
"mas Fatah, kita belanja di pasar tradisional aja ya. di sana juga banyak yang menjual pakaian dan harganya murah-murah. lagi pula mahal atau murahnya pakaian kan yang penting menutup badan" ucap Akmal
"bagaimana sayang...?" aku meminta pendapat kepada Zelina
"terserah mas saja, aku mengikut" jawab Zelina
"tapi pakaian seperti yang dikenakan istriku ada kan Mal...?" tanyaku
"ada lah, semuanya serba ada. pakaian dalam saja yang berbagai model juga ada. mau ular cobra kah, macan tutul kah, semuanya ada" jawab Akmal
"nggak sekalian aja kamu bilang model serigala berbulu domba" ucap Hasan
"emmm sepertinya yang model berbulu belum ada deh mas, atau mau aku carikan mas di belanja online"
"hiiii.. siapa juga yang mau" Hasan bergidik
"mas Hasan dan Akmal sepertinya cocok jadi besti ya mas" ucap Zelina terkekeh pelan
"iya, atau jangan-jangan kalian berdua....." aku sengaja menggantung ucapanku
"NO, aku normal ya... sangat normal" teriak Akmal
"lah memangnya kamu tau aku mau ngomong apa Mal...? tanyaku
"elleh...nggak usah sok polos deh mas" cibir Akmal
aku, Hasan dan Zelina tertawa mendengar kekesalan Akmal. entahlah, aku suka sekali menjahili Akmal yang tidak pernah marah namun hanya membalas dengan ketengilannya.
karena yang akan kami tuju ada sebuah pasar tradisional, maka dari itu hanya beberapa menit kami sampai di tempat itu. kalau dari depan seperti ini yang terlihat adalah penjual sayur, biasanya yang menjual pakaian ada di dalam sana.
kami ke tempat penjualan pakaian. mencari beberapa potong baju dan celana untuk dipakai di pesantren nanti.
Hasan mencari baju dan celana yang cocok untuk pak Umar sementara Zelina mencari baju yang cocok untuk ibu Rosida karena pakaian mereka sama dengan kami, ikut terbakar di dalam mobil.
tidak lupa kami membeli sayur dan juga beberapa kebutuhan lainnya untuk di masak nanti. hingga tidak terasa kami sudah belanja dengan waktu berjam-jam.
"tidak ada lagi yang mau dibeli kan...?" tanyaku
"tidak ada mas, semuanya sudah kita beli" jawab Zelina
"kalau begitu kita pulang saja, sebentar lagi dzuhur" ucap Hasan
kami semua keluar dari tempat penjualan pakaian dan menuju ke mobil. di saat itu aku melihat seorang bapak-bapak dengan anaknya yang masih kecil, mungkin masih berusia lima tahun. keduanya sedang duduk berlesehan dengan beralaskan koran. di samping mereka ada sebuah karung, sepertinya mereka sedang mencari barang bekas untuk di timbang.
aku yang merasa kasian langsung menghampiri keduanya dan berjongkok di depan mereka.
tanpa berkata-kata apapun, aku memberikan uang beberapa lembar di tangan si bapak dan tersenyum.
"rejeki dari Allah pak, jangan di tolak" ucapku
aku juga mengusap kepala anak kecil itu dan mendoakannya dalam hati semoga kelak jika dia dewasa, akan menjadi orang yang sukses dan membahagiakan orang tuanya.
"terimakasih banyak mas, terimakasih" ucap si bapak yang langsung berkaca-kaca
aku menepuk pelan pundaknya kemudian berdiri dan menghampiri yang lain.
"apa tidak sebaiknya kita belikan juga mereka makanan mas...?" tanya Zelina
"boleh. tapi sepertinya tidak ada warung makan di sini" ucapku
"biar aku saja yang beli, di sana ada warung makan. kalian tunggu saja di sini" ucap Akmal
Akmal melesat pergi, sementara aku dan Zelina berinisiatif untuk membelikan mereka sembako agar dibawa pulang ke rumah.
"San, kamu mau di sini saja atau ikut bersama kami...?" tanyaku
"aku di sini saja, mau mengobrol bersama bapak dan anak itu" jawab Hasan
"kalau gitu kami tinggal sebentar ya, mau beli sesuatu" ucapku
"iya, pergi saja" jawab Hasan
"ayo sayang" ajakku kepada Zelina
tiba di penjual sembako, istriku mengambil apa saja untuk bisa dimasak. satu kantung plastik ukuran besar, penuh dengan belanjaan istriku.
setelahnya kami kembali namun diperjalanan akan kembali ke mobil, seorang ibu tiba-tiba datang menghadang kami berdua. pakaiannya compang camping dengan rambut yang berantakan dan juga tidak memakai sendal.
dia menatapku dengan intens sementara Zelina aku sembunyikan dibelakangku. tanpa aba-aba ibu itu menarik kasar lengan bajuku yang sebelah kanan hingga robek sampai di ketiak.
"atagfirullahaladzim" Zelina terpekik kaget
karena lengan bajuku yang sobek, maka terlihat lah lenganku yang selama ini tidak aku perlihatkan di dunia luar.
sraaaaak
ibu itu kembali merobek bajuku hingga bahu kananku terekspos dengan jelas. tanda lahir yang ada di bahu kananku terlihat dengan jelas. tanda lahir yang berbentuk seperti naga.
"anakku.... anakku" ibu itu teriak dan melompat memelukku
"mas" Zelina langsung panik
aku berusaha melepaskan pelukan ibu ini dan menjauh darinya. namun dia yang telah menganggap aku sebagai anaknya, mengejarku dan kembali memelukku.
"anakku...huhuhu.... anakku. kamu masih hidup nak, kamu masih hidup" si ibu memelukku dengan erat
sebagian bapak-bapak yang melihat kami langsung berlari dan menghampiri kemudian menarik paksa wanita yang mengakui aku sebagai anaknya.
"maaf ya mas, dia memang seperti ini, sakit jiwa. setiap anak muda yang ia lihat akan di robek bajunya dan menganggapnya sebagai anak" ucap salah satu bapak yang memegang tangan si ibu agar tidak kembali memelukku
"hei lepaskan aku, dia anakku, anak yang aku lahirkan. lihatlah, ada tanda lahir di bahunya, dia anakku" wanita itu terus memberontak
"sebaiknya mas dan mbak pergi dari sini, biar dia menjadi urusan kami" ucap salah satunya
"terimakasih pak. ayo sayang"
aku segera menarik Zelina untuk segera pergi dari tempat itu. sementara ibu tadi terus memberontak dan berteriak ingin bersamaku. aku sempat berhenti dan menoleh. ku lihat wanita itu menangis dan meraung meminta dilepaskan. tiga orang bapak-bapak menariknya untuk menjauh dari tempat itu.
ada perasaan aneh yang menjalar di hatiku, entahlah aku juga tidak tau perasaan apa ini. tapi aku merasa kasian kepada wanita itu.
"mas" panggil Zelina
"ah iya" jawabku
"mas kenapa...?"
"tidak, ayo"
masih dengan menggenggam tangan Zelina, kami melangkah cepat menuju ke mobil. sudah ada Akmal yang tadi izin pergi membeli makanan.
"lah mas, bajunya kenapa sobek begitu...?" tanya Akmal
"di sobek sama orang gila" jawabku
"hahaha, kamu seperti laki-laki yang terkena kdrt loh Fatah. kamu apakan suamimu sampai seperti itu Zelina" Hasan malah menertawakan aku
"di kdrt sama orang gila tadi mas" jawab Zelina
"puas kamu ya San melihat penderitaan aku" ucapku dengan kesal
"belum, harusnya lebih ekstrim lagi" Hasan menjawab dengan terus tertawa
"sakarepmu lah" jawabku ketus
kami semua masuk ke dalam mobil. Zelina mengambil baju yang kami beli tadi untuk aku kenakan. sangat tidak mungkin pulang dengan baju yang sobek seperti ini.
"kenapa bisa sampai bertemu dengan orang gila...?" tanya Akmal
"kami juga tidak tau, tiba-tiba saja dia sudah berada di depan kami" jawabku
aku kembali teringat dengan wanita gila tadi, teriakan dan tangisannya memenuhi telingaku.
"astaghfirullah" ucapku
"kenapa mas" tanya Zelina
"sepertinya ibu tadi baru saja kehilangan anak sampai begitu kekeuh menganggap aku ini adalah anaknya" ucapku
"dia menganggap mas Fatah sebagai anaknya...?" tanya Akmal
"oh jangan sampai yang kalian temui itu adalah ibu Laila" ucap Akmal
"kamu kenal Mal...?" tanya Hasan
dari dulu dia memang seperti itu. aku kan pernah mondok di pesantren Abdullah, jadi aku tau. karena kami waktu datang jalan-jalan ke pasar pernah bertemu dengannya. dia selalu mencari anaknya yang dibawa lari katanya. ternyata sampai sekarang masih seperti itu ya" jawab Akmal
"dia sudah tidak punya keluarga kah, sampai ditelantarkan seperti itu. harusnya kan dibawa ke rumah sakit jiwa, bukan dibiarkan keluyuran seperti tadi" ucap Zelina
"kalau keluarganya sih, aku juga tidak tau mbak" jawab Akmal
kami semua terdiam. kasian sekali jika ibu tadi tidak lagi memiliki keluarga.
"Allah mas, aku sampai lupa memberikan sembako ini kepada bapak dan anak tadi" ucap Zelina dimana ada satu kantung plastik besar berada di atas pahanya
"tidak apa-apa, untuk di rumah saja" jawabku
"sini mbak simpan di tengah, itu pasti berat" ucap Akmal
"tidak seberat menahan rindu Mal" timpal Hasan yang mengambil kantung plastik itu saat Zelina menyerahkan kepada mereka
"elleh, sok puitis kali lah kau mas" Akmal mencibir sementara Hasan terkekeh
kami tiba di gerbang pesantren bersamaan dengan bunyi azan sholat dzuhur. berarti lama juga kami perginya.
mobil kami memasuki area pesantren dan kini berhenti tepat di depan rumah yang kami tinggali. saat turun, kami berpapasan dengan Ali, pak Odir dan pak Umar yang sepertinya akan ke masjid.
"saya pikir kalian sudah kesasar lupa jalan pulang" ucap pak Odir
"mas Fatah masih main drama dulu di pasar tadi pak, sama orang gila" jawab Akmal
"kamu dikejar orang gila Fatah...?" tanya pak Umar
"dipeluk malah pak, dikirakan anaknya" jawab Zelina tertawa pelan
"Oalah, aku kira kalian main kejar-kejaran seperti film india" ucap Ali tersenyum
"hahaha, bukan main kejar-kejaran tapi malah kdrt" Hasan langsung terbahak-bahak
aku memicingkan mata ke arah Hasan dan dirinya langsung diam kemudian menarik Akmal untuk masuk ke dalam.
"mau ke masjid pak...?" tanyaku
"iya, kami pergi dulu. kalian juga, bersiap lah untuk ke masjid" pak Odir menepuk pelan bahuku
mereka langsung ke masjid sementara aku dan Zelina masuk ke dalam rumah. setelah berwudhu, aku, Akmal serta Hasan bersiap untuk ke masjid. kami bertiga berpapasan dengan kiayi Anshor yang juga sedang menuju ke masjid.
"assalamu'alaikum kiayi" kami mengucapkan salam
"wa alaikumsalam" jawab kiayi Anshor
"aku melihat kalian tadi baru saja datang dari luar, kalian darimana...?" tanya kiayi Anshor
"kami dari pasar kiayi, membeli pakaian" jawabku
"kalian belanja di pasar...?" tanya kiayi Anshor
"memangnya kenapa kiayi...?" tanya Hasan
"bukannya kamu dulu tidak suka ke pasar Mal, malah sembunyi di pohon pisang saat ustad Hasyim mencari kamu untuk menemani dia ke pasar" ucap kiayi Anshor
"hehehe, sekarang tidak lagi kok kiayi" Akmal cengengesan
"memangnya Akmal pernah seperti itu kiayi...?" tanyaku penasaran
"iya, karena dirinya pernah dihadang orang gila dan dikirakan anaknya, makanya Akmal jadi trauma. pulang-pulang sudah tidak pakai sendal dan rambut acak-acakan" jawab kiayi Anshor
"hahaha"
seketika tawa Hasan meledak saat itu juga. aku bahkan sampai memukul bahunya agar tidak terlalu tertawa dengan keras.
"rupanya kalian senasib sepenanggungan ya" tawa Hasan masih terus berlanjut
"senang banget ya sepertinya mas Hasan ini" cebik Akmal
"haduh, rupanya bukan Fatahillah yang main kejar-kejaran seperti di film India, ternyata kamu Mal yang jadi Rahul dan ibu tadi menjadi Anjeli" ucap Hasan memeluk perutnya yang sakit karena tertawa
seketika aku ngakak saat mendengar ucapan Hasan. namun aku langsung membekap mulutku sendiri karena kami sudah sampai di depan masjid
"sabar Mal sabar, tabahkan hatimu keraskan ketuntumu" kiayi Anshor malah menambah hal yang lebih tengil
"sungguh terlalu" Akmal cemberut dan memberenggut kesal
kiayi Anshor terkekeh kemudian merangkul Akmal dan kami semua masuk ke dalam masjid.
selesai sholat dzuhur, kami semua pulang ke rumah. makan siang telah dihidangkan di atas meja. karena sudah merasa lapar, kami makan dengan lahapnya.
"sore nanti kita pergi memancing, mau tidak mas...?" ucap Akmal
"boleh boleh, suntuk juga tidak ada pekerjaan jadi sebaiknya kita pergi memancing saja" ucap Hasan
"memangnya disini ada kali atau sungai gitu...?" tanyaku
"ada. itu adalah tempat kami dulu sering menghabiskan waktu menunggu magrib" jawab Akmal
selesai makan siang, aku merasa mengantuk. aku izin masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. setelahnya mataku tertutup rapat.
"Fatah"
"Fatah"
aku mendengar suara ibu yang sedang memanggil namaku.
saat ini aku berada di tempat entah dimana karena aku pun belum pernah datang ke tempat ini. tidak ada rumah atau gedung semacamnya. mataku melihat sejauh mata memandang, seperti tanpa batas.
"Fatah"
suara ibu yang memanggil ku terdengar lagi.
"ibu....ibu dimana" teriakku mencari keberadaan ibuku
"ibu"
"Fatah"
aku berbalik dan melihat ibu yang kini sedang berdiri di depanku dengan wajah berseri-seri dan tersenyum penuh kelembutan.
"ibu"
aku melangkah cepat untuk memeluk ibu namun sayang aku tidak pernah sampai di tempat dimana ibu berdiri.
kenapa seperti ini. semakin aku berusia maka semakin habis tenagaku terkuras. ada sebenarnya ini, kenapa aku sama sekali tidak bisa sampai di tempat ibu.
"bu" panggilku dengan lirih
ibu hanya tersenyum dan melambaikan tangan kemudian perlahan dirinya menghilang seperti buih yang tertiup angin.
"ibu... ibu"
aku terus berteriak memanggil ibu, sayang ibu tidak menampakkan dirinya lagi.
"IBUUUU"
"mas...mas Fatah"
aku membuka mata dan melihat Zelina yang sedang duduk di sampingku dengan wajah yang tegang.
"kenapa mas, mas mimpi buruk...?"
"astagfirullahaladzim.... astagfirullahaladzim"
aku beristighfar berkali-kali dan mengusap wajah. Zelina memberikan aku air minum dan aku langsung meneguknya sampai habis. aku jadi teringat dengan ibu, semoga beliau baik-baik saja bersama Yusuf. besok pagi, aku harus menghubungi ibu untuk menanyakan kabarnya karena sejak datang kemarin, aku belum mengubungi beliau untuk menanyakan keadaannya.
Allah
lindungi ibuku dan semua orang yang aku sayang, hanya kepadamu aku menitipkan mereka. Engkau adalah sebaik-baik tempat berlindung dari segala kedzaliman.