Fatahillah

Fatahillah
Bab 73



tubuh Samantha Regina hangus dilahap api dari mustika merah. semua orang-orangnya dihabisi oleh Yudha serta anak buah Yusuf lainnya. kini mustika merah keluar dari tubuh Samantha dan melayang masuk ke dalam tubuh Fatahillah kembali.


uhuk...uhuk


"aaaggghh"


bugh


"Fatah" Hasan berlari ke arah Fatahillah yang tiba-tiba saja jatuh ke tanah


darah segar dimuntahkan oleh Fatahillah, tubuhnya terasa panas akibat efek dari mustika merah.


"bantu aku, kita bawa ke dalam air" ucap Hasan


Fatahillah diangkat oleh ketiganya, dirinya dibawa ke danau dan dimasukkan ke dalam air. berharap agar panas tubuhnya turun dan stabil kembali. Hasan membuka kancing baju Fatahillah, disanalah luka bakar terpampang jelas di dadanya.


"astaga....kenapa dia seperti ini" Fauzan kaget melihat luka bakar itu


"inilah efek dari mustika merah jika Fatahillah memaksakan diri untuk menggunakan kekuatan benda itu tanpa adanya mustika putih. dapat melukai dirinya sendiri bahkan mungkin bisa saja mustika itu dapat membakar dirinya" Hasan memangku kepala Fatahillah


"tapi bukankah Fatahillah adalah tuannya" tanya Yusuf


"meskipun Fatahillah adalah tuannya tapi dia belum melakukan penyatuan energi dengan benda itu. kemarin saja saat memaksa melakukan penyatuan energi, dirinya terluka apalagi ini yang dimana dia memaksa memakai kekuatan mustika itu" jawab Hasan


mata Fatahillah mulai mengerjap sekian kali hingga kemudian ia membuka mata dan melihat ketiga temannya yang sedang mengelilingi dirinya.


"apa yang terjadi...?" tanya Fatahillah


"kamu sudah sadar, syukurlah" Hasan membantu Fatahillah untuk duduk


Fatahillah meringis merasakan sakit di bagian dada. ia menunduk untuk melihat, luka bakar di dadanya begitu besar, terasa perih karena terkena air.


"kita bawa dia ke rumah sakit" Yusuf khawatir melihat luka bakar Fatahillah yang menurutnya harus ditangani segera


"tidak perlu, tolong carikan aku wadah" ucap Fatahillah dengan pelan


Fauzan keluar naik ke daratan mencari apa yang dibutuhkan oleh Fatahillah. menunggu beberapa menit, Fauzan datang dengan aqua gelas di tangannya.


"aku hanya mendapatkan ini" Fauzan memberikan benda itu kepada Fatahillah


Hasan yang paham apa yang akan dilakukan Fatahillah, membantu melepaskan tasbih yang ada di lehernya. Yusuf baru ngeh kalau ternyata ada obat paling mujarab selain membawa sahabatnya ke rumah sakit. dia lupa kalau Fatahillah memiliki tasbih yang sakti tanpa harus memerlukan obat jika luka itu karena terkena sihir, bukan luka biasa.


aqua gelas tadi diisikan air kemudian tasbih itupun dimasukkan ke dalamnya. pengobatan yang biasa dilakukan, air didalam Aqua gelas itu di siramkan ke dada Fatahillah setelah membaca sholawat.


Fauzan takjub, baru kali ini ia melihat kesaktian dari tasbih milik Fatahillah.


"apakah bisa mengobati lukaku yang ini...?" Fauzan memperlihatkan luka benda tajam di lengannya saat tadi mereka bertarung dengan Mbah Ganta


"luka sihir...?" tanya Yusuf memastikan


"bukan, aki-aki tadi melukaiku dengan benda kecil namun tajam, aku juga tidak tau apa itu. bisakah mengobati dengan lukaku ini" ucap Fauzan


"kalau lukamu itu biar aku yang obati, tasbih milik Fatahillah hanya bisa mengobati luka akibat terkena sihir bukan karena benda tajam seperti lukamu ini" terang Yusuf


"begitu ya" Fauzan sebenarnya penasaran apa alasannya namun Fatahillah meminta mereka untuk membawanya ke daratan


dengan tubuh yang basah, mereka kembali ke mobil. Yudha menghampiri Yusuf dan melaporkan kalau gadis-gadis yang mereka selamatkan berjumlah tiga puluh orang dan akan dipulangkan ke rumah mereka masing-masing.


"terimakasih Yudha, kalian bisa mengurus mereka kan...aku harus pulang sekarang" ucap Yusuf


"silahkan bos, biar mereka menjadi urusan kami" jawab Yudha


Yusuf menepuk pelan bahu Yudha kemudian masuk ke dalam mobil karena yang lainnya sudah mulai meninggalkan tempat.


ibu Fatimah tidak bisa tidur menunggu anaknya pulang. dirinya tetap terjaga menunggu di ruang tamu dan hal itu membuat yang lainnya pun ikut terjaga. hanya Arjuna yang sudah lebih dulu pamit untuk ke kamar sebab remaja itu sudah tidak bisa menahan kantuk.


Akmal ditemani secangkir kopi agar dirinya tetap terjaga tanpa dilanda rasa kantuk meski sebenarnya ia ingin sekali merebahkan diri di atas kasur.


"sudah jam segini kenapa mereka belum pulang juga" ibu Fatimah tidak tenang, bahkan makan malam pun ia hanya makan sedikit


Anisa mencoba menghubungi Yusuf namun nomor dokter itu tidaklah aktif. Zelina pun melakukan hal yang sama menghubungi Fatahillah, sayangnya hanya suara operator yang terdengar. ******* nafas berat keluar dari mulutnya, begitu khawatir terjadi sesuatu dengan mereka.


karena tidak ingin masuk ke dalam kamar, ibu Fatimah akhirnya tertidur di sofa. Zelina bangkit ke kamar mengambil selimut dan menyelimuti ibu Fatimah.


"ibu tidur di kamar saja, biar bibi aku yang menjaganya" ucap Zelina


"tapi kalau mereka pulang bagaimana...?" ibu Khadijah enggan untuk bangkit


"nanti biar mereka langsung istrahat, ibu juga harus istirahat. ibu pasti lelah seharian belum merebahkan diri di kasur. pergilah bu, bibi Fatimah biar di sini saja, mau membangunkannya, aku jadi kasihan"


"iya bi, sebaiknya bibi ke kamar saja" Anisa setuju


"baiklah" jawab ibu Khadijah


sebenarnya ibu Khadijah pun tentu saja khawatir namun seharian mengurus lamaran dan juga berkeliling di mall membuat dirinya membutuhkan untuk beristirahat. ibu Khadijah meninggalkan mereka menuju ke kamarnya.


"mas Fatah belum datang mbak...?" Afkar datang menemani mereka


"belum Af, mungkin masih di jalan" Zelina mencoba untuk berpikir positif


Akmal sudah menguap beberapa kali, bahkan kopi yang ia teguk pun tidak dapat menghilangkan kantuknya. dia memaksakan matanya untuk tetap terbuka lebar. hingga rasa kantuk itu hilang saat mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah.


Zelina bangkit dan berjalan cepat untuk membuka pintu. yang lainnya pun ikut bangkit dan keluar berdiri di teras rumah. Zulaikha dan Najwa keluar dari mobil. melihat keadaan mereka yang lemah, Anisa bergegas menghampiri Zulaikha dan memapahnya masuk ke dalam sementara Zelina memapah Najwa.


keduanya di bawa ke dalam kamar, sementara Fatahillah membangunkan ibu Fatimah.


"kalian sudah pulang, kenapa lama sekali. dimana Zulaikha dan Najwa...?" ibu Fatimah langsung menanyakan anaknya


"mereka di kamar bi sebaiknya bibi masuk juga di kamar, kenapa malah tidur di sini" Fatahillah memegang tangan ibu Fatimah


"bibi mengkhawatirkan kalian, kenapa pulang selarut ini. apa terjadi sesuatu...?"


Fatahillah menggeleng pelan dan tersenyum untuk meyakinkan kalau mereka baik-baik saja.


"tadi Fatah ada pekerjaan sebentar dan selesai ternyata selarut ini. bibi masuk ke kamar ya, di luar dingin"


"bibi mau lihat adikmu dulu" ibu Fatimah hendak berdiri namun Fatahillah segera menahannya


"Icha pasti sudah tidur bi sekamar dengan Najwa. mereka pasti lelah karena Fatah suruh mereka menuggu. besok saja bertemu dengannya, dia baik-baik saja bi. sekalian bibi istrahat juga"


ibu Fatimah memutar kepala melihat jam di dinding ruangan yang besar itu, sudah pukul 12 malam. akhirnya ibu Fatimah mengalah, ia membiarkan anaknya untuk istrahat dan akan melihatnya esok hari. ia pun menuju kamar yang ditempati oleh ibu Khadijah.


"mas Fatah baik-baik saja, kenapa pucat seperti itu...?" tanya Afkar


"aku baik Af, hanya lelah saja. kamu istirahatlah" jawab Fatahillah


Afkar mengangguk dan meninggalkan mereka menuju ke kamarnya. Hasan merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.


"bagaimana dengan mayat-mayat mereka, kalau besok ada yang melihat bagaimana...?" tanya Fauzan. lukanya telah diobati oleh Yusuf


"Yudha akan mengurus semuanya" timpal Yusuf


"jadi sekarang kamu sudah menjadi bos besar ya Yus, bukan kaleng-kaleng lah kamu ini" Hasan bangun dan bersandar di sofa


"mau tidak mau aku harus ambil alih karena Anisa tidak ingin mengurus perusahaan. sepertinya aku akan sibuk nanti, tapi mungkin Yudha yang akan mengurus semuanya dan aku hanya memantau saja, seperti Afkar yang membantu Zelina" jelas Yusuf


"berarti nanti aku tidak akan was-was lagi jika meninggalkan bibi dan Fatimah serta Arjuna dan Najwa. karena kamu sudah mempunyai anak buah, tolong pantau mereka setiap saat ya Yus" ucap Fatahillah


"tentu saja, kamu tidak perlu khawatir. insya Allah kejadian paman Imam tidak akan terulang lagi" Yusuf menjawab


tidak lama Zelina datang dan membawa Fatahillah masuk ke dalam kamar. yang lainnya pun masuk ke kamar masing-masing karena memang ada banyak kamar di rumah itu.


kini keduanya sedang bersandar di kepala ranjang. Zelina baru saja dari dapur membuatkan minuman hangat untuk suaminya.


"tadi Anisa sedang memeriksa mereka, mereka hanya ingin istirahat saja. Najwa bilang, mereka baru saja di infus oleh mas Yusuf"


"iya, makanya itu kami lama karena keduanya begitu lemah. Yusuf menginfus keduanya supaya keduanya mempunyai tenaga dan tidak oleng lagi"


"lalu bagaimana denganmu mas...? kamu pucat seperti ini, apakah kamu terluka...?" Zelina hendak memeriksa dada Fatahillah namun ia menahan tangannya


"aku baik sayang, aku hanya ingin istirahat saja. aku bersyukur musuhku berkurang satu orang, semoga tidak semakin bertambah banyak. kalaupun iya, setidaknya aku sudah bisa mendapatkan mustika putih, dengan begitu akan mudah bagiku menghadapi mereka"


"kamu.... membunuh mereka mas...?"


Fatahillah menarik nafas kemudian menarik kepala Zelina untuk bersandar di dadanya.


"untuk melindungi orang-orang yang aku sayang, tidak ada jalan lain selain membunuh. memangnya kenapa...? apakah kamu sekarang membenci aku...?"


di dekapan Fatahillah, Zelina menggeleng kepala. ia menarik diri dan menangkup wajah suaminya. satu kecupan mesra mendarat di bibir Fatahillah.


"selama itu untuk keselamatan semua orang, aku tidak masalah mas. asal jangan biarkan mereka menyakitimu dan yang lainnya"


cup


Fatahillah membalas mencium bibir istrinya, kemudian ia kembali menarik Zelina ke dalam pelukan.


"tetaplah di sisiku walau bagaimanapun keadaanku nanti. kamu adalah salah satu penguat bagiku setelah ibu. maaf aku lebih mengutamakan ibu karena bagaimanapun anak laki-laki tetaplah menjadi milik ibunya walaupun dia sudah menikah. ibu adalah jalan untuk aku menuju surganya Allah, dan insya Allah semoga kita berdua bertemu di sana nanti, di tempat berpulang terbaik" Fatahillah mengecup lembut kening Zelina dan memeluknya dengan erat


"aamiin allahuma aamiin" Zelina mengaminkan doa suaminya


setelah azan subuh, semuanya mulai sibuk untuk pembukaan panti asuhan pagi nanti. ibu Khadijah dan ibu Fatimah mulai memasak. Zelina sebenarnya ingin catering saja agar tidak merepotkan mertuanya namun ibu Khadijah dan ibu Fatimah melarangnya. mereka berdua sanggup untuk memasak banyak. jadilah Zelina hanya memesan kue sebanyak mungkin dan juga buah-buahan serta sirup yang akan mereka hidangan nanti.


pukul 6 pagi, Akmal dan Arjuna baru saja datang membawa beberapa barang-barang yang masih dibutuhkan. mulai dari meja belajar masing-masing anak yang terbuat dari kayu namun dengan berbagai macam model gambar. tidak mempunyai kursi, hanya duduk berselonjor di lantai, lemari plastik untuk tempat pakaian dan masih banyak lagi.


satu persatu barang-barang itu diangkut masuk ke dalam rumah, di simpan di tiap-tiap kamar yang akan ditempati nantinya. taman bermain untuk anak-anak telah selesai. pukul 8 pagi, Afkar datang bersama-sama puluhan anak-anak yang akan tinggal di tempat itu. sebenarnya anak-anak itu memang sudah mereka tanggungi namun di tempat lain sambil menunggu rumah utama selesai direnovasi. ditambah lagi dengan anak-anak yang baru ditemukannya di pinggir jalan dan juga anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tua mereka, Afkar membawa mereka di tempat itu.


seorang ustad yang mereka undang telah datang, bahkan para tetangga pun mereka undang untuk pembukaan panti tersebut.


para ibu-ibu tentu saja datang, apalagi selama ini keluarga Zelina dikenal dengan orang yang baik hati maka ibu-ibu di komplek itu tidak segan untuk menghadiri acara tersebut.


dia awali dengan sambutan oleh tuan rumah, lanjut dengan pengajian. setelahnya ceramah dari ustad dimana tentang mengayomi anak yatim-piatu. setelahnya pemotongan pita dan acara menyuguhi para tamu dengan kue-kue dan minuman dan juga kotak nasi.


acar selesai tepat masuk waktu sholat dzuhur, semua tamu undangan pamit pulang begitu juga dengan ustad yang mereka undang. Zelina begitu bahagia, kini panti asuhan yang dibangun olehnya dan juga suaminya sudah mulai dijalankan.


"Alhamdulillah mas semuanya berjalan lancar"


"iya sayang, sekarang kita sholat dzuhur dulu. kita sholat di mushola saja ya bersama anak-anak kita" Fatahillah merangkul istrinya


"semoga secepatnya kita bisa mempunyai anak sendiri ya mas"


"aamiin"


Arjuna memimpin anak-anak itu untuk menuju ke tempat berwudhu yang memang khusus di sediakan. mushola pun begitu luas, tempat untuk mereka beribadah. Fatahillah menjadi imam bagi mereka semua.


setelah sholat, Zelina memberikan wejangan terhadap anak-anak itu. dia memberitahu bahwa anak-anak itu akan mulai bersekolah, hal itu membuat semua anak bergembira dan bahkan ada yang langsung memeluk Zelina dan juga Fatahillah. usia mereka diperkirakan banyak yang masih SD dan juga ada sebagian yang sudah SMP. hanya Arjuna lah yang sudah memasuki bangku SMA.


"terimakasih ibu, terimakasih ayah" mereka berterimakasih dengan begitu tulus


baik Fatahillah dan Zelina, keduanya sepakat anak-anak panti mereka memanggil keduanya dengan panggilan ayah dan ibu.


"sekarang waktunya tidur siang ya" ucap Zelina


"iya bu" semuanya kompak menjawab


Arjuna membawa mereka ke kamar di lantai satu, lantai dua belum digunakan karena belum banyak anak-anak panti. hanya Arjuna, Afkar dan Najwa yang akan menempati kamar lantai dua begitu juga dengan Zelina dan Fatahillah jika mereka datang ke tempat itu. tentunya kamar Zelina yang akan jadi tempat tidur keduanya.


"kalau gitu aku langsung pulang ya, masih harus mengurus pasien soalnya" ucap Yusuf


"aku ikut mas, aku juga sejak kemarin tidak masuk" ucap Anisa dan Yusuf mengangguk


"aku di sini dululah pengen tidur, ngantuk banget soalnya" Hasan menguap


"tidur di kamar San" timpal Fatahillah


Hasan mengangguk dan beranjak untuk naik ke lantai dua. Anisa dan Yusuf pun bangkit dari tempat duduk mereka dan keluar dari rumah. Fauzan saat ini masih bersama dengan Zulaikha, keduanya berada di samping rumah dimana terdapat kolam renang yang besar dan luas.


hanya beberapa menit kepergian Anisa dan Yusuf, bel rumah berbunyi. mereka yang sedang bersantai di ruang tengah saling pandang.


"siapa yang datang...?" tanya Akmal hendak bangkit


"biar aku saja Mal, kamu duduklah saja" ucap Zelina dan dirinya bangkit menuju pintu


saat pintu dibuka seseorang yang tidak dikenal sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah bingkisan di tangannya.


"Anda siapa...?" tanya Zelina


"mohon maaf bu, saya hanya ingin mengirimkan kue ini kepada pemilik rumah" ucapnya ramah


"kue...? dari siapa...?"


"saya juga tidak tau bu, tapi katanya dia kerabat pemilik rumah ini. yang memesan bilang kalau kue ini khusus untuk pemilik rumah, tidak boleh dimakan oleh siapapun kecuali pemilik rumah. katanya hadiah untuk pemilik rumah yang telah mendirikan panti asuhan"


kening Zelina mengkerut dan berpikir keras, ia menatap bingkisan itu dengan mata yang begitu lekat


"laki-laki apa perempuan...?" tanyanya setelah sekian detik terdiam


"itu juga saya tidak tau bu karena dia memesan kue kami secara online dan memberikan alamat rumah ini. boleh silahkan diterima bu karena saya harus mengantar kue pesanan yang lainnya"


meskipun bingung siapa yang mengirimkan kue itu namun Zelina tetap menerima dan laki-laki itu mengucapkan terimakasih dan pergi.


"siapa yang kirim ya" gumam Zelina dan masuk ke dalam


"mbak membeli kue, bukankah kue yang dipesan sisanya masih banyak di kulkas" ucap Najwa


"bukan mbak Na, ada orang yang mengirim tapi mbak nggak tau siapa yang ngirim" Zelina menaruh bingkisan itu di atas meja


"memangnya tidak ada nama pengirimnya...?" tanya Fatahillah dan Zelina menggeleng


"tapi kata laki-laki tadi dari kerabat pemilik rumah ini" ucap Zelina


"mungkinkah ibu Arum atau Andini mbak, kan hanya mereka kerabat mbak sekarang selain keluarga mas Fatah" Akmal


"iya, mungkin saja seperti itu. kalau begitu masukkan saja ke dalam kulkas, mau makan tapi kita masih kenyang juga. siapa tau nanti anak-anak akan memakannya" ibu Khadijah menimpali


Zelina mengangguk dan hendak beranjak memanggil art untuk menyimpan kue itu. namun Akmal melarang dan mengatakan kalau dirinya ingin mencicipi kue yang dikirimkan oleh si pengirim misterius.


Akmal ke dapur mengambil piring dan sendok kemudian datang lagi dan mulai mengeksekusi kue itu. kue coklat yang bertabur kacang dan juga keju di atasnya.


"sepertinya enak, aku juga mau" Najwa ikut tergiur


Akmal datang dengan sendok dan piring di tangannya. namun ketika ia akan mencicipi, Fatahillah menghentikan tangan Akmal.


"kenapa mas...?" Akmal menoleh


"kita tidak tau siapa pengirim kue ini, bukan berpikiran buruk hanya saja jangan sampai kue ini dicampurkan sesuatu atau sebagainya. kita belajar dari masalah sebelumnya, kita ini sudah begitu banyak menghadapi masalah. jangan sampai salah langkah dan menjadi masalah besar untuk kita" ucap Fatahillah


"benar juga, kalau memang ibu Arum atau Andini yang mengirim, kenapa tidak datang langsung saja" timpal Zelina


semuanya membenarkan pemikiran Fatahillah. Akmal akhirnya tidak ingin lagi mencicipi kue itu begitu juga dengan Najwa, takutnya jangan sampai terjadi sesuatu dengan keduanya. Zelina pun membuang kue itu ke tempat sampah. bukannya tidak menghargai hanya saja mereka harus lebih berhati-hati lagi.