Fatahillah

Fatahillah
Bab 121



"Arvin mundur Vin" Utami kembali meneriaki Arvin karena laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya sementara Jery semakin menatapnya dengan bengis.


"apa yang harus kita lakukan ini. kata pak Gara kita tidak bisa membunuh orang-orang seperti ini tapi kalau tidak kita bunuh, bisa-bisa kita yang akan dihabisinya" Herman, laki-laki yang melaporkan kalau Jery menghilang, frustasi dan juga ketakutan.


Alex dan Akmal saling pandang, seakan saling memberikan sinyal hanya lewat tatapan mata, keduanya mengambil pistol dan mengarahkan ke depan. Jery semakin dekat saja dengan Arvin dan laki-laki itu mundur perlahan.


"Arvin, dalam hitungan ketiga berlari ke arah kami" teriak Alex


namun belum juga memulai hitungan, Jery lebih dulu berlari dan hendak menyerang Arvin.


Dor


satu suara tembakan terdengar begitu jelas di larut malam itu. Alex terpaksa menembak paha Jery, dengan begitu laki-laki itu tertahan di tanah sementara Akmal berlari menarik Arvin dan membawanya ikut bergabung bersama mereka.


"kenapa hanya diam saja saat diteriaki. memang berniat untuk mati ya" bentak Akmal, merasa jengkel dengan sikap Arvin yang tadi hanya diam saja.


Graaaaaa


Jery teriak dengan begitu kencang, mulutnya mengangga lebar dan mengeluarkan cairan kehitaman. darah mengalir dari luka tembak yang diberikan oleh Alex. laki-laki itu kembali berdiri dan berlari begitu kencang, targetnya adalah Utami yang berada tidak jauh darinya. wanita itu tadi berniat mendekati Arvin untuk membantunya namun Alex lebih dulu menyelamatkannya.


merasa akan diserang, Utami melepaskan satu tembakan dan mengenali bahu Jery. laki-laki itu kembali jatuh ke tanah. sayangnya tembakan itu tidak berpengaruh baginya, bahkan kini Jery masih bisa berdiri dan menatap nyalang Utami, siapa menerkam wanita itu.


"nona Utami, ke mari" teriak Akmal


teriakan Akmal membuat fokus Utami teralihkan. wanita itu menoleh ke Akmal dan saat itu juga Jery kembali berlari ke arahnya dengan mulut yang terbuka lebar.


"UTAMI"


Dor


Dor


bughhh


dua tembakan menembus kepala Jery, laki-laki itu mati di tempat dengan mata yang melotot. Alex menembaknya sebab keselamatan Utami lebih utama. semua orang mendekati tubuh Jery yang sudah tidak bernyawa dengan tubuh yang bersimbah darah.


"kamu membunuhnya mas" Akmal berbisik di telinga Alex


"terpaksa.... karena tidak ada cara lain" Alex menatap datar tubuh Jery yang tidak lagi bergerak.


malam itu semua orang mulai waspada dan berhati-hati. Alex memerintah agar mereka meninggalkan pelabuhan sekarang juga. tubuh Jery diangkat dua orang untuk dimasukkan ke dalam mobil. bagaimanapun tubuh itu harus di makamkan sebab tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.


mereka bersiap untuk masuk ke dalam mobil, tapi satu hal lagi kembali terjadi. seseorang tiba-tiba kejang-kejang dan satu orang yang berada di dekatnya panik dan memberitahu yang lain.


"Anton hei Antoni, apa yang terjadi padamu" temannya itu menepuk-nepuk bahu Antoni sebab Antoni kejang-kejang dan kedua mata melotot ke atas.


tidak lama setelahnya teman Antoni itu pun mengalami hal yang sama seperti yang Antoni alami. setelahnya bertambah lagi satu orang dan terus seperti itu sampai semua anak buah Gandha Sukandar terkecuali Alex, Akmal, Arvin dan Utami, mereka mengalami hal yang mengerikan.


"astaga, ada apa dengan mereka, kenapa menjadi seperti ini" Utami begitu kaget melihat itu semua.


"mundur" perintah Alex keempatnya mundur menjauh dengan jarak beberapa meter.


setelah kejang-kejang, orang-orang itu tidak bergerak lagi. keempatnya saling tatap dan kebingungan.


"mungkinkah mereka keracunan makanan" ucap Akmal


"apa yang kalian makan sebelum datang ke sini...?" Alex bertanya kepada Arvin


"tidak ada, kami semua hanya meminum kopi di tempat ujung sana tadi sambil menunggu kedatangan kalian berdua" Arvin menunjuk tempat paling ujung yang ada di pelabuhan itu.


"apa mereka keracunan kopi...?" tanya Utami


"tidak mungkin, sebab aku juga minum di warung itu namun aku tidak ada yang terjadi denganku sekarang ini" Arvin menjawab pertanyaan itu.


"lalu mereka kenapa...? Utami semakin bingung.


"eh ada yang bangun" tunjuk Akmal ke depan.


laki-laki yang bernama Antoni tadi, bangun seketika dengan posisi membelakangi mereka. suara tulang yang seperti patah, terdengar ngilu di telinga namun Antoni tidak merasakan sakit apapun. laki-laki itu kemudian memutar badannya menghadap ke arah mereka.


"astaga" Arvin menutup mulut kaget


penampakan Antoni sama seperti penampakan Jery tadi. dirinya tersenyum menyeringai dengan mulut yang keluar cairan warna hitam, mata memutih, gigi siap menggigit dan kukunya yang tadinya tidak ada kini menjadi panjang dan tajam.


tidak lama Antoni bangun, beberapa orang pun mulai bangun dan kini mereka semua telah berdiri seperti pasukan yang siap menyerang keempat manusia yang ada di depan mereka.


belum terpikir apa yang harus mereka lakukan, kini mereka semakin terdesak saat ternyata bukan hanya anak buah Gandha Sukandar yang mengalami hal mengerikan seperti itu. dari arah kanan dan kiri, ternyata banyak orang-orang yang berubah menjadi mengerikan seperti itu. mereka berjalan lambat menuju ke gerbang pelabuhan, mereka akan masuk ke dalam kota.


"bagaimana ini mas, kita harus melakukan sesuatu" Akmal panik, bukan hanya dia yang panik, Utami dan Arvin pun tentu saja panik sedang Alex memutar otak untuk melakukan sesuatu agar orang-orang itu tidak keluar dari wilayah pelabuhan.


"Utami, Akmal, kalian mengurus mereka yang ada di sini. tembak jika mereka menyerang. daripada terbunuh lebih baik mereka kita bunuh. aku dan Arvin akan ke gerbang untuk menghadang yang lain"


"siap mas" Akmal mengangguk


"hati-hati, aku mengandalkan mu" Alex menepuk bahu Akmal dengan pelan "ayo Vin" ajak Alex, mereka berlari ke arah gerbang pelabuhan.


Graaaaaa


Antoni bersuara menatap tajam dua manusia yang akan menjadi santapan mereka.


"kamu siap Utami...?" Akmal menatap wanita itu.


"aku siap" Utami membalas tatapan Akmal dan mengangguk.


Graaaaaa


Dor


Dor


Dor


suara tembakan saling sahut menyahut di malam itu. satu orang melompati Akmal hingga keduanya berguling di tanah. orang itu akan menggigit Akmal namun Akmal menahan menggunakan lengan kanannya dan tangan kiri yang sedang memegang pistol, ia tempelkan di perut orang itu.


Dor


Akmal menembak beberapa kali dan orang itu mati di atas tubuhnya. dengan susah payah Akmal mendorong tubuh orang itu dari atas tubuhnya. dirinya ngos-ngosan mengambil nafas dan membuangnya. dilihatnya Utami terus menembaki mereka yang datang menyerbunya. keduanya bagaikan makanan lezat yang akan dikerumuni semut.


Utami mengeluarkan ilmu beladiri yang dia punya. wanita itu menendang dan menembak mereka yang ingin mencabik-cabik dirinya. sedang Akmal, kembali fokus kepada mereka yang datang menyerangnya. satu persatu ia tembaki namun tubuh orang-orang itu layaknya seperti baja yang sulit untuk di tumbangkan. harus beberapa kali melesatkan tembakan hingga mereka tumbang tidak akan bangun lagi.


Utami yang terdesak karena Antoni melompati tubuhnya dan laki-laki itu berada di atasnya. cairan kental warna hitam mengucur di wajah cantik wanita itu. Utami hampir mual dengan bau busuk cairan itu.


Dor


Dor


Akmal datang menembak kepala Antoni, laki-laki itu mati seketika. Utami mendorong Antoni dan jatuh di sampingnya.


"kamu tidak apa-apa...?" Akmal membantu Utami untuk berdiri.


dari sekian yang mereka habisi, tersisa lima orang lagi yang harus mereka hadapi. keduanya bersiap mengambil posisi sebab lima orang itu kini mulai mendatangi keduanya.


di gerbang pelabuhan, Alex juga Arvin berdiri di posisi masing-masing samping kanan dan kiri. Alex mengambil bagian kanan sementara Arvin mengambil bagian kiri. melihat ada mangsa di depan sana, orang-orang itu seketika berlari berbondong-bondong dengan begitu cepat menuju gerbang pelabuhan.


dari jarak beberapa meter keduanya menarik pelatuk pistol, menembaki mereka satu persatu.


"tembak tepat di bagian kepala Vin, dengan begitu mereka tidak akan bangun lagi" Alex mengeraskan suara agar Arvin dapat mendengarnya sebab saat ini keduanya dalam posisi berjauhan.


"baik" Arvin menjawab dan langsung menerapkan. tepat di dahi dan tembus di belakang kepala, orang itu langsung tumbang jatuh terkapar.


trik yang diberikan oleh Alex sangat berguna, satu kali tembakan di kepala, mereka langsung tidak bangun lagi. namun karena terlalu banyaknya orang-orang itu, mengandalkan tembakan saja tidak akan bisa. karena sebagian dari mereka telah sampai di gerbang dan dengan brutal menyerang keduanya.


Alex menggunakan tenaga dalamnya menghabisi satu persatu sementara Arvin yang tidak mempunyai kekuatan apapun, dirinya mengeluarkan pisau dari dalam jasnya. leher mereka menjadi incaran Arvin saat ini.


Akmal dan Utami berhasil menangani anak buah Gandha Sukandar. mereka memutar tubuh melihat ke arah gerbang. Alex dan Akmal tidak lagi menggunakan pistol, namun menggunakan tenaga untuk melawan mereka.


"kita bantu mereka" ucap Akmal


"berhenti dari jarak sedikit jauh dan kita tembaki mereka" usul Utami


"ide bagus, ayo"


keduanya berlari menuju gerbang, tidak begitu dekat mereka berhenti dan mengarahkan pistol ke depan.


Dor


Dor


keduanya mulai menembaki orang-orang itu. suara tembakan yang keras mengalihkan yang lain menatap ke arah keduanya. hingga sebagian orang-orang itu berbalik arah berlari ke arah Alex dan Utami.


"TEMBAK TEPAT DI KEPALA MEREKA MAL" teriak Alex memberitahu


Akmal langsung mengikuti instruksi Alex. satu tembakan menembus kepala salah satunya dan terkapar di tanah. kini keduanya tahu kalau mereka harus mengincar kepala, bukan bagian tubuh lainnya.


banyaknya orang-orang itu membuat mereka kelelahan, apalagi tenaga orang-orang itu begitu kuat dan juga brutal. untungnya tidak lama, sepuluh mobil berhenti di luar gerbang. Fatahillah bersama orang-orang suruhan Fatih datang tepat waktu disaat keempatnya mulai lelah menghadapi orang-orang itu.


"mas Fatah" ucap Akmal, dirinya tersenyum lebar melihat Fatahillah datang bersama Hasan dan Aji Wiguna. meskipun memakai masker, namun Akmal dapat mengetahui postur tubuh Fatahillah, apalagi Hasan dan Aji Wiguna tidak menggunakan masker sama sepertinya begitu juga Yusrif dan Tegar.


Fatahillah memberikan perintah untuk melumpuhkan orang-orang itu menggunakan jarum yang mereka bawa. satu persatu, tiga puluh orang anak buah Gara Sukandar yang ada di wilayah D atas perintah Fatih, mulai memasang jarum itu di pistol khusus dan menembak orang-orang itu.


jarum yang dapat membuat mereka tidak bisa menggerakkan anggota tubuh dan membuat mereka pingsan. orang-orang itu dapat mereka atasi.


"mas" Akmal berlari mendekat dan langsung memeluk Fatahillah.


"kenapa bisa kalian berada di sini...?" Fatahillah menatap Alex dan Akmal bergantian.


"ini tugas kami sekarang, bukannya aku sudah memberitahumu lewat pesan" Alex menjawab


"jadi kalian yang datang menjemput barang Gandha Sukandar...?" tanya Hasan


"iya, eh taunya malah disambut meriah oleh manusia jadi-jadian" Akmal melihat orang-orang itu banyak yang mati.


Fatahillah sangat menyayangkan kejadian ini. harusnya sejak awal dirinya memblokir tempat itu, namun nasi sudah menjadi bubur.


"apa yang harus kita lakukan dengan mereka yang sudah mati...?" salah seorang datang bertanya kepada Fatahillah, sebab Fatih telah memberitahu mereka bahwa Fatahillah, Aji Wiguna dan Hasan serta dua orang lagi adalah orang-orang kepercayaan Gara Sukandar.


"kumpulkan dalam satu tempat, besok pagi makamkan mereka. dan yang masih bisa di tolong, bawa ke tempat pengisolasian, mereka harus di isolasi agar tidak menyakiti orang lain nantinya" Fatahillah memberikan perintah.


"Yus, Tegar...sana bantu angkat orang-orang itu" perintah Aji Wiguna.


"aku mau kalau angkat wanita cantik bos, kalau mayat mah ogah banget" Yusrif memilih bersandar di mobil.


"tuh wanita cantik, kenalan sana" Hasan menunjuk Utami yang sedang bersama Arvin menggunakan dagunya.


Yusrif memandang wanita seksi itu. dari kepala sampai kaki, Yusrif memindai tanpa terlewatkan.


"ckckck.... apakah dia tidak mempunyai baju di rumah, kenapa memakai pakaian yang sangat ketat seperti itu. sepertinya dia ingin dimangsa kucing garong" ucapan Yusril membuat yang lain terkekeh.


"tapi kamu sukan kan, lihatlah matamu, sampai melotot gitu melihatnya. hei air liur mu, usap dulu" Akmal mengejek Yusrif


dengan cepat Yusrif memegang bibirnya, tidak mendapatkan apapun, ia mencibir menatap kesal ke arah Akmal. "kampret kau" umpat Yusrif.


"kamu mengumpatku...?"


"tidak, tadi itu hanyalah kata-kata romantis. kamu mau aku membuatkan kata-kata romantis untukmu, aku pandai loh menggoda orang" Yusrif mengedipkan satu matanya, Akmal merinding melihatnya.


"aku masih normal ya, nggak usah kedip-kedip mata"


"tapi aku mau berkedip, gimana dong bang" Yusrif mulai edan


"hiiiiiii" Akmal bergidik dan berlari meninggalkan mereka, sayangnya Yusrif malah mengikutinya dan mereka bagaikan pemeran film India di malam itu.


"abang.... tungguin dong bang" Yusrif memanggil Akmal begitu mendayu, Akmal semakin kesal dan jengkel.


"kalian....?" Arvin merapatkan kedua telunjuknya, dan Akmal tau maksud laki-laki itu.


"ya nggak lah, nggak banget" Akmal langsung melotot


Akmal tadi berlari ke arah Utami dan Arvin, sehingga mereka berputar-putar mengelilingi keduanya.


"eh...itu siapa...?" Yusrif menunjuk ke arah kanan, di tempat yang penerangannya tidak begitu terang namun laki-laki itu dapat melihat jelas ada seseorang yang berdiri memakai jubah hitam menutupi wajahnya.


"yang mana...?" Akmal ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Yusrif.


"itu, yang berdiri di samping warung sepertinya" ucap Yusrif lagi.


Utami dan Arvin memperhatikan namun mereka tidak melihat siapapun. tidak lama Fatahillah, Hasan, Aji Wiguna dan Tegar berlari mengarah ke arah tempat yang di tunjuk oleh Yusrif tadi.


"itu mereka mau kemana...?" tanya Utami


"ayo Yus" bukannya menjawab, Akmal malah mengajak Yusrif untuk menghampiri rekan mereka.


sementara Fatahillah dan yang lainnya berkeliling mencari sosok yang Fatahillah lihat tadi. dirinya sangat melihat jelas, orang itu sedang menatap ke arah mereka.


"cari siapa mas...?" tanya Akmal


"ada orang tadi di sini Mal" jawab Fatahillah, matanya celingukan mencari sosok yang ia lihat


"tadi aku juga melihatnya, dia berdiri di sini" Yusrif menunjukkan tempat dimana orang itu berdiri.


"apa mungkin dia orang yang menyebabkan ini semua...?" simpul Tegar.


"bisa jadi, mungkin benar dia orangnya" Hasan berpikiran yang sama dengan Tegar.


"kita berpencar, siapa tau dia masih di sekitar sini" usul Aji Wiguna. mereka pun setuju untuk berpencar mencari sosok yang dianggap dalang dari kejadian itu.