
Yusuf yang masih terjaga dalam tidurnya, pada akhirnya bangun dan mengucek matanya. ia menguap beberapa kali dan membuka mata namun pemandangan yang pertama ia lihat adalah Hasan sudah bergelantungan di gorden jendela sementara Langon terus berusaha untuk memanjat.
"hus...hus...hus" Hasan mengusir Langon seperti sedang mengusir ayam
kening Yusuf semakin mengekerut dan ia menggaruk kepala. kini matanya mengarah ke arah dua orang yang saling tarik-menarik, siapa lagi kalau bukan Fatahillah dan Fauzan. bahkan kini baju Fauzan sudah sobek bagian belakang akibat ulah Fatahillah.
"ngapain kalian...?" tanya Yusuf dengan masih tampang bingung di wajahnya
melihat Yusuf yang telah bangun membentuk seringai kecil dibibir Fatahillah. ia pun mendekati Fauzan dan berbisik di telinganya.
"jadi aku nggak jadi korban lagi kan...?" Fauzan memastikan
"tenang saja, kamu akan aman. Langon ayo ke sini kita punya mangsa baru" teriak Fatahillah
Langon yang dipanggil oleh tuannya langsung melesat meninggalkan Hasan dan dengan helaan nafas lega keluar dari mulut Hasan. dengan hati-hati ia pun turun mendarat di lantai.
"selamat.... selamat" Hasan mengelus dadanya
Fatahillah dan Fauzan mendekati Yusuf yang masih memasang tampang muka bantalnya.
"kok kamu basah Fatah, habis ngapain...?" tanya Yusuf
bukannya menjawab, Fatahillah malah memberikan kode kepada Fauzan yang sedang memasang wajah kesal karena bajunya kini sobek dibagian belakang. seperti seseorang yang baru saja di eksekusi di semak-semak.
"Yus, maaf ya...ini semua demi keselamatan diriku" ucap Fauzan yang begitu ambigu bagi Yusuf
"hah...?" Yusuf melongo dengan mulut mengangga, semakin bingung kenapa Fauzan sampai meminta maaf kepadanya
"San...ayo bantu" teriak Fauzan memutar kepala ke arah Hasan
"demi kesejahteraan bersama, okelah aku bantu" Hasan bergegas mendekati mereka
"kalian mau ngapain sih...?" tanya Yusuf lagi, sebab kini Fauzan sudah berpindah ke belakangnya
"aku hitung ya" ucap Fatahillah
satu....
dua....
tiga....
"angkat"
Yusuf kaget seketika karena ketiga temannya itu langsung mengangkat dirinya. Fauzan memasukkan kedua tangannya di ketiaknya, sementara Fatahillah dan Hasan mengangkat masing-masing kaki dari Yusuf.
"woi...woi...woi, apa yang kalian lakukan" teriakan Yusuf menggema di ruangan itu
Yusuf dibawa ke kamar mandi dan disiramkan air.
byuuur
satu ember penuh berhasil membuat tubuh Yusuf basah kuyup. dengan mata yang melebar dan suhu dingin yang langsung masuk ke dalam pori-pori membuat dirinya tegang dan diam beberapa saat.
"kampreeeeet kalian semua"
Fauzan dan Hasan yang ingin melarikan diri, di tarik oleh Yusuf dan Fatahillah. keduanya kembali menjadi korban hingga malam itu mereka terpaksa mandi larut malam dengan air yang dingin seperti es.
untungnya teriakan mereka tidak membangunkan para wanita yang sedang tidur, sehingga malam itu mereka tidak mendapatkan ceramah rohani.
karena tidak lagi mengantuk, keempatnya duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat yang dibuat oleh Fatahillah. karpet yang basah tadi telah diganti dengan karpet yang lain.
"memang nggak punya akhlak kalian ini lah, orang baru bangun tidur langsung di siram" gerutu Yusuf, sepanjang dirinya berganti pakaian tadi, mulutnya tidak berhenti mengomel
"kita sama-sama basah loh Yus, nggak usah marah-marah terus napa" ucap Fauzan
Yusuf hanya mencebik kesal dan menyeruput minumannya.
"tapi ya Fatah, ngomong-ngomong kamu tadi itu kenapa, sampai muntah darah seperti itu" karena penasaran, Hasan menanyakan kejadian tadi
"kamu muntah darah...?" Yusuf melebarkan mata
Fatahillah mengangguk kemudian menghela nafas sebelum akhirnya mulai bercerita.
"ada seorang laki-laki baya datang menghampiriku, seperti mimpi tapi itu nyata. dia memanggil paksa jiwaku untuk keluar, dan kami bertarung" Fatahillah kembali mengingat kejadian tadi
"terus...?" tanya Fauzan
"kami bertarung, dia membawaku ke dalam ruangan gaib yang ia buat. ilmunya begitu tinggi sehingga aku kewalahan menghadapinya. beberapa kali aku terkena serangannya. untungnya ada guru Halim yang datang dan membawaku keluar dari dunia gaib yang ia buat itu" jawab Fatahillah
"kamu tau siapa dia...?" tanya Hasan
"aku belum pernah melihatnya. tapi... pakaiannya sama persis seperti yang dipakai oleh dua orang yang menyerang kita saat kita dalam perjalanan ke sini San. aku merasa kalau mereka adalah orang-orang yang menculik Zelina dan Arjuna" jawab Fatahillah
"semakin berbahaya saja. kamu harus secepatnya mendapatkan mustika putih itu untuk menghadapi mereka" timpal Yusuf
"Zan, kamu sudah menghubungi adik pak Umar itu belum...?" Fatahillah mengarahkan tatapan kepada Fauzan
"sudah dan ini balasan pesan darinya" Fauzan memberikan ponselnya kepada Fatahillah
Yusuf dan Hasan merapat ke tubuh Fatahillah karena penasaran apa pesan balasan dari adik pak Umar itu.
Haninayah : jangan membahas benda itu lewat telepon mas, semua orang mempunyai telinga untuk mendengar. orang-orang yang menginginkan benda itu akan mengincar aku jika mereka tau apa yang aku miliki. sejujurnya aku tidak sanggup untuk memiliki mustika itu, kekuatannya sangat luar biasa sedangkan aku begitu lemah. kalau memang teman mas Fauzan menginginkan mustika itu, maka datanglah ke rumah. tapi apakah dia benar-benar orang baik...?
Fauzan : dia orang baik Hani, bahkan sekarang mustika merah sudah berada di tangannya. tinggal memiliki mustika putih dan melakukan penyatuan energi.
Haninayah : apakah mustika merah itu memilih teman mas Fauzan itu sebagai tuannya...? karena jika dari awal dia memaksa untuk memiliki mustika merah maka sudah pasti mustika putih akan menolak untuk bertuankan dirinya
"kamu tidak lagi membalas pesannya...?" tanya Fatahillah
ponsel itu dikembalikan kepada Fauzan sementara Yusuf dan Hasan kembali menarik diri di posisi duduk mereka.
"aku kan nggak tau bagaimana sehingga kamu memiliki mustika merah. entah mustika itu sendiri yang memilih kamu sebagai tuannya ataukah ada pemaksaan" Fauzan menjawab
"mustika merah itu sendiri yang memilih aku sebagai tuannya saat pak Harun memberikan mustika itu padaku. tapi... benarkah kalau mustika putih itu ada pada Haninayah...?" Fatahillah bertanya
"iya, dia sendiri yang mengatakan itu padaku. rupanya pak Kusuma mewariskan mustika itu kepada putrinya bukan pak Umar" jawab Fauzan
"bagus kalau seperti itu, artinya kita ke sana sudah dengan tujuan yang pasti tanpa harus berandai-andai lagi"
"tinggal memilih waktu kapan kita ke sana" timpal Hasan
"tapi.... kalau kita semua pergi lantas siapa yang akan menjaga bibi Khadijah dan bibi Fatimah, Anisa dan juga Zulaikha...?" tanya Yusuf
mereka membenrkan ucapan Yusuf, harus ada yang tidak pergi untuk menjaga mereka. keempatnya saling pandang memikirkan bagaimana baiknya.
"aku saja kalau begitu, aku kan juga harus kerja di sini" akhirnya Yusuf mengalah
"atau bagaimana kalau mereka kita bawa ke kota B, bukankah ibu Laila ingin bertemu dengan mu dan juga bibi Khadijah" Hasan memberikan usul
"aku juga berencana seperti itu, tapi bagaimana dengan Zulaikha, dia tidak mungkin meninggalkan sekolahnya" Fatahillah nampak berpikir
"iya juga" gumam Hasan
"menikah sajalah Zulaikha dan Fauzan, dengan begitu kan Zulaikha sudah memiliki penjaga. setidaknya dengan mereka menikah maka Fauzan akan leluasa untuk menjaga Zulaikha" Yusuf memberikan usul
Fatahillah menarik nafas dan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di cangkir minumannya.
"kita harus bicarakan ini dengan semua orang. keputusannya harus diambil secara bersama" ucap Fatahillah setelah sekian menit berpikir
"iya benar, kita harus musyawarah terlebih dahulu" Hasan setuju
"aku berencana besok mau membawa Anisa untuk bertemu dengan orang tuaku" ucap Yusuf
"Yus... mereka kan sudah mengenal Anisa walaupun hanya baru saja satu kali bertemu. ada baiknya kalian juga menikah saja, dengan begitu Anisa akan aman jika tinggal satu atap denganmu karena kalian berdua telah menikah" ucap Fatahillah
Yusuf menggaruk kepala, ia pun sebenarnya ingin secepatnya menikahi Anisa namun tetap saja dirinya harus meminta restu terlebih dahulu kepada orang tuanya.
di tempat lain, Ki Demang yang kembali ke dalam tubuhnya kini tengah duduk di ruang tengah dengan segelas kopi yang masih mengepul asapnya. dirinya ditemani oleh Aji Wiguna dan Alex.
"jadi dia memiliki pelindung...?" tanya Aji Wiguna
Ki Demang telah menceritakan apa yang terjadi saat dirinya sedang bertarung melawan Fatahillah melalui lepas raga.
"mungkin saja itu gurunya, aku merasakan energi kuat dari sosok itu" ucap Ki Demang
"lalu apa yang harus kita lakukan guru...?" tanya Aji Wiguna
"untuk sementara, pulihkan dulu dirimu Aji. masalah mustika merah, akan kita pikirkan lagi. saat ini aku harus mengeluarkan lagi racun itu dari dalam tubuhmu" Ki Demang menyeruput kopinya
"tapi bagaimana aku bisa sembuh total kalau tanpa mustika itu guru"
"Aji, setelah dirimu mempunyai tenaga lagi maka kita akan merebut bersama-sama mustika itu. apa kamu tidak ingin sembuh...? mustika merah akan kita rebut kalau kamu sudah bisa bertarung seperti dulu. ingatlah, semakin lama mendiamkan racun itu maka kamu akan lumpuh perlahan-lahan"
"baiklah, aku mengikuti apa yang guru katakan saja" Aji Wiguna akhirnya patuh
pagi harinya sebenarnya Fatahillah ingin berbicara kepada keluarganya tentang rencana mereka semalam, namun Kaisar seorang mahasiswa yang menjadi asisten pribadinya mengubungi dirinya bahwa mahasiswa itu jatuh sakit sehingga tidak bisa untuk menggantikan dirinya mengajar.
tentu saja hal itu membuat Fatahillah harus mengambil tindakan mencari mahasiswa lain yang harus ia rekrut untuk menjadi asistennya. terpaksa pagi itu Fatahillah berangkat ke kampus untuk menyelesaikan urusannya.
"sudah masuk mengajar nak...?" tanya ibu Khadijah saat mereka di meja makan sedang sarapan
"iya bu, Kaisar sakit" jawab Fatahillah
"emmm bu, bibi... sebenarnya Fatah ingin mengatakan sesuatu tapi setelah Fatah pulang dari kampus" lanjut Fatahillah
"kami tunggu kamu di rumah" jawab bibi Fatimah dan Fatahillah mengangguk
semua orang kembali ke aktivitas sebelumnya. Anisa ke rumah sakit bersama dengan Yusuf, Hasan dan Fauzan ke kantor sementara Fatahillah akan ke kampus namun ia mengantar Zulaikha terlebih dahulu.
"kamu pulang jam berapa biar mas jemput" tanya Fatahillah setelah kini mereka sampai di sekolah Zulaikha
"nggak usah mas, Icha mau pulang sama-sama dengan Meqianti, kami mau kerja kelompok di rumah"
"mau kerja kelompok di rumah kita...?" Fatahillah memastikan
"iya mas, nggak apa-apa kan...?"
"tentu saja, kalau begitu ini uang jajanmu" Fatahillah memberikan uang lima puluh ribu kepada Zulaikha
"makasih mas, Icha masuk ya. assalamu'alaikum" Zulaikha menyalami tangan Fatahillah kemudian masuk ke dalam
"wa alaikumsalam"
Fatahillah kembali melajukan motornya menuju ke kampus. rencananya setelah dari kampus, ia akan ke rumah utama milik keluarga Zelina untuk mengambil mobil Zelina yang satunya. ia pun sudah menghubungi Afkar, orang kepercayaan Zelina mengurus perusahaan milik istrinya.
di perjalanan, Fatahillah melihat seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan dan melambaikan tangan. wanita itu pastinya ingin meminta bantuan dan ia pun berhenti di dekatnya.
"ada yang bisa saya bantu mbak...?" Fatahillah turun dari motornya
"mobil aku mogok mas, sejak tadi tidak ada kendaraan yang lewat di sekitar ini" jawabnya
Fatahillah melepas helem yang ia pakai dan saat itu juga wanita itu nampak mengerutkan kening.
"emmm... mas Fatah bukan ya...?" tanya wanita itu ragu-ragu
"mbak kenal dengan saya...?" tentunya Fatahillah bingung karena wanita itu mengenalnya
"mas lupa dengan saya...? saya Andini mas, sepupu Zelina" ucap wanita itu
"oh masya Allah" Fatahillah mulai teringat "maaf, saya tidak begitu memperhatikanmu. bagaimana kabarmu dan juga ibumu...?" Fatahillah tersenyum
"Alhamdulillah baik mas, Zelina apa kabarnya mas...?"
"dia baik. memangnya kalian tidak saling komunikasi...?"
"itu...iya, kami sering komunikasi kok" jawab Andini kikuk
Fatahillah menangkap raut salah tingkah saat Andini mengatakan sering berkomunikasi dengan Zelina.
"mas bisa membantu saya...?"
"hummm...di sekitar sini memang sepi, sebaiknya kamu menghubungi bengkel untuk datang mengambil mobilmu" Fatahillah melihat sekitar
"saya tidak mempunyai nomor bengkel yang saya tau"
"memangnya kamu mau kemana...?"
"mau ke kantor mas, aku sudah bekerja di kota ini"
"oh ya, terus suami kamu kemana kenapa tidak mengantar mu"
"dia juga sibuk kerja, bagaimana kalau mas Fatah mengantar saya ke kantor" Andini menarik simpati
"maaf bukannya saya tidak mau tapi....saya tidak mungkin membonceng kamu. sebaiknya saya pesankan taksi"
Fatahillah menolak, dirinya tidak ingin berduaan terlalu lama dengan seorang wanita apalagi bukan mahramnya. segera ia memesan taksi online untuk menjemput Andin.
"saya sudah memesan taksi, tunggulah sebentar lagi. tapi maaf saya tidak bisa menemani kamu di sini, saya harus ke kampus"
"oh, tidak apa-apa mas. terimakasih sudah membantu saya"
dengan berani Andini meraih tangan Fatahillah dan menjabatnya. Fatahillah kaget dan refleks menepis tangan Andini.
"oh maaf mas" Andini merasa bersalah
"tidak apa-apa"
(ada apa ini, kenapa aku merasakan ada energi kuat di dalam tubuh wanita ini, padahal dulu saat pertama bertemu, aku tidak merasakan apa-apa) batin Fatahillah
"saya pergi dulu ya, titip salam untuk bibi Arum"
"iya mas, nanti saya sampaikan" Andini tersenyum
Fatahillah meninggalkan Andini seorang diri. ia melihat di kaca spion motornya, wanita itu masih terus menatap dirinya dengan tatapan begitu lekat.
"aneh sekali dia" gumam Fatahillah