Fatahillah

Fatahillah
Bab 33



kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor mengambil posisi duduk di samping kiri kanan Hanum. sementara aku yang ada di dekat Hasan, dipanggil oleh kiayi Anshor untuk duduk di bagian kepala Hanum.


"Fatah, kemarilah dan duduk di sini" panggil kiayi Anshor kepadaku


"saya kiayi...?" tanyaku menunjuk diri sendiri


"memangnya ada orang lain selain kamu yang bernama Fatahillah Malik...?" tanya kiayi Anshor


aku melihat ke arah pak Umar dan pak Odir. kedua mengangguk dan aku berdiri kemudian melangkah maju ke tengah-tengah dan duduk di bagian kepala Hanum.


"aku tau kamu punya penjaga, keluarkan dia untuk berjaga di luar" ucap kiayi Anshor


aku tercekat dan terkesiap. bagaimana bisa kiayi Anshor tau kalau aku mempunyai pelindung yaitu Langon, yang selama ini memang menjadi penjagaku.


Hanum belum juga bangun setelah tasbih milikku yang ada di lehernya aku ambil. itu mungkin karena kiayi Zulkarnain yang mengendalikannya.


"kamu tidak ingin memanggil penjagamu untuk berjaga di depan...?" tanya kiayi Zulkarnain


astaga, sepertinya keduanya memang mempunyai ilmu yang begitu sakti sampai tau kalau aku memiliki penjaga.


"baik kiayi" jawabku


"Langon" aku memanggil harimau putih milikku


goaaaaarrrrr


Langon datang tiba-tiba dan sudah berada di dekatku. seperti biasa, dia akan bermanja kepadaku entah mengelilingi diriku atau bermanja di bawah kakiku. namun karena aku dalam keadaan duduk, Langon naik di atas pangkuanku.


hanya aku yang dapat melihat, serta pak Umar dan yang lainnya sementara untuk para santri tentu tidak melihatnya.


"astaghfirullah" ibu Afifah yang baru pertama melihat Langon langsung teriak histeris dan bersembunyi di punggung Zelina


"tenang bu, dia baik tidak akan menyerang" aku dapat mendengar suara Zelina yang menenangkan ibu Afifah


"ada apa bu...?" Anisa panik karena ibu Afifah tiba-tiba menjadi ketakutan


"t-tidak...tidak apa-apa" ibu Afifah menjawab gugup dan tidak berani melihat ke arahku


semua santri terpaku melihat ke arah ibu Afifah yang memecahkan konsentrasi mereka semua.


"tetap fokus" ucap kiayi Zulkarnain kepada seluruh santri


"baik kiayi" jawab seluruhnya


"Langon, kamu berjaga di luar ya" ucapku dan mengelus bulunya yang halus


goaaaaarrrrr


Langon menghilang dari pangkuanku dan kemudian aku melihatnya tengah berbaring di teras masjid. begitu patuhnya dia padaku sebagai tuannya.


"kita mulai" ucap kiayi Zulkarnain


semua santri mulai berdizkir begitu juga ibu Rosida, ibu Afifah, Zelina dan Anisa. kami semua mulai berdizkir. ada sebagian santri yang diberikan tugas membaca Al-Qur'an, Akmal dan Hasan berada diantara para santri itu.


aku mulai berdizkir dengan tasbih yang telah aku ambil dari Hanum. sedang tasbihku yang lain masih ada melingkar di leherku.


kiayi Zulkarnain memegang kepala Hanum, entaha apa yang beliau baca aku tidak tau namun yang pasti bibirnya bergerak membaca sesuatu. sementara kiayi Anshor, menutup mata berdzikir seperti yang lain.


aku yang tidak menutup mata melihat Hanum membuka matanya dengan lebar, bahkan yang lebih mengerikan mata Hanum berubah sepenuhnya menjadi merah.


"aaaaaa"


teriakan Hanum melengking di dalam masjid. Hanum menggelepar seperti ayam yang disembelih.


"HENTIKAN.... HENTIKAN"


suara yang keluar bagai suara monster, membuat sebagian santri berhenti berdzikir dan mereka ketakutan.


"fokus...tetap fokus" ucap kiayi Anshor kepada para santrinya


"aaaaaa"


"astagfirullahaladzim"


para santri bangkit dari tempat duduk mereka dan berkumpul di satu tempat tatkala tubuh Hanum terbang ke atas dan menabrak langit-langit kamar. bukan hanya itu saja, Hanum bahkan merayap layaknya cicak di atas langit-langit masjid.


"hihihi.... hihihi"


Hanum menatap kami semua dengan tajam. bahkan cairan hitam yang pekat keluar dari mulutnya.


"bagaimana ini kiayi...?" pak Umar menghampiri kami bersama pak Odir


"tetap berdzikir, jangan terkecoh dengan dia" perintah kiayi Zulkarnain kepada semua orang


"hihihihihi..... hahahaha"


Hanum merayap dengan cepat dan menempel di dinding mendekati para santri. hal itu membuat para santri teriak ketakutan dan menjauh dari Hanum.


"bismillahirrahmanirrahim, laaillaahillallah Muhammadarrasulullah ALLAHU AKBAR"


bugh


kiayi Zulkarnain melemparkan sorban yang ia pakai ke arah Hanum membuat Hanum seketika terlilit oleh sorban itu dan jatuh ke lantai.


"LEPASKAN.... LEPASKAN"


Hanum menatap kiayi Zulkarnain dengan mata yang begitu menyala. kiayi Zulkarnain maju ke depan dan memegang kepala Hanum sementara kiayi Anshor memukul tubuh Hanum dengan daun kelor yang ada di tangannya. membuat Hanum menjerit sakit dan memohon ampun.


"aaaaaa.... AMPUN.... AMPUN"


"keluarlah kau setan terkutuk" ucap kiayi Zulkarnain yang memegang kepala Hanum


aku yang baru kali ini melihat langsung pengobatan ruqiah yang dilakukan oleh kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor, hanya terpaku di tempat tanpa tau aku harus berbuat apa.


para santri kembali berdzikir setelah Ali menenangkan mereka semua. sepertinya makhluk yang merasuki Hanum tidak ingin keluar sehingga kiayi Zulkarnain harus mengeluarkan kekuatan penuh untuk mengeluarkan makhluk itu.


aaaa


bugh


kiayi Zulkarnain mengarahkan telapak tangannya ke arah dinding sehingga Hanum terbang seketika menabrak dinding dan tubuhnya menempel di dinding masjid.


"ingin keluar atau aku musnahkan dirimu...?" tanya kiayi Zulkarnain kepada Hanum


"AMPUN.... AMPUN"


Hanum terus saja teriak kesakitan, bahkan tubuhnya memerah seperti dipenuhi api.


"astaghfirullah pak, anak kita" ibu Rosida berlari ingin menghampiri Hanum namun ibu Afifah menahannya


"jangan bu, biarkan kiayi yang mengurusnya" ucap ibu Afifah mencekal tangan ibu Rosida


"i-bu...a-yah"


"kiayi, lepaskan anak saya kiayi, lepaskan" ibu Rosida memberontak ingin mendekati Hanum


"bu, Hanum sedang di ruqiah, diobati. ibu jangan seperti ini" Zelina membantu ibu Afifah menahan ibu Rosida


"lepaskan aku, mereka menyiksa anakku. lepaskan" ibu Rosida terus memberontak dan menghentak tubuh Zelina dan ibu Afifah hingga hampir saja keduanya jatuh ke lantai


ibu Rosida berlari ke arah Hanum, namun pak Umar menangkapnya dan menyeret istrinya menjauh.


"ibu ingin Hanum sembuh atau tidak. kalau ibu ingin Hanum sembuh maka kuatkan iman ibu, jika tidak maka kiayi akan melepaskan Hanum dan membiarkannya begitu saja dengan makhluk itu tetap berada di tubuh Hanum. ibu mau seperti itu...?" pak Umar membentak ibu Rosida yang ingin menggagalkan pengobatan


"tapi mereka menyiksa Hanum pak" suara ibu Rosida meniggi


"bukan menyiksa, tapi mengobati. apa ibu mau Hanum mati di depan mata kita. itu yang ibu mau...?" bentak pak Umar


seketika ibu Rosida bungkam dan menangis. ibu Afifah datang memeluk ibu Rosida. aku yang teralihkan karena kelakuan ibu Rosida, kembali fokus ke depan dimana Hanum terus saja meminta untuk dilepaskan.


"ingin keluar atau kamu aku musnahkan" ucap kiayi Zulkarnain


"ampun, aku akan keluar...aku akan keluar" teriak Hanum


sungguh sakit luar biasa yang ia rasakan, apalagi kiayai Anshor terus memukul dirinya dengan daun kelor. membuat Hanum terus meminta ampun.


"jika kamu ingin keluar ikuti apa yang aku ucapkan"


kiayi Zulkarnain mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keras agar Hanum dapat mengikuti apa yang ia ucapkan.


"AKU TIDAK MAU MENGHIANATI TUANKU" ucap Hanum


"maka kalau seperti itu bersiaplah untuk musnah dan kamu akan kekal selama-lamanya di neraka"


kiayi Zulkarnain kembali membaca doa, membuat Hanum menggelepar dan bahkan teriakannya begitu melengking di telinga kami semua.


setelah itu kiayi Zulkarnain kembali menghentikan doanya dan kembali bertanya kepada Hanum.


"ingin keluar atau aku musnahkan"


"aku ingin keluar....aku ingin keluar"


"kalau begitu ikuti apa yang aku ucapkan, kalau tidak kali ini aku tidak akan memberikanmu kesempatan"


"ampun... ampun, aku mau...aku mau"


makhluk yang merasuki tubuh Hanum akhirnya menyerah. kiayi Zulkarnain kemudian membaca dua kalimat syahadat dan Hanum mengikutinya dengan pelan. setelahnya kiayi Zulkarnain mengartikan ke dalam bahasa Indonesia apa yang diucapkannya tadi dan Hanum masih tetap mengikutinya.


"sekarang kamu adalah hamba Allah yang harus mengikuti perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. maka berjanjilah bahwa mulai hari ini kamu tidak akan mengganggu setiap manusia, jika kamu mengingkari janjimu maka Allah yang akan membinasakan mu"


"aku berjanji tidak akan mengganggu anak manusia lagi" ucap Hanum


kiayi Zulkarnain mengeluarkan makhluk yang ada di dalam tubuh Hanum. makhluk itu keluar dan menghilang sementara Hanum seketika jatuh pingsan ke lantai.


"Hanum" ibu Rosida berlari mendekat dan memeluk Hanum


"bagaimana kiayi...?" tanya pak Odir


"makhluk itu sudah keluar" u


jawab kiayi Zulkarnain


"Alhamdulillahirrabbilalamain"


kami semua mengucapkan syukur. pak Umar dan ibu Rosida memeluk Hanum dengan tangis bahagia, anak mereka terlepas dari mahluk yang merasukinya.


"luka-lukanya akan sembuh seiring berjalannya waktu. mungkin tiga hari atau satu minggu" ucap kiyai Zulkarnain


"terimakasih kiayi, terimakasih" pak Umar bangkit dan memeluk kiayi Zulkarnain serta kiayi Anshor


buuuuuum


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


"astaghfirullah"


sayangnya kebahagiaan yang kami rasakan tidak berlangsung lama karena sesuatu yang keras dan meledak terdengar di atap masjid.


"semua santri jangan ada yang keluar" ucap kiayi Anshor


aku lebih dulu berlari ke depan. Langon sudah menghalau bola-bola api yang menyerang kami saat seperti kami berada di rumah Akmal.


"sepertinya, yang mengirimkan santet...marah besar karena ilmu hitam yang ia tanamkan kepada Hanum bisa disembuhkan" ucap kiayi Zulkarnain


aku duduk bersila di depan masjid dan membaca mantar hingga Kerispatih milikku keluar dari telapak tanganku. kutancapkan keris milikku di atas tanah kemudian pagar gaib mengelilingi masjid ini sehingga bola-bola api itu meledak setelah menyentuh pagar gaib milikku.


sedangkan Hasan, sudah datang dengan ember yang berisi air. seperti yang dilakukannya di rumah Akmal, membuat gelembung air untuk menyerang bola api itu.


kiyai Zulkarnain dan kiayi Anshor duduk bersila dan berdzikir. aku melihat masjid ini dilapisi pagar gaib berlipat-lipat, sehingga bola-bola api itu belum sempat menyentuh pagar gaib yang kami buat, sudah meledak di udara.


aku ingin sekali menggunakan kekuatan memanggil angin namun aku takut tidak bisa mengendalikannya sehingga membuat pesantren ini porak-poranda.


"jika hanya dua arah mata angin, kamu bisa melakukannya Malik" aku mendengar suara guru namun aku tidak melihat wujudnya


"apakah tidak apa-apa...?" tanyaku


"tidak akan terjadi apapun" jawab guru


baiklah, tidak ada cara lain. aku harus membuat bola-bola api ini pergi dari sini, dibawa oleh angin yang aku panggil.


aku menutup kedua mataku dan kedua tanganku berada masing-masing di atas pahaku. aku memusatkan pikiran untuk memanggil angin dari arah barat dan arah timur.


"wahai angin yang berada di penjuru barat


aku memanggilmu


datanglah.... datanglah"


"wahai angin yang berada di penjuru timur


aku memanggilmu


datanglah....datanglah"


setelah membaca mantra itu, suara gemuruh angin mulai terdengar dari arah timur dan arah barat. angin yang tadinya hanya bertiup sepoi-sepoi kini berubah menjadi kencang namun tidak separah saat aku memanggil dari empat penjuru mata angin.


angin dari arah barat dan arah timur bertemu hingga aku melihat bola-bola api yang menyerang kami, disapu dan dibawa pergi oleh angin besar panggilanku. semakin menjauh dan semakin jauh hingga tidak terlihat lagi.


"Alhamdulillah" aku mengusap wajah


kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor membuka mata sementara Hasan terduduk dan bersandar di tubuh Langon.


"sudah aku duga, kamu bukan laki-laki biasa" ucap kiayi Anshor menatap ke arahku


sedangkan kiayi Zulkarnain mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku.


"yang menguasai ajian memanggil angin hanya ada satu orang dan dia adalah orang yang saya kenal. apakah kamu.... murid dari Halim Nawawir...?" tanya kiayi Zulkarnain


aku terkesiap bagaimana kiayi Zulkarnain bisa tau tentang guru. namun aku baru ingat kalau sebelum ke tempat ini aku sempat bertemu dengan guru dan dia mengatakan untuk menyampaikan salam kepada kiayi Zulkarnain. berarti keduanya memang saling mengenal.


"benar kiayi, Halim Nawawir adalah guru saya" jawabku


"Anshor" panggil kiayi Zulkarnain kepada kiayi Anshor


"iya bang" jawab kiayi Anshor


"kalau dia muridnya Halim berarti...dia orangnya"


"hah...?"


aku saling pandang dengan Hasan karena sama sekali tidak mengerti apa yang keduanya maksud.


yang lain menghampiri kami sebelum aku mendengar penjelasan dari keduanya, apa maksud dari perkataan bahwa aku adalah orangnya.


"mas Fatah baik-baik saja...?" Anisa datang dan memegang tanganku


aku refleks menarik tangan dan meninggalkan Anisa yang sedang memasang wajah masam karena aku abaikan.


semua santri di perbolehkan pulang sementara kami pun akan pulang ke rumah.


"untuk menyembuhkan luka-lukanya, Hanum harus dimandikan menggunakan air sungai Sangiran" ucap kiayi Zulkarnain


"jadi maksud kiayi, kami harus ke gunung Sangiran...?" tanya pak Umar


"tidak perlu, saya masih mempunyai air sungai Sangiran yang pernah dibawakan oleh Abang saya ini, jadi kalian tidak perlu jauh-jauh ke sana" jawab kiayi Anshor


"syukurlah" ibu Rosida mengehela nafas lega


"sebaiknya kita semua istirahat" ucap Ali


kami mengangguk dan meninggalkan masjid. pak Umar menggendong Hanum yang sudah sadar sejak tadi.


aku tidak ingin jauh dari Zelina, apalagi Anisa yang membuat diriku semakin tidak nyaman dengan sikapnya. aku mendekati Zelina dan menggenggam tangannya membuat istriku mengadahkan kepalanya.


"aku takut kamu hilang" ucapku pelan dan tersenyum


"modus" Zelina mencubit pelan lenganku kemudian ia menarik tangannya dari genggaman ku dan merangkul lenganku


"mau di rangkul juga mbak dokter...?" tanya Akmal karena keduanya berada tepat di belakang kami


"nggak" jawab Anisa jutek mempercepat langkahnya mendahului kami dan berhenti di samping ibu Afifah