
"gimana keadaan Anisa Yus, dia baik-baik saja kan...?" Fatahillah langsung berdiri saat Yusuf keluar dari kamar rawat Anisa
"dia dehidrasi terus kelelahan" Yusuf mengambil tempat duduk di samping Fatahillah
"kasian nasibnya sekarang, sudah tidak mempunyai ibu sekarang ditinggal ayah. semoga Anisa kuat dengan hari-hari selanjutnya" Fauzan yang sebenarnya tadi sudah tertidur langsung kembali membuka mata karena kedatangan Yusuf
"mau bagaimana lagi, takdir Tuhan tidak bisa kita lawan. kalau bisa tentunya aku akan menahan ibu agar tidak diambil sama Tuhan. tapi semua itu mustahil" timpal Hasan yang memang sudah tidak mempunyai ibu dan ayah
Yusuf meraup wajahnya dan menghela nafas panjang. ia bersandar di tembok dan menengadahkan kepalanya ke atas.
"Yus, apakah kamu benar akan menikah dengan Zulaikha...?" pertanyaan itu yang sebenarnya sejak tadi ingin keluar kini di keluarkan oleh Fatahillah
Yusuf memperbaiki posisi duduknya dan menatap wajah Fatahillah.
"darimana kamu tau kalau...?"
"itu nggak penting, sekarang jawab pertanyaan aku. apa benar paman Imam ingin kamu menikahi Zulaikha...?" lagi, Fatahillah bertanya kembali
Yusuf mengalihkan pandangannya ke arah lain dan sekali lagi menghela nafas.
"iya, tapi...." ucapan Yusuf menggantung
"tapi kenapa...?" tanya Fatahillah
"dia menyukai wanita lain" Fauzan bersuara
"apakah wanita itu adalah Anisa...?" Fatahillah mencoba ingin tau
"bukan seperti itu, hanya saja Zulaikha masih sekolah aku tidak mungkin menikahinya dan memutuskan sekolahnya. masa depannya masih panjang, lagipula Zulaikha belum tentu mau menikah denganku. jadi aku rasa permintaan paman Imam sebaiknya kita..."
"tidak usah dilaksanakan begitu...? itu amanah loh Yus" ucap Hasan
"terus aku harus bagaimana...? jika aku paksakan menikahi Zulaikha, Zulaikha belum tentu juga menyukaiku, jadi lebih baik berita ini jangan sampai terdengar di telinga gadis itu. aku sudah memberitahu bibi Fatimah agar jangan dulu memberitahu Zulaikha sampai waktu yang tepat" Yusuf kembali menyadarkan tubuhnya di dinding
"sayangnya berita itu sudah sampai di telinga Zulaikha Yus" timpal Fauzan dengan santai
"hah...?" Yusuf kaget "bagaimana bisa, siapa yang memberitahu...?" tanyanya dengan masih memasang ekspresi terkejut
"hahaha" Fauzan seketika langsung mengeluarkan tawa "nggak usah panik juga kali Yus, masa nikah saja malah panik begitu gimana kalau malam pertama" goda Fauzan mengedipkan mata
"ngerjain aku ya, sialan kau" Yusuf bangkit dan memukul lengan Fauzan
"menurutku sebaiknya hal ini dibahas secara keluarga Yus, bagaimanapun itu adalah amanah. nanti setelah itu barulah kita mencari solusinya, entah kalian berdua mau menerima atau menolak. tapi pasti masalah ini harus di beritahu kepada Zulaikha juga" ucap Fatahillah
"aku setuju, yang penting sudah memberitahu bagaimana baiknya kedepannya itu terserah kalian" timpal Hasan
"ya sudahlah, aku mengikut bagaimana baiknya saja" Yusuf terpaksa mengalah
bagaimanapun hal itu harus dibicarakan oleh pihak keluarga. namun Yusuf belum akan memberitahu kedua orang tuanya, karena kesimpulan dari hal yang akan dibahas belum ditentukan. terlebih lagi kedua orang tua Yusuf berada di kota kelahirannya sementara Yusuf kini berada di kota tempatnya ia bekerja.
menjelang subuh, keempatnya menuju ke mushola yang ada di rumah sakit itu untuk melaksanakan sholat subuh. setelahnya, pagi hari mereka memilih makan di kantin rumah sakit.
teringat dengan Ali yang akan menjemput istrinya, Fatahillah mengirimkan nomor yang bisa dihubungi oleh ustad itu jika Ali akan pergi menjemput Zelina dan Arjuna.
"kita harus pulang kembali ke rumah Yusuf untuk mengambil mobil Fatah" ucap Hasan di sela makan mereka
"bagaimana kalau sekalian kita ke rumah kami Fatah, untuk mencari bukti yang dibutuhkan" timpal Fauzan
"yang konsisten lah, katanya mau urus masalah aku dulu, gimana sih" Yusuf menimpa sambil meminum minumannya
"kamu mah gampang, tinggal di bawa di KUA kan beres" celetuk Fauzan
"beres gigimu, anak orang itu woi bukan anak kucing yang tinggal dibawa-bawa" Yusuf menjawab kesal
Fatahillah dan Hasan hanya geleng kepala karena kembali kedua teman mereka saling mulai mengganggu. tidak lama ponsel Fatahillah bergetar, ibu Khadijah menghubungi dirinya.
(assalamu'alaikum bu)
(wa alaikumsalam, kamu dimana nak...?)
(di...rumah sakit bu)
(siapa yang sakit, kamu baik-baik saja kan...?) ibu Khadijah panik mendengarkan anaknya berada di rumah sakit
(Fatah baik-baik saja bu, hanya saja Anisa yang sakit)
(kasian sekali dia. kenapa tidak memberitahu ibu kalau pak Agung meninggal nak, ibu kan bisa pergi melayat kalau tau kabarnya)
(maaf bu, Fatah pikir bibi Fatimah juga masih berduka jadi Fatah merasa biar Fatah saja yang hadir di pemakaman pak Agung)
(harusnya kamu memberitahu ibu nak, bagaimanapun juga pak Agung telah berjasa banyak kepada kita. sekarang bagaimana keadaan Anisa...?"
(masih belum sadar Bu) Fatahillah tidak memberitahu permasalahan tentang Anisa yang diculik
(kalau sudah memungkinkan untuk pulang ajak Anisa pulang di sini, kalau di rumahnya pasti tidak ada orang. sekalian dengan Yusuf, ibu ingin berbicara dengannya mengenai masalah amanah paman kamu)
Fatahillah langsung melihat ke arah Yusuf yang sedang berbincang dengan Fauzan dan Hasan.
(iya bu, kami akan pulang kalau Anisa sudah membaik)
(ya sudah, ibu tunggu kalian di rumah. assalamu'alaikum)
(wa alaikumsalam)
"bibi Khadijah menyuruh kita pulang ya...?" tanya Hasan
"hmmm... Yusuf akan di sidang" Fatahillah kembali melanjutkan makannya
"huufffttt...semoga ada jalan yang terbaik" Yusuf menghela nafas
mereka kembali ke ruang rawat Anisa. wanita itu ternyata sudah sadar dan kini sedang berdiri di dekat jendela memperhatikan keadaan di luar.
Yusuf masuk ke dalam sementara Fatahillah dan Hasan serta Fauzan menunggu diluar.
"bagaimana kondisi mu, sudah membaik kan...?" tanya Yusuf setelah ia masuk ke dalam ruangan itu
Anisa memutar kepala untuk melihat Yusuf dan ia tersenyum meski ada luka di sudut bibirnya.
"aku baik-baik saja, terimakasih kalian telah datang menolongku" Anisa kembali ke ranjangnya
"kalau kamu sudah pulih, kita pulang ya tapi kita pulang ke rumah bibi Fatimah, bibi Khadijah ingin untuk sementara waktu agar kamu berada di sana dulu. kalau di rumahmu jelas tidak ada orang selain art"
"lalu bagaimana dengan ayah...?" Anisa bertanya lirih. mengingat ayahnya membuat ia kembali merasakan kesedihan
"pak Agung sudah di makamkan, berdoalah semoga amal beliau diterima oleh yang maha kuasa. jangan sedih, masih ada kami yang akan selalu ada untuk kamu" Yusuf mendekati dan duduk di samping Anisa
"makasih Yus" Anisa tersenyum dan menghapus air matanya
keadaan Anisa yang mulai stabil membuat mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit dan menuju ke rumah Yusuf karena mobil Hasan masih berada di sana.
setelahnya, Yusuf mengantar Anisa untuk ke rumahnya mengambil beberapa pakaian dan barang-barang lainnya sementara Fatahillah dan Hasan serta Fauzan akan kembali pulang ke rumah ibu Fatimah.
"Yusuf yang mau di sidang kok malah aku yang deg-degan ya San"
"berdoa saja semoga keputusan yang diambil tidak akan merugikan kedua belah pihak. bagaimanapun Zulaikha masih sekolah apalagi usia keduanya terpaut begitu jauh. kalau nanti Zulaikha tidak menerima maka ada baiknya jangan dipaksa. lagipula tanpa menikah pun, kita masih bisa menjaga dirinya"
Fauzan tidak menimpali, ia hanya duduk diam di kabin tengah sambil memainkan ponselnya.
hening kembali tercipta, sementara mereka sama-sama lelah tidak tidur semalaman namun karena hal yang mendesak maka dengan terpaksa mereka menahan kantuk yang melanda. tanpa sadar dari arah belakang mobil mereka ditabrak dengan kerasnya. Hasan yang mengemudi langsung membanting setir ke kanan karena hampir saja ia menabrak mobil pick up yang menjual buah rambutan.
"brengsek... nggak punya mata tuh orang ya" Hasan geram dan ingin turun namun Fatahillah menahannya
"kembali jalankan mobilnya San, mereka orang-orang yang menyerang rumah bibi Fatimah semalam" ucap Fatahillah
orang-orang itu mulai turun dari mobil, Hasan yang melihat dari kaca spion langsung kembali menyalakan mesin mobil dan menginjak gas meninggalkan mereka.
"kejar" teriak salah seorang
mereka kembali masuk dan mengejar mobil Hasan. sementara Hasan kini sedang melambung mobil siapa saja agar tidak dapat dikejar oleh orang-orang itu.
semakin laju kendaraan mereka maka mobil hitam itu selalu dapat menjangkau mereka.
braaaakkk
braaaakkk
"cari tempat yang sunyi San, kita nggak mungkin menghadapi mereka di tempat yang ramai" perintah Fatahillah
"lihat saja, akan aku bawa mereka terjun payung ke dalam jurang" gumam Hasan
dor
dor
hal yang tidak mereka sangka ternyata orang-orang itu membawa senjata api. ketiganya bahkan harus menunduk agar tidak terkena tembakan.
"tabrak saja San" ucap Fauzan
braaaakkk
Hasan menabrak mobil itu dari samping, sempat oleng dan berhenti namun kemudian mereka kembali mengejar. sering menginjak rem mendadak dan juga melaju dengan begitu kencang membuat penumpangnya kini sudah berkeringat dingin.
aksi kejar-kejaran masih terus berlanjut. orang-orang itu terus menembaki mereka. Hasan harus mengatur siasat agar ketiganya tidak terkena tembakan. mobilnya ia gerakkan seperti ular yang meliuk liuk, sehingga tembakan banyak yang melesat. semakin lama mobil yang mereka tumpangi semakin menuju ke tebing jurang.
"San, aku belum mau mati ya" Fauzan panik karena Hasan terus melajukan mobil tanpa takut sedikitpun
"San...jangan gila, kita bisa mati" teriak Fatahillah yang juga tak kalah paniknya
Hasan hanya tersenyum menyeringai dan melihat di kaca spion, mobil yang mengikuti mereka tepat berada di belakang mereka.
"pegangan kawan" ucap Hasan
mobil itu tepat di bibir jurang, Hasan membelokkan ke arah kanan sehingga mereka berputar seperti gasing sementara mobil hitam yang terus mengikuti mereka tanpa berniat untuk berhenti karena sudah berada di dekat bibir jurang, langsung terjun ke bawah begitu saja.
ciiiiiit
Hasan menginjak rem dan mobil yang berputar langsung berhenti seketika. Fauzan keluar dari mobil, tubuhnya lemas bahkan ia muntah mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. kepalanya pusing berputar-putar. sementara Fatahillah mencari air minum dan meneguknya sampai habis.
"cemen banget sih kalian berdua" ejek Hasan
"aku memang pernah main kejar-kejaran seperti ini San, tapi nggak sampai nekat mau terjun ke jurang" Fatahillah mencebik kesal
Hasan hanya tertawa pelan dan ia keluar dari mobil untuk melihat Fauzan. temannya itu sudah tepar di atas tanah.
"brengsek lu San, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak lah" umpat Fauzan dengan kesal
"sorry kawan, demi kesejahteraan bersama" Hasan tersenyum
"kesejahteraan pala kau" cebik Fauzan
merasa lebih baik, Fauzan masuk ke dalam mobil dan akhirnya ia langsung tertidur di kabin tengah begitu juga Fatahillah yang terlelap di kursi depan.
mobil yang dikemudikan Hasan kini telah tiba di halaman rumah ibu Fatimah. mobi Yusuf pun telah terparkir di halaman itu. Hasan segera membangunkan kedua temannya dan mereka keluar dari mobil masuk ke dalam rumah.
semua orang telah berkumpul di ruang tengah beralaskan karpet. karena telah memasuki waktu dzuhur, ketiganya lebih memilih untuk sholat terlebih dahulu sebelum akan bergabung bersama yang lain.
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kanan
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kiri
tepat selesai mengucapkan salam, ponsel Fatahillah bergetar. ia segera melepas pecinya dan duduk di kursi.
"Akmal" gumamnya, saat melihat siapa yang menghubunginya melalui panggilan video call
ia menggeser layar dan muncullah wajah yang menghubunginya.
"assalamu'alaikum mas"
"wa alaikumsalam, sayang kalian sudah pulang...?"
"sementara di perjalanan, bagaimana kabarmu mas...?"
"aku baik-baik saja, bagaimana denganmu...?"
"aku juga baik-baik saja dan sekarang aku sedang bersama dengan seseorang"
"seseorang siapa...?"
kamera ponsel beralih ke arah seorang wanita yang sedang melahap makanannya.
"bu, ini Firdaus"
wanita itu menoleh dan saat itu juga tatapan keduanya bertemu. Fatahillah terdiam dan bahkan bibirnya keluh untuk mengeluarkan suara.
"Firdaus anakku, kenapa lama sekali kamu datang menjemput ibu nak" ucap ibu Laila dengan parau
entah apa sebabnya namun saat itu juga Fatahillah meneteskan air mata. tepat saat itu ibu Khadijah baru saja datang dan ia kaget melihat anaknya menangis.
"ada apa nak, kenapa malah menangis...?" ibu Khadijah menghampiri anaknya dan berdiri di belakangnya. ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat dengan siapa anaknya berbicara. tepat saat itu, ia melihat ibu Laila dan tatapan mata keduanya saling bertemu
"Laila" ibu Khadijah terkejut
"k-kamu... K-Khadijah...?" ibu Laila sama terkejutnya
"Khadijah...dimana anakku, pertemukan aku dengan anakku Khadijah" ibu Laila mengamuk di sebrang sana
ibu Khadijah mundur perlahan dan menggeleng kepala. ia kemudian keluar dari kamar meninggalkan Fatahillah yang semakin di buat penasaran karena ibunya mengenal ibu Laila.
"Khadijah...aku ingin bertemu anakku...aku mohon jangan sembunyikan anakku, pertemukan aku dengannya Khadijah"
"bu tenang bu, tenang" Zelina sedang berusaha menenangkan ibu Laila yang terus memberontak memanggil nama ibu Khadijah
Fatahillah mematikan panggilan dan segera ia bangkit untuk menyusul ibunya. ia harus meminta penjelasannya tentang semua yang telah ia lihat. dirinya sangat yakin kalau ibunya mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya.
ia mencari ibu Khadijah ke dalam kamar namun tidak ada. Fatahillah menutup pintu kamar dan menuju ke ruang tengah, tidak ia lihat juga ibu Khadijah.
"bi, lihat ibu tidak...?" Fatahillah bertanya kepada ibu Fatimah
"di dapur, coba periksa" jawab ibu Fatimah
Fatahillah melesat ke dapur dan ia tidak menemukan siapapun namun pintu belakang terbuka, ia keluar melihat di halaman belakang, saat itu juga matanya tertuju kepada seorang wanita yang sedang duduk di sebuah gazebo.
"bu" Fatahillah memanggil dan menghampiri ibunya
pemuda itu duduk di samping ibunya yang sedang terdiam dan menatap lurus ke depan.
"ibu tidak ingin menjelaskan apapun tentang kejadian tadi...?" dengan lembut Fatahillah membuka suara
"bu, Fatah hanya ingin sebuah kebenaran. apa yang sebenarnya ibu sembunyikan dari Fatah"
"tidak ada yang perlu dijelaskan, kamu anak ibu bukan anak orang lain"
"apa ibu tau kalau ibu Laila dan suaminya hadir dalam mimpiku"
kalimat itu membuat ibu Khadijah menoleh dan menatap putranya.
"bu, bagaimanapun nanti setelah aku mengetahui kebenarannya, ibu tetaplah wanita yang akan Fatah anggap ibu. Fatah tidak akan pernah meninggalkan ibu, jadi aku mohon bu.... tolong" Fatahillah mengambil tangan ibunya dan menggenggamnya
"suami ibu Laila, dia menunggu keturunannya untuk datang menyelamatkan hidupnya yang sebenarnya apa yang terjadi Fatah pun tidak tau. tapi cincin ini" Fatah mengangkat tangannya "cincin ini adalah miliknya dan diberikan kepadaku, kiayi Anshor berharap aku akan segera pergi untuk menyelamatkannya. bukankah berarti itu artinya....aku adalah keturunan dari..."
"Fatah" ibu Khadijah membentak
"apa ibu tega membiarkan seseorang yang mungkin saja akan dibunuh hanya karena keegoisan ibu. apa sebenarnya yang berat sampai ibu tidak ingin bercerita. ada apa sebenarnya"
ibu Khadijah tetap tidak bergeming, ia tetap menutup rapat mulutnya dan menatap ke arah lain.
"baiklah, jikalau ibu tidak ingin bercerita maka Fatah akan mencari tahu sendiri kebenarannya. jika Fatah menemukan sebuah kebenaran yang Fatah tidak tau, Fatah akan benar-benar kecewa pada ibu"
Fatahillah berdiri dan mencium kedua tangan ibunya, ibu Khadijah meneteskan air mata kemudian akan mengelus kepala Fatahillah namun putranya itu melangkah untuk pergi.
"anak ibu dan suami ibu terbunuh karena mereka" dengan bibir bergetar, ibu Khadijah akhirnya berbicara. Fatahillah seketika berhenti dan berbalik
"ibu bahkan hampir gila kehilangan anak dan suami. apakah kamu tau nak, betapa rapuhnya ibu dulu sebelum akhirnya ibu bertemu dengan kamu"
"hiks... hiks' sakit.... sakit yang ibu rasakan" ibu Khadijah memukul dadanya "dan sakit itu perlahan hilang saat ibu menemukan penawarnya yaitu kamu"
Fatahillah mempercepat langkahnya dan meraih tubuh ibunya memeluknya dengan erat. wanita baya itu menangis di pelukan anaknya. luka yang harusnya sudah berangsur sembuh kini kembali tergores dan menganga kembali.