
perlakuan yang diberikan Alex kepada Jeni membuat gadis itu merasa nyaman. pasalnya saat ini Jeni berada dalam pelukan Alex. laki-laki yang baru saja ia temui dan menyelamatkan dirinya.
"gimana Mal, ketemu mobilnya...?" Alex menatap tajam ke depan bahkan samping kiri kanan
"ketemu mas, di depan sana. tiga mobil setelah mobil kita" Akmal menunjuk mobil hitam di depan sana
"jangan sampai lolos Mal, kejar sampai dapat"
"tentu saja, serahkan semuanya padaku" Akmal menjawab penuh semangat
Alex menundukkan wajahnya untuk melihat seorang gadis yang kini ia peluk. sebenarnya dirinya canggung, begitu canggung karena setelah sekian lama percintaannya berakhir dengan sang kekasih, baru kali ini dirinya begitu dekat dengan seorang wanita. apalagi sekarang wanita itu masih begitu muda.
Jeni saat itu menggenggam erat jemari Alex, seakan tidak ingin laki-laki itu meninggalkannya. dapat ia dengar deru nafas Alex yang menerpa dahinya dan juga detak jantung laki-laki itu.
(perasaan apa ini, kenapa aku begitu nyaman dipelukannya padahal baru saja pertama bertemu) Jeni membatin
"kamu sudah baik-baik saja...?" tanya Alex, karena ia melihat Jeni tidak lagi menutup matanya
Jeni menarik tubuhnya dan sedikit menjauh dari Alex namun tidak dengan tangannya. tangan itu masih terus menggenggam jemari besar Alex. tangan kecilnya terus menggenggam kuat tangan Alex.
"aku baik-baik saja, tadi...tadi aku hanya ketakutan. terimakasih kak" Jeni menatap kedua mata Alex
(tampan) satu kata itu bukanlah kebohongan yang ia katakan. dari jarak dekat seperti itu, Jeni dapat melihat dengan jelas wajah Alex yang putih dan tampan. apalagi lesung pipinya di sebelah kanan, menambah kharisma di wajah laki-laki itu.
"syukurlah" Alex tersenyum "minumlah dulu. Mal, tolong ambilkan air minum di laci mobil"
Akmal meraih laci mobil dengan tangan kirinya dan memberikan botol minuman kepada Alex. minuman itu ia berikan kepada Jeni.
"terimakasih kak"
"sama-sama"
sedari tadi Akmal terus mengejar mobil hitam yang kini telah berada di depan mereka. tidak ingin kehilangan jejak lagi, Akmal melaju begitu kencang dan membelokkan mobil itu, menghadang mobil hitam itu di tengah jalan.
kedua penumpangnya yang tidak siap dengan keadaan itu, terhuyung ke depan. untungnya Alex dengan cepat menahan kepala Jeni yang hampir terbentur di kaca mobil. sementara dirinya terbentur di belakang tempat duduk Akmal. posisi mereka saat ini, Alex seperti sedang berada di atas Jeni, keduanya begitu dekat.
"Mal, apa kamu gila. kalau mau berhenti mendadak bilang-bilang kek" Alex memarahi Akmal sambil menarik Jeni kembali duduk. sementara gadis itu, tidak dapat mengalihkan mata dari wajah Alex, perlakuan Alex persis sama seperti kakaknya. begitu peduli dan perhatian.
"maaf mas, tapi target kita sudah di depan mata" Akmal menunjuk mobil yang ia hadang.
melihat mobil yang mereka kejar sudah berhasil di hadang, Alex membuka pintu mobil hendak keluar. sayangnya ternyata tangannya masih digenggam erat oleh gadis yang bersamanya sehingga tubuhnya tertahan di ambang pintu mobil. kedua matanya mengarah dimana jemarinya juga ternyata tanpa sadar menggenggam erat jemari kecil Jeni.
"boleh aku keluar kan...?" tatapan Alex beralih ke wajah Jeni
Jeni yang melihat semua itu, refleks melepaskan tangannya dan meminta maaf.
"maaf kak"
Alex tidak mengatakan apapun, dirinya langsung turun dan menutup pintu. Akmal ternyata sudah lebih dulu turun dan telah berhadapan dengan lima orang bodyguard Gatot, sementara laki-laki itu bersembunyi di belakang mereka.
"hei Gatot kaca bin Subroto, anak buahmu yang hampir 20 orang di bar tadi sudah kami lumpuhkan. dan sekarang kamu hanya mempunyai lima anak buah. siap-siap saja jadi perkedel nanti" Akmal dengan santai melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di mobil, sementara Alex menatap lurus ke arah orang-orang itu.
"hei kalian, hajar mereka....kenapa diam saja" Gatot, laki-laki yang tambum dengan perut buncit meneriaki anak buahnya.
saling pandang satu sama lain, anak buah Gatot mulai menyerang keduanya. benar dugaan Akmal, lima orang itu kini babak belur dan terbaring di jalanan.
melihat semua anak buahnya sudah tidak berdaya, Gatot hendak melarikan diri. ia berlari menjauh dan satu tembakan tepat mengenai pahanya sehingga laki-laki itu jatuh ke tanah.
Alex menghampiri Gatot kemudian mencengkram kerah bajunya. Jeni melihat itu semua, ia berharap Alex akan baik saja melawan anak buah Gatot dan terbukti laki-laki itu kini tidak terluka sedikitpun.
"mau bayar barang bos Gandha atau nyawamu melayang...?"
"ampun... ampun. baik, saya akan bayar, saya akan bayar" Gatot ketakutan apalagi Alex menodongkan pistol di dahinya
"berikan uangnya"
"aku tidak membawa uang cash, bagaimana kalau membayar melalui rekening saja"
Alex mendengus kesal, ia memutar kepala ke arah Akmal dimana laki-laki itu sedang berada di dalam mobil Gatot.
"Mal, kemari" panggil Alex
"bentar mas" teriak Akmal
menunggu beberapa menit Akmal menghampirinya dengan memegang amplop coklat besar.
"apa itu...?"
"uang, mungkin sekitar 100 juta" Akmal mengamati isi di dalam amplop itu.
"kamu bilang tidak mempunyai uang cash, lalu itu apa. jangan main-main denganku ya" kembali Alex memegang kerah baju Gatot.
"b-bukan...bukan begitu maksudku. uang itu tidak cukup untuk membayar kalian, j-jadi"
"jadi apa" bentak Alex
Gatot menutup mata karena Alex sudah semakin marah padanya. laki-laki tambum itu mengambil ponselnya dari balik jasnya dan memberikan kepada Alex.
"kamu bisa menghubungi anak buahku untuk mentransfer uang di rekening mu"
Alex mengkode Akmal untuk mengambil ponsel itu. setelahnya Alex menghubungi Gandha Sukandar untuk memberitahu pekerjaan mereka saat ini.
[halo Alex]
[kami sudah menangkap Gatot, tapi dia tidak mempunyai uang cash untuk membayar tunai. dia meminta rekening bos]
[katakan padanya, uangnya dia kirim lewat rekening Baron. dia sudah akan paham tentang itu]
[baik bos]
[kerja bagu kalian berdua. setelah itu, maka pergilah ke pelabuhan untuk tugas selanjutnya]
[baik bos]
"Mal hubungi anak buah pak tua ini dengan ponsel itu"
"namanya...?" Akmal menggoyangkan ponsel itu di depan wajahnya
"Wisnu" jawab Gatot
Akmal mencari nama Wisnu di ponsel itu. setelahnya ia melakukan panggilan. tidak menunggu lama, panggilan itu diangkat oleh pemilik ponsel.
[halo bos] suara laki-laki mulai terdengar
Akmal menghampiri Gatot dan mendekatkan ponsel itu di depan wajahnya. tidak lupa ia menekan tombol speaker agar pembicaraan mereka di dengar.
[halo Wis]
[iya bos, ada apa...?]
[kirimkan uang 200 juta di rekening Baron sekarang juga]
[200 juta...? untuk apa bos uang sebanyak itu. bos main judi lagi...?]
[sudah jangan tanyakan kenapa, kirimkan saja] Gatot membentak
[baiklah, akan saya kirim sekarang]
tidak ada lagi suara selain angin malam yang menemani mereka. menjelang sekian menit Wisnu kembali memberitahu kalau dirinya telah mengirimkan uang sesuai dengan yang diperintahkan oleh bosnya. Akmal mematikan panggilan dan menyimpan ponsel itu di saku jas Gatot.
"lalu kita apakan si perut buncit ini mas...?"
"tinggalkan saja di sini" Alex bangkit dan menjauh
keduanya meninggalkan Gatot yang meminta tolong kepada mereka untuk di bawa ke rumah sakit. namun keduanya memasang telinga pura-pura tuli dan masuk ke dalam mobil.
"kalian berdua tidak apa-apa...?" pertanyaan Jeni menyambut mereka
"kami baik nona. sekarang katakan dimana kami harus membawamu sebab kami mempunyai urusan lain" Akmal melirik Jeni di spion gantung, mobil itu bergerak meninggalkan Gatot seorang diri.
"baiklah. katakan alamatnya dimana...?"
"jalan Kenanga nomor 10"
mobil itu melaju ke tempat tujuan mereka, jalan Kenanga. sebuah rumah bercat warna putih, mereka telah sampai di rumah tujuan Jeni. Tasya, gadis itu kini sedang berdiri di depan pagar menunggu kedatangan Jeni. saat melihat sahabatnya turun dari mobil, Tasya bergegas menghampirinya dan memeluknya.
"kamu baik-baik saja kan Jen, nggak ada yang luka kan...?" Tasya memindai setiap inci tubuh Jeni
"aku baik Sya, semua karena kedua kakak ini" ucap Jeni melihat ke arah Alex dan Akmal yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Jeni menghampiri keduanya dan mengucapkan terimakasih. Tasya pun demikian, keduanya merasa berutang budi kepada kedua lelaki itu.
"kalau begitu kami pergi dulu. saranku jika mau mencari pekerjaan maka cari di tempat yang aman saja. bar bukanlah tempat untuk gadis polos seperti kalian berdua" ucap Alex
"iya kak, aku memang akan keluar dari tempat itu. sekali lagi terimakasih" timpal Tasya
"ayo Mal" ajak Alex
"sampai bertemu lagi gadis-gadis manis" Akmal melambaikan tangan dan ikut masuk ke dalam mobil
"hati-hati kak" ucap Tasya sambil melambaikan tangan.
Jeni, tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah Alex. bahkan sampai laki-laki itu masuk ke dalam mobil, Jeni tetap menatap tanpa ingin berpaling. mobil itu mulai bergerak melewati keduanya. saat itu Alex menoleh dan dirinya bertemu tatap dengan Jeni. hanya sebatas itu, tanpa ada senyuman dan lambaian tangan, mobil itu menjauh dari rumah Tasya.
"ayo Jen kita masuk"
Tasya menarik tangan sahabatnya itu, namun Jeni sama sekali tidak bergeming.
"Jen... Jeni"
"ah iya, kenapa...?" barulah Jeni tersadar dari lamunannya
"kamu kenapa sih, mobil mereka sudah tidak terlihat lagi. apa yang kamu lihat...?"
"bukan apa-apa, ayo masuk" Jeni merangkul Tasya dan keduanya masuk ke dalam. sesaat Jeni kembali melihat ke arah mobil itu meskipun sudah tidak terlihat lagi namun Jeni seakan enggan untuk meninggalkan pagar rumah Tasya.
(kenapa aku tidak tanyakan namanya tadi, bodoh sekali kamu Jeni)
Akmal terus bersiul sambil menyetir, Alex berdiam diri membuang wajah ke arah jalanan. angin malam menerpa wajahnya dan dirinya seakan enggan berpaling.
"mas"
"hummm"
"sepertinya gadis tadi mempunyai something deh sama kamu" lirik Akmal sekilas
"gadis siapa...?"
"si Jeni. eh tapi, kok aku agak familiar ya sama mukanya dia. seperti pernah melihat dimana gitu" Akmal nampak berpikir
"dia adik Samuel, orang kepercayaan Gara" jawab Alex
refleks Akmal menoleh dengan cepat. "darimana mas tau...?"
"kamu nggak dengar di bar tadi. Tasya mengatakan kalau Gatot mempunyai dendam kepada Gara dan Samuel. Tasya menyuruh Jeni pergi karena Gatot telah mengetahui kalau gadis itu adalah adik Samuel"
"begitukah...?" Akmal manggut-manggut "berarti Samuel nanti akan menjadi adik iparmu dong mas"
"ngomong apa sih kamu ini" Alex melirik malas ke arah Akmal.
"aku ya bicara apa adanya. memangnya mas nggak merasakan getaran-getaran asmara gitu saat memeluk Jeni. aku lihat mas begitu khawatir padanya, sampai saling menggenggam tangan pula"
"itu hanya rasa kemanusiaan saja, nggak mungkin kan kita membiarkan anak orang kenapa-kenapa di mobil kita. kalau terjadi sesuatu dengannya bagaimana, kan kita juga yang repot" Alex memberikan alasan yang masuk akal
"iya juga, tapi ya aku lihat tadi tatapannya begitu dalam sama mas Alex. aku benar loh ini mas, biasanya dugaan aku nggak pernah meleset" Akmal masih tetap bersikeras
"terserah kamu sajalah, aku mau tidur" malas mendengar ocehan Akmal, Alex mengatur tempat duduknya menjadi miring dengan begitu dirinya bisa nyaman untuk mengistirahatkan diri. topinya menjadi penutup wajahnya.
"memang manusia nggak peka lah mas ini"
Alex tidak lagi meladeni Akmal. dirinya menutup mata dan tidak lama mulai terbuai ke dalam mimpi.
*****
"bos, ini benaran aku yang mau jadi umpan...?" sekali lagi Yusrif bertanya, merasa tidak adil dengan keputusan sepihak itu.
"kamu kenapa sih Yus, takut...? perasaan kemarin-kemarin kamu nggak punya rasa takut sedikitpun. ini kenapa kamu jadi cengeng seperti ini sih" Aji Wiguna sudah bosan mendengar rengekan Yusrif. dari semenjak dirinya dinobatkan sebagai bahan umpan, laki-laki itu sudah tidak tenang seperti setrika berjalan ke sana ke mari.
"kalau kemarin-kemarin kan yang kami hadapi manusia bos, lah ini makhluk jadi-jadian. kalau setan ya tinggal aku musnahkan. tapi kan kita nggak boleh membunuh mereka. terus kalau nanti aku terancam bagaimana...?"
"di sini belum ada yang terpapar virus itu Yus, jadi tenang saja. mereka baru akan mulai menyebarkan virus itu dengan menjadikan satu orang target untuk dijadikan tumbal. lagipula kami semua berada tidak jauh darimu, kami tidak akan membiarkan kamu sendirian begitu saja" Fatahillah memberikan penjelasan
"atau mau aku temani...?" Tegar yang tidak tega melihat ekspresi Yusrif tidak menerima kenyataan, akhirnya mencalonkan diri.
"nah benar, sebaiknya aku sama Tegar saja. kalau berdua kan aku nggak geregetan nantinya" Yusrif langsung setuju.
"ya tidak bisa, yang namanya umpan jelas harus satu orang. Yus, sebenarnya apa yang kamu takutkan....?" kali ini Aji Wiguna bertanya ingin mendengar jawaban laki-laki itu.
"bukan takut sih sebenernya" Yusrif menggaruk lehernya.
"lah terus, apa yang membuat kamu uring-uringan nggak jelas. macam anak kecil nggak dibeliin mainan saja" ucap Hasan
"aku hanya nggak terima saja bos kalau aku dijadikan umpan. masa dari sekian banyaknya kita, aku yang kalian pilih. nggak keren banget kerjaan aku" gerutu Yusrif, wajahnya semakin cemberut dan kesal .
"yaa salam" Aji Wiguna menepuk jidat
Fatahillah hanya tertawa pelan. kini mereka mempunyai satu orang yang dimana kelakuannya sebelas duabelas dengan kelakuan Akmal. suka protes dan tidak mau mengalah.
"jiplakannya si Akmal ini mah" Hasan geleng kepala "jangan-jangan mereka kembar lagi" lanjut Hasan
"pokoknya aku nggak mau bos, kalau berdua dengan Tegar baru aku mau" kembali Yusrif mendemo
"baiklah, Tegar akan menemanimu. sekarang kamu senang...?" Fatahillah mengalah dan menuruti kemauan Yusrif.
"belum" Yusrif menggeleng cepat, semua orang mulai naik darah
"apalagi sih Yus" Aji Wiguna mulai kesal dan tangannya mulai gatal ingin mencekik leher anak buahnya yang nggak ada akhlak itu.
"aku akan senang kecuali punya cemilan untuk jadi umpan. aku harus punya tenaga ekstra untuk duduk diam memperhatikan sekitar. benarkan Tegar...?"
"lama-lama, ku lempar juga kau di semak-semak" Hasan mulai naik tensi
Tegar cekikikan melihat semua orang kehabisan stok kesabaran. dirinya sering disuguhkan kelakuan seperti itu oleh Yusrif jika keduanya sedang mendapatkan tugas dari Aji Wiguna. dan sekarang, bosnya itu baru mengetahui bagaimana sifat Yusrif yang sebenarnya, suka bikin naik darah. Fatahillah menggaruk kening, sungguh Yusrif sepertinya lebih parah dari si Akmal.
"kalau kamu mau cemilan maka Tegar tidak akan menemanimu, pilih yang mana...?" ancam Aji Wiguna
"yaaah, kok gitu sih bos" keluh Yusrif memasang wajah cemberut
"pilihannya ada di tanganmu"
"kok gitu sih"
"kok gitu kok gitu. his nih anak, aku timbang terus ku jual kau sepertinya banyak untung. habis sudah kesabaran ku" Hasan mulai mengomel
"sabar San...sabar" Fatahillah merasa lucu dengan situasi sekarang.
"akan kami sediakan cemilan, sekarang sudah waktunya kamu ke tempat mu" Fatahillah melihat jam tangannya.
"nah begitu dong. ayo Tegar" ajak Yusrif.
Tegar beranjak mengikuti Yusrif keluar dari tenda. satu kantung plastik makanan ringan diberikan kepada mereka. keduanya berjalan melewati pagar pembatas dan berjalan ke arah depan semakin jauh dari semua orang.
"ayo, kita harus bersiap" ucap Fatahillah.
Fatih mengomando semua pasukannya dimana mereka telah berada di posisi masing-masing saat sore hari tadi. nampak sepi yang berjaga di dekat pagar perbatasan, hanya beberapa orang saja yang duduk berjaga di tempat itu. sementara Fatahillah, Fatih, Aji Wiguna dan Hasan mulai melangkah berjalan ke tempat yang tidak terlihat, mengikuti langkah Tegar dan Yusrif dimana keduanya sudah berada di sebuah pondok kecil. pondok itu, adalah pondok yang dibuat dadakan setelah mendengar rencana dari Fatahillah. kini Yusrif dan Tegar tinggal menunggu siapa yang akan menghampiri mereka saat itu juga.