Fatahillah

Fatahillah
Bab 40



masalah memang datang tanpa mengenal waktu. entah itu di waktu pagi, siang ataupun malam, jikalau masalah itu adalah yang telah ditakar untuk kita manusia maka mau tidak mau kita harus menghadapinya.


seperti yang dihadapi oleh Fatahillah pagi ini bersama istri dan seorang anak remaja. mereka dihadapkan dengan masalah yang dapat mengancam nyawa ketiganya.


Zelina bersembunyi di balik punggung suaminya dan memegang erat ujung baju Fatahillah. sementara Fatahillah dan Arjuna, keduanya berdiri saling bersampingan.


"apa kami mempunyai masalah sampai kalian datang mengepung kami seperti ini...?" tanya Fatahillah yang tetap tenang walaupun orang-orang itu memegang senjata yang begitu tajam


Fatahillah berpikir sepertinya mereka adalah orang-orang yang memang sedang mengincarnya untuk mendapatkan mustika merah yang ada padanya. meskipun bersikap tenang namun tetap saja Fatahillah harus waspada karena ada istrinya saat ini bersama dengannya dan juga Arjuna. keduanya bisa saja terluka jika Fatahillah bertindak gegabah.


"serahkan semua harta kalian kalau ingin selamat" ucap salah seorang yang bertubuh besar dan berotot dari yang lainnya


(hmmm... rupanya mereka hanya perampok biasa) batin Fatahillah


Fatahillah pikir mereka akan langsung akan mengancam dan meminta mustika merah namun ternyata mereka hanya menginginkan uang tanpa tau menahu tentang mustika merah.


"kalau mau uang ya kerja bang, jangan malah ngerampok orang. otot-otot Abang kan besar dan juga tubuh abang kekar, masa iya minta uang dengan cara ngerampok. nggak LAKIK banget" Arjuna mencibir dan memandang dengan tatapan mengejek


"wah kurang aja nih bocah, cari mati kamu ya" salah satu dari mereka memegang leher baju Arjuna berniat memukulnya namun Fatahillah menahan pukulan itu dan memelintir tangan orang itu ke belakang sehingga orang itu teriak kesakitan.


"sakit sakit sakit"


bugh


Fatahillah mendorong laki-laki itu hingga menabrak temannya yang lain.


"kami tidak punya harta untuk dibagikan kepada Kalian" ucap Fatahillah


"kurang ajar, bunuh mereka" teriak laki-laki yang bertubuh besar tadi


"LANGON"


goaaaaarrrrr


harimau putih datang menghadang mereka dan mengaum begitu keras membuat orang-orang itu ketakutan luar biasa. bahkan mereka merasakan gendang telinga mereka semua yang begitu amat sakit karena auman harimau itu.


telinga mereka mengeluarkan darah karena tidak sanggup menahan sakit sementara Arjuna dan menutup telinganya dengan kedua telunjuknya ia masukkan ke dalam lubang telinga. Fatahillah menutup telinga istrinya dengan kedua tangannya.


"aaaggghh.... HENTIKAN"


satu persatu dari mereka tumbang di tanah dan dengan keadaan yang mengerikan. mereka semua tewas hanya karena tidak sanggup menahan sakitnya suara aungan harimau putih.


harimau putih berhenti mengaum dan mendekati mereka satu-persatu Kemudian mengigit baju dan menyeret mereka dan ia mengumpulkan semuanya di bawah pohon.


"mas... mereka mati...?" Zelina kaget melihat orang-orang tadi kini telah menjadi mayat


"itu akibat perbuatan yang harus mereka terima sayang. kalaupun aku melawan mereka, pastinya nasib mereka akan sama dengan sekarang. kalau bukan mereka yang mati maka kita akan yang akan dibunuh oleh mereka" Fatahillah menenangkannya istrinya


sementara Arjuna masih terpaku di tempatnya karena ia terkejut melihat harimau putih itu yang datang mendekat dan bermanja di kaki Fatahillah. rupanya harimau putih memperlihatkan dirinya kepada remaja itu.


"dia peliharaan ku Arjun. jangan takut, dia tidak akan menyakiti mu" ucap Fatahillah berjongkok dan mengelus kepala Langon


"terimakasih Langon"


goaaaaarrrrr


baru hendak berdiri kembali, sebuah anak panah melayang cepat mengarah ke arah Fatahillah. Langon melompat dan menangkap anak panah itu dengan mulutnya.


kembali dua anak panah dilepaskan dan hampir saja mengenai Arjuna dan juga Zelina. Langon melompat ke arah Arjuna sehingga anak panah itu hanya mengenai batang pohon sementara Fatahillah menarik tubuh istrinya dan memeluknya sementara dengan satu tangannya ia menangkap anak panah itu.


"keluarlah, jangan hanya menjadi pengecut bersembunyi di balik pohon" teriak Fatahillah mencoba memancing seseorang yang menyerang mereka


bahkan sampai menunggu beberapa menit tidak ada pergerakan dari semak-semak dan juga tempat yang dianggap menjadi persembunyian orang misterius itu.


"mas" Zelina mencengkram lengan Fatahillah karena merasa takut


saat itu juga puluhan anak panah mengarah ke arah mereka. Fatahillah dengan cepat membaca mantra mengeluarkan kerisnya dan menancapkan keris itu ke tanah hingga pagar gaib seperti bola tercipta melindungi ketiganya.


puluhan anak panah itu langsung hancur saat mengenai pagar gaib yang dibuat oleh Fatahillah.


dari tempat persembunyian mereka, sekitar sepuluh orang keluar dari tempat persembunyian dan mendekati target mereka. Zelina terkejut tatkala melihat seseorang yang baru saja ia lihat saat di warung makan tadi.


"dia yang ada di warung makan tadi mas, ternyata kecurigaanku benar kalau dia orang yang mempunyai niat jahat" Zelina menunjuk salah seorang yang ada di depan mereka


"Fatahillah Malik, serahkan mustika merah padaku dan kalian akan aku bebaskan" ucap laki-laki yang membuntuti mereka di warung makan


"kalau aku tidak mau...?" Fatahillah menolak


"maka sayang sekali, hari ini kalian bertiga akan menjadi mayat" jawabnya dengan seringai iblis


"kalian jangan keluar dari pagar gaib ini apapun yang terjadi" Fatahillah menatap Arjuna dan Zelina bergantian


"hati-hati mas" Zelina enggan untuk melepaskan tangan Fatahillah


"kami akan tetap di sini" ucap Arjuna


Fatahillah keluar dari pagar gaib miliknya, harimau putih telah berada di dekatnya.


goaaaaarrrrr


"tutup telinga kalian" teriaknya di saat Langon mengaum dengan begitu keras


sebagian dari mereka ada yang kesakitan namun itu hanya dua orang sementara yang lainnya menutup telinga agar tidak terpengaruh dengan aungan harimau putih.


bugh


bugh


dua orang jatuh tewas dengan gendang telinga yang pecah dan berdarah. tanpa menunggu kesiapan dari lawan, Fatahillah dan Langon melompat menyerang. Fatahillah melayangkan tendangan bebas ke arah kepala dua orang yang berada di dekatnya hingga mereka terjengkal ke belakang.


pertarungan sengit pun tidak dapat dihindari. melawan musuhnya sekarang tentu harus menggunakan tenaga dalam karena ia melihat mereka bukan orang-orang sembarangan yang dikirim untuk merebut mustika merah darinya.


orang-orang itu membentuk formasi mengelilingi Fatahillah dan membaca mantra hingga seketika seluruh tubuh Fatahillah merasakan sakit yang luar biasa. jari telunjuk dan ibu jari di tangan kanan mereka berdiri tegak di depan dada sementara jari lainnya mereka tekuk. tangan kiri mereka memegang pergelangan tangan kanan. mantra terus diucapkan dari bibir mereka, Fatahillah jatuh ke tanah bertumpu dengan kedua lututnya.


"mas Fatah" Zelina hendak keluar dari pagar gaib namun Arjuna menahannya


"jangan mbak, bahaya" Arjuna mencekal lengan Zelina


"tapi suami mbak bisa mati Arjun" Zelina memberontak namun rupanya tenaga Arjuna lebih kuat darinya


"aaaaagghhh"


"mas Fatah" Zelina hanya dapat melihat dari jauh dengan linangan air mata


Fatahillah meraung di tanah, berguling-guling karena sakit luar biasa yang ia rasakan. seperti mata pedang yang menusuk-nusuk jantungnya. darah memuncrat keluar dari mulutnya.


harimau putih datang membantu Fatahillah dengan menerkam satu orang dan mencabik-cabik dengan kuku tajamnya. formasi mereka yang kini tidak lagi lengkap membuat pertahanan mereka semua runtuh. Fatahillah mengarahkan telapak tangannya ke arah kerisnya yang tertancap di tanah. keris itu melayang cepat dan sudah berada di genggaman Fatahillah.


"tetap lanjutkan membaca mantra, jangan terkecoh dengan harimau itu" teriak yang menjadi pemimpin mereka


laki-laki yang di terkam oleh harimau putih tewas dengan baju yang sobek dan tubuh yang penuh dengan luka cakaran. bahkan lehernya hampir putus di gigit oleh Langon.


Fatahillah dengan sisa tenaga yang masih ada, ia berusia berdiri sekuat tenaga. Kerispatih miliknya ia pegang dengan begitu erat.


"aaaggghhh"


teriakan pilu yang keluar dari mulut Fatahillah bersamaan dengan ia melempar kerisnya hingga tertancap tepat di jantung salah satu orang-orang itu. orang itu langsung tumbang seketika.


lagi-lagi Fatahillah kembali memuntahkan darah dan jatuh ke tanah. kedua tangannya bertumpu di tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk sebelum mengalahkan lawannya.


entah sihir apa yang mereka lakukan sehingga saat ini Fatahillah begitu kesulitan dan terisksa dengan mantra yang mereka ucapkan.


goaaaaarrrrr


aaaaaa


"tolong.... toloooooong"


satu orang lagi menjadi santapan harimau putih. kini formasi yang mereka bentuk semakin berantakan.


Fatahillah berusaha bangkit dengan susah payah. dirinya harus mengalahkan lawannya jangan sampai istrinya dan juga Arjuna di sakiti oleh mereka. Fatahillah menyerang salah satunya dengan tenaga dalam. ia memusatkan tenaganya di tangan kanan yang membentuk tinju kemudian memukul tepat di ulu hati lawannya. satu kali pukulan laki-laki itu langsung roboh di tanah.


satu orang lagi ia pukul tepat di rahangnya hingga memuncrat darah dari mulut bahkan sampai rahangnya bergeser karena pukulan kuat yang dilayangkan Fatahillah.


semua orang telah tumbang terkecuali laki-laki yang menjadi pemimpin mereka yang membuntuti mereka di warung makan. Hasan yang baru saja datang bersama Akmal dan Ali berlari ke arah Fatahillah.


melihat kedatangan Hasan dan dua temannya membuat laki-laki itu melarikan diri. saat itu juga Fatahillah ambruk dan pingsan.


"mas Fatah" Zelina berlari keluar dari pagar gaib


Arjuna mengikuti dari belakang. untungnya Hasan menangkap tubuh Fatahillah sehingga laki-laki itu tidak jatuh ke tanah. harimau putih ingin mengejar laki-laki tadi namun ia urungkan karena melihat tuannya yang terluka dan kini tidak sadarkan diri.


"mas... bangun mas" Zelina memangku kepala suaminya


"kita bawa masuk ke dalam mobil. dia terluka parah, kita harus pulang ke pesantren. hanya kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor yang dapat menyembuhkannya" ucap Ali


tubuh Fatahillah diambil alih oleh Akmal dan Hasan. mereka berdua mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Fatahillah berada di kabin tengah bersama dengan Zelina sementara di depan Ali dan Hasan yang menjadi sopir. Akmal dan Arjuna di kabin belakang.


mobil Hasan yang hampir saja masuk ke jurang akan di urus nanti. saat ini yang lebih penting adalah menyelamatkan Fatahillah terlebih dahulu.


"apa mas Fatah akan baik-baik saja...?" raut wajah Arjuna begitu khawatir melihat Fatahillah di peluk erat oleh Zelina


"sepertinya lawannya kali ini begitu kuat sehingga mas Fatah jadi seperti ini. semoga saja dia akan baik-baik saja" jawab Akmal merasa kasihan melihat keadaan Fatahillah sekarang


"oh iya, nama kamu siapa...? Akmal melirik Arjuna


"aku Arjuna kak, panggil saja Arjun. aku...."


"dia telah menjadi anak asuhku dan mas Fatah Mal" jawab Zelina


"anak asuh...?" tentu saja kening Akmal langsung mengkerut


"akan aku ceritakan tapi tidak sekarang" jawab Zelina


saat ini yang ada dalam pikirannya Zelina begitu khawatir dengan keadaan suaminya. beberapa kali ia mencium kening suaminya dengan lembut. padahal baru tadi malam mereka melalui malam yang indah dan panjang namun sekarang suaminya itu kini dalam keadaan terluka parah.


sementara laki-laki tadi yang melarikan diri telah berada di dalam mobilnya. ponselnya berdering dan terlihat nama yang bertuliskan bos di layar ponselnya.


"halo bos"


"bagaimana Jai, dia berhasil kalian tangkap...?"


"maaf bos, seperti yang aku katakan kalau pemuda itu begitu kuat. bahkan sudah memuntahkan darah pun ia masih bisa bertahan"


"bodoh, masa satu pemuda saja kalian tidak bisa mengalahkannya bahkan kalian berjumlah sepuluh orang"


amarah seseorang yang berada di sebrang sana membuat laki-laki itu menjauhkan ponselnya di telinganya.


"kami berhasil membuatnya tumbang bos, apalagi tadi beberapa temannya datang untuk menolongnya"


"lalu bagaimana anak buahku...?"


"mereka tewas di tangan laki-laki itu bos"


"kalau begitu kamu pulang sekarang, kita cari cara lain untuk membunuh pemuda itu. kamu harus menemani aku ke desa keramat"


"baik bos"


laki-laki yang ternyata bernama Jaidan itu menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat sepi itu. ia akan ke tempat dimana bosnya telah menunggunya.


kini mobil yang dikemudikan Hasan telah masuk di pelataran pesantren Abdullah. tepat di depan rumah mobil itu berhenti. Hasan keluar bersama dengan Ali dan mengangkat Fatahillah. Zelina pun keluar disusul oleh Akmal dan Arjuna.


"astaghfirullah, apa yang terjadi dengan Fatahillah...?" ibu Rosida kaget melihat Fatahillah di gotong oleh Hasan dan Ali


"bawa masuk ke dalam" ucap pak Umar


Fatahillah di bawa masuk ke dalam rumah dan dengan perlahan mereka membaringkannya di atas ranjang.


"ganti pakaiannya dengan yang lain, aku akan memanggil kiyai Zulkarnain dan kiayi Anshor" ucap Ali


Zelina mengangguk dan bergegas ke lemari pakaian. sementara yang lainnya menunggu di ruang tengah. Ali meninggalkan mereka untuk ke tempat kedua kiayi pesantren Abdullah.


"apa yang terjadi San, kenapa Fatahillah bisa seperti itu...?" tanya pak Odir


"aku juga tidak tau paman, saat kami tiba orang-orang yang menyerang Fatahillah telah tewas di tempat sementara satu orangnya lagi melarikan diri" jawab Hasan


"kami di serang. pertama hanya perampok biasa namun setelah mereka semua dikalahkan oleh harimau putih milik mas Fatah. ada lagi yang datang. kalau aku tidak salah dengar mereka menginginkan mustika merah" Arjuna menjelaskan


"nyawa Fatahillah akan terus terancam jika dia masih tetap memegang mustika itu" ucap ibu Afifah


"lalu kamu ini siapa nak...?" tanya ibu Rosida


"aku Arjuna bu, panggil saja Arjun. aku....anak yatim-piatu yang akan mengikuti mas Fatah dan mbak Zelina ke kota B karena mereka mengatakan kalau mereka mempunyai panti asuhan untuk tempat aku tinggal. aku bisa sekolah lagi seperti dulu" jawab Arjuna


"oooh jadi anak asuh yang dimaksudkan mbak Zelina tadi itu kamu anak asuh mereka yang akan tinggal di panti asuhan mereka...?" tanya Akmal dan Arjuna mengangguk


"kok aku baru tau ya kalau mereka mempunyai panti asuhan" ucap pak Umar


"mbak Zelina bilang baru saja akan di jalankan pak setelah mereka pulang ke kota B" timpal Arjuna


obrolan mereka terhenti karena kedatangan Ali bersama dua kiayi pesantren Abdullah. mereka segera masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Fatahillah. di dalam kamar Zelina sedang duduk di samping suaminya.


kiayi Zulkarnain mendekat dan melihat tubuh Fatahillah yang telah memucat.


"ada apa dengannya kiayi...?" tanya Zelina yang begitu khawatir dengan kondisi Fatahillah yang sampai saat ini belum juga membuka matanya


"tinggalkan kami berdua" ucap kiayi Zulkarnain"


perintah itu dilakukan oleh mereka. semua orang keluar terkecuali kiayi Zulkarnain yang berada di dalam bersama Fatahillah.


"bagaimana...?" tanya pak Odir setelah melihat mereka keluar


"bang Zul sedang mengobatinya. kita tunggu saja dia keluar" jawab kiayi Anshor


hari itu di ruang tengah semua orang nampak cemas menunggu kiayi Zulkarnain keluar dari dalam kamar. mereka begitu khawatir dengan kondisi yang dialami Fatahillah sekarang. pemuda yang biasanya dapat menaklukkan musuhnya dengan kekuatan yang dimilikinya kini sekarang karena musuhnya itu pemuda itu terbaring tidak berdaya di atas ranjang.