Fatahillah

Fatahillah
Bab 34



aku begitu sangat lelah hingga tanpa melepaskan pakaian, aku langsung baring di atas ranjang sementara Zelina melepas hijab dan cadarnya kemudian memakai baju tidur.


kecantikan yang dimiliki istriku membuat aku terus terpesona setiap saat. andai bukan di tempat orang lain, mungkin aku sudah lama meminta hakku sebagai suami.


"mas Fatah tidak ingin ganti baju, pakaian mas kotor pasti" ucap Zelina yang datang menghampiriku dan menyimpan baju di atas ranjang untukku


"aku ngantuk sayang" jawabku menariknya duduk di ranjang dan memeluk pinggangnya


"ganti pakaian dulu mas, walaupun sebenarnya tidak mandi setidaknya kita tidur dalam pakaian bersih. ayo bangun, atau aku paksa" ucap Zelina dengan tegas


"oke baiklah, aku bangun demi istriku yang cantiknya masya Allah seperti bidadari" ucapku


dengan mata yang begitu mengantuk, aku bangun dan membuka baju di depan Zelina. sengaja aku lakukan untuk mengetahui bagaimana reaksinya ketika melihat aku tanpa baju.


"kenapa melihatku seperti itu, terpsona ya...?" godaku saat Zelina melihat tubuhku


"apaan sih" Zelina malu dan membuang muka


bukannya memakai baju yang disediakan oleh Zelina, aku dengan cepat menarik tangan istriku dan menubruk tubuhku yang tanpa memakai baju.


deg


deg


deg


jantung kami berdua berdetak begitu kencang, bahkan aku sampai dibuat gugup padahal tadi aku begitu percaya diri untuk mengerjai Zelina namun malah diriku kini yang jadi salah tingkah.


Zelina ingin menjauh namun aku menahan pinggangnya sehingga tubuh kami berdua semakin rapat.


"jika aku minta hakku malam ini, apa kamu sudah siap...?" tanyaku berbisik di telinganya


"bukannya mas Fatah tidak ingin melakukannya di rumah orang lain...?" Zelina menatapku dengan begitu lekat


astaga


aku bisa gila kalau seperti ini, siapa yang bisa tahan satu kamar dengan wanita cantik yang sudah sah menjadi seorang istri. aku dibuat dilema. aku ingin meminta hakku namun aku takut orang-orang di rumah ini akan mendengar kami namun jika tidak memintanya, kelaki-lakianku semakin menjadi.


"mas menginginkannya...? jika iya, aku siap memberikan seluruh hidupku untuk mas Fatah" Zelina menangkup wajahku dengan satu tangannya


tanpa aba-aba aku mencium bibir Zelina yang merah muda. aku lakukan dengan lembut karena tidak ingin menyakiti istriku meski diriku dalam keadaan dikuasai nafsu.


setelahnya aku melepaskan pagutan kami dan menangkup wajahnya yang kecil.


"besok, aku ingin mengajakmu keluar...apa kamu mau...?"


"memangnya kita mau kemana...?"


"ke tempat dimana tidak ada orang lain selain hanya kita berdua. hanya ada kamu dan aku dan juga cinta kita"


Zelina pasti paham apa yang aku maksud karena dirinya bukanlah wanita polos dan bukan anak kecil. ia mengangguk dan tersenyum.


"tentu saja aku mau, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan suamiku tanpa ada orang lain"


senyumannya yang manis membuatku tidak tahan untuk segera memeluknya. aku peluk erat tubuh istriku dan kucium pucuk kepalanya beberapa kali.


"kalau begitu kita tidur ya, aku sudah sangat mengantuk" ucapku melepaskan pelukan


"mas tidak ingin pakai baju...?"


"tidak usah. tapi jika kamu risih, aku akan memakainya"


"tidak perlu, ayo kita tidur" jawabnya


aku mengganti celana dengan celana pendek sampai di lutut, sementara itu aku memakai singlet putih yang aku ambil di lemari.


"katanya mas nggak mau pakai baju"


"kenapa, mau memandangi tubuh aku yang mulus ini ya...?" godaku setelah naik di atas ranjang


"mas ih, menjengkelkan" Zelina menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya


aku tau dia pasti malu makanya bersembunyi di dalam selimut. aku tertawa pelan kemudian ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuhnya.


"tidurlah" ucapku


"iya" jawabnya dimana kepalanya berada di dadaku


perlahan mataku mulai tertutup dan aku pun masuk ke alam bawah sadar. entah berapa lama aku tertidur namun sepertinya sayup-sayup mendengar suara di luar yang begitu ribut. dengan mata yang masih berat untuk aku buka, aku memaksanya mataku untuk terbuka lebar kemudian melihat jam tangan yang aku simpan di atas nakas.


pukul 2 dinihari namun orang-orang di rumah ini sudah malah membuat ribut di luar. ada apa sebenarnya, apakah terjadi sesuatu yang buruk. aku mengangkat kepala Zelina dengan pelan agar dirinya tidak terusik dengan pergerakan ku namun sayang rupanya istriku malah bangun saat aku akan turun dari ranjang.


"mau kemana mas...?"


"mau lihat keadaan di luar, sepertinya terjadi sesuatu. di luar ribut sekali" jawabku


"aku ikut"


"tidak usah, kamu lanjut tidur saja"


"aku mau ikut, tunggu sebentar"


Zelina tetap kekeuh untuk ikut bersamaku. aku terpaksa menunggunya yang sedang memakai baju gamis dan hijab kemudian menggunakan cadarnya. sementara aku memakai baju dan celana panjang karena tidak mungkin keluar dalam keadaan memakai singlet dan celana pendek. meskipun sebagian orang tidak masalah namun bagiku aku merasa malu menggunakan pakaian seperti itu jika bukan di dalam kamar. kemudian aku meraih tasbih pemberian guru, dan aku kalungkan di leher seperti biasa.


"ayo" ajaknya


kami berdua keluar kamar, di ruang tengah terlihat ibu Rosida dan ibu Afifah serta Anisa yang dalam keadaan tegang.


"ada apa, kenapa di luar ribut sekali...?" tanya Zelina


"kesurupan massal" jawab ibu Afifah


"kesurupan massal...?" aku mengulang apa yang diucapkan oleh ibu Afifah


"astagfirullahaladzim, kenapa bisa seperti ini" ucap Zelina


"mas, di luar Akmal dan yang lainnya sedang membantu kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor" ucap Anisa


"kalau begitu aku harus membantu mereka" ucapku melangkah untuk keluar


"hati-hati mas" ucap Zelina menahan dan memegang tanganku


"aku akan baik-baik saja, kalian jangan keluar dari rumah ini. oh iya, tolong pasangkan tasbih ini di leher Hanum, dengan tasbih ini insya Allah dirinya akan dilindungi oleh Allah" aku melepaskan tasbih yang ada di leherku kemudian memberikan benda itu kepada ibu Rosida.


setelahnya aku meninggalkan mereka, melesat dan membuka pintu.


astaghfirullah


pemandangan mengerikan yang aku lihat tepat setelah membuka pintu, para santri berhamburan di lapangan dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


ada yang melukai dirinya sendiri, ada yang mencekik dirinya sendiri, bahkan menyerang siapa saja yang mereka lihat. seperti zombie yang mengejar mangsanya.


Allah


apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa sampai hal seperti ini terjadi. padahal kami berada di area pesantren namun iblis masih bisa juga masuk untuk mengganggu.


"mas Fatah, bantuin mas" teriak Akmal kepadaku


"Langon"


goaaaaarrrrr


harimau putih datang dan mengelilingi diriku. aku berjongkok dan mengelus kepalanya.


"bantu aku, buat tubuh mereka tidak bisa bergerak dengan kekuatanmu agar mereka tidak bisa melakukan apapun" ucapku


goaaaaarrrrr


Langon berlari mengejar satu santri yang sedang ingin menyerang salah satu ustad. setelah semakin dekat, Langon melompati santri itu dan melakukan apa yang aku suruh tadi. setelah diserang oleh Langon, santri itu hanya terbaring di tanah tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.


sementara itu, aku berlari ke arah santri itu dan menyadarkannya dari kesurupan yang ia alami. aku mengeluarkan makhluk hidup yang merasuki tubuhnya.


"audzubillahi minasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim"


aku membaca doa memegang kepala santri ini untuk mengeluarkan makhluk halus yang ada di dalam tubuhnya.


aaaaaa


teriakan santri ini begitu keras dan dirinya kejang-kejang, sedetik kemudian ia pingsan seketika karena makhluk itu telah berhasil aku keluarkan.


"Alhamdulillah"


aku membawanya ke teras masjid karena di sana para santri dikumpulkan bagi yang sudah diselamatkan. sudah ada Akmal dan para ustad dan ustadzah yang bertugas membawa para santriwan dan santriwati ke masjid.


"Mal, kenapa bisa seperti ini...?" tanyaku saat aku berjalan mendekati Akmal


"aku juga nggak tau, masih enak tidur malah dibangunin karena ada kerasukan massal" jawab Akmal


ku lihat di lapangan, masih banyak para santri yang kerasukan. kami tentunya kewalahan karena kalah jumlah dari para santri yang begitu banyak ini.


aku berlari lagi ke lapangan untuk membantu yang lainnya. aku hanya bertugas menyadarkan para santri, urusan membawa ke masjid, nanti akan di urus oleh Akmal dan ustad atau ustadzah.


"Fatah...pergilah ke masjid dan lantunkan azan" teriak kiayi Anshor kepadaku yang sedang menyadarkan salah satu santrinya


"tapi kenapa harus aku azan kiayi, aku ingin membantu kiayi dan yang lainnya" jawabku yang merasa bingung kenapa aku disuruh untuk azan jam segini lagipula belum waktunya sholat subuh


"pergilah cepat, tidak usah menunggu penjelasan dariku" teriak kiayi Anshor


"baiklah" jawabku


aku berlari ke arah masjid melewati beberapa ustad yang sedang melakukan hal yang sama seperti yang lainnya, menyadarkan para santri.


"mau kemana Fatah...?" tanya Hasan saat aku buru-buru masuk ke dalam masjid


"mau azan" jawabku tanpa berhenti dan menoleh padanya


aku menuju ke samping masjid untuk berwudhu karena tidak mungkin melantunkan azan tanpa bersuci terlebih dahulu. kini pikiranku mulai paham kenapa kiayi Anshor menyuruhku untuk azan. mungkin saja dengan mendengar suara azan, para santri dapat sadar atas izin yang Maha Kuasa karena saat ini tidak ada tempat kami meminta pertolongan kalau bukan kepada-Nya.


setelah berwudhu aku masuk ke dalam masjid dan berdiri tepat di depan microfon.


"bismillahirrahmanirrahim"


aku membaca doa untuk melantunkan azan kemudian bibirku mulai melantunkan takbir dari kalimat azan pertama.


Allahuakbar Allahuakbar 2x


kalimat takbir yang baru saja aku lantunkan membuat semua santri menjerit, aku dapat mendengar teriakan mereka yang begitu jelas. kulanjutkan melantunkan azan kembali.


ashadu anlaa ilaaha illallah 2x


ashadu anna Muhammadarrasulullah 2x


hayya alassalah 2x


hayya alalfalah 2x


Allahuakbar Allahuakbar 2x


Laaillaahillallah 2x


setelah azan aku membaca doa setelah melantunkan azan. namun aku belum beranjak dari tempatku berdiri.


aku menurunkan microfon agar sejajar dengan tubuhku saat aku duduk bersila. setelah itu aku mulai melantunkan ayat-ayat ruqiah yang pernah aku pelajari. mulai dari ayat kursi sampai lanjut ke ayat yang lain.


dengan khusyuk aku melantunkan ayat-ayat Allah berharap keselamatan dan pertolongan dapat DIA kirimkan untuk kami yang sedang dalam kesusahan.


hampir 30 menit aku membaca ayat-ayat ruqiah kemudian setelahnya aku menyapu wajahku dengan kedua tangan. aku berdiri dan mengayunkan langkah menuju keluar masjid. pandangan pertama yang aku lihat, semua santri tengah dalam keadaan pingsan, tidak ada lagi yang meraung, yang melukai dirinya sendiri dan menyerang para ustad atau ustadzah.


alhamdulillahirrabbilalamin


aku begitu bersyukur, Tuhan memberikan kami pertolongan dengan begitu cepat. aku melangkah untuk membantu pak Umar serta yang lainnya yang sedang mengangkat para santri untuk di bawa ke dalam masjid. para santriwati tentu ditangani oleh beberapa ustadzah karena itu tidak mungkin kami para lelaki yang akan mengangkat mereka.


Anisa ternyata sudah turun ke lapangan, aku melihat dia sedang memeriksa beberapa santri yang sempat terluka karena ulah mereka sendiri. dengan menyayat pergelangan tangan dan juga membenturkan kepala di dinding serta masih banyak para santri yang terluka karena perbuatan mereka yang tidak sadar.


bukan hanya para santri yang terluka, rupanya Akmal dan juga beberapa ustad mengalami hal yang sama, itu karena para santri yang sedang kerasukan dengan brutal menyerang mereka.


ku dekati Anisa yang sedang sibuk mengobati luka-luka para santri.


"mereka baik-baik saja kan Nis...?" tanyaku dan duduk sedikit jauh darinya


"untungnya tidak terlalu dalam sehingga masih bisa di selamatkan" jawab Anisa yang sedang membungkus luka di pergelangan tangan seorang santriwati


"aku kekurangan obat dan perlengkapan, obat di pesantren ini stoknya sudah habis. ada sebagian yang harus di infus sedang aku tidak mempunyai botol infus dan perlengkapan lainnya" ucap Anisa


"dimana kita bisa membeli benda-benda seperti itu. apotek jam segini pasti belum buka" jawabku yang juga kebingungan


"kita cari apotek yang buka 24 jam, ayo...biar mereka tidak terlalu lama menunggu kita harus bergerak cepat" Anisa berdiri dan memegang tanganku kemudian menarikku padahal aku belum menjawab apapun


"Nis tunggu, aku harus memberitahu dulu kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain bagaimana baiknya" aku menghentakkan tangan Anisa dan berhenti


"tapi mas"


tanpa menunggu jawaban dari Anisa, aku melesat meninggalkannya berlari kecil ke arah kiayi Zulkarnain dan yang lainnya.


"kiayi, apakah perlu kita membawa mereka ke rumah sakit...?" tanyaku setelah aku tiba di dekat mereka


"apakah dokter itu tidak bisa membantu kita...?" tanya kiayi Anshor


"dia kekurangan perlengkapan kiayi, harus keluar mencari beberapa obat dan perlengkapan untuk bisa menangani para santri" jawabku


"ada berapa santri yang terluka...?" tanya kiayi Zulkarnain


"15 orang kiayi" jawab Ali


"ada sebagian yang harus di infus kiayi, maka dari itu aku membutuhkan perlengkapan yang lainnya. kita tinggal mencari apotek yang buka 24 jam dan membeli obat serta botol infus, jarum suntik serta yang lainnya" ucap Anisa yang datang menghampiri kami


"kalau mereka parah, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja kiayi" ucap pak Umar


"betul, takutnya terjadi apa-apa jika kita membiarkan mereka menunggu lama" timpal pak Odir


"baiklah, kita bawa saja mereka ke rumah sakit" ucap kiayi Anshor mengambil keputusan


pukul 4 pagi, kami akan bersiap ke rumah sakit. hanya kami para laki-laki serta Anisa yang memantau keadaan mereka di dalam mobil karena dirinya adalah seorang dokter.


kami memakai lima mobil, karena banyaknya para santri yang harus kami bawa. aku, Ali, Hasan dan ustad yang bernama Naufal akan mengantar para santri di mobil masing-masing yang telah di sediakan. sedangkan kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain mereka bersama dengan beberapa ustad yang terluka dan juga butuh pengobatan.


"mas, hati-hati" Zelina menghampiriku saat kami akan segera berangkat. dia datang seorang diri sementara mungkin ibu Rosida dan ibu Afifah sedang menjaga Hanum di rumah


"kamu baik-baik di sini ya, aku akan segera pulang jika semuanya sudah selesai" ucapku menangkup wajahnya dengan telapak tangan kananku


Zelina mengangguk dan tersenyum, kemudian mencium punggung tanganku sebelum aku masuk ke dalam mobil.


"mas, aku bareng sama kamu ya" Anisa datang dan merangkul lenganku


"Anisa, bisa kamu menjaga sikap. jangan seperti ini, aku sudah menikah dan kamu tau itu. apa tidak malu kamu selalu datang merangkul ku di depan istriku sendiri" aku menatap tajam Anisa yang berdiri di sampingku


"kenapa sih mas, aku kan hanya merangkul saja tidak melakukan hal apapun. lagipula mbak Zelina kan juga paham kalau kita sahabatan, masa iya mau cemburu dengan sahabat suaminya sendiri" Anisa menatap Zelina dengan sinis


"tentu saja aku tidak cemburu karena aku tau bagaimana perasaan suami aku padamu. jangankan untuk menyimpan rasa, kamu rangkul saja dia tidak mau bukan. jangan mempermalukan diri sendiri mbak Anisa" Zelina menjawab dengan suara lembut bahkan tidak ada rasa amarah di dalam kata yang ia ucapkan


"mas Fatah, aku ikut kamu ya. ayo" Akmal tiba-tiba saja datang dan sudah masuk ke dalam mobil


"Anisa, kamu bisa naik di mobil kamu sendiri saja bersama Hasan" ucapku. karena mobil Anisa memang kami pakai untuk membawa para santri ke rumah sakit


"sayang, aku pamit ya. assalamu'alaikum" aku mencium kening Zelina tepat di hadapan Anisa. tidak peduli dengan Anisa, aku ingin memperlihatkan bahwa aku mencintai istriku bukan wanita lain


"wa alaikumsalam" jawab Zelina melambaikan tangan


sedang Anisa menghentakkan kaki dan menuju ke mobilnya sendiri yang dikemudikan Hasan. untuk pak Umar dan pak Odir mereka tidak ikut karena harus ada laki-laki yang berjaga di rumah. sementara kiayi Anshor bersama kiayi Zulkarnain dalam satu mobil. setelah itu mobil kami perlahan bergerak dan meninggalkan pesantren Abdullah.