
ibu Khadijah mencoba menenangkan perasaannya. tidak mudah baginya untuk mengungkit kembali masa lalu namun demi putranya, ia berusaha menekan gejolak perlawanan dalam dirinya.
"minum dulu bi" Anisa memberikan gelas berisi air minum kepada ibu Khadijah
dengan tangan gemetar ibu Khadijah mengambil gelas itu. Fatahillah refleks langsung menggeser tubuhnya dan duduk di samping ibunya. Anisa bergeser ke sebelah ibu Fatimah untuk memberikan tempat yang lebih luas kepada Fatahillah.
"pelan-pelan bu" Fatahillah memegang gelas untuk membantu ibunya minum
habis tak bersisa air minum itu, setelahnya ibu Khadijah beberapa kali mengehela nafas. ibu Fatimah mengusap punggung kakaknya itu, memberikan ketenangan.
"Fatah" panggil ibu Khadijah dengan lirih
"iya bu" Fatahillah menggenggam tangan ibunya
"sebenarnya nama kamu yang sesungguhnya adalah Muhammad Firdaus Alqadaffi, anak dari pasangan suami-istri yang bernama Amsar Sukandar dan Laila Sari"
Fatahillah menutup mata, ternyata dugaannya selama ini benar bahwa wanita ODGJ yang pernah ia temui di pasar adalah ibunya dan sekarang wanita itu sedang bersama istrinya sekarang.
"mbak...kenapa bisa Fatahillah bukan anak kandung mbak, bukankah dulu mbak sedang mengandung. isi surat yang mbak kirimkan itu adalah pemberitahuan tentang kehamilan mbak" ibu Fatimah menyela
ibu Khadijah lagi-lagi menghela nafas dan membuangnya dengan berat.
"kalian tau gunung Gantara...?" tanya ibu Khadijah
"kalau tidak salah gunung itu berada di sebelah utara gunung Sangiran. di gunung Gantara, terdapat sepuluh desa dimana perekonomiannya begitu maju karena hasil dari panen perkebunan mereka. perjalanan dari kota ke desa itu memakan waktu 10 jam perjalanan" Fauzan menjawab
"bukannya dari sepuluh desa itu, kelima desa sempat terbakar, bahkan orang yang sangat berpengaruh dari desa itu dibakar oleh perampok" timpal Hasan
"sekarang sepuluh desa itu telah menjadi sebuah kota yang besar dan megah, sama seperti kota lainnya. pejabat yang memegang kendali dari kota itu bernama Gara Sukandar," ibu Khadijah menatap lekat Fatahillah sementara Fatahillah tetap diam mendengarkan dan sama sekali tidak ingin menyela meskipun ada banyak pertanyaan dalam kepalanya
"dia memiliki beberapa tempat perjudian yang sangat diminati oleh para pejabat dan bahkan orang-orang yang gila akan judi. bukan hanya itu, dia adalah bos dari gangster yang selalu menyelundupkan narkoba dari kota ke kota bahkan ke berbagai pelosok daerah"
"dahulu sekali, di gunung Gantara sepuluh desa yang belum menjadi kota seperti sekarang, di kuasai oleh Daud Sukandar. dia adalah ayah dari empat pemuda bersaudara, Amsar Sukandar, Mahmud Sukandar, Jamil Sukandar dan Jamal Sukandar. Jamil dan Jamal adalah saudara kembar"
"Daud Sukandar adalah orang yang berkuasa di sepuluh desa itu. banyak orang-orang yang meminta bantuan kepadanya baik meminjam uang dan yang lainnya. namun meskipun begitu pak Daud tidak pernah memiliki sifat tamak dan kikir kepada seluruh masyarakat. semua orang datang meminta tolong padanya ia bantu dengan sukarela. istrinya pun yang bernama ibu Safia, begitu memiliki sifat yang rendah hati dan begitu peduli kepada semua orang"
"Daud Sukandar bersaudara dengan Samsir Sukandar. mereka berdua adalah anak dari seorang pejabat pada masa itu, penguasa gunung Gantara dan juga pemimpin dari ke sepuluh desa di gunung Gantara, dia bernama Hatta Sukandar. harta benda melimpah bahkan sawah terbentang luas, beberapa usaha mereka jalankan di kota. kematian ayah keduanya mengakibatkan dua bersaudara itu harus dipilih untuk menggantikan sang ayah. sistem pemilihan di lakukan seperti pemilihan umum. suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin"
"saat itu banyak masyarakat yang lebih memilih Daud Sukandar dikarenakan akhlaknya yang baik, tidak jauh berbeda dengan sang ayah. sementara Samsir, dirinya hanya suka berfoya-foya dan main perempuan bahkan membuat masalah dan menyusahkan banyak orang. karena sifatnya itulah, masyarakat enggan untuk memilihnya dan akhirnya Daud Sukandar yang menjadi pemimpin"
"kepemimpinan Daud Sukandar membuat sepuluh desa yang ia pimpin menjadi damai dan sejahtera, tidak pernah kekurangan makanan dan bahkan masyarakat selalu mendapat bantuan darinya"
"anak-anaknya tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan berbudi baik. Amsar Sukandar, putra sulung dari Daud Sukandar akan dinobatkan sebagai penggantinya jika nanti dirinya akan menghadap kepada sang pencipta. namun belum meninggal, Daud Sukandar telah digantikan oleh anaknya itu karena dirinya yang sering sakit-sakitan dan sudah tidak mempunyai kemampuan untuk terjun ke masyarakat. saat itulah kepemimpinan Amsar Sukandar dimulai"
"hingga kemudian Amsar Sukandar menikah dengan seorang wanita yang menjadi wanita cinta pertama baginya, dialah Laila Sari, sahabat....ibu sendiri"
"sahabat...?" Fatahillah tentu saja tercengang
"iya, kami berdua bersahabat. setelah Laila menikah, dia tinggal bersama suaminya di rumah yang mewah. ibu sering ke rumah mereka untuk bertemu dengan Laila. saat itu suaminya memiliki tiga sahabat yang bernama Hadi Jatmiko, Anshor dan Zulkarnain. ibu dan Hadi Jatmiko yang saling menyukai pada akhirnya menikah dan ikut tinggal di rumah mewah itu sebab Hadi Jatmiko suami ibu, bekerja kepada Amsar Sukandar, mendampingi dirinya mengerjakan setiap pekerjaan dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan. bisa dikatakan kalau zaman sekarang mungkin akan dipanggil sebagai asisten pribadi. suami ibu bekerja seperti itu"
"kami berdua hamil bersamaan dan juga melahirkan bersamaan. anak kami berdua adalah laki-laki. ibu memberikan nama anak ibu dengan nama Fatahillah Malik sedangkan Laila memberikan nama anaknya dengan nama Muhammad Firdaus Alqadaffi"
"waktu itu Fatimah dan kedua orang tua ibu yang berada di kota, aku berikan kabar sedang mengandung dan juga telah melahirkan. rencana ibu, ibu dan suami ibu akan mengunjungi mereka setelah anak ibu berusia tiga tahun dikarenakan pekerjaan suami ibu yang selalu sibuk setiap harinya"
"hingga suatu hari ibu dan suami ibu mendapatkan waktu untuk berkunjung ke kota. saat itu anak ibu sudah berusia tiga tahun begitu juga denganmu nak" ibu Khadijah membelai lembut wajah Fatahillah
"sayangnya... kejadian naas itu terjadi pada malam itu. Samsir Sukandar bersama dengan anaknya, Gandha Sukandar melakukan pemberontakan. mereka membakar lima desa dan juga melakukan penganiayaan terhadap masyarakat yang tidak ingin bergabung bersamanya. semua orang panik dan berusaha menyelamatkan diri sayangnya semua desa telah dikepung oleh orang-orang dari Samsir Sukandar dan Gandha Sukandar"
"malam itu...malam itu suami ibu dan anak ibu menjadi korban dari pemberontakan itu. mereka.... mereka" ibu Khadijah tidak dapat melanjutkan ceritanya, rasanya begitu sesak dan sakit luar biasa
"tidak usah cerita kalau ibu tidak sanggup" Fatahillah mengelus punggung ibunya
"malam itu suami ibu dan Amsar melakukan perlawanan dengan mengumpulkan semua orang untuk membantu mereka. aku dan Laila serta anak-anak kami, kami bersembunyi di ruang rahasia. sayangnya ternyata orang-orang bejad itu malah menemukan kami. anak ibu di rampas dari pelukan ibu sementara Laila... Laila malah melarikan diri dan tidak ingin membantu ibu menyelamatkan anak ibu. saat itu, tidak boleh ada keturunan dari Daud Sukandar baik anak maupun cucu laki-laki yang boleh hidup. mereka akan membunuh semua keturunan Daud Sukandar. semua saudaranya pun dihabisi oleh mereka. padahal.... padahal anak ibu bukanlah keturunan dari keluarga itu namun mereka merampas anak ibu dan....dan membakarnya hidup-hidup bersama dengan suami ibu dan semua anak dan cucu Daud Sukandar serta saudara-saudaranya yang lain"
"ibu pikir semua keturunan Daud Sukandar telah meninggal namun ternyata, pemilik cincin ini masih hidup. Amsar masih hidup dan itu berarti dulu mereka tidak membunuhnya" ibu Khadijah memegang cincin yang dipakai oleh Fatahillah
"lalu bagaimana Fatah bisa menjadi anak ibu...?" tanya Fatahillah
"ibu merampas kamu dari Laila. kebencian yang karena dirinya hanya membiarkan ibu seorang diri melawan sendiri para pemberontak itu, membuat ibu ingin Laila merasakan kehilangan anak seperti yang ibu rasakan. ibu membawa kamu pergi dan mengganti nama mu dengan nama anak ibu, Fatahillah Malik"
"ya Allah mbak...kenapa tidak pernah cerita dari awal" ibu Fatimah memeluk ibu Khadijah dari samping
"saya hanya tidak ingin mengingat kembali kejadian itu Imah, namun ternyata hari ini terpaksa harus saya ungkapkan"
Fatahillah langsung memeluk erat ibunya, betapa penderitaan batin yang dialami ibunya begitu membuat mental ibunya rapuh. siapa yang tidak akan merasakan kesedihan yang begitu sakit kehilangan anak dan suami yang dibunuh dengan begitu kejam.
"jadi Gara itu adalah anak dari Gandha Sukandar dan cucu dari Samsir Sukandar...?" tanya Yusuf
ibu Khadijah melepas pelukan dan mencoba menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara pelan.
"iya. mereka lah kini yang menguasai wilayah gunung Gantara. menjadikan kota itu sebagai kota yang berada dibawah kendali mereka. semua orang akan dihabisi jika tidak mengikuti peraturan mereka" jawab ibu Khadijah
perbincangan mereka terhenti karena ponsel Fatahillah bergetar. Akmal kembali mengubunginya dan mungkin saja itu adalah istrinya. segera ia mengangkat panggilan video call itu.
"assalamu'alaikum mas" sapa Zelina
"wa alaikumsalam. kamu dimana sayang...?"
ibu Khadijah mengambil ponsel Fatahillah dan nampak lah wajahnya di kamera.
"nak"
"ibu... assalamualaikum bu" Zelina tersenyum senang melihat wajah ibu mertuanya
"bagaimana kabarmu nak...?"
"baik bu, ibu bagaimana. Zelina kangen banget sama ibu" nampak mata Zelina mulai berair
"ibu juga rindu dengan anak perempuan ibu ini. sehat-sehat kamu ya"
"iya bu, ibu juga harus selalu sehat"
"Khadijah... tolong kembalikan anakku...aku mohon" teriakan ibu Laila kembali terdengar
"nak, tolong berikan ponselmu kepada Laila"
"tapi bu"
"tenang saja, dia akan diam setelah melihat wajah ibu"
sebenarnya Zelina ingin agar Fatahillah saja yang berbicara dengan ibu Laila dengan begitu wanita itu akan diam namun karena ibu mertuanya meminta maka ia tidak mungkin untuk menolak.
Zelina mendekati ibu Laila yang sedang di pegangi oleh Ali dan Akmal.
"bu, jika ibu tenang maka ibu akan bicara dengan ibu Khadijah namun jika ibu tetap memberontak maka saya akan memberitahu ibu Khadijah untuk membawa Firdaus sejauh mungkin" terpaksa Zelina mengeluarkan kata ancaman
ibu Laila mengangguk cepat dan mengiyakan permintaan Zelina. Zelina memberikan senyuman hangat dan mengajak ibu Laila untuk duduk di sebuah tempat duduk kayu yang ada di dekat mereka. Zelina mengarahkan ponselnya ke wajah ibu Laila.
"Laila" panggil ibu Khadijah setelah melihat wajah wanita itu
"dijah...mana anakku dijah. kenapa tega sekali kamu membawanya pergi" suara ibu Laila terhenti
"bagaimana kabarmu Laila...?"
"dijah...aku ingin bertemu anakku. kamu salah paham, bukannya aku tidak ingin membantu kamu. bahkan waktu itu aku meninggalkan kamu untuk meminta bantuan kepada orang-orang namun...namun Firdaus ingin dirampas oleh mereka maka dari itu aku terpaksa bersembunyi dan tidak kembali lagi ke tempatmu. maafkan aku jika aku meninggalkan dirimu waktu itu, tapi keselamatan Firdaus tentu harus aku utamakan. maafkan aku, aku mohon kembalikan anakku dijah"
bagaimanapun juga mereka pernah menjalin ikatan persahabatan sehingga ibu Khadijah yang melihat ibu Laila menangis pilu membuat dirinya kini merasa bersalah.
"Laila... Firdaus baik-baik saja, lihatlah...dia tumbuh menjadi pemuda yang begitu tampan dan berhati lembut seperti dirimu" ibu Khadijah menarik Fatahillah untuk memperlihatkan wajahnya
"assalamu'alaikum ibu" ucap Fatahillah
"hiks... hiks...anakku...anakku Firdaus" ibu Laila menangis sesenggukan
ibu Khadijah memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat ibu Laila. sementara Fatahillah pun matanya sudah nampak berkaca-kaca. semua orang di tempat itu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Fatahillah dan ibunya.
"ibu merindukanmu nak, setiap hari ibu mencari kamu. kamu tumbuh menjadi laki-laki yang begitu tampan seperti ayahmu"
Fatahillah tidak sanggup untuk bicara, air matanya mulai menggenangi kedua pipinya.
"bisakah ibu bertemu denganmu...?"
Fatahillah melihat ke arah ibu Khadijah. ibunya itu tersenyum dan menganggukkan kepala. bagaimanapun juga Laila adalah ibu kandung dari Fatahillah dan dirinya tidak berhak untuk menghalangi keduanya untuk bertemu.
"ibu ikut istri Firdaus dulu ya di pesantren. Firdaus akan menyusul ibu setelah itu" setelah menenangkannya perasaannya, barulah Fatahillah membuka suara
"dia istrimu...?" ibu Laila mengalihkan pandangan ke arah Zelina
"iya... wanita cantik itu adalah istriku... menantu ibu"
ibu Laila mengangguk dan tersenyum kemudian menghapus air matanya.
"kamu benar-benar akan datang kan...?" seakan ada keraguan di mata ibu Laila
"iya... Firdaus akan datang bersama ibu Firdaus di sini" Fatahillah merangkul ibu Khadijah agar ibunya itu terlihat oleh kamera
"dijah" panggil ibu Laila
"iya" dengan lembut ibu Khadijah menjawab
"terimakasih telah merawat anakku dengan baik. aku tidak akan merebut dia darimu... aku hanya ingin bertemu dengannya dan menjadi bagian dari hidupnya. mohon izinkan aku untuk bersama anakku, tidak akan aku gantikan posisimu di hatinya, aku hanya ingin hidup berdampingan bersama anakku, itu saja"
permintaan ibu Laila membuat tangis ibu Khadijah seketika pecah begitu saja.
"m-maafkan aku Laila... maafkan aku"
"aku juga minta maaf dijah...aku juga minta maaf"
setelah berbicara dengan ibu Laila, Fatahillah mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. ia memeluk ibu Khadijah yang kini masih menangis terisak.
"jangan menangis lagi bu, semuanya sudah baik-baik saja bukan"
semua orang hanya dapat melihat tanpa membuka suara. saat ini hanya ketenangan yang dibutuhkan dan karena itulah mereka semua diam membiarkan Fatahillah menenangkannya ibunya.