
"bagaimana ini mas...?" Yusrif menelan ludah dengan susah. Satu kali tepukan saja, mereka pasti langsung mati di tangan besar kera iblis.
Apalagi ketika melihat tatapan mata yang hendak ingin menguliti mereka hidup-hidup. Sudah dipastikan kera iblis akan menelan mereka bulat-bulat.
"lari.... cepatlah lari ke arah timur, kalian harus keluar dari tempat ini" Kemuning langsung menarik tangan Yusrif saat itu.
untuk menyelamatkan diri maka mereka mengikuti perintah Kemuning. Tas yang berisi botol air telaga biru, berada di punggung Hasan. Mereka mengikuti kemana Kemuning akan membawa pergi.
GRAAAAAA
Suara amarah dari kera iblis membuat suasana semakin mencekam. Air telaga biru seketika mendidih bagai air yang direbus di atas api. Burung-burung yang berada di atas pohon, terbang melarikan diri. Kera iblis, dengan tubuh yang tinggi dan besar, kaki yang panjang dan besar itu, melangkah kemudian berlari mengejar mangsanya.
dugh....
dugh...
dugh...
Suara itu bagai bebatuan yang berjatuhan ke bumi. Langkah kaki keras iblis semakin dekat dengan mangsa yang diinginkan. Pohon-pohon yang berada di depannya, ia cabut dan melemparkannya ke depan.
"AWAS"
Buuum....
Bugh...
Hampir saja beberapa pohon itu menewaskan mereka. Untungnya Kemuning sigap dan mengarahkan pohon itu berbelok ke arah lain sehingga mereka selamat. Meskipun begitu, Yusrif terkena akar dari pohon sehingga dirinya terpental membentur pohon lainnya.
"YUSRIF" Tegar berlari menghampiri Yusrif.
Kemuning mengarahkan tangannya ke atas. Seketika akar-akar pohon menjalar menari bagai ular. Ia mengarahkan semua akar pohon yang ia gerakkan menjalar kepada kera iblis dan akar-akar pohon itu merayap mengikat kedua kaki kera iblis, tangan dan juga tubuhnya.
GRAAAAA
"CEPAT LARI" teriak Kemuning.
kera iblis begitu marah dipermainkan oleh manusia-manusia yang ternyata juga memiliki kemampuan khusus. dirinya berusaha melepaskan ikatan akar pohon itu, hanya dalam satu kali hentakan, akar pohon itu hancur menjadi kepingan.
Dugh...
Dugh...
Dugh...
Bagaimanapun mereka melarikan diri, langkah kaki kera iblis tidak sebanding dengan pergerakan kedua kaki mereka. Hanya hitungan detik, kera iblis kini sudah berada tepat di belakang mereka.
Kera iblis memukul tanah begitu kerasnya sehingga tanah itu bergerak layaknya tikar yang bergerak naik turun. Alhasil mereka terombang-ambing dan menabrak setiap pohon yang berada di sekitar itu.
Buuum...
Satu pukulan keras lagi, mereka terguling-guling di tanah. Hasan berusaha keras memeluk tas yang ia pegang agar tidak terlepas dari tangannya. Mereka bagai mainan bola anak kecil yang dioper ke sana ke mari.
Kemuning saat itu tidak tinggal diam. Ia pun seperti semula mengangkat kedua tangannya ke atas. Seketika semua pohon yang ada di sekitar itu bergerak, layaknya pohon yang hidup seperti manusia.
"serang dia" perintah Kemuning kepada pohon-pohon itu.
Gerumulan pohon-pohon yang besar bergerak cepat menyerang kera iblis. Tanah yang tadinya berguncang hebat kini terhenti. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka kembali berlari dan saat ini Kemuning mengarahkan mereka ke arah pantai.
Sementara kera iblis masih bertarung melawan banyaknya pohon yang datang menyerangnya. Ia melempar dan mematahkan pohon-pohon itu, menggigit dan mencabik-cabik sehingga dedaunan berserakan di tanah juga kepingan pohon tercecer dimana-mana.
GRAAAAA
Kera iblis begitu marah, memukul dadanya dengan suara keras yang membuat penghuni hutan berlari mencari tempat persembunyian yang aman.
"gawat...kita dikejar lagi" Tegar terus menerus melihat ke arah belakang memastikan apakah mereka sudah jauh atau belum.
"fokus berlari Gar, jangan pernah berhenti" ucap Hasan.
kera iblis membuat tempat itu gempar dan menakutkan. Ketika itu mereka mendekati sungai yang aliran airnya terdengar di telinga. Kera iblis semakin dekat dengan mereka. ketika itu Hasan mengarahkan kedua tangannya ke arah sungai dimana airnya telah terlihat.
Air sungai itu berputar dan naik ke atas. bibir Hasan bergerak terus membaca sesuatu berharap mantra yang ia baca kali ini akan berhasil. Sayangnya, karena belum begitu menguasai mantra yang diucapkannya, air sungai yang ia kendalikan jatuh kembali ke dalam air.
Hasan ingin mencoba membaca mantra pengubah air menjadi beku. Jika dirinya sudah menguasai mantra pengendali air, kini Hasan berniat melakukan sesuatu yang belum Pern ia coba. Meskipun dulu selalunya gagal, namun ia berharap kali ini harus berhasil. Konsentrasi penuh yang ia butuhkan, tapi keadaan sekarang membuat pikirannya terkecoh.
kera iblis membakar hutan itu sehingga mereka kini berada di tengah-tengah kubangan api yang menyala. Asap hitam membumbung tinggi naik ke atas. Binatang apa saja yang tinggal di tempat itu, berhamburan menyelamatkan diri.
"bismillahirrahmanirrahim, bantu aku Tuhan"
Hasan duduk bersilah mencoba berkosentrasi. ia menatap air sungai itu dengan tatapan tanpa kedip. Sementara Kemuning, menghalau kera iblis yang hendak menyerang mereka. Api yang ia buat, Kemuning kendalikan sehingga kera iblis diserang oleh bola api yang dibuat oleh Kemuning.
tetap saja Kemuning bukanlah lawan dari kera iblis. Wanita itu terpental ketika kera iblis melempar pohon yang telah terbakar. Kemuning jatuh terkulai di tanah.
ketika Yusrif hendak mendekati Kemuning, kera iblis menangkapnya dan mengangkatnya ke atas. Tegar panik dan mencari cara untuk menyelamatkan Yusrif. Namun karena api yang berkobar begitu tinggi, Tegar tidak dapat menjangkau tubuh besar kera iblis itu.
"YUSRIF... YUSRIF" Tegar tetap berusaha keluar dari kobaran api, namun siapa yang bisa menyelamatkan diri dari api yang menyala-nyala mengelilingi mereka.
Yusrif mengambang di udara, satu kakinya dipegang oleh kera iblis. ketika itu kera iblis melempar Yusrif ke atas kemudian makhluk besar itu membuka mulutnya dengan lebar.
"tidak....tidak.... YUSRIF"
Hap
Swing
Swing
Jleb
Jleb
Jleb
Kemuning berhasil menangkap tubuh Yusrif meski dengan sisa tenaga yang ia punya. Sementara apa yang dilakukan Hasan, berhasil ia lakukan. air yang ia kendalikan membeku dan berubah menjadi anak panah yang runcing. Hasan menghujani kera iblis dengan serangan bertubi-tubi.
GRAAAAA
GRAAAAA
Serangan Hasan melukai tubuh kera iblis. Serangan bertubi-tubi itu membuat kera iblis kewalahan dan mengerang kesakitan. Tepat saat itu Hasan kembali membaca mantra sehingga air sungai yang tadinya tenang berputar seperti gasing kemudian naik ke atas. Air raksasa itu menyembur memadamkan api yang membakar menyala hutan pulau bambu.
Padam.....
Api yang berkobar tadi padam seketika berkat kemampuan Hasan. Hanyalah menyisakan kepulan asap yang naik ke langit untuk menjadi awan.
Tubuh kera iblis penuh luka, namun tidak menumbangkan makhluk yang berbadan besar itu. Ia cabut satu persatu apa yang tertancap di tubuhnya, sementara tiga manusia dan satu makhluk gaib kembali melarikan diri.
meskipun terluka namun kera iblis itu masih begitu kuat untuk mengejar. seakan tidak mempunyai rasa lelah sedikitpun.
"ada kelemahan pada diri iblis itu. Dia akan mati jika jantungnya di remukkan. Namun bagaimana bisa kita menusuk jantungnya sementara dia begitu kuat" Kemuning melayang di samping Hasan.
GRAAAAA
Kera iblis melompat melayang di atas kepala mereka. Makhluk itu berdiri tepat di depan mereka. Mereka begitu kecil untuk ukuran tubuh kera iblis.
Bummm....
Hantaman telapak tangannya di tanah membuat mereka terpental jauh. Tas yang dipegang oleh Hasan terpisah dengan dirinya.
Kemuning melayang melesat hendak mengambil tas yang berisi botol air telaga biru. Sayangnya, kera iblis menangkap wanita itu dan melemparnya ke atas. Tepat saat kera iblis membuka mulut, Kemuning ditangkap oleh seseorang. Sosok yang datang tiba-tiba, menangkap Kemuning yang hampir masuk ke dalam mulut kera iblis.
Sreeeet....
Sosok itu melukai wajah kera iblis membuat makhluk besar itu kesakitan. Kemuning yang masih di dalam pelukannya, memeluk leher laki-laki itu dengan erat. Ia mendaratkan Kemuning di tanah.
"bersembunyi, cari tempat yang aman untuk bersembunyi" ucapnya.
"lalu bagaimana denganmu...?"
"aku akan baik-baik saja, pergilah bersembunyi. Bawa mereka untuk bersembunyi di tempat aman" ucapnya meyakinkan Kemuning.
Kemuning mengangguk kemudian melayang mengambil tas tadi dan menghampiri tiga orang yang masih berusaha untuk bangun.
"ayo, seseorang sedang melawan kera iblis itu" Kemuning membantu Tegar sebab kepala laki-laki itu berdarah dikarenakan benturan keras yang mengenai batang pohon. luka kemarin kembali berdarah.
"siapa dia...?" Hasan melihat laki-laki itu sedang berhadapan dengan kera iblis.
"aku tidak tau, dia menyuruh kita untuk bersembunyi" Kemuning masih menahan tubuh Tegar.
"kalian pergilah, aku akan membantunya" Hasan tidak ingin pergi begitu saja. Ia harus membantu laki-laki itu untuk melawan si kera iblis.
"tapi mas, kamu terluka seperti itu. Bagaimana bisa untuk..."
"jangan pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja. pegang tas itu dan bersembunyi. Di sana, di sana sepertinya ada gua, pergilah ke sana" Hasan dengan cepat memotong ucapan Yusrif. Ia menunjuk batu besar yang sepertinya memang adalah sebuah gua. " Tegar harus istirahat, pergilah dan tunggu aku di sana"
Belum sempat menjawab, Hasan sudah melesat ke arah kera iblis yang sudah bertarung melawan laki-laki tadi. Sementara Kemuning, membawa Tegar ke gua yang ditunjuk oleh Hasan tadi bersama dengan Yusrif. Darah yang keluar dari luka Tegar membuat laki-laki itu kehilangan kesadaran tepat saat mereka berada di dalam gua itu.
"Gar... Tegar... bertahan" Yusrif membantu Kemuning membaringkan Tegar di tanah.
"darahnya banyak sekali" ucap Kemuning. perban yang ada di kepala Tegar telah berubah warna menjadi merah.
Yusrif dengan sigap membuka kotak p3k yang mereka bawa. ia membuka perban yang melilit kepala Tegar karena akan diganti dengan yang baru. Kemuning melap darah itu sampai bersih setelahnya Yusrif mulai melakukan tugas seperti yang dilakukan Hasan saat mengobati luka di lengannya.
di tempat pertarungan, Hasan tidak sempat melihat wajah laki-laki yang membantu mereka. Keduanya sibuk menyerang kera iblis dari arah mana saja. Dua pemuda itu membuat kera iblis kewalahan, apalagi Hasan yang kembali menghujani tubuh kera iblis dengan serangan seperti yang ia lakukan tadi. Sementara laki-laki itu, melukai kedua kaki kera iblis.
GRAAAAA
Kera iblis mulai melemah, dan Hasan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang jantung makhluk besar itu. Rupanya tepat saat itu, sebuah tongkat telah melesat cepat ke arah kera iblis dan
Jleb....
Tepat di jantung si kera iblis, tongkat itu menembus di belakang. Kera iblis tumbang seketika, terjatuh tanpa bisa bangkit lagi.
"apa itu...?" Yusrif kaget ketika mendengar suara dentuman keras yang menghantam tanah.
"mas Hasan" tanpa pikir panjang, Yusrif berlari keluar gua. Ia merasa cemas sebab Hasan. Dirinya akan begitu merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan Hasan karena ia meninggalkan laki-laki itu meskipun bukanlah kemauan dia sendiri.
"MAS...MAS HASAN" Yusrif panik ketika tidak menemukan Hasan di tempat itu.
"MAS HASAN...JANGAN MATI DULU MAS, MAS HASAN" Yusrif meneriaki nama Hasan dengan sekuat tenaga.
"kamu berisik sekali Yus" Hasan datang menghampirinya.
Ketika melihat Hasan, Yusrif dimana air matanya mulai jatuh, ia hapus dengan kasar dan berlari memeluk Hasan. Yusrif bagai anak SD yang takut kehilangan ayahnya.
"huhuhu...aku kira mas sudah dimakan sama kera iblis itu" Yusrif tergugu memeluk Hasan.
"aku baik-baik saja, sudah jangan menangis. Kamu ini, nanti kalau Kemuning melihat kamu menangis memang kamu nggak malu apa" Hasan menepuk pelan bahu Yusrif.
"aku hanya takut kehilangan mas Hasan tau" Yusrif melepas pelukannya dan menghapus air matanya. "ngomong-ngomong, laki-laki tadi yang membantu kita dimana mas...?"
"aku di sini"
Suara itu membuat tubuh Hasan juga Yusrif bergerak untuk melihat siapa yang datang. ketika itu alis keduanya terangkat, kening mereka pun ikut mengerut. Mereka saling tatap, bahkan Yusrif mengucek matanya mencoba untuk melihat kembali siapa yang ada di depan mata keduanya.
"ini aku nggak salah lihat, kok mas Fatah ada di sini...?" ucap Yusrif.
Sosok yang ada di depan mereka tersenyum dan mendekat. ia menatap keduanya bagai penuh kerinduan.
"Fatah, kenapa bisa kamu berada di sini. Bukannya kamu harusnya bersama Aji Wiguna" Hasan sebenarnya bingung, bagaimana bisa Fatahillah kini bersama mereka saat itu. Padahal seharusnya laki-laki itu bersama Aji Wiguna menyusul Alex juga Akmal.
"aku sengaja datang untuk membantu kalian. Sudah lama tidak bertemu ya"
"hah...?" Yusrif melongo menggaruk kepala, sementara Hasan semakin menaikkan alisnya
"mas Fatah aneh ya, baru satu hari tidak bertemu sudah bilang rindu" Yusrif menggeleng kepala.
laki-laki itu semakin tersenyum lebar "Hasan, apakah kamu tidak mengenaliku...?" ucapnya dengan tatapan teduh.
"astaga Fatah, bagaimana bisa aku tidak mengenalimu. Kamu ini aneh sekali" Hasan terkekeh pelan, ia merasa aneh dengan sikap Fatahillah sekarang. namun detik berikutnya, Hasan terdiam dengan wajah terkesiap dan menatap dalam laki-laki yang ada di depan mereka.
"tunggu-tunggu....kenapa bertanya seperti itu. Apa jangan-jangan kamu...kamu Gara...? Gara Sukandar...?" Hasan seketika memikirkan hal itu.
"aku pikir kamu tidak akan mengenaliku lagi" laki-laki itu tersenyum.
"jadi benar kamu Gara Sukandar...?" tanya Hasan lagi dan laki-laki itu mengangguk.
"hah...? Yusrif semakin melongo.
Begitu senang melihat kembaran Fatahillah kembali, Hasan dengan cepat mendekat dan memeluk Gara. Sungguh diluar dugaan mereka, laki-laki itu harusnya bersama guru Halim di gunung Sangiran namun sekarang Gara Sukandar kini berada di depan mata mereka.
"ya Allah... bagaimana bisa kamu ada di sini. Apakah kamu sudah sembuh...?" Hasan melepas pelukannya.
"Alhamdulillah, berkat guru Halim aku sehat seperti sebelumnya"
"masya Allah" Hasan kembali memeluk Gara, mengabaikan seseorang yang menatap mereka penuh keheranan.
"aku nggak diajak meluk gitu...?" ucap Yusrif.
"memangnya kamu ingin dipeluk juga...?" goda Hasan.
"ck... nggak, jelas nggak bakalan nolak"
"jawaban Yusrif membuat keduanya tertawa. Laki-laki yang pecicilan itu ditarik oleh Gara dan memeluknya"