
pertarungan berakhir, Ki Samidi bersama semua antek-anteknya diamankan, begitu juga dengan pak Henry. tempat itu menjadi porak-poranda dan tidak terselamatkan dari amukan semua orang.
GRAAAAR
Langon juga Gangan berlari menghampiri Fatahillah. keduanya melompat dan memeluk tubuh pemuda itu.
"kalian hebat Langon, Gangan. terimakasih telah melindungi semua orang" Fatahillah mengelus kepala dua harimau itu.
graaaar
nampak mereka berdua begitu manja kepada Fatahillah. semua orang menghampiri dirinya. pertarungan dihari itu telah selesai, namun semuanya belum berakhir.
"Sam, terimakasih....kalian datang tepat waktu" ucap Fatahillah
"sebenarnya aku bukannya datang untuk membantu kalian. mana aku tau kalau kamu dan mereka" Samuel melihat ke arah empat pemuda yang berdiri di dekat Fatahillah. Langon kini sedang bermanja di kaki Hasan. "kalau kalian datang ke tempat ini. kamu memberitahuku ke wilayah C bukan, lalu kenapa sekarang kamu ada di sini...?" ujar Samuel.
"aku sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya, kemana tujuanku pergi. saat kamu menurunkan aku di perempatan jalan, seseorang mengikutiku dan aku tau dia berniat mencelakaiku. makanya itu aku tidak ingin ada orang yang tau kemana aku pergi, dengan begitu aku tidak sibuk untuk mengurus para penguntit yang berniat berbuat jahat padaku"
"dan perkenalkan, mereka semua teman-teman ku" Fatahillah memperkenalkan teman-temannya kepada Samuel juga Diandra.
"kenapa aku baru pertama kali melihat mereka, seperti bukan penduduk asli gunung Gantara" Samuel menelisik empat pemuda itu.
"mereka memang bukan asli gunung Gantara, mereka dari kota S dan kota B" jawab Fatahillah.
Samuel mengangguk dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan kepada empat pemuda itu. saling tersenyum dan menyebutkan nama masing-masing, kini mereka telah saling mengenal satu sama lain.
"dalang dari semua ini telah kita tangkap, tinggal bagaimana membuat mereka terkena virus itu kembali normal seperti sebelumnya" ucap Samuel.
"obatnya telah diketahui, air telaga gunung Gantara. aku akan pergi sendiri untuk mengambilnya" ucap Fatahillah.
"tidak bisa, sesama rekan kita harus saling bersama. jadi mari kita pergi bersama" Hasan menyela ucapan Fatahillah.
"benar, kita akan ke sana bersama-sama" ujar Aji Wiguna.
"kalian yakin mau ke sana...? bahaya Ga, di sana itu..."
"ada kera iblis maksud kamu...?" Fatahillah memotong ucapan Samuel, laki-laki itu mengangguk membenarkan.
"aku punya mereka" Fatahillah menunjuk teman-temannya menggunakan dagunya. "aku akan naik saja. jika aku pergi ke pulau bambu maka kamu harus mengawasi semua pergerakan di wilayah S"
"tentu saja, itu kan tugasku"
"sudah selesai kan urusan di sini...? bagaimana kalau kita berpindah tempat ke pengisolasian, di sana banyak orang-orang yang menjadi monster menakutkan. suntikan dari pihak medis diperlukan untuk membuat mereka tenang" Diandra mengeluarkan suara setelah beberapa menit diam hanya mendengar saja percakapan para pemuda itu.
semuanya setuju untuk meninggalkan hutan itu. dalam perjalanan, Fatahillah memberitahu Samuel agar memberikan penjagaan ketat terhadap hutan gunung Gantara, dirinya tidak ingin ada lagi penebangan hutan liar yang menyebabkan hutan menjadi hancur nantinya.
"akan dibawa kemana pak Henry dan anak buahnya tadi...?" Fatahillah bertanya disela perjalanan mereka.
"tahanan bawah tanah pastinya, terserah padamu mau kamu apakan laki-laki itu. kalau aku yang tindaki, aku khawatir dirinya akan kehilangan kedua tangan dan semua giginya rontok" jawab Samuel.
"Hafsah pun juga sudah ditangkap"
"Hafsah...?" Samuel membulatkan mata
"iya, dia ternyata juga terlibat dalam kasus ini. orang-orang ku sudah mengamankan wanita itu. namun aku penasaran, apakah hal terjadi karena memang benar mereka pelakunya ataukah mereka hanya menjadi pesuruh"
"tapi bukannya bos mereka itu Ki Samidi yang telah kamu bunuh itu. sudah jelas kan, memang dia bosnya" ucap Hasan.
"aku tidak yakin" Fatahillah menggeleng. "aku masih merasa ada bos besar selain Ki Samidi dan itu yang ingin aku cari tau"
"sungguh di luar dugaan, wanita lembut seperti Hafsah melakukan hal keji seperti ini. padahal biasanya di kantor, nona Naomi yang begitu ingin menjatuhkan mu dan Hafsah selalu membelamu. kau tau, aku pikir Hafshah suka padamu, eh ternyata dia malah ingin membunuhmu. wanita memang sungguh sulit untuk ditebak" Samuel memutar kepala melihat Diandra yang sedang berjalan bersama Tegar dan Yusrif di belakang. ketiganya terlibat obrolan ringan dan bahkan kadang tertawa kecil.
"malah kini Naomi yang ikut menjadi korban. semoga pertolongan pertama yang aku lakukan dapat menyelamatkan wanita itu"
"bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu Naomi...?" Samuel mengernyitkan keningnya.
sambil terus melangkah menyusuri jalan setapak, Fatahillah menceritakan awal bagaimana dirinya melakukan rencana bersama Fatih namun mereka berakhir di pelabuhan merak sebab Bayu dan Hafsah malah melakukan penyebaran virus di tempat itu. hingga berakhir mereka mengikuti kemana perginya Hafsah juga Bayu dan menemukan tempat persembunyian mereka.
"Bayu...? tapi tadi kenapa tidak ada Bayu, hanya ada pak Henry dan Ki Samidi" Samuel menggaruk pelipis.
"Diandra" Samuel memanggil kekasihnya, wanita itu berjalan cepat mendekati Samuel.
"ada apa...?"
"apa benar Bayu terlibat juga...?" tanya Samuel
"iya, memangnya tadi kalian tidak menangkap Bayu...?
"nggak, tidak ada Bayu di sana tadi" Samuel menggeleng.
"berarti dia kabur, aku jelas tau karena kemarin aku melihat dirinya bersama Ki Samidi dan pak Henry"
"harus dicari itu, jangan sampai dia meneruskan apa yang dilakukan Ki Samidi, bisa gawat" ucap Aji Wiguna.
"gimana Ga...?" Samuel menunggu perintah dari bosnya.
"kerahkan banyak orang untuk mencari Bayu, sebar gambarnya di semua wilayah, dengan begitu dirinya tidak akan bebas untuk pergi kemanapun. kecuali dia pergi ke bos besar mereka" Fatahillah memberikan perintah.
"kalau begitu aku akan menghubungi masing-masing penanggung jawab wilayah untuk mencari laki-laki itu" ujar Samuel dan Fatahillah setuju.
tiba di jalan raya, ponsel Fatahillah bergetar. sebuah panggilan bertuliskan ibu terlihat di layar ponsel itu. sedikit menjauh dari semua orang, Fatahillah mengangkat panggilan itu.
[assalamualaikum bu]
[wa alaikumsalam, nak kamu dimana kenapa sejak kemarin tidak pulang...?]
[maafkan Gara bu, Gara banyak pekerjaan jadi tidak sempat pulang]
[harusnya kamu mengabari ibu, sejak kemarin ibu menunggu kamu bahkan Genta pun seharian menunggu kamu pulang. di telpon juga kamu tidak angkat. adikmu itu sekarang lagi ngambek, kamu tidak pulang-pulang]
[masya Allah, sekali lagi aku minta maaf ya bu. coba berikan ponselnya kepada Genta, aku mau bicara]
[lagi keluar mereka membeli seragam sekolah. Afnan akan ibu masukkan di sekolah yang sama dengan Genta. bagaimana menurutmu, kamu setuju kan...?]
[sangat setuju. aku senang ibu menganggap Afnan seperti anak sendiri] Fatahillah tersenyum, dirinya begitu terharu dengan kebaikan wanita yang ia panggil ibu itu.
[dia sekarang memang menjadi anak ibu. mulai sekarang putra ibu sudah tiga orang. ya sudah kalau begitu, kamu lanjut lah bekerja. nanti kalau sempat pulang kamu pulang ya sayang]
[iya bu, doakan pekerjaan aku semuanya terselesaikan. aku memohon doa ibu]
[ibu selalu mendoakan untuk kebaikan dan keselamatan anak-anak ibu]
"kamu bicara dengan siapa Laksmi...?"
"Gara ayah, kenapa ayah keluar kamar. harusnya ayah istirahat saja di dalam"
"saya bosan di kamar terus. tanyakan pada cucuku kapan dia pulang"
"ayah mau bicara dengan Gara...?"
"sini ponselnya"
[halo Gara]
[iya kek]
[dimana kamu, kenapa tidak pulang...?]
[aku sibuk kek, jadi maaf aku belum bisa pulang untuk sementara ini]
[kamu sibuk menangani virus itu...?]
[iya, masalah ini harus segera diselesaikan]
[kenapa tidak meminta bantuan ayahmu. biarpun dia dingin seperti itu, sudah jelas ayahmu akan membantu]
[setelah aku tidak bisa menangani sendiri, barulah aku akan meminta bantuan kepada ayah]
[hhhh....ayah dan anak sama-sama keras kepala. ya sudah, hati-hati kamu]
[iya kek]
"ayo Ga" panggil Samuel
hutan yang lebat itu mereka tinggalkan. sebenarnya Fatahillah ingin menemui pak Henry juga Hafsah yang telah dibawa pulang ke wilayah S. namun sebelum itu, Fatahillah harus melihat keadaan ditempat pengisolasian orang-orang yang harus disembuhkan dengan air telaga gunung Gantara.
mendirikan banyak tenda, orang-orang itu dikumpulkan dalam satu tenda yang luas. banyak penjaga yang berjaga di sekeliling tempat itu. mereka masuk ke dalam sebuah tenda yang dimana orang-orang itu diikat kedua tangan dan kaki agar tidak bisa melarikan diri dan menyerang orang lain.
"kenapa harus mendirikan tenda seperti ini...? memangnya tidak ada tempat lain...?" tanya Aji Wiguna.
"kita tidak mungkin membawa mereka ke rumah sakit juga tidak ada tempat yang aman sebab jika mereka bebas maka habislah ruangan itu. lebih baik di tempat terbuka seperti ini" Samuel menjawab.
di dalam sudah ada Fatih yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki. ketika melihat kedatangan Fatahillah juga lainnya, mereka mendekat dan menunduk sopan.
"bagaimana bisa kalian datang bersama pak Gara. lalu Elang kemana...?" Fatih ketika melihat Hasan juga Aji Wiguna dan dua lainnya, ia langsung menanyakan keberadaan Elang yang tidak lain adalah Fatahillah sendiri.
"Elang aku tugaskan mengurus hal lain" Fatahillah menjawab. dia sama sekali tidak mempunyai niat untuk membongkar penyamaran yang ia lakukan kemarin.
"bagaimana keadaan mereka...?" tanya Fatahillah. dilihatnya orang-orang itu yang terbaring dengan kedua mata tertutup rapat.
sebelum menjawab, dokter Abizzar yang berbicara dengan Fatih tadi, menghela nafas panjang. ia melihat semua pasiennya dan kembali menatap Fatahillah.
Fatahillah mendekati satu ranjang yang diisi seorang wanita. dialah Naomi, wanita itu sedikit jauh dari ranjang pasien lainnya. wanita itu membuka matanya, ketika melihat Fatahillah dirinya ingin bangun namun segera dokter Abizzar menahannya.
"jangan bangun dulu. obat yang kami berikan harus benar-benar mengalir bersama aliran darahmu"
Naomi menatap Fatahillah, wanita itu ingin meriah tangan Fatahillah namun tidak sanggup sebab tubuhnya begitu lemah.
"kamu baik-baik saja...?" Fatahillah melihat wajah pucat wanita itu.
"terimakasih.... terimakasih telah menyelamatkan saya" meskipun pelan namun Fatahillah dapat mendengar suara itu.
"memang tugasku melindungi semua rakyatku. sekarang istirahatlah" Naomi mengangguk dan Fatahillah kembali menjauh darinya.
"Sam, kita bicara di luar" setelah mengatakan itu, Fatahillah keluar dari tenda juga teman-temannya.
"toiletnya dimana...?" Aji Wiguna bertanya kepada Samuel.
"wah kalau yang itu kamu tanya saja kepada Fatih. dia yang lebih tau"
"baiklah" Aji Wiguna kembali masuk ke tenda tadi.
di bawah pohon yang tidak jauh dari tenda, mereka berkumpul di tempat itu. sinar matahari yang terik mulai membuat panas di sekitarnya. untungnya karena berada di bawah pohon jadi panas itu tidak menyengat kulit mereka.
"apa kamu masih ingin di sini...?" pertanyaan pertama yang Fatahillah keluarkan setelah beberapa menit semuanya diam.
"kamu ingin aku menemanimu berpetualang lagi...?" Samuel malah ikut memberikan pertanyaan.
"tidak" Fatahillah menggeleng "aku ingin kamu mengambil alih pekerjaanku selama aku pergi. dan juga awasi pak Henry dan Hafsah"
"kalau sudah masuk di penjara bawah tanah, mereka tidak akan pernah bisa lolos. rencananya hari ini aku akan kembali ke kota S, Jeni pun akan ikut bersamaku pulang"
"Jeni...?" kening Fatahillah mengkerut.
"kenapa ekspresi wajahmu seperti itu. kamu lupa dengan adikku...?"
"oooh...." hampir lupa kalau ternyata Samuel memiliki adik perempuan. tidak, bukan hampir tapi memang sangat lupa. "bukan begitu, ekspresi wajahku ini menunjukkan pertanyaan kalau Jeni ternyata di sini juga" Fatahillah mengambil cara lain untuk tidak dicurigai.
"sejak kamu ke kota X, dia pun juga datang ke sini karena ulang tahun temannya. jadi apa yang ingin kamu bicarakan...?"
"aku ingin kamu tetap menjaga rahasia kemana aku pergi" Fatahillah menatap lekat wajah Samuel.
"kenapa melihatku segitunya, aku merinding tau" Samuel memalingkan wajah.
"aku serius Sam. aku benar-benar percaya padamu. setelah penghianatan yang dilakukan pak Henry dan Hafsah, aku...."
"kamu mulai menaruh curiga padaku...?" kembali Samuel memutar kepala untuk melihat Fatahillah.
"curiga adalah sesuatu hal yang tidak pernah lepas dari diri manusia, begitu juga prasangka" kali ini Hasan yang bersuara.
"aku setuju itu" timpal Yusrif
Samuel menghela nafas, ia kembali menatap lurus ke depan tanpa suara yang dikeluarkan.
"Sam"
"aku mengerti Ga, jika aku menjadi kamu, aku pun akan mempunyai perasaan seperti itu. kamu bisa memegang ucapanku ini, jika aku menghianatimu seperti yang dilakukan pak Henry dan Hafsah, maka kamu boleh mencabut nyawaku dengan kedua tanganmu"
"apakah ini kisah cerita pelangi yang saling mencintai...?" Yusrif membuat momen haru itu hancur.
plaaaak
"aduh... sakit Gar"
"apa perlu aku membuang kamu ke laut biar ikan paus memakan mu. kehilangan teman somplak seperti mu sama sekali tidak membuatku rugi" Tegar begitu gemas dengan tingkah pemuda yang satu itu.
"tega banget" Yusrif mencebik.
"kamu salah mukul Gar, harusnya lebih keras lagi dan memukul di tempat yang ada perbannya ini" Hasan menunjuk lengan Yusrif yang terluka dan bahkan memukulnya pelan.
"sakit mas...ini mah namanya kdrt. aduh aku mau pingsan" dengan sengaja kepalanya ia sandarkan di bahu Hasan.
"idih...sok dramatis"
Fatahillah tersenyum tipis sementara Samuel menggaruk kepala. tingkah Yusrif membuatnya melongo.
"hei...kalian sudah datang rupanya"
suara seorang wanita membuat mereka semua menatap ke arah depan. wanita yang memakai gamis berwana peach dan juga jilbab yang senada dengan warna bajunya. wanita itu tersenyum menghampiri mereka.
"oh my God, ada bidadari" Yusrif mulai oleng melihat wanita cantik.
"ck, playboy cap badak kamu ini" Hasan menutup kedua mata pemuda itu.
wanita itu berhenti di depan mereka. terlihat keringat di bagian keningnya, mungkin karena matahari yang begitu panas apalagi dirinya baru saja berjalan di bawah sinar itu sehingga keringat keluar dari pori-pori kulitnya yang putih.
"Samuel, dimana Diandra...?"
"loh bukannya dia tadi pergi mencari kamu. apa kalian belum bertemu...?"
"belum, aku baru saja datang mengambil obat dari rumah sakit. ternyata pak Gara ada di sini juga ya" wanita itu tersenyum ramah.
"terimakasih telah bekerja dengan begitu maksimal" Fatahillah sebenarnya bingung siapa wanita yang mendatangi mereka itu.
"sudah menjadi tugas kami pak. hanya saja kini kita harus mencari obat untuk menyembuhkan mereka"
"hal itu akan menjadi urusanku nanti. semoga sebelum aku kembali membawa obatnya, kamu dan dokter lainnya bisa menangani mereka"
"dokter Najihan ini tidak perlu diragukan lagi kemampuannya Gara. dia bisa diandalkan" timpal Samuel.
(oh jadi ini yang namanya dokter Najihan) batin Fatahillah.
"jangan terlalu memuji seperti itu Sam. dokter Abizzar dan Diandra juga tidak kalah hebatnya. kami akan saling bekerjasama" dokter Najihan tidak ingin terlalu dipuji.
"kalau begitu saya permisi dulu ya"
"kita belum berkenalan loh dokter, main pergi aja" ucapan Yusrif membuat Tegar memutar bola mata.
dokter Najihan hanya tersenyum dan membalikkan badan untuk segera pergi dari tempat itu. namun melihat seseorang yang begitu ia kenal berjalan dengan tubuh tegapnya melangkah ke arah mereka, wanita itu diam seperti patung. kakinya bahkan sulit untuk melangkah.
Aji Wiguna yang baru saja datang dari toilet, menghampiri mereka. laki-laki itu tidak sendirian sebab ia sedang berjalan beriringan bersama Fatih. dirinya fokus melihat wajah Fatih yang sedang berbicara dengannya.
"eh dokter Najihan ternyata di sini. tadi dokter Diandra mencari anda di tenda" Fatih tiba-tiba menghentikan langkah.
Aji Wiguna ikut berhenti dan melihat ke depan. raut terkejut dari wajahnya tidak dapat ia sembunyikan, semua orang melihat itu.
"kenapa mereka malah pandang-pandangan" bisik Yusrif di telinga Tegar.
"mana ku tempe" Tegar mengangkat kedua bahunya.
Najihan menatap sendu ke arah Aji Wiguna. laki-laki itu begitu ia rindukan selama ini. namun tidak dengan Aji Wiguna, pemuda itu mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya kian merah padam. ada rasa marah dalam dada yang kini menyelimuti dirinya.
"mas Aji" panggilan itu membuat Aji Wiguna memalingkan wajah. "mas"
"mas Aji yang kamu kenal sudah meninggal lima tahun lalu, aku bukan orang yang sama" Aji Wiguna berkata dingin.
"mas, aku...."
"kita kembali ke kota S, apa kalian tidak ingin berangkat sekarang...?" Aji Wiguna tidak memperdulikan Najihan yang sudah berkaca-kaca ingin sekali memeluk dirinya.
semua orang saling pandang, suasana saat itu begitu membuat mereka canggung. Fatahillah akhirnya beranjak dari duduknya dan mendekati Aji Wiguna.
"aku tidak tau apa permasalahan kalian. tapi mungkin sepertinya kalian perlu bicara berdua saja" Fatahillah menepuk pelan bahu Aji Wiguna. "kami menunggu kamu di mobil"
Fatahillah melangkah menjauh, semua orang menyusulnya dan kini tersisa Aji Wiguna juga Najihan di tempat itu.
"mas Aji"
"berhenti memanggilku seperti itu" Aji Wiguna nampak dingin dan menatap Najihan dengan tajam.
"aku tau mas Aji pasti begitu membenci aku. aku....aku minta maaf mas, aku minta maaf tidak percaya padamu waktu itu. aku minta maaf telah membuat mas Aji kritis. aku menyesal mas, sungguh aku menyesal" air mata Najihan tidak dapat ia tahan lagi.
"*sayang...bukan aku yang melakukannya, percayalah padaku" Aji Wiguna sudah babak belur, bahkan luka tusuk di perutnya membuat dirinya kesulitan untuk menahan tubuhnya agar tidak tumbang. darah mengucur ke lantai yang putih itu.
"kamu harus mati ditangan ku sebagaimana kamu membunuh mas David" Najihan mengarahkan pistol ke arah Aji Wiguna.
"kamu benar-benar ingin aku mati...?"
"kamu memang pantas mati mas, kamu pantas mati"
"kalau begitu tembaklah aku" Aji Wiguna mendekat dan mengarahkan pistol itu di dada bagian kirinya. "tembak aku sekarang juga jika itu yang membuat kamu senang. tapi satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu. dan yang harus selalu kamu ingat, aku mencintaimu Najihan"
Dor*
sekilas bayangan masa lalu masuk diingatan Aji Wiguna. hari itu adalah hari dimana ajalnya akan menjemput namun Tuhan masih menyelamatkan nyawanya.
"aku tidak perlu maafmu, dan jangan pernah muncul lagi di depan ku"
rasa sakit kekecewaan yang dulu ia rasakan kini kembali membuat hatinya terluka. luka yang sudah kering kembali basah karena pertemuan yang tidak disengaja. Aji Wiguna meninggalkan Najihan menyusul Fatahillah yang sudah menunggunya di mobil. Najihan menangis menahan suara. begitu menyesal telah membuat laki-laki yang mencintai dirinya dengan tulus, menderita dan hampir meregang nyawa.