Fatahillah

Fatahillah
Bab 72



"aku ikut mas"


Fatahillah menggeleng kepala dan mendekati istrinya kemudian memeluknya erat.


"jangan panik ya, tetap bersikap biasa saja. jangan katakan apapun pada ibu dan bibi takutnya mereka shock apalagi bibi Fatimah yang baru saja kehilangan paman Imam"


"lalu bagaimana memberikan alasan kepada mereka...?"


Zelina menarik diri dan mundur selangkah, kedua tangannya tetap digenggam oleh Fatahillah.


"ikut aku"


Fatahillah menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum akhirnya membalikkan badan dan menarik Zelina untuk menghampiri yang lain.


"kok balik mas...?" tanya Akmal yang sedang duduk di dekat mobil menggunakan sendalnya sebagai alas


Akmal berdiri setelah Fatahillah dan Zelina telah berada di dekat mereka.


"biarkan Zulaikha dan Najwa aku yang akan antar pulang, sebaiknya ibu dan bibi dan yang lainnya pulang sekarang ke rumah Zelina" ucap Fatahillah


"loh kenapa seperti itu Fatah, memangnya Zulaikha dan Najwa sedang apa di dalam kenapa lama sekali. kita harus pulang sama-sama bukannya berpisah seperti ini" ucap ibu Fatimah


"begini bi, Afkar menghubungi Zelina kalau dia membutuhkan bantuan segera maka dari itu bibi sama ibu pulang saja duluan nanti Akmal yang akan mengantar kalian. biar Fatah yang menunggu mereka" Fatahillah memberikan alasan dan melirik istrinya kemudian memberikan kode agar Zelina mengambil alih perannya


"kenapa bukan Akmal saja yang menunggu mereka nak, tidak baik kamu membiarkan istrimu pergi tanpa kamu" ibu Khadijah kurang setuju


"iya, biar Akmal saja yang menunggu mereka bersama Arjuna. atau perlu aku temani mereka" Anisa sepemikiran dengan ibu Khadijah


Akmal dapat melihat ada yang tidak beres dengan sepasang suami istri itu. ia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"aku baik-baik saja kok bu, lagipula mas Fatah harus mengurus sesuatu dulu di ATM. tidak akan lama mereka akan menyusul kita. ayo bu, Afkar sudah menunggu kita di rumah" Zelina mendekati ibu Khadijah dan mengapit lengannya kemudian membawa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Akmal.


"tapi Zel" Anisa tetap tidak setuju


"tidak apa-apa Nisa, lagipula kan mereka akan menyusul kita nanti. ayo masuk ke mobil" ajak Zelina kepada Anisa


Anisa mengalah dan ikut masuk ke dalam mobil sementara di luar tinggallah ketiga lelaki.


Arjuna masih tetap di tempatnya, ia belum masuk ke dalam mobil karena ingin bertanya sesuatu, sama dengan apa yang dirasakan oleh Akmal, Arjuna juga mempunyai pikiran yang sama.


"ayo bi" dengan lembut Zelina memanggil ibu Fatimah


"Fatah, kalian harus cepat menyusul kami ya" ucap ibu Fatimah


"iya bi" jawab Fatahillah


ibu Fatimah menyusul Zelina dan ibu Khadijah masuk ke dalam mobil sementara Akmal dan Arjuna mendekat ke arah Fatahillah.


"mas apa yang terjadi...?" tanya Arjuna


"apa ada sesuatu yang tidak kami tau...?" tanya Akmal


Fatahillah memutar badan untuk membelakangi mobil karena ibu Fatimah memperhatikan mereka bertiga. Akmal dan Arjuna melakukan hal sama, memutar badan sama seperti Fatahillah.


"Zulaikha dan Najwa di culik" Fatahillah memberitahu


"APA...? Arjuna kaget dan refleks berbicara keras


"kenapa Fatah...?" ibu Khadijah bertanya. melihat ekspresi Arjuna wanita baya itu merasa yakin kalau terjadi sesuatu namun ia tidak tau


"nggak ada apa-apa bu, aku hanya kaget saja mas Fatah mau memberikan aku hadiah" Arjuna memutar kepala untuk menjawab pertanyaan ibu Khadijah


"Akmal, antar mereka sampai di rumah Zelina. aku akan mencari Zulaikha dan Najwa di danau taman bagian barat. pastikan mereka aman dan tidak ada yang mengikuti kalian" kini Fatahillah berucap serius


"baik mas, tapi apa tidak sebaiknya memberitahu mas Fauzan, mas Yusuf dan mas Hasan untuk membantu mas" timpal Akmal


"akan aku beritahu mereka di jalan, sekarang pergilah" Fatahillah menepuk bahu Akmal


"hati-hati mas" Arjuna memeluk Fatahillah sebelum akhirnya mereka menyusul masuk ke dalam mobil


kepergian keluarganya membuat Fatahillah segera berlari ke arah mobilnya dan meninggalkan mall. karena sudah memasuki waktu magrib maka terpaksa Fatahillah berhenti untuk melaksanakan kewajibannya, dalam sujudnya dirinya meminta jalan keluar dan pertolongan dari sang Maha pemegang kehidupan. bagaimanapun setiap insan manusia sudah selayaknya dan tidak akan pernah lepas dari permintaan pertolongan yang Maha Kuasa.


kembali Fatahillah melajukan mobilnya ke danau taman bagian barat, di perjalanan ia menghubungi ketiga temannya hanya Hasan yang mengangkat panggilannya. laki-laki itu setelah kepulangan orang tua Yusuf dan Fauzan, dirinya pun izin pulang ke rumah pak Umar. untuk Fauzan dan Yusuf, Fatahillah hanya mengirimkan mereka pesan.


(kita bertemu di sana)


(iya, aku sudah mengirimkan pesan kepada Yusuf dan Fauzan)


Hasan yang sedang berkutat dengan berkas-berkas di meja ruang tengah langsung beranjak dan menyambar kunci mobil untuk menyusul Fatahillah.


di rumah sakit Yusuf kini sedang menangani pasien seorang gadis yang bernama Amelia, teman dari Yunita yang sempat kritis karena kehilangan banyak darah. gadis itu sadar pagi tadi, namun karena Yusuf masih harus melamar Anisa maka tugasnya diambil alih oleh suster sebelum akhirnya kini dirinya yang turun tangan.


"apa yang kamu rasakan...?" tanya Yusuf sambil memeriksa detak jantung Amelia


"pusing dok, tanganku sakit" Amelia hendak mengangkat tangan kanannya namun Yusuf menahan karena gadis itu masih lemas


"kamu teman dari Yunita ya...?"


"ah iya, bagaimana dengan Yunita dok. dia baik-baik saja kan, untungnya ada dia yang menggendongku saat saya sudah tidak bisa melanjutkan langkah. bagaimana keadaannya dok" mendengar nama temannya, Amelia baru teringat dengan gadis yang bernama Yunita


"dia baik-baik saja, kondisinya sudah stabil"


"syukurlah... untungnya kami bisa melarikan diri" Amelia bernafas lega mendengar temannya baik-baik saja


"boleh saya bertanya sesuatu kepadamu...?"


"dokter mau bertanya tentang apa yang terjadi kepada kami...?"


Yusuf mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya, sejak pertama mendengar cerita dari Yunita, dirinya memang sudah mulai penasaran namun karena Amelia masih belum sadarkan diri maka ia menunggu gadis itu untuk sadar terlebih dahulu.


"boleh saya minum dulu dok, saya haus"


segera Yusuf mengambil air minum dan membantu Amelia untuk minum.


Amelia menutup mata sejenak, dia mengeluh pusing saat dirinya dibantu Yusuf untuk bangun meminum air minumannya tadi.


"mungkin kamu istrahat saja dulu, ceritanya nanti saja. kamu pusing karena kondisi mu yang belum stabil apalagi kekurangan banyak darah sejak kemarin"


Amelia membuka mata dan menggeleng pelan, ia menahan lengan Yusuf yang hendak akan bangkit dari duduknya.


"yang aku dengar wanita itu menyebut namanya sendiri dengan sebutan Samantha Regina, dia...dia wanita peminum darah wanita yang masih perawan. setelah mengambil darah mereka sebanyak-banyaknya, dia akan membunuh kami. itulah mengapa saya dan Yunita melarikan diri"


"kamu ingat wajahnya seperti apa...?"


"ingat... sangat ingat karena laki-laki itu mempertemukan kami dengan wanita itu sebelum mereka mengambil darah kami"


"lalu apakah kamu tau dimana tempat mereka membawa kalian...?"


Amelia berpikir sejenak, waktu itu adalah malam hari sehingga dirinya tidak begitu ingat dimana keduanya dibawah.


"saya tidak tau dokter karena saat itu malam hari. yang saya tau kami dibawa ke sebuah rumah mewah. ada banyak gadis-gadis seusia kami dan juga ada yang lebih dewasa dari kami. kami di iming-imingi dengan uang yang banyak padahal sebenarnya mau dibunuh"


Yusuf menghela nafas, jika Amelia tidak tau tempatnya dimana maka dirinya akan susah untuk mencari keberadaan mereka.


"baiklah, kamu istrahat saja... sebentar suster akan membawa makanan dan obat untukmu. orang tua Yunita akan datang menemuimu nanti"


"nenek saya tidak diberitahu kan dokter...?"


"tidak, sampai kamu pulih dan pulang ke rumah. sepengatahuan nenekmu, kamu bersama Yunita di rumahnya. setelah kejadian ini maka jangan lagi percaya dengan siapapun, apalagi orang yang baru saja kalian kenal"


"terimakasih dok"


Yusuf mengangguk kemudian beranjak akan keluar. tepat saat dirinya hendak membuka pintu, Amelia mengatakan sesuatu yang membuat dirinya berhenti dan membalikkan badan.


"apa kamu bilang...?" Yusuf kembali mendekati ranjang Amelia


"saya ingat sekarang. danau taman bagian barat, tepat di situ mobil itu berhenti. saya ingat karena saya sempat melihat ke arah taman itu. dan ada banyak orang yang memakai pakaian seperti pakaian ninja dengan pedang tajam. mereka sedang latihan di salah satu ruangan. jika dokter ingin menyelamatkan gadis-gadis itu... pergilah ke tempat itu, di situ ada sebuah rumah yang megah dan besar"


(pakaian ninja, bukankah orang-orang itu yang mengincar Fatahillah dan membunuh paman Imam. apa jangan-jangan mereka orang yang sama) batin Yusuf


"terimakasih Amelia, informasi mu ini sangat membantu saya. saya pergi dulu, beristirahatlah"


Yusuf balik badan keluar dari ruangan itu. ia segera menghubungi Fatahillah namun dirinya lebih dulu membaca pesan dari pemuda itu.


"danau taman bagian barat...? bukankah ini yang baru saja diberitahu oleh Amelia padaku" gumamnya


segera ia menghubungi Fatahillah namun panggilannya tidak diangkat. ia pun menghubungi Fauzan dan ternyata laki-laki itu sudah dalam perjalanan ke tempat tujuan. Yusuf menyambar kunci mobilnya dan berlari tergesa-gesa ke lobi rumah sakit. bahkan dirinya menabrak rekan sesama dokter yang baru saja keluar dari memeriksa pasien.


"dokter Yusuf, kenapa main lari-larian seperti itu...?" dokter Kayana bertanya


"maafkan saya dokter Yana, saya sedang buru-buru" tanpa berhenti dan melihat wanita itu, Yusuf tetap berlari menuju parkiran


"aneh sekali dia" gumam dokter Kayana menatap Yusuf yang sudah menghilang di balik dinding


tujuan Yusuf saat ini bukanlah ke tempat tujuan ketiga temannya melainkan dirinya akan melakukan sesuatu sebelum ke tempat itu.


bahkan waktu sholat isya telah lewat satu jam yang lalu namun baik Fatahillah, Zulaikha dan Najwa belum juga memunculkan diri membuat ibu Fatimah dan ibu Khadijah dilanda rasa cemas.


sudah berkali-kali ibu Fatimah menyuruh Zelina untuk menghubungi suaminya, tapi nomor Fatahillah tetaplah tidak aktif. Zelina pun di selimuti rasa cemas, takut terjadi sesuatu dengan suaminya dan juga dua gadis itu. meski ia tau suaminya memiliki kemampuan tinggi namun tetap saja yang namanya nyawa, tidak ada yang tau kapan akan terlepas dari raga.


Anisa mengelus lembut lengan ibu Fatimah, wanita baya itu tidak tenang bahkan beberapa kali meneguk teh hangat untuk menenangkan perasaannya. tapi tetap saja yang namanya seorang ibu pasti mempunyai ikatan batin dengan sang anak.


Zelina mengalihkan pandangan, ia tidak sanggup membalas tatapan ibu Fatimah. jemarinya terus ia remas di balik hijab panjangnya, sesekali mengatur nafas untuk mencoba bersikap biasa.


"mas Fatah pasti membawa pulang Zulaikha dan Najwa bu, insya Allah mereka baik-baik saja. mungkin saja ban mobil mereka bocor atau ada hal lainnya yang membuat mereka terlambat datang" dengan tenang Zelina menjelaskan


"tapi kenapa bahkan nomor Zulaikha saja tidak bisa di hubungi" ucap ibu Khadijah


"mungkin kehabisan baterai bi, tadi memang Zulaikha sempat mengatakan kalau baterai ponselnya tersisa beberapa persen saja" timpal Akmal


Afkar yang baru saja selesai sholat isya, datang menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk makan malam. meskipun dalam perasaan khawatir, tetap saja tidak boleh mendzolimi diri sendiri dengan tidak memberikan haknya untuk mengisi perut.


"Zelina" Anisa memanggil pelan saat mereka berjalan ke arah meja makan


"kenapa Nis...?" Zelina berhenti


"sebenarnya apa yang terjadi, pasti terjadi sesuatu kan...?"


Zelina menghela nafas sebelum akhirnya ia mengangguk membenarkan prasangka Anisa.


"Zulaikha dan Najwa di culik, sekarang mas Fatah sedang ke tempat mereka di sekap. dia juga meminta bantuan kepada Yusuf dan yang lainnya"


penjelasan Zelina membuat Anisa terkejut. segera ia berlari ke arah kamar yang di tempatinya. Zelina tentu saja bingung, namun ia pun mengikuti langkah Anisa.


"kamu menghubungi siapa Nis...?"


"menghubungi mas Yusuf agar dia meminta bantuan kepada anak buah ayah untuk membantu mereka. aku sudah memberitahu mereka kalau mas Yusuf akan menggantikan ayah sebagai pemimpin perusahaan dan juga bos mereka, sudah pasti mereka akan patuh kepada perintahnya"


Anisa bolak-balik sambil menggigit bibir. tepat setelah panggilannya diangkat, dia langsung menanyakan keberadaan calon suaminya itu.


(kamu dimana mas...?)


(di markas ayahmu sayang)


(jadi kamu sudah disana, aku baru saja akan menyuruhmu untuk menemui mereka)


"kami siap menjalankan perintah bos" ucap seseorang


(apakah itu Yudha mas...?")


(iya. maaf sayang aku harus menutup teleponnya, nanti aku hubungi kamu lagi. assalamualaikum)


(wa alaikumsalam)


"bagaimana Nis...?"


"mas Yusuf sudah dimarkas ayah. harusnya sejak kemarin aku memberitahu anak buah ayah untuk mengawal kita semua. kita doakan mereka baik-baik saja"


"syukurlah semakin banyak yang membantu mereka. kalau begitu kita ke meja makan sekarang, tetap bersikap biasa jangan sampai ibu dan bibi Fatimah curiga"


"iya, ayo"


tepat setelah Fatahillah sampai di tujuannya, Fauzan pun tiba dan juga Hasan. ketiganya keluar dari mobil dan saling mendekati.


"ini tempatnya...?" tanya Fauzan


"iya, hanya di taman ini yang mempunyai danau" jawab Fatahillah


"lalu kenapa sepi seperti ini, tidak ada orang sama sekali" Hasan memperhatikan sekeliling


mereka semakin mengambil langkah ke depan, tepat di depan sana dua orang sedang digantung terbalik sedang dibawah keduanya bambu runcing siap menyambut mereka.


"Zulaikha" Fauzan berlari sayangnya tali yang mengikat tubuh gadis itu sengaja dilepas sehingga Zulaikha meluncur ke bawah


"aaaaaa"


Fauzan membalikkan wajah, dirinya tidak sanggup melihat calon istrinya itu. saat Fatahillah dan Hasan datang, Fatahillah membalikkan tubuh Fauzan dan dapat dilihatnya kalau Zulaikha kembali di tarik ke atas.


Samantha Regina bersama Mbah Ganta maju ke depan. wanita itu menatap tajam ke arah Fatahillah yang membuat dirinya terluka parah. kalau bukan Mbah Ganta mungkin dirinya belum pulih untuk saat ini. sedangkan Wiratama, laki-laki itu kini yang memegang kendali tali yang mengikat tubuh Zulaikha begitu juga dengan Najwa.


"sepertinya saat ini saya tidak akan gagal mencabut nyawamu" ucap Fatahillah dengan dingin


"hahaha" Samantha tertawa "berani melawan maka dua gadis ini akan mati" lanjut Samantha


"apa maumu wanita sialan" teriak Fauzan dengan urat-urat yang sudah menonjol. melihat Zulaikha di siksa membuat dirinya merasa begitu marah


"musti merah" jawab Samantha


"jangan mimpi" ucap Hasan


kembali kali ini Najwa yang dilepas ikatannya, gadis itu histeris dan menutup mata.


"hentikan" teriak Fatahillah, Wiratama menahan tali yang ia pegang dan tersenyum menyeringai "baik, akan aku berikan mustika itu" lanjut Fatahillah


"Fatah" Hasan menggeleng


"bagus, itu keputusan yang sangat bagus" Samantha tersenyum puas


Fatahillah mengambil ponselnya, ada pesan masuk di benda pipih itu. ia melihat ke arah Hasan dan Fauzan, kemudian memberikan kode dengan telunjuknya mengarah ke arah jarum jam 3.


"ekhem" Fauzan merenggangkan otot-ototnya dan melirik ke kanan, senyumannya terbentuk begitu juga dengan Hasan


"cepat keluarkan mustika itu" bentak Samantha


Fatahillah memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya dan ia pun maju satu langkah.


"memohon lah dulu baru aku akan memberikannya padamu" ucap Fatahillah


"BRENGSEK...kamu ingin bermain-main denganku"


"aku sedang tidak mengajakmu bermain, aku hanya memintamu untuk memohon padaku"


"jangan harap Samantha Regina akan bermohon kepadamu manusia sialan" teriak Samantha


(ternyata benar dialah orangnya) batin Yusuf yang memang sudah berada di tempat itu


Yusuf berjalan pelan ke arah Wiratama dan mengunci leher laki-laki itu. seketika tali yang dipegangnya lepas dan Zulaikha maupun Najwa meluncur ke bawah.


"LANGON" teriak Fatahillah


GRAAARR


harimau putih menahan tubuh keduanya menggunakan kekuatannya, saat itu juga Fauzan dan Hasan melesat cepat dan mengangkat keduanya.


"BRENGSEK"


Samantha melesatkan serangan ke arah mereka, Fatahillah melesat cepat dan menangkis serangan itu hingga ledakan terdengar karena dua kekuatan yang saling bertemu.


"bawa mereka ke mobil" ucap Fatahillah


Hasan dan Fauzan menggendong keduanya, sementara Yusuf terlibat pertarungan dengan Wiratama.


"kalian begitu menginginkan mustika mereka kan, maka ambillah ini"


Fatahillah duduk bersila membaca mantra, maka keluarlah mustika merah dengan sinar merah yang menyelimutinya.


senyuman Samantha mengembang melihat mustika itu. segera ia menarik mustika itu dengan kekuatannya. mustika merah melesat ke arahnya dan kini sudah berada di depannya.


"kamu milikku" Samantha semakin tertawa puas


mbah Ganta melihat ke arah Fatahillah yang hanya diam tanpa melakukan perlawanan lagi. ia melihat ke arah rumah, kini anak buah Samantha sedang bertarung dengan anak buah Yusuf. bahkan semua sandera mereka telah dibebaskan oleh Yudha, tangan kanan pak Agung yang kini telah menjadi tangan kanan Yusuf.


"mustika merah, dengarkan aku. aku tuanmu maka kamu harus patuh kepada perintahku" ucap Yusuf dengan lantang


"tidak, mustika mereka kini telah menjadi milikku maka akulah tuannya sekarang" Samantha hendak memegang mustika itu tapi dengan cepat Mbah Gantah menahan tangannya


"jangan, kita dijebak" ucap mbah Ganta


"lepaskan mbah" Samantha menepis kasar tangan mbah Ganta


tanpa disangka mustika merah masuk ke dalam tubuh Samantha. wanita itu tertawa karena kini dirinya merasa telah berhasil menaklukan mustika merah.


"BAKAR" teriak Fatahillah


sayangnya tawa itu berubah menjadi teriakan yang melengking karena mustika merah membakar Samantha Regina dari dalam bahkan kini api yang begitu menyala mulai keluar dan membakar tubuhnya.


"bos" Wiratama hendak menolong namun Yusuf melemparkan pisau ke arahnya. kemudian Langon melompat menerkam Wiratama hingga laki-laki itu tewas


mbah Ganta panik, ia menyerang Fatahillah dan tentu saja Fatahillah meladeninya. karena semakin terdesak, dirinya dikelilingi empat pemuda yang memiliki kemampuan tinggi, mbah Ganta yang sudah kewalahan melawan mereka menghilang begitu saja, ia melarikan diri. sementara Samantha kini telah menjadi mayat karena ketamakannya sendiri.


_______________________________________


catatan :


maafkan kesalahan up kemarin ya, bukan mencari alasan tapi memang efek ngantuk berat. karena pergi mengantar keponakan yang akan ke Jawa, pulangnya malam.


pulang-pulang oleng, sakit kepala pula. maaf yang sebesar-besarnya 🙏🙏🙏, aku juga kaget pas lihat udah up banyak aja padahal cerita yang sama.


maafkan ya semua kakak yang baik 🙏🙏🤗🤗