
Mbah Ganta membaringkan Samantha dan Wiratama di tempat yang sama. kedua orang itu sama-sama mengalami luka dalam yang cukup parah. serangan dari Fatahillah membuat wanita cantik itu beberapa kali muntah darah saat Mbah Ganta mengobati dirinya.
Mbah Ganta mengeluarkan energi yang besar untuk mengobati keduanya. perut Samantha Regina menghitam dan mengelupas sementara sementara Wiratama mengalami luka bakar di bagian dada dan juga lengannya yang tekrena sayatan pedang dari Fatahillah.
keduanya kini terbaring tidak sadarkan diri setelah Mbah Ganta mengobati mereka dengan tenaga dalamnya.
"pemuda itu pasti mempunyai guru yang sakti sehingga ilmu beladiri yang dia miliki begitu hebat" gumam Mbah Ganta
di dalam utama milik istrinya, Fatahillah berhasil mengobati Langon. harimau putih kini sembuh seperti sediakala.
"aku senang kamu kembali sembuh Langon"
GRAAARR
harimau putih naik dipangkuan Fatahillah dan memeluknya. seperti saudara, begitulah yang dilakukan Langon untuk bermanja dengan tuannya.
Fatahillah melihat jam yang ada di atas nakas, sudah pukul 11 siang. dirinya harus pulang ke rumah karena ibu Khadijah dan ibu Fatimah pasti sedang menunggu dirinya.
"kita pulang Langon"
GRAAARR
Langon melompat dari atas ranjang sementara Fatahillah kemudian turun dari ranjang. saat itu Fatahillah merasakan sakit di dadanya, ia pun membuka kancing bajunya untuk memeriksa. dapat dilihatnya dadanya membiru dan menghitam. luka itu ia dapatkan saat bertarung dengan Wiratama.
"dia juga pasti mempunyai luka yang sama" gumam Fatahillah menahan sakit
matanya mengarah kepada gelas yang ada di atas nakas, airnya sudah habis ia gunakan mengobati kepada Langon tadi. mau meminta kembali dirinya merasa sungkan, maka Fatahillah kembali mengancing bajunya. ia berniat akan mengobati lukanya setibanya di rumah nanti.
Fatahillah membuka pintu sementara Langon kembali menghilang. ia menuruni anak tangga satu persatu. sampai di lantai bawah, dirinya akan mencari Afkar untuk berpamitan. luasnya rumah itu membuat Fatahillah bingung kemana dirinya akan mencari Afkar. ia pun melangkahkan kaki ke ruang tamu sambil memeriksa nomor Afkar di ponselnya. saat hendak menekan nomor itu, Fatahillah mendengar suara dua orang yang sedang berbincang di ruang tengah.
sebenarnya Fatahillah akan mendekati keduanya namun langkahnya terhenti tatkala ia melihat siapa yang sedang bersama dengan afkar.
"maaf mbak Andini, tapi hal itu saya harus komunikasikan dulu dengan mbak Zelina" ucap Afkar
keduanya duduk saling berhadapan sementara Fatahillah bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat.
"tidak perlu kamu komunikasikan dengan Zelina, lagipula saya ini kan sepupunya... Zelina pasti langsung mau" ucap Andini. wanita itu menyilang paha kanannya ke atas paha kirinya
"mohon maaf mbak, selama mbak Zelina pergi sayalah yang ditugaskan untuk mengatur semuan pekerjaan kantor dan juga rumah ini. apa yang saya kerjakan tentunya harus saya laporkan kepada mbak Zelina. bukannya mbak Andini dan ibu Arum sudah mendapatkan rumah mbak Zelina yang besarnya juga hampir sama dengan rumah ini. lagipula rumah ini akan kami jadikan panti asuhan"
(apa yang diinginkan Andini) batin Fatahillah yang terus fokus mendengar dan memperhatikan
"rumah itu akan kami jual untuk membuka usaha, lagian kenapa sih kamu ini. rumah ini kan luas, kamarnya saja banyak. kami bisa tidur dikamar manapun. jangan sok mengatur deh kamu, kamu itu hanya pesuruh. cukup lakukan saja apa yang saya minta" Andini kesal karena Afkar tetap kekeuh pada sikapnya yang tegas
"pesan mbak Zelina, rumah ini tidak akan ditempati oleh siapapun selain anak-anak panti nantinya. bahkan mbak Zelina saja dan mas Fatah akan pindah ke rumah yang lain. bagaimana mungkin saya akan mengizinkan mbak Andini dan ibu Arum tinggal di sini. kalau mbak maksa sebaiknya mbak beritahu saja mbak Zelina, dia mau atau tidak"
"heh kamu"
"Afkar"
Fatahillah langsung keluar dari persembunyiannya saat Andini mulai menunjuk Afkar dan hendak memarahinya atau mungkin memakinya. kedua orang itu memutar kepala untuk melihat Fatahillah yang sedang berjalan ke arah mereka dan ia duduk di samping Afkar.
Andini kaget karena melihat Fatahillah ditempat itu, sementara Fatahillah belum melihat ke arah wanita itu.
"saya pikir mas Fatah sedang tidur. kenapa turun mas, bukannya mas Fatah lelah...?" Afkar memutar setengah badannya agar dapat berhadapan dengan Fatahillah
"iya, tapi aku baru saja menghubungi istriku dan dia memintaku agar minggu ini panti asuhan ini harus segera dibuka. kamar-kamar sudah dipersiapkan untuk anak-anak nantinya kan...?" Fatahillah sengaja menelisik sekitar, ia tidak melihat ke arah Andini yang hanya diam memperhatikannya keduanya
"sudah mas, karena masing-masing kamar begitu luas jadi mungkin bisa muat sepuluh atau lima belas anak. sudah disediakan juga kasur untuk tempat tidur mereka, selimut dan sebagainya. yang perlu di selesaikan adalah arena bermain di halaman rumah, rencananya besok sudah akan selesai" Afkar menjawab dengan antusias
"baguslah kalau begitu. berarti Zelina harus hadir dalam pembukaan nanti ya"
"kalau bisa memang mbak Zelina harus datang mas" ucap Afkar
"kalau Zelina datang maka saya akan bicara langsung dengannya" Andini mengeluarkan suara yang sejak tadi dirinya hanya diam
Fatahillah memutar kepala dan mengarahkan pandangannya kepada sepupu istrinya itu. Andini memasang senyum manis, disaat kedua matanya bertatap dengan Fatahillah. Afkar hanya diam dengan ekspresi datar, dalam hatinya dia merasa begitu tidak suka dengan keinginan wanita itu.
"istriku juga pasti akan senang bertemu denganmu. Zelina bilang sudah lama kalian tidak berkomunikasi" Fatahillah memasang wajah biasa
"iya...kami memang jarang berkomunikasi. aku sibuk selama ini jadi tidak mempunyai waktu untuk menghubunginya. tapi kemarin saya sempat berkirim pesan dengannya" Andini kikuk karena di tatap lekat oleh Fatahillah
"jadi mas Fatah, kapan mbak Zelina akan datang. saya ingin dia melihat semua kesiapannya sebelum panti asuhan kasih ibu dibuka" Afkar mengambil alih pembicaraan
"akan saya hubungi istriku dulu, mungkin saya harus menjemputnya karena tidak mungkin membiarkan istriku datang seorang diri melakukan perjalanan jauh" jawab Fatahillah
"memangnya Zelina kemana...?" tanya Andini
"bukannya kamu bilang kemarin sempat berkirim pesan dengannya...? kamu tidak menanyakan keberadaannya atau dia tidak memberitahu dimana dia...?" Fatahillah menaikkan satu alisnya
"emm itu...."
drrrttt.... drrrttt
ponsel Andini bergetar di dalam tasnya. saat ia merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya, buru-buru Andini berpamitan untuk pulang karena urusan yang mendadak.
"dia memaksa untuk tinggal di sini bersama dengan ibunya mas, padahal mbak Zelina sudah memberikan rumahnya kepada mereka berdua. memang dasarnya mereka serakah jadi ingin memiliki semua apa yang dimiliki oleh mbak Zelina" Afkar bersuara setelah punggung Andini tidak terlihat lagi
"lalu rumah yang diberikan oleh istriku kepada mereka bagaimana...?"
"katanya mau dijual untuk usaha. saya heran, setiap pemberian dari keluarga mbak Zelina pasti mereka jual. dulu juga pak Harun memberikan sawah miliknya yang beribu hektar namun malah dijual sama ibu Arum, istri dari pak Hutomo. sekarang rumah yang diberikan untuk Zelina mau dijual lagi, mata duitan memang seperti itu. aku benar-benar tidak suka kepada mereka sejak dulu" Afkar memperlihatkan wajah tidak bersahabat saat membahas keluarga istrinya itu
Fatahillah mengehela nafas, ia menggaruk hidung karena merasa masalah ini harus istrinya sendiri yang menyelesaikan. meskipun ia sebagai seorang suami tapi tetap saja ia tidak memiliki hak untuk mengurus harta milik istrinya.
"Afkar, saya mau pamit pulang dulu. insya Allah kalau memungkinkan pastinya Zelina akan datang di pembukaan panti asuhan miliknya"
"iya mas. sebenarnya saya juga sudah menghubungi mbak Zelina beberapa hari yang lalu dan mbak Zelina mengusahakan untuk hadir. tadi juga dia mengirimkan pesan kepadaku dengan nomor barunya karena ponselnya hilang"
"jadi istriku sudah kamu beritahu...?"
"sudah mas. mungkin mbak Zelina akan membahas itu nanti dengan mas Fatah"
"mungkin saja. kalau begitu saya pamit dulu ya"
lalu bagaimana dengan motor mas Fatah...?"
"biar di sini saja dulu, atau kalau mau dipakai silahkan saja tidak apa-apa"
"baik mas. kalau begitu hati-hati dijalan dan jangan lupa lukanya diobati"
Fatahillah kembali melihat tangannya yang memang terluka.
dirinya mulai meninggalkan rumah besar dan megah itu menggunakan mobil putih yang diambilnya. sudah akan memasuki waktu dzuhur, karena jarak untuk menuju ke rumah ibu Fatimah masih jauh maka Fatahillah memutuskan untuk sholat di masjid yang ia temui di jalan.
selesai sholat dalam perjalanan pulang ponselnya berdering, dan yang menghubunginya adalah Yusuf.
(ya Yus)
(masih di kampus ya Fatah...?)
(nggak, aku sudah di jalan pulang. ada apa...?)
(begini, aku sudah menghubungi orang tuaku tadi dan memberitahu tentang keinginanku untuk menikahi Anisa. mereka setuju dan rencananya hari ini juga mereka akan datang ke kota ini. mereka mengatakan untuk melamar Anisa secara resmi. tapi...)
(tapi kenapa...?)
(tapi... Anisa kan sudah tidak mempunyai keluarga. selain ayahnya dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan sekarang pak Agung sudah pergi. apakah bibi Khadijah dan bibi Fatimah mau jika nanti kedua orang tuaku melamar Anisa di rumah bibi Fatimah saja. karena hanya mereka yang dapat aku mintai pertolongan)
(tentu saja ibu dan bibi mau Yus. apalagi ibu sudah menganggap Anisa seperti anak perempuannya sendiri. begini saja, nanti setelah sampai di rumah aku akan mengatakan kabar baik ini. karena kita juga kan harus membicarakan tentang Zulaikha dan Fauzan)
(apa aku juga pulang saja untuk menyampaikan langsung kepada mereka. bagaimanapun kan harus aku sendiri yang bicara)
(tidak perlu, biar aku saja yang menyampaikannya. lebih baik sekarang kamu mempersiapkan segalanya, mungkin mau mencari cincin pernikahan atau menjemput orang tuamu di bandara. urusan ibu dan bibi, biar aku yang atur)
(baiklah, aku percayakan padamu. kalau begitu aku tutup ya, aku ingin mengajak Anisa ke bandara menjemput papa dan mamaku)
(iya, sampai bertemu di rumah)
mobil yang dikendarai Fatahillah berhenti di sebuah toko kue. ia ingin membeli kue untuk keluarganya di rumah. setelahnya ia kembali melajukan mobilnya dan beberapa menit setelah itu dirinya sudah berada di halaman rumah bibi Fatimah.
"mobil siapa ini...?" gumam Fatahillah saat dirinya melihat ada sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman rumah
pikiran buruk mulai merasuki pikirannya. dirinya selalu teringat dengan orang-orang yang mengejarnya dan selalu menggunakan mobil hitam. dengan terburu-buru, Fatahillah melangkah membawa kaki panjangnya menuju ke arah pintu. tanpa mengucapkan salam ia membuka kasar daun pintu itu dan masuk ke dalam.
namun rupanya pikirannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. di ruang tengah ia melihat Akmal dan Arjuna yang sedang berbincang dengan Zulaikha dan Meqianti. dua gadis itu ternyata sudah pulang dari sekolah.
"Akmal, Arjuna... kalian....kenapa di sini...?" Fatahillah masih belum percaya dengan kehadiran keduanya
"memangnya kenapa kalau kami disini mas... nggak boleh ya...?" Akmal melempar pandangan ke arah Fatahillah
ruang tengah yang hanya beralaskan karpet, di situlah keempatnya duduk sambil bercerita. Fatahillah mendekat dan mengambil tempat di samping Akmal. ia simpan kresek yang berisi kue di tengah-tengah mereka.
"kenapa bisa kalian berada di sini Mal, Arjun...?" tanya Fatahillah lagi karena tadi keduanya tidak menjawab
"ya karena kami ingin ke sini makanya sekarang kami berada di sini" Akmal membuka kresek putih di depannya
"wah ada kue... kebetulan aku lapar" Akmal hendak mengambil kue itu namun Arjuna menahan tangannya
"pakai piring dan sendok mas. biar aku ambil di dapur" Arjuna bangkit dan ke belakang
"Mal...kamu belum jawab pertanyaan aku dari tadi" Fatahillah kesal karena laki-laki itu tidak menberikan jawaban yang memuaskannya
"mas Akmal dan Arjuna datang bersama mbak Zelina dan mbak Najwa mas. sekarang mbak Zelina sedang berada di dalam mungkin sedang sholat, kalau mbak Najwa sedang keluar bersama ibu dan bibi ke pasar" terang Zulaikha
"mbak mu datang juga...?" perasaan Fatahillah merasa senang
"iya mas, mbak Zelina sedang di kamar. sok atuh kalau mau samperin" timpal Akmal dimana tangannya sibuk mengambil kue dari dalam kantung
Fatahillah beranjak dan bergegas ke dalam kamar. dirinya begitu merindukan istrinya sampai tidak sabar untuk melihat wajah cantik istrinya itu.
saat membuka pintu dilihatnya Zelina masih mengerjakan sholat dzuhur. tanpa maju melangkah, Fatahillah menutup pelan daun pintu dan berdiri memperhatikan istrinya yang sedang sholat.
"assalamualaikum warahmatullahi" salam ke kanan
"assalamualaikum warahmatullahi" salam ke kiri
Zelina mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. karena ekor matanya menangkap seseorang yang berada di dekat pintu, refleks ia menoleh. senyumannya mengembang melihat siapa yang kini berdiri di pintu kamar.
"mas" Zelina berdiri dan mendekati Fatahillah
kerinduan yang beberapa hari tidak melihat istrinya begitu membuncah perasaan Fatahillah. ia lekas mendekat dan memeluk istrinya. keduanya saling melepas rindu dengan pelukan yang bertambah erat.
"aku merindukanmu sayang"
"aku juga mas"
Fatahillah melerai pelukan dan mencium kening istrinya.
"bagaimana bisa kalian datang di sini. padahal tadi pagi kan kamu menghubungiku masih di kota B"
"aku menghubungi mas Fatah tadi pagi, itu kami sudah diperjalanan mas. aku ingin menghadiri pembukaan panti milik kita. sekalian membawa Arjuna yang akan tinggal di sana dan juga Najwa yang ingin bekerja di perusahaan"
"masya Allah, aku tidak menyangka kamu ternyata sudah berada di depan mataku sayang. tapi...kalian tidak dihadang atau diikuti diperjalanan tadi kan...?"
"Alhamdulillah... Allah melindungi kami"
Fatahillah kembali memeluk Zelina. dirinya begitu bahagia bisa bersama-sama lagi dengan istrinya.
"ibu bagaimana...?" Fatahillah membawa Zelina untuk duduk di ranjang
"ibu akan menunggu kita di pesantren saja. aku tidak membawa ibu karena takutnya akan dihadang lagi seperti kemarin. tapi Alhamdulillah sampai kami tiba di sini, kami semua baik-baik saja. kiayi Zulkarnain memberikan senjata kepada Akmal untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu"
"senjata...? apa yang diberikan kiyai Zulkarnain kepada Akmal...?" Fatahillah penasaran
"pedang mas tapi berukuran kecil. hanya saja jika Akmal akan menggunakan pedang itu maka hanya membaca mantra saja pedang itu akan menjadi seperti pedang pada umumnya. gagangnya berwana emas. dengan pedang itu kami semua berani ke kota ini"
"syukurlah kalian tidak dihadang dijalan" Fatahillah merasa lega
keduanya saling tatap begitu lama. kini mata Fatahillah berubah menjadi sendu, ia membuka pelan mukenah yang dipakai istrinya. rambut panjang yang indah tergerai, kecantikan Zelina begitu membuat Fatahillah terpesona.
Fatahillah mencium kening istrinya, lalu turun di kedua matanya, hidung dan berakhir di bibir merah muda istrinya. Zelina menutup mata saat bibirnya dilumat lembut oleh suaminya. gelora yang mendesak dalam dada membuat nafas keduanya begitu memburu.
tidak ingin sampai bertindak lebih jauh, Fatahillah menghentikan ciumannya dan melap bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"aku mencintaimu istriku" Fatahillah tersenyum lembut
"aku juga mas" Zelina tersenyum manis
Fatahillah menarik Zelina kedalam pelukannya. rindu yang sekian hari menggunung kini tersalurkan dengan kedatangan istrinya.