
harusnya kami akan berangkat setelah pak Karim datang membawa mobilnya namun karena sudah jam 17.40, kami memutuskan untuk melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu sebelum berangkat ke kota B.
sambil menunggu waktu magrib, pak Karim membawa kami semua ke rumahnya. awalnya pak Umar menolak namun pak Karim memaksa hingga dengan sangat berterimakasih, kami semua mengikuti kemauan pak Karim.
pertolongan Tuhan datang dari tangan siapa saja melalui orang-orang yang baik seperti pak Karim, Akmal dan ibu Afifah.
aku begitu bersyukur, masih ada di muka bumi ini orang-orang baik yang ingin membantu sesama manusia lain.
"mari masuk, jangan sungkan... anggap rumah sendiri" ucap pak Karim
kami tiba di rumah laki-laki yang berkumis tipis ini, bisa dibilang beliau adalah orang berada karena terlihat dari rumahnya yang lumayan besar dan juga dua mobil yang terparkir di garasi.
"assalamu'alaikum" kami semua mengucapkan salam
"wa alaikumsalam" jawab pak Karim
Hasan yang menggendong Hanum dibawa masuk ke dalam kamar sementara kami duduk di ruang tamu yang besar dengan sofa yang panjang dan empuk pastinya.
"loh ayah, katanya mau ke kota B" seorang wanita baya yang memakai gamis hitam dan hijab panjang datang dan menghampiri pak Karim
"nanti selesai sholat magrib bu. mereka ini yang akan ayah antar sebentar. perkenalkan ini istri saya" ucap pak Karim tersenyum
"masha Allah, kalau begitu jangan berangkat malam atuh, besok pagi saja" ucap istri pak Karim
"terimakasih banyak bu, tapi kami harus segera sampai di kota B. maaf sekali kami datang dan merepotkan" ucap ibu Rosida
"sama sekali tidak merepotkan bu. oh iya perkenalkan saya Femi"
kami memperkenalkan diri satu persatu kepada istri pak Karim. beliau begitu lembut dan sangat menghormati tamu. aku kagum pada beliau, melihat kelembutannya aku jadi teringat ibu. semoga beliau baik-baik saja di sana tanpa aku.
"kalau begitu kalian semua bersih-bersih dulu di kamar, sudah mau magrib. nanti setelah makan malam baru berangkat ke kota B" ucap ibu Femi
"terimakasih banyak atas kebaikan pak Karim dan ibu Femi" ucap pak Umar dengan tulus
"sudah hampir sepuluh kali loh bapak mengucapkan terimakasih. jangan sungkan kepada kami pak, jika kami bisa bantu tentu akan kami lakukan. sekarang sebaiknya kita semua bersiap-siap untuk sholat magrib" ucap pak Karim
kami semua beranjak dari tempat duduk memasuki sebuah kamar yang telah disediakan.
ada dua kamar yang kosong, aku bersama Akmal, Hasan dan pak Odir serta pak Umar sementara untuk perempuan mereka berada di kamar yang ditempati Hanum.
kami bergantian saling membersihkan diri, kemudian berwudhu dan bersiap untuk sholat magrib. karena di dalam kamar itu luas, kami para lelaki sholat berjamaah dan pak Odir sebagai imam, kami berbaris di belakang beliau.
setelah sholat, kami menuju ke ruang tamu kembali. namun ibu Femi langsung mengarahkan kami untuk menuju ke meja makan. tentunya kami mengikut saja apa yang dikatakan oleh tuan rumah.
ada seorang gadis yang menyiapkan makanan di atas meja. mungkin jika aku tafsir usianya sama dengan Akmal, dua puluh tahun ke atas. saat kami sampai di meja makan, dia langsung undur diri kembali ke kamarnya dan tidak bergabung bersama kami. mungkin dia malu karena tiba-tiba banyak orang di rumah ini.
"yang tadi anaknya ya pak" ucap pak Odir kepada pak Karim
"iya, anak gadis satu-satunya. namanya Najwa" jawab pak Karim
kami semua duduk dan mulai mengambil nasi serta lauk. kali ini aku mengambil makan sendiri karena Zelina duduk jauh dariku. dia berada di tengah-tengah ibu Afifah dan ibu Rosida. sepertinya istriku senang bersama kedua wanita itu, karena keduanya memperlakukan Zelina seperti anak sendiri.
aku yang sedang menatap Zelina tiba-tiba ia pun melihat ke arahku. aku tersenyum dan aku tau dirinya membalas senyumanku meski tertutup oleh kain cadarnya.
"kenapa anak ibu tidak sekalian ikut makan bersama kita" ucap ibu Rosida bertanya kepada ibu Femi
"dia aslinya pemalu bu, sudah seperti itu kalau banyak orang" jawab ibu Femi
"panggilkan Najwa bu, kita harus melatih dirinya untuk tidak selalu menjadi gadis pemalu. siapa yang mau sama dia nanti jika dirinya terus mengurung diri di kamar" ucap pak Karim dengan nada lembut kepada istrinya
"iya yah" jawab ibu Femi dengan patuh
ibu Femi bangkit dari duduknya untuk memanggil putrinya. sementara kami sibuk dengan mengunyah makanan yang telah masuk ke dalam mulut. hingga beberapa menit ibu Femi datang bersama dengan Najwa yang tertunduk malu-malu mengekor ibunya dan duduk di samping ayahnya.
"wah ternyata anak ibu cantik sekali atuh" puji ibu Afifah sedang gadis yang bernama Najwa itu tersenyum malu-malu
"Mal, sepertinya kode tuh" ucap Hasan pelan
Akmal duduk diantara aku dan Hasan, jadi aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"kayak brankas aja pakai kode segala mas" jawab Akmal santai
"ibumu sepertinya suka sama Najwa loh Mal. bagaimana menurutmu...?" tanya Hasan lagi
aku melihat ibu Afifah begitu senang mengobrol dengan Najwa, gadis yang pemalu itu. bahkan kepalanya hanya terus tertunduk tanpa ingin mengangkatnya.
"mas Hasan ini, nggak usah menggodaku Napa mas. nanti aku jadi terbang dan terkait di genteng bagaimana" celetuk Akmal
aku terkekeh mendengar jawaban Akmal, dia ini sepertinya mempunyai humoris yang dapat membuat kami tetawa geli.
saat mataku tertuju kepada Najwa, saat itu juga ia mengangkat kepala dan melihat ke arahku. mata kami sekian detik beradu tatap namun segera aku menundukkan kepala. aku mengarahkan pandangan ke arah Zelina yang sedang memakan makanannya dengan lahap dan sesekali membalas ucapan ibu Rosida.
astaghfirullah
aku terus beristighfar dalam hati, kadang setan memang selalu datang menyesatkan jika manusia terbawa suasana. aku yang tadinya kagum dengan kecantikan Najwa mulai menghilangkan pikiran kotor itu. tidak sepantasnya aku memuji wanita lain.
istriku lebih cantik dari Najwa dan siapapun. ampuni aku ya Tuhan, telah melakukan zina mata meskipun aku tidak sengaja.
"kenapa mas...?" tanya Akmal saat aku terus menggelengkan kepala
"tidak apa-apa, kepalaku hanya pusing saja" jawabku yang sebenarnya berbohong
"alihkan pandangan mu ke arah lain, jika perlu pandangi terus istrimu" pak Odir berbisik kepadaku karena dirinya duduk di sampingku
aku tentu terkesiap, apa maksud dari ucapan pak Odir. apakah tadi dia sempat melihat aku bertatap mata dengan Najwa. bahkan gadis itu sering mencuri pandang ke arahku.
aku menjadi tidak nyaman dan ingin segera menghabiskan makananku kemudian pergi daei tempat ini.
setelah makan malam, kini kami bersiap untuk berangkat ke kota B. ibu Rosida, pak Umar, Hanum, ibu Afifah dan Akmal berada di mobil Hasan sementara aku, Zelina dan pak Odir berada di mobil pak Karim. ternyata Najwa pun ikut serta, dia ingin menemani ayahnya sekalian melihat keadaan di luar karena dirinya yang belum pernah keluar kota sebelumnya dan hanya di rumah saja.
pak Odir berada di kabin belakang sedang aku dan Zelina di kabin tengah. Najwa dan pak Karim di depan.
"mas, sepertinya kita harus membeli pakaian tiba di kota B" ucap Zelina
"iya, aku serahkan semuanya padamu saja" jawabku menggenggam tangannya
"mas dan mbak ini, suami istri ya...?" tanya Najwa memutar kepala untuk melihat aku dan Zelina kemudian kembali melihat ke arah depan
"iya, kami memang suami istri" jawab Zelina
tidak ada lagi jawaban dari gadis itu, yang aku dengar hanya helaan nafasnya yang terdengar.
"Najwa masih kuliah atau sudah lulus kuliah...?" tanya Zelina
"aku baru saja wisuda bulan kemarin mbak, sekarang sedang mencari pekerjaan. ternyata mencari pekerjaan lebih sudah daripada mengerjakan tugas dari dosen" jawab Najwa
"ayah sudah mencarikan kamu pekerjaan tapi kamu yang tidak mau" ucap pak Karim
"aku tidak mau kerja di bank yah, aku tidak tertarik" jawab Najwa dengan suara pelan namun masih bisa kami dengar
"kalau kamu mau, mbak bisa mencarikan kamu pekerjaan" ucap Zelina
"sayang" aku langsung menoleh ke arah istriku
"serius mbak...?" waaah jelas aku mau mbak" Najwa begitu senang
"aduh nak Zelina, jangan merepotkan diri sendiri" ucap pak Karim yang tidak enak hati
"tidak apa-apa pak. di perusahaan aku, kami membutuhkan beberapa karyawan untuk bekerja di sana. kalau Najwa mau, biar nanti aku rekomendasikan Najwa untuk bekerja di sana. tapi... harus menyiapkan berkas dan ikut wawancara dulu ya. kamu harus mengikuti peraturan yang ada" ucap Zelina
"iya mbak, aku akan menyiapkan semua berkas-berkasnya" Najwa mengangguk cepat dan tersenyum lebar saat dia melihat ke arah Zelina
"terimakasih banyak nak Zelina, aku tidak tau harus berkata apa lagi. bahkan aku sendiri yang mencarikan pekerjaan untuk Najwa namun dirinya tidak menyukai pekerjaan yang aku usulkan. aku senang kalau seandainya dia mau bekerja di perusahaan nak Zelina" ucap pak Karim
"tidak perlu sungkan pak, akan aku hubungi jika kami sudah kembali dari kota B" jawab Zelina
aku hanya diam saja karena bagaimanapun diriku tidak berhak untuk mengatur Zelina yang sebenarnya adalah bos dari perusahaannya sendiri. meski sebenarnya aku sedikit keberatan karena kami belum begitu mengenal karakter Najwa, tapi melihat istriku yang sepertinya percaya dengan gadis itu membuat aku bungkam dan tidak berkomentar.
"boleh aku tau pekerjaan mas Fatah apa...?" tanya Najwa
"aku seorang dosen" jawabku
"apa membosankan jadi dosen mas...? dulu juga aku inginnya menjadi dosen tapi setelah itu aku berubah pikiran dan ingin kerja kantoran saja" ucap Najwa
"pekerjaan apapun pasti ada saat kita merasa jenuh, namun kembali lagi kepada diri kita sendiri. jika kita mencintai pekerjaan kita, rasa bosan itu akan hilang dengan sendirinya" jawabku
"begitu ya. aku sudah tidak sabar ingin bekerja perusahaan mbak Zelina. pasti menyenangkan karena impian aku bekerja di perusahaan besar" ucap Najwa
"jangan mengecewakan aku nantinya ya" ucap Zelina
"siap mbak" jawab Najwa
"sayang, memangnya di kantor kamu membutuhkan berapa karyawan...?" tanyaku
"sepertinya banyak mas. ada apa...?" tanya Zelina
"bagaimana kalau Akmal kita masukkan juga di perusahaan mu. dia sepertinya memiliki skill yang tidak bisa dimiliki orang lain" ucapku
seketika otakku langsung tertuju kepada Akmal saat Zelina akan menawarkan pekerjaan kepada Najwa. aku belum tau apakah dia seorang sarjana atau bukan tapi jika dilihat, dia mempunyai pengetahuan untuk bekerja di perusahaan.
"nanti kita tanya Akmal dulu, kalau dia mau aku akan mengurusnya dan menghubungi Afkar, orang kepercayaan aku" jawab Zelina
aku mengangguk kecil dan meraih kepalanya untuk bersandar di dadaku. ingin sekali rasanya aku kecup keningnya namun aku tahan, mana mungkin melakukan hal seperti itu di depan orang.
sekian jam kami berada di dalam mobil, akhirnya kami tiba di kota B. mungkin membutuhkan beberapa menit lagi untuk sampai di pondok pesantren Abdullah. sejak di perjalanan tadi aku menemani pak Karim untuk mengobrol agar beliau tidak mengantuk sedang Najwa, pak Odir dan Zelina sudah tertidur pulas. helaan nafas dari hidung istriku begitu teratur.
kini tibalah kami di tempat tujuan. mobil pak Karim berhenti di depan gerbang yang diatas sana bertuliskan selamat datang di pesantren Abdullah. saat aku lihat jam di pergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"apa kita sudah sampai...?" tanya pak Odir yang baru saja bangun
"sudah pak" jawabku
aku membangunkan Zelina dan kami turun dari mobil. di gerbang, seorang laki-laki sedang memeluk Akmal dan ibu Afifah. sepertinya dia adalah Ali, paman dari Akmal. aku pikir beliau akan berumur sama dengan ibu Afifah, setidaknya jarak usia mereka tidak begitu jauh. namun ternyata beliau masih muda, seperti seumuran denganku.
"kalau begitu saya langsung pamit pergi dulu" ucap pak Karim
"jangan pak, ini sudah larut malam. sebaiknya bapak menginap saja di sini, besok baru pulang" ibu Afifah melarang
"Ali, tidak apa-apa kan pak Karim dan anaknya menginap di sini semalam saja" ucap ibu Afifah
"tidak apa-apa, kami sudah menyediakan tempat untuk kalian semua tinggali sementara berada di sini. kalian semua akan tinggal bersamaku. ayo aku antar ke sana" ucap Ali
"ayo pak Karim, berbahaya kalau pulang sekarang. lebih baik sekalian besok saja" ucap pak Umar
pak Karim akhirnya setuju. Najwa pun keluar dari mobil dan kami semua mengikuti Ali yang akan membawa kami ke tempat peristirahatan.
Hanum tetap digendong oleh Hasan, masih dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
masih berada di dalam lingkungan pesantren, kami sekarang telah berada di sebuah rumah yang cukup besar untuk kami tinggali. kami semua masuk ke dalam rumah tersebut. ada banyak kamar di rumah ini, aku dan Zelina tentu saja berada dalam satu kamar tidur.
Hasan dan Akmal satu kamar, pak Odir bersama pak Karim, Najwa dengan ibu Afifah sementara pak Umar bersama istri dan anaknya sementara Ali mempunyai kamar tersendiri dimana memang disitulah tempatnya karena dirinya yang tinggal di rumah ini.
karena begitu lelah, setelah sholat isya aku langsung naik di atas ranjang dan berbaring. Zelina datang menghampiriku setelah melepaskan mukenah yang ia pakai.
"sayang, aku tidur duluan ya. aku mengantuk sekali" ucapku yang sesekali menguap
"iya mas, tidurlah" ucap Zelina
Zelina yang masih bersandar di kepala ranjang, aku peluk pahanya kemudian tangan mungilnya membelai kepalaku dengan lembut hingga tidak menunggu waktu lama aku mulai menutup mata dan terlelap.