
Fatahillah terkejut karena wanita gila yang sempat bertemu dengannya kemarin kini berada di hadapannya dan bahkan memeluk dirinya.
"anakku" wanita itu memeluk erat tubuh Fatahillah seakan takut terlepas dari pelukannya
sementara Fatahillah membiarkan wanita gila itu memeluknya tanpa berniat untuk melepaskannya.
"permisi bu, dia teman saya bukan anak ibu" Hasan datang dan berbicara baik-baik kepada wanita itu
"dia anakku... anakku" wanita itu menangis histeris dan tetap memeluk Fatahillah
kendatipun wanita itu gila namun Fatahillah merasakan kasihan kepadanya. Fatahillah beranggapan bahwa mungkin memang benar kalau wanita itu telah kehilangan seorang anak dan membuat dirinya merasakan kesedihan yang mendalam kemudian mengalami gangguan jiwa.
"Fatah, bagaimana ini...?" Hasan menggaruk kepala yang sebenarnya tidaklah gatal
"ya aku juga tidak tau harus bagaimana. dia tidak mau melepaskan aku" Fatahillah juga sama gusarnya
wanita itu melepaskan pelukannya dan memandangi wajah Fatahillah yang terkena terik matahari. tangannya perlahan terangkat dan menangkup wajah Fatahillah.
"kamu semakin tampan anakku, persis seperti ayahmu" ucapnya dengan senyuman begitu tulus
Fatahillah merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan. entah perasaan kasihan, perasaan iba ataukah perasaan seorang anak kepada orang tuanya.
"kamu sudah besar, ibu merindukanmu" lagi wanita itu memeluk kembali Fatahillah
"Fatah, sebaiknya cepat melepaskan diri darinya dan kita pergi dari tempat ini, kita membeli makanan di tempat lain saja" ucap Hasan dengan kantung plastik belanjaan mereka di tangan masing-masing
Fatahillah menghela nafas sebelum akhirnya mencoba untuk berbicara dengan wanita itu.
"kamu bawa ini di mobil" Fatahillah memberikan kantung plastik belanjaan miliknya kepada Hasan
"lalu kamu...?" Hasan mengambil kantung plastik itu
"aku akan mencoba membujuk ibu ini. kamu tunggu saja di mobil"
"baiklah, semoga kamu tidak jadi bahan samsak lagi olehnya atau jangan sampai kalian main kejar-kejaran seperti film india"
"sialan kau"
Fatahillah berniat menendang Hasan namun laki-laki itu segera menghindar dan berjalan cepat ke arah mobil yang sudah tidak jauh dari tempat mereka.
"emm...bu" panggil Fatahillah dengan lembut kepada wanita itu
"ada apa...?" wanita itu melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepala untuk melihat wajah Fatahillah
"kita duduk di sana ya" tunjuk Fatahillah ke arah sebuah tempat duduk kayu berbentuk panjang yang berada di depan kios yang tidak dibuka. mungkin pemiliknya sedang berhalangan hadir untuk berjualan di pasar
"kamu capek...? ya sudah ayo kita istrahat, maaf ya ibu sudah membuat mu lelah. ayo kita duduk" wanita itu memegang tangan Fatahillah dan mengajaknya ke tempat duduk yang ditunjuk oleh Fatahillah
keduanya duduk di depan kios, wanita itu melap keringat yang ada di kening Fatahillah. jika seperti ini, Fatahillah merasa bahwa wanita itu tidak seperti orang gila namun sikapnya seperti orang pada umumnya.
"kamu lelah...?" tanya wanita itu
"sedikit. setelah ini aku harus kembali bekerja" jawab Fatahillah berbohong
Fatahillah tidak ingin pergi begitu saja, melarikan diri dari wanita itu karena dirinya pasti dikejar dan akan membuat satu pasar heboh oleh mereka. Fatahillah harus bicara baik-baik kepada wanita itu.
"apakah selama ini kamu sibuk kerja sehingga tidak ingin menemui ibu...?" wajah wanita itu terlihat sendu
hati Fatahillah terasa nyeri melihat kesedihan yang ada di wajah wanita itu. rambutnya yang acak-acakan, bajunya yang kotor dan compang-camping, kulitnya yang terlihat kusam dan bahkan tidak memaki sendal padahal matahari begitu panas. Fatahillah melihat kaki wanita itu dibagian jempol kaki kanannya, telah mengelupas.
(ya Allah, kasian sekali ibu ini) batin Fatahillah
Fatahillah jadi teringat ibunya yang ia tinggalkan bersama Yusuf. dirinya mulai rindu dengan wanita yang ia jadikan tempat untuk mencari surga dengan memuliakannya itu. andai ibunya yang mengalami hal seperti ini, sungguh Fatahillah tidak sanggup menerima kenyataan.
"maaf ya, tapi pekerjaan aku banyak. nanti jika aku sudah tidak sibuk lagi, aku akan datang menjenguk ibu" Fatahillah memegang tangan wanita itu
"bohong" wanita itu membentak membuat Fatahillah kaget
"kamu membohongi ibu, buktinya kemarin ibu mengejar kamu tapi kamu malah pergi. kamu tidak sayang lagi sama ibu Firdaus" wanita itu memukul dada Fatahillah berulang kali
Firdaus.....
Fatahillah nampak berpikir, mungkin itu adalah nama anaknya yang telah meninggal.
"tidak bu, Firdaus akan datang menjenguk ibu asal ibu baik-baik di sini"
Fatahillah terpaksa mengaku sebagai Firdaus karena jika pun ia mengelak kalau namanya bukan Firdaus maka tetap saja wanita itu tidak akan percaya.
"benarkah...?" mata wanita itu berbinar
"benar" Fatahillah mengangguk
"ya ampun, rupanya kamu di sini. sudah aku cari kemana-mana. hei...dia disini" seorang ibu datang mengagetkan Fatahillah dan wanita itu yang muncul secara tiba-tiba
dua orang laki-laki baya datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka bertiga.
"tidak mau, saya tidak mau ikut kalian. saya mau ikut anakku" wanita itu meronta saat dua laki-laki tadi memegangnya dan menjauhkan dirinya dengan Fatahillah
"Firdaus tolong ibu" wanita itu memberontak
"maaf anak muda, dia memang seperti ini. harusnya dia berada di kurungannya namun entah bagaimana dia lepas begitu saja. kami akan membawa dia pergi" ucap ibu itu
"tapi bu.... apakah harus diperlakukan seperti itu...?" Fatahillah tidak tega melihat wanita itu diseret paksa oleh dua orang tadi
"kalau tidak seperti itu, dia tidak ingin ikut bersama kami. permisi anak muda, aku harus mengurungnya kembali agar tidak berkeliaran lagi" ucap si ibu.
"lepaskan aku...aku ingin bersama anakku. lepaskan"
( semoga dia baik-baik saja, tolong lindungi dia ya Allah) batin Fatahillah
Fatahillah bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke mobil. rupanya Hasan tidak ada di dalam mobil, entah kemana perginya laki-laki itu. Fatahillah mengarahkan pandangan ke segera arah dan matanya menangkap toko emas yang beberapa meter berada di depan sana.
dirinya mulai teringat dengan Zelina. setelah menikah mereka bahkan belum mempunyai cincin kawin. Fatahillah berniat untuk membelikan Zelina sebuah cincin namun jangan sampai cincin yang ia beli tidak muat di jari indah Zelina.
"nanti sajalah" gumam Fatahillah
tidak lama Hasan kembali dengan kantung plastik yang ia pegang.
"darimana San...?"
"beli bubur ayam. aku menunggu kamu lama sekali makanya aku pergi sebentar untuk membeli makanan. kita pulang, jangan sampai mereka kelaparan menunggu kita tidak kunjung datang"
"kamu beli banyak sekali"
"ya nggak mungkin lah hanya kita yang makan, para santri juga kan harus mengisi perut mereka karena kehabisan tenaga setelah kesurupan"
Hasan menyimpan makanan itu di kabin tengah kemudian ia masuk ke dalam mobil dan mereka meninggalkan pasar.
mereka tiba di rumah sakit, setelah memarkirkan mobil, keduanya turun dan masing-masing memegang kantung plastik makanan sementara belanjaan untuk perlengkapan mandi mereka simpan di dalam mobil.
"assalamu'alaikum" ucap keduanya setelah memasuki kamar rawat para santri
"wa alaikumsalam" jawab kiayi Anshor
"kalian lama sekali, aku pikir kalian pergi membeli makanan di negeri China" ucap Akmal
"nggak harus sejauh itu juga kali Mal" jawab Fatahillah
Hasan membagikan para santri bubur ayam satu persatu. karena tiga ruangan maka Hasan harus keluar untuk ke ruangan yang lain membagikan bubur ayam itu.
"Ali mana, sudah pulang ya...?" tanya Fatahillah
"dia di ruang sebelah bersama bang Zul" jawab kiayi Anshor
"silahkan dimakan kiayi" ucap Fatahillah
"aku nggak kamu persilahkan makan mas...?" tanya Akmal
"ya kamu kalau mau makan ya silahkan, kalau nggak...sini biar aku yang makan" Fatahillah beranjak untuk mengambil bubur ayam Akmal
"yeee nggak gitu juga kali mas" Akmal mengambil cepat bubur ayam miliknya dan menyembunyikan di balik punggungnya
mereka makan dengan lahap, sampai tidak tersisa di tempatnya. jam 11 siang Ali berpamitan untuk pulang karena akan ke bandara untuk menjemput istri kiayi Anshor dan kedua anaknya. sementara para santri di izinkan pulang oleh dokter karena kondisi mereka sudah membaik.
tiba di pesantren semua santri harus beristirahat dengan total agar tenaga mereka cepat pulih seperti sebelumnya.
ketiga pemuda kini telah berada di rumah yang mereka tinggali selama berada di pondok pesantren.
"Mal, kamu tidak apa-apa kan....kamu baik-baik saja kan...?" ibu Afifah datang menyongsong anaknya setelah mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman rumah
pak Umar, pak Odir, ibu Rosida serta Zelina tentunya, mereka juga bangkit dan menuju ke depan.
"hanya luka kecil bu, Akmal baik-baik saja" jawab Akmal merangkul ibunya
"mas" Zelina menghampiri Fatahillah
Fatahillah tersenyum dan merangkul bahu istrinya, mereka semua masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang tamu.
"bagaimana keadaan para santri...?" tanya pak Umar
"Alhamdulillah, mereka sudah baik-baik saja" jawab Hasan
"syukurlah, kejadian semalam membuat gempar pondok pesantren ini. banyak para santri yang ketakutan setelah kejadian itu" ucap pak Odir
"apa ini ada hubungannya dengan orang yang menyantet anak kita ya pak" ucap ibu Rosida
"entahlah, bapak juga tidak tau. padahal semuanya terlihat baik-baik saja setelah kita meruqiah Hanum. tidak di sangka kejadian mengerikan akan terjadi" jawab pak Umar
"bagaimana keadaan Hanum pak...?" tanya Hasan
"dia sedang tidur. kondisinya sudah membaik tidak seperti dulu yang terus meringis kesakitan dan kepanasan seperti terbakar" jawab pak Umar
"ada yang ingin aku sampaikan" ucap Fatahillah
"apa itu, apakah sesuatu hal yang buruk...?" tanya pak Odir
"kemarin itu dimana aku tiba-tiba meninggalkan Hasan dan Akmal keluar dari pesantren, sebenarnya aku sedang mengejar seseorang yang aku pergoki sedang mengintai setiap gerak-gerik orang-orang di dalam pesantren. saat aku dekati dia malah melarikan diri dan aku kejar namun sayang aku tidak bisa mengejarnya" ucap Fatahillah
"ya Allah, bahkan kita di dalam pesantren saja mereka masih bisa mengintai kita bagaimana jika kita telah berada di luar pesantren. nyawa kita semua sekarang sedang terancam" ibu Rosida nampak begitu khawatir
"andai saya tau siapa yang sedang bermain-main dengan kita sekarang ini, mungkin saya juga bisa mengerahkan orang-orang suruhan untuk menyerang balik namun sayangnya dia seperti bayangan yang tidak pernah bisa kita lihat" pak Umar memijit pelipisnya
"laki-laki yang saat dimana aku menyelamatkan Hasan dibunuh tanpa aku sempat mendapatkan informasi darinya. laki-laki yang membuat mobil Zelina meledak pun dibunuh dengan anak panah yang tertancap di lehernya. mereka membunuh orang-orang suruhan mereka agar tidak ketahuan siapa sebenarnya yang menyuruh orang-orang itu. aku rasa kita selalu diintai setiap saat dan akan dicelekai saat mereka mempunyai celah" ucap Fatahillah
"bahkan setiap orang yang berhubungan dengan saya pun menjadi incaran mereka" timpal pak Umar
"saat ini kita harus semakin waspada, untuk ibu Rosida, ibu Afifah dan Zelina. sebaiknya jangan keluar dari area pesantren jika tidak ada urusan yang mendesak" ucap Hasan
waspada memang harus mereka terapkan setiap saat karena malaikat maut setiap hari bahkan setiap jam, menit dan detik, sedang mengintai mereka semua. hanya pertolongan dari Tuhan yang dapat menyelamatkan mereka dari bahaya apapun.
suara azan mulai terdengar, kini semuanya bersiap-siap untuk sholat dzuhur sebagai kewajiban mereka menjadi umat muslim.
"sayang ini untukmu...?" Fatahillah menyerahkan kantung plastik besar kepada Zelina setelah mereka berada di dalam kamar
"apa ini mas...?" Zelina memeriksa isi di dalam kantung itu dan matanya tentu saja kaget
"ya ampun mas, kenapa belanja sebanyak ini"
"aku tidak tau produk mana yang kamu pakai maka dari itu aku membeli yang menurut aku bagus dan harum" Fatahillah nyengir dan menggaruk kepala
Zelina tersenyum dan tertawa pelan kemudian menyimpan kantung plastik itu di atas meja.
"aku akan pakai semuanya"
Fatahillah tersenyum kemudian memeluk Zelina dan mencium keningnya.
"aku ke masjid dulu ya, sebentar sore aku ingin mengajak kamu keluar"
"memangnya mau kemana mas, bukannya berbahaya kalau kita keluar dari area pesantren"
"aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakai istriku, percaya padaku" Fatahillah membelai lembut wajah Zelina
"aku selalu percaya kepada mas Fatah" Zelina tersenyum
Fatahillah ke masjid seperti biasa bersama para lelaki. setelah sholat dzuhur, kiayi Zulkarnain menyampaikan kepada pak Umar bahwa mereka akan memandikan Hanum. Hanum akan dimandikan setiap selesai sholat lima waktu. untuk malam hari, Hanum akan dimandikan setelah sholat isya.
"dimana tempatnya kiayi...?" tanya pak Umar
"di rumah kalian saja, siapkan baskom besar agar Hanum muat masuk ke dalamnya dan dia harus berendam di dalamnya" jawab kiayi Zulkarnain
"kalau begitu kita ke rumah sekarang saja" ucap Hasan
"ya sudah, mari kita pergi" ucap kiayi Anshor
mereka semua bertolak dari masjid menuju ke rumah yang berada di ujung pesantren Abdullah, tempat tinggal Ali yang kini juga menjadi tempat tinggal mereka.
"assalamu'alaikum" ucap mereka
"wa alaikumsalam" jawab ibu Rosida yang sedang berada di dapur bersama ibu Afifah
mereka semua masuk ke dalam, dan duduk di ruang tamu. sedang Akmal langsung berpamitan untuk masuk ke dalam kamar karena ingin istirahat.
"bu, tolong siapkan air di baskom besar. kita harus memandikan Hanum" pak Umar mendekati istrinya
"baik pak" jawab ibu Rosida
ibu Rosida kembali ke dapur dan mengambil baskom berukuran besar kemudian mengisinya dengan air.
"untuk apa bu...?" tanya ibu Afifah
"untuk memandikan Hanum, di depan sudah ada kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor" jawab ibu Rosida
ibu Afifah sedang menyiapkan makan siang untuk mereka semua, sedang Zelina masih di dalam kamar melakukan ibadah. setelah baskom itu penuh dengan air, ibu Rosida kembali ke depan untuk memberitahu bahwa ia telah menyediakan air untuk Hanum.
"pak, sudah ibu siapkan" ucap ibu Rosida
"keluarkan Hanum dan masukkan ke dalam baskom. setelah itu tinggalkan kami berdua" ucap kiayi Zulkarnain
pak Umar masuk ke dalam kamar kemudian keluar lagi dan membawa Hanum ke kamar mandi. Hanum di masukkan ke dalam baskom besar yang telah berisi air. setelah itu mereka semua meninggalkan dapur dan menuju ke ruang tengah.
"kenapa berkumpul di sini...?" tanya Zelina saat baru saja keluar dari kamar
"kami menunggu Hanum yang sedang dimandikan oleh kiayi Zulkarnain" jawab ibu Afifah
di dapur, kiayi Zulkarnain mengambil botol yang berisi air kemudian membuka penutupnya. ia membaca ayat-ayat Allah kedalam botol itu setelah itu menyirami tubuh Hanum dari ujung kepala sampai ujung kaki. air yang masih tersisa di campurkan ke dalam air yang ada di baskom.
Hanum yang dibaluti baju gamis dan jilbab, kedinginan setelah tubuhnya terkena air yang disiramkan oleh kiayi Zulkarnain.
"apa yang kamu rasakan...?" tanya kiayi Zulkarnain
"dingin kiayi" jawab Hanum, bibirnya bahkan telah bergetar
padahal bagi kiayi Zulkarnain air itu sama sekali tidak dingin namun bagi Hanum air yang berada di dalam baskom begitu dingin sedingin es.
kiayi Zulkarnain tersenyum kemudian meninggalkan Hanum menuju ke ruang tengah.
"sudah selesai, akan kita lakukan lagi setelah sholat ashar" kiayi Zulkarnain memberitahu
pak Umar segera ke dapur bersama ibu Rosida untuk mengganti pakaian Hanum agar tidak masuk angin.