Fatahillah

Fatahillah
Bab 88



"jika kalian mengantuk, maka masuklah tidur di dalam. Fatahillah biar kami para lelaki yang menemaninya" pak Danang berucap demikian karena ia melihat istrinya yang sesekali menguap


"tapi aku penasaran yah, bagaimana akhirnya nanti" meski mengantuk namun ibu Nining masih fokus memperhatikan Fatahillah. jarak mereka cukup jauh dari pemuda itu


ibu Kamila tidak bersama mereka, sebab saat ini masih harus di rawat. tekanan darahnya naik lagi sehingga Nagita terus memantau keadaan wanita baya itu.


"kalau begitu aku pamit masuk ke dalam, ingin menemani ibuku" ucap Haninayah


"iya... sebaiknya kalian memang masuk saja. di luar sini dingin" timpal Hasan


kendatipun penasaran apa yang akan terjadi nanti, namun karena tidak dapat lagi menahan kantuk maka mereka masuk untuk istirahat di dalam kamar kecuali para lelaki yang masih akan menunggu Fatahillah.


Aji Wiguna menatap Fatahillah dengan mata takjub. ia takjub sebab pemuda itu kini akan dapat menguasai seluruh energi mustika merah.


"dia sangat luar biasa" ucap Rangga yang fokus memperhatikan Fatahillah


"dia tidak kesakitan lagi, syukurlah. aku merasa lega. aku kira dirinya akan terluka lagi seperti sebelumnya" ucap Hasan


"mungkin karena mustika putih sudah mas Fatah miliki sehingga panasnya energi mustika merah tidak lagi ia rasakan" timpal Akmal


"pasti dia pemuda yang memiliki kesaktian yang mumpuni" ucap Guntur


"kamu benar Gun, dia bukan pemuda biasa pastinya" timpal pak Danang


mereka semua duduk di gazebo tempat biasanya murid pak Danang selesai latihan beladiri. untuk mengusir kantuk, ibu Halima dan ibu Nining membuatkan mereka kopi tadi, hal itu agar mata mereka semua dapat bertahan sampai dimana Fatahillah selesai melakukan tugasnya. angin malam yang terasa dingin tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap bertahan.


sudah dua jam mereka duduk menunggu, kini waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. selama dua jam berlalu, selama itu juga Fatahillah belum juga selesai melakukan penyatuan energi. Rangga yang ingin buang air kecil, melompat turun dari tempat duduknya dan berlari kecil masuk ke dalam rumah. segera ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur sebab jika harus ke kamarnya, dirinya sudah tidak bisa tahan.


tidak lama Rangga keluar, saat itu ia hendak ke kamar untuk mengambil ponselnya namun di jendela rumah itu, ia melihat sekelabat bayangan yang melesat. tentu saja Rangga penasaran dan ia merasa kalau dirinya tidak salah lihat.


rumah yang luas itu pagarnya sudah dikunci meskipun tidak memiliki satpam namun selama ini rumah mereka tidak pernah dimasuki oleh pencuri.


Rangga berjalan ke arah ruang tengah, ia melihat ke arah jendela, semuanya aman. ia pun melangkah ke ruang tamu dan mendekati pintu. ia memeriksa keadaan di luar lewat jendela, dan saat itu juga dirinya melihat beberapa orang yang menyelinap masuk ke halaman rumah. bukan hanya beberapa orang, jika ia perhatikan jumlah mereka lumayan banyak.


"gawat...aku harus beritahu ayah"


Rangga berlari cepat ke arah dapur. pintu belakang ia buka dengan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. semua orang melihat ke arahnya, dimana Rangga buru-buru menghampiri mereka.


"kamu seperti di kejar setan saja ngga" ucap Akmal ketika Rangga tiba di dekat mereka


"ad penyusup yah" ucap Rangga cepat


"penyusup...?" semua orang bertanya dan dengan cepat Rangga mengganguk membenarkan


"kamu yakin ada penyusup...?" tanya Alex


"benar mas, mereka sudah berada di halaman depan rumah" jawab Rangga


tentu saja berita yang dibawa Rangga membuat mereka semua bersiap siaga. Alex dan Akmal segera berlari ke arah Fatahillah untuk melindungi pemuda itu. sementara yang lainnya menunggu kedatangan tamu tak diundang yang datang bertamu di larut malam itu.


orang-orang yang berpakaian hitam dengan ikat kepala hitam di kepala mereka, kini telah berada di halaman belakang rumah. mereka berjumlah banyak, mengelilingi lima orang yang kini bersiap akan melawan mereka. sementara Alex dan Akmal pun juga memasang badan agar Fatahillah tidak di usik oleh mereka. beberapa orang telah mengepung ketiganya sama dengan teman mereka yang lain.


"guru" Aji Wiguna nampak kaget, Ki Demang kini telah berada di depannya


"dia gurumu...?" Hasan menatap tajam Aji Wiguna


"oh...jadi ternyata kamu menipu kami semua dengan berpura-pura baik padahal kamu ternyata sudah mempunyai rencana licik dengan gurumu untuk menyerang kami" Guntur emosi dan menarik kerah baju Aji Wiguna


"aku tidak tau apa-apa soal ini" Aji Wiguna melepas tangan Guntur dari bajunya dan maju ke depan berhadapan dengan Ki Demang


"bukannya guru di desa keramat, kenapa bisa berada di sini, guru mengikutiku...?" kini Aji Wiguna menatap dingin Ki Demang "dan aku baru tau kalau ternyata selama ini guru telah menipuku. aku sudah sembuh namun dengan teganya guru mengunci kekutanku hanya untuk memperalat aku agar merebut mustika merah. guru benar-benar licik" Aji Wiguna menahan emosi


"jadi dia berada di pihak kita atau tidak...?" Guntur bingung sendiri. ia berpikir kalau Aji Wiguna adalah musuh mereka saat ini sebab yang datang sekarang untuk memerangi mereka adalah guru dari Aji Wiguna sendiri


"entahlah...kita lihat saja dulu" timpal Hasan


"tetap waspada" pak Danang memperingati


"baik" Hasan, Guntur dan Rangga menjawab


Ki Demang tersenyum tipis, melihat muridnya yang nampaknya marah padanya, dirinya hanya tersenyum biasa.


"aku tanya sekali lagi guru, bagaimana bisa kamu tau kalau aku dan Alex ada di sini"


"bukan masalah sulit bagiku untuk melacak keberadaanmu Aji. harusnya kamu memberitahuku setelah menemukan tempat persembunyian pemilik mustika putih dan mustika merah, bukankah kita satu komplotan" Ki Demang menyerangi


"cuih... sekarang aku tidak sudi mempunyai guru seperti kamu Ki Demang yang terhormat. harusnya dari dulu aku tau kalau kamu itu benar-benar orang yang licik"


"hahaha" Ki Demang tertawa, ia maju selangkah dan menatap Aji Wiguna dengan senyuman meremehkan "kamu begitu polos Aji sama seperti kakakmu yang dulunya aku kelabui namun pada akhirnya dia memberontak dan mati ditangan ku. kalau dia tidak berniat membocorkan rahasiaku kepada semua warga, mungkin sekarang dia masih hidup" lanjut Ki Demang


"TUTUP MULUTMU KI DEMANG" bentak Aji Wiguna "kamu tidak pantas untuk diampuni" Aji Wiguna mengepalkan tangannya


"lalu kamu mau apa...? kekuatanmu saja masih terkunci, kamu hanya akan menyetor nyawa jika melawanku"


"kami yang akan melawanmu" pak Danang berbicara lantang


Ki Demang tersenyum menyeringai kemudian memerintahkan semua para muridnya untuk menyerang mereka.


berjumlah lima puluh orang, murid Ki Demang melesat cepat menyerang semuanya. Alex dan Akmal pun hendak melawan namun baru juga para murid Ki Demang akan menyerang, mereka semua terpental jauh. seperti ada kekuatan yang menghempaskan tubuh mereka. hingga Alex dan Akmal dapat melihat sosok lelaki baya yang berdiri di samping Fatahillah. dialah guru Halim, ia tersenyum hangat kepada keduanya.


"pergilah bantu yang lainnya, urusan Fatahillah biar menjadi tugasku" perintah guru Halim


"bapak siapa...?" tanya Alex


"bukan orang jahat kan...?" Akmal menatap penuh selidik


guru Halim tersenyum, ia paham kalau keduanya pasti mencurigai dirinya. "saya guru Fatahillah. pergilah dan bantu yang lainnya" ucap guru Halim sekali lagi


mendengar jawaban kalau laki-laki itu adalah guru Fatahillah, keduanya mengangguk patuh dan melesat cepat membantu yang lainnya. sementara guru Halim, memasang pagar gaib yang tidak akan bisa ditembus oleh siapapun kalau bukan yang berilmu tinggi.


"Langon"


GRAAARR


"jaga tuanmu ya, aku akan membantu mereka" guru Halim duduk dan mengelus kepala Langon


GRAAARR


Langon mengangguk patuh. guru Halim memeluk sebentar harimau putih kemudian ia menghilang seketika.


bugh...


bugh...


Aji Wiguna sudah beberapa kali terkena pukulan dari Ki Demang. bahkan sudah beberapa kali juga ia memuntahkan darah. saat ini Ki Demang hendak memberikan serangan mematikan kepada Aji Wiguna. untungnya ada yang menghalau serangan itu sehingga Aji Wiguna selamat dari maut.


guru Halim berdiri tepat di depan Aji Wiguna, dialah tadi yang menyelamatkan pemuda itu.


"mundurlah...dia bukan lawanmu" perintah guru Halim kepada Aji Wiguna


Aji Wiguna patuh, ia mundur perlahan dan hampir tumbang. untungnya Alex segera berlari dan menangkap tubuhnya. ia membawa Aji Wiguna masuk ke dalam rumah. saat itu semua orang yang berada di dalam rumah terbangun karena mendengar suara keributan di luar rumah.


"ya Allah...apa yang terjadi padanya...?" ibu Halima kaget melihat Aji Wiguna masuk di papah oleh Alex


"dia terluka. tolong obati dia dokter, saya harus kembali ke luar. dan untuk kalian semua, jangan keluar atau pergi kemanapun. kunci pintu dan jendela agar orang-orang itu tidak bisa masuk" Alex membaringkan Aji Wiguna di sofa


"apa yang terjadi...?" tanya Nagita


"apa yang diluar kalian sedang bertarung...?" ibu Nining ikut bertanya


"kami kedatangan tamu tak diundang. aku akan membawa dia ke kamar, tolong obati dia dokter"


"baiklah...bawa dia ke kamarku tadi" ucap Nagita


Nagita mengikuti langkah Alex dan Aji Wiguna masuk ke dalam kamar. setelah membaringkan bosnya, Alex kembali keluar.


"mas Alex... semuanya akan naik saja kan...?" nampak mata Haninayah begitu khawatir dengan keadaan di luar


"jangan keluar kemanapun" hanya itu yang Alex katakan untuk menjawab Haninayah, setelahnya ia berlari keluar


di malam yang larut itu, pertarungan hebat terjadi di rumah kediaman pak Danang. beberapa kali mereka mencoba untuk menghancurkan pagar gaib yang melindungi Fatahillah, namun tetap saja kekuatan murid Ki Demang tidak seberapa dengan kekuatan guru Halim, penghuni gunung Gangsir.


saat ini Ki Demang kini tengah berhadapan dengan guru Halim.


"siapa kamu, saya tidak punya urusan apapun denganmu" ucap Ki Demang


"jika kamu datang mengusik dan mengacau penyatuan energi yang dilakukan anak muda itu, maka tentu saja saya mempunyai urusan denganmu" guru Halim menjawab


"kamu gurunya...?" Ki Demang menebak, guru Halim diam tidak menjawab


"apa jangan-jangan kamu yang menyelamatkannya waktu itu. sudah aku duga, ternyata memang benar kalau dia mempunyai sosok yang melindungi dirinya. baiklah jika kamu tetap kekeuh untuk menghalangiku, maka saya akan menghadapi mu terlebih dahulu"


Ki Demang melesat menyerang guru Halim, pertarungan dua orang yang memiliki kekuatan tinggi telah dimulai. serangan-serangan demi serangan Ki Demang lesatkan, tapi tetap saja guru Halim dapat menghindar dan bahkan memberikan serangan balik.


pedang yang Akmal miliki sudah melukai beberapa orang dan bahkan ada yang langsung mati di tempat saat pedang samurai itu menembus jantungnya.


Rangga yang berbekal ilmu beladiri dari ayahnya, menggunakan tongkat besi sebagai senjatanya untuk melawan para murid Ki Demang. remaja itu ternyata lihai dalam memberikan serangan dan menghindar.


di samping rumah pak Danang, satu orang laki-laki sedang memperhatikan mereka dari jauh. sebenarnya ia sedang mengintai sementara ada banyak teman-temannya di luar pagar rumah. hanya saja melihat pertarungan itu, dirinya menghubungi bosnya untuk melapor.


(bagaimana...?)


(ada sekelompok orang yang menyerang mereka bos, sepertinya kita malam ini belum bisa maju)


(kurang ajar, siapa lagi yang mengincar mustika itu. apakah mereka banyak, kalau tidak...masuk dan serang saja mereka)


(maaf bos tapi jumlah mereka lumayan banyak apalagi saya melihat mereka begitu sakti, sebaiknya kita mundur saja untuk kali ini sambil menunggu waktu yang tepat)


(brengsek... harusnya aku bunuh saja Haninayah dan mengambil mustika putih itu) Faisal mengeram kesal


(jadi bagaimana bos...?)


(kembali saja, kerahkan semuanya untuk mundur)


(baik bos)


(eh tapi tunggu, kenapa tidak kalian masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Haninayah)


(dengan terpaksa saya harus mengatakan ini bos. kalau mustika itu tidak lagi berada di tangan wanita itu melainkan sudah berpindah tempat menjadi milik seorang pemuda yang bernama Fatahillah. saat ini pemuda itu sedang menyerap energi mustika merah)


(APA...? DASAR BODOH...KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI)


suara keras Faisal membuat orang itu menjauhkan ponselnya dari telinganya.


(maaf bos)


(tidak berguna. sekarang kalian kembali, kita akan mencari waktu untuk mengincar mustika itu lagi. kalau perlu kita bunuh saja pemuda itu. kalian kembali sekarang)


(baik bos)


dengan mengendap-endap, ia berputar haluan kembali ke teman-temannya yang sedang menunggunya di luar pagar.


"hei... apakah kita bergerak sekarang saja...?" tanya salah satunya setelah dia melihat teman mereka telah kembali


"tidak... bos memerintah agar kita kembali" jawabnya


"loh kenapa begitu...?"


"malam ini bukan waktu yang tepat, ayo pergi"


di halaman belakang rumah, pertarungan masih tetap berlanjut. sebagian murid Ki Demang telah dihabisi, sementara Ki Demang kini masih terus melawan guru Halim.