
"bagaimana penampilanku mbak...?" Akmal membuyarkan lamunan Nagita yang sedang menerawang jauh, memikirkan nasib kisah percintaannya dengan sang kekasih yang kandas karena sahabat sendiri
empat bulan telah hidup sendiri dan tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun setelah hubungannya retak dengan sang mantan kekasih, kini Nagita lebih memilih untuk menikmati waktu kesendiriannya tanpa ingin memikirkan laki-laki yang sebenarnya banyak diluar sana yang menyukainya.
Nagita memindai penampilan Akmal yang menurutnya begitu gagah dengan setelan jas yang ia kenakan, apalagi tubuh Akmal yang terlihat atletis, membuat Nagita takjub dan memberikan pujian dua jempol.
"kamu tampan Mal, pasti banyak cewek yang klepek-klepek sama kamu nanti" Nagita memuji
"aku memang adalah laki-laki idola para wanita mbak"
"narsis" Nagita mencebik kemudian tersenyum "ayo, waktunya kita ke kondangan" Nagita mendekati Akmal dan mengapit lengan pemuda itu
sayangnya Akmal segera menjauh dan itu membuat Nagita mengernyitkan dahi.
"kamu kenapa sih...?
"bukan mahram mbak, nanti aku dag dig dug nggak bisa nahan diri terus melakukan hal yang lebih dari sekedar bergandengan tangan, kan bahaya"
setelah beberapa hari tinggal di pesantren, Akmal mulai mengetahui hal-hal yang tidak ia ketahui. apalagi semenjak dirinya menaruh hati kepada putri kedua dari pemilik pesantren, dirinya semakin ingin memperbaiki diri agar dapat memiliki harapan untuk bisa bersanding dengan wanita itu, sayangnya takdir malah memilihkan jodoh wanita itu dengan laki-laki lain, paman Akmal sendiri.
"wah...lama nggak bertemu kamu semakin banyak perubahan ya Mal. yang mau jadi istrimu pasti bakalan bahagia"
"nggak ada yang mau jadi istri aku mbak, kecuali mungkin mbak Nagita berniat mendaftar jadi pendamping aku" Akmal menaik turunkan alisnya sementara Nagita mencebik
"kita beda usia loh Mal, masa iya kamu nikahnya sama mbak-mbak, emang nggak malu gitu...?"
"ngapain harus malu, memangnya menikah dengan yang lebih tua itu sebuah kejahatan...? bukan kan. asal jangan dengan anak yang dibawah umur saja, nanti dibilangnya orang-orang kalau aku pedofil"
Akmal menuju ke sebuah cermin dan memindai dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. sementara Nagita memperhatikannya dari jauh, dalam hati ia mengangumi ketampanan Akmal. hanya sekedar mengagumi biasa bukan karena ada hal lain. tidak tau nanti jika author menumbuhkan rasa itu pada salah satu dari keduanya karena cinta kadang datang tiba-tiba tanpa kita bisa tolak.
"udah ganteng maksimal nggak akunya mbak...?" Akmal memutar badan ke arah Nagita, ia memperlihatkan senyuman manisnya
"ganteng pool deh, udah ah ayo buruan" Nagita melambaikan tangan
keduanya keluar dari toko pakaian setelah Nagita membayar apa yang dikenakan oleh Akmal saat ini. saat ini tujuan mereka adalah ke pesta pernikahan sang mantan kekasih dari seorang dokter Nagita Selvia.
di hotel berbintang ditempat itulah diadakannya pesta pernikahan yang begitu meriah. buktinya sampai parkiran di hotel itu hampir penuh, untungnya Akmal dapat menemukan tempat parkir yang masih kosong. keduanya keluar dari mobil dan melangkah mendekati pintu masuk. Nagita memperlihatkan undangan pernikahan yang ia bawa saat dirinya dan Akmal ditahan di pintu masuk karena dua orang yang berjaga menanyakan undangan yang dibawa oleh setiap tamu undangan yang hadir.
"silahkan masuk" ucap penjaga setelah Nagita memperlihatkan undangannya
"terimakasih" Akmal menjawab dan keduanya masuk ke dalam
hiasan yang begitu mewah dengan warna yang begitu cantik, membuat Akmal takjub dengan dekorasi yang begitu seperti pernikahan seorang sultan. benar-benar mewah, pikirnya. dirinya beberapa kali berdecak kagum. keduanya melangkah ke sebuah meja yang masih kosong dan duduk di sana.
"mewah banget mbak, habis berapa ratus juta ini" Akmal memindai setiap sudut
"namanya orang kaya, yang begini mah nggak ada apa-apanya buat mereka Mal" Nagita memberitahu
"sepertinya aku harus menghabiskan masa mudaku untuk bekerja baru bisa mengadakan pesta semewah ini"
"memangnya ada gitu yang mau sama kamu...?" Nagita menggoda
"kalau nggak ada ya aku berdoa biar mbak saja yang menjadi jodohku" dengan entengnya Akmal menjawab, bahkan Nagita sampai menggeleng kepala
"nanti ada malaikat yang lewat terus mengaminkan doa kamu, baru kamu tau rasa kamu Mal. aku galak loh, kejam pula"
"nggak apa-apa, nanti aku jinakkan"
plak
Nagita gemas karena Akmal selalu menjawab sesuka hatinya, ia pun memukul bahu Akmal dengan bibir cemberut.
"kamu pikir aku hewan mau dijinakkan segala" Nagita cemberut sementara Akmal hanya tersenyum
semakin lama para tamu undangan semakin banyak. Akmal dan Nagita setelah mencicipi berbagai hidangan kue yang ada, keduanya mulai berjalan ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada pengantin. di depan mereka ada satu pasangan kekasih yang terlihat dimana tangan si wanita tidak ingin lepas dari si pria.
pasangan kekasih itu bersalaman kepada orang tua mempelai wanita, setelahnya Akmal dan Nagita pun ikut bersalaman. saat hendak maju untuk bersalaman dengan pengantin pria, Akmal berhenti sejenak karena laki-laki yang ada di depannya berpelukan dengan pengantin pria.
"aku pikir kamu nggak akan datang Gara, gunung Gantara kan jauh banget" pengantin pria terlihat senang laki-laki itu datang di acara pernikahannya
(gunung Gantara...?) Akmal membatin
matanya memindai pria yang ada di depannya itu sayangnya ia tidak dapat melihat wajahnya sebab pria itu membelakanginya.
(jika dia dari gunung Gantara, bukankah bisa jadi dia adalah sepupu mas Fatah, namanya juga Gara kan, anak dari Gandha dan cucu dari Samsir)
"demi kamu, aku sampai rela datang jauh-jauh hanya untuk melihat kamu menikah Al. selamat bro, semoga langgeng sampai maut memisahkan" ucapnya
suaranya yang sedikit serak basah, membuat Akmal menjadi semakin penasaran dengan pria itu. punggung yang lebar, dan tubuh yang tinggi jika dilihat, pria itu memiliki postur tubuh yang sama dengan Fatahillah.
sepasang kekasih itu bersalaman dengan pengantin wanita kemudian lanjut bersalaman dengan orang tua pengantin laki-laki.
Akmal dan Nagita melangkah maju ke depan. kini keduanya telah berada di depan kedua pengantin.
"Gita" Alvian menyebut nama wanita itu dengan tatapan sendu dan hangat
Selmi yang merupakan sahabat dari Nagita serta kini wanita itu telah resmi menjadi istri dari Alvian, merangkul mesra lengan suaminya dan menatap Nagita dengan tatapan mengejek seakan ingin mengatakan kalau sekarang Alvian adalah miliknya.
"selamat Al, semoga langgeng sampai tua" ucap Nagita dengan tulus
"makasih loh Git kamu sudah mau datang ke pernikahan kami. aku pikir kamu nggak akan punya muka untuk datang ke sini" Selmi mencibir
"kamu nggak rabun kan...?" Akmal mengeluarkan suara
"hah...?" Selmi bengong dengan ucapan yang dilontarkan oleh Akmal
"wajah cantik seperti bidadari ini, memangnya mau kemana kalau bukan berada pada tempatnya" Akmal mengerlingkan mata ke arah Nagita, wanita itu hanya mencebik namun kemudian tersenyum "ngomong-ngomong, mas Alvian, selamat untuk pernikahannya dan juga terimakasih" lanjut Akmal
"terimakasih...? Alvian mengerutkan kening
"iya, terimakasih karena kalau mas nggak menyia-nyiakan wanita secantik ini, mungkin aku nggak akan bisa untuk bersamanya sekarang" Akmal menggenggam tangan Nagita dan tersenyum mesra "berkat mas Alvian yang telah meninggalkan Nagita, aku jadi pemilik hatinya sekarang" lanjut Akmal
Nagita melongo seperti orang bodoh melihat tingkah Akmal saat itu. ia bahkan tidak mengeluarkan suara karena Akmal terus yang berbicara.
"wah... hebat sekali ya kamu Gita. putus dari Alvian saking putus asanya kamu, sampai kamu memilih brondong. dibayar berapa sama dia untuk menjadi pelampiasan sakit hatinya" Selmi menatap dengan sinis
"dibayar dengan cinta dan kasih sayang mbak. lagipula mending sama brondong kan daripada merebut pasangan sahabat sendiri. sangat nggak berkelas dan itu namanya penghianat"
"kamu..." Selmi geram dan menunjuk wajah Akmal dengan telunjuknya namun Alvian segera menenangkan istrinya
"Sel, jaga sikap kamu...kamu mau malu di hari pernikahan kita" tegas Alvian
"tapi dia jelek-jelekin aku loh sayang" dengan manja Selmi bersandar di bahu Alvian
Nagita memutar bola matanya dan segera menarik Akmal untuk turun dari pelaminan.
"oke...kami turun dulu ya, selamat menjadi pengantin baru" Akmal membawa Nagita pergi menjauh dari tempat itu
keduanya menuju ke meja yang kosong, saat itu Akmal langsung melepaskan genggaman tangannya.
"maaf ya mbak, aku terpaksa" Akmal merasa bersalah
"kamu lucu loh Mal. tadi aja katanya nggak mau pegang-pegang karena bukan mahram, sekarang aja langsung nyosor main genggam"
"aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mbak aja di depan mereka berdua. lain kali nggak akan aku ulangin lagi, takut terbawa suasana, nantinya aku khilaf kan repot. dan juga takut dosa" Akmal cengengesan sementara Nagita menggeleng kepala
"Mal, jangan selalu membawa bicara seakan kamu mengharapkan orang itu, karena kamu nggak tau hati seseorang. bisa saja dia terbawa perasaan dan menganggap gurauan kamu itu adalah ucapan yang serius"
Akmal terdiam, matanya yang bulat menatap Nagita dengan dalam. kalau dilihat serius seperti itu, Akmal memang terlihat dewasa dan tentunya terlihat tampan.
"kenapa melihatku seperti itu...?" Nagita menjadi canggung diperhatikan seperti itu oleh Akmal. ia mengambil minuman dan meneguknya karena memang sejak di atas pelaminan tadi dirinya merasa haus
"kalau mbak anggap serius maka aku tidak masalah. meskipun aku lebih muda, tapi pemikiran aku dewasa loh mbak"
"hais... terserah kamu lah" Nagita mengalah saja
Akmal memutar kepala melihat ke arah meja yang ada di samping keduanya. di sana laki-laki yang bernama Gara tadi dengan seorang wanita cantik sedang duduk saling bercerita. kini Akmal dapat melihat langsung wajah laki-laki itu sebab ia duduk mengarah ke arahnya.
"wajahnya mirip dengan mas Fatah" gumam Akmal, ia sedikit kaget saat melihat wajah laki-laki itu.
(sudah pasti dia adalah Gara yang dimaksud) batin Akmal
pandangan Akmal tidak lepas dari laki-laki yang bernama Gara itu. hingga pada akhirnya Gara yang merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, langsung mengarahkan matanya ke arah Akmal, keduanya saling bertemu tatap. bukan Akmal namanya kalau tidak bisa menguasai situasi dan kondisi. dirinya tersenyum ramah dan hal itu di balas olah laki-laki itu.
karena tempat duduk mereka yang tidak begitu jauh, bahkan bisa dibilang cukup dekat, Akmal lebih dulu menegur sapa.
"maaf mas kalau saya membuat mas tidak nyaman. tapi wajah mas mirip dengan kakak saya" ucap Akmal
Nagita memutar kepala untuk melihat siapa yang Akmal ajak bicara. ketika itu juga Nagita merasa kalau laki-laki yang ia lihat itu mirip dengan seseorang, dalam pikirannya melayang memikirkan siapa sosok yang mirip dengan laki-laki itu.
"tidak apa-apa, akan merasa senang saya kalau bisa bertemu langsung dengan kakakmu. aku penasaran bagaimana kemiripan kami sehingga kamu begitu memperhatikan saya" Gara berucap ramah
"kalau saya perhatikan, hanya suara yang berbeda. luar biasa ya ciptaan Tuhan, bisa menciptakan manusia yang mirip namun tidak lahir dari rahim yang sama"
"memangnya siapa nama kakakmu...?"
Akmal diam beberapa saat, sementara Nagita kini mulai ingat laki-laki yang Akmal ajak bicara mirip dengan siapa.
"mirip dengan...."
"Malik mas...nama kakak saya Malik. dia juga pasti kaget kalau mengetahui ada kembarannya di belahan bumi lain" Akmal dengan cepat memotong ucapan Nagita
Nagita mengernyitkan dahi, karena belum tau nama asli Fatahillah, maka dirinya bingung siapa sosok yang bernama Malik itu.
"pasti seru kalau kamu bertemu dengan nama yang bernama Malik itu ya sayang" wanita yang duduk di samping Gara, ikut nimbrung
"iya, sampaikan salamku padanya" ucap Gara kepada Akmal
"tentu mas, pastinya akan saya beritahu. mohon maaf, bisa saya berfoto dengan mas supaya kakak saya percaya kalau dia punya kembaran"
Gara tertawa kecil dengan permintaan Akmal, namun ia pun mengangguk setuju. Akmal bangkit dari duduknya dan mendekati Gara kemudian duduk di sampingnya.
"mbak Gita, tolong fotoin dong" pinta Akmal
Nagita mengangguk dan mengambil ponselnya. ia memencet kamera ponselnya dua kali untuk mengambil gambar dua laki-laki itu.
"sudah" ucap Nagita
"terimakasih banyak mas...?"
"Gara...nama saya Gara"
"ah iya... terimakasih mas Gara dan mbak...?" Akmal mengarahkan pandangan ke arah wanita yang bersama dengan Gara
"Gearis... panggil saja Gea" wanita itu tersenyum ramah
"terimakasih juga mbak Gea. nama saya Akmal, senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan mas Gara dan mbak Gea"
"kami juga, semoga kita bertemu lagi ya Akmal. sepertinya kamu orangnya humoris dan menyenangkan" Gea menebak
"selain humoris aku juga ganteng mbak Gea, itu kata wanita cantik yang sedang bersamaku sekarang" Akmal melirik Nagita
"idih...siapa bilang" Nagita mencebik kemudian tersenyum ke arah Gea
keempatnya sama-sama tertawa, bahkan Akmal dan Nagita pindah tempat duduk bergabung bersama keduanya.
mereka semakin dekat apalagi Nagita dan Gea yang ternyata keduanya mudah berbaur hingga mereka seperti teman lama yang baru saja bertemu.
"kami pamit pulang duluan ya mas, mbak. semoga ada jodoh untuk kita bisa bertemu kembali" ucap Akmal
"iya, hati-hati di jalan" Gara tersenyum melepas keduanya
Nagita berpelukan dengan Gea, ia dengan Akmal bangkit dan meninggalkan tempat acara.
"tadi itu dia mirip mas Fatah loh Mal...kamu kenapa malah bilang mirip Malik" saat ini keduanya sudah berada di perjalanan pulang
"dia memang mirip mas Fatah, Fatahillah Malik" Akmal menjawab
"jadi nama lengkap mas Fatah itu adalah Fatahillah Malik...? aku sudah bingung duluan tadi, memikirkan siapa yang bernama Malik"
"mbak Gita memikirkan laki-laki lain saat bersamaku...? tega sekali kamu mbak"
"mulai deh mulai... nggak usah sok cemburuan deh Mal"
"kalau aku cemburu benaran bagaimana...? apakah mbak akan bertanggungjawab...?"
"idih... memangnya aku ngapain kamu"
"mbak telah mencuri hatiku"
plaaaak
"aw...sadis benar sih mbak" Akmal menahan sakit di lengannya
"makanya, jangan suka tebar pesona" Nagita mencebik karena lagi-lagi Akmal merayunya
mobil yang dikemudikan oleh Akmal, melaju cepat. Akmal tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan memberitahu Fatahillah, kalau dirinya tadi bertemu dengan saudaranya di pernikahan.