
Fauzan sedang sibuk dengan pekerjaannya, semenjak pak Umar berada di kota semua pekerjaan bosnya ia yang menghandle. tak jarang dirinya pulang larut malam dan juga sering ia membawa pekerjaannya untuk diselesaikan di rumah. untungnya ada Meisya yang membantunya. selama ini Hasan lah yang membantu semua pekerjaan pak Umar dan dirinya hanya mengerjakan pekerjaannya saja namun karena Hasan juga ikut maka tentunya ia merangkup semuanya.
syukurnya kali ini Hasan masih berada di kota S, jadi beban kerjanya berkurang dan saat ini di ruangan yang sama, keduanya sedang sibuk dengan berkas masing-masing.
pintu ruangan mereka terbuka, Meisya masuk ke dalam dan menyimpan minuman kopi di atas meja.
"thanks ya Mei" Hasan mendongak untuk melihat Meisya
"sama-sama" Meisya ikut duduk di sofa karena memang saat ini Hasan dan Fauzan sedang berjibaku di sofa
"jadi mana yang harus saya ubah...?" tanya Meisya
"nih, saya sudah tandai semuanya. tinggal menambah beberapa saja dan mengurangi juga. sekalian, laporan keuangan juga selama pak Umar tidak ada, bawa kepadaku" Hasan memberikan map merah kepada Meisya
"bukannya Fauzan sudah periksa ya...?" timpal Meisya
"untuk bulan ini belum Mei, berikan saja kepada Hasan. pekerjaan ku padat sekarang" Fauzan menimpali masih dengan mata yang fokus di laptopnya yang ia simpan di atas pahanya
"baiklah, tunggu sebentar" Meisya beranjak dan keluar membawa map merah di tangannya
Hasan berhenti dan menyimpan berkasnya. ia mengambil cangkir putih di depannya dan menyeruput isinya.
"kopi buatan Meisya memang paling nikmat" ucap Hasan
"kalau begitu jadikan saja dia istrimu agar tiap hari kamu bisa minum kopi nikmat terus" Fauzan melepaskan kacamatanya dan menyimpan laptopnya di samping
"dia sudah punya calon suami kali Zan, lagipula aku sudah punya Hanum"
"tapi selama di sini aku tidak pernah melihat kamu menghubungi Hanum" Fauzan ikut menyeruput minumannya
"seringlah, kamunya saja yang nggak tau"
"menikah sajalah San, lagipula pak Umar dan ibu Rosida jelas akan menerima kamu"
Hasan menghela nafas, ia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa.
"aku belum punya apa-apa untuk membahagiakan dia. rumah saja belum punya" Hasan mendongakkan kepalanya ke atas melihat langit-langit ruangan itu
"nggak perlu rumah, lagipula kalian kan akan tinggal di rumah besar mertuamu. ngapain beli rumah. anak mereka cuman satu, jelas nggak mungkin mereka ingin berpisah dari Hanum"
"aku malulah Zan numpang sama mertua"
"kita sudah tau bagaimana pak Umar dan ibu Rosida selama ini. kita berdua bahkan sudah dianggap seperti anak mereka, ngapain harus malu. bahkan mereka pasti akan menyuruh kalian untuk tetap tinggal di rumah itu. rumah sebesar itu kalau bukan kalian yang menempati lalu siapa lagi"
percakapan keduanya terhenti karena Meisya datang dan memberikan sebuah map biru kepada Hasan. setelahnya wanita itu keluar lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
sementara di dalam, ponsel Fauzan berdering. ia yang hendak mengambil laptopnya malah beralih mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Haninayah...?" gumamnya
"Hani...?" tanya Hasan karena ia mendengar gumaman Fauzan
Fauzan mengangguk, ia hendak akan menjawab telepon dari Haninayah namun sayangnya panggilan itu langsung mati.
"kenapa nggak diangkat...?"
"mati"
"telepon ulang mana tau penting"
Fauzan menekan nomor Haninayah dan menghubunginya, sayangnya kini suara operator yang ia dengar.
"kok nggak aktif"
"coba lagi"
Hasan fokus melihat Fauzan yang kembali menghubungi Haninayah namun tetap saja nomor wanita itu tidak bisa dihubungi atau diluar jangkauan.
"aneh banget, padahal belum cukup semenit tadi dia menghubungiku kenapa sekarang nomornya nggak aktif lagi" Fauzan menggaruk pelipisnya
"mungkin tiba-tiba ponselnya mati kehabisan baterai. sebaiknya kita selesaikan ini semua, kalau memang dia niatnya menghubungi kamu nanti juga dia akan telepon kembali"
ponsel ditangannya Fauzan simpan kembali di atas meja. dirinya meraih laptop dan memulai pekerjaannya. ia berharap Haninayah baik-baik saja karena baru kali ini Haninayah melakukan hal itu padanya.
selang beberapa menit ponsel Fauzan menerima pesan namun ia abaikan karena kini mereka tengah dalam mode serius bekerja. ponsel Fauzan terus berbunyi tanda notifikasi pesan yang masuk bahkan kini lebih dari dua kali.
"ponsel kamu tuh bunyi terus" ucap Hasan
"biarkan saja, paling dari grup chat yang nggak penting" Fauzan tetap fokus ke layar laptop
siang hari menjelang waktu istirahat, keduanya berhenti dan merenggangkan otot. Meisya datang dan mengusulkan untuk memesankan makanan untuk mereka, namun Hasan menolak karena ia ingin bersantai di kafe yang berada di depan kantor mereka. Fauzan pun setuju, keduanya bersiap untuk pergi namun setelah sholat dzuhur pastinya.
ruangan itu adalah ruangan tempat kerja Hasan. di ruangan itulah keduanya sholat bergantian dan setelahnya mereka berdua akan ke tempat tujuan.
sambil jalan, Fauzan memeriksa ponselnya. ia ingin membaca setiap pesan yang masuk tadi. awalnya dia biasa saja karena seperti dugaannya grup chat yang isinya teman sekolahnya akan mengadakan reuni lagi. namun kemudian keningnya mengkerut karena ada satu nomor baru yang masuk.
08xxx : hubungi aku mas, ini aku Haninayah
08xxx : mas...ini penting
08xxx : aku diintai, entah siapa pelakunya aku juga tidak tau. tolong mas segera datang bersama teman mas itu
Fauzan yang tidak sadar terus melangkah hampir saja di serempet oleh motor jika saja Hasan tidak menarik tangannya.
"Zan...bosan hidup kamu ya" Hasan membawa Fauzan jauh dari jalan raya
"lihat ini" Fauzan memberikan ponselnya kepada Hasan
meskipun bingung namun Hasan tetap mengambil ponsel itu dan membaca pesan dari nomor baru itu.
"tadi pagi dia mengirim pesan ini" ucap Hasan
"jangan-jangan saat aku menelpon dan nomornya tidak aktif, itu dia sedang diburu" curiga Fauzan
"hubungi nomor itu" Hasan mengembalikan ponsel Fauzan
"panas sekali, kita ke kafe itu dulu" ucap Fauzan
keduanya menyebrang dan masuk ke dalam kafe. mereka memesan minuman dan juga kue. setelahnya Fauzan menghubungi nomor baru yang ia perkirakan itu adalah nomor Haninayah.
"bagaimana...?" tanya Hasan
Fauzan menggeleng "nggak aktif lagi" ucapnya
"kalau gitu coba hubungi ibu Kamila, siapa tau Hani bersama ibunya di rumah"
Hasan memeriksa ponselnya mencari nomor ibu Kamila, ibu tiri dari pak Umar dan ibu kandung dari Haninayah.
"nih, catat dan telpon" Hasan memperlihatkan nomor ibu Kamila
Fauzan mengetik nomor itu dan mulai menghubunginya, masuk namun tidak diangkat. beberapa kali Fauzan melakukan panggilan dan yang kelima kalinya barulah panggilannya diangkat.
(assalamualaikum bu, ini saya Fauzan)
(wa alaikumsalam, Fauzan siapa...?)
(Fauzan bawahan pak Umar)
(Oalah...maaf nak ibu lupa. ada apa nak...?)
(eemmm... apakah Hani ada di rumah...?)
(Hani pergi ngajar nak, biasanya dia pulangnya siang jam 2)
"assalamualaikum" terdengar suara salam
"wa alaikumsalam" ibu Kamila menjawab "loh sudah pulang nak, ini kan baru jam 12 siang"
"bu, cepat bergegas kita pindah dari rumah ini" ucap Haninayah
ibu Kamila mengerutkan kening, ia kini sampai lupa kalau sedang berbicara dengan Fauzan di sambungan telepon. sementara Fauzan kini terus memanggil ibu Kamila namun karena ponsel wanita baya itu ia simpan di atas meja, dirinya tidak mendengar suara Fauzan.
"nanti Hani ceritakan, sekarang berkemas lah bu, bawa yang penting-penting saja"
"semuanya baik-baik saja kan...?"
"insya Allah bu"
Haninayah pergi ke kamarnya untuk menyiapkan pakaiannya begitu juga dengan ibu Kamila. namun saat diambang pintu kamarnya, ibu Kamila baru ingat dengan Fauzan.
"astaghfirullah... Fauzan"
segera dengan langkah cepat ia kembali ke ruang tengah mengambil ponselnya untuk berbicara kembali namun ternyata ponsel itu telah mati total.
"ternyata lobet"
ibu Kamila mengisi baterai ponselnya di meja dapur kemudian ia kembali ke kamar.
Fauzan yang terus memanggil ibu Kamila sejak tadi mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas berat.
"mati lagi San" ucapnya
"apa yang kamu dengar...?" tanya Hasan
"Haninayah baru saja pulang tapi aneh San, dia langsung meminta ibu Kamila untuk berkemas dan meninggalkan rumah itu. itu tandanya mereka dalam bahaya, bagaimana ini"
Hasan saat itu juga segera menghubungi pak Umar, ada sesuatu hal yang harus ia tanyakan kepada bosnya itu.
(assalamualaikum San)
(wa alaikumsalam, kenapa ibu yang mengangkat, pak Umar mana bu...?) Hasan bertanya karena yang mengangkat panggilannya adalah ibu Rosida
(bapak sedang berada di rumah kiayi Anshor, ada apa...?)
(tidak bu, ada hal yang perlu saya tanyakan. kalau begitu sudah dulu ya bu)
(penting ya, kalau penting kamu coba hubungi Ali saja karena bapak pergi dengannya tadi)
(baik bu... emmm bagaimana kabar Hanum...?)
(Hanum Alhamdulillah sudah berangsur sembuh, sekarang dia terus mengikuti pengajian bersama Naila dan Maryam. kapan kalian ke sini, bagaimana acara lamaran Fauzan dan Yusuf...?)
(lancar bu, insya Allah minggu depan hari pernikahan mereka. kalau begitu saya tutup ya bu, assalamualaikum)
(wa alaikumsalam)
"pak Umar nggak ada di rumah, aku coba hubungi Ali dulu" ucap Hasan kembali menekan nomor
namun sampai beberapa kali Ali tidak menjawab panggilannya, Hasan menghembuskan nafas berat dan beralih menatap Fauzan.
"kita harus memberitahu Fatahillah, sebaiknya dia memang harus secepatnya pergi ke kota X. semakin lama di simpan maka bisa jadi keberadaan mustika putih akan ditahu oleh orang-orang yang ingin merebutnya"
"lalu bagaimana dengan bibi Fatimah dan Zulaikha, jika belum menikah tentu aku tidak bisa tinggal bersama mereka"
"bukankah Yusuf kini telah menjadi bos besar, kita minta bantuan padanya. jelas dia mau apalagi ada Anisa juga kan"
"baiklah, bagaimana kalau kita mengubungi mereka saja. hal ini harus dibicarakan secepatnya"
"kamu telpon Fatahillah saya akan menelpon Yusuf"
Fauzan mengangguk setuju. keduanya menghubungi kedua teman mereka itu, Yusuf yang masih berada di rumah sakit, belum bisa pulang karena harus melakukan operasi siang itu. sementara Fatahillah kini sedang berada di rumah Zelina maka saat itu juga keduanya bergegas untuk ke sana.
di rumah Zelina, Fatahillah terlibat perbincangan serius dengan Akmal dan juga Zelina. kejadian tadi pagi telah Akmal ceritakan hal itu kini mengusik ketenangan Zelina. pasalnya jangan sampai mereka kembali diintai dan anak-anak panti jadi sasaran mereka.
"apa yang harus kita lakukan mas...?" tanya Zelina
mereka bertiga di ruang kerja Zelina yang dulu adalah ruangan kerja pak Harun namun sekarang tempat itu menjadi milik sekarang. karena mereka tidak ingin ibu Fatimah dan ibu Khadijah mengetahui hal itu.
"kita harus meminta bantuan Yusuf untuk mengerahkan anak buah pak Agung menjaga rumah ini. keselamatan anak-anak kini terancam" ucap Fatahillah
"aku setuju, dengan begitu mereka tidak akan berani untuk mengusik rumah ini. dan juga anak-anak harus di antar setiap ke sekolah, untuk keamanan mereka. kalau perlu bibi Fatimah dan Zulaikha tinggal saja di sini. berkumpul dalam satu tempat itu lebih aman" Akmal memberikan usulan
"iya, sepertinya memang harus seperti itu. aku tidak ingin siapapun terluka" Zelina setuju apa yang diusulkan oleh Akmal
"kalau begitu kita jemput anak-anak sekarang" Fatahillah bangkit dari duduknya
"aku temani mas" Akmal ikut beranjak
tepat saat keduanya berada di teras rumah, Fauzan dan Hasan baru saja tiba.
"kalian mau kemana...?" tanya Hasan
"jemput anak-anak, masuklah ke dalam tunggu kami sebentar" jawab Fatahillah
keduanya mengangguk sementara Fatahillah dan Akmal masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah. Akmal menjemput anak-anak yang sekolah di SMP sementara Fatahillah menjenguk anak-anak SD. beruntung keduanya sampai tepat anak sekolah baru saja pulang. keduanya menunggu di gerbang sekolah. anak-anak itu begitu senang melihat Fatahillah datang menjemput mereka.
Akmal menyuruh anak-anak masuk ke daalm mobil dan meninggalkan sekolah, Fatahillah pun begitu. rupanya tanpa mereka tau sosok yang mengintai rumah Zelina tadi sedang memperhatikan mereka dari jauh. setelahnya ia menyalakan mesin motornya dan meninggalkan tempat itu.