
"Guntur" ibu Halima memanggil anaknya dari dalam mobil "ibu Kamila berlum sadarkan diri nak"
"ya Allah bu" Haninayah dan Guntur berlari cepat ke arah mobil
Fatahilah, Hasan dan Akmal menyusul mereka. Haninayah langsung masuk dan melihat ibunya yang sedang terbaring di kabin tengah. kepalanya di pangku oleh ibu Halima.
"kita ke rumah sakit" Guntur segera masuk ke dalam mobil
"ke rumah pamanmu saja nak, disana ada dokter Nagita" ucap ibu Halima
"ke rumah sakit saja dulu bu, takutnya ibu Kamila kenapa-kenapa. di sana alat-alat medisnya lengkap" sahur Guntur
"baiklah, mana baiknya saja"
Guntur keluar mobil dan mendekati ketiganya. ia berpamitan kepada tiga pemuda yang berdiri di dekat mobilnya.
"saya harus ke rumah sakit mengantar ibunya Hani, jika kalian mau ikut boleh saja atau mungkin kalian bisa langsung ke rumah pamanku" Guntur memberitahu
"kami ikut bersama kalian saja mas Guntur" timpal Akmal
karena namanya disebut oleh salah satu dari mereka, Guntur mengangkat satu alisnya. ia sedang berpikir darimana pemuda itu tau namanya.
"mas Gun sudah lupa sama saya ya" Akmal tersenyum
Guntur semakin mengernyitkan dahi, mencoba mengingat siapa laki-laki yang mengenalnya itu. namun sayangnya ia tidak mengingat siapa Akmal.
"maaf siapa ya...?"
"saya Akmal mas, ponakan paman Ali yang hampir menjadi calon kakak iparmu"
setelah mendengar nama Ali, barulah Guntur mengingat laki-laki yang kini tersenyum ramah kepadanya.
"masya Allah" Guntur seketika langsung memeluk Akmal, ia senang bisa bertemu dengannya lagi "kamu banyak berubah Mal, tambah ganteng pantas aku pangling tadi"
"ah mas bisa saja, aku kan jadi malu" Akmal memasang wajah malu-malu meong
"idih Mal, nggak usah gitu juga kali gayamu. jijik aku" Hasan mencebik membuat Akmal cemberut dan memasang wajah jutek sementara Fatahillah terkekeh pelan
"kalau begitu kita bertemu di rumah sakit terdekat yang ada di sini ya. maaf saya harus pergi sekarang"
"silahkan mas, kami bisa menyusul nanti" ucap Fatahillah
Guntur mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobil. sebelum jalan ia membunyikan klakson barulah setelahnya ia meninggalkan mereka.
Fatahillah memutar kepala melihat ke arah dimana Aji Wiguna dan tiga orang lagi sedang memperhatikan mereka dari jauh. Aji Wiguna mengangkat tangan ke arah mereka, sementara Fatahillah hanya menatap datar dan tidak membalas.
"bos yakin dia akan membantu kita...?" tanya Alex, dirinya masih ragu
"tenang saja Al, dia pasti menepati janji. kalaupun tidak maka tentunya kita harus melanjutkan rencana berikutnya" Aji Wiguna tersenyum tipis
"lalu apakah kami berdua kembali saja bos..?"
"tetap di kota ini, kalau saya membutuhkan bantuan kalian maka kalian berdua harus secepatnya datang. cari penginapan yang dekat dengan rumah yang akan kami tuju"
"baik bos"
"Fatah sebenarnya siapa mereka...?" tanya Hasan, matanya melirik ke arah empat orang di sana
Fatahillah kembali melihat ke arah dua temannya.
"kalian ingat saat rem mobil aku blong waktu di kota B...?"
"ingat mas, memangnya kenapa dengan kejadian itu...?" tanya Akmal
"waktu itu aku bertarung dengan beberapa orang dan salah satunya adalah laki-laki yang memakai kemeja hitam yang ada diantara mereka"
Hasan dan Akmal refleks melihat ke arah empat orang itu.
"kamu yakin...?" tanya Hasan
"sangat yakin, aku masih ingat wajahnya"
"lalu kenapa mas Fatah tidak membiarkan kami untuk menyerang mereka tadi. mereka musuh loh mas. ini sih tidak bisa dibiarkan"
"laki-laki yang memakai baju abu-abu itu meminta bantuan kepadaku...?"
"bantuan...?" keduanya serempak bertanya
Fatahillah mengangguk "iya, kekuatannya dikunci oleh gurunya sendiri dan selain gurunya itu yang bisa membuka kembali kunci tersebut, maka hanya mustika merah yang bisa membuka kembali tenaga dalamnya"
"lah terus kenapa dia tidak suruh saja gurunya itu untuk membukanya, ngapain harus repot-repot cari mas Fatah"
"ada dua kemungkinan. pertama bisa jadi gurunya tidak mau membuka kunci yang ia buat, mereka terlibat perselisihan sehingga gurunya itu mengunci tenaga dalam muridnya. dan kedua, mungkin saja gurunya sudah meninggal" pendapat Hasan
"lalu mereka akan ikut bersama kita begitu...?"
"mau bagaimana lagi, aku tidak ingin membuat keributan. hanya saja kita harus tetap memantau mereka, bisa jadi mereka mempunyai rencana licik yang lain yang kita tidak ketahui"
"betul itu, kita tidak boleh percaya begitu saja kepada mereka. lalu bagaimana sekarang, kita susul mas Guntur dan mbak Hani atau bagaimana...?"
"kita susul mereka" ucap Hasan
hendak melangkah ternyata ponsel Fatahillah berbunyi. ia mengangkat panggilan masuk dari Haninayah.
(Hani)
(mas Fatah, kalian langsung ke rumah pak Danang saja ya, kami tidak jadi ke rumah sakit)
(memangnya kenapa, apa ibumu baik-baik saja...?)
(ibu sudah sadar dan dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. kita bertemu disana ya mas)
(baiklah, kami akan segera ke sana)
"kenapa Fatah...?" tanya Hasan
"kita langsung ke rumah pak Danang, Haninayah tidak jadi membawa ibunya ke rumah sakit"
"ya sudah kalau begitu, kita ke sana sekarang saja" ucap Akmal
"kalian ke mobil lebih dulu, aku ingin berbicara dengan mereka"
"Fatah, apa kamu yakin akan membantu laki-laki itu...? laki-laki berkemeja hitam itu pernah membuatmu terluka, sudah pasti mereka satu komplotan. bagaimana nanti kalau mereka membuat ulah"
"sebelum aku membuka kunci tenaga dalamnya, terlebih dahulu aku akan melakukan penyatuan energi dengan mustika merah. dengan begitu dia tidak akan bisa merencanakan sesuatu untuk merebut kedua mustika itu"
"nah itu ide yang sangat bagus, aku setuju. lebih baik memang seperti itu saja" Akmal menjentikkan jarinya
Hasan dan Akmal melangkah ke arah mobil mereka sementara Fatahillah mendekati Aji Wiguna.
"saya akan membantu kamu sesuai dengan peekataanku tadi tapi dengan syarat kalian tidak akan membuat kekacauan yang dapat merugikan kami maupun orang lain" ucap Fatahillah
Aji Wiguna langsung mengangguk setuju "tentu saja, kamu bisa percaya padaku"
Fatahillah menatap Alex dengan tatapan dingin, ia mengingat bagaimana Alex membuatnya terluka parah beberapa hari menggunakan ajian angin beracun, dan untungnya kiayi Zulkarnain dapat mengobati dirinya.
"ikuti kami"
Fatahillah balik badan menuju ke mobilnya. mereka semua meninggalkan tempat itu. dua mobil saling beriringan kembali ke jalan yang ramai menuju daerah barat tempat tujuan mereka.
mobil yang dikemudikan oleh Guntur kini telah memasuki rumah ilmu beladiri. di halaman yang luas di tempat parkir mobil itu berhenti. rumah lantai satu namun jika diperkirakan begitu luas dan besar. beberapa gazebo di depan rumah saling berjejer. samping kanan rumah begitu itu indahnya rumputnya, hijau dan terlihat asri. tertulis di papan yang tertancap di depannya, tempat latihan. luas dan berkemungkinan bisa menampung dua puluh orang untuk berlatih di rumput yang hijau itu.
"pelan-pelan bu" Haninayah membantu ibunya turun
Guntur dan ibu Halima sudah lebih dulu turun, dengan sigap Guntur membantu Haninayah memapah ibu Kamila mendekati pintu rumah.
wanita baya yang masih terlihat cantik, begitu melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah, ia yang sedang duduk di gazebo bersama anak remaja laki-laki langsung menghampiri Guntur dan yang lainnya.
"masya Allah Gun, kenapa tidak bilang-bilang mau ke sini" wanita itu sumringah melihat Guntur
"maaf bi ini dadakan. Nagita ada kan, ibu teman saya ini sedang sakit"
"subhanallah...ya sudah ayo masuk...kita masuk ke dalam. Rangga, kamu panggilkan mbak mu di belakang ya"
"baik bu"
anak remaja seusia Arjuna yang bernama Rangga itu, ia berlari melewati samping rumah untuk memanggil dokter Nagita sedangkan ibu Kamila dibawa masuk ke dalam rumah dan dibaringkan di ranjang kamar tidur yang akan ditempatinya selama berada di rumah itu.
semua orang keluar menuju ruang tengah kecuali Haninayah yang masih ingin menemani ibunya. setelahnya Rangga datang bersama dokter Nagita.
"dimana pasiennya...?" tanya Nagita melihat mereka satu persatu
"di kamar Gita, tolong periksa dia" ibu Halima menjawab
dokter Nagita mengangguk kemudian melangkah meninggalkan mereka semua.
"paman dimana bi...?" Guntur bertanya
"sedang ke rumah pak Karno mungkin sebentar lagi pulang. tunggu sebentar ya bibi buatkan minum dulu, soalnya art bibi pulang kampung karena anaknya mau menikah"
"kamu ini loh Ima, sama ipar kamu sendiri saja selalu begitu. sama sekali tidak repot, kalian tunggu disini ya"
"tunggu sebentar bi" ibu Nining yang akan beranjak langsung di tahan oleh Guntur "ada yang ingin saya katakan bi" lanjutnya
ibu Nining kembali duduk, ia melihat ibu Halima setelahnya kembali menatap Guntur di depannya yang terhalang oleh meja kaca yang panjang.
"mau bicara apa Gun, apakah sesuatu yang penting...?"
"begini bi, kami masih mempunyai teman yang akan datang ke sini lagi dan mungkin sekarang mereka sudah dijalan. mereka laki-laki semua. saya ingin meminta izin, kami semua akan menginap di sini beberapa hari"
"ya Allah Guuun....Guuun" ibu Nining tertawa kecil mendengar penuturan keponakannya itu lebih tepatnya keponakan suaminya "kamu seperti berada di rumah siapa saja. menginap satu bulan bahkan berbulan-bulan juga bibi tidak akan marah, justru bibi senang. kalau begitu bibi harus buatkan kalian minum sebelum mereka datang"
"saya bantu kalau gitu mbak"
"ya sudah ayo, saya senang loh Ima kalian datang, jadi saya punya teman untuk cerita" ibu Nining tersenyum sumringah, ia merangkul tangan adik iparnya itu dan mereka ke dapur meninggalkan Guntur bersama dengan Rangga
"mas Guntur capek ya, kalau capek ke kamar saja mas, istirahat" ucap Rangga
"nanti saja ngga, mas masih mau di sini"
"kalau gitu Rangga tinggal ya mas soalnya tadi Rangga sedang mengerjakan tugas"
"iya, kembalilah" Guntur tersenyum lembut
Rangga beranjak dan meninggalkan Guntur. setelah memeriksa ibu Kamila, dokter Nagita dan Haninayah keluar dari kamar itu. mereka menghampiri Guntur yang sedang bersandar di sofa. kepalanya ia dongakkan ke atas dan menutup mata.
"jadi bagaimana keadaan ibu saya dokter...?" tanya Haninayah
"ibu Kamila hanya kelelahan saja, tidak perlu cemas. setelah istirahat yang cukup insya Allah dia akan pulih" dengan ramah wanita yang memakai gamis hitam dan hijab coklat bercorak bunga-bunga, menjawab begitu ramah
"tidak ada yang serius kan Gita...?" Guntur memperbaiki posisi duduknya
"Alhamdulillah nggak ada mas. mas Gun kenapa datang tiba-tiba dan membawa seorang wanita. dia...calon mas Guntur ya...?"
"hus sembarangan kamu Git" Guntur melotot ke arah Nagita "maaf ya Hani, dia memang seperti itu" Guntur tidak enak hati kepada Haninayah
"nah kan, mas manggilnya saja Hani" Nagita mengangkat satu alisnya
"nama saya Haninayah dokter, tapi sering dipanggil Hani" dengan malu Haninayah menjawab, sebenarnya ia merasa gugup saat Nagita menyebutnya sebagai calon istri dari Guntur
"oalah....saya pikir panggilan sayang begitu" Nagita terkekeh pelan "ternyata nama kamu. salam kenal ya Hani, tapi kalau kamu berminat dengan sepupuku ini...aku akan dukung sekali" Nagita mengedipkan mata ke arah Guntur
"idih genit banget tuh mata" Guntur mencibir membuat Nagita tertawa lepas
Haninayah hanya tersenyum canggung dibalik cadarnya. saat melihat ke arah Guntur rupa-rupanya pemuda itupun sedang melirik ke arahnya. hal itu membuat mereka berdua saling melempar pandangan ke arah lain.
"kamu nggak ke rumah sakit...?" Guntur bertanya kepada Nagita
"aku sudah pulang, ingin istirahat saja di rumah"
"bukan karena menghindari Alvian kan...?" selidik Guntur
Nagita menghela nafas panjang, sementara Haninayah saat ini adalah pendengar terbaik cerita keduanya.
"aku sudah memutuskan untuk pindah bekerja di rumah sakit lain dan minggu depan aku sudah bisa masuk ke sana. satu minggu yang lalu aku mengurus pengunduran diri"
"karena Alvian...?"
"tentu saja bukan" Nagita tersenyum "di tempat kerjaku yang baru, aku mengenal banyak orang-orang disana apalagi teman dekatku ada di sana juga. untuk Alvian, aku sudah tidak ingin memikirkan itu lagi. biarlah dia bahagia bersama Selmi, pilihannya sendiri"
"baguslah, setidaknya kamu tidak perlu lagi bertemu dengan laki-laki brengsek seperti dia. kalau bertemu denganku, aku ingin sekali menghadiahkan bogem mentah di wajahnya"
"jangan memasang wajah seperti itu mas, nanti Haninayah takut padamu kan bisa repot" Nagita melirik Haninayah
"apa hubungannya denganku...?" tanya Haninayah polos
"Hani...kamu mau nggak menjadi pendamping hidup mas Guntur" Nagita blak-blakkan meminta kepada Haninayah
"uhuk...uhuk" seketika Guntur tersedak ludahnya sendiri "Gita, kamu mau aku lempar ke kolam di belakang rumah" Guntur semakin kesal
"cie...cie.... mukanya merah tuh" Nagita semakin menggoda kakak sepupunya itu. hal itu membuat Guntur melemparkan bantal sofa kepadanya
"emm saya ke kamar dulu" Haninayah langsung beranjak, ia tidak nyaman dengan situasi sekarang. daripada dirinya semakin dimintai aneh-aneh oleh Nagita, lebih baik dirinya kabur
berselang satu jam setelah kedatangan Guntur dan Haninayah di rumah pak Danang, kini dua mobil berhenti di halaman rumah. Rangga yang masih berada di gazebo, melihat bingung ke arah dua mobil itu.
semua orang turun dari mobil mereka, Rangga menutup buku belajarnya dan menghampiri mereka.
"cari siapa ya...?" tanya Rangga
"Gunturnya ada...?"
"temannya mas Guntur ya...?"
"iya"
"mas Guntur ada di dalam, ayo silahkan masuk" dengan ramah Rangga mempersilahkan mereka masuk
Rangga lebih dulu, di ambang pintu dirinya memanggil Guntur yang berada di ruang tengah.
"masuk saja mas, mas Guntur ada di ruang tengah" ucap Rangga
tidak lama Guntur menghampiri mereka. ia mempersilahkan semuanya untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang luas sementara Rangga kembali ke gazebo tempat ia belajar tadi.
"mas Gun, tadi itu Rangga ya...?" tanya Akmal
"iya, dia Rangga"
"sudah besar sekarang ya... dulu aku datang dia belum setinggi itu"
"namanya pertumbuhan Mal"
Guntur melihat ke arah Aji Wiguna dan Alex, keduanya saling melempar senyum.
"kita belum berkenalan tadi. saya Aji Wiguna" ia mengulurkan tangan ke arah Guntur
"Guntur" Guntur menjabat tangan Aji Wiguna
"kalau dia Alex, teman saya" Aji Wiguna memperkenalkan Alex kepada Guntur. Guntur mengangguk paham
Nagita datang membawakan mereka minuman dan cemilan dibantu oleh Haninayah. saat melihat Nagita, senyum Akmal mengembang.
"halo mbak Gita, lama tidak bertemu" sapa Akmal
Nagita mengangkat kepala dan melihat ke arah Akmal yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"aku Akmal mbak, masa sudah lupa"
"Akmal...?" Nagita sedang berpikir" Akmal keponakannya mas Ali...?"
"betul sekali mbak" Akmal sumringah, dokter cantik itu bisa mengingat dirinya
"masya Allah... kita bertemu lagi Mal. aku pangling lihat kamu yang sekarang"
"memangnya dia dulunya seperti apa...?" Hasan penasaran
"amburadul" Nagita menjawab spontan "dan petakilan" lanjutnya sambil terkekeh pelan
"sampai sekarang dia masih petakilan" timpal Fatahillah
Nagita tersenyum, merasa senang bisa bertemu dengan Akmal lagi. keduanya meninggalkan mereka kembali ke belakang.
selesai sholat magrib barulah pak Danang pulang. kedatangan Fatahillah dan yang lainnya disambut hangat oleh laki-laki baya itu. apalagi Akmal, pak Danang merasa senang bisa bertemu dengan anak remaja yang dulu pernah datang ke rumahnya beberapa tahun yang lalu.
"bagaimana kabar Ali...?" tanya pak Danang
"paman Ali sudah menikah pak" jawab Akmal
"Alhamdulillah" ada perasaan lega di hati pak Danang " semoga dia bahagia" lanjutnya
kini Fatahillah membicarakan hal yang serius kepada pak Danang. tentang tujuan mereka datang ke kota X namun sekarang malah mereka berada di rumah laki-laki baya itu.
"jadi kamu pemilik mustika merah dan dia memiliki mustika putih...?" pak Danang melihat Haninayah
"benar pak" jawab Fatahillah
"kalau begitu lakukan penyatuan jam dua belas nanti. tidak boleh ditunda lagi. pak Karno bahkan mengincar kedua mustika itu, bisa bahaya kalau dia tau Haninayah memiliki mustika putih. dia begitu kejam, bahkan bisa membunuh siapa saja"
"lalu bagaimana dengan saya Fatahillah, bukannya kamu bilang akan membantuku" ucap Aji Wiguna
"setelah saya melakukan penyatuan energi barulah saya akan membantumu. tidak perlu khawatir karena aku akan menepati janjiku namun kamu juga harus patuhi apa yang telah kita sepakati" jawab Fatahillah
"baiklah, tidak ada pilihan lain" ucap Aji Wiguna
malam itu, Fatahillah akan melakukan hal yang harus ia lakukan. dirinya ingin secepat mungkin melakukan penyatuan energi agar ia bisa lebih cepat juga berangkat ke gunung Gantara.