
Aji Wiguna sudah duduk di depan Fatahillah dengan membelakanginya. tanpa menggunakan baju, Fatahillah menyuruhnya seperti itu. sementara di ruang tengah, semua orang sedang menunggu keduanya untuk keluar dari kamar.
"kenapa mereka lama sekali" gumam Alex yang gelisah, takut terjadi sesuatu dengan Aji Wiguna
"kamu terlihat seperti khawatir sekali dengan Aji" Guntur berkata
"bagiku dia adalah teman sekaligus kakak buatku. aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia" timpal Alex
"nak Alex yatim piatu...?" tanya ibu Kamila. wanita baya itu sudah lebih baik sekarang. Haninayah terus berada di dekat ibunya, takutnya ibunya membutuhkan sesuatu
Alex diam sesaat, dirinya langsung termenung setelah mendengar pertanyaan dari ibu Kamila. kemudian ia bersuara menjawab "aku hidup di jalanan saat umur lima tahun. saat itu kedua orang tua Aji menemukanku saat aku sedang mencuri sepotong roti karena kelaparan. kalau bukan karena bantuan mereka, aku pasti sudah dianiaya oleh massa. sejak saat itu aku ikut bersama mereka, menemani kemanapun Aji Wiguna pergi, kami disekolahkan bersama sampai kedua orang tuanya kecelakaan dan...dan meninggal" raut wajah Alex terlihat murung saat mengingat orang tua Aji Wiguna yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri
"subhanallah, jadi nak Alex tidak tau orang tua kandung nak Alex dimana...?" tanya ibu Halima
Alex menggeleng pelan "bagiku orang tuaku sudah meninggal dan bagiku kedua orang tuaku, mereka adalah orang tua Aji Wiguna. aku tidak peduli dengan orang tua kandungku yang entah apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal"
Guntur menepuk pelan bahu Alex, ia merasa prihatin dengan status dari pemuda itu. "semuanya pasti ada hikmahnya, jalani dan tetap bersyukur" ucap Guntur
"mas Alex pasti menjadi adik kesayangan dari mas Aji, aku lihat sejak kemarin kalian begitu dekat" ucap Haninayah
Alex hanya tersenyum menanggapi, baginya Aji Wiguna begitu baik dan sangat baik padanya. meskipun terkadang jika keinginannya tidak terkabul, dirinya akan mengamuk dan selalunya memukul anak buah mereka sampai babak belur.
"lebih baik saya buatkan cemilan sambil menunggu mereka keluar" ibu Nining beranjak dari duduknya
"yang dingin-dingin ya bu, mumpung cuaca panas seperti ini, enaknya minum yang segar-segar" ucap pak Danang
"siap pak" ibu Nining menjawab
ibu Halima ikut beranjak dan menuju dapur untuk membantu kakak iparnya. tidak ingin berdiam diri saja, ibu Kamila ikut menyusul mereka. Haninayah pun tentunya ikut beranjak untuk menemani sang ibu.
"assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar
"wa alaikumsalam" pak Danang, Alex dan Guntur menjawab
Rangga baru saja pulang dari sekolah. dirinya menghempaskan tubuhnya di sofa di dekat sang ayah.
"capek banget kayaknya ngga" sapa Guntur
"banget mas, aku jalan kaki dari gang depan sampai sini. motor aku mogok, jadinya aku simpan di bengkel mas Fariz tadi. mau nunggu, tapi pelanggan mas Fariz banyak, jadinya ya terpaksa pulang jalan kaki. nggak mungkin aku nunggu sampai sore di sana" Rangga menjawab dengan nafas naik turun
"ganti baju sana terus makan. sudah sholat belum...?" pak Danang melirik anaknya
"sudah yah, di sekolah tadi" Rangga bangkit dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian
es buah tersedia di atas meja, lengkap dengan kue bolu yang dibuat oleh ibu Nining tadi pagi. siang hari itu mereka menunggu Fatahillah dan Aji Wiguna dengan minuman penyegar.
di dalam kamar Aji Wiguna terlihat berkeringat dingin. sudah satu jam mereka berada di dalam kamar namun belum juga ada tanda-tanda untuk selesai. tadinya Fatahillah berpikir kalau Ki Demang hanya mengunci kekuatan Aji Wiguna dengan ajian biasa saja. tidak di sangkanya, dirinya harus mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk menyembuhkan Aji Wiguna.
"Ki Demang ternyata begitu sakti" gumam Fatahillah
Fatahillah menutup mata, ia membawa Aji Wiguna ke dimensi lain. tempat dimana tidak ada seorangpun yang akan mengganggu mereka, karena sepertinya jika melakukan di dalam rumah, efeknya cukup besar sebab bisa saja akan ada sesuatu yang terjadi yang tidak diinginkan.
Fatahillah menotok titik syaraf dimana nanti Aji Wiguna tidak dapat bergerak. untuk berjaga-jaga jikalau nanti Aji Wiguna mengamuk maka dia tidak akan bisa menyentuhnya.
Fatahillah berpindah tempat duduk di depan Aji Wiguna. dapat ia lihat tubuh pemuda itu mulai berkeringat dan yang Fatahillah herankan adalah, tubuh Aji Wiguna dikelilingi asap hitam yang begitu pekat, setelah ia menyalurkan energinya ke tubuh pemuda itu.
"apakah karena itu dia tidak bisa menggunakan kekuatan miliknya" ucap Fatahillah
Fatahillah mulai berpikir, mungkin dengan menyerap energi hitam dari tubuh Aji Wiguna maka pemuda itu akan kembali normal. tentu saja asap hitam yang mengelilingi tubuh Aji Wiguna adalah energi hitam itu.
dengan menggunakan kekuatan mustika putih, tubuh Fatahillah diselimuti cahaya putih. saat menyerap energi mustika merah, dirinya tidak terluka sebab mustika putih melindunginya dan sekarang ia akan melakukan hal yang sama. tubuhnya terasa dingin dan Fatahillah merasakan kesejukan, sama saat pertama kali ia menggunakan mustika itu.
telapak tangan kanannya ia arahkan ke depan dan saat itu juga perlahan-lahan asap hitam itu di serapnya. bukan untuk memasukkan ke dalam tubuhnya namun hanya berkumpul di telapak tangannya dan nantinya ia akan menghancurkan energi hitam itu.
ughhh....
energi hitam diserap dan itu membuat Aji Wiguna kesakitan. tepat saat itu, asap hitam itu berubah menjadi duri yang begitu besar dan menancap di kulit tubuh Aji Wiguna. duri-duri tajam itu tertancap dalam di tubuh Aji Wiguna.
"astagfirullahaladzim" Fatahillah kaget luar biasa, apabila melanjutkan maka sudah pasti Aji Wiguna akan terluka namun jika tidak maka duri-duri itu akan semakin menggerogoti tubuhnya dan mungkin bisa saja membuat Aji Wiguna lumpuh dan meninggal sebab rupanya energi hitam itu adalah racun yang ditanamkan di dalam tubuh Aji Wiguna.
Fatahillah menghentikan semuanya, dirinya harus meminta persetujuan dari Aji Wiguna terlebih dahulu.
"kenapa berhenti...?" Aji Wiguna terlihat pucat padahal Fatahillah baru memulai sekian menit
"ada yang harus aku beritahu"
Fatahillah mengatakan apa yang membuat Aji Wiguna tidak dapat menggunakan kekuatannya dan hal itu sangatlah beresiko. jika tidak segera ditangani maka Aji Wiguna akan lumpuh dan meninggal namun jika dilanjutkan bisa jadi Aji Wiguna akan kesakitan dan tidak bisa menahannya, bisa juga dirinya akan terluka.
"lakukan saja, aku lebih baik terluka daripada meninggal karena energi hitam itu"
"kamu yakin...?"
"kenapa malah kamu yang ragu"
"bukan begitu, aku hanya kasihan padamu. semua ini berat"
"tetap lakukan, aku akan baik-baik saja. kalaupun nanti aku terluka setidaknya masih bisa dirawat dan diobati"
Fatahillah menghela nafas, dirinya bagai memakan buah simalakama. dirinya termenung beberapa saat hingga kemudian ia mendekati Aji Wiguna dan mengalungkan tasbih miliknya di leher pemuda itu.
"rasa sakit itu pasti ada namun setidaknya dengan tasbih ini, semoga Tuhan meringankan rasa sakitmu"
Fatahilah kembali mundur ke posisinya semula. Aji Wiguna menunduk untuk melihat tasbih itu. bibirnya tersenyum tipis dan segera ia mengangkat kepala.
"kita, mulai. kamu sudah siap...?"
"sangat siap" Aji Wiguna menjawab dengan yakin
kembali Aji Wiguna menutup mata dan energi hitam itu mulai terlihat lagi. Fatahillah mulai menyelimuti dirinya dengan energi mustika putih.
"bismillahirrahmanirrahim. aku hanya hamba biasa yang tidak ada apa-apanya dihadapanmu ya Allah, kekutan milikku tidak akan bisa menandingi kebesaran-Mu. semua yang manusia punya adalah milik-Mu, penyakit yang ada hanya Engkau yang bisa menyembuhkan. maka dari itu, aku hamba yang biasa ini, meminta kebesaran-Mu untuk membantuku, mengobati pemuda ini dan dengan izin-Mu dia akan sembuh"
setelah mengucapkan doa itu dalam hati, Fatahillah mengarahkan telapak tangan kanannya ke depan. asap hitam itu berubah menjadi duri yang menancap di tubuh Aji Wiguna. perlahan-lahan satu duri mulai bergerak untuk keluar dan saat itu juga Aji Wiguna menahan sakit. ia menggigit bibir sebab rasa sakit yang ia rasa. wajahnya mulai pucat, namun dengan bantuan dari tasbih Fatahillah, sakit itu tidak seperti pertama kali saat Fatahillah memulai tadi.
satu duri mulai keluar dan melayang-layang kemudian musnah saat itu juga. energi mustika putih langsung memusnahkan satu duri yang keluar itu. setelahnya menyusul satu duri lainnya, Aji Wiguna semakin berkeringat. apalagi setelah duri itu keluar dari kulitnya, maka darah mengucur dari tubuhnya.
ughhh
hampir tumbang dan terhuyung, untungnya Fatahillah memanggil Langon dan menahan keseimbangan Aji Wiguna. harimau putih siaga di depan pemuda itu, seperti dirinya yang selalu siaga menjaga Fatahillah.
aaaggghh
tidak dapat menahan sakit, meskipun tasbih Fatahillah telah meredakan rasa sakit itu sayangnya tetap saja Aji Wiguna kesakitan. bibirnya membiru dan ia ingin memberontak. untungnya tadi Fatahillah telah menotok titik syaraf tertentu sehingga Aji Wiguna tidak dapat bergerak, dirinya hanya mampu teriak menandakan kalau dirinya begitu kesakitan.
dari seluruh tubuh Aji Wiguna yang tertancap duri, kini tinggal setengahnya saja. semakin lama Aji Wiguna semakin lemah. Fatahillah merasa kasihan namun ia tidak bisa berhenti begitu saja. mereka telah sepakat untuk tetap melanjutkan meskipun Aji Wiguna akan terluka. itu adalah pilihan terbaik daripada pemuda itu menderita lumpuh nantinya.
"sedikit lagi, bertahanlah"
semakin lama duri-duri itu semakin habis dan Aji Wiguna pun semakin melemah. hingga kini tersisa satu duri lagi. Fatahillah nampak merasa aneh sebab satu duri yang tersisa itu bisa berganti warna dari hitam menjadi merah dan begitu seterusnya. bahkan untuk menariknya saja, Fatahillah merasa harus menambah kekuatan. tidak pilihan lain, Fatahillah menggunakan kekuatan cincin miliknya untuk membantunya. sinar biru yang keluar berubah menjadi tali dan melingkar melilit mengikat duri itu. Fatahillah menarik sementara Aji Wiguna pingsan saat itu juga.
"laahaula walakuwata illabillah... ALLAHUAKBAR"
tepat saat Fatahillah berhasil mencabut duri terakhir, Aji Wiguna terpental jauh untungnya harimau putih berhasil menangkap tubuhnya yang hampir saja akan membuat nyawa Aji Wiguna terancam. bahkan Fatahillah sendiri berkeringat, dadanya bergemuruh hebat, nafasnya naik turun. ia bangkit dan mendekati Langon yang sedang membaringkan Aji Wiguna di tanah.
"terimakasih Langon, kamu memang yang terbaik"
GRAAARR
darah terus keluar dari tubuh Aji Wiguna namun hanya sesaat itu, setelahnya luka-luka itu tertutup dengan sendirinya dan tidak ada bekas luka satupun di tubuh Aji Wiguna. Fatahillah takjub bahkan sulit percaya, namun ia merasa lega sebab Aji Wiguna dapat ia obati dan disembuhkan oleh yang Maha Kuasa.
"mas Fatah...mas masih hidup kan...? belum metong kan...?"
"hus...kamu ini Mal, kalau ngomong suka nggak injak rem" Nagita semakin gemas dengan tingkah Akmal
"maklum mbak, mulut aku remnya suka blong"
"kamu ini Mal, ada-ada saja" Hasan yang ternyata sudah sadar, ikut panik dan menghampiri mereka saat suara Akmal menggelegar di dalam rumah
Aji Wiguna belum sadarkan diri, Fatahillah menyelimuti pemuda itu kemudian ia melangkah mendekati pintu dan membukanya.
"mas Fatah" Akmal tanpa basa-basi langsung menarik tubuh Fatahillah dan memutarnya sesuka hati. mencari-cari apakah Fatahillah terluka atau tergores
sementara Alex langsung menerobos masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Aji Wiguna.
"kamu apa-apaan sih Mal, kamu pikir aku ikan kering apa" Fatahillah menepis tangan Akmal yang membuatnya berputar-putar dan dirinya hampir pusing
"aku khawatir loh mas, lagian ngapain coba aku panggil-panggil tapi nggak jawab. bikin orang risau saja. ku pikir tadi mas Fatah udah koit di dalam"
"bagaimana Aji Wiguna, dia baik-baik saja kan...?" tanya pak Danang
"Alhamdulillah pak, dia hanya butuh Istirahat saja" jawab Fatahillah
"syukurlah, kami begitu khawatir takutnya kalian berdua kenapa-kenapa di dalam" ibu Nining merasa lega
"nah kan, bukan hanya aku yang khawatir tapi kami semua"celetuk Akmal
Fatahillah meminta maaf telah membuat semua orang khawatir dan ia juga berterimakasih karena dirinya dan Aji Wiguna dipedulikan.
sore hari, pak Danang mulai melatih anak-anak muridnya di halaman belakang rumah dan ada juga yang berlatih di samping rumah dan mereka di latih oleh Guntur. Rangga ikut berlatih, setiap saat anak murid pak Danang datang untuk berlatih. Nagita dan Haninayah sedang bersantai di gazebo depan rumah, sementara para ibu, mereka sibuk memasak untuk makan malam.
Akmal menarik Fatahillah dan Hasan masuk ke dalam kamar. di sana sudah ada Aji Wiguna dan Alex. Aji Wiguna telah siuman setelah beberapa jam tadi dirinya tidak sadarkan diri.
"baiklah, saat ini kita harus rapat mendadak karena aku akan membahas hal yang sangat penting" ucap Akmal. kenapa dirinya masuk ke dalam kamar Aji Wiguna sebab Fatahillah telah memberitahu Akmal dan Hasan kalau Aji Wiguna akan membantu mereka
kening mereka mengkerut melihat ekspresi Akmal yang nampak serius.
"mau bahas apa sih Mal...?" tanya Hasan
"begini, sebelum kita ke inti pembicaraan, apakah mas Hasan sudah mulai enakkan...?" mas nggak sakit lagi kan...?"
"aku udah sehat hanya masih loyo saja. mungkin besok atau lusa insya Allah aku sudah pulih total"
"syukurlah"
"jadi apa yang ingin kamu katakan...?" tanya Fatahillah
"lihat ini mas"
Akmal mengambil ponselnya...bukan ponselnya, lebih tepatnya ponsel Nagita sebab ada yang ingin ia tunjukkan kepada mereka semua.
"nih... lihatlah" Akmal memperlihatkan sebuah foto yang ada di dalam ponsel itu
Fatahillah mengambil ponsel itu, Hasan merapatkan badan ke arah Fatahillah karena penasaran. Aji Wiguna dan Alex hanya saling tatap dan mengedikkan bahu.
"ini kamu Fatah" ucap Hasan
"lah...sejak kapan aku ke kondangan bareng kamu Mal. ada cewek cantik lagi"
"itu memang bukan kamu mas"
"lah terus...?" timpal Hasan
"dia adalah Gara, anak dari Gandha Sukandar dan cucu dari Samsir Sukandar"
tentu saja Fatahillah dan Hasan kaget, apalagi Fatahillah sendiri. sangat tidak percaya kalau yang ada di dalam foto itu adalah Gara, sepupunya.
"kamu tau darimana kalau dia adalah Gara...?" tanya Fatahillah
Akmal kemudian menceritakan bagaimana tadi dirinya ke acara pernikahan mantan Nagita dan di sanalah dia bertemu dengan Gara. pemuda itu berteman dengan pengantin pria dan bahkan menyebut nama dan daerah tempat tinggal pemuda yang bernama Gara tersebut.
"jadi benar dia adalah Gara...?" ucap Hasan
"kalian bahas apa sih...?" sekian menit melongo seperti orang bodoh, Aji Wiguna akhirnya bertanya
"coba lihat ini mas Aji, dia mirip dengan mas Fatah kan...?" Akmal mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Aji Wiguna
Alex merapat ingin melihat siapa sosok yang mereka maksud. saat melihat foto itu, kedua alisnya hampir bertaut, matanya menyipit sekian detik.
"bukannya ini Fatahillah ya...?" tanya Alex, ia memperhatikan foto laki-laki itu kemudian menatap Fatahillah
"lah iya, ini sih Fatahillah. lihat senyumannya saja sama" ucap Aji Wiguna
"itu bukan aku, sejak kapan aku ke kondangan bersama Akmal. dan juga wanita itu aku nggak kenal" timpal Fatahillah
"apa kamu punya kembaran...?" tanya Aji Wiguna
"aku anak tunggal"
"lah terus dia siapa kalau begitu...?" tanya Alex
"Gara" jawab Akmal
Fatahillah menarik nafas, bagaimanapun juga dirinya harus menceritakan yang sebenarnya kepada Aji Wiguna dan Alex jika dia ingin keduanya membantunya.
"jadi begini...."
Fatahillah mulai bercerita tentang kisah kehidupannya. Aji Wiguna dan Alex mendengarkan dengan serius, sesekali mereka saling tatap.
"jadi kamu mau balas dendam...?" tanya Aji Wiguna
"aku hanya ingin menyelamatkan ayahku dari mereka"
"dan kamu ingin kami membantumu...?"
"bukankah kita sudah sepakat tentang itu...? jangan berani mengikari janji jika kamu tidak ingin babak belur"
Aji Wiguna tertawa kecil, ia menggaruk hidungnya sedang memikirkan sesuatu.
"aku punya rencana" ucapnya dengan senyuman seringai
"hei... jangan tersenyum seperti itu mas, kamu seperti psikopat saja" Akmal bergidik melihat ekspresi Aji Wiguna
"sejak dari dulu aku memang psikopat, namun sepertinya aku akan insyaf. bukan begitu Alex...?"
"benar bos" jawab Alex
"jadi apa rencanamu...?" tanya Hasan
"tukar posisi" ucap Aji Wiguna, dengan serius ia menatap keempatnya
"tukar posisi...?" mereka semua berucap bersamaan, saling tatap dengan wajah bingung dan tidak mengerti
sementara Aji Wiguna mengangguk membenarkan, ia tersenyum tipis.
"maksudnya bagaimana ya...?" tanya Fatahillah menggaruk pelipis karena dirinya tidak mengerti