
ada yang menangis karena sanak keluarga, saudara kandung dan orang tua pergi selama-lamanya meninggalkan dunia namun ada pula yang bersuka cita berbahagia karena menantikan sosok makhluk kecil yang akan lahir ke dunia. hidup memang seperti itu. yang kecil akan menjadi dewasa, yang dewasa akan menjadi tua dan yang tua akan meninggal dunia. meskipun sebenarnya maut itu, tidak pernah melihat dari umur seseorang. jika sudah waktunya maka tidak ada yang bisa melakukan negoisasi dengan malaikat maut.
hidup hanya sekali, yang baik akan selamat dan yang buruk akan binasa. semoga kita semua selalu dalam lindungan dan berada di jalan Allah Yang Maha Kuasa.
malam itu, hati Fatahillah terus diliputi rasa bahagia. setelah berbicara dengan Zelina di sambungan telepon, ia pun berniat untuk tidur menyusul kedua temannya yang mungkin sepertinya sudah berada di alam mimpi.
tidak lupa ponselnya ia cas kembali, dengan begitu esok hari baterai ponsel itu telah terisi penuh. pelan ia membaringkan tubuhnya di samping Akmal. dengan membaca doa tidur, tidak lama kedua matanya nampak sayu dan akhirnya ia pun terlelap.
"Allahuakbar Allahuakbar"
"Allahuakbar Allahuakbar"
sudah terbiasa bangun saat adzan berkumandang, mereka semua kini telah dalam keadaan duduk. mengucek mata untuk menghilangkan rasa kantuk, menguap beberapa kali hingga beranjak kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu.
dua sholat fardhu di waktu subuh itu, mereka lakukan dengan khusyuk. Aji dan Alex ikut sholat bersama mereka, sebab keduanya belum begitu yakin untuk menjadi imam dan mengimami meskipun hanya sesama mereka saja.
"apa kita berangkat sekarang saja...?" tanya Hasan
"bisakah pagi saja kita pergi, aku masih ingin tidur walau hanya beberapa menit saja" Akmal memelas, ia sudah berbaring di tempat tidur
"masih terlalu pagi, bagaimana kalau kita memesan minuman dan makanan setelah pagi nanti kita tidak perlu lagi untuk sarapan" ucap Aji Wiguna
"aku mau kopi ya, agar nanti di jalan aku tidak mengantuk. hoaaam" Akmal memukul mulutnya pelan, menit berikutnya ia sudah dalam keadaan tidur
bukannya memesan minuman, mereka malah ikut tidur menyusul Akmal. lelah sejak kemarin sebenarnya belum ada habisnya. mempunyai kesempatan untuk istirahat, tentu saja mereka pergunakan dengan baik. satu persatu mereka terlelap melanjutkan tidur yang tadi sempat terbangun untuk melakukan kewajiban. ada yang tidur di ranjang dan sebagiannya tidur di sofa.
pukul 06.00 pagi, semuanya terbangun. Alex memesan makanan untuk sarapan pagi. setelahnya Alex dan Aji Wiguna kembali ke kamar mereka untuk mandi. di dalam kamar Fatahillah, mereka tengah mengantri untuk mandi di pagi hari itu.
Akmal keluar, kini giliran Hasan yang masuk ke kamar mandi. tidak lama, terdengar suara ketukan pintu di luar.
"makanannya mas" ucap seorang wanita di luar sana
"tunggu sebentar mbak" dengan buru-buru Akmal memakai bajunya namun belum dengan celananya. ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya sementara Fatahillah, ia sedang berbicara dengan Zelina di balkon kamar.
Akmal melangkah ke arah pintu dan membukanya. wanita cantik yang memakai pakaian pelayan hotel tersenyum ramah ke arah Akmal saat pemuda itu membuka pintu.
"mbak jangan senyum-senyum" ucap Akmal tiba-tiba
"loh, memangnya kenapa...?" kening wanita itu mengernyit
"nanti aku diabetes, terlalu manis soalnya" Akmal cengengesan
wanita itu tidak meladeni gombalan Akmal. ia hanya meminta izin untuk masuk ke dalam menata makanan di atas meja. Akmal tentu saja mempersilahkan. dengan meja dorong yang ia bawa, wanita itu masuk ke dalam kamar. menaruh semua makanan di atas meja kemudian ia kembali keluar. Akmal mengekor di belakang sampai di ambang pintu.
"terimakasih mbak cantik"
"sama-sama mas, saya permisi" wanita itu berlalu pergi
Akmal menutup pintu dan beralih mengambil celana kemudian memakainya. Fatahillah telah mengakhiri panggilan dan masuk ke dalam.
"Aji sama Alex belum datang...?" tanya Fatahillah
"belum, masih bertapa di kamar mandi mungkin" Akmal menjawab asal
"terbalik, kamu yang bertapa di kamar mandi. kita nunggunya sampai satu jam" Fatahillah mendelik, Akmal cengengesan
Hasan keluar dan kini giliran Fatahillah yang masuk. Aji Wiguna dan Alex telah berada di tempat itu. tidak lagi menunggu Fatahillah, mereka mulai melahap makanan di atas meja. tentu saja menyisakan Fatahillah, jika mereka tidak ingin mendapat pukulan dari laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi ayah namun semua teman-temannya di dalam kamar itu belum ada yang ia beritahu.
badan bersih perut telah kenyang, saatnya mereka kembali mengembara. dua kamar yang mereka pesan, ditinggalkan sudah dalam keadaan telah rapi.
"memangnya masih jauh ya" tanya Alex
"entahlah, aku juga baru kali ini ke gunung Gantara. coba lihat di google map" Hasan mengambil ponselnya "huufffttt...masih jauh. masih berpuluh-puluh kilometer"
"hari ini kita sudah harus sampai, aku harus ke wilayah C untuk menjemput Genta. bisa bahaya kalau dia terjebak di sana jika nanti Samuel melakukan pemblokiran wilayah" Fatahillah menginjak gas, mobil kembali melaju
"separah itu ya wabah penyakit yang menyebar" ucap Aji Wiguna
"sudah puluhan orang yang mati, jelas itu bukan penyakit yang harus dianggap remeh" timpal Akmal
"semacam virus begitu ya. kalau memang iya, berarti kita harus bergelut dengan itu untuk mencari obatnya" ucap Hasan
"semoga saja ada jalan keluarnya" timpal Fatahillah
ponsel Gara saat itu bergetar, Samuel kembali menghubungi Fatahillah.
"tolong angkat dan speaker San" ucap Fatahillah
Hasan mengambil ponsel hitam itu dan mengangkat panggilan Samuel. karena laki-laki itu melakukan panggilan video call, maka dengan terpaksa Hasan mengarahkan kamera ponsel itu ke arah jalan.
Samuel
aku mau liat mukamu woi...bukan aspal jalanan
Fatahillah
aku sedang menyetir, nanti sajalah kamu lihat wajahku. sekarang bagaimana, apakah ada berita baik yang ingin kamu sampaikan...?
Samuel
ini gawat Gara, ayahmu mendesak untuk memblokir beberapa wilayah yang sudah tercemar dengan wabah itu. dan salah satunya adalah wilayah C
Fatahillah
kenapa tidak katakan pada ayah kalau Genta berada di wilayah C
Samuel
sudah aku katakan, tapi banyak masyarakat yang sembunyi-sembunyi melarikan dari tempat mereka dan datang ke wilayah kita. apa kamu tau, di sini ditemukan lima orang yang menyelinap masuk tanpa izin. mereka semua sudah tidak bisa ditolong dan meninggal. akibatnya, banyak yang demo untuk menutup akses ke wilayah S. itu karena mereka takut akan ada lagi yang menyelinap masuk tanpa izin. semua masyarakat ketakutan, aku jadi bingung sendiri. kamu kapan sampainya sih, ibu mu menangisi mu dan Genta setiap malam.
Fatahillah
aku sedang dijalan pulang, tapi sepertinya aku harus ke wilayah C terlebih dahulu untuk menjemput Genta
Samuel
kamu tidak bisa naik kendaraan roda empat jika ingin ke sana, bahaya. keadaan di sana semakin kacau, para dokter pun kewalahan mengurus orang-orang yang terkena penyakit itu. lebih baik kamu tunggu saya di wilayah X, di sana kita bisa naik helikopter untuk menjemput Genta
Fatahillah
kalau bisa naik helikopter, kenapa tidak kamu jemput sejak kemarin sih...?
Samuel
woi bambang... yang bos itu kamu bukan saya. kalau saya meminta kendaraan udara tanpa ada persetujuan dari kamu, aku bisa digorok oleh ayahmu. lagi pula kemarin-kemarin aku menghubungi tapi nggak bisa. pacaran mulu sih, nikah aja sama Gea biar kemanapun udah halal. kemarin aku belum mengambil tindakan karena harus diskusi dengan ayahmu dan juga yang berwenang lah pastinya
mendengarkan nama Gea disebut oleh Samuel, keempat teman Fatahillah saling melirik. tidak mungkin Gandha Sukandar tidak mengetahui kalau wanita itu telah mati, atau mungkin memang dia telah tau namun tidak memberitahu siapapun.
Fatahillah
Samuel
kamu bersama Gea kan...? siap-siap kalian dinikahkan oleh ibumu kawan
Fatahillah
kami sudah putus
Fatahillah mengkode Hasan untuk mematikan video call itu. Hasan mengangguk dan menghalangi kamera ponsel menggunakan tangannya kemudian menekan tombol merah.
"kalau dari percakapan kalian tadi ya, aku menangkap sepertinya Samuel dan mas Gara itu begitu dekat. mereka berteman sepertinya, kalau nggak ya nggak mungkin Samuel berbicara santai dan seakrab itu sama kamu mas" ucap Akmal
"aku setuju, kalau hanya bawahan dan bos... Samuel tidak akan bersikap akrab seperti tadi. mungkin benar mereka berteman" timpal Aji Wiguna
"lalu apa yang harus kita lakukan jika kita tiba di sana, kita kan nggak mungkin ikut Fatahillah" tanya Alex
"untuk sementara kita berpencar saja dulu sembari mencari cara bagaimana agar kalian bisa masuk ke dalam keluarga itu" jawab Fatahillah
"melamar pekerjaan saja di perusahaan mas Gara, atau melamar pekerjaan di rumah mas Gara" tutur Akmal
"aku punya ide" ucap Aji Wiguna
"apa itu...?" semuanya bertanya kompak
"salah satu diantara kita selain Fatahillah, mencoba mendekati Gandha dan menjadi orang kepercayaannya. dengan begitu kita bisa leluasa mencari informasi mengenai dimana ayah Fatahillah berada"
"aku nggak mau ya, dia terlalu menyeramkan. bisa-bisa sebelum beraksi aku sudah jantungan duluan" Akmal menggeleng kepala
"ilmu ku terlalu rendah untuk menjadi orang kepercayaannya. harusnya kamu saja bos, diantara kita ini setelah Fatahillah, urutan kedua yang mempunyai ilmu tinggi ya kamu sendiri bos" timpal Alex
"nah benar itu, kamu sajalah yang maju. wajahmu juga cocok menjadi anak buahnya. kamu kan kemarin-kemarin memang telah menjadi bos besar, jadi akting kamu nggak diragukan lagi lah ya" Hasan setuju
"cih... bilang saja kalian takut" Aji Wiguna mendelik
"bukan takut sih ya, cuman... rada-rada deg degan aja gitu nanti" Akmal menggaruk kepala
"sama saja kampret" Aji Wiguna menyoyor kepala Akmal
"kayak orang jatuh cinta aja kamu Mal, pake deg degan segala" cibir Fatahillah
"aku memang sedang jatuh cinta kok, tapi bukan sama Gandha Sukandar ya...iya kali aku mau terong sama terong" Akmal bergidik geli membayangkan itu "melihat bekas luka di wajahnya saja sudah membuat aku bergidik ngeri"
ternyata memang perjalanan ke gunung Gantara memakan waktu yang begitu lama. mereka bahkan telah kemalaman di jalan lagi. namun mereka tidak lagi mencari tempat untuk istirahat sebab setelah melaksanakan sholat isya, mereka sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan. jarak yang ditempuh tidak begitu jauh lagi, saat ini Aji Wiguna yang menyetir mobil. Akmal telah tidur di kabin belakang, Alex dan Hasan pun memejamkan mata di kabin tengah. Fatahillah tetap fokus menemani Aji Wiguna sampai mereka tiba di gerbang dimana kini itu artinya mereka telah berada di kawasan gunung Gantara. jam 10 malam, mereka tiba di tempat tujuan. memakan waktu dua malam untuk bisa sampai di tempat itu.
"wilayah X itu dimana...?" tanya Aji Wiguna
"aku lihat di google dulu, nggak mungkin bertanya pada Samuel. masa iya aku sebagai penguasa di tempat ini nggak tau kawasan wilayahnya"
Fatahillah mencari wilayah X di ponsel miliknya. jika dilihat, memakan waktu satu jam perjalanan untuk bisa sampai ke sana.
"serahkan padaku, hanya setengah jam saja kita sudah akan sampai" Aji Wiguna menginjak pedal gas dan mobil melaju kencang
mengikuti arahan dari suara wanita yang ada di ponsel Fatahillah, mereka tiba di wilayah X. Fatahillah menghubungi Samuel segera, laki-laki itu memberitahu untuk ke alamat yang ia sebutkan. kembali Aji Wiguna melanjutkan kendali setir mobil. di sebuah rumah yang besar, Fatahillah turun di tempat itu. setelahnya Aji Wiguna meninggalkan Fatahillah dan menuju ke tempat dua anak buahnya yang kini sedang menunggu mereka.
rumah yang begitu megah, jika dibandingkan dengan rumah istrinya rumah itu tentu saja dua kali lipat lebih besar dan megah. melihat Fatahillah yang dikirakan adalah Gara, penjaga pagar segera membuka pagar menggunakan remote control. pagar itu terbuka sendiri, Fatahillah masuk ke dalam.
"terimakasih mas" Fatahillah tersenyum ramah
"i-iya" laki-laki itu menjawab kikuk, ekspresi bingung menghiasi wajahnya. ia menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. kedua matanya memandang punggung Fatahillah yang semakin jauh darinya
"ada angin apa sampai bos Gara ramah seperti itu" gumamnya, masih memikirkan hal itu
Fatahillah menghubungi Samuel setelah dirinya sudah berada di dalam rumah. segera laki-laki itu memunculkan diri, bersama seorang laki-laki yang juga masih muda sama seperti mereka. Fatahillah tidak mengenal laki-laki itu, ia tidak tau siapa nama laki-laki itu sebab Gara tidak menceritakan tentang laki-laki itu padanya. kemarin, Gara hanya memberitahu kalau Samuel adalah orang yang membantunya dalam menyelesaikan pekerjaannya, tidak ada orang lain.
"aku pikir kamu akan datang esok hari, sudah berjam-jam kami menunggu kamu belum muncul juga" celoros Samuel
"maaf, gunung Gantara kan memang begitu jauh"
ketiganya melangkah ke arah sofa besar yang ada di tengah-tengah ruang tamu. besarnya ruang tamu itu, Fatahillah berpikir bisa membuat lapangan bola untuk anak-anak panti bermain.
"mau berangkat sekarang atau menunggu hari esok....? Genta sekarang sudah dievakuasi oleh orang-orang mu yang ada di sana. hanya saja dia ingin kamu sendiri yang menjemputnya. setelah mendengar Samuel mengatakan kepada dirinya kalau kamu mau menjemputnya, dia begitu semangat dan antusias" laki-laki yang bersama mereka itu memulai pembicaraan
"kita berangkat sekarang saja, aku juga mengkhawatirkan dirinya" jawab Fatahillah "tapi setelah itu, aku belum akan langsung pulang. aku harus melihat langsung keadaan disana"
"bisa saja, tapi di sana sudah masuk zona merah. angka kematian sudah meningkat setiap harinya" ucap Samuel
"apa yang harus dilakukan untuk mencegah agar tidak terpapar penyakit itu...?"
"memakai baju pengaman, masker dan juga sarung tangan. jangan bersentuhan dengan orang-orang yang positif terkena penyakit itu"
"kalau begitu aku akan memakai itu untuk bertemu dengan dokter di sana. kita pergi sekarang"
ketiganya beranjak keluar, bukan ke halaman depan melainkan ke halaman belakang rumah. Fatahillah takjub dengan halaman yang begitu luas itu. sungguh luas bahkan bisa membangun beberapa gedung lagi di tanah yang kosong itu. rumput yang hijau terbentang begitu jauh.
"bos bisa memilih helikopter mana yang ingin bos pakai" ucap laki-laki itu
"terserah yang mana saja, asal aman dan tidak membahayakan"
sebenarnya Fatahillah baru pertama kali ini menaiki helikopter. jika bukan karena sedang menyamar menjadi saudara kembarnya, mungkin dirinya tidak akan merasakan bagaimana rasanya menaiki kendaraan udara yang sering anak-anak bilang seperti capung itu.
"yang di ujung sana saja Taufik, itu kan pernah kita pakai saat ke gunung Sangiran" ucap Samuel
"gunung Sangiran...?" Fatahillah terkesiap
"iya. saat itu kan kamu ingin bertemu dengan kiayi Zulkarnain kalau tidak salah. tapi sayangnya beliau ada di kota B, pergi menjenguk saudaranya" jawab Samuel "masa kamu lupa sih" Samuel menatap heran Fatahillah
(masya Allah.... ternyata tempat guru berada, ada dalam satu kawasan bersama kiayi Zulkarnain. aku benar-benar lupa kalau kyai Zulkarnain tinggal di sana) batin Fatahillah
(tapi kenapa guru tidak bilang ya, atau mungkin karena mereka berada di tempat yang masing-masing berjauhan. waktu kecil, aku kan sering disana. tapi aku tidak melihat pedesaan yang ada di tempat itu)
(lalu....kenapa bisa Gara mengenal kiyai Zulkarnain...?)
"ah iya, aku baru ingat" Fatahillah menggaruk kepala. tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya bukan dia yang pergi ke sana, mana percaya dua orang itu
Taufik mulai memeriksa helikopter yang akan mereka naiki, saat itu Samuel mendekati Fatahillah dan berbicara pelan.
"sekarang kiayi Zulkarnain telah kembali ke gunung Sangiran, jika kamu ingin ke sana lagi aku akan temani. kamu harus segera diobati, jika tidak aku tidak akan bisa memastikan apa yang akan terjadi padamu Gara. harusnya kemarin kamu tidak ke kota X, menghabiskan waktu bersama Gea yang ujung-ujungnya kalian putus juga"
kening Fatahillah mengekerut saat mendengar ucapan Samuel. ia berpikir berarti laki-laki itu tau apa yang terjadi dengan Gara. itu berarti Gara menemui kiayi Zulkarnain untuk meminta mengobatinya. karena memang laki-laki sepuh itu, terkenal ahli dalam mengobati penyakit dalam yang disebabkan oleh sihir.
"semuanya aman terkendali, kita bisa berangkat sekarang" Taufik datang menghampiri mereka
malam itu pukul 11 malam, Fatahillah berkendara menggunakan helikopter untuk ke wilayah C. pemandangan di bawah sana tidak membuat pikiran Fatahillah hilang dari apa yang ia pikirkan tadi. dirinya begitu penasaran, Samuel sampai tau penyakit yang dialami oleh Gara. itu berarti Samuel tau kalau Gandha Sukandar adalah biang keladi dari sakit yang dialami Gara. mungkinkah laki-laki itu adalah benar-benar berpihak padanya atau Samuel adalah salah satu orang dari Gandha yang ditugaskan untuk menghabisi Gara secara perlahan-lahan. dan yang menjadi pertanyaan Fatahillah, kenapa sampai Gandha Sukandar ingin membunuh Gara, padahal waktu dulu laki-laki itu begitu menyayangi Gara seperti anaknya sendiri. bahkan memalsukan kematian Gara hanya untuk bisa mengangkat Gara sebagai anaknya.
bagai benang kusut yang tidak di tau ujungnya, Fatahillah menghela nafas panjang. ia berharap semoga misi yang akan ia jalankan berjalan dengan baik. dirinya sudah tidak sabar ingin kembali berkumpul bersama istri dan ibunya serta keluarganya yang lain.