
Mencoba mencari keberadaan Najihan tidak membuahkan hasil bagi Samuel juga Naomi. Bahkan mencoba melacak keberadaan wanita itu dengan sebuah aplikasi tidak juga ditemukan sebab ponsel Najihan tidaklah aktif. begitu juga dengan Alvin dan Diandra.
"apa mereka langsung ke pulau bambu...?" ucap Naomi.
"secepat itu...?"
"Sam, tentu saja mereka harus bergerak cepat. kini aku tau, mereka pasti akan menggunakan dokter Najihan untuk membuat Gara menghentikan pencariannya tentang telaga gunung Gantara"
"dan akan ada yang murka sepertinya jika dia tau dokter Najihan di culik oleh Diandra"
"siapa...?" Naomi penasaran.
"laki-laki yang bersama Gara dan bernama Aji Wiguna adalah emmm...dia mempunyai hubungan khusus dengan dokter Najihan dan bahkan mereka mempunyai anak dan anak itu adalah Kaindra"
"kamu serius...?"
"iya, dan sepertinya aku harus segera ke pulau bambu"
Samuel memutar mobilnya untuk menuju ke sebuah tempat. Bagaimanapun caranya, ia harus berangkat hari itu juga.
"tapi ini sudah malam Sam, apa tidak sebaiknya besok saja. Kamu akan pergi dengan naik apa. Tidak mungkin ke pelabuhan merak kan, bisa-bisa semua anak buah Gandha Sukandar akan tau"
"aku mempunyai orang yang bisa mengantarku ke sana. Maaf Naomi, sepertinya aku tidak bisa mengantar kamu pulang sebab arah rumahmu dengan tujuanku berbeda"
Samuel saat itu berhenti di pertigaan. Dirinya harus berbelok ke arah kiri sementara jika ia mengantar Naomi maka dirinya harus berbelok ke arah kanan.
"aku ikut Sam"
Ucapan Naomi membuat Samuel memutar kepala untuk melihat wajah wanita itu. Senyuman Naomi tergambar di wajahnya.
"aku ingin ikut bersama kamu. Aku mempunyai utang budi kepada Gara maka dari itu aku ingin membantunya"
"nggak bisa Na, ini terlalu berbahaya. aku tidak mau kamu terluka seperti di wilayah D kemarin. Jika ingin membantu maka tetaplah di sini, biarkan kami yang menyelesaikan semuanya" Samuel tentu saja menolak, dirinya tidak ingin siapapun terluka lagi.
"tapi Sam, kan ada kamu yang menjaga aku. Bisa saja aku berguna nanti di sana. Pokoknya aku ikut dan aku tidak ingin ada penolakan"
"tapi Na"
"Sam ayolah... meski aku tidak mempunyai kekuatan seperti Gara juga dirimu tapi setidaknya aku bisa sedikit bela diri. Aku bisa menjaga diriku dari serangan anak buah Gandha Sukandar, hanya saja untuk serangan gaib jelas aku meminta perlindungan darimu"
Samuel masih bergeming dan tidak memberikan jawaban. Alhasil Naomi menginjak gas saat itu juga sehingga mobil bergerak dan spontan Samuel kaget, karena sejak tadi ia tidak mematikan mesin mobilnya.
"satu hal yang aku tau darimu, kamu ternyata wanita pemaksa Na" Samuel melajukan mobilnya ke tujuannya
"kenapa memangnya, kamu tidak suka wanita sepertiku...?" Naomi beralih menatap Samuel.
"entah" dengan mengangkat kedua bahunya Samuel menjawab "aku tidak pernah mendapatkan itu dari Diandra" lanjutnya
"berarti kamu harus membiasakan diri dengan hal seperti itu. Wanita kan memang kebanyakan sukanya memaksa" kembali Naomi melihat ke depan.
Samuel tidak menjawab, tujuan mereka saat ini adalah ke rumah pak Dodi, seorang laki-laki baya yang mengantar Fatahillah juga yang lainnya ke pulau bambu dan Samuel akan menggunakan jasa laki-laki itu.
_____
Mereka baru saja melaksanakan sholat magrib dan kini saatnya mereka harus berpisah. Hasan, Aji Wiguna dan Tegar akan ke telaga gunung Gantara sementara Fatahillah bersama Yusrif, keduanya akan pergi ke markas Gandha Sukandar yang ada di pulau itu.
"bagaimana kalau Yusrif bersama kami dan Aji Wiguna bersama kamu. Setidaknya Aji Wiguna tidak terluka seperti Yusrif. kami hanya akan berhati-hati agar kera iblis tidak mengetahui kedatangan kami. Sementara kamu, anak buah Gandha Sukandar itu banyak, dengan bersama Aji Wiguna kalian bisa mengatasi mereka"
Bukannya meragukan kemampuan Yusrif namun selain Fatahillah, Aji Wiguna lebih tinggi ilmunya dibandingkan mereka. Hasan pun merasa ilmunya di bawah Aji Wiguna maka dari itu Hasan merekomendasikan Aji Wiguna untuk menemani Fatahillah.
"tidak apa-apa kan Yus, bos kamu menggantikan posisimu" ucap Hasan.
"tentu saja, ilmu bos tidak diragukan lagi. aku mah kaleng-kaleng, tapi bukan banci kaleng ya" Yusrif masih saja bisa bergurau.
"ya sudah, kalau begitu aku bersama Aji Wiguna. Kalian berhati-hatilah, pastikan selamat dari kera iblis dan ambil air telaga itu"
"tentu saja, kami pergi dulu" jawab Hasan.
Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah di tempat itu. Hasan, Yusrif juga Tegar ke arah barat sementara Aji Wiguna dan Fatahillah ke arah selatan.
Pulau yang luas dan di kelilingi oleh laut, di malam itu mereka berpetualang bak mencari jalan untuk keluar.
"Aji, aku merasa sebaiknya kita mengikuti pinggir pantai saja dengan begitu kita bisa mendapatkan dermaga tempat kapal bersandar"
"itu ide yang bagus, namun di sana sudah pasti akan ada anak buah Gandha yang berjaga. Bagaimana caranya kita melewati mereka...?"
"gampang saja, kita tinggal kembali masuk ke dalam pulau. tapi sebelum kita berangkat, kita sholat isya dulu. Aku tidak mau sholatku bolong meski dalam keadaan di hutan seperti ini"
"apa kita tayamum saja...?" Aji Wiguna mengatakan itu sebab tidak ada air di dekat mereka kecuali air laut yang tentunya asin.
"kenapa harus tayamum, kita bisa berwudhu menggunakan air laut. Air laut adalah salah satu air yang bisa di gunakan untuk berwudhu jika kita tidak mempunyai air biasa" Fatahillah menjelaskan.
"baiklah"
Keduanya yang masih berada di pinggir pantai, mulai membuka jaket yang di pakai. Menggulung celana agar tidak basah dan mendekati air hingga kaki mereka basah.
Empat rakaat sholat isya mereka kerjakan, dan kini setelah selesai sholat mereka bersiap untuk menyusuri pinggiran pantai.
Sepertinya suasana yang baik berpihak kepada mereka. Karena saat itu rembulan di atas sana mampu membuat terang di pulau itu. Meskipun tidak seterang lampu biasa, namun cahayanya sudah bisa membantu untuk melakukan perjalanan dimalam yang dingin itu.
Mereka kira pulau itu adalah pulau biasa saja tanpa adanya binatang buas atau semacamnya. namun rupanya di tengah perjalanan mereka, dari arah samping melompat seekor serigala yang hampir menerkam Aji Wiguna jika saja laki-laki itu tidak menghindar dan melakukan gerakan tendangan sehingga binatang itu terpental jatuh di atas pasir.
Bukan hanya satu serigala melainkan ada begitu banyak. Yang lebih anehnya adalah, binatang itu mempunyai mata tidak seperti biasanya. Mata serigala-serigala itu merah pekat dengan gigi yang begitu tajam dan juga air liur yang terus menetes. Kedatangan Fatahillah juga Aji Wiguna membuat mereka begitu lapar.
"hati-hati Aji, mereka serigala jadi-jadian" Fatahillah mulai merasakan energi jahat dari hewan buas itu.
"sepertinya Gandha Sukandar sengaja memelihara mereka" ucap Aji Wiguna.
lebih dari sepuluh ekor serigala, mereka mengepung keduanya. Beberapa ekor mulai melompat menerkam. Aji Wiguna memanjangkan kuku-kukunya dan begitu tajam, layaknya kuku vampir atau semacamnya. Fatahillah tidak menyangka, Aji Wiguna dapat melakukan hal itu. Baru kali ini dirinya melihat Aji Wiguna seperti itu.
bughhh
bughhh
Bughhh
Tiga ekor serigala itu mendapatkan tendangan bebas dari Aji Wiguna sementara Fatahillah menggunakan cincin batu akik dengan mengeluarkan cahaya biru, serigala-serigala itu terpental jauh dan bahkan ada yang terjun bebas ke dalam air.
mulailah serigala lainnya menyerang. Dua pemuda itu melawan mereka dengan kekuatan masing-masing. tanpa menggunakan energi kedua mustikanya, Fatahillah dapat menangani hewan-hewan itu. Sementara Aji Wiguna, kuku tajam itu ia tancapkan di perut hewan itu hingga isi perut mereka keluar. Bahkan menggorok dengan begitu sadisnya. Darah mengalir mewarnai pasir putih.
Terkapar tewas dengan tidak bernyawa lagi, tidak lama hewan-hewan buas itu menghilang begitu saja. benar apa yang dikatakan Fatahillah, mereka adalah hewan jadi-jadian, bukan serigala yang sesungguhnya.
"Aji, kamu seperti vampir kalau seperti itu. Apakah kamu ini keturunan vampir...?" Fatahillah menunjuk kedua tangan Aji Wiguna.
kedua tangan Aji Wiguna kembali seperti sebelumnya, dengan tanpa kuku seperti tadi. Ia mendekati air kemudian mencuci tangannya yang terkena darah dari hewan buas tadi.
"aku juga tidak menyangka bisa kembali memiliki kekuatan ini. Padahal kemarin-kemarin, aku tidak bisa merubah seperti tadi"
"apa hanya tangan...?"
"iya...itu adalah ilmu yang aku dapatkan dari Ki Demang"
"sangat disayangkan orang seperti Ki Demang harus mati karena keserakahannya sendiri"
_____
tiba di dermaga pulau bambu, empat orang manusia di sambut oleh beberapa orang anak buah Gandha Sukandar.
Laki-laki yang menyamar menjadi pemilik perkebunan Ganja Gandha Sukandar, berjalan berjalan bersama Utami, wanita cantik yang kini memakai pakaian seksi hingga lengkuk tubuhnya begitu jelas. Sayangnya saat ini yang dimiliki oleh wanita itu sudah sama sekali tidak menarik perhatian Akmal maupun juga Alex setelah kejadian tadi pagi di wilayah S. Akmal bahkan merasa begitu enggan untuk melihat tubuh molek Utami.
di dermaga itu di suguhkan pemandangan indah karena tempatnya yang dibuat seperti tempat wisata pantai yang sering di kunjungi oleh orang-orang. Bersih dan begitu alami, gazebo-gazebo kecil berjejer sebagai tempat peristirahatan.
Alex dan Akmal mengikuti langkah kaki laki-laki juga wanita di depan mereka menuju ke arah villa besar yang terlihat begitu megah. Villa satu-satunya yang berada di pulau bambu. Villa dua tingkat yang berada di pinggir pantai yang tidak begitu jauh.
"selamat malam tuan" seorang laki-laki baya datang tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.
"selamat malam pak Nanto, dua kamar yang saya beritahu apakah sudah dirapikan...?"
"sudah tuan, sudah di bereskan oleh istri saya dan siap untuk ditempati"
"bagus, kamu memang bisa diandalkan pak"
Pak Nanto menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. mereka masuk ke dalam rumah dan langsung disuguhkan dengan pemandangan indah. Dari ruang tamu, ruang tengah, dan juga kolam renang yang ada di samping rumah. Akmal takjub dengan tempat itu, belum pernah dirinya datang ke tempat seperti itu dan serasa dirinya saat ini datang untuk berlibur.
"pak, makan malam sudah siap kan...?" Utami bertanya.
"sudah nona, istri saya telah masak banyak hari ini"
"kalian mandilah terlebih dahulu, kita bertemu di meja makan nantinya" ucap Gandha Sukandar.
"baik pak" Alex menjawab.
Gandha Sukandar berlalu dan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Sementara pak Nanto mengantarkan Akmal juga Alex ke kamar mereka masing-masing. namun karena Akmal tidak ingin tidur terpisah dengan Alex, maka keduanya pun akhirnya tidur sekamar berdua.
"kalau begitu saya tinggal dulu den" pak Nanto akan undur diri.
"tunggu sebentar pak" Alex menahan laki-laki itu.
"Aden butuh sesuatu...?" pak Nanto kembali membalikkan badannya.
"bapak.... tinggal di sini juga...?" tanya Alex.
"tidak atuh den, saya tinggal bersama istri di belakang villa ini. tugas saya dan istri saya setiap hari membersihkan vila ini"
"sudah lama pak...?" tanya Akmal, dirinya juga Alex mulai ingin mengerok informasi apa saja yang mereka dapatkan dari laki-laki itu.
"sudah lah, mungkin sekitar 10 tahun. Waktu itu den Gara pun sering datang ke sini, kadang datang menenangkan diri. Tapi setelah itu den Gara sudah tidak pernah lagi datang ke sini"
"Gara sering ke sini...?" Alex memastikan.
"iya... kadang juga datang bersama den Genta dan tuan Gandha juga istrinya. namun setelah kematian Bulan, istri dari Gara, mereka tidak pernah datang lagi kecuali pak Gandha sendiri"
masih ingin bertanya namun Utami terlihat keluar dari kamarnya sehingga Alex akhirnya memutuskan percakapan mereka agar Utami tidak curiga. Pak Nanto kembali undur diri sementara Akmal dan Alex masuk ke dalam kamar.
"mas...apa jangan-jangan Gandha Sukandar palsu ini sudah lama menyamar menjadi Gandha Sukandar yang asli"
"maksud kamu, dari dulu gitu...?" Alex merebahkan tubuhnya di kasur.
"bisa saja kan, tapi itu hanya pemikirianku saja sih. Buktinya pak Samsir begitu menyayangi Gara meskipun bukan cucu kandungnya. Terlihat dari dirinya yang begitu perhatian kepada mas Fatah"
"tapi kan dari cerita Fatahillah, memang Gandha Sukandar yang berkhianat dan mengambil paksa kepemimpinan gunung Gantara dari tangan ayahnya Fatahillah"
"iya juga sih" Akmal ikut merebahkan tubuhnya di kasur. "kapan yaaa bisa pulang, pengen gitu tidur di kasur empuk sambil meluk dokter cantikku" Akmal membayangkan senyuman manis dari Nagita.
"hus... belum juga nikah udah mau tidur sama anak gadis orang. Mau kepalamu dipeganggal...?"
"yeeee... maksud aku kan sehabis nikah gitu loh. Iya kali aku langsung mau boboin anak orang tanpa belum halal. Otw alam barzah lah gue"
"nah itu tau. Udah mandi sana, lalu gantian. Aku mau tidur sebentar"
"tapi kita nggak bawa baju ganti loh mas"
"kan katanya pak Nanto semua keperluan kita sudah ada di dalam lemari" Alex menunjuk lemari kaca yang besar di depan mereka.
"kapan dia siapin ya, emang dia tau gitu ukuran CD aku" Akmal bangun dan menatap lemari yang begitu tinggi.
"ya paling ukuran bocil dan model macan tutul"
"nggak sekalian saja ular cobra" Akmal melirik sinis ke arah Alex.
""bukannya kamu sudah punya ular cobra ya...?" Alex menaik turunkan alisnya.
"idih...mas mulai genit ya"
"tapi kamu suka kan...?" Alex bangun dan meraba dada Akmal. Seketika Akmal berdiri dan menjauh.
"hiiiiiii...aku ternoda, oh my God...mas kok genit sih. Salah makan ya" Akmal merinding melihat Alex menatap genit padanya.
"mau buka di sini apa di kamar mandi sayang...?" satu kedipan mata ia berikan kepada Akmal.
"hiiiiiii..." dengan bergidik geli Akmal berlari ke arah kamar mandi. sontak tawa Alex pecah melihat Akmal yang lari terbirit-birit.
"mas Alex sialan. Aku dikerjain rupanya. awas saja nanti" sambil mengomel Akmal melepas bajunya.
Makan malam di ruang meja makan, dengan berbagai hidangan yang tertata di atas meja. malam itu, mereka menghabiskan malam di pulau bambu.
"besok kalian harus mengerjakan sesuatu" ucap Gandha Sukandar.
"kami selalu siap melaksanakan tugas" jawab Alex.
"bagus. aku suka itu. Apapun itu kalian harus patuh bahkan menghilangkan nyawa orang lain sekalipun" Gandha menatap keduanya.
Keduanya terdiam, sepertinya laki-laki itu sedang menguji kesetiaan mereka dan tentu saja mereka harus memperlihatkan loyalitas mereka kepada sang bos.
"apapun itu, kami siap melakukannya" jawab Alex.
Gandha Sukandar tersenyum dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Makan malam usai, Gandha Sukandar kembali ke kamarnya begitu juga dengan Utami. Kesempatan itu digunakan Alex untuk mendekati pak Nanto saat datang bersama istrinya untuk membereskan piring kotor.
"pak Nanto" panggil Alex.
"iya den" pak Nanto mendekat dengan ember dan juga lap yang ada di tangannya.
"kami ingin berkunjung ke rumah bapak, boleh nggak"
pak Nanto mengernyitkan dahi dan bahkan terlihat terkejut kala itu. Berkunjung ke rumah saya...?" tanya pak Nanto memastikan.
"iya, kami hanya ingin silaturahmi saja. boleh kan pak...?"
"boleh atuh, ya sudah selesai pekerjaan ini anti kita langsung ke rumah"
"kami tidak mengganggu kan pak...?" tanya Akmal.
"sama sekali tidak, malah saya senang saya mempunyai teman untuk bercerita. Aden berdua silahkan tunggu saya di ruang tengah, nanti saya menyusul"
keduanya mengangguk dan meninggalkan meja makan. Bukannya ingin mengganggu malam-malam, hanya saja mereka hanya ingin mencari informasi dan mereka yakin pak Nanto pasti tau sesuatu dari salah satu rahasia Gandha Sukandar palsu.