
"nah kita sudah tiba di kota tujuan" Akmal memberitahu kedua penumpangnya
"jam berapa sekarang...?" tanya Fatahillah yang duduk di samping Akmal
"bentar lagi ashar, mending cari masjid saja dulu untuk sholat sekalian istrahat sebentar" Hasan melihat jam tangannya yang tidak lama lagi akan menunjukkan pukul tiga sore
"okelah, kita cari masjid terdekat saja" Akmal setuju
sementara mobil yang mengikuti mereka bertiga tetap mengawasi dari belakang. saat mobil di depan berhenti di sebuah masjid, Alex ikut berhenti di pinggir jalan.
"sepertinya mereka hendak sholat" ucap Alex
"kalau begitu kita tunggu saja mereka di sini. aku mau tidur sebentar, kalau mereka sudah keluar maka bangunkan aku" Aji Wiguna mengatur tempat duduknya agar lebih nyaman untuk ia tidur
"baik bos"
Alex tetap diam ditempat kemudi. untuk menghilangkan rasa jenuh, ia menyibukkan diri dengan melihat berbagai postingan yang ada di sosial media miliknya. adzan ashar sudah mulai di kumandangkan. dilihatnya banyak orang-orang yang datang untuk menunaikan sholat di masjid besar itu. bahkan anak muda pun yang kesadarannya masih ada dalam menjalankan kewajibannya, beriringan memenuhi panggilan Tuhannya.
"apa sebaiknya aku masuk juga" gumam Alex
melihat anak-anak muda itu, entah mengapa dirinya seakan ingin ikut masuk ke dalam sana. apalagi suara lantunan adzan yang begitu merdu terdengar di telinga, membuat gejolak dalam dirinya menarik ulur ingin masuk namun ada juga yang entah bisikan darimana, seakan memberitahunya bahwa ia tidak perlu membuang waktu untuk masuk ke dalam sana.
lama berperang batin, ada seorang kakek tua yang sudah berumur dengan tertatih-tatih kakinya yang sudah tidak kuat lagi untuk melangkah, dengan pelan dan hati-hati kakek itu mendekati tangga masjid. karena tenaga yang tidak lagi kuat, kakek itu terjatuh di tangga ketiga masjid. refleks Alex membuka pintu mobil dan berlari menghampiri sang kakek.
"bapak tidak apa-apa...?" Alex membantu kakek untuk berdiri
"tidak apa-apa, saya sudah biasa jatuh seperti ini. maklumlah tenaga sudah tidak kuat lagi tapi saya ingin sekali di sisa hidup yang renta ini, ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta" kakek itu tersenyum hangat kepada Alex
"terimakasih anak muda sudah membantu saya, semoga Allah meridhoi hidupmu. kamu mau masuk juga kan, bisakah bantu saya untuk melewati anak tangga ini...?" wajahnya yang keriput, tatapannya yang begitu sayu dan senyuman yang begitu tulus membuat hati Alex tidak bisa untuk tidak menganggukkan kepalanya
"kita sama-sama masuk ke dalam pak" ucap Alex
tangan kirinya memegang satu tangan sang kakek sedang tangan kanannya memegang bahun sang kakek. Alex membantu sang kakek menaiki anak tangga satu persatu hingga mereka tiba di teras masjid.
"terimakasih banyak anak muda, kamu memakai sangat baik" sang kakek tersenyum "kamu sudah berwudhu...?" lanjutnya
Alex menggeleng pelan "belum kek" jawabnya
"kalau begitu mari kita sama-sama berwudhu di sana. ayo berjalanlah lebih dulu"
"kita berjalan beriringan saja kek, nanti kalau kakek jatuh seperti tadi bagaimana...?"
"ya sudah ayo"
keduanya melangkah ke arah tempat wudhu khusus untuk laki-laki. di sana, masih ada sebagian orang yang mensucikan diri sebelum masuk ke rumah Tuhan. Alex yang sudah berada di tempat wudhu memutar badan untuk melihat ke arah kakek tadi siapa tau sang Kakek membutuhkan bantuannya namun siapa sangka dirinya tidak lagi melihat keberadaan kakek tua itu. bahkan Alex menelisik sekitar, diantara orang-orang yang berada di tempat itu, dirinya tidak melihat sang kakek.
Alex keluar dan melangkah buru-buru ke teras masjid, barangkali kakek tadi ia tinggalkan di sana namun sama saja, ia tidak menemukan keberadaan kakek itu.
"kemana perginya" sempat bingung, kemana perginya kakek tua itu. padahal jalannya yang begitu pelan pasti bisa saja ia masih bisa melihatnya kalau memang kakek itu keluar masjid, namun sampai ke arah jalan sana ia menatap, tidak dilihatnya sosok yang ia cari
"cari siapa mas...?" salah seorang bertanya kepadanya. sejak tadi ia melihat Alex celingukan seperti mencari keberadaan seseorang, maka dari itu ia bertanya
"maaf mas, apakah mas tadi dari tempat wudhu...?" Alex bukan menjawab tapi malah bertanya
"iya, saya memang baru saja dari tempat wudhu. memangnya ada apa...? mas kehilangan sesuatu...?"
"ah bukan, begini...emm apakah tadi kamu melihat kakek tua di tempat wudhu tadi...? dia memakai baju putih topi putih dan celana hitam. apakah kamu melihatnya...?"
"kakek tua...?" kening laki-laki mengekerut "sejak tadi saya mengantri, saya tidak melihat ada kakek tua datang ke tempat wudhu. kecuali mas tadi yang saya lihat datang seorang diri namun kemudian buru-buru pergi begitu saja"
"hah...? mana mungkin, tadi saya tidak datang sendiri tapi bersama kakek itu. masa iya kamu tidak melihatnya, kami pergi bersama-sama ke tempat wudhu" tentu saja Alex kaget dengan jawaban laki-laki itu
"tapi benaran mas, demi Allah saya tidak bohong. saya tidak melihat ada kakek tua yang datang tadi. atau coba deh mas tanya sama yang lainnya siapa tau mereka melihatnya"
dua orang pemuda datang mengarah ke arah mereka. saat semakin dekat, laki-laki tadi menghentikan mereka dan bertanya tentang kakek tua yang dimaksudkan oleh Alex.
"emang tadi ada kakek tua Mal...?" Hasan bertanya kepada Akmal
dua orang pemuda itu adalah Hasan dan Akmal, Fatahillah telah lebih dulu masuk setelah berwudhu sementara Hasan dan Akmal harus mengantri dulu.
"kayaknya nggak ada deh, aku nggak lihat ada kakek tua tadi" Akmal menjawab seraya menatap ke arah dua orang yang ada di depan mereka
Alex diam saat melihat keduanya, ia menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya ke arah kanan jangan sampai Hasan mengenalnya.
"memangnya kenapa dengan kakek itu mas...?" tanya Hasan
"ah tidak kenapa-kenapa, kalau begitu saya permisi berwudhu dulu" segera Alex meninggalkan mereka dengan begitu rasa kebingungan dan pertanyaan di kepalanya, kemana sebenarnya perginya kakek tua tadi
Alex mulai berwudhu setelahnya ia melangkah masuk ke dalam masjid. di dalam ia mencari tiga orang yang sedang ia ikuti bersama Aji Wiguna, dilihatnya Fatahillah duduk bersama Hasan dan juga Akmal. karena tidak ingin Fatahillah melihatnya, Alex duduk di barisan kedua paling ujung sementara ketiga pemuda itu berada di barisan pertama.
kewajiban telah ditunaikan kini mereka harus kembali melakukan perjalanan ke kawasan barat rumah pak Danang, rumah ilmu beladiri.
"kamu lagi yang nyetir ya Mal, kan kamu yang tau rumah bapak Danang itu dimana" ucap Hasan saat mereka baru saja keluar dari masjid
"tapi sebelum kita ke sana, kita cari makan dulu ya. aku lapar mas, pengen nafkah lahir sebelum mencari untuk nafkah batin"
"elleh...sok banget kamu. makanya kalau suka itu langsung bilang jangan di simpan-simpan, diambil orang baru tau kan sekarang bagaimana rasanya" Fatahillah malah mengejek
"yaa mau diapa, calon jodohku menikah dengan pamanku sendiri" timpal Akmal menghela nafas
ketiganya melangkah menuju mobil, Alex berjarak beberapa meter di belakang mereka. setelah ketiganya masuk ke mobil, ia pun berlari kecil ke arah mobilnya dan masuk ke dalam. Aji Wiguna masih terlelap tidur, Alex memasang sabuk pengaman dan mengikuti mobil di depannya.
rencananya Fatahillah, Hasan dan Akmal akan mencari tempat makan terlebih dahulu. namun saat itu ada panggilan masuk dari Haninayah. melihat nama wanita itu di layar ponselnya, Fatahillah segera mengangkatnya.
(halo assalamualaikum Hani)
(mas Fatah tolong mas, kami diserang... tolong) teriakan Haninayah membuat Fatahillah tegang dan panik
(kenapa Hani, ada apa. kalian dimana sekarang, apa yang terjadi...?)
(kami dihadang mas, di jalan Pelita, aaaaa...)
(halo...halo Hani, kamu masih disana...?)
Fatahillah terus memanggil nama haninayah namun ternyata panggilan telah terputus.
"kenapa Fatah...?" Hasan bertanya
"kita ke jalan Pelita Mal, Haninayah dihadang di sana. mereka membutuhkan bantuan kita. cepat Mal sebelum terjadi apa-apa dengan mereka"
seketika Akmal menginjak pedal gas, mobil itu melaju semakin cepat. Alex yang tidak ingin tertinggal jauh langsung melajukan mobilnya. Aji Wiguna terbangun dari tidurnya, ia melihat sekitar dimana mobil melaju begitu kencang.
"Al, kenapa ngebut... bukannya kita sudah sampai di kota X"
"mobil mereka tiba-tiba melaju kencang bos jadi aku harus mengejar mereka agar tidak ketinggalan"
di jalan Pelita, Haninayah ditarik paksa oleh seseorang yang berhasil menghancurkan kaca mobil dan membuka pintu mobil. ibu Kamila menahan namun tenaganya tidak seberapa dengan tenaga laki-laki itu. satu tendangan mendarat di perut ibu Kamila membuatnya tersungkur menabrak mobil dan seketika langsung pingsan.
"ibu, lelaskan aku bajingan"
Haninayah menggigit tangan lelaki itu, ia berhasil melepas diri namun baru selangkah hijabnya ditarik dengan kasar dan
plaaaak
tangan besar laki-laki itu mendarat di pipi Haninayah. Guntur berusaha untuk menyelamatkannya namun orang-orang itu tidak membiarkan Guntur untuk mendekat sementara dua orang anak buah Aji Wiguna masih sibuk melawan yang lain.
lima orang mengelilingi Guntur, sudah dengan senjata tajam di tangan mereka masing-masing. satu orang maju menyerang, Guntur melompat dan melayangkan tendangan. bukan hanya sampai di situ, Guntur menunduk dan menggenggam tanah di tangannya. saat dua orang menyerangnya, ia melemparkan tanah itu di mata keduanya hingga mereka tidak kelilipan dan tidak dapat melihat. kesempatan itu ia Guntur ambil dengan memukul tengkuk keduanya hingga mereka jatuh pingsan. dua orang tersisa, Guntur mengambil pisau yang berada di tangan salah seorang yang pingsan itu. ia melempar pisau itu ke arah seseorang yang akan menyerangnya. tepat di dadanya, pisau itu tertancap.
Guntur berlari dan menendang laki-laki itu, satu orangnya lagi ia berikan pukulan di bagian leher hingga laki-laki itu seketika muntah darah. matanya melotot dengan kedua tangannya memegang lehernya, tidak lama ia jatuh terpakar di tanah.
"lepaskan... lepaskan aku. mas Guntur.... tolong mas" Haninayah memberontak saat dirinya akan dibawa pergi
ibu Halima tidak dapat berbuat apa-apa. dirinya hanya memeluk ibu Kamila yang belum sadarkan diri sejak pingsan tadi.
satu anak buah Aji Wiguna, berlari ke arah Haninayah dan laki-laki yang menyeret wanita itu. ia mengambil kayu dan melempar dengan keras. tepat di kepala laki-laki itu, kayu mendarat dengan suara keras. laki-laki itu terjatuh sementara Haninayah pun ikut jatuh ke tanah.
Guntur hendak berlari mendekati Haninayah namun masih ada dua orang yang menghalanginya sehingga dengan terpaksa ia harus melayani kedua orang itu terlebih dahulu.
rupa-rupanya Faisal mengirim anak buahnya yang lain, terlihat dari dua mobil hitam yang baru saja datang. anak buah Faisal semakin banyak dan tepat saat kedatangan mereka, mobil yang dikemudikan Akmal pun baru tiba di tempat begitu juga dengan mobil Aji Wiguna.
"LANGON"
keluar dari mobil, Fatahillah langsung memanggil harimau putih. suaranya yang menggelegar dan tubuhnya yang besar membuat orang-orang itu bernyali ciut. siapa yang tidak akan takut dengan seekor harimau besar yang mempunyai taring panjang, melihat ke arah mereka bersiap mencabut tubuh mereka.
"kenapa diam saja, serang mereka bodoh" tangan kanan Faisal meneriaki orang-orangnya
"bisa mati kita diterkam harimau itu, aku nggak mau"
mereka saling dorong mendorong, hingga memberanikan diri untuk melawan Fatahillah dan yang lainnya. Akmal mengeluarkan pedangnya, Hasan bersiap dengan tangan kosong.
"mas Hasan" Haninayah rupanya telah berada di tangan anak buah Aji Wiguna
"Hani" Hasan mendekat namun tiba-tiba dirinya di serang dari arah belakang, untungnya Hasan bisa menghindar
terlihat Aji Wiguna dan Alex berlari ke arah anak buahnya itu dan menyandra Haninayah. sementara kening Akmal dan Hasan mengkerut tatkala keduanya melihat Alex.
"kamu" Akmal menunjuk Alex sebab heran kenapa laki-laki yang mereka lihat di masjid tadi ada di tempat itu
sementara Fatahillah yang melihat Alex, menatapnya dengan tajam.
"serang Langon" perintah Fatahillah
GRAAARR
GRAAARR
Langon melompat dan mulai menerkam mereka, mencabik-cabik tubuh mereka hingga bermandikan darah. Akmal maju dan menebas siapa saja yang hendak menyerangnya sementara Hasan tentunya ikut membantu.
Fatahillah mendekat ke arah Aji Wiguna dimana Haninayah sedang bersamanya. Alex maju ke depan menjadi tameng bagi bosnya, namun Aji Wiguna menyuruh Alex untuk mundur.
"tapi bos"
"aku ingin bicara dengannya Al"
Alex patuh dan mundur ke belakang sejajar dengan dua orang anak buah Aji Wiguna. sementara Guntur, ia mendekati Fatahillah dan berdiri disampingnya.
"rupanya kalian membantu kami karena ada udang dibalik batu, licik sekali kalian" Guntur menatap tajam ke arah dua laki-laki yang berdiri di belakang bosnya
"harusnya kamu berterimakasih karena kami membantu kamu" salah satunya menjawab
"biar aku yang urus" Aji Wiguna menengahi
"baik bos"
"lepaskan aku....mas Guntur" Haninayah memberontak sayangnya cekalan tangan Aji Wiguna begitu erat sampai membuatnya kesakitan
"lepaskan dia" ucap Fatahillah
"tidak sebelum kamu mematuhi perkataan ku Fatahillah Malik"
mendengar nama Fatahillah disebut oleh laki-laki yang sedang bersamanya, kini Haninayah mulai sadar kalau yang ada di depannya bersama Guntur adalah Fatahillah.
"apa maumu...?" tanpa basa-basi Fatahillah langsung bertanya
"bagaimana kalau kita bicara empat mata"
Fatahillah mengernyit heran, satu alisnya terangkat menatap Aji Wiguna yang mengajaknya berbicara empat mata saja. karena melihat Haninayah yang semakin kesakitan, Fatahillah akhirnya setuju.
"baiklah, mau bicara dimana...?"
Aji Wiguna tersenyum, ia pun memanggil Alex untuk menangani Haninayah agar tidak lepas sementara dirinya menyuruh Fatahillah untuk berbicara didekat mobilnya. Guntur tetap di tempatnya, ia harus memantau Haninayah jangan sampai tiga orang asing di depannya menyakiti wanita itu. sementara ibu Halima mengangkat paksa ibu Kamila masuk ke dalam mobil. sekuat tenaga ia mengangkat ibu Kamila, hanya di dalam mobil keduanya akan aman.
Fatahillah dan Aji Wiguna saling tatap, berjarak beberapa meter saja, Fatahillah menatap dingin laki-laki di depannya itu.
"jadi apa yang ingin kamu katakan...?"
"aku tau kamu adalah pemilik mustika merah, maka dari itu aku ingin meminta bantuan padamu"
Fatahillah mengangkat satu alisnya, hal yang baru saja ia dengar dari seseorang ingin meminta tolong karena ia memiliki mustika merah. meminta tolong... bukan mengajak bertarung.
"meminta tolong...?"
Aji Wiguna mengangguk. ia pun menceritakan mengapa dirinya sampai harus meminta bantuan kepada Fatahillah, demi membuka kunci tenaga dalam yang dikunci oleh Ki Demang gurunya sendiri.
"kalau ingin meminta bantuan ku lalu mengapa kamu menahannya...?" Fatahillah melihat ke arah Haninayah
"hanya berjaga-jaga saja, jika kamu tidak mau maka saya akan meminta mustika putih kepada wanita itu"
"baiklah, saya akan membantumu tapi sekarang lepaskan dia"
"kita deal...?" Aji Wiguna mengulurkan tangan
"deal" Fatahillah menerima uluran tangan Aji Wiguna
semua anak buah Faisal telah diselesaikan oleh Hasan dan Akmal dan juga Langon tentunya. kini mereka hendak menyerang Alex namun Fatahillah melarang keduanya.
"kenapa mas, lihat mbak Hani ada bersama mereka" tanya Akmal
Fatahillah menatap ke depan, Aji Wiguna kini melepaskan Haninayah seperti ucapannya tadi. Haninayah buru-buru melangkah menjauh dan mendekati Fatahillah. dirinya berdiri dibelakang keempat pemuda itu. sementara Langon, harimau putih itu telah menghilang setelah membantu Hasan dan Akmal sebab Fatahillah mengatakan kalau dirinya aman sekarang.
"Hani, kamu baik-baik saja...?" Guntur merasa khawatir
"aku baik mas, terimakasih telah berusaha menolong ku" jawab Haninayah
"jika kamu menipuku dan permintaan mu hanyalah trik untuk mendapatkan mustika merah, maka aku tidak segan untuk membunuhmu" ucap Fatahillah kepada Aji Wiguna
"tenang saja, aku bisa menepati janji" Aji Wiguna menjawab dan tersenyum