Fatahillah

Fatahillah
Bab 112



"sudah pulang kamu...?" tanya Gandha Sukandar


"iya yah" Fatahillah menjawab pelan


"lalu mau kemana sekarang...?"


"Samuel mengajakku untuk lari pagi"


"hummm" Gandha manggut-manggut "pergilah, pulangnya jangan terlalu siang" Gandha Sukandar meninggalkan Fatahillah


huufffttt....


"hampir jantungan aku" Fatahillah menghembuskan nafas lega


"kenapa bos...?" Samuel datang mengagetkan dirinya


"astaga Sam, kamu seperti jelangkung saja"


"iya kali aku jelangkung. ayo bos sebelum matahari terbit"


keduanya meninggalkan rumah besar itu. pukul enam pagi mereka kembali lagi. begitu lelahnya, Fatahillah langsung membersihkan diri setelah istirahat sejenak. ingin sekali rasanya ia tidur walau hanya beberapa menit, namun di luar suara Genta terdengar sedang memanggil namanya.


"masuk saja Tan, nggak di kunci" teriak Fatahillah


pintu terbuka, Genta dan Fanan masuk ke dalam kamar.


"mas, ayah dan ibu sudah menunggu di meja makan"


"mas ngantuk Tan" Fatahillah menjawab dengan mata tertutup


"tapi ibu ingin bertemu mas Gara" Genta mendekati Fatahillah "ayo mas" ajak Genta lagi


"ya sudah, ayo kita turun"


"aku di sini saja ya" ucap Fanan kemudian duduk di sofa


"loh kenapa...?" Genta meminta penjelasan dan ikut duduk di samping kanan


"aku...aku takut saja" Fanan menjawab pelan


Fatahillah tersenyum dan beranjak dari ranjang, ia hampiri keduanya dan berjongkok di depan dua remaja itu.


"apa yang membuatmu takut...?" tanya Fatahillah


"aku...kan orang baru, nanti kalau di usir bagaimana...?" raut wajah kecemasan terlihat di wajah Fanan


"hei kamu ini aneh sekali. tadi subuh kan aku sudah menjelaskan kalau ayah dan ibuku bukan orang jahat. akan aku bilang pada mereka kalau kamu itu sahabatku, mereka tidak akan memarahimu apalagi mengusirmu. benar kan mas" Genta meminta pembenaran


"iya, tidak akan ada yang memarahimu. sekarang kita turun"


ketiganya turun ke lantai bawah, Genta membawa mereka ke meja makan sebab di sana berkumpulnya semua orang. tidak terkecuali Samuel, laki-laki itu kini telah duduk di kursi menghadap sejajar dengan seorang laki-laki baya.


"ayah ibu, mas Gara sudah datang" Genta membuat semua orang berpaling melihat ke arah mereka


wanita cantik yang masih begitu muda duduk di samping Gandha Sukandar tersenyum sumringah dan beranjak dari tempat duduknya. wanita itu mendekati Fatahillah dan langsung memeluknya. dirinya bahkan mencium kening Fatahillah dengan begitu penuh kasih sayang.


"ibu pikir kamu tidak mengingat ibu lagi, sampai lama sekali kamu pulang" ucapnya


jika itu Gara maka jelas perlakuan wanita itu akan biasa saja namun saat ini yang wanita itu peluk adalah bukan anaknya melainkan kembaran anaknya. Fatahillah sedikit canggung diperlakukan seperti itu. apalagi wanita itu masih terlihat begitu muda.


"aku banyak urusan di sana bu, jadi maaf telah membuat ibu khawatir. Samuel bilang ibu sakit, bagaimana keadaan ibu sekarang...?" Fatahillah melepaskan pelukan wanita itu dan mundur selangkah


"ibu baik-baik saja, kepulangan kedua putra ibu adalah obat yang sangat mujarab" wanita itu menarik Genta dan memeluknya juga


saat itu, dirinya baru sadar kalau kedua anaknya datang dengan seseorang. ia pun melepas pelukannya dari keduanya dan mendekati Fanan.


"dia ini siapa...?" tanyanya


"dia Fanan bu, sahabat Genta" Genta menjawab


"kenapa ibu baru melihatnya, bukannya teman kamu itu Marvel dan Rian ya"


"Fanan teman aku juga kok bu, cuman memang baru kali ini dia mau aku ajak datang ke rumah"


"begitukah, ya sudah ayo kita makan. ayo Fanan, jangan malu-malu"


mereka semua duduk di meja makan, Samsir Sukandar juga ada di sana. usia laki-laki itu sudah sangat tidak muda lagi. rambutnya telah memutih semua, matanya yang rabun harus menggunakan kaca mata untuk membantu penglihatannya.


"bagaimana pernikahan temanmu, sudah selesai...?" Samsir Sukandar bertanya kepada Fatahillah


"sudah kek" Fatahillah menjawab pendek. dirinya kini sedang duduk di samping Samuel.


"lalu kapan kamu akan menikah...? kakek sudah tidak sabar ingin mempunyai cicit. umur kakek sudah sangat tua. mumpung sekarang kakek masih sehat, cepatlah menikah"


"aku kenapa tidak kakek suruh menikah...?" Genta bertanya


"anak kecil mana tau tentang pernikahan, kamu ini" ibunya mengacak rambut anaknya itu


Samsir Sukandar terkekeh kecil mendengar pertanyaan cucunya, sementara Genta cemberut saat ibunya memanggil diri dengan panggilan anak kecil.


"mas mu dulu yang menikah, setelah itu baru kamu" ucap Samsir Sukandar


"aku...."


"ayah sudah memilihkan calon untukmu" sejak tadi diam, Gandha Sukandar kini bersuara


"mas, Gara anak kita berhak memilih sendiri calon pendamping hidupnya" istrinya bersuara


"bukankah aku sudah mengikuti keinginannya untuk memilih wanita yang dia inginkan. sekarang yang aku dengar kamu putus dengan Gea, lalu dengan siapa kamu akan menikah" Gandha Sukandar menatap Fatahillah dengan tatapan dingin


"kamu putus dengan Gea nak...?" ibunya ikut bertanya


Fatahillah diam, rupanya Gandha Sukandar pandai juga dalam berakting. sudah jelas ia tau kalau Gearis telah tewas dibunuh oleh Gara, namun saat ini laki-laki yang kini menjadi ayahnya seakan berpura-pura tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"kami tidak cocok makanya putus" Fatahillah menjawab "lagipula aku sedang tidak ingin membahas pernikahan sekarang. gunung Gantara sedang digemparkan dengan virus yang membuat orang-orang brutal menyerang orang lain. mereka menjadi monster yang mengerikan, semua kota sedang terancam sekarang. apakah pantas aku yang menjadi pemimpin, malah memikirkan tentang pernikahan sementara rakyatku menderita di luar sana" Fatahillah membalas tatapan Gandha Sukandar


"bantu dia Gandha, kalau seperti ini terus orang-orang akan mati semua" ucap Samsir Sukandar


"untuk apa membantu, bukankah dia seorang pemimpin. masalah ini adalah masalahnya sendiri. ayah akan bantu kalau kamu mau menikah dengan wanita pilihan ayah" Gandha kembali memakan makanannya "atau kamu serahkan kepemimpinan kepada ayah, maka ayah akan mengurus semuanya"


"benar itu nak, ayahmu dulu bisa mengurus hal pelik semacam ini. kamu bisa beristirahat sejenak dan memberikan kepemimpinan kepada ayahmu" Samsir Sukandar membenarkan ucapan anaknya


dalam hati Fatahillah tersenyum tipis, ternyata memang benar kalau Gandha Sukandar menginginkan kepemimpinan gunung Gantara diserahkan kepadanya. dalam keadaan genting seperti sekarang ini harusnya dirinya memberikan solusi yang dapat membantu Fatahillah menyelesaikan masalah, bukan malah dengan terang-terangan meminta jabatan yang di duduki oleh anaknya sendiri.


"apakah syarat seorang ayah untuk membantu anaknya, harus dengan seorang anak menyerahkan kekuasaannya kepada ayahnya"


"jika kamu tidak becus maka tentu saja ayah akan mengambil kembali apa yang ayah punya dulu. ingat Gara, jika masalah ini tidak kamu tangani secepatnya, maka jangan kecewa jika rakyatmu akan banyak yang berpaling darimu. terkecuali kamu ingin menikah dengan wanita pilihan ayah, maka tentu saja ayah akan membantu kamu tanpa balasan"


"mas"


"pilihan ada di tangannya sayang"


"tapi jangan keras juga seperti itu, dia anak kita loh mas. masa mas tega melihat Gara kesusahan"


"kalau dia pintar, dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. perusahaan jangan sampai terbengkalai hanya karena masalah wabah penyakit yang melanda Gara"


"aku mengerti" Fatahillah menjawab singkat


laki-laki baya itu melihat jam tangannya, ia segera menyelesaikan makanannya dan berpamitan kepada semua orang.


"bukannya meeting jam 9 mas, ini baru setengah 7" ucap istrinya


"aku ada urusan lain"


Gandha Sukandar mencium kening istrinya, Genta mencium tangan ayahnya itu. Fatahillah refleks ikut mencium tangan Gandha Sukandar karena laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya. dalam hati ia berkata, mungkin kebiasaan mereka memang seperti itu. tapi sayangnya, kebiasaan baik itu tidak diterapkan oleh Gara Sukandar dalam kehidupannya di luar sana.


"bos, jam 10 nanti kita akan meeting" ucap Samuel


"meeting...?" Fatahillah mengerutkan kening


"jadwal yang kamu batalkan kemarin saat ke kota X, harus ditangani sekarang. kamu mau kehilangan perusahaan besar yang ingin berinvestasi di perusahaan kita. aku rasa tidak kan, maka cepatlah selesaikan makananmu"


"tapi ini baru mau jam 7 Samuel"


"banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan bos. Genta, mau ikut bersama kami atau tidak...?" Samuel bertanya kepada remaja itu


"aku belum masuk sekolah mas Sam, kakiku masih sakit"


"di rumah saja ya nak, nanti ibu panggilkan dokter Najihan untuk datang memeriksa kakimu" ucap ibunya


"nggak usah bu, tidak begitu parah kok lukanya" Genta menolak


"ayo bos" ajak Samuel yang kemudian berdiri


"sebenarnya yang bos itu siapa sih, kenapa aku merasa seperti menjadi bawahan sekarang" Fatahillah mencebik ke arah Samuel


Samuel hanya tertawa kecil, ia berjalan meninggalkan meja makan. sementara itu wanita yang menjadi ibunya saat ini, hanya tersenyum dan menggeleng kepala.


"ibu siapkan bekal saja untukmu ya, kamu mau lauk apa"


"nggak usah bu, aku bisa makan di kantor" tolak Fatahillah


"loh tumben kamu menolak masakan ibu" wanita itu mengernyitkan dahi, bahkan Samsir pun menatapnya


"emm bukan begitu maksudku bu" Fatahillah salah tingkah "aku kan sedang buru-buru sekarang jadi besok saja ibu menyiapkan bekal untukku"


"tidak akan lama kok, kamu ke kamar saja siap-siap sana. ibu akan menyiapkannya sekarang"


"baiklah"


Fatahillah patuh saja, jika menolak mungkin bisa saja ibu mudanya itu akan kecewa karena menolak perhatiannya. menaiki anak tangga, Fatahillah masuk ke dalam kamar Gara. ia mencari baju yang cocok untuk dirinya pakai. postur tubuh mereka sama, maka tentu saja semua pakaian Gara pas di badannya. setelahnya ia kembali turun ke lantai bawah, semua orang tengah menunggunya di ruang tengah.


"anakku memang selalu tampan baju apapun yang dia pakai" puji wanita itu


"ibu selalu memuji mas Gara, aku diomelin terus" Genta cemberut


"siapa bilang ibu tidak memuji anak kesayangan ibu ini. bagi ibu kamu dan mas mu itu gantengnya tidak ada duanya" wanita itu mencubit gemas pipi putra bungsunya


Fanan yang melihat kedekatan mereka, dirinya merasa iri. ia hanya diam sambil menonton kehangatan keluarga itu.


"jangan lupa dimakan ya nak. sesibuk apapun kamu harus jaga pola makan. ingatlah, meski nanti banyak yang berpaling darimu tapi ibu selalu berada di pihakmu" wanita itu berdiri mendekati Fatahillah dan memegang bahunya


"kenapa malah menangis bu" Fatahillah menghapus air mata ibunya


senyuman hangat menjadi jawaban dari pertanyaan Fatahillah. hanya sekejap ia memeluk Fatahillah kemudian memberikan tas kecil berisi tempat makanan.


"Gayatri, melepas anak itu ya jangan menangis" Samsir mengingatkan


"maaf ayah, aku hanya merasa sedih saja anakku menghadapi masalah sulit sekarang tapi aku tidak bisa membantu"


"siapa bilang ibu tidak bisa membantu. dengan mendoakan aku, maka ibu sudah melakukan yang terbaik untuk putramu ini" Fatahillah tersenyum


Gayatri mengangguk kemudian mengantar Fatahillah dan Samuel sampai di pintu depan. dalam hati ia berdoa semoga permasalahan yang menimpa gunung Gantara bisa secepatnya selesai.


di dalam mobil, Fatahillah terus memandangi tas kecil yang berisi makanan untuknya itu. entah apa yang ia pikirkan, Samuel bahkan selalu melirik ke arahnya.


"apakah ada yang salah dengan tas itu, sejak tadi kamu pandangi terus"


Fatahillah tidak menjawab, ia kemudian menyimpan tas itu di kabin tengah. ponselnya bergetar, Hasan menghubunginya dan segera ia mengangkatnya.


Fatahillah


iya San


Hasan


bagaimana, kapan kamu akan ke sini


Fatahillah


sore nanti bagaimana, saat ini aku masih sibuk


Hasan


kami berada di belakang mobil mu


Fatahillah melihat di kaca spion, benar saja ada mobil yang terus mengikuti mereka. tidak ingin Samuel curiga, Fatahillah melanjutkan pembicaraannya.


Fatahillah


ya sudah, nanti aku hubungi lagi. jangan jauh-jauh


Hasan


Akmal dan Alex sedang mengikuti mobil Gandha Sukandar tadi


Fatahillah


lewat pesan saja ya, nanti aku periksa


Fatahillah mematikan panggilan. dirinya tidak ingin Samuel curiga kepadanya maka dari itu untuk berkomunikasi dengan temannya, ia terpaksa mematikan panggilan itu.


"dari siapa...?" tanya Samuel


"teman yang dari kota X"


"dia berada di sini...?"


"iya, mungkin sore nanti aku akan ke tempatnya"


"sore nanti kita harus bertemu dokter Najihan Ga, wabah penyakit ini tidak bisa kita diamkan begitu saja. apa kamu mau ayahmu menggeser posisimu"


"ayah tidak akan bisa melakukan itu"


"kamu yakin sekali. saudaranya sendiri saja dia tikam dari belakang, tidak menutup kemungkinan dia tidak akan melakukan itu kepadamu" Samuel berucap pelan, sayangnya Fatahillah masih bisa mendengar itu


"maksud kamu...?" seketika Fatahillah menatap Samuel


"hah...? maksud aku Bagaimana, memangnya aku mengatakan apa...?" Samuel gelapan


"menikam saudara sendiri bagaimana maksudnya"


"memangnya aku mengatakan itu...? perasaan aku tidak mengatakan apapun"


Samuel memutar musik berniat agar Fatahillah tidak mencercanya lagi dengan pertanyaan. sementara Fatahillah melihat sikap Samuel yang seperti menghindari pertanyaannya, ia segera mematikan musik yang diputar oleh Samuel.


"Sam, aku nggak budeg ya"


"memangnya siapa yang bilang kamu budeg"


"jelaskan padaku, apa maksud ucapanmu tadi"


"ucapan yang mana, aku nggak merasa mengatakan sesuatu"


"terserah kamulah" Fatahillah memilih untuk berhenti bertanya


di tempat lain, Alex dan Akmal masih terus mengikuti mobil yang membawa Gandha Sukandar. sejak semalam mereka telah merencanakan untuk membututi laki-laki itu. awalnya mereka akan bergerak semua, namun Hasan mengusulkan agar hanya dua orang saja yang melakukan pengintaian sementara dua orang lainnya harus tetap mengawasi Fatahillah dari jarak jauh. meskipun di gunung Gantara Fatahillah dianggap Gara sebagai penguasa wilayah itu, namun tetap saja mereka berada di sarang musuh. bisa saja Gandha Sukandar melakukan penyerangan secara diam-diam atau jangan sampai laki-laki itu meracuni Fatahillah seperti yang dilakukannya kepada Gara.


"jangan terlalu dekat mas, nanti kita ketahuan"


Alex mengikuti instruksi dari Akmal. mobil hitam di depan mereka berhenti di sebuah hotel yang begitu mewah. Gantara hotel, nama yang terpajang gagah di atas sana. Gandha Sukandar masuk ke hotel sementara Alex dan Akmal turun dan melangkah cepat menuju lobby hotel.


"lah kemana perginya" Akmal celingukan


Alex menarik Akmal berjalan ke arah kiri, di sana adalah restoran hotel. saat itu Gandha Sukandar tiba-tiba berhenti dan berbalik badan. refleks Akmal memeluk Alex namun sialnya hampir saja dirinya terjatuh. untungnya Alex menahannya namun saat itu kaki Alex menginjak kaki Akmal. dengan tertawa-tawa layaknya dua orang yang baru saja saling bertemu, Akmal mencoba mencairkan suasana dengan kesakitan di bawah Sanah


"apa kabar bro, kamu makin gemuk aja ya setelah sekian purnama tidak bertemu" gaya Akmal di buat-buat bagai anak muda yang gaul


"dan kamu tetap tengil seperti dulu" Alex menjawab santai, belum menyadari kalau Akmal biji matanya hampir keluar sebab Alex semakin menginjak kakinya


Gandha Sukandar melangkah ke arah mereka, Alex merangkul Akmal dan membawanya ke restoran yang baru saja buka itu. mereka saling melewati, rupanya Gandha Sukandar sedang menyambut seseorang. itulah mengapa tadi laki-laki itu berbalik, bukan karena merasa dirinya di ikuti.


"aduh aduh aduh....aduh du du" Akmal meringis


"kenapa malah menyanyi...?" tanya Alex tanpa dosa


"pake nanya lagi, kakiku sakit tau" cebik Akmal


"sakit...? kenapa...?"


"ya gara-gara mas lah. nggak pake hati banget sampai injak kakiku. sakit tau"


"ooh ke injak" Alex tetap santai


"ya ampun nih orang, nggak ada rasa bersalahnya sama sekali" Akmal semakin kesal


Gandha Sukandar kini menduduki meja kosong bersama seorang laki-laki muda. berjarak dua meja dari mereka, tentu saja pembicaraan keduanya tidak dapat di dengar.


"banyak debunya, pindah aja yuk. di sana sepertinya bersih" Alex beranjak dari kursinya dan mendekati satu meja yang bersampingan dengan meja yang ditempati oleh Gandha Sukandar


meskipun bibir Akmal sudah maju beberapa centi dan bahkan mungkin bisa dilipat, pemuda itu tetap mengikuti langkah kaki Alex.


"mau pesan apa mas, silahkan di pilih" wanita cantik berpakaian pelayan restoran itu, menghampiri keduanya


"air putih" jawab Alex


"mas datang jauh-jauh hanya untuk memesan air putih...?" perasaan Akmal semakin dongkol saja


"sama steak" lanjut Alex lagi


"kalau masnya...?"


"ice cream aja deh mbak, pagi-pagi makan yang manis-manis sepertinya enak"


"baiklah, tunggu sebentar ya"


wanita itu meninggalkan mereka, kemudian tidak lama ada lagi seorang wanita yang menghampiri meja Gandha Sukandar dan laki-laki itu.


"permisi pak bos, mau pesan apa...?" tanya wanita itu


"berikan kami jus saja" jawab Gandha


"baik"


wanita itu pergi dengan mencatat minuman yang dipesan oleh bosnya.


"semuanya sudah siap kan...?" Gandha Sukandar bertanya kepada laki-laki itu


"siap bos, semuanya sudah siap"


"bagus, kerja bagus Baron. lalu bagaimana dengan seseorang yang aku minta, apakah kamu sudah menemukannya. pengganti Victor harus ada secepatnya...?"


"aku masih mencarinya pak. tidak mudah mencari sosok yang seperti Victor. kebanyakan dari mereka itu penakut. harus benar-benar laki-laki yang tidak takut mati dan memuja uang"


"cari secepatnya, dia harus punya pengalaman mengurus bisnis ilegal seperti ini. satu lagi, dirinya harus mempunyai ilmu beladiri yang cukup"


"baik bos. sekarang tuan Roy sudah menunggu bos di kamar 309 lantai 10"


"kita ke sana sekarang"


baru saja minuman mereka datang, dua orang itu tanpa peduli pergi begitu saja. Alex dan Akmal pun tidak ingin ketinggalan, mereka ikut beranjak setelah dua orang itu menghilang dibalik lift.


"eh mas, makanannya" teriak seorang wanita


"makan saja mbak, nanti aku biarkan" Akmal menjawab tanpa dosa, wanita itu termenung bego mendengar jawaban Akmal


di dalam lift Alex menekan tombol lantai 10. tidak memakan waktu lama, mereka tiba dilantai 10. mereka mencari kamar yang bertuliskan nomor 309.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Akmal


kini keduanya bingung bagaimana caranya untuk bisa masuk ke dalam sana.


"kita tunggu di bawah saja, aku mempunyai rencana"


"rencana apa...?"


"nanti saja aku ceritakan, kita kembali ke lobby hotel"


keduanya kembali ke lantai bawah. mereka tidak bisa masuk ke dalam kamar 309, maka dari itu mereka memilih menunggu Gandha Sukandar di lobby hotel. laki-laki itu pasti akan turun setelah urusannya di kamar itu telah selesai.