
karena lelah menangis, ibu Khadijah akhirnya tertidur dipelukan anaknya. dengan lembut Fatahillah menghapus sisa air mata ibunya dan mencium keningnya.
"maafkan Fatah sudah membuat ibu mengeluarkan air mata, Fatah hanya ingin tau kebenarannya seperti apa" gumamnya dan memperbaiki hijab ibu Khadijah yang terlihat miring
"mas" Zulaikha datang menghampiri mereka "kenapa dengan bibi, apakah bibi sakit...?" tanyanya saat melihat ibu Khadijah sedang tertidur
"hanya mengantuk saja. ada apa...?"
"dipanggil ibu ke ruang tengah"
"mas akan menyusul, kamu pergilah lebih dulu"
"baiklah"
Zulaikha kembali pergi sementara Fatahillah yang hendak akan menggendong ibunya, tiba-tiba ibu Khadijah membuka mata dengan pelan.
"ibu sudah bangun, tidurlah lagi bu biar Fatah pindahkan ibu ke kamar"
ibu Khadijah menarik diri dan duduk kembali, ia memperbaiki hijabnya.
"tidak usah, ibu bisa jalan sendiri. ibu kan berat tidak seperti menantu ibu" ibu Khadijah tersenyum hangat
"Fatah masih kuat kalau hanya menggendong ibu" Fatahillah mendekat dan memegang tangan ibunya
"kita di suruh bibi ke ruang tengah, mungkin pembicaraan tentang amanah paman Imam akan dilakukan sekarang"
"ya sudah kalau begitu kita ke sana sekarang. keputusan memang harus diambil agar tidak jadi masalah dikemudian hari" ibu Khadijah bangkit dan melangkah namun kembali ia berbalik dan menatap Fatahillah yang masih tetap di tempatnya "kita selesaikan urusan nak Yusuf terlebih dahulu setelah itu....ibu akan menceritakan semuanya padamu. ibu harap...kamu tidak mempunyai rasa benci terhadap ibu setelah mengetahui semuanya" lanjutnya lagi
Fatahillah menggeleng kepala dan bangkit kemudian mengikis jarak dengan ibunya. ia langsung memeluk wanita yang berhati lembut itu.
"tidak ada alasan bagi Fatah untuk membenci ibu. Fatah tidak akan menyakiti surganya Fatah di dunia ini. bagaimana nanti Fatah akan menjalani hidup jika Allah murka kepadaku karena telah menyakiti hati seorang ibu" Fatahillah melerai pelukan "apapun kenyataannya nanti, ibu tetaplah ibu Fatah, surganya Fatahillah Malik, malaikat tak bersayap yang mencurahkan kasih sayangnya untukku" Fatahillah bersimpuh dan mencium kaki ibunya
"bangunlah nak, jangan seperti ini" ibu Khadijah memegang pundak Fatahillah dan membantunya untuk berdiri
air mata kembali tumpah, keduanya sama-sama menangis dan kemudian berpelukan. Fatahillah menyesal telah meninggikan suaranya tadi di depan ibunya.
"maafkan Fatah bu, maafkan Fatah"
ibu Khadijah melerai pelukan kemudian tersenyum hangat dan membelai wajah anaknya.
"semoga kebahagiaan selalu menyertai dirimu dan juga menantu ibu" ucapnya dan mencium keningnya putranya "ayo, semua orang telah menunggu" lanjutnya
Fatahillah mengangguk, ia menghapus air matanya kemudian menggenggam tangan ibunya dan keduanya melangkah masuk ke dalam rumah
semua orang telah berkumpul di tempat itu, untuk membicarakan hal yang menurut mereka begitu penting. Yusuf duduk berjejer bersama para laki-laki. Anisa duduk bersama ibu Fatimah dan Zulaikha. gadis itu sesekali terus melirik ke arah seseorang yang kini sedang berbincang dengan orang di sampingnya.
"kita mulai sekarang saja" ucap adik laki-laki pak Imam bernama pak Ilham
semua orang mengangguk menyetujui. Yusuf semakin deg-degan dan terus menarik nafas.
"sebelum Imam meninggal, beliau rupanya telah meninggalkan amanah kepada dokter Yusuf. amanah itu adalah dokter Yusuf harus menikahi Zulaikha, putri tunggal almarhum Imam" ucap pak Ilham
tidak ada yang terkejut kecuali hanya satu orang yaitu Anisa. Anisa refleks melihat ke arah Yusuf, dirinya memang adalah orang lain sehingga hal itu belum diberitahukan kepadanya. sedang Zulaikha menunduk dan meremas jemarinya. ibu Fatimah telah memberitahu anak gadisnya itu sehingga Zulaikha tidak kaget lagi mendengar penuturan pamannya.
"namun sebelum mengambil keputusan maka semuanya harus ditanyakan terlebih dahulu kepada pihak yang akan dinikahkan yaitu dokter Yusuf dan Zulaikha. saya sebagai paman dari Zulaikha ingin bertanya kepada dokter Yusuf, apakah dokter Yusuf menerima amanah itu dan bersungguh-sungguh akan menikahi keponakan saya...?"
Yusuf terdiam sejenak, ia melihat ke arah seseorang yang kini sedang menenangkan gadis yang ada di sampingnya. dokter muda itu menutup mata dan menarik nafas.
"saya....saya bersedia paman" jawab Yusuf setelah sekian menit tidak bersuara. helaan nafas panjang keluar dari mulutnya, matanya beralih kembali melihat seseorang di depannya yang berjarak beberapa meter
"lalu kamu Zulaikha, apakah kamu bersedia menikah dengan dokter Yusuf. amanah ini akan dibatalkan jika salah satu dari kalian tidak bersedia untuk menikah" pak Ilham beralih menatap Zulaikha
"jawab saja nak, ingat jangan memberikan jawaban iya karena terpaksa" ibu Fatimah mengelus punggung anaknya
Zulaikha mengigit bibir, ia semakin menggenggam tangan Anisa dan menutup mata.
"bismillahirrahmanirrahim. maafkan saya, saya.... tidak bersedia. pernikahan dilakukan karena ada rasa saling suka antara dua orang yang akan menikah dan saya....saya menyukai orang lain" Zulaikha menjawab sambil menutup mata
semua orang saling pandang, sementara Yusuf setelah mendengar jawaban Zulaikha, ia bernafas lega dan bersandar di dinding. Fauzan mengelus lengan temannya itu dan berbisik.
"jangan bersedih... bukan jodoh, lagi pula bukannya wanita yang kamu cintai ada di depan mata" bisik Fauzan sementara Yusuf mengangguk kecil
"lalu siapa laki-laki yang kamu sukai itu. apa ada di sini...?" tanya pak Ilman
Zulaikha mengangguk pelan dan semua orang beralih menatap ke arah Fauzan dan Hasan karena hanya mereka berdua laki-laki yang tersisa yang bukan merupakan keluarga dari mereka.
"sebutkan namanya" ucap pak Ilham
"maaf paman, saya..."
"sebutkan namanya Zulaikha, agar kita semua tau dan bertanya kepadanya apakah dia juga menyukaimu atau tidak agar nanti perasaan mu tidak bertepuk sebelah tangan"
jantung Zulaikha semakin berdetak kencang, sepertinya ia salah menjawab. harusnya dirinya tidak jujur mengenai perasaannya dan kini ia merukuti kebodohannya sendiri.
"tidak apa-apa, katakanlah saja" Anisa berucap pelan
"dia...dia mas Fauzan" ucap Zulaikha
uhuk...uhuk
Fauzan yang sedang meneguk air minum langsung terbatuk-batuk dan menyemburkan minumannya.
semua mata kini beralih ke arah laki-laki yang masih berusaha mengendalikan dirinya akibat keterkejutannya. wajahnya memerah menahan sakit di dada karena air yang masuk ke dalam membuat dadanya terasa sakit
"masya Allah jadi selama ini Zulaikha menyukai dirimu Zan" ucap Hasan menggoda Fauzan
"kamu benar-benar menyukai nak Fauzan...?" ibu Fatimah bertanya
"i-iya bu" Zulaikha mengangguk dengan tangan yang gemetar
Fauzan meneguk ludah dan semakin deg-degan tatkala kini dirinya menjadi tersangka utama dari pembicaraan itu setelah Zulaikha mengatakan laki-laki yang ia suka.
"nak Fauzan, kamu dengar sendiri kan kalau keponakan bapak menyukai dirimu. bagaimana dengan nak Fauzan sendiri...?" pak Ilhm beralih bertanya kepada Fauzan
Fauzan mencoba mengatur nafas dan memperbaiki posisi duduknya.
"maafkan saya jika saya lancang mengatakan ini. saya memang menyukai Zulaikha sejak pertama kali melihatnya. namun....usia jarak yang begitu jauh, membuat saya tidak ingin terlalu berharap banyak apalagi setelah paman Imam memberikan amanah kepada Yusuf untuk menikahi Zulaikha" Fauzan mengeluarkan isi hatinya
Zulaikha mengangkat kepala dan menatap Fauzan yang juga kini sedang menatapnya. gadis itu begitu bahagia ternyata perasaannya dibalas oleh laki-laki yang selama ini ia kagumi.
"Fatah" Yusuf memolototi sahabatnya itu sementara Fatahillah hanya tersenyum
"kalau menyukai wanita lain lalu kenapa tadi nak Yusuf setuju untuk menikah dengan Zulaikha...?" adik perempuan pak Imam bertanya
"emm itu...." Yusuf kikuk dan tidak bisa menjawab
"Yusuf telah berjanji untuk melindungi Zulaikha makanya itu mungkin ia tidak enak hati untuk menolak. bukan begitu nak Yusuf. tapi meskipun begitu harusnya kamu tidak memaksakan diri" ibu Fatimah menengahi agar Yusuf tidak dianggap mempermainkan pernikahan
"maaf bi, saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati Zulaikha" Yusuf menunduk
"ya sudah tidak usah permasalahkan itu yang penting sekarang amanah itu tidak akan dilanjutkan karena ternyata baik dokter Yusuf maupun Zulaikha, mereka menyukai orang lain. sekarang ini mari kita bahas tentang Fauzan dan Zulaikha" pak Ilham kini beralih menatap serius ke arah Fauzan "jika nak Fauzan benar-benar serius menyukai Zulaikha, bagaimana kalau kita bahas masalah pernikahan kalian. untuk menghindari fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan karena kalian berdua saling mempunyai perasaan, bagaimana setelah Zulaikha ujian dua bulan lagi, kalian langsung menikah" lanjut pak Ilham
"saya siap pak karena memang saya ingin menikahi Zulaikha" Fauzan menjawab yakin
Zulaikha menunduk dan hatinya berdebar-debar tatkala Fauzan langsung menyetujui usulan dari pamannya.
"bagaimana denganmu Zulaikha...?" tanya pak Ilman lagi
"saya... bagaimana baiknya saja paman" jawabnya dengan malu-malu
kesimpulan telah diambil bahwa Zulaikha dan Fauzan yang akan menikah setelah nanti Zulaikha menghadapi ujian kelulusan. semua keluarga telah setuju dengan keputusan yang telah diambil.
"bagaimana kalau waktu dekat kita merayakan pernikahan yang lain paman" ucap Fatahillah
"memangnya siapa yang akan menikah...?" tanya ibu Khadijah
"Yusuf dan wanita yang ia cintai tentunya, Anisa" jawab Fatahillah
Yusuf langsung menyikut lengan Fatahillah dan menatapnya tajam sementara Anisa melihat ke arah Yusuf"
"menunggu kamu untuk mengungkap, kelamaan kawan... bisa-bisa Anisa diambil orang, memangnya kamu mau...?" bisik Fatahillah
Fatahillah sengaja melakukan hal itu karena ia tau bagaimana Yusuf, sahabatnya itu pasti hanya akan memendam rasa dan tidak akan berani untuk mengungkapkan perasaannya.
"jadi wanita yang nak Yusuf sukai adalah Anisa...? masya Allah sekali, sama-sama berprofesi sebagai dokter, keduanya memang sangat cocok" ibu Khadijah memuji keduanya
Yusuf begitu malu karena kini apa yang ia pendam dalam hati telah diketahui oleh banyak orang. ia melihat ke arah Anisa yang sedang menunduk dan digoda oleh Zulaikha. wanita itu, hanya tersenyum dan sesekali melirik ke arah Yusuf. keduanya saling pandang hingga Anisa mengalihkan matanya ke arah lain.
perbincangan selesai, antara Yusuf dan Anisa akan dibicarakan oleh keduanya untuk memastikan. saat ini keduanya sedang berada di halaman belakang rumah, sengaja Hasan dan Fatahillah mempertemukan keduanya.
"emmm... Nisa"
"iya"
keduanya duduk seperti seseorang yang baru saja saling mengenal bahkan asing.
"aku...aku..."
"apa benar kamu menyukaiku Yus...?" Anisa akhirnya bertanya
"maaf, tapi perasaan tidak bisa memilih dengan siapa dia akan berlabuh"
"sejak kapan...?"
"sejak dulu, sejak kita bertemu di tempat kerja yang sama"
"sudah selama itu...? lalu kenapa selama ini kamu tidak bicara...?" Anisa memberanikan diri menatap Yusuf
"bukankah yang ada di hati kamu hanyalah Fatahillah, bagaimana aku bisa melangkah maju kalau kamu mengejar laki-laki lain"
Anisa menghela nafas dan menunduk, ia kemudian mengangkat kepala dan menatap kembali ke arah Yusuf.
"kamu serius mencintaiku Yus...?"
"memangnya kenapa, apakah salah kalau aku mempunyai perasaan padamu...?" Yusuf membalas tatapan Anisa
"kalau begitu mari kita menikah"
deg
deg
jantung Yusuf berdegup kencang bahkan dirinya melongo seperti seseorang yang linglung. matanya berkedip kesekian kali untuk mencerna apa yang ia dengar.
"kamu bilang apa...?"
"mari kita menikah. maaf jika selama ini aku tidak melihatmu tapi sekarang aku sadar cinta memang tidak tidak bisa dipaksakan dan aku sadar itu. ajarkan aku untuk mencintaimu, hanya melihat dirimu dan mengganti nama Fatahillah menjadi namamu. aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan....dan..."
"dan...?" Yusuf mengangkat alisnya menunggu kelanjutan
"dan...ibu yang baik untuk anak-anak kita" Anisa melanjutkan ucapannya dan memalingkan wajahnya karena malu
Yusuf tersenyum lebar, tanpa pikir panjang ia langsung menarik tangan Anisa dan memeluknya. Anisa tersentak kaget karena dirinya sudah berada dalam pelukan Yusuf.
"aku mencintaimu Anisa Rahma, aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku dan menjadi satu-satunya penghuni hatimu"
Anisa tersenyum dan membalas pelukan Yusuf. hari itu Anisa bertekad akan melupakan Fatahillah dan menjadikan Yusuf sebagai laki-laki pilihan hatinya.
menjelang tiga hari kepergian pak Imam, mereka mengadakan pengajian. berdoa bersama untuk almarhum pak Imam dan pak Agung. semua tetangga mereka undang, bahkan karena tidak muat di dalam, mereka mendirikan tenda di luar.
ibu Fatimah begitu bersyukur, banyak yang mendoakan almarhum suaminya. Anisa pun tersentuh karena kini ia tidak sendirian lagi tapi ada keluarga baru yang menerima kehadirannya.
pukul 10 malam, semua orang telah pulang ke rumah masing-masing. tinggallah mereka saja. kedua adik pak Imam beserta istri dan suami serta anak-anak mereka, langsung pulang hari itu juga. ibu Fatimah tidak mempermasalahkan itu, lagi pula selama ini kedua saudara suaminya begitu baik padanya.
pintu rumah di tutup, mereka masih berkumpul ruang tengah. mereka akan mendengarkan cerita yang akan disampaikan oleh ibu Khadijah.
"sebenarnya... Fatahillah memang bukan anak kandung ibu" kalimat itu yang pertama keluar dari bibir ibu Khadijah
semua orang tidak terkejut lagi karena mereka sudah memprediksi itu. namun Zulaikha dan ibu Fatimah yang tidak tahu menahu tentu saja kaget dan langsung bertanya.
"maksudnya bagaimana ya bi...?" tanya Zulaikha yang baru saja mengetahui fakta sesungguhnya
"apa maksud kamu mbak, apakah ada sesuatu yang tidak aku tau...?" tanya ibu Fatimah
Anisa pun lebih kaget lagi. namun ia tidak menyela dan ingin kembali mendengar penjelasan dari ibu Khadijah.
ibu Khadijah menghela nafas, dengan dada terasa nyeri ia terpaksa akan menceritakan fakta yang selama ini ia kubur hanya untuk dirinya sendiri.