Fatahillah

Fatahillah
Bab 146



aksi yang dilakukan Alvin membuat Aji Wiguna juga Victor bersiap menahan serangan dari laki-laki itu. dua bola besar cahaya ungu dilesatkan Alvin ke arah dua pemuda yang ada di depannya.


Ketika itu Aji Wiguna membalas dengan melesatkan cahaya kuning, sementara Victor ia pun mengeluarkan apa yang ia punya. Tiga kekuatan itu saling beradu, masing-masing tuannya bertahan di posisi masing-masing.


Semakin lama kekuatan Alvin semakin mendominasi, mulai mendekati dua pemuda yang masih terus berusaha mempertahankan kekuatan mereka.


"TAHAN VICTOR" teriak Aji Wiguna.


Meski tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Aji Wiguna, namun Victor kini sekuat tenaga menahan serangan besar dari Alvin. Sementara Aji Wiguna membebaskan diri, berlari begitu cepat ke arah Alvin dan


sreeeet


sreeeet


Jleb


"AAAGGGHH BANGSAT"


Aji Wiguna melukai Alvin sehingga serangan yang ia lesatkan redup seketika. Bukan redup, melainkan Victor membalikkan serangan itu. ketika itu Alvin menghindar begitu juga dengan Aji Wiguna, jika tidak entah bagaimana nasib keduanya jika terkena serangan dari Alvin.


Satu cakaran di punggung, satu di dada dan tusukan di perut... membuat Alvin meringis sakit.


Kenapa kini dirinya mulai merasakan sakit padahal ia mempunyai ilmu kebal...?


itu karena Aji Wiguna menyerang tiba-tiba tanpa sepengetahuan Alvin, ketika itu Alvin tidak menggunakan ilmu kebalnya sehingga dirinya terluka oleh serangan kuku tajam dari Aji Wiguna.


namun apakah hal itu membuat Alvin tumbang...?


Sama sekali tidak, bahkan saat itu Alvin dapat menyembuhkan luka serangan dari lawannya. Sungguh tidak bisa dipercaya namun itulah kenyataannya. Alvin dengan mudahnya dapat menyembuhkan lukanya sendiri.


"tidak mungkin... bagaimana bisa" Aji Wiguna tentu saja kaget.


"kalian pikir hanya dengan serangan seujung kuku dapat menumbangkan diriku...? Dasar manusia bodoh, sudah aku katakan kalau kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan aku" Alvin tersenyum puas melihat lukanya telah sembuh.


Victor kebingungan begitu juga Aji Wiguna. Sudah berapa puluh serangan namun sama sekali tidak berpengaruh terhadap Alvin dan bahkan kini serangan luka luar pun dengan mudah ia sembuhkan.


"tidak ada manusia yang dapat mengalahkan kekuatan Tuhan bahkan iblis sekalipun. Ketika diciptakan maka manusia hanyalah hamba Allah yang tidak memiliki apapun. Terkecuali dua golongan. yaitu orang-orang yang diberkahi Tuhan dengan kemampuan yang berasal dari sang pencipta, biasanya disebut dengan ilmu laduni. Dan yang kedua adalah mereka yang mencari ilmu hitam, ilmu sesat yang biasanya bersekutu dengan iblis. Jikalau seperti itu, maka berarti Alvin memang bersekutu dengan iblis. Kalau Alvin saja sudah seperti ini, lalu bagaimana dengan Gandha Sukandar palsu itu. Sepertinya Gandha Sukandar palsu kekuatannya lebih tinggi lagi dari Alvin" Aji Wiguna membatin


"kalian kaget ya...? Oh ayolah jangan memasang ekspresi wajah seperti itu, karena menurutku kalian sangat begitu lucu dengan wajah ketakutan itu" Alvin menyeringai.


Ketika itu Aji Wiguna menatap lekat wajah Alvin. Senyuman di bibirnya terukir, kemudian Aji Wiguna mendekati Victor yang berdiri tidak jauh darinya. Aji Wiguna mendekatkan bibirnya ke telinga Victor dan membisikkan sesuatu.


"ooh...jadi kalian mulai merencanakan sesuatu. Tidak masalah, keluarkan semua strategi yang kalian ingin lakukan. Karena semuanya akan percuma"


"bukankah orang licik harus dihadapi dengan kelicikan...? Kami berdua belajar dari sikap licikmu itu. Jadi bagaimana, apakah siap melakukan pertarungan ronde kedua...?" Victor mengangkat satu alisnya sambil menggulung lengan baju yang ia pakai


"berapa ronde pun aku layani kalian" jawab Alvin dengan angkuhnya.


"baiklah, mari bertarung kembali" Aji Wiguna langsung melesat ke arah Alvin.


Kembali pertarungan terjadi lagi dan kali ini kekuatan mereka sama-sama seimbang. Ketika Alvin menyerang dan mengeluarkan serangan, Aji Wiguna serta Victor hanya menghindar. Begitu seterusnya sehingga membuat Alvin jengkel sebab seakan keduanya hanya mempermainkan dirinya.


"benar-benar cari mati kalian sialan" umpat Alvin.


ketika hendak melesatkan kekuatannya, Victor lebih dulu menyerang sehingga Alvin harus menghindar. Victor tidak memberikan kesempatan kepada Alvin untuk menyerang karena laki-laki itu sibuk menghindari serangan Victor. tanpa terasa mereka telah berada di pinggir pantai, di pasir putih yang dimiliki pulau bambu.


Sementara Alvin sibuk dengan Victor, Aji Wiguna menggunakan kesempatan itu memukul kepala Alvin dengan suara yang begitu lantang.


"Allahuakbar"


Bughhh


Satu pukulan itu membuat Alvin oleng. Dirinya terhuyung beberapa langkah dan akibat pukulan Aji Wiguna, Alvin mengeluarkan darah di hidungnya. Mereka yang hanya menonton pertarungan itu, ikut berlari ke arah pantai.


Bukan hanya sampai di situ apa yang dilakukan oleh Aji Wiguna. Ia pun menggenggam pasir di tangannya dan melempar ke wajah Alvin sehingga mata laki-laki itu kini dimasuki pasir membuat dirinya tidak dapat melihat.


"AAAGGGHH BRENGSEK.... KURANG AJAR"


kedua matanya perih, dan ia pun terus mengucek matanya berharap dapat melihat lagi. Sayangnya tidak segampang itu untuk mengeluarkan butiran pasir yang membuat kedua matanya semakin sakit.


tanpa pikir panjang Victor berlari dan melompat melayangkan tendangan bebas di kepala Alvin. Lagi-lagi laki-laki itu terhuyung dan kali ini jatuh di atas pasir.


karena penglihatannya yang bermasalah, Alvin menyerang membabi buta tanpa arah. Ia dengar begitu marah melesatkan serangan bertubi-tubi namun tidak berhasil mengenai lawannya walaupun hanya satu kali.


"hhh... rupanya kamu hanya manusia biasa meskipun memiliki ilmu kebal" ejek Victor.


Tenaganya terkuras karena ulahnya sendiri. Alvin pun mengambil pistol di balik jaketnya dan mengarahkan pistol itu ke arah lawan.


"salah bos...kami di arah 3 bukan arah jam 12" ucap Aji Wiguna.


Bagai orang bodoh yang mudah dikadali, Alvin kebingungan karena kedua matanya yang belum juga bisa melihat. Alvin yang kehilangan kendali langsung mengeluarkan tembakan dengan cara berputar sehingga semua orang menunduk agar tidak terkena tembakan.


Sayangnya tembakan itu berhasil mengenai lengan Aji Wiguna dan tentu saja darah mulai merembes keluar.


"mas Aji" Najihan hendak bergerak menghampiri Aji Wiguna, namun ditahan oleh Naomi.


"jika kamu pergi, maka semuanya akan bertambah sulit dokter Jihan"


"kalian tetap di sini" Samuel langsung berlari untuk membantu.


Luka yang didapatkan Aji Wiguna, Samuel mengikatnya dengan kain. Dengan begitu akan menghambat darah yang terus keluar.


Sementara itu, Alvin masih terus menembaki sekitar sampai peluru yang ada dipistolnya habis. kedua matanya mulai dapat melihat meskipun masih samar-samar. Akan tetapi Samuel tidak memberikan kesempatan kepada Alvin untuk menyerang sebab laki-laki itu langsung menendang tubuh Alvin tersungkur di pasir.


Alvin kembali berdiri, dirinya begitu marah tidak bisa melakukan apapun. Menyerang pun percuma karena ia tidak melihat jelas dimana arah lawannya. kesempatan kembali digunakan Aji Wiguna, membaca ayat-ayat Allah dan ia tiupkan di telapak tangannya. Setelah itu, Aji Wiguna berlari melompat dan melayang ke atas. Tepat di ubun-ubun Alvin, ia memberikan pukulan mematikan sehingga Alvin langsung muntah darah saat itu juga. Ilmu kebal yang dimiliki Alvin hancur seketika dan bahkan Alvin langsung mati di tempat.


Lenyap sudah manusia sombong itu. Alvin mati dengan kepala yang terbelah. Sungguh begitu miris, begitu mengerikan cara meninggal laki-laki itu.


"mas"


Najihan langsung berlari dan memeluk Aji Wiguna. ia menangis dipelukan suaminya itu, menangis karena kini Aji Wiguna terluka.


"aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil"


"luka kecil bagaimana, luka tembak seperti ini kamu bilang luka kecil. Untung hanya mengenai lenganmu, bagaimana jika tadi mengenai anggota tubuh mu yang lain, sudah pasti kamu akan sekarat" Najihan mengomel dengan derai air mata.


Aji Wiguna hanya tersenyum dan kembali menarik Najihan untuk dipeluknya. Mayat Alvin akan dikuburkan di pulau itu. Ketika mereka hendak pergi ke villa, suara seseorang menghentikan langkah mereka semua.


"wooooi....kami kembali"


Lambaian tangan dari seseorang yang sedang berlari ke arah mereka, membuat senyuman di wajah Aji Wiguna terukir. Mereka adalah rombongan Hasan, Yusrif juga Tegar serta Gara Sukandar.


"bos" teriak Yusrif


Aji Wiguna membalas lambaian tangan itu. Hingga mereka semakin dekat, mereka langsung berpelukan.


"loh Gara, bukannya kamu harusnya ikut bersama Alex dan Akmal, kenapa malah bersama mereka...?" Samuel mengernyitkan dahi.


Bukan hanya Samuel yang bingung namun Aji Wiguna juga pak Nanto dan istrinya terlihat kebingungan. Gara hanya tersenyum dan beralih menatap mayat Alvin yang terkapar di pasir.


"Alvin...?" seketika Gara terkejut dan mendekati mayat itu. "dia Alvin, kenapa bisa seperti ini...?" Gara menatap semua orang. Sungguh tidak percaya, laki-laki itu mati dengan cara mengenaskan.


"dia penghianat" Victor yang menjawab.


"sebaiknya kita bawa saja dan menguburnya. Bagaimanapun kita tidak mungkin membiarkan mayat ini tetap berada di sini" ucap pak Nanto.


"bawa ke villa saja" perintah Gara.


Mayat Alvin telah selesai dikuburkan dan semua anak buah Gandha Sukandar palsu dikurung di dalam gudang. Sementara Diandra, wanita itu sedang terbaring di sofa dengan tubuh terikat. Najihan telah selesai mengobati luka Aji Wiguna, mereka kini tengah berkumpul.


"apakah kamu Gara yang asli...?" tanya Aji Wiguna.


"kamu sudah lupa denganku...?" Gara menaikkan alisnya.


"tunggu sebentar, maksudnya bagaimana. Ada apa dengan pertanyaan mu itu...?" Samuel kebingungan, Naomi juga semua orang terkecuali yang sudah mengenal Gara Sukandar.


"sebenarnya begini Sam, aku mempunyai saudara kembar yang bernama Fatahillah yang selama ini menyamar menjadi aku di gunung Gantara"


"hah...?" Samuel melongo


"kembar...?" Naomi terkejut.


"iya, dia adalah saudara kembarku dimana kami terpisah saat masih bayi. Namanya Fatahillah Malik, kami berdua anak dari ibu Laila Sari dan pak Amsar. Dan mereka ini" Gara beralih menatap empat pemuda yang bersama mereka saat itu. "mereka adalah sahabat Fatahillah. Ketika aku pergi ke wilayah X, aku bertemu dengan mereka dan mereka lah yang menyelamatkan aku dari pembunuhan yang direncanakan Gea padaku"


"sejak saat itu aku mengetahui kalau ternyata selama ini aku mempunyai saudara kembar. Kamu tau kan kalau aku ini sedang sakit. Maka dari itu untuk mengobati diriku, aku ke gunung Sangiran"


"ke tempat kiayi Zulkarnain...?" tanya Samuel.


"bukan, tapi ke tempat guru Halim...guru dari Fatahillah. aku tinggal bersamanya juga dengan ibu kandungku, ibu Laila. Dan yang menggantikan posisiku di sini adalah Fatahillah"


"Fatahillah" Samuel menggaruk pelipis.


"jadi menurut mas Fatah bagiamana...?"


"itu adalah nama yang ia sebutkan saat kami bertemu di kota X. jadi karena terbiasa makanya sampai sekarang kami memanggilnya dengan nama itu"


"jadi dimana tempatnya...?"


"di tempat biasa kita mengadakan rapat, masa iya kamu lupa"


"gedung apa ini...?"


"astaga Gara, ini kan gedung perusahaan kamu yang ada di wilayah X. akhir-akhir ini sikapmu aneh sekali"


"berarti yang pergi bersama Alex dan Akmal, itu adalah Fatahillah...?" tanya Najihan.


"iya"


"aaaaaa kurang ajar.... lepaskan aku sialan, lepaskan"


Teriakan Diandra membuat mereka semua terkejut. Wanita itu memberontak di atas sofa karena tubuhnya yang terikat.


"berisik banget sih kamu, malah suaranya bikin sakit telinga. itu mulut apa toa" Yusrif menutup kedua telinganya karena teriakan Diandra.


"LEPASKAN AKU...LEPASKAN"


"ada lakban nggak sih" tanya Yusrif.


"untuk apa den...?" pak Nanto datang membawakan mereka minuman juga kue bolu.


"mau lakban mulut wanita jahanam itu"


Diandra seketika langsung mengumpat Yusrif dengan kata-kata kasar, namun pada peduli Yusrif tentang makian wanita itu. Ketika pak Nanto datang lagi membawakan lakban, dengan cepat Yusrif melakban mulut Diandra. Tatapan tajam bagai menusuk yang dilayangkan Diandra.


"mau aku lakban juga matanya...?" bukannya takut, Yusrif malah ingin melakukan hal miris.


"udah, dia kan sudah nggak bisa bicara lagi. Duduklah, jangan sampai kamu darah tinggi" Tegar menarik tangan Yusrif dan mendudukkannya di sampingnya.


"sekarang berarti kita harus menyusul Fatahillah, Alex dan Akmal" ucap Hasan.


"kita memang harus segera ke sana untuk menyelamatkan pak Amsar dan juga bos Gandha yang asli. Aku tau dimana tempatnya, karena hal itu maka aku hendak dibunuh. Terimakasih banyak pak Nanto sudah menyelamatkan nyawa saya" ucap Victor.


"sama-sama den, ternyata wajah baru den Victor sama tampannya dengan wajah sebelumnya. dulu saat aku ke rumah sakit, ternyata Aden sudah dibawa ke luar negeri untuk melakukan pengobatan" pak Nanto menjawab.


"iya, dan ketika pulang aku bertemu kakek tua yang mengajariku berbagi hal. Aku sangat bersyukur masih bisa selamat"


"apa sebaiknya kita tidak pergi sekarang saja...?" ucap Samuel.


"yang paling baik lagi, sebaiknya kita makan terlebih dahulu baru setelah itu berangkat. Perutku sejak tadi keroncongan meminta makan" Yusrif mengelus perutnya.


"ck, kamu ini" Tegar menggeplak kepala temannya itu.


"tapi kan memang aku lapar" rengeknya.


"makanan sudah siap, ayo kalian makanlah" ibu Nani datang memanggil mereka.


"masya Allah, rejeki anak soleh memang nggak kemana" Yusrif melompat dari sofa dan berlari kecil ke arah meja makan.


"astaga anak itu, memang dasar" Hasan geleng kepala.


_____


"mas bagaimana caranya kita bisa masuk ke sana" ucap Akmal.


Mereka telah sampai di wilayah perkebunan ganja. kini mereka sedang mengintip dari dalam rumah yang ditempati oleh Gandha Sukandar palsu. Di luaran sana, hampir ratusan orang berkeliaran mengerjakan pekerjaan mereka.


"kamu pergilah dan temui Alex, aku tetap akan bersembunyi agar tidak ketahuan. Mungkin bisa juga menyamar menjadi pekerja di sini"


"baiklah, mas harus hati-hati. Aku pergi dulu"


Mereka berpisah di tempat itu. Akmal melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu dan membuka pintu rumah. dua netra matanya menelisik sekitar, ia tidak tau dimana keberadaan Alex maka dengan begitu berarti dirinya harus bertanya kepada siapa saja yang ia temui.


Ketika itu, Akmal menginjakkan kakinya di tanah. Mendekati beberapa orang laki-laki yang sedang duduk meminum kopi dan juga menikmati rokok mereka.


"permisi, apakah kalian melihat mas Alex...?"


Empat orang itu memutar kepala bersamaan dan melihat Akmal dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"untuk apa mencari pak Alex...?" tanya salah seorang.


"saya adiknya dan saya anak buah Gandha Sukandar pengganti Victor bersama kakak saya. Jadi Apakah kalian tau dimana kakak saya...?"


"pengganti Victor...?" mereka nampak terkejut dan langsung berdiri.


"dia sepertinya berada di tempat pengepakan barang bersama Utami. Mas bisa Cari saja ke sana, atau kalau tidak mas bisa bertanya kepada beberapa wanita yang ada di sana" orang itu menunjukkan tempat nongkrong para wanita penghibur di tempat itu. "cari yang namanya Sofia, karena dia adalah kekasih kakakmu"


Mendengar itu, mata Akmal membulat dengan mulut ternganga. "kekasih kakakku...?" Akmal bertanya ingin memastikan.


"iya, Sofia wanita paling cantik di tempat ini adalah kekasih dari pak Alex"


"oh baiklah, terimakasih kalau begitu"


Mereka mengangguk, setelahnya Akmal berjalan untuk mendekati para wanita yang sedang berkumpul dengan tawa yang riang. Semakin dekat Akmal semakin geleng kepala, rupanya Gandha Sukandar menyiapkan para wanita untuk melayani pekerjanya.


"kerasukan setan apa mas Alex sampai memilih wanita di tempat ini" gumamnya yang semakin dekat dan akhirnya berhenti di tempat itu.


"permisi mbak, adakah di sini yang bernama Sofia...?"


Suara pemuda itu membuat suasana menjadi hening. Ketika melihat Akmal, mereka terpesona dengan ketampanan yang ia miliki. Apalagi cara berpakaian Akmal hampir sama dengan Alex, laki-laki yang membuat mereka kesemsem namun sudah diberi label tanda kepemilikan oleh Sofia.


"kamu mencari Sofia...?" salah seorang berdiri dan mendekati Akmal. Dadanya yang besar sengaja ia tempelkan di lengan Akmal. Mungkin sengaja membuat Akmal terangsang namun malah sebaliknya, Akmal malah menjauh.


"idih...jual mahal amat mas. Di sini banyak yang cantik selain Sofia loh mas. Kami juga bisa melayani mas sampai malam dan sampai pagi lagi" wanita itu kembali mendekati Akmal, bagai ulat bulu yang kegatelan.


"aku hanya ingin Sofia, jadi mana yang bernama Sofia...?" Akmal tidak mempedulikan wanita yang sedang mencari perhatian darinya itu.


"Sofia sudah mempunyai kekasih, lebih baik sama kami saja" wanita lainnya berdiri dan ikut bergelayut manja di lengan Akmal.


"aku katakan sekali lagi mana yang bernama Sofia, atau kalian mau bersamaku tapi kalian semua berakhir dikuburan....?" Akmal tersenyum menyeringai.


"hahaha...masnya lucu deh. Aku mau dong mas, tapi bukan dikuburan...aku maunya kita berkelahi di ranjang" wanita itu mulai berani menjilati telinga Akmal.


Dengan kesalnya Akmal mendorong tubuh wanita itu untuk menjauh darinya. Wajah dingin dan tatapan tajamnya membuat mereka saling tatap dan wanita satunya kembali ke kursinya.


"mana yang bernama S O F I A...?"


"aku tidak tertarik padamu karena aku sudah mempunyai kekasih. Jadi pergilah atau pilih yang lain saja" Sofia yang tadinya hanya diam, kini bersuara.


Satu suara itu, Akmal menatap dan menguncinya dengan tatapan mengintimidasi. Sofia membuang wajah karena gugup.


"kamu pikir aku tertarik padamu...? Tunanganku bahkan jauh lebih cantik darimu dan dari kalian semua. Aku tidak tertarik dengan permen yang sudah dibuka bungkusannya sehingga banyak semut yang merangkak mendekati dan menjilati mereka, aku lebih tertarik dengan permen dimana masih terbungkus dengan rapi"


ucapan menohok itu, membuat mereka semua diam. Sofia berdiri dengan memperlihatkan kemarahan di wajahnya.


"lalu untuk kamu kemari jika tidak tertarik dan mencari ku tuan...?" Sofia membalas dengan sinis.


"Akmal"


Suara yang terdengar membuat semua orang menoleh, Alex datang dan melambaikan tangan kepada Akmal.


"kenapa malah di sini...?" tanya Alex ketika ia telah berada diantara mereka.


"aku hanya mau bertanya kepada mereka dimana keberadaan mas Alex. Tadi aku bertanya kepada laki-laki yang ada di sana dan mereka bilang datang ke tempat ini dan bertanya langsung kepada yang bernama Sofia sebab dia adalah pacar mas Alex. Ya aku ke sini saja"


Sofia membulatkan mata dan menelan ludah, rupanya benar jika pemuda itu sama sekali tidak tertarik padanya dan ternyata Akmal mencari dirinya hanya untuk menanyakan keberadaan Alex.


"pacar mas Alex cantik juga ya. Kenalkan mbak, aku Akmal adiknya mas Alex" Akmal tersenyum ke arah Sofia, lebih tepatnya tersenyum sinis.


sementara para wanita itu kaget, rupanya yang mereka goda adalah adik dari tangan kanan Gandha Sukandar. Mereka menunduk dan tidak berani bertingkah lagi.


"itu tidak penting, ayo ikut aku" Alex menarik tangan Akmal untuk menjauh.


Sebelum benar-benar jauh, Akmal masih sempat melihat ke arah Sofia yang juga sedang melihat mereka. Dengan sengaja Akmal menempelkan jari telunjuk di lehernya, memeragakan seperti orang yang sedang menggorok leher seseorang.


Ketika itu Sofia langsung bergidik dan menelan ludah, ekspresi wajah Sofia itu membuat Akmal tertawa di dalam hati.


Benar-benar dah si Akmal ini....


"dimana Fatahillah...?" tanya Alex dengan pelan.


"di rumah besar itu"


"sebentar malam kita harus melakukan sesuatu"


"apaan...?"


"ke tempat rahasia, Sofia akan menunjukkan jalannya"


"memangnya dia tau...? Dan memangnya benar mas pacaran dengan wanita itu...? Yang benar aja dong mas, lalu si Jeni bagaimana...?"


"ck kamu ini, ngapain bawa nama anak orang segala"


"ya habisnya mas Alex malah memilih Sofia daripada Jeni. Aku nggak setuju tau, pokoknya titik nggak setuju"


"idih...siapa kamu"


"adik mas Alex lah, siapa lagi"


Alex terkekeh dan membuka topi yang dikenakan Akmal kemudian mengacak rambut pemuda itu.


"janganlah mas, nanti ketampananku yang membahana ini hilang" Akmal mengambil kembali topinya dan memakainya.


"sudah, tidak perlu memikirkan Sofia atau Jeni untuk saat ini. Yang lebih penting kita harus bersiap sebentar malam. Ayo masuk dan bantu Utami"


Alex mendorong punggung Akmal pelan untuk memasuki gubuk yang dijadikan tempat pengepakan barang.