
"dimana Gandha palsu itu...?" Akmal berbisik di telinga Alex.
Selain mereka berdua dan juga Utami, tiga orang laki-laki sedang melakukan tugas mereka sementara Alex dan Akmal hanya memantau saja.
dan Utami...?
Wanita itu menulis setiap isi di dalam koper, akan menjadi catatan dan akan diperlihatkan kepada Gandha Sukandar palsu.
Setiap koper berisi lebih dari seratus bungkus serbuk barang haram yang diisi di dalam plastik. Lebih dari sepuluh koper, barang-barang itu akan di kirim ke wilayah S dan selanjutnya akan diantarkan kepada mereka yang memesan.
"kapan semua ini akan dikirim...?" tanya Alex.
"setelah selesai, maka akan langsung dikirim" Utami menjawab.
"berarti kamu yang akan turun tangan langsung, sebab kemarin kamu kan yang mengirim barang-barang ini"
"tidak, bukan aku tapi mereka" Utami menunjuk tiga orang yang sedang bersama mereka. "semua barang ini akan di kirim ke luar kota. Sebenarnya memang aku yang akan turun langsung, namun bos Gandha memilih mereka bertiga" Utami memeriksa setiap koper.
"pekerjaan ini sebenarnya adalah pekerjaan kalian. Victor yang selalu melakukan hal ini, ketika pengepakan selesai maka dia sendiri yang akan datang menjemput barang-barang ini dan membawanya ke wilayah S kemudian nyuruh anak buahnya untuk mengirim kepada si pembeli"
"lalu kenapa bukan kami yang disuruh oleh si bos...?" tanya Akmal.
"karena kalian harus melakukan sesuatu untuknya" Utami menatap keduanya, namun Akmal langsung tidak mau membalas tatapan wanita itu. Baginya, orang seperti Utami harus ia jauhi. menyesal kemarin-kemarin dirinya berencana mendekati wanita itu untuk mendapatkan informasi tentang Victor. Ternyata kelakuannya tidak secantik wajahnya.
"berarti akan kembali lagi ke villa ya" ucap Alex.
"tidak, akan dijemput menggunakan helikopter"
"memangnya di sini ada tempat pendaratannya...?" Alex penasaran, sebab di tempat mereka sekarang adalah hutan. Bagaimana bisa helikopter akan mendarat di pulau itu.
"tentu saja ada, tidak ada yang tidak bisa kalau bos Gandha turun tangan"
"kenapa tidak melalui jalur laut saja...?" Akmal mengamati setiap pergerakan tiga orang itu.
"orang yang memesan ingin segera dikirimkan, makanya itu lewat jalur udara pengantaran akan lebih cepat dan bos berpesan kalian yang akan membawa barang ini ke tempat pendaratan helikopter"
"tidak masalah" Alex sama sekali tidak keberatan. "sudah siap semua kan...?"
"sudah pak, semuanya sudah siap untuk dikirim" jawab salah seorang laki-laki itu.
"akan aku hubungi Zafir untuk datang menjemputnya" Utami bergegas keluar dari pondok itu.
menjelang sholat dzuhur, Alex dan Akmal mencari tempat untuk berwudhu dan juga untuk sholat. Meskipun berada di ladang tempat haram, mereka tetap harus melaksanakan kewajiban. Karena di pondok itu tidak memungkinkan untuk sholat, maka keduanya berniat ke rumah besar tadi. Di sana lebih leluasa mereka melakukan apapun.
Mereka berpapasan dengan beberapa orang, orang-orang itu menunduk tanda menghormati sampai keduanya lewat. Akmal geleng kepala, sampai segitunya pengaruh tangan kanan Gandha Sukandar, disegani semua anak buahnya.
"sepertinya mas Victor juga akan diperlakukan seperti ini" gumam Akmal.
"kamu bilang apa...?" Alex bertanya namun tidak menoleh, karena ia mendengar Akmal seperti mengatakan sesuatu namun tidak jelas terdengar di telinganya.
"mas Alex ganteng" jawab Akmal.
Alex memutar bola mata sementara Akmal hanya tersenyum.
Sambil terus berjalan, tentu saja mereka harus melewati tongkrongan para wanita tadi. Akmal sebenarnya malas untuk melewati tempat itu, terlebih lagi pakaian para wanita itu yang sangat kekurangan bahan, akan tetapi karena tidak ada jalan lain selain di tempat itu maka dengan terpaksa harus mengikuti langkah kaki Alex.
Tadinya suara mereka begitu riuh, namun saat melihat kedatangan dua pemuda itu, mereka semua diam tanpa suara. Akmal mengangkat alisnya, sebegitu besar pengaruh mereka sehingga ketika keduanya lewat mampu membumkam mulut semua orang.
Akmal tanpa di suruh langsung merem kedua kakinya tepat di tongkrongan para wanita canti nan seksi. hal itu membuat Alex berhenti dan mengernyitkan keningnya.
"kenapa berhenti...?"
"aku ingin menyapa calon kakak ipar ku kembali" kedua mata Akmal langsung mengunci targetnya.
Sofia tergagap dan kikuk, sikapnya terhadap Akmal tadi membuatnya begitu malu. Sementara wanita yang duduk di sampingnya, menyenggol bahu Sofia dan tersenyum menggodanya.
"kakak ipar tidak sholat...?"
"hah...?"
Pertanyaan itu membuat kedua mata Sofia membulat dengan mulut terbuka, shock mendengar pertanyaan pemuda yang kini terus melihat ke arahnya. Sementara para wanita itu, ada yang tersenyum canggung dan menggaruk leher bagian belakang.
Sholat...?
Sungguh lelucon apa yang dibawa oleh Akmal, ataukah itu bukan lelucon melainkan sesuatu yang mengusik mereka. Bagaimana bisa mereka sholat sementara pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang kotor, itulah yang mereka pikirkan.
"kurang keraskah suaraku...? Aku bertanya apakah kakak ipar tidak sholat, karena sekarang ini sudah masuk sholat dzuhur. Meskipun tidak ada suara adzan namun kakak ipar pasti mengetahui setiap waktu sholat kan...?"
"emmm itu..."
"Mal"
"mas, aku tidak setuju kamu bersama dia. putuskan saja" Akmal langsung mengambil keputusan.
"a-aku sholat kok, iya aku sholat. Aku hanya menunggu sebentar lagi" Sofia yang tidak ingin dijauhi oleh Alex karena Akmal, seketika bersuara dan langsung berdiri.
"baguslah, wanita yang harus bersama kakak aku, harus wanita yang tau kewajibannya sebagai seorang hamba. Dan satu lagi, buang semua baju yang kurang bahan itu. Heran banget aku, ngapain coba ada perusahaan yang membuat produksi baju seperti ini. Mending dijadikan lap sama ibu di rumah, lebih berguna" Akmal mengomel seperti emak-emak.
"tapi...."
"mau dapat restu dari aku nggak...? Kalau nggak mau ya sudah, jangan pernah temui kakak aku lagi. Ayo mas, pokoknya mas nggak boleh bertemu dengan wanita ini lagi" tanpa aba-aba, Alex langsung ditarik oleh Akmal menjauh dari tempat itu.
Semua wanita itu melongo bagai orang bodoh, baru kali ada pemuda yang mengomel dimana mulutnya seperti perempuan.
"Sofia... sepertinya kamu akan jadi ustadzah nantinya" ucap salah satu
"sholat...? Aku bahkan lupa bagaimana cara berwudhu" wanita yang lain menggaruk kepala.
"lah parah juga kau daripada aku. Setidaknya aku masih tau bagaimana caranya berwudhu dan juga doanya" timpal yang lain.
"jadi kita sholat nih...?"
"lah ngapain, kan di suruh cuma Sofia. Udah sana Sof, daripada putus sama pacar baru mending sholat gih. Kalau kamu putus sama pak Alex, sudah pasti si perut buncit yang mesum itu akan kembali mengejarmu. Kamu nggak mau kan...?"
"hiiiiiii amit-amit deh. Iya deh iya" Sofia langsung ngacir kabur dari tempat tongkrongan dan berlari menuju ke arah Alex juga Akmal.
"mas...mas Alex" panggil Sofia.
Langkah keduanya terhenti bersamaan dengan kedatangan Sofia. Akmal menajamkan kedua matanya, sementara Sofia menelan ludah dengan susah. Bajunya yang ketat di atas lutut, ia berusaha tarik ke bawah.
"ada apa...?" tanya Alex.
"emmm aku...aku"
"bicara yang jelaslah, aku aku apa. Macam gagap saja kau ini" Akmal geregetan.
"emmm itu...aku...mau ikut sholat" Sofia menggigit bibir dan menunduk, apalagi Alex yang menatapnya lekat membuatnya gugup dan canggung.
"hihihi, akhirnya aku berhasil berkat drama yang aku buat mas. Setidaknya meskipun sudah terbuka segelnya, mas masih bisa membimbing dia ke arah yang lebih baik lagi. Hebat kan aku" Akmal berbisik di telinga Alex dan mengedipkan mata.
Alex memutar bola matanya. Sebenarnya meskipun Sofia sholat atau tidak, Alex tidak pusing dengan hal itu karena hubungan mereka hanyalah hubungan pura-pura. Hanya demi menyelamatkan Sofia dan juga demi ruang rahasia yang akan mereka cari, Alex menerima tawaran Sofia.
"kamu punya mukenah...?" tanya Alex.
"tidak" Sofia menggeleng.
"pakai sprai atau apa saja yang bisa menutupi tubuhmu" Alex memutar tubuhnya hendak pergi, namun saat itu dirinya menabrak seseorang yang sedang membawa nampan minuman.
"maaf pak" laki-laki itu memperbaiki topinya dan menundukkan kepala.
ketika itu, Gandha Sukandar palsu baru saja datang bersama salah seorang anak buahnya. Melihat mereka berkumpul di depan rumah itu, Gandha Sukandar palsu menghampiri mereka.
"kenapa Alex...?"
kedatangan Gandha Sukandar palsu membuat laki-laki itu terbatuk-batuk dan semakin menundukkan kepala. Hal itu membuat Alex penasaran begitu juga Gandha Sukandar.
"kamu siapa...?" tanya Gandha
"saya pekerja baru pak, baru saja datang"
"pekerja baru...? lalu kenapa tidak kamu perlihatkan wajahmu"
"maaf pak, wajah saya terlihat mengerikan jadi saya menutupnya agar tidak membuat semua orang jijik kepadaku"
"angkat kepalamu, saya ingin melihat wajahmu" desak Gandha.
tidak ada pilihan lain, laki-laki itu akhirnya mengangkat kepalanya sehingga terlihat lah wajah yang mengelupas, sepertinya terkena siraman air panas dan juga ada tompel di pipi kanannya.
Ketika itu Alex terus memperhatikan laki-laki itu, hingga mereka bertemu tatap dan laki-laki itu mengedipkan mata satu kali sedikit lama.
"biarkan saja bos, tadi sebenarnya aku yang salah karena tidak hati-hati. Kamu boleh pergi" Alex langsung mengusir laki-laki itu.
"ya sudah, lain kali kerja yang baik. Sana pergi" ucap Gandha.
"baik pak, permisi" laki-laki itu melangkah menjauh.
"kalian mau kemana...?" Gandha Sukandar kini mengalihkan pandangan ke tiga orang yang berada di depannya.
"mau sholat bos, bolehkan kami numpang sholat di rumah ini" Akmal yang menjawab.
Alex melirik Sofia, tangan wanita itu ia remas. Bisa dilihat kalau Sofia sekarang dalam keadaan gugup dan canggung.
"mulai sekarang dia tidak akan melayani siapapun selain saya bos. Sofia adalah calon istriku, jadi tidak ada salahnya kan aku menyuruh dia untuk berubah demi aku. Maksud aku, bukan demi diriku namun untuk dirinya sendiri" Alex menarik tangan Sofia dan menggenggamnya. Sementara Akmal, pemuda itu memicingkan mata, ke arah tangan yang saling menggenggam erat.
"sejak kapan pula mas Alex jadi bucin" batin Akmal.
"oh, terserah padamu kalau begitu. jangan lupa, setelah sholat maka kalian berdua harus membawa semua barang-barang kita di tempat pendaratan helikopter"
"siap bos"
"ya sudah, masuklah saya mempunyai urusan yang lain. Ayo Guntur"
"siap pak"
Laki-laki yang bernama Guntur itu ikut melangkah mengikuti Gandha Sukandar palsu, sementara Alex kini memutar tubuhnya mencari keberadaan laki-laki yang ia tabrak tadi.
"cari siapa mas...?" Akmal ikut celingukan.
karena tidak ingin di dengar oleh Sofia, Alex mendekatkan bibirnya di telinga Akmal dan mengatakan sesuatu.
"masa iya...? Kok nggak mirip ya" Akmal menggaruk kepala.
"baguslah kalau nggak mirip, itu yang diharapkan. Ayo masuk" ajak Alex.
_____
sesuai perintah bos besar, koper berisi narkoba telah siap diangkut. Tinggal menunggu kedatangan Zafir yang akan datang dengan helikopter. Di air terjun yang begitu indah, di sekitar tempat itu adalah digunakan sebagai pendaratan helikopter karena ditempat itu mempunyai satu tempat yang luas dan tidak dihalangi oleh pepohonan.
Lima orang menunggu kedatangan kendaraan udara itu. Sambil menunggu, Alex juga Akmal mendekati air terjun yang jauh beberapa meter dari tempat pendaratan.
"andai tempat ini berada di wilayah tertentu yang ada di kota, sudah pasti akan menjadi tempat wisata banyak orang" Akmal kagum dengan keindahan pulau bambu itu. Di kelilingi laut dan ternyata di dalamnya menyembunyikan keindahan alam yang luar biasa.
Suara kendaraan udara yang mereka tunggu-tunggu mulai terdengar. semakin dekat dan berhenti di satu titik, turun perlahan-lahan.
Alex juga Akmal mendekat, kemudian mengangkat satu persatu koper-koper itu dan menaikkan ke dalam helikopter.
"sudah semua kan...?" tanya Alex.
"sudah pak" jawab salah seorang.
"hati-hati" Alex menepuk pelan bahu laki-laki itu.
Ketiganya naik dan mengambil tempat, Zafir melambaikan tangan di tempat duduknya. Kemudian ia mulai menggerakkan kembali benda itu, perlahan-lahan naik ke atas dan terbang meninggalkan air terjun.
"kita pulang" ucap Alex.
"mas sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan"
"tentang apa...?"
Air terjun itu tidak begitu jauh dari perkebunan ganja. Mungkin di situlah tempat para pekerja Gandha Sukandar, mandi dan membersihkan diri.
"mas yakin kalau Sofia tau tempat rahasia itu...?"
"kenapa memangnya...? Kamu meragukannya...?"
"bukan begitu sih, hanya saja jangan sampai..."
"eh tunggu Mal" Alex menghadang Akmal dengan cara mengulurkan tangannya.
"kenapa mas...?"
Alex berjongkok dan memegang tanah, karena penasaran, Akmal pun melakukan hal yang sama.
"kalau dilihat-lihat ini seperti jejak kaki" ucap Alex.
"iya ya...ini sih jejak kaki yang masih baru dan arahnya sepertinya.....ke sana" Akmal menunjuk ke arah kiri. "arah air terjun kan ke kanan, ini kok malah ke kiri"
"yang menemani kita membawa koper-koper itu sudah pulang sebelum Zafir datang, apa mungkin mereka yang ke arah sana. Kan nggak ada orang lain selain kita tadi di sini" ucap Akmal lagi.
"Maswan, Bayu, Faiz dan Reza. Kalau kita kembali dan tidak menemukan mereka, mungkin memang benar mereka yang ke arah sana. tapi kalau mereka ada di tempat, itu berarti orang lain yang memiliki jejak kaki ini. Pertanyaannya, ada apa di arah barat itu sampai ada jejak kaki seperti ini. kalau dilihat-lihat di sana hanyalah hutan"
"mungkin saja ada air terjun yang lain, kita kan belum tau"
"bagaimana kalau kita periksa"
"tapi bos Gandha menunggu kita mas, mungkin nanti saja kita datang lagi"
"kamu lupa ya, bos kan sedang pergi bersama Guntur"
"eh iya juga ya" Akmal baru saja ingat. "jadi...kita periksa nih...? Nanti kalau ada binatang buas bagaimana mas...?"
"ya sudahlah.... lebih baik kita kembali dan menemui Sofia" Alex mengurungkan niatnya.
"cieee... yang udah kangen sama calon istri" Akmal memukul manja lengan Alex.
"kenapa jadi kemayu begitu kamu...?" Alex mengernyit.
"mas benaran udah ikhlas lahir batin menerima Sofia...? Nggak mau menimbang-nimbang dulu gitu, masih ada yang berharap loh mas"
"siapa...?" Alex bertanya sambil mengayunkan langkah.
"si Jeni lah, siapa lagi" Akmal berjalan di samping Alex.
"aku kan sudah beritahu apa alasannya sampai menerima Sofia. Lagipula itu hanya pura-pura, nggak usah kebanyakan drama lah Mal"
"berawal dari pura-pura berakhir dengan kura-kura"
"ngomong apa sih kamu, nggak nyambung...bikin bingung... nggak jelas"
"lah mas saja kebingungan, apalagi aku"
Akmal tertawa, menertawakan dirinya yang berbicara tidak karuan. Sementara Alex, menggeleng kepala dan memukul lengan pemuda itu.
_____
"Sofia, pacar kamu mencarimu"
"dimana...?" Sofia yang sedang duduk santai mendongakkan kepala.
"di luar"
Sofia menyimpan gelas teh hangat yang ia pegang. Ia keluar untuk menemui Alex, pemuda itu menunggu dirinya di luar sambil bersandar di dinding pondok.
"mas"
"ikut aku"
Alex langsung memegang tangan Sofia dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Keduanya berjalan ke tempat sepi dan di sana sudah ada Akmal juga Fatahillah yang menunggu mereka.
"loh...pak Gara" Sofia kaget melihat Fatahillah.
"sssttt... jangan keras-keras" ucap Alex.
"maaf" Sofia mengangguk.
pertemuan itu adalah pertemuan rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahui. Tentu saja harus rahasia, jika diketahui oleh musuh sudah pasti mereka akan langsung di serang.
"Sofia...kamu benar-benar tau kan tempat rahasia yang kamu maksud...?" tanya Fatahillah
"tau pak, meskipun gelap namun aku tau karena kami menggunakan penerangan. Tempatnya sama dengan jalan menuju ke air terjun di belakang perkebunan ini" jawab Sofia.
"tapi di sana kan hanya ada air terjun tidak ada tempat yang lainnya" ucap Akmal.
"ya namanya juga rahasia mas, lagipula jalannya nanti akan berlawanan arah dengan jalan ke air terjun jika kita sudah mendekati air terjun itu" ucap Sofia.
"jangan-jangan, tempatnya sudah di tempat kita menemukan jejak kaki itu mas" Akmal menatap Alex.
"aku yakin iya. Karena Maswan, Bayu, Faiz dan Reza, saat kita pulang dari air terjun, mereka sedang berkumpul dengan anak buah Gandha Sukandar yang lainnya" timpal Alex.
"kalau begitu tengah malam nanti kita ke sana" ucap Fatahillah.
"kenapa tidak sekarang saja...?" Sofia bingung, kenapa harus menunggu larut malam.
"tidak bisa, ini misi rahasia. Ingat kakak ipar, kamu tidak boleh menceritakan rencana kita ini kepada siapapun atau kakakku akan meninggalkan dirimu. Biar Nangis-nangis kejang-kejang lah kamu" Akmal mengancam namun itu terdengar lucu di telinga Fatahillah juga Alex.
Alex menahan tawa, sementara Fatahillah mencubit perut pemuda itu.
"his, iya iya....aku akan tutup mulut rapat-rapat" cebik Sofia.
"good girl" Alex refleks mengelus kepala Sofia, wanita itu berdebar-debar tidak karuan jika diperlakukan seperti itu oleh Alex.
"sekarang kembalilah, kita bertemu di tempat ini lagi jam 12 malam nanti" ucap Fatahillah.
"ayo" Alex mengajak Sofia, ia harus mengantarkan kembali Sofia ke pondoknya dengan begitu tidak akan ada yang curiga terhadap mereka berdua.