Fatahillah

Fatahillah
Bab 142



"Yus bangun, ini sudah pagi" Tegar memukul pantat pemuda itu. Tidur seperti kebo, bahkan sampai Tegar mencubit perutnya, pemuda itu hanya mengubah posisi tidurnya.


Sinar matahari mulai nampak kekuningan menerangi bumi. Suasana pagi di daerah pesisir pantai memang sangat sejuk dibanding di tengah kota. Apalagi menjelang pagi, suara burung mulai berkicau di pepohonan.


karena Yusrif yang juga belum bangun, Tegar membiarkan pemuda itu melanjutkan tidurnya sementara dirinya mendekati Hasan yang sedang membuat tombak untuk menangkap ikan.


"semoga berhasil deh, kalau nggak kita nggak akan makan mas" ucap Tegar.


"coba saja dulu. Di tas hanya ada roti dan susu, aku tidak biasa sarapan roti saja, harusnya pakai nasi dan lauk" jawab Hasan


masing-masing memegang tombak yang telah mereka buat. Di bebatuan, keduanya berdiri menunggu ikan yang berenang di dekat mereka. Di luar dugaan, ikan-ikan itu malah melompat-lompat dan naik ke daratan. Padahal Hasan tidak melakukan apapun begitu juga dengan Tegar, akan tetapi beberapa ikan besar kini telah terkapar di pasir.


"apa yang sedang kalian lihat, ambillah ikan itu dan bakar. Tidak perlu susah payah menombak lagi"


Suara seseorang mengejutkan mereka. di daratan, kemuning berdiri dan tersenyum manis ke arah mereka. Hasan dan Tegar saling pandang, kemudian memutuskan untuk naik ke daratan.


"kamu yang melakukan ini...?" tunjuk Tegar ke pasir dimana ikan-ikan itu bergerak mencari air.


"iya" Kemuning mengangguk "ambillah, setelah makan bukankah kalian akan ke telaga gunung Gantara. Perjalanan masih jauh maka kalian butuh tenaga yang besar" lanjutnya.


Tentu saja kekuatan wanita itu menguntungkan bagi mereka. Ikan-ikan itu diambil dan di bawah ke tempat peristirahatan mereka. Yusrif ternyata telah bangun dan duduk berselonjor.


"waaah ikannya besar sekali. Bagaimana caranya kalian menangkap ikan sebesar ini...? Kita kan tidak punya tali pancing dan juga umpan" Yusrif terperangah melihat ikan-ikan itu.


"dari kekasih hatimu" Hasan menunjuk Kemuning dengan dagunya.


Kemuning tertunduk malu-malu dan meremas jemari, sementara Yusrif meringis menggaruk kepala.


"jangan macam tu lah mas, kasian Kemuning. Barangkali dia mempunyai kekasih hati di hutan ini, bisa bahaya kalau kekasih Kemuning cemburu" Yusrif berkata sambil beranjak mendekati ikan besar itu dan mengambilnya. Ia tusuk menggunakan kayu, lalu di bakar di atas bara api.


"aku tidak punya kekasih" Kemuning menjawab. Bukan berdalih tapi memang wanita itu tidak mempunyai laki-laki idaman di hutan itu. Maksudnya adalah laki-laki sesama makhluk seperti Kemuning.


"lampu hijau tuh Yus" goda Tegar.


"lampu hijau...? Dimana...?" Kemuning sibuk melihat ke sembarang arah hanya untuk mencari lampu hijau yang dimaksud oleh Tegar. padahal maksud dari ucapan Tegar bukanlah lampu seperti biasanya.


"astaga, selain cantik ternyata dia juga oon" gumam Yusrif, senyuman geli terukir di bibirnya.


perjalanan panjang kini dimulai. Kemuning menjadi penunjuk jalan bagi tiga pemuda yang berada di belakangnya. Di belakang Kemuning ada Yusrif, menyusul Tegar kemudian Hasan.


Wanita itu melayang pelan agar ketiganya tidak lelah mengikuti dirinya. Jika ia melayang cepat, bisa-bisa rombongan yang mengikutinya tertinggal dan kesasar.


"aku seperti mendengar suara air yang mengalir" ucap Yusrif. Peluh keringat membasahi bajunya.


"di depan sana memang ada sungai. Kalau kalian lelah, kalian bisa berhenti untuk beristirahat" Kemuning menunjuk ke arah depan.


"apakah masih jauh...?" tanya Hasan.


tenggorokan yang kering membuat Hasan ingin secepatnya sampai di sungai itu. Apalagi rasa lelah dan keringat yang bercucuran di punggungnya, akan semakin segar jika ia membasuh wajah di air sungai yang jernih.


"tidak lagi, hanya beberapa meter lagi" Kemuning melayang menjauh.


Ketiganya mengayunkan langkah dengan semangat agar bisa sampai di sungai itu. Padahal masih pagi, udara dingin di hutan itu juga sangat sejuk namun tidak membuat ketiganya merasa lega karena ingin mereka disentuh air yang mengalir dari mata air.


"akhirnya sampai juga" Yusrif sumringah dan lekas berlari ke arah sungai.


Batu-batu kecil di sekitarnya menjadi tempat duduk Yusrif saat itu. Tegar juga Hasan langsung membasuh wajah dan merendam kedua kaki. Begitu segar dan dingin, membuat mereka ingin melompat terjun ke dalam air.


"aku ingin mandi" ucap Yusrif.


"kamu tidak mempunyai pakaian ganti Yus" ucap Hasan.


"iya juga sih. Yaah sayang sekali, padahal akan begitu segar kalau berenang di dalam sana" Yusrif menunjuk tempat yang sepertinya dalam.


"kamu bisa berenang...?" Kemuning kini duduk di atas batu besar dan memainkan kakinya di dalam air.


"sedikit" jawab Yusrif.


"kalau begitu jangan, di sana sepertinya airnya dalam" Hasan melarang.


"kalau begitu aku hanya ingin melihat saja" Yusrif bangkit dan menginjak batu-batu kecil sebagai pijakan kedua kakinya.


Setengah jam beristirahat mereka melanjutkan perjalanan. Tempat tujuan yang jauh harus membuat mereka tidak bisa berlama-lama untuk ditempat istirahat.


_____


ibu Nani setelah sholat subuh tadi, ia langsung menyibukkan diri di dapur untuk memasak. Sementara pak Nanto, membersihkan halaman depan dan belakang villa juga di dalam villa.


"pagi bu" sapa Akmal, ia ke dapur untuk mengambil minum.


"pagi den. Loh mau kemana den... olahraga ya...?" ibu Nani memutar kepala untuk melihat Akmal yang duduk di kursi dan meminum air putih.


"iya, supaya seger sebelum bertugas. bangun tadi badan aku pegal-pegal, jadi olahraga dulu sebentar"


"sendirian...?" pertanyaan itu terlontar namun ibu Nani sibuk membalikkan ikan yang ia goreng di minyak.


"nggak bu, sama mas Alex pastinya. Pergi dulu ya bu"


"jangan lama-lama ya den, sarapan sebentar lagi siap"


"siap laksanakan" Akmal berhenti dan memberikan hormat, kelakuannya itu membuat ibu Nani geleng kepala.


Tadinya mereka hanya akan berolahraga di depan rumah, namun karena melihat berlari di pesisir pantai sepertinya akan seru, Akmal memaksa Alex untuk ikut dengannya dan alhasil mereka kini berlari kecil di sepanjang pesisir pantai.


"mas Fatah kok nggak kelihatan ya mas"


"dia kan di rumahnya pak Nanto, jadi bayangan kita"


"kenapa mas Fatah nggak menyamar saja supaya bisa ikut dengan kita"


"nggak segampang itulah, lagipula kalau menyamar pastinya butuh aksesoris segala macam. Nah benda-benda seperti itu kalau di sini mau cari dimana"


tadinya Akmal begitu semangat berlari, akan tetapi tiba-tiba ia langsung merem mendadak kedua kakinya sehingga Alex pun ikut berhenti.


"kenapa berhenti...?"


"ada nenek lampir di depan"


Alex mengalihkan mata ke depan, rupanya yang dimaksud nenek lampir oleh Akmal adalah Utami. Wanita itu ternyata sedang berenang dengan pakaian yang begitu seksi. Ketika melihat dua pemuda berdiri tidak jauh darinya, Utami tersenyum dan naik ke daratan menghampiri mereka.


"kalian sedang mengintipku...?" tanyanya dengan alis dinaikkan.


"hahaha" Akmal seketika tertawa dan bertepuk tangan, detik berikutnya tawa itu berhenti menjadi ekspresi datar dan dingin. "jikalau ingin melihat yang seksi-seksi, aku hanya menghubungi tunanganku. Bibirnya saja sudah dua kali lipat lebih seksi dari bibir kamu, apalagi yang lainnya" Akmal tersenyum kecil.


"tapi kamu tidak bisa menyentuh yang lainnya itu bukan" Utami bagai mengejek.


"ya tentu saja karena tubuhnya terbungkus rapi dan hanya dihadiahkan oleh suaminya kelak. Wanita terhormat adalah dia yang menjaga pandangan dan juga tubuhnya agar tidak menjadi konsumsi publik. Kami laki-laki lebih penasaran dengan barang yang masih tersegel rapi daripada barang yang dilelang terbuka"


Raut wajah Utami menjadi kesal, kenapa begitu sulit baginya untuk mendekati Akmal. Pemuda itu kini sama sekali tidak memperlihatkan ketertarikan padahal saat ini, tubuhnya begitu mempesona di mata kaum adam.


Untuk Alex...?


Laki-laki itu sibuk menggerakkan kedua kaki dan tangannya. Sejak Utami menghampiri mereka, Alex menjauh agar wanita itu dapat leluasa berbicara dengan Akmal. Dirinya pun saja sekali tidak memiliki gairah ketika melihat Utami. Bahkan Alex begitu risih dan tidak nyaman.


"ayo mas, aku sudah lapar" panggil Akmal.


Keduanya meninggalkan Utami yang lagi-lagi tidak berhasil menggaet salah satunya. Rencana wanita itu, jika tidak bisa mendapatkan Akmal maka Alex pun akan ia incar. pesona Alex jauh lebih memikat dibanding Akmal. Apalagi wajah tampannya begitu dewasa dan tentu saja menjadi impian bagi para wanita untuk memiliki pasangan yang good looking.


"baru pulang kalian...?" tanya Gandha Sukandar. Laki-laki itu sedang berolahraga di halaman depan villa.


"bos suka berolahraga juga...?" tanya Alex.


"tentu saja, untuk mendapatkan tubuh yang sehat bukankah harus dengan berolahraga dan juga makanan yang sehat. Oh ya dimana Utami, apakah dia tidak bersama kalian...?" Gandha Sukandar menyimpan beban yang tadi ia angkat.


"tuh" Akmal menunjuk dengan dagu, Utami berjalan ke arah mereka dengan pakaian basah.


"kalian mandilah, kita bertemu di meja makan"


"baik bos"


selesai sarapan pagi, mereka bersiap untuk pergi. Alex dan Akmal berpikir mereka akan lewat jalur laut atau mungkin menjelajah di hutan namun ternyata perkiraan mereka salah. Saat ini mereka tengah berada di dalam gudang namun anehnya gudang itu bersih dan nyaman. Tidak seperti gudang yang pada umumnya, tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai. Gudang itu bagai ruangan yang sesekali dipakai.


"kita ngapain di sini bos...?" tanya Akmal.


Gandha Sukandar hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. ia kemudian beralih ke samping lemari dan menarik tuas. Dinding yang tadinya menyatu kini menjadi terpisah dan menampakkan anak tangga untuk turun ke bawah.


lampu di lorong itu dinyalakan. Mereka turun ke bawah, lebih mengejutkan ternyata ada kereta bawah tanah di tempat itu. Tidak begitu besar namun bisa memuat 20 orang penumpang.


"woaaah... amazing" Akmal terkagum-kagum.


"ekspresi mu seperti anak kecil saja Mal" Gandha Sukandar geleng kepala.


"maklum bos, aku baru pertama kali ini melihat langsung benda seperti ini. bisa dinaiki nggak bos...?"


"tentu saja, ini adalah kendaraan kita untuk ke tempat tujuan"


Alex dan Akmal saling pandang. Kalau mereka menggunakan kendaraan itu, artinya Fatahillah tidak bisa mengikuti mereka dan tentu saja Fatahillah tidak akan bisa untuk menyusul mereka.


"aduh aduh aduh" Akmal tiba-tiba meringis dan memegang perutnya.


"kenapa Mal, kamu sakit...?" Utami memberikan perhatian.


"cari kesempatan saja nih mak lampir" Akmal kesal, dalam hati ia menggerutu sebab Utami kini memegang bahunya.


"bos, sepertinya aku harus naik ke atas, aku..." Akmal meremas bajunya dan sedikit membungkuk.


"kamu sakit perut...?" tanya Gandha Sukandar.


Duuuuut.


Broooot... Broooot


"hiiiiiii Mal, kamu jorok banget sih" Alex menutup hidung.


"aku nggak kuat bos, pengen BAB. Kalian duluan saja nanti aku menyusul"


"ya sudah, cepat naik sana. Bisa-bisa kami pingsan di sini karena gas beracun kamu" Gandha Sukandar mengambil keputusan.


"hanya memakai kendaraan ini langsung sampai di tempat kan bos...?" tanya Akmal lagi.


"iya, cepat naik sana" Gandha Sukandar mendorong Akmal untuk kembali naik ke atas.


Akhirnya yang berangkat saat itu hanya tiga orang sementara Akmal telah berada di atas. Sebenarnya dirinya sejak tadi mencari cara agar bisa kembali ke atas. Ketika itu perutnya menjadi penolong bagi mereka. Akmal benar-benar sakit perut dan hal itu ia jadikan sebagai alasan untuk naik ke atas. Dengan dirinya tidak ikut, maka ia bisa meminta Fatahillah untuk ikut bersama dirinya nanti.


"loh kok kembali lagi den...?" tanya pak Nanto ketika melihat Akmal ngacir ke kamar mandi.


"kebelet pak" Akmal dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Karena Akmal akan menyusul nanti, maka tanpa pemuda itu mereka mulai berangkat. Kereta bawah tanah itu membawa ketiganya ke tempat tujuan. Hanya memakai waktu 30 menit, kereta itu berhenti dan pintu keluar langsung terbuka.


Keluar dari kereta itu, mereka langsung menaiki anak tangga untuk naik ke atas. Di sebuah ruangan mereka berada, mengikuti langkah Gandha Sukandar palsu, Alex dan Utami mengekori laki-laki itu.


"Utami, coba periksa barang-barang yang siap di kirim ke wilayah S"


"baik bos"


Utami bergerak meninggalkan mereka, sementara keduanya menuju ke arah belakang rumah. Di belakang rumah itu, perkebunan ganja terbentang luas, banyak anak buah Gandha Sukandar yang sedang bekerja dan juga sedang berjaga.


"bagaimana menurutmu Alex...?" Gandha Sukandar mengeluarkan sebungkus rokok Mengambil satu batang dan memasukkan ke dalam mulutnya. kemudian ia menawarkan kepada Alex.


"saya tidak merokok pak" tolak Alex dengan halus.


Gandha tersenyum kecil dan menyimpan kembali rokok itu. Ia mengambil korek gas dan membakar rokoknya. Kepulan asap keluar dari mulutnya juga hidungnya.


"sungguh sangat disayangkan jika kamu tidak bisa menikmati kenikmatan dari isapan rokok"


Alex hanya diam, matanya menelisik tempat yang begitu luas itu. Bagaimana cara mencari keberadaan ayah Fatahillah jika yang terlihat hanyalah hutan semata.


"ayo ikut saya" pelan Gandha Sukandar menepuk bahu Alex.


Berjalan berkeliling, semua orang menundukkan kepala tanda hormat kepada sang bos besar.


Hal miris dilihat oleh Alex, rupanya bukan hanya para lelaki yang berada di tempat itu. Banyak wanita yang ternyata bertugas melayani kepuasan anak buah Gandha Sukandar. Apalagi barang haram selalu mereka konsumsi, menjadikan mereka teler dan bermain intim dengan wanita yang telah disiapkan.


"kamu tidak berminat kepada mereka...?" Gandha Sukandar menunjuk para wanita sedang duduk di kursi kayu dengan pakaian seksi dan sebatang rokok yang berada di tangan. "kalau kamu mau, maka bersenang-senanglah sebelum memulai tugasmu nantinya"


"tidak bos, saya tidak berminat" tolak Alex.


"kamu laki-laki langka Alex, bekerja di tempat haram namun tidak ingin mengonsumsi barang haram. baiklah kalau begitu, aku harus mengecek pekerjaku. Perkenalan dengan mereka telah selesai, setelah ini kamu akan aku percayakan untuk mengelola usahaku ini. Sekarang pergi dan lihat Utami, apakah dia sudah selesai dengan tugasnya atau belum"


"baik bos"


"Sofia" panggil Gandha Sukandar kepada salah satu wanita.


"ya bos" wanita yang bergaun hitam, beranjak dari kursinya, mematikan rokoknya dan menghampiri mereka.


"antar dia bertemu Utami" perintah Gandha Sukandar.


"baik bos"


Gandha Sukandar kembali menepuk pundak Alex dan meninggalkannya berdua saja dengan wanita itu.


"pekerja laki-laki banyak, ngapain harus manggil perempuan ini sih" Alex mengomel dalam hati.


"ayo mas" Sofia menggandeng tangan Alex.


"tidak perlu bergandengan tangan, kita sedang tidak menyebrang" Alex melepaskan tangannya.


Sofia hanya tersenyum dan berjalan lebih dulu. Melewati para wanita yang cantik-cantik dan seksi-seksi, Alex digoda oleh beberapa dari mereka. namun Sofia menghalangi dan mengatakan jika Alex adalah bagiannya. hal itu agar para wanita itu tidak berusaha untuk memperebutkan Alex.


"anak buah bos yang baru ya...? aku baru pertama kali ini melihat kamu" ucap Sofia.


Jalanan yang mereka lewati bertolak dari perkebunan itu. Di depan beberapa meter, pondok kayu terlihat. banyak pondok di tempat itu. Sebagai tempat tinggal dan juga sebagai penyimpanan barang. Jika rumah yang besar tadi, itu adalah khusus untuk kediaman bos besar.


"iya, aku pengganti Victor. Apakah kamu mengenal laki-laki itu...?"


"tidak, aku baru dua minggu berada di tempat ini"


Hening....


Alex tidak lagi menimpali. Ketika akan sampai di pondok tempat Utami berada, seorang laki-laki memanggil Sofia. Jalannya sempoyongan dan memegang botol minuman.


"layani aku" dengan kasar ia menarik tangan Sofia.


"maaf Robi, aku punya tamu yang harus dilayani" Sofia menolak dan mengapit lengan Alex. "tolong jangan menolak agar aku terhindar dari laki-laki ini" bisik Sofia, tatapan sendu Sofia membuat Alex tidak sampai hati melepaskan wanita itu.


"dia milikku, kalau mau kamu bisa memilih para wanita di sana" Alex menunjuk tempat yang tadi.


"aku maunya Sofia. jadi sebaiknya kamu saja yang mencari wanita lain. Dia sudah aku booking dari kemarin" laki-laki itu mulai memaksa.


"kalau aku tidak mau...?" Alex membawa Sofia untuk berlindung di belakangnya.


"hei, cari mati kamu ya"


Laki-laki itu menyerang Alex dengan botol minumannya. hanya satu tendangan bebas, laki-laki itu terpental dan menabrak kursi yang ada di bawah pohon. Bahkan laki-laki itu langsung pingsan hanya dalam satu kali serangan.


"tinggalkan saja dia, ayo" Sofia menarik lengan Alex.


Sofia tidak ingin mendapatkan masalah nantinya. Maka dari itu ia menarik lengan Alex dengan cepat agar meninggalkan tempat itu.


"ini tempat Utami, dia pasti sedang di dalam bersama anak buah bos yang lainnya" mereka berhenti di sebuah pondok yang terlihat besar.


"terimakasih"


Ketika Alex akan masuk ke dalam, Sofia menarik ujung jaket laki-laki itu. Alex berhenti dan menoleh, alisnya terangkat seketika.


"emmm, maaf. tapi.... bolehkah aku meminta tolong padamu" Sofia meremas jemarinya, matanya menelisik sekitar dengan perasaan was-was.


Melihat itu, Alex mengurungkan niat untuk masuk ke dalam dan berdiri kembali di hadapan Sofia.


"ada apa...?" tanya Alex.


"jika kamu kembali pulang, tolong bawa aku...aku mohon. Aku tidak betah di sini. Aku berada di sini karena dijual oleh tanganku. Sungguh, aku begitu jijik dengan tempat ini. Tolonglah aku, tolong bawa aku pergi" Sofia berkaca-kaca memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"kamu di jual...?" tentu saja Alex kaget mendengar itu.


"iya, tunanganku menjualku dan membawaku ke tempat ini. Tolong mas, aku ingin pergi dari tempat ini" air mata itu lolos membasahi pipinya. "aku akan melakukan apapun itu, asal bawa aku pergi dari sini. Jika....jika kamu meminta aku melayanimu, akan aku lakukan"


"Sofia, kamu dipanggil Amrin" seorang wanita ternyata datang menyusul mereka.


"katakan padanya kalau aku tidak akan melayani siapapun hari ini selain dia Yuni. Aku telah dibooking olehnya" Sofia berbohong, hanya untuk menyelamatkan dirinya dari laki-laki yang menginginkan tubuhnya.


"tolong" satu kata itu keluar tanpa suara. Tatapan berkaca-kaca, memohon agar Alex membantunya.


"jika ada yang menginginkan dirinya, maka beritahu kalau dia milikku sekarang. Tidak ada yang bisa menganggunya mulai hari ini dan seterusnya" Alex mengatakan itu kepada Yuni.


"tapi..."


"kamu membantah perintahku...? aku di sini lebih berkuasa setelah bos Gandha" Alex menatap tajam Yuni.


"i-iya" Yuni ketakutan dan berlari pergi.


"aku tidak perlu tubuhmu, aku hanya ingin kamu mencari informasi tentang seseorang dan pastikan tidak ada yang tau selain kamu. Jika tidak, aku akan lebih kejam dari tunanganmu itu"


Sofia langsung menyetujui dan mengangguk cepat. Kesempatan itu tidak akan ia lewatkan begitu saja.


"katakan padaku, siapa yang harus aku cari tau"


Alex mendekat dan berbisik di telinga wanita itu. Sofia manggut-manggut tanda mengerti, namun seketika ia menarik diri padahal Alex belum selesai dengan ucapannya.


"aku tau tempat rahasia itu"


"kamu yakin...?"


"sangat yakin, aku pernah ke sana untuk melayani salah satu penjaga di sana. Aku akan membawamu ke sana"


Ekhem....


suara itu membuat keduanya tersentak dan berbalik. Gandha Sukandar sudah berada di depan mata mereka.


"kamu bilang tidak tertarik namun sekarang kamu membooking Sofia. Apa sifat lugumu itu hanyalah palsu semata Alex...?" Gandha Sukandar menaikkan alisnya.


"kalau yang satu ini aku tertarik bos" Alex meraih pinggang Sofia dan merapatkan tubuh wanita itu kepadanya. Sengaja melakukan itu, untuk keselamatan Sofia dan juga untuk rencananya tentunya.


Sofia tersenyum malu-malu dan meremas jemari. akting keduanya harus totalitas agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"kamu suka pada Sofia...?" tanya Gandha Sukandar.


"iya, aku suka padanya dan aku tidak ingin yang menjadi milikku di sentuh tangan laki-laki lain"


"terserah padamu saja. Sekarang lakukan tugasmu dan kalian bisa pacaran setelah tugas selesai. Pengiriman barang harus dilakukan secepatnya"


"baik bos"


Gandha Sukandar masuk ke dalam pondok. Alex meminta Sofia untuk kembali ke tempat tadi. Wanita itu mengangguk cepat dan tersenyum manis, kebebasan telah hadir di depan matanya.


CUP


tanpa disangka, Sofia malah mencium pipi Alex membuat laki-laki itu membulatkan mata, sementara si pelaku tersenyum manis.


"terimakasih... terimakasih banyak mau membantuku. Kamu bisa menemuiku setelah tugasmu selesai" tanpa merasa bersalah, Sofia dengan perasaan lega meninggalkan Alex yang masih melongo bagai orang bodoh.


Sofia berbalik lagi dan melambaikan tangan kepada Alex. Bahkan Wanita itu memanggil Alex dengan panggilan sayang, orang di sekitar heboh akan hal itu. Sofia benar-benar berperan sebagai kekasih dari seorang Alex Prayoga.


"astaga... dasar wanita aneh" Alex menggerutu, melangkah masuk ke dalam pondok.