Fatahillah

Fatahillah
Bab 95



malam hari setelah Ali membawakan tausiyah di masjid Al-Ikhlas, para panitia penyelenggara acara berjabat tangan dengannya. mengucapkan banyak terimakasih karena Ali telah menghadiri undangan yang mereka sampaikan.


"terimakasih banyak ustad, untuk langkah selanjutnya saya akan mengirimkannya di rekening ustad" ucap salah seorang pemuda yang berdiri di samping Ali


"sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu. istri saya sudah menunggu"


"masya Allah, jadi ustad Ali sudah menikah...? kok kami tidak mendengar desas desus pernikahan ustad...?"


"tidak perlu meriah yang penting sah agama dan negara"


"jadi istri ustad yang mana...? kalau tau tadi, harusnya dia naik ke atas untuk menemani ustad"


sebenarnya Ali tadi menyuruh Maryam untuk duduk di depan bersamanya, namun Maryam menolak karena ingin bergabung dengan yang lainnya, ingin melihat suaminya dari barisan ibu-ibu yang ikut dalam acara tersebut.


"dia sudah di luar. kalau begitu saya permisi pamit dulu. assalamualaikum"


"wa alaikumsalam. hati-hati ustad"


Ali mengangkat tangan sebagai jawaban, banyak yang ingin bersalaman dengannya. maklumlah, Ali sering membuat konten ceramah di YouTube maka dari itu banyak yang mengenal dirinya. apalagi dirinya masih muda dan tampan pula, siapa yang tidak terkesima dengannya. bahkan para santriwati pun banyak yang mengidolakannya, tapi sekarang mereka patah hati sebab ustad idaman mereka telah melepas masa lajangnya.


Maryam duduk di kursi yang tidak jauh dengan mobil mereka. semua orang mulai berdesakan untuk keluar dari masjid, sementara dirinya memperhatikan pintu khusus untuk laki-laki, apakah suaminya akan keluar ataukah belum. senyumannya mengembang saat melihat Ali keluar dari masjid dan melangkah ke arahnya. sayangnya, ada sebagian para wanita yang menghadang Ali karena ingin meminta berfoto dengannya.


"boleh minta foto ya ustad" ucap mereka dengan senyuman manis, tentu saja harus memasang wajah manis agar bisa diperhatikan


"di sana saja" Ali menunjuk di bawah pohon yang di bawahnya Maryam sedang duduk memperhatikannya


"baik ustad"


Ali berjalan terlebih dahulu sementara tiga wanita itu mengekor dirinya. setelah sampai di dekat mobilnya, tiga wanita itu langsung menghampiri Maryam dan meminta dirinya untuk mengambil gambar mereka bersama dengan Ali.


"mbak tolong fotoin kita dong" ucap wanita berhijab navy


"saya...?" Maryam menunjuk dirinya sendiri


"ya iyalah memang siapa lagi. kan di sini cuma ada kamu" timpal wanita berhijab peach, dirinya menatap sinis ke arah Maryam


"oh baiklah" Maryam mengambil ponsel mereka


"ayo ustad, kami sudah siap" wanita berhijab merah muda dengan beraninya mengapit lengan Ali untuk berfoto dengannya


saat itu juga Ali menghentakkan tangan wanita itu dengan sedikit keras. wanita itu kaget sebab Ali kini menatapnya dengan tajam.


"sepertinya kamu datang mengikuti kajian di sini bukan untuk mendapatkan ilmu namun hanya untuk bergaya saja. bukankah tadi saya sudah memberitahu bagaimana sekiranya seorang wanita beradab yang baik jika bersama dengan seorang laki-laki" Ali berucap dengan tegas


"m-maaf ustad, saya hanya ingin terlihat dekat dengan ustad, apakah itu salah...?"


"sangat salah karena kamu bukan mahram saya. kalian saya ajak datang berfoto di sini karena saya ingin mengajak istri saya berfoto bersama sebab saya tidak ingin terjadi fitnah nantinya"


"istri...?" ketiganya saling pandang


Ali mendekati Maryam dan merengkuhnya dengan mesra. ketiga wanita itu ternganga, tidak percaya kalau wanita yang mereka suruh untuk mengambil gambar mereka ternyata adalah istri dari seorang ustad Ali.


"cih...apa hebatnya wanita bercadar seperti itu. pasti mukanya jelek makanya di tutupi" gumam salah satunya


"berikan ponsel mereka sayang, kita pulang" ucap Ali


"mas nggak jadi berfoto bersama mereka...?"


"saya tidak ingin mengambil gambar bersama wanita yang tidak tau adab"


wanita tadi menunduk malu, dirinya tadi sempat berkata sinis kepada Maryam yang ternyata adalah istri dari ustad Ali. Maryam memberikan ponsel ketiganya, salah seorang dengan sengaja mengambil kasar untungnya Ali tidak melihat sebab dirinya sedang melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya.


"hei...kamu kasar sekali" tegur yang berhijab navy


"suka-suka akulah, wanita sok cantik. pasti mukanya jelek ya sampai ditutup seperti itu" ucap wanita berhijab peach


dua temannya menegur agar wanita itu menjaga ucapannya, apalagi jika sampai Ali tau maka sudah pasti urusannya akan semakin panjang. sedang Maryam hanya geleng kepala tanpa ingin meladeni. dirinya meninggalkan mereka dan bergabung bersama suami dan temannya.


"ayo pergi, kita diliatin banyak orang"


"yahh nggak jadi ngambil foto sama ustad Ali dong"


"kamu sih... ngapain pake ganjen segala. udah ah, nanti kita dimarahi lagi"


ketiganya pergi, namun wanita yang berhijab peach menatap tajam ke arah Maryam yang sedang berkenalan dengan ramah bersama orang-orang yang mengenal Ali. dengan hati yang kesal, dirinya menghentakkan kaki dan pergi.


"jadi ini istri ustad Ali...? masya Allah, boleh minta foto nggak mbak. maksud kami, kami ingin berfoto bersama ustad Ali namun ditemani dengan mbak sebagai istrinya" salah seorang wanita bersama beberapa orang temannya mendekati mereka


"gimana mas...?" Maryam meminta pendapat suaminya


"boleh, silahkan" Ali mengangguk


dengan antusias mereka mulai mengambil posisi. Ali merangkul bahu Maryam, sementara yang lainnya berdiri di dekat mereka. beberapa orang lagi yang melihat itu, mulai berdatangan ingin ikut mengambil gambar bersama keduanya. hingga panitia tadi mengakhiri sesi berfoto sebab Ali dan Maryam harus pamit pulang.


"kamu capek ya...?" Ali melirik Maryam


"bukan capek mas tapi...aku lapar"


"masya Allah, harusnya kamu bilang dari tadi. jadi kamu mau makan apa...?"


"ikan bakar sepertinya enak mas, aku ingin makan itu. dan juga cumi saus tiram, itu juga enak"


"baiklah, kalau begitu kita ke tempat langganan aku jika datang ke sini"


"mas sudah sering ya kesini"


"beberapa kali, biasa mengisi acara seperti tadi atau kadang ada urusan bersama ustad lainnya di pesantren"


"setelah makan, apakah kita langsung pulang mas...? ini sudah malam"


"menurutmu bagaimana...? kalau kamu lelah biar kita mencari hotel untuk menginap. sepertinya memang kita tidak bisa pulang apalagi sekarang sudah jam delapan lewat


"aku terserah mas saja"


Ali tersenyum dan mengangguk, mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah warung makan ikan bakar ibu Sumi. keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam. Ali memesan sesuai yang diinginkan oleh istrinya. di tempat itu bukan hanya ikan bakar, udang, dan cumi-cumi pun ada, seperti keinginan Maryam tadi.


pukul 21.00, mereka mencari hotel untuk beristirahat. mobil kembali melaju dan berhenti di sebuah hotel mewah yang pastinya di dalam tentu saja pelayanannya akan memuaskan. keduanya masuk ke dalam, Ali memesan satu kamar yang ada di lantai lima. seorang wanita memberikan kunci kamar dan keduanya menuju lift untuk menuju ke lantai lima.


di lantai lima mereka mencari nomor kamar yang telah mereka pesan, Ali membuka pintu dan terlihatlah pemandangan di dalam. begitu luas dan nyaman. di balkon hotel, pemandangan di bawah sana begitu membuat mata takjub.


Maryam menikmati pemandangan kota yang dipenuhi dengan lampu setiap gedung, bahkan ternyata ia dapat melihat pasar malam yang berada tidak jauh dari hotel itu.


"sedang apa...?" Ali datang dan memeluk Maryam dari belakang


Maryam terkejut, jantungnya semakin tidak karuan. tapi tetap saja dirinya harus membiasakan hal seperti itu. Ali suaminya dan dia berhak melakukan apapun padanya asal bukan kekerasan fisik saja.


"pemandangannya indah kan mas...?"


"hummm" Ali meletakkan kepalanya diceluk leher istrinya " Maryam meletakkan kedua tangannya di atas tangan suaminya yang sedang memeluk perutnya


"kita masuk, di sini dingin" Ali menarik Maryam masuk ke dalam


setelah Ali keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk, Maryam membuang wajahnya. ia begitu malu melihat tubuh suaminya, apalagi begitu menguji iman.


"kamu tidak mandi...?" Ali sudah mengagetkan dirinya dengan berdiri di belakangnya


"ah iya, aku mau mandi" dengan cepat Maryam masuk ke dalam kamar mandi sementara Ali berpakaian


Ali tau saat ini Maryam sedang gugup, ia pun juga sebenarnya begitu gugup. bagaimana harus memulai dirinya tidak tau. ini pertama baginya, meskipun dirinya banyak tau tentang adab berhubungan bersama pasangan halal, tetap saja saat ini dirinya merasa grogi. Maryam keluar dari kamar mandi, sudah dengan pakaian tidur yang biasa ia gunakan. Ali melirik istrinya, padahal tadi dengan berani dirinya memeluk Maryam namun sekarang dirinya malah gugup.


"belum tidur mas...?" Maryam mendekati Ali yang sudah di atas ranjang


"aku menunggumu"


Maryam tersenyum kemudian naik ke atas ranjang. keduanya sama-sama canggung, hening menghampiri kamar seperti tidak berpenghuni.


Ali memberanikan diri menggenggam tangan istrinya, kemudian menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Maryam.


"Maryam... apakah...kamu sudah siap kalau aku meminta hakku...?" Ali bertanya dengan ragu-ragu. meskipun Maryam sudah mengatakan kalau dirinya telah bersedia lahir batin namun tetap saja dirinya harus meminta izin lagi untuk memastikan


"aku siap mas, bukankah kewajibanku adalah melayani suami. aku siap lahir batin mas"


"kalau begitu kita sholat sunah terlebih dahulu" ucap Ali dan Maryam mengangguk


keduanya berwudhu dan mulai sholat sunah dua rakaat. setelahnya hal yang terjadi maka terjadilah malam itu. peluh keringat membasahi tubuh keduanya, hingga keduanya terlelap karena pertempuran yang beberapa kali mereka lakukan.


****


Akmal semakin mempercepat langkah untuk menemui seseorang yang sedang duduk di ruang tunggu depan ruang ICU bersama seorang laki-laki dan seorang wanita.


"mas Gara" panggil Akmal


ketiganya menoleh ke arah suara, Akmal tersenyum dan menghampiri keduanya.


"kamu di sini Akmal...?" tanya Gea


"iya mbak, aku mengantar mbak Nagita. kalian kok di sini juga, siapa yang sakit...?" Akmal pura-pura bertanya padahal dalam hati tentu saja dirinya sudah tau. melihat ada Alvian bersama mereka, pastinya keduanya sedang menemani laki-laki itu


"Selmi kecelakaan jadi kami ke sini" jawab Gara


"kecelakaan bagaimana mas...? kasian sekali dihari pernikahan malah terbaring di ranjang rumah sakit"


belum sempat Gara menjawab, Nagita datang menggunakan pakaian khusus untuk masuk ke ruang operasi. Alvian mendekat wanita itu dan memohon untuk menyelamatkan istrinya.


"tolong selamatkan anak dan istriku Gita" dengan mata sembab, Alvian seperti orang yang tidak waras. rambutnya tidak rapi seperti diacara pernikahan tadi, bahkan bajunya nampak darah menempel di jas putihnya


"saya akan berusaha Al, tenangkan dirimu. minta pertolongan kepada Allah, semua atas kuasa-Nya"


"kamu dokter Gita, saya tidak mau tau kamu harus selamatkan mereka berdua. mereka segalanya bagiku Gita, aku mohon" Alvian bersimpuh, Gara segera memegang pundaknya untuk berdiri


"jangan seperti ini Al, aku bukan Tuhan tapi aku akan berusaha" Nagita segera masuk ke dalam sementara Alvian semakin tergugu di tempat duduknya


Akmal menatap punggung Nagita sampai pintu ruang ICU tertutup menghalangi wanita itu. ia melihat ke arah Alvian yang sedang di tenangkan oleh Gara. sementara Gea sedang menghubungi seseorang. wanita itu sedikit menjauh dari mereka, Akmal memasang telinga dengan tajam dan bahkan dengan sengaja mengambil satu langkah agar dirinya lebih dekat dengan Gea. dirinya bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya, namun kedua telinganya sudah terpasang siap merekam.


"kami masih di rumah sakit"


"ya nggak bisa, sepertinya mas Gara tidak bisa meninggalkan temannya sebelum keluarganya datang"


"masa biar mengurus satu orang saja kalian tidak bisa. kunci saja di dalam kamar jangan sampai dia kabur"


"pokoknya jangan sampai dia kabur, kalau dia lepas maka tamat riwayat kalian di tangan mas Gara"


Gea menutup panggilan, saat berbalik dirinya dikejutkan dengan keberadaan Akmal yang tidak jauh darinya.


"Mal, kamu mengejutkan ku saja" Gea mendekati Akmal, ia mendengar pemuda itu sedang berbicara dengan seseorang lewat panggilan telepon.


"iya mas... kalau gitu sudah dulu ya" Akmal berpura-pura mematikan panggilan padahal sebenarnya dirinya tidak bicara dengan siapapun


"eh mbak Gea, aku pikir masih menelpon tadi" Akmal tersenyum


"udah selesai, ayo ke sana"


"silahkan mbak"


keduanya kembali menghampiri Alvian dan Gara. kini keluarga Alvian dan keluarga istirnya telah datang. ibu Selmi datang dan tiba-tiba langsung menampar Alvian. tentu saja hal itu membuat semua orang kaget, apalagi orang tua Alvian yang tidak terima anaknya di tampar.


"apa-apaan kamu, berani sekali menampar anak saya" ibu Alvian mendorong ibu Selmi. wanita baya itu hampir terjatuh jika saja suaminya tidak menahannya


"gara-gara anak kamu, anak saya masuk ICU sekarang. kalau masih belum bisa melupakan mantan pacar kamu, jangan mengajak menikah dan bahkan sampai membuat anak saya hamil" ibu Selmi hendak menyerang kembali Alvian namun Gara segera membawa Alvian dibelakang tubuhnya sementara ayah Alvian menghentikan ibu Selmi


"tidak usah melempar kesalahan kepada anak saya, anak kamu juga kenapa mau sama laki-laki yang sudah punya tunangan bahkan rela menyerahkan tubuhnya untuk dijamah. wanita murahan kan memang seperti itu. harusnya yang menjadi menantu aku itu Nagita bukan anak kamu, kamu pikir aku suka sama anak kamu" ibu Alvian memasang badan bahkan menunjuk wajah ibu Selmi


"jangan sembarangan ya kalau bicara, anak saya anak baik-baik. pasti karena digoda oleh anak kamu sehingga dia mau dengannya"


"cukup bu cukup, apa tidak malu dilihat banyak orang. kita sekarang berada di rumah sakit bukan di pesta pernikahan" ayah Selmi membentak istrinya, wanita itu bersungut-sungut dan duduk di kursi


Alvian menunduk dalam, semua memang berawal dari Selmi yang mendapati sebuah foto milik Alvian di lemari pakaian. foto itu adalah foto Nagita bersama Alvian saat keduanya masih bersama. tentu saja Selmi merasa cemburu suaminya masih menyimpan foro mantan kekasihnya. keduanya bertengkar dan Selmi ingin ikut pulang ke rumahnya bersama orang tuanya. Alvian menahan, mereka bertengkar di tangga saat itu. Selmi memilih pergi sayangnya kakinya terpeleset hingga dirinya jatuh terguling-guling sampai di lantai bawah.


Akmal yang pusing kepala, hanya menggeleng kepala melihat dua keluarga itu yang masih saling tidak bertegur setelah pertengkaran tadi.


"seperti sinetron ikan terbang saja" gumam Akmal


Gea mengkode Gara untuk berpamitan kepada Alvian karena keduanya sedang di tunggu di suatu tempat. Gara paham dan mulai bersuara.


"makasih ya Ga, maaf membuat kamu tidak nyaman" ucap Alvian


"santai saja Al. kamu harus tetap tenang dan kuat. istrimu membutuhkanmu nantinya. kalau gitu aku pamit ya"


"hati-hati" angguk Alvian


"tante, om...kami pamit pulang dulu" Gara berpamitan kepada kedua orang tua Alvian


"makasih ya nak Gara sudah menemani Alvian tadi. kapan-kapan datang lagi ya main ke rumah" ibu Alvian tersenyum


"pasti tante"


Gea pun ikut berpamitan, keduanya berpamitan juga kepada kedua orang tua Selmi. hanya ayah Selmi yang bersikap ramah sementara ibu Selmi membuang wajah dan menatap sinis.


Gara dan Gea pergi meninggalkan mereka menuju parkiran sementara Akmal yang tidak ingin kehilangan jejak keduanya, langsung terburu-buru menyusul keduanya. dengan cepat ia masuk ke dalam mobil untuk mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Gara.


_______________________________________


pernah nggak kalian tiba-tiba sedih tanpa sebab, tiba-tiba nangis padahal nggak ada yang marahin. tiba-tiba dada sesak aja gitu, padahal baik-baik saja tapi hal itu terjadi begitu saja.


air mata jatuh begitu saja padahal saat itu nggak ada masalah. hanya saja teringat lisan yang pernah melukai hati, bahkan lebih perih dari luka fisik. begitu sesaknya sampai menangis tanpa suara itu begitu menyiksa, menangis sambil makan itu, begitu terluka.


maaf ya jadi curhat 🙏🙏, tapi terkadang teman tanpa saling melihat itu lebih bijak.


semoga hari kalian selalu menyenangkan dan bahagia. terimakasih selalu membaca cerita Fatahillah, semoga kita semua selalu sehat.