepada kami" seorang bapak menunjuk kepada laki-laki yang bicara tadi


"tapi saya juga diberitahu oleh seseorang" laki-laki itu membela diri


"lalu siapa orang itu, tunjukkan kepada saya" kiyai Zulkarnain bersuara


laki-laki itu celingukan mencari seseorang yang ia maksud namu tidak terlihat batang hidung orang tersebut.


"perbuatan kalian ini sudah sangat keterlaluan dan kami bisa melaporkan Kalian semua ke polisi atas tuduhan fitnah dan penyerangan" kiayi Anshor membuat nyali mereka menciut


"kalau memang benar tidak ada yang berpenyakit seperti yang kami katakan, kalau begitu tunjukkan kepada kami para tamu kiayi itu untuk membuktikan ucapan kiyai. saya masih yakin kalau diantara mereka ada yang penyakitan. kalau ada maka mereka harus di usir dan pesantren ini harus dibakar. hei kenapa kalian diam saja. kalian mau terjangkit penyakit kulit yang mematikan. anak-anak kalian yang berada di tempat ini akan mati konyol hanya karena terjangkit penyakit itu"


laki-laki itu kembali memprovokasi orang-orang itu. sepertinya dialah yang menjadi dalang dari semua ini, sehingga orang-orang itu datang menyerang pondok pesantren Abdullah.


"tapi bagaimana jika saya tunjukkan dan apa yang kamu katakan itu tidaklah benar. kamu siap masuk penjara...?" pertanyaan kiyai Zulkarnain membuat laki-laki itu menelan ludah


"tunjukkan saja pak kiayi, tidak usah bertele-tele" laki-laki masih juga mencoba membuat ulah


kiayi Zulkarnain melirik ke arah Akmal. ia pun mendekati pemuda itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


"tapi kiayi" Akmal ragu untuk mematuhi perintah kiayi Zulkarnain


"tenang saja semuanya akan baik-baik saja"


sorot mata Akmal memperlihatkan kegelisahan. hal itu membuat laki-laki yang melawan tadi semakin memprovokasi orang-orang itu. maka ributlah lagi mereka, memaksa untuk masuk ke dalam untuk membakar pesantren itu.


"MASUK DENGAN PAKSA, BAKAR PESANTREN INI"


para santri kembali memasang badan agar orang-orang itu tidak dapat menerobos masuk ke dalam.


Akmal berlari cepat menuju ke rumah kiayi. ada sesuatu yang harus ia ambil di rumah itu. dengan nafas ngos-ngosan ia mengucapkan salam. Maryam membuka pintu dan pemuda itu menjelaskan maksud kedatangannya. Maryam paham dan bergegas ke dalam rumah, ia masuk ke dalam kamar kiayi Zulkarnain dan mengambil sebuah botol yang berisi air putih.


"apa itu nak...?" tanya umi Zainab


"ini untuk mas Akmal yang ada di depan umi, di disuruh sama paman untuk mengambil botol ini" jawab Maryam


mereka bertiga melangkah menuju ke depan dimana Akmal sedang gelisah di teras rumah.


"ini mas" Maryam memberikan botol itu


"terimakasih Maryam. maafkan saya umi belum bisa menjelaskan apa yang terjadi karena saya sedang buru-buru. doakan semoga orang-orang itu dilunakkan hati mereka agar sadar dari perbuatan yang mereka lakukan ini" Akmal mencium tangan umi Zainab sebelum akhirnya pergi begitu saja meski ia tau umi Zainab ingin menanyakan sesuatu


Akmal berlari kembali menuju ke rumah. tiba di sana, dirinya memanggil semua orang membuat pak Umar dan pak Odir kaget.


"ada apa Mal...?" ibu Afifah datang tergopoh-gopoh dari arah dapur


"kita semua di suruh kiayi Zulkarnain untuk menyusul mereka ke gerbang bu. orang-orang itu ingin melihat kita. mereka mengatakan kalau pihak pesantren menyembunyikan seseorang yang memiliki penyakit kulit menjangkit. kalau kita tidak bisa membuktikan bahwa apa yang mereka katakan adalah salah. pesantren ini akan dibakar Bu"


"astaghfirullah, pak bagaimana ini...?" ibu Rosida mulai tegang dan khawatir


"apa mba Hanum sudah dimandikan bu...?" tanya Akmal


"belum Mal, kan nanti setelah sholat isya baru dimandikan oleh kiayi Zulkarnain"


"kata beliau mandikan Hanum sekarang"


"tapi doanya kita tidak tau Mal" ibu Afifah ragu untuk melakukan itu


"lakukan seperti biasa. campurkan air ini kedalam air yang akan digunakan oleh mba Hanum. tapi sebelum itu bacakan asma Allah tiga kali, ayat kursi tiga kali, tiga kul sebanyak masing-masing tiga kali. setelahnya pak Umar akan membasuh Hanum dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan membaca salawat nabi. lakukan sekarang pak, sebelum orang-orang itu menghancurkan pesantren ini"


ibu Rosida mengambil botol yang ada di tangan Akmal. pak Umar bergegas masuk ke dalam kamar dan membangunkan Hanum yang sedang tidur. setelahnya ia membantu Hanum untuk keluar kamar. ibu Rosida menyiapkan air di baskom besar. Hanum masuk kedalamnya. karena ritual itu biasa dilakukan hanya kiayi Zulkarnain dan Hanum, maka saat ini pak Umar dan Hanum ditinggalkan berdua di dapur. mereka ke ruang tengah untuk menunggu.


pak Umar melakukan seperti yang dikatakan oleh Akmal. setelah membaca apa yang harus ia baca, ia kemudian menuangkan air itu kedalam baskom dimana Hanum berada. Hanum mulai merasakan dingin di seluruh tubuhnya, dingin seperti es batu. setelahnya, pak Umar membasuh tubuh Hanum dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil membaca sholawat nabi.


di gerbang pesantren semakin ricuh orang-orang itu. mereka mengambil batu dan melempar ke dalam pesantren. hal itu membuat kiayi Anshor tidak tinggal diam. ia pun kemudian menghubungi kantor polisi untuk segera datang ke pondok pesantren, karena bagaimanapun juga orang-orang itu harus mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka lakukan.