Fatahillah

Fatahillah
Bab 83



selesai memasang cincin pernikahan, kini tiba saatnya kedua pengantin sungkem kepada orang tua. ibu Afifah, kiayi Anshor dan umi Zainab, telah mengambil tempat di posisi masing-masing.


Ali lebih dulu mencium tangan kiyai Anshor dan memeluknya. kiyai Anshor menepuk pelan bahu menantunya itu.


"jaga Maryam untuk Abah ya Li" ucap kiayi Anshor dengan mata yang nampak panas "jika kamu tidak lagi bahagia bersamanya dan ingin meninggalkannya maka pulangkan dia baik-baik kepada Abah" lanjut kiayi Anshor


selesai akad semua orang yang berada di tempat itu mendekati pasangan pengantin baru itu dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru. para sepupu Maryam dan Naila ikut senang dengan pernikahan saudari mereka, tidak menyangka Maryam akan menikah lebih cepat dari mereka.


"insya Allah, Maryam akan saya jaga bah. dia sudah menjadi istri saya sekarang, izinkanlah saya mengambil tanggung jawab Abah untuk menjaga Maryam" jawab Ali


jawaban Ali membuat Maryam meneteskan air mata, Naila menutup matanya. ia sungguh tidak sanggup mendengar semua itu, air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh sudah membahasahi wajahnya. untung saja dirinya memakai cadar sehingga orang-orang tidak tau kalau kini dirinya sedang menangis dalam diam.


Ali beralih ke umi Zainab, sedang Maryam maju dan langsung memeluk kiyai Anshor. Maryam memeluk ayahnya dan menangis tersedu di pelukan sang ayah. kiyai Anshor mengusap pelan bahu putrinya yang kini telah sah menjadi istri orang.


"jadilah istri yang patuh kepada suami" ucap kiayi Anshor


"iya bah" Maryam menjawab dengan tersedu


Ali mencium tangan umi Zainab dengan takzim. sama seperti suaminya, umi Zainab memberikan amanah kepada Ali untuk menjaga putrinya.


"insya Allah umi" jawab Ali


kini tiba saatnya Ali sungkem terhadap kakaknya. ibu Afifah nampak tidak dapat menahan haru, adik satu-satunya yang ia miliki akhirnya menikah juga setelah bertahun-tahun tenggelam dengan masa lalu.


"aku sudah menikah kak, seperti keinginan kakak yang dulu" kali ini Ali nampak berkaca-kaca memandang ibu Afifah


"selamat sayang... selamat. kakak doakan kamu hidup bahagia bersama istrimu" ibu Afifah dengan suara parau mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga adiknya


Ali mengangguk dan memeluk ibu Afifah. perasaan haru, bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. bahagia karena telah mewujudkan impian kakaknya agar dirinya segera berumah tangga, sedih karena pernikahan yang dilakukan tidak seperti rencananya, namun Ali lapang dada menerima takdir Tuhan.


setelah sungkem dengan orang tua, kini keluarga yang hadir mulai maju satu persatu mengucapkan selamat. tidak ada undangan yang disebar sebab pernikahan itu dadakan dan hanya di hadiri oleh keluarga dan juga semua santri dan santriwati di pesantren Abdullah. mereka mendoakan pernikahan ustad dan ustazah mereka, sampai tua dan menuju surganya Allah.


"oh ya saya sampai lupa" ibu Afifah baru teringat sesuatu


"ada apa bu...?" ibu Rossi menoleh


"tadi ada santri yang datang dan memberitahu kalau ada dua orang teman Fatahillah yang mencari dirinya"


"teman Fatahillah...?" ibu Laila bertanya. kepalanya ia majukan ke depan agar ia dapat melihat wajah ibu Afifah


"iya, apa sebaiknya kita temui mereka saja. kasian sejak tadi menunggu. saya menyuruh santri itu untuk menjamu mereka. semoga saja keduanya belum pergi. mereka berada di stand makanan"


"lebih baik beritahu suami saya dan pak Odir saja yang bertemu mereka" ibu Rosida memberikan usul


"ah lebih seperti itu saja" ibu Laila setuju mengangguk kepala


"tapi... bagaimana memberitahu mereka, tidak mungkin saya masuk menerobos di kawasan para laki-laki" ibu Rosida celingukan mencari jalan untuk menemui suaminya


"kita tunggu saja semuanya bubar baru beritahu pak Umar dan pak Odir, sekarang waktunya tidak tepat"


semua orang telah bersalaman dengan pengantin baru. baik santri dan santriwati yang berada di dalam masjid, mereka antusias untuk menyalami keduanya. setelah selesai barulah ibu Rosida mendekati suaminya dan memberitahu apa yang dikatakan oleh ibu Afifah tadi.


"jadi mereka dimana...?" tanya pak Umar


"di luar pak, di tempat stand makanan" jawab ibu Rosida


"ya sudah, biar bapak sama pak Odir yang ke sana" jawab pak Umar


tanpa menunggu lama pak Umar mendekati pak Odir dan membisikkan sesuatu. terlihat kepala pak Odir mengangguk kemudian keduanya beranjak dan hendak keluar. namun sebelum itu mereka berpamitan kepada kiayi Zulkarnain agar nanti keduanya tidak di cari.


"teman Fatahillah...?" tanya kiayi Zulkarnain


"iya kiayi dan sekarang mereka sedang menunggu. para santri belum tau kalau Fatahillah telah berangkat ke kota X makanya itu santri menyuruh mereka untuk menunggu di stand makanan" pak Umar menjelaskan


"selama Fatahillah di sini sejak dari minggu yang lalu belum ada yang datang mencarinya" ucap kiayi Zulkarnain


"itulah yang kami pikirkan kiayi. mungkin saja ada hal yang mendesak sehingga mereka datang mencarinya ke tempat ini. kalau mereka datang dengan baik-baik bisa saja mereka adalah orang baik" timpal pak Odir


"kalau begitu saya ikut kalian. ayo kita ke sana"


"tapi apakah tidak apa kiyai meninggalkan para tamu...?" tanya pak Umar


"yang menikah kan bukan saya, jadi tentu saja tidak masalah. ayo kita pergi sebelum mereka pulang karena kita terlalu lama" jawab kiayi Zulkarnain


ketiganya meninggalkan masjid untuk menemui tamu yang katanya adalah teman dari Fatahillah. banyak dari kalangan santri yang berpapasan dengan mereka, ada yang berhenti mengucapkan salam dan mencium tangan ketiganya ada juga yang hanya mengucapkan salam saja dan berlalu. para santri itu mengarah ke masjid dimana tempat diadakannya akad nikah.


"lah dimana tamunya...?" kiayi Zulkarnain celingukan mencari dua orang yang datang bertamu tadi


"sudah pulang kiayi, katanya mereka ada urusan mendadak" santri yang tadi ke masjid memberitahu ibu Afifah menjawab


"kenapa tidak di tahan nak...?"


"saya sudah menahan kiayi agar mereka menunggu tapi keduanya tidak mau dan langsung pergi. yang sempat saya dengar sih kalau tidak salah mereka akan ke kota X. tadi keduanya bicara sambil berbisik tapi ya karena saya di dekat mereka ya sedikit saya bisa dengar apa yang mereka katakan"


"jadi kamu nguping ya...?"


"hehehe.. maaf kiayi, nguping yang tidak disengaja" ucapnya menggaruk kepala, kiayi Zulkarnain geleng kepala,


"apa mereka menyusul Fatahillah ke kota X...?" pak Odir berasumsi


"bagaimana kalau ternyata mereka bukan orang baik-baik kiayi. siapa tau mereka hanya pura-pura bertamu dan menanyakan keberadaan Fatahillah. setelah tau Fatahillah ke kota X mereka langsung ke sana. bahaya ini Yayi, kita harus menghubungi Fatahillah, Hasan dan Akmal" pak Umar nampak gusar


"kalau begitu hubungi mereka sekarang" ucap kiayi Zulkarnain


pak Odir langsung menghubungi Hasan saat itu juga. bagaimanapun mereka harus waspada dan mengantisipasi jangan sampai dua orang yang datang bertamu tadi adalah orang-orang yang jahat dan ingin mengincar mustika merah.


"tidak aktif Yayi" pak Odir nampak gusar


"hubungi siapa saja yang bisa dihubungi, ketiganya harus tau agar mereka berhati-hati"


pak Odir mengangguk dan kembali menghubungi Fatahillah kemudian Akmal namun tetap saja ponsel ketiganya tidak dapat dihubungi. dengan perasaan gelisah mereka berharap perjalanan ketiga pemuda itu dapat dimudahkan oleh yang Maha Kuasa. pak Odir hanya mengirimkan pesan kepada Hasan memberitahu tentang dua orang itu.


akad nikah telah selesai, kini semua keluarga kiyai Anshor yang datang mulai menyantap makanan yang di sediakan. di tenda yang khusus untuk para tamu, mereka memilih makanan yang ada di atas meja.


Ali dan Maryam dibawa ke rumah kiayi Anshor, mereka tidak bergabung dengan yang lain sebab makanan untuk mereka akan disediakan di rumah. tidak ada acara apapun lagi setelah akad nikah dan foto keluarga. semuanya telah selesai hari itu juga.


"makanan untuk kalian akan dibawa ke sini, silahkan istrahat dulu di kamar. Maryam, ajak suamimu ke dalam kamar" umi Zainab menemani keduanya sebab kiyai Anshor bergabung bersama keluarga di stand makanan


"baik umi" Maryam menjawab menunduk


umi Zainab tersenyum kepada keduanya setelahnya ia meninggalkan mereka. kini tinggallah Ali dan Maryam dimana keduanya sama-sama kikuk sebab selama ini keduanya dekat namun tidak seperti sekarang dimana keduanya harus berada dalam satu atap bahkan kini mereka harus satu kamar.


"mas lelah...?" Maryam bertanya dengan canggung


"sebenarnya iya, sejak semalam aku tidak tidur. kalau boleh, bisakah aku beristirahat di kamarmu...?" Ali bertanya padahal sebenarnya hal itu tidaklah perlu. sebab keduanya telah menikah maka kini dirinya berhak masuk ke dalam kamar istrinya


"masuk saja mas, aku ingin ke kamar tamu"


"ngapain ke kamar tamu...?" Ali mengernyitkan dahi


Ali dapat melihat kegelisahan istirnya itu, ia pun sebenarnya masih belum terbiasa untuk satu kamar dengan Maryam tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin keduanya pisah kamar, apa kata keluarga nantinya.


"kalau begitu masuklah lebih dulu ganti baju, aku akan ke dapur dulu" Ali langsung meninggalkan Maryam menuju dapur


Maryam sebenarnya merasa bersalah sebab saat ini dirinya menjadi istri yang tidak patuh kepada suami namun mau bagaimana lagi, mereka belum terbiasa dan harus beradaptasi terlebih dahulu. Maryam segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya. Ali yang berada di dapur mengambil air dan meneguknya sampai habis.


dirinya melamun tidak menyangka kini ia telah menikah dan menikahi wanita yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya.


"huufffttt... permainan takdir memang begitu misteri" gumamnya pelan


karena merasa tidak enak hati untuk ke kamar Maryam, Ali memutuskan ke halaman belakang rumah. di sana ada dua gazebo tempat biasanya kiayi Anshor dan keluarganya menikmati angin di siang hari dan menikmati senja di sore hari. Ali melangkah mengikis jarak dan berbaring di gazebo itu. satu lengannya ia jadikan bantal sementara satu lengannya lagi menutup matanya. angin sejuk begitu cepat membuat Ali terlelap ke dalam mimpi.


umi Zainab datang bersama beberapa santri untuk membawakan makanan pengantin baru. makanan itu di sediakan di atas meja setelahnya para santriwati pulang dan umi Zainab pergi ke kamar Maryam dan mengetuk pintu.


"ada apa bu...?" Maryam membuka pintu, ia sudah mengganti baju pengantinnya dengan pakaian yang selalu ia gunakan


"bangunkan suamimu untuk makan dulu" ucap umi Zainab


"mas Ali nggak ada di kamar bu"


"lah terus kemana perginya. kamu tidak mengusir dia kan Maryam"


"ya nggak lah bu, tadi katanya dia mau ke dapur tapi sampai sekarang belum kembali"


umi Zainab menghela nafas, ia kemudian menuntun Maryam ke ruang tengah dan menundukkan anaknya di sofa.


"umi tau kamu belum bisa menerima semua ini, tapi sekarang kamu adalah istrinya dan dia adalah suamimu. jangan membuat Ali tidak nyaman dan memilih mencari tempat nyaman di tempat lain nak. bukankah kamu sudah tau tugas seorang istri itu seperti apa...?"


"Maryam tau bu, tapi memang tadi mas Ali ke dapur dan tidak kembali lagi ke kamar" Maryam menunduk takut


"kamu mengajak dia masuk ke dalam kamar atau tidak...?"


"aku ajak bu tapi...."


"tapi kenapa...?"


"aku meminta izin untuk ke kamar tamu sebab ingin berganti pakaian" cicit Maryam


"subhanallah Maryam" umi Zainab geleng kepala, Maryam semakin menunduk dalam


terdengar suara riuh di depan rumah, sepertinya keluarga yang lain sudah kembali. umi Zainab akhirnya menyuruh Maryam untuk mencari Ali. bagaimana mungkin di hari pernikahan pengantin lelaki melarikan diri, sungguh tidak lucu sama sekali. meskipun bukan itu yang sebenarnya terjadi tapi tetap saja sebagai pengantin baru jelas harus selalu terlihat bersama-sama.


Maryam beranjak cepat melesat ke arah dapur, ia mencari suaminya di sana namun tidak menemukannya. kini ia membuka pintu dapur dan mengarahkan pandangan ke segera arah, barulah ia melihat sosok yang ia cari sedang berbaring di gazebo.


Maryam mengikis jarak semakin dekat dan kini telah berada di dekat Ali, dilihatnya laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu beberapa jam yang lalu, sedang tertidur pulas bahkan terdengar suara dengkuran halus keluar dari mulutnya.


melihat suaminya tertidur, Maryam enggan untuk membangunkan namun jika tidak ia bangunkan maka apa kata keluarganya nanti jika melihat suaminya itu tidur di luar. ia pun memberanikan diri duduk di samping Ali dan membangunkannya dengan pelan.


"mas Ali bangun mas" pelan ia goyangkan lengan suaminya


"mas Ali"


"eughh"


Ali bersuara dan mengangkat lengannya kemudian membuka mata. keduanya saling tatap sekian detik barulah Ali bangun dan bersandar di tiang gazebo.


"ada apa Mar...?" tanya Ali, matanya terlihat merah menahan kantuk


"jangan tidur di sini. ayo ke kamar" Maryam menunduk


"masya Allah, saking mengantuknya aku sampai tidur pulas di sini" gumam Ali pelan


"ayo mas, atau mas makan dulu biar aku temani" Maryam mengangkat kepala untuk menatap Ali


"aku ingin tidur sejenak, makanya nanti saja. ayo" Ali menurunkan kedua kakinya, ia pun memutar kepala melihat Maryam "kamu berjalanlah lebih dulu" lanjutnya


Maryam mengangguk patuh dan setelahnya melangkah masuk di susul oleh Ali yang mengikuti dari belakang. keduanya langsung menuju kamar Maryam, di sana Ali merebahkan tubuhnya di ranjang. baru beberapa menit saja ia pun kembali terlelap tidur sementara Maryam keluar kamar untuk menemui keluarganya.


perjalanan yang memakan waktu yang lama, kini dzuhur sudah menghampiri. mereka sempat berhenti di rest area tadi untuk mengisi perut dan sekarang mereka harus mencari masjid untuk sholat dzuhur.


"di sana mas, di dekat bengkel ada masjid" Akmal menunjuk ke depan


Fatahillah mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Akmal. mobil mereka berhenti di depan masjid di mana ada sebagian mobil lain yang terparkir di tempat itu.


"sepertinya setelah sholat aku harus menghubungi Doni untuk mengetahui perkembangan bengkelku selama aku pergi" ucap Fatahillah sesaat setelah mobil terparkir dan ia melihat ke arah kiri


"mas punya bengkel juga...?" tanya Akmal


"bukan hanya kamu yang juragan bengkel Mal, aku juga. ayo turun" jawab Fatahillah


ketiganya turun dari mobil. jika kalian bertanya memangnya Fatahillah punya bengkel ya, maka jawabannya adalah iya. lihat saja di episode sebelumnya, Fatahillah mempunyai usaha minimarket dan bengkel.


sebelum masuk ke dalam masjid, Fatahillah menghubungi Haninayah terlebih dahulu karena nomor wanita itu tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi dan sekarangpun sama, hanya suara operator yang terdengar. bahkan nomor ibu Kamila pun tidak aktif. Fatahillah mendesah berat, bagaimana caranya mencari wanita itu kalau nomornya saja tidak bisa dihubungi.


Fatahillah melihat ada sebuah pesan, ia membukanya dan itu adalah pesan dari pak Odir dimana ia memberitahukan kalau ada dua orang yang datang mencarinya di pesantren dan kini mungkin kedua orang itu sedang menyusul mereka ke kota X.


"apakah Yusuf dan Fauzan ya" gumamnya "tapi mereka kan tau keduanya. lalu kalau bukan mereka, lantas siapa" Fatahillah nampak berpikir


selain pesan pak Odir ada juga pesan dari istrinya. ia tersenyum karena pesan dari Zelina begitu perhatian. ia pun membalas pesan dari Zelina kemudian menyimpan ponselnya dan masuk ke dalam masjid, Hasan dan Akmal sudah masuk lebih dulu sejak tadi.


Aji Wiguna kini sedang menghubungi anak buahnya yang ada di kota X.


(bagaimana, apakah sudah menemukan wanita itu...?)


(rumah mereka kosong bos, bahkan rumah tempat persembunyian mereka pun sudah tidak ada orangnya. sepertinya ada yang mengincar wanita itu selain kita)


(cari kemanapun sampai ketemu, jangan biarkan orang lain yang menemukannya terlebih dahulu)


(baik bos, kami akan kembali mencari)


(ya sudah, sampai bertemu di kota X)


"belum ditemukan bos...?" Alex bertanya


"belum, ada yang mengincarnya selain kita. rupanya ada orang lain yang tertarik dengan mustika itu daripada kita"


"bukannya kita hanya memerlukan Fatahillah saja, kenapa harus kembali mencari mustika putih...?"


"kalau Fatahillah tidak mau membantuku maka kita bisa gunakan mustika putih"


Alex manggut-manggut dan kembali fokus menyetir.


setelah selesai sholat, dan setelah Fatahillah menghubungi Doni yang kini bertanggungjawab dalam mengurus bengkelnya, Fatahillah bersama dua ajudannya kembali melanjutkan perjalanan. masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi untuk bisa sampai di tempat tujuan. kali ini Akmal yang menyetir sebab Fatahillah dan Hasan ingin tidur sebentar. mereka begitu mengantuk karena begadang sejak semalam menemani Ali yang sedang galau dalam pernikahannya dan Akmal yang ditinggal nikah.


mobil putih itu kembali meluncur ke jalan raya, membelah jalan bersama kendaraan yang lain.