Fatahillah

Fatahillah
Bab 47



umi Zainab yang begitu risau dengan kekacauan yang terjadi, berniat untuk melihat keadaan di depan gerbang namun kedua anaknya menahan. mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan ibu mereka.


"jangan umi, sebaiknya kita di sini saja. Abah juga pasti tidak mau kalau kita ikut campur. lebih berbahaya lagi kalau kita ke sana umi, yang ada Abah tidak akan konsen menghadapi orang-orang itu karena memikirkan keselamatan kita" Naila berkata dengan lembut agar umi Zainab dapat mengerti


"tapi umi khawatir dengan Abah jangan sampai Abah kenapa-kenapa"


"insya Allah semuanya akan baik-baik saja. lagi pula Abah tidak sendirian umi, ada ustad Ali dan juga ustad-ustad lainnya. mereka pasti tidak akan membiarkan orang-orang itu masuk ke dalam pesantren" timpal Maryam


umi Zainab menghela nafas berat sebelum akhirnya menuruti perkataan kedua putrinya. bagaimana pun juga mereka tidak mempunyai kekuatan besar untuk menghadapi orang-orang yang jumlahnya banyak itu.


di gerbang pesantren semakin ricuh saja karena sampai saat ini orang-orang itu belum melihat batang hidung keluarga pak Umar yang datang untuk menemui mereka.


"terobos saja, kita masuk paksa. kiyai Anshor pasti berbohong, mereka tidak mungkin memperlihatkan orang-orang itu karena sudah pasti salah satu dari mereka berpenyakitan. bisa jadi mereka menghalangi kita untuk menyembunyikan orang-orang itu" laki-laki yang masih menjadi provokator terus saja memprovokasi orang-orang itu


"TEROBOS DAN BAKAR PESANTREN INI"


bahkan sudah terjadi penyerangan. orang-orang itu mulai melakukan penyerangan dengan kekerasan terhadap para ustad. saat itu juga pak Umar beserta yang lainnya datang menghentikan kerusuhan tersebut.


"berhentilah, kami yang kalian cari bukan" pak Umar datang mengambil posisi garda terdepan


pak Umar datang bersama pak Odir dan Akmal. sementara Hanum di apit oleh ibu Afifah dan ibu Rosida.


"kami yang kalian cari bukan. sekarang kami datang memenuhi keinginan kalian. lihat kami baik-baik, apakah diantara kami ada yang memiliki penyakit seperti yang kalian katakan" pak Odir menatap mereka dengan tajam


orang-orang itu melihat dan menelisik pak Umar serta yang lainnya. tidak ada tanda-tanda mereka mempunyai penyakit aneh seperti yang mereka katakan. bahkan Hanum kini terlihat lebih segar dan tidak ada bekas luka sedikitpun.


"tidak mungkin" laki-laki yang memprovokasi itu menggeleng tidak percaya


"apanya yang tidak mungkin. lihatlah baik-baik, kami semua sehat walafiat dan dengan beraninya kalian datang mengacau di tempat ini dan memfitnah kami. sungguh benar-benar keji mulut kalian itu. aku pastikan kalian akan membusuk di penjara atas pencernaan nama baik, penyerangan terhadap warga pondok pesantren Abdullah" pak Umar menatap mereka dengan tatapan tajam penuh kemarahan


"kami tidak bersalah pak, kami hanya mengikuti dia saja" seorang bapak menunjuk laki-laki tukang provokator itu


"iya pak benar, kami dihasut olehnya" yang lain mulai membela diri


"kalian pikir dengan menyalahkan dia" pak Umar menunjuk laki-laki itu "kalian bisa bebas dari tuduhan. kalian semua akan kami laporkan kepada pihak berwajib. karena penyerangan yang kalian lakukan, ada beberapa santri yang terluka akibat lemparan batu yang telah kalian lakukan" pak Umar menunjuk mereka semua dengan telunjuknya


"tapi kami hanya menuruti perkataan dia saja pak"


"lalu apakah jikalau dia menyuruh kamu untuk terjun ke jurang, kamu akan melakukannya juga...?" Akmal maju dan menskak orang itu sehingga ia terdiam dan tertunduk


"padahal kalian belum tau keberadaannya seperti apa namun dengan tidak berperikemanusiaan kalian datang dan menyerang pesantren ini. apa kalian lupa kalau pondok ini ada mungkin salah satu dari anak, atau keponakan kalian yang menimba ilmu disini. sekarang saya tanya kepada kalian semua. kalau seandainya laki-laki ini, menyuruh kalian untuk membakar rumah kalian dengan dalih kalian menyembunyikan obat terlarang atau narkoba. apakah kalian akan terima begitu saja padahal jelas-jelas yang dia katakan tidaklah benar" Ali maju ke depan


semua orang tertunduk dan tidak bersuara. mereka seperti kucing yang di siram air. tidak berkutik dan berhenti menggonggong.


laki-laki yang sejak awal menjadi provokator diam-diam mundur secara perlahan untuk melarikan diri. ia berlari agar tidak diadili namun Ali yang melihat itu langsung mengejar dan melompat memberikan tendangan di kepala laki-laki itu sehingga ia tersungkur ke tanah.


dengan emosi yang bahkan sejak tadi sudah sampai di ubun-ubun, Ali menarik paksa orang itu dan memberikan satu kali bogem mentah di wajahnya membuat bibir laki-laki itu robek dan berdarah. Ali menarik paksa kerah baju laki-laki itu seperti ia menyeret hewan.


masalah malam itu diserahkan kepada pihak berwajib. orang-orang yang melakukan penyerangan itu di bawa ke kantor polisi. sebagian dari mereka memohon untuk dimaafkan namun kiyai Anshor sebagai pemilik pondok pesantren Abdullah, menyerahkan semua kepada polisi.


orang-orang itu diangkut di mobil polisi. setelah kepergian mereka, semua santri di bubarkan. beberapa orang santri yang terluka dibawa ke rumah sakit oleh dua orang ustad. pak Umar dan yang lainnya kembali ke rumah begitu juga dengan kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain.


di depan gerbang pesantren yang berjarak beberapa meter, seorang laki-laki yang sejak tadi hanya melihat kejadian itu dari dalam mobilnya, langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. di perjalanan ia menghubungi seseorang.


(apa...? jadi gagal lagi...?)


(maaf bos, bahkan wanita itu ternyata sudah sembuh. padahal tidak akan secepat itu dia sembuh dari serangan yang kita berikan kepadanya dulu)


(sialan. mereka benar-benar orang-orang yang tangguh)


(apa rencana bos selanjutnya...?)


(biarkan Aji Wiguna mengejar mustika merah itu. target kita sekarang adalah mendapatkan mustika putih itu. karena pemuda yang bernama Fatahillah itu tidak ada maka kita masih mempunyai kesempatan yang leluasa untuk menangkap pak Umar)


(tapi bukankah pak Umar tidak tau dimana keberadaan mustika putih itu berada)


(jangan bodoh Wira, jelas tidak mungkin dia tidak tahu menahu soal mustika itu. bukankah dia anak dari tua bangka Kusuma itu. apapun yang terjadi kita harus mendapatkan mustika putih itu)


(sebaiknya kita harus mendapatkan keduanya saja bos. pemuda yang bernama Fatahillah itu sedang dalam keadaan tidak sehat sekarang akibat serangan dari anak buah Aji Wiguna. sebaiknya kita tetap mengejar dia juga)


(baiklah terserah kamu saja. bagaimana, apakah kamu sudah mendapatkan dukun sakti yang akan membantu kita)


(di daerah desa keramat, di sana tempatnya dukun sakti itu. namun menurut informasi yang aku dapatkan kalau Aji Wiguna berada di desa itu juga sedang menemui gurunya)


(maka datangi dukun itu tanpa sepengetahuan Aji Wiguna ataupun orang-orangnya. tapi apakah tidak ada tempat lain selain di desa itu)


(akan ada tapi tempatnya bahkan jauh dari desa keramat. kalau bos mau maka aku akan menyuruh anak buah kita untuk menjemput dukun itu)


(dia dukun sakti bukan...?)


(tentu saja bos, bukankah itu yang bos inginkan)


(bagus, secepatnya jemput dukun itu)


(baik bos)


(satu lagi, tetap awasi Fatahillah. jika ada kesempatan maka suruh anak buah kita untuk menghabisinya)


(siap bos)


masih di warung makan, berkali-kali Fatahillah menghubungi keluarganya namun tidak ada satupun panggilannya yang diangkat. hal itu semakin membuat dirinya cemas. setelah pergi beberapa menit, Hasan datang menghampiri mereka.


baru saja Hasan duduk bergabung bersama Fatahillah dan yang lainnya, ponselnya berdering. pak Odir menghubungi dirinya.


(kalian sudah dimana San...?)


(sudah jauh dari kota B paman namun mobil kami bocor jadi terpaksa kami berhenti untuk tambal ban)


(kalian semua baik-baik saja kan)


(Alhamdulillah paman. memangnya ada apa...?)


(paman hanya mengingatkan agar kalian berhati-hati. orang-orang yang mengincar mustika itu bahkan mereka semakin berani. tadi saja ada orang-orang yang datang menyerang pesantren Abdullah untung saja kami sudah bisa menanganinya. paman yakin orang-orang itu pasti suruhan seseorang yang mengincar kedua mustika itu. beritahu Fatahillah agar tetap menjaga dirinya)


(baiklah paman. kalian juga di situ harus berhati-hati)


Hasan menutup panggilan dan ia menghela nafas sebelum akhirnya bersandar di kursi tempat duduknya.


"kenapa San...?" tanya Fatahillah


"pondok pesantren baru saja diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal namun untungnya mereka dapat di ringkus. kata paman Odir, sepertinya orang-orang itu adalah suruhan seseorang yang menginginkan mustika yang ada dalam tubuhmu dan juga milik pak Umar yang entah dimana keberadaannya" Hasan menjelaskan


"semakin berani saja mereka" gumam Fatahillah


"bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan besok saja. aku takut kalau nanti mereka menghadang kita di jalan seperti tempo hari. mas Fatah belum sembuh total, tidak mungkin Hasan seorang diri melawan mereka. Arjuna tidak mempunyai ilmu beladiri seperti kalian berdua" ucap Zelina


"bagaimana Fatah...?" Hasan melihat ke arah Fatahillah


"tidak, kita tetap lanjutkan perjalanan. bahkan keluarga ku saat ini lebih penting daripada nyawaku sendiri. aku yakin di sana mereka dalam keadaan waspada. kematian paman Imam masih menyisakan misteri. Yusuf belum memberitahuku penyebab kematian paman Imam. keluargaku saat ini sedang diincar. aku harus segera sampai di kota S bagaimanapun caranya" Fatahillah menolak usulan istrinya


"memangnya sepenting itukah mustika itu sampai mas Fatah diincar dan bahkan keluarga mas juga menjadi target mereka...?" setelah lama berdiam diri barulah Arjuna mengeluarkan suara


"bahkan kamu bisa menjadi penguasa yang yang begitu sakti jika kamu memiliki kedua mustika itu" Hasan menjawab


"andaikan mustika putih telah kita temukan, kamu bisa menyatukan energi mu dengan energi kedua mustika itu. meskipun mustika itu berada dalam tubuhmu namun kamu belum bisa mengendalikannya karena belum ada penyatuan antara dirimu dengan mustika itu. kamu membutuhkan mustika putih agar dirimu tidka celaka nantinya jika melakukan penyatuan energi. jika tanpa mustika putih kiayi Zulkarnain mengatakan, akan berbahaya untukmu" lanjut Hasan


"tapi jika mereka terus mengusik aku dan keluargaku dan juga orang-orang yang dekat denganku. aku terpaksa harus melakukan penyatuan energi dengan mustika merah itu. hanya dengan aku bisa memiliki kekuatan mustika merah itu maka aku bisa melindungi kalian semua" Fatahillah menatap ketiganya dan terakhir tatapannya jatuh kepada Zelina


Zelina paham dengan apa yang dirasakan suaminya sekarang. ia memegang tangannya mencoba meyakinkan bahwa selama dirinya berada di dekat suaminya, keselamatannya akan baik-baik saja.


"apakah kamu yakin...?" tanya Hasan


"aku sudah melalui berbagai hal yang dapat membuat diriku dalam bahaya San. jika itu mendesak dengan terpaksa aku harus melakukannya meskipun tanpa mustika putih" Fatahillah menjawab penuh keyakinan


"kalau begitu aku ingin berguru denganmu mas agar aku juga dapat membantu mas Fatah dan semua orang" ucap Arjuna


"tidak, kamu tidak aku izinkan melakukan hal yang berbahaya. kamu cukup melanjutkan kembali sekolahmu dan masuk perguruan tinggi menggapai cita-cita mu" Zelina menolak keinginan remaja itu


"tapi Mbak"


"tidak ada tapi-tapian Arjuna. ingat janji kamu, bukankah kamu hanya akan mengikuti semua aturan dari kami berdua" Zelina berucap tegas "saat ini aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri, apa kamu tidak ingin membuat bangga kakakmu ini dengan melakukan sesuatu yang fokus pada kehidupan mu saja" lanjut Zelina


Arjuna tertunduk kemudian menghela nafas. Fatahillah mengelus lengan istrinya untuk menenangkannya. ia tau jika istrinya itu tidak ingin kehilangan lagi.


"Arjun" panggil Zelina dengan lembut


Arjuna mendongak dan menatap wajah Zelina yang terhalang oleh kain cadarnya.


"mba mohon, ya"


Arjuna mengangguk dan kemudian tersenyum. Zelina merasa lega mendapat persetujuan dari remaja itu. niatnya membawa serta Arjuna bersama mereka adalah untuk membuat hidupnya seperti anak-anak yang lainnya bukannya malah melakukan hal yang dapat membahayakan nyawanya.


setelah menikmati makanan mereka, mereka berjalan beriringan menuju ke bengkel. di sana salah seorang montir mobil baru saja selesai menambal ban mobil Hasan.


"terimakasih banyak mas" Hasan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan juga memberikan upah dari hasil kerja laki-laki itu


"sama-sama mas, semoga diperjalanan nanti tidak ada lagi masalah" jawabnya menjabat tangan Hasan dan mengambil uang yang diberikan oleh Hasan


"semoga saja, kalau begitu kami pamit dulu"


"iya, hati-hati di jalan"


mereka semua masuk ke dalam mobil. setelah itu Hasan menyalakan mobilnya dan meninggalkan bengkel tersebut.


sudah pukul 9 malam, karena mereka belum melaksanakan shalat isya maka mereka mencari masjid untuk shalat terlebih dahulu setelah itu barulah melanjutkan perjalanan. seperti waktu magrib tadi, Fatahillah memanggil Langon untuk menjaga mobil mereka sementara mereka dalam melaksanakan shalat isya.


setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, kali ini Fatahillah yang menyetir mobil. Hasan pertama menolak atas keinginan Fatahillah namun karena Fatahillah memaksa dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, akhirnya Hasan pun mengalah. Fatahillah dan Zelina duduk di kabin depan sementara Hasan dan Arjuna di kabin tengah. alasan Fatahillah lebih memilih untuk menyetir mobil adalah agar dirinya tidak mengantuk. bagaimanapun juga, mereka akan melakukan perjalanan jauh apalagi di malam hari. apapun yang terjadi dirinya harus melindungi semua orang yang kini tengah bersamanya.


sudah hampir satu jam mereka berada di dalam mobil, Hasan dan Arjuna telah tertidur di kabin tengah. saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba Zelina meraih tangan Fatahillah dan memasangkan sesuatu di jari manisnya.


"sayang, ini...."


"cincin pernikahan kita" Zelina menunjukkan jarinya yang telah terpasang oleh cincin yang begitu cantik


"kapan kamu mengambilnya...?"


"sehari sebelum mas sadar. mereka mengubungimu karena mas Fatah belum sadar maka aku sendiri yang pergi untuk mengambilnya"


Fatahillah menggenggam tangan istrinya dan menciumnya beberapa kali.


"aku harap kamu selalu bersamaku bagaimanapun keadaanku sayang"


"jangan ragukan itu mas. selama nyawa masih bersemayam di raga, aku tentu akan selalu bersamamu"


Fatahillah mengusap kepala Zelina kemudian kembali menggenggam tangan mungil istrinya itu. ia begitu bersyukur pak Harun memintanya untuk menikahi anak gadisnya yang sekarang telah menjadi bagian dari hidupnya.