
"mbak, kak Linda ada...?" Zelina yang baru saja masuk di salah satu butik bersama Anisa dan Zulaikha, langsung menanyakan keberadaan pemilik butik
"di ruangannya mbak, sebentar ya saya panggilkan. mbak Zelina kan...?" wanita yang memaki gamis hitam dengan jilbab ungu, menjawab dan bertanya sopan
"iya mbak"
"ya sudah silahkan duduk dulu mbak, biar saya panggilkan mbak Linda"
wanita itu mempersilahkan ketiganya duduk di sofa kemudian ia melangkah menaiki anak tangga untuk memanggil bosnya.
"setelah ini apakah kalian tidak akan mencari cincin pernikahan...?" tanya Zelina kepada keduanya
"mungkin besok atau lusa, kalau cincin mah gampang mbak" timpal Zulaikha
"kalau aku dan mas Yusuf sudah mencari cincin beberapa hari yang lalu" imbuh Anisa
Zelina mengangguk dan setelahnya orang yang mereka tunggu datang menghampiri mereka dengan senyum yang mengembang.
"Zelin" Linda langsung memeluk Zelina "masya Allah...lama tidak bertemu. kamu semenjak menikah sudah lupa sama aku ya" Linda mengerucutkan bibirnya
"maaf kak, soalnya baru kali ini juga aku punya waktu. kemarin-kemarin aku di kota B. oh ya perkenalan, ini Anisa dan Zulaikha yang aku bilang kemarin"
Linda menyalami satu persatu dan mempersilahkan mereka duduk kembali.
"kamu masih muda sekali tapi sudah ingin menikah" Linda melihat Zulaikha
"sudah ketemu jodohnya mbak" Zulaikha menjawab sopan
"iya iya... tidak masalah mau menikah umur berapa asal jangan masih SMP aja" Linda tertawa kecil "aku juga dulu menikah muda dan Alhamdulillah pernikahan aku tetap harmonis sampai sejauh sekarang ini. yang intinya pandai-pandai kita memahami dan mengerti perasaan pasangan" lanjutnya lagi
"mas Taufik keluar kota ya kak...?"
"iya...jadi pengusaha memang selalu sibuk Zel. ditinggal terus sama paksu, tapi itu semua demi aku dan anak-anak juga. kamu taulah bagaimana, kan kamu juga sekarang telah menjadi CEO di perusahaan ayah kamu"
"aku hanya sesekali ke sana kak, kalau ada rapat penting saja. tapi kalau nggak biasanya Afkar yang hendel semuanya"
"Carikan jodoh lah si Afkar itu Zelin, bisa-bisa dia jadi bujang lapuk"
"nantilah dia cari sendiri, kalau sudah tiba waktunya pasti dikasih jodoh sama Tuhan"
"baiklah, jadi kalian mau baju pengantin seperti apa. kalau mau sewa yang sudah jadi tinggal milih di jejeran yang tersedia tapi kalau mau aku jahitkan maka harus mengukur badan terlebih dahulu" Linda menatap Anisa dan Zulaikha bergantian
"kalau menurut aku sih mending sewa aja mbak. lagian kalau jahit mau beli aku seperti sayang saja sama bajunya, cuman dipakai sekali terus setelah itu nggak di pakai lagi" ucap Zulaikha "kalau mbak Anisa gimana...?"
"sewa sajalah, lagipula aku lihat yang sudah ada sepertinya bagus dan cantik-cantik semua" Anisa setuju dengan usulan Zulaikha
"kalau begitu silahkan kalian memilih mana yang kalian suka dan juga mencobanya. tapi ya harusnya calon suami kalian datang, kenapa hanya kalian yang hadir...?" Linda bertanya
"lagi sibuk mbak, bagaimana kalau kami perlihatkan saja foto mereka. dengan begitu mbak bisa tau ukuran jas yang pas untuk mereka seperti apa" jawab Anisa
"oh boleh boleh...mana gambar mereka supaya aku memilihkan jas yang cocok untuk keduanya"
Anisa memperlihatkan foto Yusuf sementara Zulaikha memperlihatkan foto Fauzan. Linda berdecak kagum dan menggeleng kepala.
"memang para suami idaman, ganteng dan berkelas. yang satu dokter yang satunya sepertinya pengusaha"
"calon suami aku bukan pengusaha mbak, dia hanya bekerja di perusahaan besar dan menjadi orang kepercayaan bosnya" Zulaikha memperlurus pemahaman Linda
"oh begitu ya" Linda manggut-manggut "ya sudah silahkan memilih baju yang kalian suka, biar aku mencarikan jas untuk para calon suami kalian berdua"
Anisa dan Zulaikha menuju ke tempat dimana banyak ragam baju pengantin yang di gantung dan juga di pasang di patung-patung. Zelina menunggu keduanya di tempat duduknya. saat menikah dengan Fatahillah, ia tidak mengenakan baju pengantin layaknya yang sering dipakai saat akan menuju pernikahan. dirinya hanya memakai pakaian yang bercampur dengan darah, darah dari Panji Gumilang kakaknya sendiri. maka dari itu saat Anisa dan Zulaikha memintanya untuk menemani mereka mencari baju pengantin, Zelina begitu antusias.
"mbak sini" Zulaikha memanggil Zelina
Zelina bangkit dan menghampiri mereka. Zulaikha meminta pendapat baju mana yang cocok untuknya sebab semua yang tergantung di tempat itu menurutnya adalah baju-baju yang cantik dan bagus. dirinya bingung harus memilih yang mana.
"aku mau pakai hijab nanti mbak" ucap Zulaikha
"sungguh...?" mata Zelina berbinar Mendengar penuturan adik sepupu dari suaminya itu
"iya, meskipun belum memakai cadar seperti mbak Zelina tapi aku mau memakai hijab. aku hanya ingin semua yang ada pada diriku seutuhnya hanya boleh dilihat oleh mas Fauzan nanti"
"masya Allah, semoga Istiqomah ya. insya Allah, Allah memudahkan untuk kebaikanmu" Zelina tersenyum senang
"aku juga berpikir seperti itu, tapi apakah aku sanggup. sepertinya akan panas dan gerah" Anisa menimpali
"hanya perasaan kamu saja Nis, tapi coba deh kamu lakukan, insya Allah semuanya akan baik-baik saja" jawab Zelina
"nanti deh aku pikirkan lagi, mungkin aku juga mau meminta pendapat dari mas Yusuf"
"iya, jangan dipaksakan karena sesuatu yang terpaksa itu tidak baik"
****
empat mobil pickup sudah terisi penuh dengan muatan belanjaan. bahkan di bagasi mobil yang dikemudikan Ali, masih ada juga sebagian.
"masya Allah...apa ini tidak berlebihan bu. ini belanjaan kita banyak sekali" Maryam ternganga melihatnya
"para santri di pesantren kan banyak Mar, kalau hanya satu mobil mana cukup" jawab ibu Rosida
"jadi masih ada lagi yang harus kita beli...?" tanya Ali
"sudah semua nak Ali, kita pulang sekarang saja. jangan lupa singgah di warung makan ya untuk membeli makanan untuk orang di rumah dan juga untuk mertua kamu"
"baik bu"
mobil Ali melaju pelan terlebih dahulu kemudian di susul oleh empat mobil pickup. mereka berhenti di warung makan dan memesan makanan, setelahnya mereka kembali pulang. apalagi matahari semakin naik dan akan semakin panas nantinya.
lima mobil itu masuk ke dalam halaman pesantren dan berjalan pelan ke rumah kediaman pak Umar. para santri sampai terheran-heran dan penasaran mobil itu memuat barang apa, sebab begitu banyak dan penuh.
pak Umar dan pak Odir yang sedang bercerita di teras rumah, mengalihkan pandangan ke arah mobil-mobil itu.
"masya Allah...banyak sekali" pak Odir kaget melihatnya
"karena para santri juga banyak pak Odir" pak Umar menjawab tanpa beban. ia tidak merasa sia-sia mengeluarkan uang banyak untuk semua para santri dan santriwati di pesantren Abdullah
Ali dan semua orang turun dari mobil. satu persatu barang-barang itu diturunkan dan dibawa masuk ke dalam rumah. untungnya ruang tamu di rumah itu nampak luas sehingga bisa menampung barang-barang itu, meskipun ada juga yang akan di simpan di ruang tengah.
semua orang nampak sibuk menurunkan barang-barang tersebut. para perempuan masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makanan sebab hari sudah menjelang siang. anak-anak santri yang sedang melewati rumah itu, ikut membantu membawa plastik-plastik yang entah apa isinya namun terasa berat.
hampir satu jam menurunkan semua barang belanjaan, para santri itu pamit ke masjid sementara pak Umar membayar jasa mobil yang telah membantu mereka.
"kalau begitu aku juga mau mengembalikan mobil ini pak" ucap Ali
"nanti saja, beritahu temanmu kalau mobilnya kita sewa beberapa hari ke depan, untuk uangnya biar saya transfer" ucap pak Umar
"bukannya bapak dan yang lainnya akan pulang ke kota S...?"
"kami tetap akan pulang Ali tapi belum ditau kapan waktunya. ayo masuk ke dalam, kita minum yang dingin-dingin" ajak pak Umar
Maryam membawakan mereka minuman es teh sebagai pelepas dahaga karena kehausan.
"setelah sholat dzuhur. masih mau ikut...?" timpal Ali
"iya, tentu saja aku ingin ikut"
azan dzuhur mulai terdengar di masjid pesantren. pak Umar, pak Odir dan Ali segera berangkat ke masjid sementara Maryam akan pulang ke rumah sebab setelah sholat dzuhur dia dan suaminya akan berangkat ke kecamatan Madiun. pembungkusan hadiah untuk para santri akan di lakukan besok pagi sebab Maryam tidak ingin jika dirinya tidak ikut berpartisipasi.
setibanya di rumah, makanan untuk kedua orang tuanya ia letakkan di atas meja dan ia menuju ke kamar untuk berwudhu dan sholat. pukul 13.00, Ali baru saja pulang dari masjid bersama kiayi Anshor. umi Zainab menyiapkan makanan yang dibeli anaknya tadi sementara Ali segera bersiap-siap untuk berangkat ke tempat tujuan.
"umi...Abah, kami berangkat dulu" keduanya menghampiri umi Zainab dan kiayi Anshor yang ada di meja makan
"kalian akan menginap...?" tanya umi Zainab
"jika memungkinkan untuk pulang maka kami akan pulang tapi jika tidak, mungkin kami akan menginap semalam dan besok pagi baru pulang" Ali menjawab
"hati-hati di jalan. tidak perlu cepat-cepat untuk pulang, nikmati waktu luang kalian berdua. kalau perlu kenapa tidak sekalian saja pergi untuk bulan madu, bagaimana menurut umi...?" kiayi Anshor meminta pendapat istrinya
"boleh juga bah, dengan begitu siapa tau kita cepat dapat punya cucu" umi Maryam mengangguk setuju
Maryam salah tingkah dengan gurauan kedua orang tuanya sementara Ali hanya tersenyum menimpali.
"kami pergi bah, umi. assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
keduanya mencium punggung tangan kiayi Anshor dan umi Zainab. mereka keluar rumah dan masuk ke dalam mobil, mobil kiayi Anshor yang mereka pakai sebab Ali mempunyai mobil, dirinya hanya mempunyai motor namun tidak mungkin keduanya pergi menggunakan motor.
"mas, kita berhenti sebentar di minimarket yang ada di depan ya, aku ingin membeli minuman"
"iya"
tepat di depan minimarket yang di maksud oleh Maryam, mobil itu berhenti. Maryam keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam minimarket. selang hanya beberapa menit saja dirinya kembali dengan kantung plastik belanjaan miliknya. Ali menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Maryam" panggil Ali dengan lirih
"ya mas" Maryam menoleh melihat wajah suaminya yang sedang fokus menatap lurus ke depan
"apakah kamu sudah siap untuk mempunyai anak...?" Ali melirik sekilas istrinya dan setelahnya ia kembali fokus menyetir
Maryam terdiam beberapa saat. ia yang sedang meneguk minumannya, segera menelan dan menutup botolnya.
"memangnya kenapa mas...? mas belum siap mempunyai anak...?" Maryam bertanya balik.
kalau dilihat, Ali sudah cukup matang usia untuk memiliki seorang anak. namun dalam hati Maryam mungkin Ali belum siap jika harus melakukan itu bersama dirinya.
"aku malah ingin secepatnya punya anak"
"lalu kenapa mas bertanya seperti itu...?"
"aku ingin memastikan apakah kamu bersedia mempunyai anak dariku atau tidak. mungkin saja dirimu belum sepenuhnya menerimaku dan ingin menunda kehamilan. jika memang benar begitu maka aku bersedia untuk menerimanya"
"mas" Maryam mengelus bahu suaminya dengan lembut "jika kita sudah menerima satu sama lain, bukankah itu artinya kita juga bersedia untuk memiliki anak. untuk apa di tunda jika kamu menginginkan anak. bukan hanya kamu, akupun ingin mempunyai anak
Ali menepikan mobilnya di tempat teduh, ia memposisikan dirinya menghadap ke arah Maryam.
"kamu bersungguh-sungguh...?"
"apakah aku terlihat sedang bercanda...?"
Ali tersenyum dan menarik Maryam memeluknya.
"terimakasih Maryam"
"untuk apa berterimakasih, kamu seperti bersama dengan orang lain saja mas" Maryam membalas pelukan suaminya
tidak pernah terpikir oleh Maryam jika dirinya akan menikah dengan Ali. dulu dirinya selalu mencari cara agar Naila bisa mempunyai waktu untuk bisa berdua dengan Ali. ternyata takdir Tuhan tidak dapat diprediksi oleh siapapun, ia yang mengharapkan Ali menikah dengan kakaknya namun kenyataannya laki-laki itu malah menjadi suaminya sendiri. dan kini mereka bertekad untuk mempunyai keturunan, Maryam bersungguh-sungguh dalam hati untuk menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anaknya kelak.
****
"mbak sebenarnya kita mau kemana...?" tanya Akmal
setelah makan siang tadi, Nagita menyuruhnya untuk menemaninya ke suatu tempat namun Nagita tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.
"ke acara pernikahan" jawab Nagita yang duduk santai di samping Akmal yang sedang mengemudi
"lah...aku pakaiannya begini loh mbak, nggak modis banget ke acara nikahan seperti ini"
"kan kita bisa singgah di toko baju Mal, tenang saja"
"memangnya pernikahan siapa sih...? mantan ya...?"
"kok tau, dukun ya...?"
"bukan, aku anaknya pak Rahmat" celetuk Akmal yang membuat Nagita tertawa pelan
sementara di kediaman pak Danang, Fatahillah kini tengah berada di kamar Aji Wiguna. melihat keadaan Aji Wiguna yang sudah membaik, Fatahillah kini berniat untuk membuka kunci yang menyegel kekuatan Aji Wiguna.
hanya mereka berdua yang ada di dalam kamar itu, Fatahillah tidak mengizinkan siapapun masuk untuk ke dalam kamar.
"jika aku membuka kunci kekuatan milikmu, aku punya satu permintaan" ucap Fatahillah
"memanglah di dunia ini tidak ada yang gratis" Aji Wiguna tersenyum tipis "katakan apa yang kamu inginkan...?"
"pertama kamu tidak akan menggunakan kekuatan mu untuk menyerang aku ataupun orang-orang yang berkaitan denganku. kedua...aku ingin kamu membantuku"
Aji Wiguna menaikkan satu alisnya, ia penasaran kenapa Fatahillah meminta bantuannya. ia tidak bersuara karena masih ingin mendengar kelanjutan ucapan Fatahillah.
"aku ingin kamu ikut denganku ke gunung Gantara"
"gunung Gantara...?"
"iya, aku mempunyai urusan di sana dan kamu harus membantuku"
"kenapa harus aku, bukannya ada Hasan dan Akmal yang akan menemani kamu"
"Hasan sedang terluka sekarang dan dirinya belum sepenuhnya pulih. sementara Akmal, dia akan mengantar pulang ibu Kamila dan Haninayah ke kota B. hanya kamu dan Alex yang bisa aku mintai bantuan saat ini"
"memangnya kenapa kamu tidak pergi sendiri saja. urusan apa sampai harus melibatkanku segala"
"akan aku beritahu, jika kamu bersedia. jika tidak maka aku tidak akan membantumu"
"heh licik sekali kamu, bukannya kemarin kamu sudah berjanji padaku"
"ada kalanya janji dibuat untuk diingkari" Fatahillah tersenyum tipis
"curang sekali kamu" Aji Wiguna mendengus kesal "baiklah, aku akan membantumu. kamu puas...? maka sekarang cepat lakukan apa yang harus kamu lakukan"
dalam hati Fatahillah tersenyum penuh kemenangan. Hasan sudah lebih baik sekarang, hanya saja dirinya masih lemah. kalaupun nanti ia memaksa untuk tetap ikut, maka Fatahillah harus menunggu beberapa hari lagi menunggu Hasan benar-benar pulih total. sengaja ia mengajak Aji Wiguna agar dirinya mempunyai pasukan tambahan untuk menghadapi musuhnya di gunung Gantara nanti.