Fatahillah

Fatahillah
Bab 117



saat itu Samuel kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya. di lobby hotel dirinya bertemu dengan pak Henry bersama Hafsah yang terlihat mereka berdua akan keluar.


"darimana Sam...?" pak Henry mengajukan pertanyaan


"saya dari bertemu seseorang pak"


"Gara mana...?"


"emm Gara....dia katanya tadi ingin bertemu teman lama. aku di suruh datang lebih dulu" Samuel ragu-ragu memberikan alasan


"tumben kamu nggak di ajaknya. biasanya dimana ada dia di situ ada kamu" timpal Hafsah


"duniaku nggak harus pak Gara terus kali Sah. oh iya kalian berdua mau kemana...?" sengaja Samuel memberikan pertanyaan agar kedua orang itu tidak lagi membahas keberadaan Gara


"mau bertemu seseorang. kami tinggal dulu, tidak akan lama kami akan datang lagi" pak Henry menepuk pelan bahu Samuel kemudian melangkah pergi bersama Hafsah. namun wanita itu kembali memutar tubuhnya dan mendekati Samuel


"Sam, beritahu Gara untuk tetap waspada" kedua mata Hafsah menelisik ke sekitar


"terhadap...?" Samuel mengangkat satu alisnya


"kamu pasti banyak lebih tau keadaan tentang keadaan Gara. apalagi Malasah baru muncul dipermukaan ketika dirinya dalam keadaan tidak sehat. harusnya dia kembali ke gunung Sangiran untuk menemui kiayi Zulkarnain. tapi karena masalah virus ini, dirinya harus berjuang dalam keadaan sakit"


"itulah yang sedang aku pikirkan, bagaimana jika nanti sakitnya itu menyerang saat dia dalam keadaan genting"


Samuel memang tau apa yang terjadi kepada Gara. itulah mengapa dirinya khawatir ketika Fatahillah memberitahu dirinya untuk ke wilayah X seorang diri. padahal sebenarnya Fatahillah tidak ke tempat itu dan juga Fatahillah dalam keadaan sehat.


Hafsah menghela nafas sebelum akhirnya ia memutar kepala sebab pak Henry memanggilnya untuk segera pergi.


"tetap dampingi Gara Sam, selain ibu dan adiknya, dia sepertinya tidak punya tempat untuk bersandar. kalau aku, tentu saja akan akan membantunya jika ia memerlukan bantuan. aku pergi ya"


Samuel menganggukkan kepala, Hafsah pergi meninggalkan dirinya dan masuk ke dalam mobil dimana pak Henry ada di dalamnya. karena tadi Fatahillah sempat menghubunginya untuk memblokir empat wilayah yang tersisa, Samuel kembali menghubungi bosnya itu untuk menanyakan keberadaannya. namun sayangnya Fatahillah tidak menjawab, ia pun berbalik arah kembali keluar kantor dan masuk ke dalam mobilnya. dirinya akan bertemu dengan dokter Najihan. baru saja wanita itu mengirimkan dirinya pesan kalau mereka harus bertemu. wanita itu telah menunggu di gedung terbengkalai tempat kedua orang yang terpapar virus di isolasi.


Samuel tiba di tempat itu. segera dirinya masuk ke dalam gedung dan menuju ke lantai dimana tempat tujuannya. di sana, seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi kayu dan menghadap ke arah dua orang yang terikat di depannya.


"apakah ada solusi dokter...?" Samuel melempar pertanyaan setelah berdiri di samping wanita itu


seorang wanita dengan hijab coklat dan baju tunik warna hitam dipadukan dengan celana kulot warna coklat. dialah dokter Najihan, wajahnya menatap Samuel yang baru saja datang.


"kamu datang sendiri...? dimana Gara...?" Najihan memutar kepala melihat ke arah tangga, tidak ada siapapun di sana. ia menghembuskan nafas kemudian kembali memutar kepala melihat dua pasiennya yang sedang terikat dan memberontak


"Gara tidak bisa datang. katakan saja padaku semuanya, aku tetap akan memberitahunya"


Najihan berdiri dan mendekati meja yang ada di samping dua pasiennya. ia mengambil botol yang kecil seukuran jari manis. isinya adalah cairan putih yang ia masukkan ke dalam jarum suntik dan kemudian Najihan mendekati salah satunya menyuntik di lengannya hingga tanpa menunggu waktu lama orang itu perlahan tenaganya mulai melemah dan tertidur.


"virus ini bukan virus biasa Sam. lebih tepatnya sepertinya ini bukan virus melainkan seperti guna-guna. aku juga tidak tau harus menjelaskannya seperti apa. tapi tadi saat aku datang bersama Abizzar, salah satunya ternyata sudah terlepas dan yang satunya hampir akan bisa melepaskan diri. apakah kamu tau, keduanya kesakitan dan bahkan menutup telinga saat di ponselku terdengar suara adzan untuk mengingatkan waktu sholat dzuhur"


"jadi sebelum sholat dzuhur dokter sudah di sini...?"


Najihan mengangguk dan kembali mengambil jarum suntik. ia beralih ke satunya kemudian menyuntiknya di lengan. perlahan orang itu tubuhnya melemah dan tertidur.


"tubuh normalnya jelas akan merespon setiap obat penenang yang saya berikan. tapi setelah jangka waktunya habis, mereka akan kembali memberontak seperti tadi. untungnya Abizzar tau bela diri dan dia juga anak seorang ustad. Abizzar mengikat kembali keduanya dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. mereka seperti terbakar dan menutup telinga. dengan begitu Abizzar mudah mengikat mereka kembali"


"penyakit ini bukan hal yang harus ditangani oleh medis Sam. kita tau bagaimana kemampuan Gara Sukandar dalam ilmu kanuragannya, bukan hal tabu bagi masyarakatnya tentang hal itu. karena dengan ilmunya itu, dirinya pernah menyelamatkan gunung Gantara dari teror makhluk gaib yang setiap malam membuat masyarakat resah bukan. hanya Gara sendiri yang dapat menyelamatkan mereka" Najihan duduk di kursi di samping salah satu orang itu


"apa mereka dirasuki...?" Samuel mendekat dan menatap lekat keduanya


"entahlah" Najihan kembali menghela nafas


"lalu dimana dokter Abizzar...?"


"ada operasi mendadak yang harus dia lakukan, maka dari itu dia pulang lebih dulu"


Samuel teringat dengan kejadian yang mereka alami di wilayah C. jarum yang dapat melumpuhkan otot syaraf, sepertinya mereka membutuhkan itu.


"dokter, apakah jarum yang kami perlukan sudah di sediakan...?"


"sudah, kali ini stoknya begitu banyak. sebenarnya itulah yang ingin aku beritahu juga"


"baiklah, aku harus menghubungi Gara terlebih dahulu"


Samuel merogoh ponselnya dibalik jas yang ia kenakan. tepat saat itu ternyata Fatahillah juga sedang menghubunginya. senyum Samuel merekah dan ia pun segera menggeser tombol hijau.


[bos]


[Samuel, kamu dimana...?]


[aku sedang bersama dokter Najihan]


Samuel melirik dokter Najihan yang sedang memperhatikannya. wanita itu tersenyum saat tatapan mata mereka saling bertemu.


[tanyakan padanya apakah jarum yang kita pakai kemarin, kita masih memiliki stok...?]


[masih bos bahkan sekarang kita memiliki banyak]


[bagus. kirimkan benda itu ke semua wilayah. jangan lewat darat tapi lewat udara. untuk di wilayah C, X dan G mendarat tepat di tempat camp pengamanan sementara wilayah lainnya mendarat di tempat aman saja. benda itu akan digunakan untuk memburu mereka yang belum tertangkap dan juga berjaga-jaga di wilayah yang belum terpapar oleh virus. aku sudah memberitahu Taufik untuk mengirim helikopter ke wilayah S]


[baik bos. tapi apakah aku boleh tau bos sekarang dimana...?]


[di tempat yang aman. ingat Sam, jangan memberitahu keberadaan ku kepada siapapun. anak buah ayah sepertinya sedang mengincar ku. tadi saja ada yang mengikutiku namun aku berhasil meloloskan diri]


[baiklah, aku akan turun tangan langsung untuk membantu menangkap orang-orang yang masih belum ditemukan itu]


[ ke wilayah X saja, bantu Taufik di sana. di wilayah C dan G, sudah ada Ahmad dan Arganta]


[baiklah, aku bersiap sekarang. tapi bukankah kamu sedang ke wilayah X, berarti kita akan bertemu di sana...?]


[tidak, aku mengganti arah ke wilayah C. hati-hati Sam, aku mengandalkan mu]


[siap]


"dokter, kami membutuhkan barang-barang itu sekarang juga" Samuel memberitahu setelah ia mematikan panggilan teleponnya


"kalau begitu biar saya beritahu pihak rumah sakit untuk membawa ke sini"


"jangan di sini, karena tidak ada tempat helikopter akan mendarat dan juga jangan sampai ada orang yang datang dan melihat mereka berdua. di lapangan biasa saja, kita menunggu di sana"


di dalam mobil, Fatahillah yang baru saja mengubungi Samuel berharap semoga apa yang mereka lakukan selalu dilindungi oleh yang Maha Kuasa.


tadi Taufik baru saja selesai menghubunginya dan mengatakan mereka membutuhkan jarum itu lagi untuk melumpuhkan orang-orang itu. masih banyak yang berkeliaran dan harus ditangkap secepat mungkin. penanganan pengobatan akan dilakukan setelah orang-orang itu ditangkap dan dikumpulkan di tempat isolasi.


Taufik bahkan mengatakan sesuatu seperti yang dikatakan oleh Yusuf dan dokter Najihan. kalau bisa jadi virus itu bukanlah yang dilakukan oleh orang biasa melainkan dia yang memiliki ilmu hitam. Fatahillah semakin yakin kalau pengobatannya tidak bisa dilakukan dengan cara medis.


"apakah kita akan langsung ke perbatasan untuk melancarkan rencana...?" tanya Hasan


"iya, tapi jangan terlalu dekat dengan para penjaga"jawab Fatahillah


"memangnya kenapa...? kan dengan melihat dirimu mereka tidak akan menggagalkan rencana kita" timpal Aji Wiguna


"kalian ingat kan bahwa Gandha Sukandar tetap memburu Gara meskipun sudah berada di gunung Gantara. tadi saja aku diikuti oleh seseorang. lebih baik berpenampilan seperti ini agar tidak ada orang yang mengenaliku dengan begitu Gandha Sukandar tidak akan tau keberadaan ku sekarang. Samuel pun taunya aku ke wilayah C. jika aku memperlihatkan wajahku dan mereka tau keberadaan ku maka tugas kita akan semakin banyak saja. mengurus mereka dan juga menangkap orang yang menyebabkan ini semua"


"benar juga. tapi bagaimana caranya mereka akan percaya kalau kita adalah anak buah Gandha Sukandar"


"pertama kalian dulu yang turun dan memberitahu mereka. aku tetap akan di dalam mobil. kalau mereka tidak percaya, ya tinggal menghubungiku dan berikan kepada mereka untuk aku bicara. setelah selesai maka aku akan turun bergabung seolah-olah aku adalah tim kalian"


"baiklah, semoga rencana kita berhasil" ucap Hasan


"semoga saja" Fatahillah begitu berharap


mereka tiba di wilayah D menjelang sore hari. perjalanan masih membutuhkan 1 jam lagi untuk bisa sampai di perbatasan antara wilayah D dan wilayah G. 1 jam itu hanya memakan waktu beberapa menit sebab Aji Wiguna mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan tinggi.


dua mobil berhenti di dekat banyaknya tenda yang sengaja di bangun untuk tempat istirahat para penjaga. melihat kedua mobil itu, salah seorang laki-laki datang menghampiri. sepertinya baru saja selesai sholat karena laki-laki itu memakai sarung dan baju koko.


"cari siapa...?" tanya laki-laki itu saat melihat empat orang turun dari mobil


Aji wiguna mendekatinya dan mulai mengatakan siapa mereka. Tegar dan Yusrif bersandar di mobil mereka sementara Hasan memilih duduk di bangku kayu yang ada di samping tenda.


"syukurlah kalau bos Gara mengirimkan bantuan. setidaknya kita bertambah banyak"


di luar dugaan, laki-laki itu tidak lagi menanyakan apakah mereka benar-benar orang suruhan Gara atau bukan. namun malah langsung merasa senang dengan kedatangan mereka. Hasan berdiri dan mengetuk pintu mobil, Fatahillah keluar dengan penampilannya seperti tadi.


"oh jadi kalian berlima...?" tanya laki-laki itu saat melihat Fatahillah turun


"iya, dia tadi ketiduran di perjalanan" jawab bohong Aji Wiguna


Fatahillah mendekat dan memperkenalkan diri sebagai Elang. sementara yang lain tetap dengan nama asli mereka. laki-laki itu pun memperkenalkan dirinya, namanya adalah Fatih. hampir sama dengan nama Fatahillah yang biasa dipanggil dengan Fatah.


Fatih memperkenalkan mereka kepada semua orang. di tempat itu berjumlah lebih seratus orang yang berjaga. dalam keadaan genting seperti itu, memang tidak boleh sedikit keamanan yang di kerahkan.


"kalau begitu mari aku antar ke tempat penyimpanan senjata. di sana kalian bisa mengambil jarum dan pistol sebagai pegangan. kita tidak boleh membunuh mereka, itulah perintah bos Gara" ucap Fatih


"ini sudah mendekati magrib. kalau kita sholat, lalu siapa yang akan berjaga...?" tanya Fatahillah


"kami semua sholat tepat di depan gerbang ini, jadi jika ada penyusup yang datang kami bisa melihatnya" Fatih menunjuk di tengah jalan yang memang sengaja di siapkan


"mari saya antar ke tenda penyimpanan senjata" ajak Fatih


tenda masing-masing di dirikan di setiap pinggir jalan saling bersampingan. ada yang dibagian kanan dan ada pula di bagian kiri. mereka memasuki tenda penyimpanan senjata. di sana ada satu boks kayu yang belum dibuka dan ada satu yang telah dibuka. boks itu hanya berjumlah dua.


"ini adalah jarum yang kami gunakan untuk melumpuhkan otot mereka tanpa harus menggunakan pistol asli. tapi kami kekurangan benda ini. semoga saja secepatnya akan datang. Taufik telah memberitahuku kalau benda itu akan di kirim ke semua wilayah gunung Gantara" terang Fatih


"siapa yang bertanggung memimpin tim di sini...?" tanya Fatahillah


"saya, memangnya kenapa...?" Fatih ingin jawaban


"ah tidak, aku hanya bertanya saja" Fatahillah tersenyum di balik maskeran


"emmm... itu...kenapa kamu menggunakan masker. bagaimana kami bisa melihat wajahmu kalau tertutup seperti itu"


"dia sedang batuk jadi ya dia lebih baik menggunakan masker. itu untuk kebaikan kita semua" Hasan menjawab


"oh, kalau sakit kami di sini mempunyai obat. nanti aku ambilkan. silahkan pilih pistol yang kalian gunakan dan isi pelurunya dengan jarum ini"


"begini Fatih, sebenarnya....kami mempunyai rencana" ucap Aji Wiguna


"rencana...? rencana apa...?" Fatih menatap mereka secara bergantian


Fatahillah kemudian menjelaskan rencana apa yang akan mereka lakukan. memasang umpan untuk menjebak orang yang hendak menyebarkan virus itu.


"Tegar dan Yusrif yang akan jadi umpannya" ucap Aji Wiguna seketika


"aku...?"


"aku...?"


Tegar dan Yusrif sama-sama menunjuk diri mereka sendiri.


"kenapa, kalian membantah perintahku...?" Aji Wiguna sudah melotot ke arah mereka berdua


"bukan begitu bos. tapi kan harusnya dari awal bos mengatakan yang sebenarnya supaya kami mempersiapkan mental gitu loh" Yusrif menggaruk kepala


"mental apa lagi yang kamu persiapkan. mereka bukan makhluk jadi-jadian seperti yang kamu temui di taman kota dan mengajakmu ke hotel hingga berakhir dengan main kejar-kejaran"


"astaga bos, jangan diumbar juga kali aib aku" Yusrif mencebik sementara Tegar menahan tawa


"memang begitu kan, atau perlu aku bawakan kamu Toni nama siangnya dan Tini nama malamnya untuk menemani kamu. kalian kan pernah hampir kebablasan" Aji Wiguna mengangkat satu alisnya menggoda Yusrif


"hahaha" tawa Tegar tidak bisa lagi ia tahan. dia masih ingat kejadian geli antara Yusrif dan banci kaleng yang bernama Toni itu. Yusrif memukul bahu temannya itu yang sedang mengejeknya sementara yang lain hanya senyum-senyum geli mendengarnya


"iyalah iyalah...aku ridho dan ikhlas melepas lajang. eh maksudnya menjadi umpan" dengan wajah masam Yusrif mengiyakan


(tolong nyawaku Engkau lindungi Tuhan. aku belum nikah loh, masa iya mati dalam keadaan perjaka. belum merasakan indahnya surga dunia. ish bos ini, pengen ku gigit rasanya) Yusrif menggerutu dalam hati


"jangan mengumpatku dalam hati Yus, atau aku akan benar-benar menghubungi Toni" ancam Aji Wiguna


"aku punya nomornya bos" Tegar mulai ikut-ikutan


"ish...iya iya, astaga heran banget aku. bos punya Indra keenam ya, apa-apa pasti di tau. kesal banget aku" Yusrif semakin cemberut


Fatahillah terkekeh melihat tingkah Yusrif. memang usianya tidak terpaut jauh dengan Akmal dan yang membuat Fatahillah tertawa pelan adalah, pemuda itu tingkahnya sama dengan Akmal. ia jadi teringat pemuda itu. dalam hati Fatahillah berdoa semoga Akmal dan Alex baik-baik saja.