
Sore itu Samuel tengah berada di mejanya. sudah terbiasa baginya mengurus pekerjaan Gara saat laki-laki itu mempunyai urusan di luar kantor. Sebagai asisten pribadi, Samuel melakukan tugasnya dengan sangat baik selama beberapa tahun, bahkan tahun-tahun yang lalu.
ting...
Saat itu satu pesan masuk di ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Dirinya masih fokus melihat ke arah laptop hingga kemudian satu pesan masuk lagi dan akhirnya ia pun mengambil ponsel itu.
Najihan : pak Henry sudah bisa pulang sekarang, apakah mau kamu jemput...?
Samuel : iya, saya akan menjemputnya sekarang.
Samuel membalas pesan Najihan setelah itu dirinya melihat pesan yang dikirim oleh nomor baru. kening Samuel mengerut, pesan itu menanyakan keberadaan dirinya karena sang pengirim ingin bertemu dengannya.
"siapa nih"
08xxxx : kamu dimana, kita harus bertemu.
Samuel menghubungi nomor itu namun karena seseorang datang menghampirinya, ia pun mematikan panggilan itu.
"ada apa...?" tanya Samuel kepada seorang wanita yang berdiri berjarak selangkah darinya
"ibu Naomi ada di depan, dia ingin bertemu pak Gara namun saya mengatakan pak Gara sedang tidak ada"
"Naomi...? Kamu tidak salah...? Samuel bertanya sebab wanita itu harusnya berada di wilayah D, namun sekarang dia malah berada di wilayah S sekarang.
"benar pak, Naomi Azira"
"baiklah, katakan padanya dia menungguku saja di sana"
"baik pak"
Wanita itu memutar badan meninggalkan meja Samuel. Sementara itu, Samuel mengambil ponselnya dan memasukkan ke dalam kantung jasnya. Ia pun mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam laci kemudian menguncinya. Langkah kakinya dipercepat karena ingin segera bertemu wanita yang sedang menunggunya di depan.
"Naomi" panggil Samuel
Naomi yang duduk di sofa tempatnya menunggu, tersenyum melihat kedatangan Samuel.
"Hai Sam" sapanya ramah.
Samuel semakin bingung sebab biasanya Naomi akan bersikap dingin dan jutek apalagi kepada dirinya dan Gara. Namun sekarang, wanita cantik itu malah terlihat akrab dan bersikap tidak dari biasanya.
"bukannya kamu ada di wilayah D, kapan kamu kembali...?" Samuel mengambil tempat di samping Naomi.
"tadi pagi. Sebenarnya aku ingin datang tadi siang namun aku harus mengurus sesuatu makanya aku datang sore ini. Apa aku mengganggumu...?"
"tidak, aku juga sudah harus pulang karena akan ke rumah sakit untuk menjemput pak Henry"
"laki-laki itu di rumah sakit...?" Naomi terkejut.
"iya, hampir mati kalau bukan Gara yang menyelamatkannya. oh iya, bukannya kamu datang untuk bertemu dengan Gara ya. Maaf sekali, dia tidak ada di sini untuk beberapa hari ke depan. Kamu tau kan masalah yang sedang dia hadapi, dirinya harus menyelesaikan secepatnya"
"sudah ku duga pasti dia tidak akan ada"
"lalu kalau kamu sudah tau, kenapa masih mencoba datang...?"
"ada yang salah kalau aku datang meskipun Gara tidak ada...?" Naomi mengangkat satu alisnya.
"bukan seperti itu, hanya saja maksudku...."
drrrttt... drrrttt
"maaf" Samuel memotong ucapannya dan meminta maaf sambil merogoh ponselnya.
"tidak masalah" Naomi santai dan tersenyum.
"bukankah nomor ini yang mengirimkan aku pesan tadi. Siapa sebenarnya dia" batin Samuel, dirinya masih terus memandangi nomor itu.
"kenapa tidak diangkat...?"
Samuel menatap Naomi beberapa detik, kemudian ia menekan tombol hijau sehingga panggilan itu tersambung.
[halo]
[Samuel]
Diam beberapa saat, Samuel menatap Naomi dengan tatapan lekat. Wanita itu membalas tatapan Samuel dan mengernyitkan keningnya. Naomi berpikir, Samuel sedang dilanda masalah sekarang.
[siapa ini...?]
[Victor]
Deg
Seketika Samuel berdiri bahkan Naomi pun terkejut dengan gerakan refleks Samuel. Wanita itu ikut berdiri dan menampakkan wajah khawatir.
[Victor...] Samuel menyebut nama itu.
mendengar nama yang disebutkan oleh Samuel, Naomi membulatkan mata lebar. bibirnya terbuka dan wajahnya memperlihatkan ekspresi keterkejutan sama dengan Samuel.
"Mbah"
Tuuuuuut
Saat terdengar suara seseorang diseberang sana, panggilan itu terputus.
[halo...halo]
"ah sial, malah mati"
"tadi benaran Victor...?" tanya Naomi.
"entahlah, mungkin saja itu orang yang iseng. Victor kan belum ditemukan sampai sekarang. Ada yang mengatakan kalau dia telah mati dibunuh oleh...."
"Gandha Sukandar maksudmu...?" Naomi langsung memotong ucapan Samuel.
"kabarnya memang seperti itu kan. Tapi ada juga yang mengatakan kalau dia hilang begitu saja tanpa jejak. entah mana yang benar aku juga tidak tau"
"bagaimana kalau yang menelpon tadi benar-benar adalah Victor. Bagaimana kalau sebenarnya dia masih hidup"
"apa itu mungkin...?" Samuel begitu ragu.
"tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Sam. Sama seperti kekasihmu yang...emm dia..."
"kenapa dengan Diandra...? Oh iya, dia masih di wilayah D kan...?"
"kamu tidak mengetahui keberadaan kekasihmu sendiri...?" Naomi mengangkat satu alisnya.
"aku hanya bertanya saja, sebab..." Samuel memikirkan apa yang pernah ia lihat tadi pagi.
Naomi menghela nafas, ia pun menggigit bibirnya kemudian memberikan satu amplop putih kepada Samuel.
"apa ini...?" Samuel memperhatikan amplop itu.
"jangan tanyakan bagaimana aku bisa mengambilnya, tapi tanyakan kenapa dan bagaimana bisa mereka melakukan itu padamu. Jika kamu beranggapan kalau itu hanyalah kamuflase yang aku lakukan, kamu salah besar. Sebab sudah sejak lama aku mengambil gambar itu"
Samuel yang begitu penasaran, ia pun duduk kembali begitu juga Naomi. Amplop itu di bukannya dan mengambil isinya. Saat melihat benda apa yang diberikan Naomi padanya, Samuel melebarkan mata dengan wajah yang menahan amarah.
"APA-APAAN INI"
suara Samuel mengagetkan karyawan yang ada di sekitar itu. baru kali ini mereka melihat Samuel menampakkan kemarahannya yang selama ini mereka anggap dia adalah laki-laki yang begitu baik sama seperti bos besar mereka, Gara Sukandar.
"Sam, kamu mengagetkan semua orang" Naomi melihat sekitar mereka. namun saat Samuel yang melihat mereka, semua orang refleks bekerja kembali.
"darimana kamu mendapatkan semua ini...? Maksudku.... bagaimana mereka bisa...." Samuel sama sekali tidak menyangka, apa yang dilihatnya sungguh membuat dirinya hancur.
"itu yang harus kamu cari tau sendiri. Maaf, bukannya aku ingin memunculkan masalah, hanya saja hal ini sudah seharusnya kamu tau"
"brengsek..." Samuel mengumpat dengan wajah mulai memerah.
Drrrttt... drrrttt
[halo]
[maaf, aku akan segera ke sana]
"dari siapa...?" Naomi bertanya setelah Samuel mematikan panggilan.
"dokter Najihan, aku harus ke rumah sakit sekarang"
"boleh aku ikut, aku ingin menjenguk pak Henry juga"
"baiklah, kamu membawa mobil...?"
"tidak...aku naik taksi datang ke sini"
"kalau begitu ikut denganku saja"
Naomi mengangguk dan tersenyum. Amplop yang dipegang oleh Samuel, ia masukkan ke dalam kantung jasnya. Keduanya berdiri dan melangkah ke lobby hotel.
sambil menyetir, Samuel menghubungi seseorang. Beberapa kali masuk namun tidak diangkat. Hal itu semakin membuat Samuel jengkel dan tanpa sadar memukul setir mobil membuat Naomi kaget.
"astaga...maaf Na, aku... terlalu emosi sekarang ini"
"aku tau, tapi coba pahami kita dimana sekarang ini. Kalau kamu tidak konsentrasi, bisa-bisa kita menabrak pengendara la..."
ciiiiit...
"ASTAGA SAMUEL"
Belum sampai akhir apa yang ingin diucapkan oleh Naomi, Samuel menginjak rem secara mendadak sehingga ban mobil itu berderit. Naomi bahkan terjungkal ke depan. Untung saja saat itu Samuel memberikan gerakan refleks menghalangi kepala wanita itu sehingga tidak terjadi benturan keras.
"kamu tidak apa-apa...?" Samuel melihat Naomi memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.
"kamu ingin membunuhku ya Sam" dengan bersungut-sungut, Naomi menghirup udara sebanyak-banyaknya. ia bagai sesak nafas saat itu.
"maaf, tapi ini urgent"
Samuel buru-buru melepaskan sabuk pengaman yang menempel di tubuhnya. Laki-laki itu berlari ke arah sebrang jalan sambil tangan kanannya terulur ke samping meminta agar pengendara lain tidak menabraknya.
Naomi akhirnya ikut turun dan melihat ke arah sebrang. Kini dirinya tau kenapa sampai Samuel melakukan hal semacam tadi.
"DIANDRA"
Satu panggilan yang keluar dari mulutnya dengan nafas memburu, Samuel memanggil lantang nama wanita yang menjadi kekasihnya.
Diandra memutar tubuhnya dan begitu terkejut melihat Samuel berada di tempat itu. Bahkan saat ini, tangan indahnya melingkar cantik di lengan seseorang. Sementara satu laki-laki yang bersama mereka, hanya memasang ekspresi datar sambil menikmati minumnya.
Langkah Samuel kian mendekat. Kedua tangannya mengepal erat begitu tidak dapat lagi menguasai dirinya. Tepat dirinya tiba di tempat itu, Samuel tersenyum menyeringai dan
bughhh....
Satu pukulan keras mendarat di wajah laki-laki yang diapit mesra oleh Diandra. Hingga sampai laki-laki itu tersungkur menabrak kursi yang ada di belakangnya. karena tempat mereka sekarang ini ada di sebuah kafe yang memiliki tempat duduk di luar ruangan, berada di pinggir jalan.
"bangsat lu, benar-benar manusia bermuka dua" Samuel kembali hendak menendang namun seketika Diandra memeluk tubuhnya agar menghentikan aksinya.
"yang...aku bisa jelaskan, kamu jangan ngamuk dulu"
Samuel berhenti saat itu juga, amarah yang kian telah menyelimuti dirinya membuat tubuhnya seakan panas. ia pun mengambil amplop yang ada di balik jasnya, berbalik menghadap ke arah Diandra yang menatapnya dengan mata memohon. Sementara laki-laki yang dirinya pukul, bangun dan mengusap bibirnya yang berdarah.
Satu orang laki-laki lagi yang bersama Diandra juga kekasih gelap Diandra, laki-laki itu tidak peduli sedikitpun dengan drama yang ada di depan matanya. Dirinya fokus meminum kopinya dan menikmati kue basah yang ada di atas meja.
"apa yang perlu kamu jelaskan jika semua bukti sudah berbicara" Samuel melemparkan lembaran foto yang Naomi berikan padanya tadi.
Saat itu juga Diandra terkejut melihat foto dirinya juga laki-laki itu yang terlihat mesra bahkan saling bergandengan tangan.
"tidak perlu terkejut seperti itu Sam, lagi pula kami tidak melakukan tindak pidana kan. Diandra itu cintanya sama aku, kamu....?" laki-laki itu menatap dengan ejekan ke arah Samuel. "kamu sengaja dia dekati karena urusan khusus" lanjutnya dengan senyuman ejekan.
"aku tidak kaget sama sekali. hanya saja begitu menyayangkan wanita yang aku anggap bak malaikat, tidak lebih dari seorang wanita j**ang. Sekarang aku tau, apa yang sebenarnya kalian incar" Samuel kini mulai memikirkan rencana licik dua manusia itu.
"kamu" Samuel menunjuk wajah Diandra yang menatapnya sendu. Bagaimanapun Samuel selama ini baik kepadanya dan tanpa ia sadari ada rasa untuk laki-laki itu. "kalian berdua sepertinya terlibat dengan masalah yang ada sekarang. tidak ku duga Di, kamu benar-benar wanita jahat. dirimu tidak ada bedanya dengan Hafsah, cantik tapi berhati iblis"
"kamu menuduh tanpa bukti Samuel, kamu pikir kami sejahat itu" Diandra menatap tajam Samuel.
Naomi yang penasaran apa sedang mereka bicarakan, dirinya langsung menyebar jalan dan mengambil tempat sedikit jauh agar Diandra tidak melihat dirinya.
"kamu perlu bukti...? Gampang, kamu sengaja mendekati aku dan berpura-pura berada di pihak Gara padahal sebenarnya kamu berada di pihak Gandha Sukandar yang palsu bukan"
Deg
Seketika itu laki-laki tadi terkejut begitu juga Diandra. namun secepat mungkin Diandra mengubah mimik wajahnya.
"apa yang kamu bicarakan Sam, aku nggak ngerti"
"aku tidak perlu pengertian darimu, cukup aku tau siapa sekarang dalangnya"
Samuel berbalik untuk pergi namun saat itu Diandra memegang lengannya, wanita itu mencoba melakukan apa yang dilakukan Hafsah kepada Gara. Kalau dulu Hafsah meracuni Gara dengan minuman yang telah ia memantrai dan juga racun yang begitu mematikan, kali ini Diandra mencoba untuk melumpuhkan tubuh Samuel. Untung saja Naomi berlari cepat dan menarik Samuel dari cengkraman tangan Diandra sehingga Samuel selamat.
"Naomi...?" Diandra kaget karena tiba-tiba Naomi berada di tempat itu.
"Alvin, Diandra....kalian pikir bisa menghancurkan Gara begitu saja...? sampai nyawa kalian tercabut, kalian tidak akan bisa mengalahkan Gara" Naomi menatap Diandra dengan tajam.
Memang Alvin yang bersama dengan Diandra juga ada Mamad saat itu. Hanya saja Mamad hanya melihat saja tanpa berniat ikut campur.
"ck... harusnya Hafsah membunuhmu waktu itu. Wanita lemah seperti mu tidak perlu ikut campur. Jika kalian berdua menghalangi kami maka siap-siaplah jadi mayat" aura Diandra yang biasanya terlihat kalem, kini berubah.
"tidak segampang itu untuk membunuh kami. Sebaiknya persiapkan diri karena tidak lama lagi malaikat maut akan datang menghampiri kalian" Samuel menarik tangan Naomi yang berada di depannya. "ayo Na"
Samuel juga Naomi meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka adalah ke rumah sakit. Pak Henry harus ia amankan terlebih dahulu setelah itu dirinya akan menyusul Fatahillah ke pulau bambu untuk memberitahu siapa dalangnya.
"jadi Gara ke pulau bambu...?" tanya Naomi.
"iya, dan aku harus segera menyusulnya"
"gawat ini Sam gawat" Naomi mulai panik.
"gawat kenapa...?"
"Diandra pastinya tau kalau Gara juga teman-temannya itu ke pulau bambu. Jika memang seperti itu berarti mereka telah merencanakan sesuatu untuk menjebak mereka. Apa yang harus kita lakukan Sam, kita harus bergerak cepat. Apa tidak bisa menghubungi mereka sekarang juga"
akhirnya Samuel menghentikan mobilnya dan menghubungi Fatahillah saat itu juga. Keadaan tidak berpihak kepada mereka sebab nomor Fatahillah juga yang lainnya tidak aktif.
"sepertinya mereka berada di tempat yang tidak terkena signal"
"terus bagaimana...?"
"kita akan pikirkan itu"
Samuel melajukan mobilnya semakin cepat hingga mereka tiba di rumah sakit. berjalan cepat ke lantai tempat Henry di rawat. Saat masuk pak Henry masih berada di ranjangnya namun mereka tidak bertemu Najihan.
"bapak sudah diperiksa oleh dokter Najihan...?" tanya Samuel.
"sudah dan sekarang dokter Najihan sedang keluar. Katanya dia akan bertemu dengan dokter Diandra" Henry menjawab.
"dokter Diandra...?" seketika mata Naomi membulat.
"sial... benar-benar iblis wanita itu" Samuel mengumpat kesal.
"ada apa...?" Henry bingung dan bertanya.
Samuel dan Naomi tidak menjawab sebab saat ini mereka sedang panik. Naomi beberapa kali menghubungi Najihan sayangnya tidak diangkat dan hal itu membuat keduanya panik.
Saat itu juga Samuel menghubungi anak buah Gara untuk mengurus kepulangan Henry sementara dirinya harus mencari Najihan. Baik Samuel maupun Naomi, meninggalkan rumah sakit setelah tiga orang anak buah Gara datang untuk mengantar pulang Henry.
"semoga Najihan baik-baik saja" Samuel menyetir dengan wajah tegang. ia takut dokter itu menjadi korban berikutnya kelicikan Diandra juga Alvin.
sedang Naomi, mulai tegang di samping Samuel. Bagaimanapun Najihan pernah merawatnya dengan begitu baik sehingga dirinya merasa wanita sebaik Najihan harus mereka selamatkan.
_____
Catatan :
Kira-kira ada yang tau nggak siapa yang menyamar menjadi Gandha Sukandar...?