Fatahillah

Fatahillah
Bab 28



"Hanum"


"Hanum"


pak Umar seperti orang yang kehilangan akal pikiran, dia berusaha untuk masuk ke dalam mobil namun tangannya merasakan terbakar karena mobil itu masih dalam keadaan panas.


"pak, jangan masuk ke dalam" aku menarik pak Umar untuk menjauh dari mobil. takutnya mobil itu kembali meledak


"Hanum di dalam Fatah, saya harus menyelamatkan Hanum" pak Umar mendorongku hingga aku hampir saja jatuh ke tanah


sebagian orang hanya melihat saja dari kejauhan namun sebagian lagi datang untuk membantu kami.


"kenapa bisa meledak...?" tanya seseorang


"saya juga tidak tau pak, kami berada di dalam masjid dan mendengar suara ledakan yang keras" jawab Hasan


"Hanum.... Hanum" pak Umar teriak histeris ingin menyelamatkan Hanum


"San, Mal, bawa pak Umar ke masjid biar aku yang akan memeriksa ke dalam mobil" teriak ku begitu keras agar kedua laki-laki itu dapat mendengarku


"Fatah, selamatkan Hanum... selamatkan Hanum" pak Umar jatuh bersimpuh di kakiku


pak Odir dan Akmal serta beberapa orang yang mendatangi kami langsung mengangkat tubuh pak Umar yang sudah tidak punya tenaga dan bahkan mungkin akan pingsan.


sedang aku berdiri di pintu mobil kabin tengah dan melihat ke dalam. aku tentu terkejut karena Hanum tidak ada di dalam. sejak tadi aku tidak fokus untuk melihat ke dalam mobil dan hanya fokus ke pak Umar tanpa aku tau kalau ternyata Hanum rupanya tidak ada di dalam mobil.


kemana perginya wanita itu, bahkan kini aku tidak merasakan keberadaan Langon di sekitar sini.


"Langon" aku memanggil Langon namun sampai beberapa detik dia tidak muncul


"benar-benar tidak beres"


aku berlari ke arah masjid dan masuk ke dalam. ibu Rosida terbaring di karpet yang disediakan oleh remaja masjid sementara istriku sedang duduk di sampingnya bersama ibu Afifah.


"mana Hanum Fatah, mana Hanum...?" pak Umar berusaha berdiri dan meraih tanganku


"dimana Hanum...?" pak Umar sudah berurai air mata


"aku akan mencari Hanum pak, bapak di sini saja. aku akan menemukan Hanum secepatnya" jawabku dengan bibir bergetar


aku tidak sanggup melihat keadaan pak Umar sekarang ini. dirinya seperti orang yang tidak waras yang terus memanggil nama anaknya.


"maksud kamu apa Fatah...? Hanum menghilang...?" tanya Hasan dengan raut wajah khawatir


"pak Umar, aku dan Hasan akan membawa kembali Hanum. tunggu kami di sini. pak Odir, tolong jaga pak Umar dan ibu Rosida" ucapku


"pergilah, kami akan aman di sini" jawab pak Odir


tanpa berpamitan kepada Zelina aku pergi begitu saja dengan menarik tangan Hasan untuk mengikutiku.


"sebenarnya ada apa Fatah...?" tanya Hasan saat kami berhenti di dekat mobil yang meledak tadi


"Hanum menghilang dan aku tidak merasakan keberadaan harimau putih milikku. aku juga tidak bisa memanggilnya" jawabku


"pasti ada yang menaruh sesuatu di mobil ini sehingga bisa meledak begitu saja. untung saja kita semua tidak berada di dalamnya tapi kini Hanum malah menghilang. sekarang kita akan cari dia kemana" ucap Hasan yang begitu frustasi


"tapi kalau mereka menaruh bom, lalu sejak kapan" ucapku


"yang jelasnya saat kita tidak berada di dalam mobil. mungkin saat kita sedang sholat tadi" jawab Hasan


aku menelisik sekeliling. kalau benar apa dikatakan Hasan kalau ada yang menaruh bom di dalam mobil ini, itu berarti orang tersebut ada di sekitar sini.


pandanganku memeriksa setiap sudut dan aku menemukan sesuatu. seseorang yang berdiri tidak begitu jauh dari masjid, dengan pakaian yang pastinya sudah mencurigakan. jaket hitam dan topi untuk menyembunyikan wajahnya. saat kedua mata kami saling bertemu, dia bergegas pergi begitu saja.


"BERHENTI KAMU" teriakku


"kita kejar orang itu San, cepat"


aku berlari terlebih dahulu dan Hasan menyusul ku. bahkan jalanan yang begitu licin tidak aku pedulikan. aku harus menangkap orang tersebut agar dapat mengetahui dimana keberadaan Hanum.


kami mengejarnya di jalan raya. bahkan beberapa kali aku dan Hasan hampir tertabrak mobil dan motor. umpatan yang kasar jelas sudah kami terima namun aku tidak peduli. toh mereka juga tidak mengenalku. paling nanti mereka hanya akan bercerita kepada keluarga atau teman-teman mereka bahwa ada orang yang tidak waras yang main kejar-kejaran di jalan raya.


orang itu mengambil jalan lain yang terhindar dari banyaknya kendaraan.


"aku kejar dia di jalan sini, kamu lewat jalan sana saja. di jalan sana tembus dengan jalan yang dia lalui. kita hadang dia di tengah-tengah agar dirinya tidak bisa kemana-mana" ucap Hasan


"baiklah" jawabku


dengan kecepatan yang sebisa aku lakukan, aku berlari meninggalkan Hasan sementara dirinya pun mengejar laki-laki tadi.


kalau saja aku bisa memanggil Langon, kami tidak akan selelah ini hanya untuk menangkap satu orang yang menjadi biang kerok dari tragedi yang kami alami tadi.


benar saja apa yang dikatakan Hasan, kalau jalan ini tembus dengan jalan yang tadi. saat ini aku melihat orang yang kami kejar sedang berlari kencang ke arahku. aku bersembunyi di pagar rumah warga. setelah semakin dekat, aku melompat dan melayangkan tendangan di kepala laki-laki itu sehingga dirinya menabrak pagar dan tersungkur di tanah.


"bangun kamu" ku tarik jaket yang ia pakai dan


buaaak...


buaaak...


aku melayangkan pukulan beberapa kali ke wajahnya hingga ia tidak berdaya. Hasan datang dan menghajarnya habis-habisan bahkan mungkin hampir saja ia membunuhnya jika aku tidak menarik paksa tubuh Hasan agar menjauh dari laki-laki itu.


"kamu bisa membunuhnya San"


"aku memang berniat untuk membunuhnya"


bugh


bugh


Hasan masih terus menghajar laki-laki itu. aku mendorong tubuh Hasan dan mencekal tangannya.


"kalau kamu bunuh dia, bagaimana kita bisa mencari tau dimana Hanum berada" ucapku dengan suara keras


"aaaaggghhh.... brengsek" Hasan menendang pagar dan hampir mengenai wajah laki-laki itu


nafas Hasan begitu memburu, ia bahkan menatap laki-laki itu dengan tatapan membunuh dan kalau bisa mungkin dia akan mengulitinya hidup-hidup.


aku berjongkok di depan laki-laki yang sudah tidak berdaya karena perbuatan Hasan.


"dimana kamu sembunyikan wanita yang berada di dalam mobil yang meledak tadi" tanyaku mencengkram bajunya


"aku tidak tau" jawabnya


"JANGAN BOHONG KAMU" Hasan kembali meledak dan akan menghajar lagi laki-laki itu namun aku segera menahannya


"tenangkan dirimu San, kalau kamu seperti ini kita tidak akan mendapatkan apa-apa tentang keberadaan Hanum" ucapku


Hasan diam dan tidak bicara lagi namun mata tajamnya tidak lepas dari laki-laki ini.


"aku tanya sekali dimana kamu sembunyikan wanita yang ada di dalam mobil tadi" ucapku


kalau dia menginginkan Hanum mati meledak di dalam mobil, jelas berarti bukan dia yang membawa Hanum. lalu kalau bukan laki-laki ini, terus siapa yang membawa kabur Hanum.


"siapa yang menyuruhmu...?" tanyaku


"sudah aku katakan, aku tidak akan memberitahu apapun kepada kalian berdua" jawabnya


bahkan mulut dan wajahnya sudah berdarah-darah namun dirinya tetap tidak ingin membuka mulut.


"hari ini putrinya yang mati duluan, besok-besok giliran Umar yang akan mati menyusul anaknya... hahaha"


"BAJINGAN"


buaaak


buaaak


buaaak


tanpa ampun Hasan menghajar laki-laki itu. dan saat itu juga satu anak panah tertancap di leher laki-laki itu membuat dirinya tumbang seketika.


"apa yang terjadi...?" Hasan kaget begitu juga dengan diriku


kami menelisik sekitar namun tidak ada orang di tempat itu, hanya ada kami bertiga. lalu siapa yang menanah laki-laki ini.


"dia di bunuh" ucapku


"lalu bagaimana kita bisa mencari Hanum. ya Allah kenapa ada-ada saja halangan yang kami harus hadapi" Hasan duduk di samping mayat laki-laki itu dan menjambak rambutnya begitu frustasi


aku menghela nafas, apa yang akan aku katakan kepada pak Umar dan ibu Rosida kalau sebenarnya aku gagal menemukan Hanum.


goaaaarrr


aku tersentak karena mendengar suara Langon. aku membalikkan badan dan benar saja Langon tengah berlari ke arahku.


"Langon"


aku duduk berjongkok dan menyambutnya. tubuhnya yang besar masuk ke dalam pelukanku.


"Langon, aku sangat khawatir padamu. kamu baik-baik saja kan, Hanum dimana...?" aku melepaskan tubuhnya yang besar dan mengelus kepalanya


"dia kembali. lalu dimana Hanum...?" Hasan bangkit dari duduknya


goaaaarrr


Langon ke arah belakang kami berdua dan mendorong aku dan Hasan dengan kepalanya yang besar.


"kamu ingin menunjukkan Hanum kepada kami...?" tanyaku


goaaaarrr


Langon mengangguk dan berlari mendahului kami berdua.


"ayo San" ajakku


kami berdua berlari mengikuti kemana Langon akan membawa kami pergi. di tempat sunyi, di bawah pohon beringin, Hanum terbaring di sana dalam keadaan yang basah. hujan belum juga redah sejak tadi.


"Hanum"


Hasan berlari dan duduk memeluk Hanum. ia menangis haru karena begitu bersyukur Hanum dalam keadaan baik-baik saja. sementara aku berjongkok di samping Langon dan memeluknya.


"kamu yang terbaik Langon, terimakasih" ucapku


Langon begitu aku sayangi layaknya saudara sendiri. meskipun dia hanya hewan namun tetap saja aku dan dirinya seakan sudah menyatu. aku bahkan pernah menangis berhari-hari saat umurku 12 tahun dimana guru mengambil Langon kembali karena aku tidak menyelesaikan tugas yang ia berikan padaku.


guru mulai melatih ku sejak aku berumur 10 tahun. dan hadiah yang ia berikan padaku saat aku berhasil menguasai satu ilmu kanuragan, guru memberiku hadiah seekor anak harimau putih. kini harimau putih itu tumbuh dewasa bersamaku dan menjadi teman setiaku.


Langon mengelilingiku dan bermanja di kakiku. dia memang selalu seperti ini, manja dan ingin diperhatikan.


kami kembali ke masjid yang tadi. Hasan menggendong Hanum masih dengan guyuran hujan namun sudah tidak begitu deras. saat kami tiba, pak Umar langsung menghampiri kami dan mengambil alih Hanum kemudian membawanya masuk ke dalam masjid.


"bu, anak kita selamat" pak Umar memanggil ibu Rosida yang masih menangis dipelukan Zelina


melihat kedatangan pak Umar, ibu Rosida dengan cepat menghampiri mereka dan duduk memeluk Hanum. ibu Rosida menangis dengan kerasnya, aku tau kalau itu adalah tangis bahagia sebab Hanum telah berhasil ditemukan.


sementara Zelina mendekatiku dan menggenggam erat tanganku.


"pakaian kita hangus terbakar mas, bagaimana kamu akan ganti baju" ucapnya menatapku


"pakai bajuku saja dulu, tunggu aku ambil di mobil" ucap Hasan


sementara menunggu Hasan, warga sekitar datang membawakan Hanum pakaian agar bajunya di ganti karena basah. ada selimut juga untuk membungkus tubuh Hanum.


"maaf bu tapi.... anak saya punya penyakitan. dia...." ucapan ibu Rosida menggantung saat akan menerima baju dan selimut pemberian dari seorang ibu yang sejak tadi ada bersama mereka di dalam masjid


"tidak apa-apa, untuk anak ibu saja. kasian dia kalau kedinginan. bungkus dengan selimut ini agar orang-orang tidak melihat luka-lukanya" jawab si ibu


"terimakasih banyak bu, terimakasih" ibu Rosida memeluk ibu itu dan menangis haru


aku dan Hasan berganti pakaian di kamar mandi masjid ini. untung saja ada pakaian Hasan jika tidak maka pasti sudah menggigil kedinginan aku.


setelah berganti pakaian, aku dan Hasan kembali. Hanum telah diganti pakaiannya dan tubuhnya telah diselimuti dengan selimut.


masih ada tiga bapak-bapak yang sedang menemani Akmal dan pak Odir sementara tiga orang ibu-ibu yang kini sedang duduk bersama ibu Rosida dan yang lain.


"assalamu'alaikum" aku mengucapkan salam dan duduk bergabung bersama para laki-laki


"wa alaikumsalam" jawab mereka


"aku sudah menemukan mobil untuk mengantar kita ke kota B. hari ini juga kita sudah harus sampai. pak Karim yang akan mengantar kita ke sana. pak Umar, ibu Rosida serta Hanum dan ibu Afifah biarlah di mobil Hasan sementara kita akan berada di mobil pak Karim" ucap pak Odir


"Fatah, setelah kita pulang dari kota B, saya akan mengganti mobilmu" ucap pak Umar


"itu bukan mobilku pak tapi mobil istriku. sekarang tidak usah dulu kita pikirkan keadaan mobil itu. mobil biarlah urusan belakangan" jawabku


"kalau begitu aku pulang dulu untuk mengambil mobil dan menjemput kalian di sini" ucap pak Karim


"iya pak, terimakasih banyak sudah mau membantu kami" jawab pak Umar


"tidak ada salahnya saling menolong pak. kalau begitu saya pulang dulu. assalamu'alaikum"


"wa alaikumsalam" kami menjawab


kedua bapak-bapak yang bersama kami ikut pulang bersama pak Karim. sementara ibu-ibu pun mulai berpamitan untuk pulang. kini tinggallah kami di dalam masjid.


aku melihat ke arah Zelina yang sedang memperbaiki selimut Hanum. ingin aku bicara padanya tentang mobilnya yang meledak namun sepertinya bukan waktu yang tepat. biarlah nanti saat tiba di kota B, aku akan membicarakan hal ini padanya.


aku menghela nafas dan membuangnya pelan. bukannya tidak bisa menerima takdir Tuhan hanya saja masalah seakan tidak ada hentinya datang mengusik ketenangan kami. entah apalagi nanti yang akan kami alami jika tiba di kota B. aku hanya berharap, Tuhan selalu melindungi kami semua.