
seperti yang dikatakan Akmal kepada Nagita, setelah sholat subuh pemuda itu bersama Fatahillah dan tiga orangnya lagi akan mulai melakukan perjalanan ke gunung Gantara. saat ini waktu pagi menjelang tersisa satu jam lagi setelah sholat subuh. kelima pemuda itu, berdiri di depan rumah berpamitan kepada semua orang.
"hati-hati, dimanapun kalian berada jika dalam keadaan terdesak maupun tidak jangan lupa meminta perlindungan kepada Allah" pak Umar memperingati
di bawah lampu yang menerangi halaman depan rumah, kelima pemuda itu mengangguk paham mendengar nasihat dari pak Umar, ibu Rosida dan ibu Afifah.
"kami pamit pak, bu. doakan perjalanan kami baik-baik saja"
"tentu saja, semoga Allah selalu melindungi kalian semua"
satu persatu mereka mencium tangan pak Umar dan dua ibu yang selalu bersama mereka beberapa waktu lalu. Akmal memeluk ibunya dengan erat, mencium kening ibu Afifah dan meminta restu bersimpuh di kakinya. doa ibu adalah doa yang paling dahsyat menembus langit, maka dari itu Akmal meminta keridhoan ibunya untuk dirinya dan juga yang lainnya.
"aku pergi dulu ya" Hasan menatap lembut wajah Hanum yang disinari lampu
"hati-hati, pokoknya kamu harus pulang dalam keadaan baik-baik saja" Hanum sekuat mungkin menahan air mata. dirinya selalu seperti itu jika kekasihnya akan pergi jauh
Hasan mengangguk paham, tidak banyak kata yang ia utarakan. setelahnya, dirinya menyusul yang lainnya yang akan segera masuk ke dalam mobil.
subuh itu, mereka melepas kepergian lima pemuda yang akan ke gunung Gantara, menghadapi musuh yang bisa dibilang begitu licik dan kejam.
mobil hitam yang mereka kendarai, berhenti di dekat gerbang. mereka ingin berpamitan kepada kiayi Anshor dan juga Ali. rupanya pemilik rumah telah menunggu mereka di depan rumah.
"assalamualaikum kiayi"
"wa alaikumsalam"
tanpa basa-basi Fatahillah meminta doa restu untuk pergi ke gunung Gantara. kiayi Anshor dan umi Zainab tentu saja mendoakan mereka. ada Fahmi dan Sarah di tempat itu, tentu saja Nagita tidak ketinggalan. dia ingin melepas kepergian Akmal.
"jaga hati dan mata ya mbak selama aku nggak ada disisi mbak, tapi jangan salah...aku akan selalu ada di hati mbak" ucap Akmal, sengaja keduanya mengambil jarak sedikit jauh untuk berbicara berdua saja. tentunya ada Sarah yang memantau mereka
"kamu juga, sekalian jaga lisan"
"lah...kok jaga lisan"
"ya iya jaga lisan, jangan mengumbar rayuan maut kepada para wanita seperti yang kamu lakukan padaku kemarin-kemarin. nanti kalau mereka baper bagaimana"
"tenang saja, nggak ada wanita lain selain mbak dokter cantik kok di hati aku"
"kalau nggak sibuk, kamu harus menghubungi aku ya"
"iya mbak, insya Allah"
keduanya kembali bergabung bersama yang lain. Akmal berpamitan kepada Ali dan juga Maryam. dengan memeluk Akmal, Ali menasehati keponakannya itu untuk berhati-hati dan bersikap lebih dewasa lagi sebab memang kadang Akmal, diwaktu yang sedang tegang ia masih sempat-sempatnya untuk bergurau.
"insya Allah paman, kalau aku tidak lupa" dengan cengengesan ia memperlihatkan gigi-giginya
"dasar kamu ini" Ali menggeleng kepala, ia kembali memeluk Akmal lagi
selesai berpamitan, semuanya kembali ke mobil dan meninggalkan pesantren. di jalan, Fatahillah menghubungi istrinya. ia ingin memberitahu kalau dirinya akan ke gunung Gantara. dirinya juga ingin berbicara dengan ibunya dan ibu Fatimah, sebab hari ini adalah hari pernikahan Zulaikha dan Anisa. sayangnya dia tidak bisa hadir di acara yang sakral itu.
tiga kali menghubungi Zelina, wanita itu tidak juga mengangkat panggilan. Fatahillah kemudian mengirimkan pesan agar istrinya tau kalau dirinya kini sedang dalam perjalanan bepergian.
"kenapa...?" Hasan bertanya saat ia mendengar Fatahillah menghela nafas panjang
"tidak apa-apa, aku hanya terpikir hari ini adalah hari pernikahan Yusuf dan Fauzan" jawab Fatahillah
"masya Allah, iya ya. sampai lupa kalau memang keduanya akan menikah" ucap Hasan
"wah iya, hari ini mereka akan melepas status duda mereka ya " celetuk Akmal
"kalau Yusuf dengar, digantung kamu Mal" ucap Fatahillah
"hehehe...kan sekarang mas Yusuf nggak dengar"
"kamu ini" Fatahillah geleng kepala
perjalanan kali ini akan terasa jauh dari sebelumnya. sebab gunung Gantara letaknya begitu jauh dari tujuan mereka sebelumnya. Aji Wiguna yang duduk di kabin tengah bersama Alex dan Akmal, ia mengubungi dua anak buahnya yang kemarin ia suruh pergi lebih dulu ke gunung Gantara.
Aji Wiguna
kalian dimana...?
pesuruh
kami sudah di gunung Gantara bos
Aji Wiguna
sudah menyewa rumah kan...?
pesuruh
sudah bos, seperti yang bos minta. kami menyewa rumah seperti yang bos inginkan
Aji Wiguna
bagus, tunggu kami di situ. kirimkan saja alamatnya
pesuruh
baik bos
Aji Wiguna mematikan panggilan, ia memberitahu teman-temannya kalau anak buahnya telah menyediakan rumah untuk mereka tinggali di sana.
"tapi mas Fatah kan akan berpura-pura menjadi Gara, berarti mas Fatah tidak tinggal bersama kita kan ya" ucap Akmal
"kalau Fatahillah keluar, bukankah Gandha akan memburunya karena dia mengira Fatahillah adalah Gara" ucap Alex
"Fatahillah memang harus menunjukkan dirinya kepada Gandha dan semua orang kalau dia kembali dari kota X. Gandha tidak akan berbuat nekad untuk mencelakai Fatahillah karena sekarang di gunung Gantara adalah kawasan kekuasaan Gara Sukandar sebagai penguasa gunung Gantara. ada banyak orang-orang yang akan menjaga Fatahillah sebagai Gara" timpal Aji Wiguna
"benar kata Aji Wiguna, Gandha tidak akan sembarangan untuk mencelakai aku karena tentu saja aku akan dikawal oleh orang-orang yang akan menjagaku" ucap Fatahillah
"berarti kamu akan ke rumah kediaman Gara...?" tanya Hasan
"iya, karena memang disana seharusnya aku berada kan"
"iya juga, memang kamu harus berada di sana" Hasan manggut-manggut
"tapi bagaimana caranya untuk ke rumah Gara, kita kan nggak tau alamatnya" ucap Alex
"akan aku hubungi Samuel dengan ini" Fatahillah memperlihatkan ponsel Gara yang ia ambil. ponsel itu ia ambil saat Gara akan dibawa ke gunung Sangiran oleh guru Halim. satu-satunya cara berkomunikasi dengan Samuel adalah dengan menggunakan ponsel saudara kembarnya itu
semuanya mengangguk tanda mengerti. tidak ada lagi percakapan diantara mereka. sepanjang perjalanan hamparan sawah yang terbentang luas menjadi pemandangan indah yang mereka lihat. bukan hanya itu, bukit yang mereka lewati dibawah sana menampakkan pemandangan yang begitu indah. banyak pedesaan yang mereka lalui dan tanpa terasa waktu dzuhur menghampiri setelah azan siang hari itu terdengar di salah satu pengeras suara yang ada di salah satu masjid pedesaan yang kini tempat mereka berada.
"kita sholat dulu" ucap Fatahillah
"setelah itu cari makan ya mas, aku mulai lapar" imbuh Akmal
"iya, nanti kita cari di sekitar sini"
di lorong sebelah kanan tempat masjid berada. mereka berhenti di depan halaman masjid dan turun dari mobil. beberapa anak kecil berlari beriringan dari jalan lorong menuju ke tangga masjid. anak-anak itu memegang buku iqro di tangan mereka. ada juga anak-anak muda dan orang tua yang datang melaksanakan sholat dzuhur di masjid.
beriringan mereka ke tempat wudhu, dan mengantri berdiri di belakang. sebab kran air yang disediakan hanya dua saja sehingga mereka harus menunggu berapa menit. setelahnya kelimanya masuk ke dalam masjid dimana didalamnya begitu bersih dan juga sejuk. sholat dzuhur empat rakaat segera dilaksanakan. mereka berdiri dibelakang imam yang sudah berumur lanjut namun masih kuat berdiri lama untuk mengimami jamaah sholat waktu itu.
diwaktu rakaat terakhir, hujan turun dengan derasnya. padahal tadi matahari masih nampak menyinari bumi namun sekarang awan hitam menelan cahayanya dan digantikan dengan ribuan air yang jatuh ke bumi.
"masya Allah...malah hujan" gumam Fatahillah
sholat dzuhur telah selesai mereka lakukan, namun karena hujan deras apalagi mobil mereka diparkir sedikit jauh dari tangga masjid sehingga sudah pasti mereka akan basah sampai di mobil.
"apa kita lanjut saja atau bagaimana...?" tanya Hasan
"hujan loh mas" ucap Akmal
"kita tunggu sampai hujan sedikit redah" jawab Fatahillah
sebagian bapak-bapak yang tidak bisa pulang karena hujan, mereka membentuk lingkaran sekedar untuk bercerita. para anak muda juga membentuk lingkaran sendiri, namun mereka bukan bercerita melainkan mengambil Al-Qur'an dan melantunkan ayat-ayat suci itu. sementara anak-anak tadi yang membawa iqro, mulai berkumpul di satu tempat. salah satu anak muda seusia Akmal duduk di depan mereka. anak-anak itu begitu antusias untuk belajar bisa membaca Al-Qur'an.
kelimanya fokus melihat anak-anak yang belajar mengaji itu. setelah mengucapkan salam, menanyakan kabar anak-anak itu, anak muda itu memanggil satu nama. anak laki-laki maju ke depan duduk di depan anak muda itu dan membuka iqro miliknya.
"jadi guru ngaji sepertinya mengasikkan ya. bisa bercanda dengan anak-anak kecil" Hasan tersenyum melihat anak-anak itu
"kamu mau berganti profesi mas...?"
"yaa kalau memungkinkan nggak ada salahnya kan"
diluar petir dan Guntur saling bersatuhan, hawa dingin mulai menjalari seluruh tubuh. pak imam melihat kelimanya, begitu asing nampak dilihatnya. ia kemudian beranjak dan mendekati mereka. ucapan salam keluar dari bibirnya yang keriput. tentu saja kelimanya menjawab salam laki-laki sepuh itu dan menjabat tangan serta menciumnya.
"sepertinya, kalian baru kali ini sholat di masjid ini" pak imam mengeluarkan pertanyaan
"iya pak, kebetulan kami sedang melakukan perjalanan jauh dan tiba di desa ini saat memasuki sholat dzuhur" Aji Wiguna menjawab sopan
"kalau boleh tau memangnya kalian mau kemana...?"
"ke gunung Gantara"
"masya Allah, jauh sekali. pasti kalian mempunyai urusan yang begitu penting sampai harus ke tempat jauh seperti itu"
"luar biasa kalian semua. ditengah melakukan perjalanan jauh, kalian masih ingat untuk beribadah. insya Allah semua urusan kalian akan dipermudah oleh yang Maha Kuasa"
"amiin" mereka mengaminkan ucapan laki-laki sepuh itu
"dari desa ini ke gunung Gantara masih begitu jauh jarak yang harus kalian tempuh. mungkin kalian harus bermalam diperjalanan"
"jauh sekali ya pak" ucap Alex
"dekat kalau kalian naik pesawat saja. kenapa tidak lewat udara saja, meskipun tidak langsung sampai di tempat tujuan dan hanya sampai di kota K namun jaraknya tidak akan terlalu jauh seperti lewat darat yang kalian lakukan ini. tiba di kota K, hanya lima jam perjalanan kalian sudah akan sampai di gunung Gantara"
"kami memang sengaja lewat darat pak, bisa melihat keindahan pemandangan yang tidak pernah kami lihat sebelumnya" ucap Fatahillah
pak imam tersenyum mengangguk kepala kemudian bertanya kembali " kalian dari kota mana...?"
"kami dari kota B" jawab Hasan
"di kota B itu saya mempunyai kenalan, kalau tidak salah dia adalah pemilik salah satu pesantren di kota itu. saya lupa nama pesantrennya" pak imam mencoba mengingat "tapi saya tau namanya" lanjutnya
"memangnya namanya siapa pak, mungkin saja kami kenal" tutur Hasan
"kiyai Anshor, nama istrinya Zainab. istrinya itu adalah teman sekolah dulu"
kelimanya saling pandang, mungkinkah yang dimaksud oleh pak imam adalah kiyai Anshor pemilik pesantren Abdullah.
"kami di kota B tinggal di pesantren Abdullah pak. nama pemiliknya memang kiayi Anshor dan istri beliau bernama umi Zainab" ucap Fatahillah
"ah iya, nama pesantrennya itu adalah pesantren Abdullah. kalau tidak salah, kiayi Anshor mempunyai saudara bernama kiayi Zulkarnain"
"masya Allah.... beliau adalah pemilik pesantren tempat kami tinggal pak" Fatahillah berujar cepat
"betulkah...? lalu bagaimana kabar mereka sekarang, sudah lama sekali kami tidak bertemu" terukir senyum dibibir laki-laki sepuh itu saat ternyata lima anak muda itu mengenal dua orang yang ia maksud
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja pak, anak gadis mereka yang kedua telah menikah dengan ustad di pesantren itu" jawab Aji Wiguna
"putri mereka itu menikah dengan paman saya pak" ucap Akmal
"masya Allah. dulu anak-anaknya itu kalau tidak salah mereka masih duduk di bangku SMA, tidak menyangka sudah ada yang menikah ya"
"berati bapak sudah lama tidak bertemu dengan beliau ya pak" ucap Hasan
"iya, saya sudah tua jadi tidak bisa jalan terlalu jauh lagi. tidak seperti dulu dimana saat masih kuat" dengan senyuman arif, pak imam menjawab
hujan mulai redah, meskipun masih tersisa rintik-rintik namun orang-orang sudah lebih memilih untuk pulang ke rumah mereka. pak imam itu memanggil mereka untuk ke rumahnya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
"terimakasih banyak pak, tapi kami tidak ingin merepotkan" Fatahillah sungkan untuk menerima
"jelas tidak merepotkan. kalau perlu kalian menginap semalam di rumahku. ayo, jangan sungkan dengan saya, saya tidak akan menjual kalian" ucapnya dengan senyum
kelimanya kembali saling pandang dan pada akhirnya mereka mengiyakan ajakan pak imam itu. laki-laki sepuh itu terlihat senang, ia kemudian memanggil anak muda yang mengajari anak-anak tadi mengaji. ternyata anak muda itu adalah anak pak imam itu.
"dia anak saya, namanya Sulaiman" ucap pak imam
Sulaiman tersenyum dan menunduk sopan. mereka kemudian keluar dari masjid untuk menuju ke rumah pak imam. Sulaiman membonceng ayahnya di motor sementara mobil hitam itu mengikuti mereka dari belakang.
di rumah yang jikalau di desa bisa dikatakan mewah, Sulaiman menginjak rem motornya berhenti di halaman rumah itu. Fatahillah yang menyetir, memakirkan mobil di samping motor dan mereka semua turun dari mobil.
"ayo masuk mas, maaf kalau rumahnya sempit" Sulaiman mempersilahkan mereka masuk ke dalam, sementara ayahnya sudah lebih dulu masuk tadi
"sempit apanya Sulaiman...ini mah luas lah" Akmal membantah ucapan anak muda itu
Sulaiman hanya tersenyum kemudian kembali mempersilahkan mereka semua masuk. di ruang tamu yang luas, di sofa yang empuk Sulaiman mempersilahkan mereka untuk duduk. anak muda itu berpamitan ke dalam untuk mengganti pakaiannya.
"sepertinya mereka orang kaya di desa ini, terbukti rumah mereka yang paling besar dari yang lain" bisik Akmal di telinga Alex
"ya terus masalahnya apa anak muda" tanya Alex mengangkat satu alisnya
"nggak ada, aku hanya berbagi ilmu pengetahuan saja"
"ilmu nggak guna" Alex mencebik
tidak lama pak imam tadi datang menghampiri mereka dan menyuruh mereka mengikutinya. di meja makan pak imam membawa mereka dan mempersilahkan mereka duduk. wanita yang juga sudah berumur namun tidak begitu tua, tersenyum hangat menyambut mereka.
"ayo duduklah, jangan sungkan-sungkan. makanlah yang banyak" ucapnya
"masya Allah...kami malah datang merepotkan" ucap Fatahillah
"tentu saja tidak, ayo makanlah. kalian harus mempunyai tenaga untuk melanjutkan perjalanan" ucap pak imam
"terimakasih banyak sebelumnya pak"
semuanya menyendok nasi dan mulai melahap hidangan disiang hari itu. Sulaiman datang ikut bergabung setelah sekian menit dirinya berada di dalam kamar.
selesai makan siang, mereka berbincang di ruang tengah. pada saat itu ponsel Gara yang dipegang oleh Fatahillah, bergetar. nama Samuel tertera dilayar ponsel itu. Fatahillah pun berpamitan untuk mengangkat panggilan. di luar rumah, sembari menghela nafas Fatahillah meyakinkan diri untuk mengangkat telepon dari orang kepercayaan Gara.
"bismillahirrahmanirrahim"
Fatahillah
halo assalamualaikum
Samuel
halo Gara, kamu dimana sekarang. apakah masih di kota X...?
Fatahillah
tidak...aku sedang dalam perjalanan pulang. ada apa menghubungiku...?
Samuel
kamu harus segera pulang secepatnya, di kota ini, ada penyakit yang beberapa hari ini menyebar dan meresahkan semua orang. penyakit itu menjangkit siapa saja dan bahkan sudah puluhan dari rakyat kamu yang meninggal
Fatahillah
penyakit...? penyakit semacam apa...?
Samuel
aku tidak tau menjelaskannya seperti apa. memangnya sekarang kamu masih dimana, perlu aku jemput...?
Fatahillah
tidak usah, akan aku usahakan datang secepat mungkin. bagaimana dengan keluargaku...?
Samuel
di kota yang kita tinggali masih aman untuk sekarang namun tidak tau kedepannya sebab sekarang ini penyakit itu sudah mulai tersebar dibeberapa wilayah. jika sudah mendesak maka kami akan melakukan pemblokiran wilayah
Fatahillah
sebelum mengambil keputusan itu, tunggu aku sampai aku datang. kamu mengerti Samuel
Samuel
oke, aku mengerti. tapi ada yang harus kamu tau
Fatahillah
ada apa, kamu menyembunyikan sesuatu dariku...?
Samuel
Genta sekarang ini sedang mengikuti perkemahan di wilayah C, disana sudah banyak orang yang terkena penyakit itu. sampai sekarangpun aku belum bisa menghubunginya
Fatahillah
kenapa bisa sampai dia kesana, apa kamu tidak melarangnya
Samuel
kemarin wilayah itu masih masuk zona aman namun sekarang ada pemberitahuan lagi kalau wilayah itu akan masuk zona berbahaya
Fatahillah mulai teringat dengan wajah Gara dimana adiknya itu tersenyum saat menceritakan sosok Genta, adik satu-satunya yang Gara punya. dengan menghela nafas panjang, Fatahillah meraup wajahnya dengan kasar.
Fatahillah
biar aku yang menjemputnya disana, tugasmu sekarang adalah memantau semua perkembangan dan menghadang setiap orang yang akan keluar dari kota mereka. ingat, jangan biarkan siapapun keluar kota kalau bukan hal yang penting
Samuel
baik
dengan tergesa-gesa Fatahillah masuk ke dalam dan memberitahu semua orang kalau mereka harus melanjutkan perjalanan. pak imam pun tidak menahan mereka. setelah berpamitan, mobil itu meninggalkan kediaman pak imam dan melaju kencang menyusuri jalan raya.