Fatahillah

Fatahillah
Bab 79



dua hari setelah kejadian santet kiriman, kini tibalah Fatahillah akan berangkat ke kota X. namun sebelum itu, dia akan ke kota B terlebih dahulu untuk bertemu ibu Laila. Hasan dan Akmal menemaninya, karena hanya kedua pemuda itu yang bebas untuk terbang membentangkan sayap kemanapun tanpa terikat tanggung jawab seorang wanita di dalam rumah.


sebelum keluar kamar, Fatahillah memeluk erat tubuh Zelina. mereka akan berpisah untuk sementara waktu, meskipun berat tapi semua itu harus dilakukan.


"aku akan merindukanmu sayang" Fatahillah melerai pelukan dan menatap sendu wajah istrinya


"cepatlah pulang, aku selalu menunggu kamu mas" Zelina tidak dapat menyembunyikan kesedihannya yang akan ditinggalkan oleh suaminya


"ini berat untuk kita berdua tapi bagaimanapun juga aku harus pergi sayang. doakan aku di sini agar semuanya baik-baik saja"


Zelina mengangguk dan tanpa terasa air matanya jatuh membahasi wajah cantiknya. Fatahillah menghapus air mata istrinya. dengan lembut ia mencium kedua mata indah itu dan kembali memeluknya.


"aku mencintaimu, tunggu aku kembali"


"iya mas"


meskipun sudah berusaha untuk tetap tenang namun pada dasarnya Zelina yang masih berat melepas kepergian suaminya, ia tergugu di dada suaminya. dipeluknya dengan erat tubuh Fatahillah, seakan begitu takut untuk berpisah meski sebenarnya mereka akan tetap berpisah.


tidak ada kata yang keluar dari bibir Fatahillah, ia membiarkan Zelina menangis di pelukannya. hanya usapan lembut dan beberapa kali ia mengecup pucuk kepala istrinya, karena perkataan apapun untuk saat ini tidak akan bisa menenangkan hati istrinya kalau bukan dengan pelukan hangat darinya.


sementara di kamar lain, Hasan dan Akmal sudah bersiap dan keluar menuruni anak tangga. semua orang telah berkumpul di ruang tengah menunggu ketiganya.


"Fatah belum keluar...?" tanya ibu Khadijah


"belum bi, biarkan saja dulu. pasti berat bagi Zelina untuk melepas suaminya" jawab Hasan


anak-anak sudah berangkat ke sekolah begitu juga Zulaikha dan Arjuna. tentunya mereka diantar oleh anak buah Yusuf.


"Zan, tempat persembunyian Hani sama ibunya sudah kamu tau...?" tanya Hasan kepada Fauzan


"sudah...aku sudah kirim lewat pesan di nomormu" jawab Fauzan


"mereka aman di situ kan...?" tanyan Yusuf


"insya Allah aman, dan semoga saja orang-orang yang mengejarnya tidak menemukan mereka. jika mereka ditemukan, bisa bahaya untuk keduanya" jawab Fauzan


"tapi bagaimana Fatahillah akan mengenal Haninayah kalau dia memakai cadar" tanya Anisa


"kan ada Hasan, meskipun dia belum melihat wajah Haninayah tapi suaranya pasti bisa dia kenali" timpal Fauzan


"aku sudah lama nggak bertemu dia lagi semenjak mereka pindah ke kota X. tapi kan dia kenal sama aku, insya Allah Allah memudahkan" timpal Hasan


"kita dikelilingi wanita bercadar ya, aku jadi ingin melamar wanita seperti itu. kecantikannya hanya diperuntukkan untuk suaminya kelak" ucap Akmal


"wanita seperti itu juga tidak sembarangan memilih suami. kalau modelan kayak mas Akmal, sepertinya jauh dari harapan untuk masuk kategori mereka" Najwa menimpali dengan senyuman sinis


"lah memangnya kenapa dengan diriku. berharap saja dulu kan siapa tau Allah mengabulkan. jodoh itu nggak ada yang tau Na, seperti isi hati kamu yang entah kamu suka tapi pura-pura cuek" Akmal menjawab santai


"siapa juga yang suka sama kamu" Najwa membalas dengan kesal


"yang bilang kamu suka sama aku siapa coba. atau jangan-jangan....kamu memang suka sama aku ya" Akmal menatap lekat gadis itu


"idih...ogah banget" Najwa menjawab namun wajahnya ia palingkan ke arah lain. di tatap seperti itu oleh Akmal membuat dirinya salah tingkah


"perbaiki diri, insya Allah kalian akan menemukan jodoh yang baik. semoga keinginan nak Akmal terkabul" ibu Fatimah berkata dengan lembut


"aamiin" dengan senyuman lebar Akmal mengaminkan perkataan ibu Fatimah sementara Najwa menunduk dan menghela nafas


menunggu beberapa menit pada akhirnya Fatahillah dan Zelina datang menghampiri mereka. semuanya langsung berdiri dan menuju ke halaman rumah. di sana satu buah mobil telah disiapkan untuk kendaraan ketiganya.


mulailah mereka mencium tangan ibu Khadijah dan ibu Fatimah. sementara dengan Fauzan dan Yusuf, mereka berpelukan.


"tolong jaga mereka Yus" Fatahillah memeluk Yusuf


"insya Allah, kamu tidak perlu cemas" Yusuf menepuk punggung Fatahillah


Fatahillah mendekati Afkar dan memeluknya, ia pun mengatakan hal yang sama kepada pemuda itu, untuk memantau istri dan keluarganya.


"mas Fatah tidak perlu khawatir, insya Allah mbak Zelina akan aman mas" ucap Afkar dengan ramah


setelah berpamitan kepada semua orang, ketiganya masuk ke dalam mobil. ibu Khadijah mendekati menantunya dan mengusap bahunya. ia tau kalau sekarang Zelina sedang menahan kesedihan berpisah dengan Fatahillah.


"ikhlas nak, doakan mereka semua baik-baik saja"


"iya bu" dengan suara parau Zelina menjawab


Fatahillah menatap istrinya yang begitu ia cintai. helaan nafasnya membawanya semakin menjauh dari rumah yang kini telah menjadi panti asuhan kasih ibu.


(tunggu aku kembali sayang) batin Fatahillah


"mas, kita mampir ke bengkel aku sebentar ya. aku hanya ingin melihat perkembangannya saja selama aku tidak ada" Akmal memecah keheningan dimana sejak tadi mereka diam membisu


"Mal, kamu sudah mapan untuk menikah loh. kamu nggak ada niat mau ke jenjang pernikahan gitu. aku lihat ada seseorang yang suka sama kamu" Hasan melihat wajah Akmal di spion gantung


"punya wajah tampan seperti ini wajarlah kalau banyak yang suka mas. tapi masalahnya belum ada yang sreg di hati aku" Akmal menurunkan kaca mobil agar angin pagi masuk ke dalam


"Najwa sepertinya tertarik sama kamu loh Mal" Fatahillah membuka suara


"mas Fatah cenayang ya bisa mengetahui isi hati orang"


"dari gerak geriknya saja kita sudah tau Mal. dia cantik loh, pintar lagi. tunggu apalagi, daripada nanti diambil orang" ucap Fatahillah


Akmal menatap keluar menikmati angin pagi yang menerpa wajahnya. ia menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil menutup mata.


"aku sudah punya pilihan sendiri mas" sekian detik barulah Akmal menjawab


"oh ya, memangnya siapa...?" Hasan antusias


"bidadari dari pesantren Abdullah" jawab Akmal


"kamu menyukai salah satu santri di sana...?" pikiran Hasan sudah tertuju kepada para santri di pesantren Abdullah


Fatahillah tidak menimpali, ia sibuk mencari nomor Haninayah dan menghubunginya. dirinya ingin tau keadaan wanita itu dan ibunya. meskipun Fauzan telah memberitahu dirinya kalau Haninayah dan ibunya sekarang baik-baik saja, sebab kemarin wanita itu memberikan mereka kabar namun tetap saja Fatahillah ingin memastikan sendiri.


"mas Hasan ini, banyak ustazah di sana loh kenapa malah berbelok ke para santri"


"astaghfirullah... maaf Mal, aku rada oleng" Hasan terkekeh menertawakan kebodohannya sendiri


"Maryam binti Anshor...itu kan bidadari yang kamu maksud...?" Fatahillah berucap dengan ponsel sudah berada di telinganya


"nah kan, pasti mas Fatah ini cenayang. darimana mas tau coba kalau Maryam yang aku maksud" Akmal kaget karena Fatahillah bisa menebak siapa wanita yang dirinya maksud


(halo assalamualaikum) Fatahillah langsung mengucapkan salam setelah panggilannya tersambung ke nomor haninayah


(wa alaikumsalam, ini siapa...?)


(maaf sekali telah mengganggu sepagi ini. saya Fatahillah, teman Fauzan yang akan ke kota X)


(masya Allah, saya senang bisa berbicara langsung dengan mas Fatah. apakah mas Fatah jadi berangkat ke kota X hari ini. sebaiknya cepat mas, karena aku tidak mungkin terus-menerus untuk bersembunyi. aku harus mengajar dan tentu saja harus keluar, setiap hari selalu diliputi rasa cemas dan takut)


(insya Allah saya akan segera ke sana)


(saya tunggu mas)


"woi..."


suara teriakan dari sebrang membuat sambungan telepon terputus begitu saja. berkali-kali Fatahillah mencoba menghubungi Haninayah namun nomor wanita itu tidak lagi aktif.


"kenapa...?" tanya Hasan


"putus" jawab Fatahillah


"hah putus...? mas Fatah punya selingkuhan ya" Akmal melebarkan mata dengan mulut ternganga


"heh sembarangan kalau ngomong" Fatahillah melemparkan botol air minum kepada Akmal


"lah terus tadi bilang putus maksudnya apa coba"


"panggilannya terputus Akmal bin Sumanto" Fatahillah kesal


"bin Rahmat... darimana pula bin Sumanto" Akmal membenarkan


"apa terjadi sesuatu lagi dengan Hani" ucap Hasan


"semoga saja tidak" Fatahillah menghela nafas


di kota X, Haninayah yang diteriaki oleh seseorang terkejut dan menjatuhkan ponselnya hingga sambungan panggilan terputus. ia menunduk mengambil ponselnya dan melihat ke arah seorang laki-laki yang datang mendekatinya.


"pak Faisal" gumam Haninayah


"ibu Hani, apakah ibu sadar hampir saja seseorang mencuri dompet ibu tadi"


laki-laki yang bernama Faisal itu memeragakan apa yang ia lihat tadi. dimana seseorang hampir memasukkan tangannya ke dalam tas Haninayah namun pak Faisal meneriakinya hingga pencuri itu lari menjauh.


"serius itu bisa saja ibu Hani tapi harus tetap memperhatikan sekitar. lagipula ibu Hani kenapa malah berada di sini. mobil ibu kemana...?"


"di bengkel pak, saya sedang menunggu taksi pesanan"


"oh" Faisal manggut-manggut "tapi....sejak kapan ibu Hani tinggal di daerah ini. bukankah tempat tinggal ibu Hani bukan di sini...?"


Haninayah menggaruk pelipis untuk mencari alasan. untungnya taksi online yang ia pesan telah datang sehingga dirinya bisa melarikan diri dari pertanyaan laki-laki tampan yang berdiri di depannya.


"sampai bertemu di sekolah pak, saya duluan. assalamualaikum" Haninayah masuk ke dalam taksi "jalan pak" ucapnya


taksi yang membawa Haninayah meninggalkan Faisal yang masih tetap ditempanya.


"wa alaikumsalam" jawabnya dengan suara begitu pelan


sudut bibirnya terangkat kemudian ia masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.


Hasan membelokkan mobilnya ke kanan dimana bengkel Akmal berada. berjarak hanya beberapa meter dari belokkan, terlihatlah bengkel yang kini masih pagi tapi sudah ramai pelanggan.


"bentar ya mas" Akmal membuka pintu mobil


"kamu nggak ngajak kami turun juga Mal" ucap Hasan


"ya aku pikir kan kalian berdua nggak mau turun, lagipula aku hanya sebentar" Akmal menahan tubuhnya diambang pintu mobil


"kami di sini saja" timpal Fatahillah


Akmal turun dari mobil dan mendekati karyawannya yang sedang memperbaiki motor. mereka senang Akmal datang, sebab sudah lama sekali Akmal meninggalkan bengkelnya.


sementara di dalam mobil Fatahillah melihat galeri foto yang ada di ponselnya. seorang wanita cantik yang siapa lagi kalau bukan istrinya sendiri. baru beberapa jam meninggalkan rumah, Fatahillah sudah memendam rindu kepada istrinya.


"belum juga sehari loh Fatah kita jalan" Hasan dapat melihat apa yang dilihat oleh Fatahillah


"kamu akan merasakan jika sudah menikah San. apalagi tanpa pacaran terlebih dahulu, menikah dadakan. pacaran setelah menikah itu lebih indah daripada pacaran sebelum menikah" Fatahillah tersenyum menatap foto istrinya


"aku jadi penasaran bagaimana indahnya pacaran setelah menikah"


Fatahillah menoleh ke arah Hasan dan memikirkan sesuatu.


"kenapa melihatku seperti itu...?"


"kamu belum menjalin hubungan dengan wanita sebelumnya...?" tanya Fatahillah


"siapa yang mau dengan laki-laki seperti aku Fatah"


"banyak, hanya saja kamu yang tidak mau. benar begitu bukan...?"


Hasan melihat ke arah luar dimana setiap kendaraan saling berlalu lalang.


"itu karena aku telah jatuh hati kepada seorang wanita sejak pertama bertemu dengannya"


"dan apakah dia adalah Hanum...?"


"hmm...tapi..."


"tapi apa, bukankah Hanum juga menyukaimu. apalagi yang kamu tunggu. tiba di kota B nanti maka lamarlah dia"


"siapa yang mau dilamar...?" Akmal kembali


Hasan segera menyalakan mobilnya dan meninggalkan bengkel menuju kembali ke jalan utama.


"aku belum punya persiapan apapun. rumah belum ada, usaha juga belum ada" ucap Hasan


"mas Hasan meragukan sang pemberi rejeki...?" tanya Akmal


"bukan begitu Mal, tapi menikahi anak orang itu bukan hanya bermodalkan cinta. perut nggak akan kenyang kalau hanya makan cinta. setidaknya aku sudah punya usaha sendiri seperti apa yang dimiliki Fatahillah, minimarket selain dia berprofesi sebagai dosen. seperti kamu yang memiliki bengkel" jawab Hasan


"asal mas Hasan tau ya, pendapatan bengkel aku bahkan tidak bisa menyamai dengan gaji mas Hasan selama sebulan loh. gaji mas itu bahkan bisa membelikan Hanum puluhan emas yang mahal"


"lagipula pak Umar pasti tidak akan membiarkan kalian terlantar San. atau kalau kamu tidak mau bagaimana kalau Hanum aku dekatkan dengan Afkar, siapa tau mereka cocok" Fatahillah mulai menggoda Hasan


"jangan..." teriak Hasan dengan cepat "jangan berani-beraninya ya kamu" Hasan melotot


"hahaha...mas Hasan mah sok jual mahal" Akmal tertawa


mereka berhenti di rest area untuk sholat dan beristirahat. sekalian mengisi perut karena hari sudah siang. di tempat yang tidak jauh dengan ketiganya, ada dua orang laki-laki yang juga memesan makanan seperti mereka. tidak dapat dilihat wajah keduanya karena dua laki-laki itu duduk membelakangi mereka.


"jadi apakah kita akan menginap di kota B atau langsung meluncur ke kota X...?" tanya Akmal


"kita bermalam dan besoknya baru berangkat" jawab Fatahillah


"tapi kan Haninayah sedang diincar karena mustika putih itu. apa sebaiknya kita langsung saja mas"


"sssttt...jangan keras-keras Mal, bahaya" Hasan seketika membekab mulut Akmal dengan tangannya


ketiganya melihat sekitar, semua orang sedang sibuk dengan makanan mereka termasuk dua orang yang duduk di dekat mereka.


"maaf" Akmal berucap pelan


setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan. kali ini Fatahillah yang menyetir sementara Akmal sudah tertidur di kabin tengah. Hasan sedang menelpon dengan pak Umar karena bosnya itu menghubungi dirinya saat hampir dirinya akan terlelap.


lima belas menit berbicara, Hasan mematikan panggilan dan menyandarkan kepalanya.


"apakah setelah kita ke kota X, kita akan langsung ke gunung Gantara Fatah...?" Hasan bertanya sambil menutup mata


"memangnya kenapa...? apakah ada yang menggangu pikiranmu...?" Fatahillah melirik temannya itu


"tidak ada, tapi setidaknya sebelum kita menginjakkan kaki di tanah kelahiranmu, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu." Hasan memperbaiki posisi duduknya


"akan kita pikirkan setelah aku melakukan penyatuan energi dengan mustika merah. aku juga tidak sabar ingin segera ke sana dan melihat dengan mataku langsung bagaimana dan seperti apa sosok yang bernama Samsir Sukandar itu, Gandha Sukandar dan Gara Sukandar yang kini menjadi pemimpin di tempat itu"


"dia sakti Fatah"


"darimana kamu tau...?"


"itu hanya tebakanku saja. yang ada dalam pikiranku kalau yang bernama Gara Sukandar itu adalah pemuda sakti yang pastinya ditakuti oleh penduduk. kalau memang iya maka berarti kita harus bekerja keras untuk bisa mengambil kembali kepemimpinan di tempat itu"


"kamu benar, pasti tidak semudah itu untuk mengalahkan mereka" jawab Fatahillah


menjelang ashar, mereka kini telah memasuki kota B. azan berkumandang dan ketiganya sepakat untuk berhenti di masjid terlebih dahulu. jarak ke pesantren Abdullah masih lumayan jauh, maka sebelum ke tempat itu mereka ingin menyelesaikan sholat ashar terlebih dahulu.


mendekati jam empat sore, ketiganya mulai berangkat kembali. sepanjang jalan ketiganya terus bercerita dan tanpa terasa hanya tersisa beberapa meter saja, gerbang pesantren itu telah terlihat.


perlahan-lahan mobil memasuki pekarangan pesantren dan ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal mereka selama di tempat itu. ketiganya turun namun mereka bertiga bingung karena tidak ada seorangpun di rumah itu.


"kok sepi begini ya" Akmal masuk ke dalam rumah mengucapkan salam terlebih dahulu


Hasan dan Fatahillah ikut masuk namun setelahnya mereka kembali keluar setelah menaruh barang-barang ketiganya di dalam kamar.


"mereka kemana ya...?" ucap Hasan


"apa mungkin mereka di rumah kiayi Anshor...?" ucap Fatahillah


"aku telpon ibu dulu lah"


Akmal menghubungi nomor ibu Afifah namun rupanya ponsel ibunya berada di dalam rumah karena suara dering ponsel terdengar di dalam sana. akhirnya ketiganya sepakat untuk ke rumah kiayi Anshor. saat itu mereka bertemu dengan beberapa santri laki-laki dan bertanya kepada mereka.


"mereka di masjid mas karena ustad Ali akan menikah dengan ustazah Naila" salah seorang santri menjawab


"menikah...?" ketiganya kaget dan saling pandang


beribu-ribu pertanyaan terperangkap di dalam kepala. kenapa dan mengapa, dua kalimat tanya itu melayang-layang di kepala ketiganya. sebab kedatangan mereka sudah diketahui namun tidak ada yang memberikan mereka informasi kalau akan ada pernikahan di tempat itu


"bukan ustazah Naila, tapi ustad Ali akan menikah dengan ustazah Maryam" salah satu santri lainnya memberikan pernyataan yang berbeda


"APA...?"


suara Akmal yang begitu keras membuat para santri itu terlonjak kaget, bahkan Fatahillah dan Hasan pun ikut terkejut dan mengelus dada.


"alamaaaaak, jodohku" Akmal lemas dan bersandar di dada Fatahillah. ia memegang dada seakan dirinya terserang serangan jantung


______________________________________


catatan :


aku bukan penulis handal seperti penulis lainnya dimana karya mereka begitu memukau dan sukai banyak orang. aku hanya pemula yang masih banyak kekurangan. kalau kalian suka dengan ceritaku, maka aku bersyukur dan sangat berterimakasih kalian telah membacanya, jika kalian tidak suka maka tentunya aku tidak akan berkecil hati sebab tentu saja dalam karya aku masih begitu banyak kekurangan.


mari saling menghargai setiap karya orang lain, berilah komentar yang membangun jika ada kekurangan bukan malah menjatuhkan.


terimakasih untuk kalian yang telah membaca cerita Fatahillah, mohon maaf aku tidak bisa up setiap hari lagi karena masalah hidup aku di kehidupan nyata lebih berat daripada masalah hidup Fatahillah di dunia fiksi.


semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan ya, salam hangat dari aku.