Fatahillah

Fatahillah
Bab 58



Anisa yang mencari tempat persembunyian setelah menghubungi Yusuf. ponsel yang ia curi dari rumah yang besar dan megah, agar dapat menghubungi Yusuf ataupun Fatahillah. namun karena yang ia ingat adalah nomor teman sesama dokter itu, maka ia menghubungi Yusuf.


Anisa memilih bersembunyi di sebuah tong sampah yang ada di depan sebuah Indomaret. tidak ada tempat persembunyian yang ia lihat selain di situ. bagaimanapun caranya ia harus aman sampai Yusuf datang.


"selamatkan aku Tuhan, aku belum ingin mati" tangannya yang gemetar ia remas seperti seseorang yang begitu frustasi


begitu takut untuk kembali ke rumah itu apalagi sampai tau bahwa darahnya akan diambil dan itu berarti dirinya akan di bunuh. masih jelas diingatkannya bagaimana ia melihat ekspresi seorang wanita cantik yang sedang tersenyum ke arahnya namun begitu mengerikan baginya.


ponsel Anisa kembali bergetar, Yusuf menghubunginya. Anisa segera mengangkat panggilan dokter muda itu.


(halo Yus, apakah kamu sudah sampai...?)


(aku masih di jalan, kamu bersembunyi dimana...?)


(di tong sampah depan Indomaret. cepatlah Yus, aku takut sendirian di sini)


(tenanglah, aku akan segera sampai. jangan matikan ya, aku akan menemani kamu mengobrol)


(Yusuf selalu ada untuk aku selama ini. apa selama ini aku telah salah mengagumi laki-laki) batin Anisa


(Nisa, kamu masih di sana kan...?)


(iya, aku masih menunggu kamu di sini)


(kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku akan menyelamatkanmu. percayalah)


braaaakkk


"aaaaaa"


Anisa berteriak kaget karena tiba-tiba saja tong sampah tempat persembunyiannya melayang terbang jauh akibat seseorang yang menendangnya. seorang laki-laki tersenyum menyeringai ke arahnya sementara ia dapat melihat seorang wanita sedang bersandar di mobilnya.


(Anisa...apa kamu baik-baik saja. halo Nis, Anisa)


Anisa semakin gemetar, ia beringsut mundur menyeret tubuhnya. ponselnya tadi masih berada di tangannya namun ia tidak lagi berani menjawab Yusuf.


laki-laki itu mencengkram wajah Anisa dan


plaaaak


plaaaak


dua kali tamparan keras mendarat di wajah cantiknya. sementara wanita yang sedang berada di mobilnya dengan santai meneguk minumannya yang berada di dalam gelas kaca.


"aaaggghh... lepaskan aku" Anisa teriak kesakitan karena laki-laki itu menarik rambutnya dan menyeretnya ke arah Samantha Regina


(Anisa...halo... Anisa)


Yusuf berteriak memanggil nama Anisa. laki-laki itu menghempas dengan kasar tubuh Anisa dan mengambil ponsel itu.


(datang dan bawa mustika merah jika ingin wanita ini selamat)


(BRENGSEK...AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA KAMU MENYENTUHNYA)


tuuuuuuut


(halo...halo)


"aaaggghh SIALAN" Yusuf membanting ponselnya


"kenapa Yus...?" tanya Fatahillah


mereka menggunakan satu mobil sementara mobil Hasan di tinggalkan di rumah Yusuf.


"cepatan Zan, mereka menemukan Anisa" ucap Yusuf dengan nafas yang memburu


Fauzan langsung menginjak gas dan melajukan mobil dengan cepat. jalanan yang lenggang membuat dirinya Leluasa untuk mempercepat laju kendaraannya.


sementara Anisa kini sedang semakin dalam ketakutan. ia takut saat itu juga dirinya akan di bunuh oleh Samantha Regina.


"gara-gara Wiratama belum datang, aku harus turun tangan sendiri mengejar mangsaku. ini benar-benar melelahkan tapi juga menyenangkan" Samantha mengelilingi tubuh Anisa yang sedang meringkuk ketakutan


praaaaaang


gelas minumannya sengaja ia jatuhkan dan pecah. ia duduk dan mengambil pecahan gelas itu. mengambil yang paling besar dan pastinya runcing dan tajam. Samantha Regina berjongkok di depan Anisa dan mencengkram wajahnya.


"bagaimana jadinya kalau wajah cantik ini aku beri sedikit goresan. sepertinya kamu akan terlihat..... sangat cantik" Samantha mengelus wajah Anisa dengan pecahan gelas yang ada di tangannya


"a-apa maumu...?"


"bukannya kamu sudah tau apa mauku" Samantha tersenyum menyeringai


"jangan bunuh aku...aku mohon"


"hahaha.... hahaha"


Samantha berdiri dan tertawa keras. ia bertepuk tangan seakan begitu sangat bahagia.


"aku sangat suka melihat ekspresi wajahmu itu. kamu tau baru kali ini ada seorang wanita yang memohon kepadaku untuk tidak aku bunuh. padahal jika gadis-gadis lain, aku tawarkan uang dan mereka dengan senang hati menyerahkan diri kepadaku" Samantha duduk di depan mobilnya dan menyilangkan kakinya


"pemuda yang bernama Fatahillah itu temanmu bukan...?"


"bukan...kami tidak berteman" Anisa menggeleng cepat, ia tidak ingin mereka mencelakai Fatahillah


"kamu yakin dia bukan temanmu...?" Samantha mengangguk satu alisnya


"dia bukan siapa-siapa, jadi aku mohon jangan sakiti dia. yang kalian cari tidak ada padanya, mustika merah itu tidak ada padanya. jangan celakai dia, aku mohon"


"hhh... lihatlah. kamu bilang kalian tidak berteman namun kamu begitu menghawatirkan dirinya. dia lucu ya" Samantha melihat ke arah anak buahnya


"dia cantik" jawab laki-laki itu menatap Anisa


Samantha Regina tersenyum kemudian melompat ke bawah.


"bawa dia Kemal, sebelum kamu menikmati tubuhnya aku harus lebih dulu mengambil darahnya" Samantha Regina masuk ke dalam mobilnya


anak buah Samantha yang bernama Kemal itu, menjambak rambut Anisa dan memaksanya untuk berdiri. dengan menahan sakit, Anisa mengikuti langkah Kemal.


beberapa anak buah Samantha yang lain menunggu Kemal di mobil. berjarak beberapa meter lagi, Anisa mengayunkan tendangan ke ************ Kemal. laki-laki itu berteriak sakit melepaskan tangannya dari rambut Anisa. Anisa menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.


"kejar bangsat...kenapa hanya melihat saja" teriak Kemal


anak buah Samantha Regina langsung melesat mengejar Anisa. Samantha yang belum jauh dari tempat itu, mendengus kesal karena Kemal tidak bisa dapat diandalkan.


"Wiratama memang tidak dapat digantikan" gumam Samantha "wanita ini membuatku muak" lanjutnya lagi


Samantha memutar arah mobilnya dan menginjak gas. sementara Anisa berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri dari kejaran anak buah Samantha.


dibandingkan dengan lari kaki manusia, lari mobil yang dikendarai Samantha jelas lebih cepat. wanita itu menghalangi Anisa dengan mobil miliknya. Anisa gelagapan dan kembali ke belakang namun anak buah Samantha kini semakin dekat dengannya.


Samantha turun dari mobil dan mendekati Anisa. Anisa berlari ke arah kiri bermaksud masuk ke dalam gang namun tubuhnya langsung melayang dengan cepat dan


grab


satu tangan Samantha berhasil mencekik leher Anisa. Anisa meronta-ronta sayangnya ia tidak dapat mengalahkan kekuatan Samantha Regina.


swing


swing


braaaakkk


bugh


serangan mendadak dari arah depan membuat Samantha terpental menghantam mobilnya, sementara Anisa jatuh terkulai lemas di tanah.


"tidak ku sangka ternyata pelakunya adalah seorang wanita" ucap Fatahillah


Samantha bangkit dan merenggangkan otot-ototnya. melihat Fatahillah datang, ia tersenyum menyeringai dan berjalan anggun mendekat anak buahnya. ia berdiri di depan semua anak buahnya.


"Fatahillah Malik, akhirnya kita berjumpa di sini. rupanya kamu tampan juga ya" Samantha tersenyum


"lepaskan wanita itu. yang kamu cari adalah aku bukan" ucap Fatahillah


"no" Samantha menggerakkan telunjuknya di depan "dia tentu aku butuhkan" lanjutnya


Samantha mengarahkan telapak tangannya ke arah Anisa dan seketika tubuh Anisa melesatkan dengan cepat di cekik kembali oleh Samantha.


"kurang ajar, lepaskan dia wanita busuk" Yusuf mulai meradang dan hendak menyerang


"diam di tempatmu atau aku patahkan lehernya" ancam Samantha


Yusuf menghentikan langkah dan mundur. ia tidak ingin gegabah dan membuat Anisa celaka. kedua matanya menatap sendu Anisa yang kesakitan.


"akan aku serahkan mustika merah tapi kamu serahkan wanita itu" ucap Fatahillah


"hmmm...kamu ingin melakukan barter rupanya" Samantha tersenyum dan melepaskan tangannya dari leher Anisa


Anisa terbatuk-batuk dan jatuh ke tanah. di lehernya, membekas tangan Samantha yang sepertinya begitu keras mencekik lehernya.


"baiklah, mari kita barter. sekarang tunjukkan mustika merah itu" ucap Samantha


Hasan memberikan sebuah kotak berwarna coklat kepada Fatahillah. kotak yang terbuat dari kayu dengan ukiran indah dan cantik. Fatahillah mengambil kotak itu dan membukanya. sebuah benda bulat berwarna merah menyala, terlihat setelah Fatahillah membuka kotak itu.


"itu mustika yang bos cari" ucap Kemal


senyuman Samantha semakin mengembang. ia begitu fokus melihat benda yang berwarna merah itu. tidak mengeluarkan cahaya hanya saja mustika itu seperti bersinar di dalam.


"mustika ini yang kamu cari bukan. benda ini akan menjadi milikmu namun dengan satu syarat. lepaskan wanita itu untuk kami" ucap Fatahillah


Fatahillah melirik ketiga temannya dan menyunggingkan senyum. sementara yang lain hanya tersenyum tipis.


"aku ingin merasakan terlebih dahulu apakah itu palsu atau bukan"


"silahkan saja"


Fatahillah maju ke depan dengan kotak mustika di tangannya sementara Samantha ikut maju ke depan membawa Anisa. keduanya bertemu di tengah-tengah dengan jarak satu langkah.


Fatahillah memberikan kotak itu kepada Samantha. tentu saja dengan senang hati Samantha menerimanya. ia kemudian mengambil mustika itu dan menutup mata. dirinya ingin merasakan energi mustika tersebut. setelah membuka mata, senyumannya semakin mengembang karena ia merasakan ada energi yang dicarinya di mustika itu.


"baiklah, ambil kembali wanita ini. aku tidak membutuhkannya lagi" Samantha mendorong Anisa


Yusuf segera berlari dan mengambil alih Anisa dari pelukan Fatahillah. wanita itu kini telah berada dalam gendongan Yusuf dan membawa ke dalam mobil.


"jika ini palsu, akan aku cari kamu sampai ke ujung dunia Fatahillah Malik" Samantha menatap Fatahillah dengan mata tajamnya


"bukannya kamu merasakan adanya energi yang kuat di mustika itu lalu kenapa sekarang kamu ragu kalau itu adalah palsu"Fatahillah bersikap tenang


"baiklah, sekarang aku juga tidak membutuhkanmu lagi" Samantha berbalik berjalan meninggalkan Fatahillah


"kita pergi" ucap Samantha kepada semua anak buahnya


setelah kepergian Samantha dan para antek-anteknya, Fatahillah merdeka semua orang yang kini telah berada di dalam mobil. mereka semua masuk ke dalam mobil. Fauzan yang akan menyetir dan Fatahillah duduk di sampingnya sementara Yusuf sedang mendekap Anisa saat ini karena wanita itu kini pingsan. Hasan duduk di samping Anisa.


"rencana kita berhasil" ucap Fatahillah


rupanya sebelum mereka sampai, keempatnya membuat rencana untuk mengelabui musuh dengan membuat mustika merah palsu. Fatahillah sedikit mentransfer energi mustika merah kepada mustika merah yang palsu agar seseorang yang menginginkannya dapat yakin kalau mustika itu adalah mustika merah yang asli, hanya dengan merasakan energinya.


mustika palsu tidak mengeluarkan cahaya berwarna merah sementara mustika asli mengeluarkan cahaya merah. mustika asli bersemayam di dalam tubuh Fatahillah sebagai tuannya, tidak di simpan di dalam kotak. hal yang belum mengetahui itu tentunya akan terkelabui.


"kita ke rumah sakit Zan" ucap Yusuf


"baik" jawab Fauzan


setibanya mereka di rumah sakit, Hasan keluar dan membukakan pintu mobil agar Yusuf dapat leluasa untuk keluar dengan menggendong Anisa. dengan langkah cepat mereka masuk ke dalam rumah sakit. Yusuf membawa Anisa ke ruang perawatan dan akan memeriksa kondisi wanita itu. sementara tiga lainnya menunggu di ruang tunggu.


"bagaimana nanti kalau wanita itu tau kalau mustika itu ada palsu" Fauzan mengawali percakapan mereka


"setidaknya Anisa sudah bersama kita. jika dia tau maka terserah saja. aku siap menunggu serangannya kapan saja" jawab Fatahillah


"tapi apakah kalian tidak merasakan. ada energi besar yang dimiliki oleh wanita itu" ucap Hasan


"aku tau. melihat matanya saja aku dapat merasakan aura yang berbeda darinya. aku yakin dia bukan wanita sembarangan. tidak ku sangka ternyata salah satu musuhku adalah seorang wanita" ucap Fatahillah


"andai tadi kita bertarung, aku yakin Fatah, kekuatan kalian pasti seimbang" ucap Fauzan


Fatahillah menghela nafas dan mengelus cincin yang ia pakai.


"bagaimana caranya agar ibu dapat menceritakan apa yang belum aku ketahui. saat memperlihatkan foto yang aku ambil dari rumah kiayi Anshor, ibu marah padaku"


"apa ada yang tidak aku ketahui...?" tanya Fauzan


Hasan akhirnya menceritakan apa yang mereka alami saat di kota B. Fauzan mendengar dengan seksama dan manggut-manggut.


"jadi kamu sudah melihat keduanya di dalam mimpimu...?" tanya Fauzan


"iya. entahlah...aku merasa begitu dekat dengan wanita itu. dia memanggil namaku dengan sebutan Firdaus. sementara kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain tidak ingin bercerita dan mereka menyuruhku untuk mendengar semuanya dari cerita ibuku. aku penasaran apa sebenarnya yang ibuku sembunyikan"


"bagaimana kalau ternyata wanita itu adalah ibumu Fatah" ucap Hasan tiba-tiba


"maksud kamu...?" Fatahillah menoleh ke arah Hasan


"maaf kalau aku lancang, tapi itu hanya pemikiran ku saja. tapi coba kamu pikirkan lagi. keduanya hadir dalam mimpimu dan ternyata keduanya adalah teman dari kedua kiayi di pesantren Abdullah. dan yang harus kamu ingat, bukankah kiayi Anshor mengatakan kalau pemilik cincin itu masih hidup dan yang dapat menyelamatkannya hanyalah keturunannya sendiri. sementara cincin itu diberikan kepadamu dan mereka menginginkan kamu menanyakan keduanya kepada bibi Khadijah. itu artinya bibi Khadijah tau tentang sepasang suami istri itu. bisa jadikan mereka berdua adalah orang tuamu namun karena suatu insiden maka bibi Khadijah yang menjadi ibumu sekarang. maaf, itu hanya pemikiran ku saja" jawab Hasan


"apakah ada foto dari keduanya bersama anak mereka...?" tanya Fauzan


"ada...bahkan aku membawanya" jawab Fatahillah


"kalau begitu gampang saja. tinggal cari foto pada masa kecilmu dan cocokan wajahmu dengan wajah anak kecil itu. jika sama berarti memang benar apa yang dikatakan Hasan dan memang benar juga apa yang kamu katakan kalau bibi Khadijah menyembunyikan sesuatu darimu" ucap Fauzan


"kalian benar, aku harus mencari informasi tentang mereka dan diriku" ucap Fatahillah


" bagaimana kalau kita pulang ke rumahmu setelah ini" usul Hasan


"baiklah, lebih cepat lebih bagus. aku benar-benar dibuat semakin penasaran sekarang" jawab Fatahillah


Fatahillah semakin bersemangat untuk mencari tahu. sejak kedua orang itu hadir dalam mimpinya, rasa penasarannya untuk mengetahui siapa mereka benar-benar besar.


"lalu kapan kita akan ke kota X untuk bertemu Haninayah...?" tanya Fatahillah


"selesaikan dulu urusanmu di sini, aku akan menghubungi Haninayah untuk memberitahu bahwa kita akan berkunjung ke tempat mereka" jawab Fauzan


"jika mustika putih sudah kamu dapatkan dan juga kamu sudah mengetahui kebenaran yang disembunyikan oleh bibi Khadijah, berarti tugasmu selanjutnya adalah menyelamatkan pemilik cincin ini Fatah" ucap Hasan dan ia menarik tangan Fatahillah ke pahanya


"akan semakin banyak musuh yang kamu hadapi. semoga sebelum bertambah banyak, kamu telah melakukan penyatuan energi dengan mustika merah agar kekuatanmu semakin bertambah dan kuat" ucap Hasan lagi


"pak Umar memberitahuku kemarin saat dia mengusulkan untuk kita pergi menemui Haninayah. keberadaan mustika merah itu telah menyebar di kota B dan bahkan di kota ini. bahkan orang-orang jahat dan para dukun sakti ingin memiliki mustika itu" ucap Fauzan


"siapa yang menyebarkan berita itu...?" tanya Fatahillah


"sepertinya mereka orang-orang yang juga pernah mengincar mertuamu Fatah. pernikahan anak bungsu pak Harun dan dirimu telah di ketahui. jelas saja orang-orang itu tidak akan tinggal diam dan mencari tau. informasi seperti itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan orang-orang yang mempunyai banyak uang." jawab Fauzan


"tapi pamannya Zelina sudah terbunuh dan juga semua anak buahnya. apakah saat itu ada mata-mata" ucap Fatahillah


"yang terpenting saat ini, kamu harus semakin waspada. apalagi Zelina, dia istrimu dan sudah pasti nyawanya diinginkan banyak orang untuk bisa mendapatkan mu" ucap Fauzan


seketika Fatahillah semakin merindukan Zelina. ia juga semakin mengawatirkan keselamatan istrinya itu. kini dalam benaknya hanya terbesit untuk segera menyelesaikan semua urusannya di kota itu dan akan segera kembali ke ke kota B. urusan dirinya sebagai dosen, hal itu telah ia serahkan kepada asistennya untuk mengganti dirinya.